Wisata Akhir Pekan di Lampung Barat, Melihat Produksi Kopi Luwak di Liwa dan Bermalam di Danau Ranau

01.03
keliling lampung barat
Danau Ranau Lampung Barat

Kunjungan saya ke Lampung kali ini diawali oleh obrolan saya dengan mbak Rosita via inbox. Mbak Rosita (saya biasa memanggilnya dengan nama Mbak Ita) yang selama ini tinggal di Perancis, bercerita pada saya bahwa pertengahan April tahun ini (2016) ia akan mudik ke Lampung sampai awal Mei. Obrolan kami kemudian sampai pada rencana untuk jalan-jalan bareng.

Tahun lalu, kami bertemu di Ponpes Daarul Quran Yusuf Mansur di Tangerang. Sekedar bertemu saja dan tidak sempat jalan ke mana-mana. Di kesempatan mudik inilah rencana jalan bareng itu dicetuskan oleh Mbak Ita. Karena sebentar lagi saya akan nge-trip ke Belitung, saya menawarkan mbak Ita untuk ikut, dan mbak Ita sangat mau. Tapi sayang, waktunya tidak cocok. Tanggal 3 Mei mbak Ita sudah harus kembali ke Perancis karena Ilhan putranya sudah masuk sekolah.
 

Teman jalan ke Lampung Barat, mbak Rosita, sewaktu bertemu di Ponpes Daarul Quran

Tidak jadi jalan bareng ke Belitung, mbak Ita lalu membuat rencana jalan-jalan ke Danau Ranau. Ia mengajak ayuk-ayuknya (kakak perempuan). Saat ditawari untuk ikut, tentu saja saya tidak menolak. Soal waktu, mbak Ita bersedia menyesuaikan kapan saya luang. Saya bilang bisanya weekend tgl 22-24 April. Mbak Ita setuju.

Sebelum berangkat, mbak Ita cerita tentang Mas Eka Fendiaspara yang akan dia temui di Liwa. Mas Eka ini kawannya Mas Yopie Pangkey. Mbak Ita juga cerita kalau dia berkawan dengan Mas Budhi Martha (kawannya mas Yopie juga). Menariknya, tiga orang yang saling berkawan tersebut, semuanya fotografer Lampung hehe. 


Mereka berempat (termasuk mbak Ita) ternyata satu angkatan di Unila. Mbak Ita sendiri sudah lama berteman dengan Mas Yopie di Facebook. Dari saling kenal inilah kemudian Mas Yopie dan mbak Ita saling chat. Dan akhirnya Mas Yopie pun ikut serta dalam perjalanan ke Danau Ranau.
Banyak ketemu teman di Lampung


Makan bareng di Kedai Kopi Aceh Jambo Raya

Jumat sore (22/4/2016) saya tiba di Lampung. Mbak Ita baik banget menawarkan untuk menjemput saya di bandara. Tapi karena di waktu yang sama Mas Yopie juga ke bandara, saya tak jadi minta jemput mbak Ita, tapi numpang ke Bandar Lampung bareng Mas Yopie. Sebelum tiba di rumah mbak Ita, kami mampir ke Kedai Kopi Aceh Jambo Raya dulu, makan malam sekalian janjian ketemu dengan Fajrin. Eh tak disangka ternyata di warung Aceh bertemu Encip dan Emilga. Jadi kumpul deh.

Jumat malam itu saya menginap di rumah Mbak Ita. Pagi-pagi sekali kami sudah harus jalan. Kenapa harus berangkat pagi? Karena perjalanan menuju Danau Ranau akan makan waktu 6-7 jam. Agar tak kesorean, kami mesti berangkat seusai shalat Subuh. Setelah acara bangun yang sedikit kesiangan, jam 5.30 kami baru berangkat dengan menggunakan Kijang Innova baru milik mbak Ita.
 

Ke Lampung Barat pakai Kijang Inova baru he he

Lampung Barat
Rombongan kami berjumlah tujuh orang, terdiri dari Mbak Ita, Ayuk Ugun, Ayuk Lina, Yogi (keponakan mbak Ita), Ilhan, Mas Yopie, dan saya. Masing-masing membawa satu tas berisi pakaian ganti karena rencananya kami akan menginap satu malam di Danau Ranau. Bagasi sudah penuh barang, termasuk persediaan makanan dan minuman selama perjalanan.

Sebenarnya saya tidak menduga bulan April ini akan kembali jalan di Lampung. Dua bulan berturut-turut saya ke Lampung, dari Januari hingga Februari. Sekarang April ke Lampung lagi. Benar-benar tak ada rencana sama sekali, apalagi membayangkan bakal bermalam di Danau Ranau.

Rumah-rumah penduduk desa di Lampung Barat
 
Satu-satunya acara liburan di bulan April yang saya rencanakan hanya ke Bandung untuk liburan bersama keluarga. Dan itu sudah terlaksana pada 8-10 April lalu. Setelah dari Bandung, saya inginnya rehat untuk persiapan ke Belitung pada awal Mei. 


Tapi ternyata, jodoh jalan bareng mbak Ita cepat sampai. Saya menyambutnya dengan senang hati, dan akhirnya pergi ke Lampung. Di sinilah saya bulan April, keliling Lampung Barat.
Hamparan sawah dan bukit-bukit berhalimun

Liwa
Rute menuju Liwa ternyata sama dengan rute perjalanan yang pernah saya tempuh ketika mudik ke Sumsel tahun 2015 lalu. Beberapa jalan dan belokan yang kami lewati dapat saya kenali. Jarak tempuh menuju Lampung Barat ternyata jauh. Lebih jauh dari perjalanan Jakarta-Bandung. Perlu waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai di Way Tenong, tempat kami singgah melihat keindahan hamparan sawah dengan latar hutan dan perbukitan berhalimun.

Sekitar 20 menit saja kami mampir untuk memotret, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Mas Eka. Sempat berhenti satu kali ketika Ilhan ingin buang air kecil. Karena belum menemukan toilet SPBU, akhirnya numpang di rumah penduduk. Syukurnya diperbolehkan. Kasihan juga kalau Ilhan harus menahan lebih lama lagi. 


Sementara itu, Mas Eka beberapa kali menghubungi, menanyakan posisi kami. Sempat pula ia bertanya di facebook saya dalam foto sawah-sawah di Way Tenong yang saya upload. 


Singgah karena ingin lihat ini

Pukul 11.00 kami tiba di rumah Mas Eka. Sempat terlewat agak jauh lho. Mas Yopie rupanya lupa letak rumah Mas Eka. Kami disambut oleh Mas Eka dan istrinya, juga Fatih, anaknya yang masih kecil.

Oh ya, sebelum perjalanan ke Liwa ini, saya sudah pernah kenal nama Mas Eka lewat akun IG Keliling Lampung. Foto Mas Eka pernah di-regran di Keliling Lampung, kalau tak salah tentang ojek Liwa. Dari situ saya follow. Saat Mbak Ita cerita tentang Mas Eka, saya cek kembali. Ternyata Mas Eka yang dimaksud adalah Mas Eka yang saya follow tersebut. 


Setelah berjumpa langsung, ternyata orangnya sangat menyenangkan. Mas Eka masih mengenakan baju pramuka, seragam mengajarnya hari itu. Di rumahnya, kami disuguhi kopi Liwa. Wah, nikmat sekali. Thanks Mas Eka.  


Disuguhi kopi Liwa


Tuan rumah dan tamunya
Foto bareng di rumahnya mas Eka, fotografer Liwa yang terkenal itu :D

Minum Kopi Luwak
Saya kira Mas Eka akan ikut kami ke Danau Ranau, ternyata tidak. Ia hanya mengantar kami ke rumah produksi kopi luwak Ratu Luwak dan kemudian ikut makan bersama di Khang Mengan JEJAMA, menikmati ikan mujair bakar yang dipanen dari keramba di Danau Ranau.

Kunjungan ke Ratu Luwak ini jadi kejutan buat saya karena sebelumnya memang tidak saya dengar sama sekali bahwa kami akan ke tempat ini. Sudah sejak lama mengidamkan dapat melihat luwak dan melihat langsung tempat produksi kopi luwak yang ketenarannya sudah mendunia itu. Eh ini malah mendadak kesampaian. Alhamdulillah.
 

Luwak sehat yang menghasilkan kopi luwak bermutu


Anak luwak usia 2 bulan, di lepas di pohon kopi depan kandang

Kopi Ratu Luwak masih berupa produk rumahan dengan hasil produksi belum sampai pada skala besar. Meski demikian, peminat dan penikmat kopi luwak Ratu Luwak tidak hanya masyarakat dalam negeri, tetapi hingga luar negeri. 

Di sini terdapat ratusan ekor luwak, namun yang boleh dilihat hanya beberapa ekor luwak saja. Kandang luwak yang bisa dilihat ada di samping rumah produksi. Saya cukup kaget ketika pertama melihat luwak. Ternyata badannya besar, hampir sebesar anjing dewasa. Badannya penuh bulu, ekornya panjang, dan wajahnya mirip boneka anjing anak saya! Saya ngeri lho.
 

Ilhan berani pegang anak Luwak :)

Ada satu luwak yang badannya masih kecil, kira-kira seukuran kucing dewasa. Ibu Sapri pemilik Ratu Luwak mengeluarkan luwak kecil itu dari kandangnya. Saya dan Ilhan memberanikan diri memegangnya. 


Ada satu keunikan yang diceritakan oleh Ibu Sapri tentang Luwak yakni tentang kaki ke lima luwak. Kaki ke lima yang dimaksud adalah ekornya. 

Jadi, ekor luwak sama kuatnya dengan kakinya. Kadang saat bergantungan di dahan pohon, luwak menggunakan ekornya untuk menahan badannya. Karena itu, kalau memegang luwak, peganglah ekornya. Kalau kuat, maka luwak tidak akan lepas dari pegangan kita.
 

Kotoran luwak sebelum dibersihkan


Secangkir kopi luwak dan kopi luwak yang belum di olah. Mirip cemilan ya? :D

Pemberian kopi pada luwak biasanya dilakukan pada malam hari. Jumlah kopi untuk satu ekor luwak sebanyak 1,5 ons. Pagi hari, kotoran luwak baru dipanen. Ada dua macam cara pengolahan kotoran luwak. Yang pertama lansung dijemur baru dibersihkan dan dicuci. Yang kedua dibersihkan dan dicuci dulu baru dijemur. Setelah melalui proses tersebut baru disangrai,  digiling dan dikemas.

Kopi luwak Ratu Luwak sudah memperoleh sertifikat HALAL dari MUI sejak tahun 2012. Jadi, aman ya buat umat muslim memakan ‘kotoran’ luwak ini.  Kami pun dengan senang hati menikmati jamuan kopi luwak yang sudah disediakan ibu Sapri. 


Sebelum pulang, saya membeli satu kotak kopi luwak sebagai oleh-oleh untuk keluarga di rumah ^_^ 


Kopi Luwak kemasan 100 gram Rp 50.000,-


Minum kopi luwak di tempat produksinya itu sesuatu banget :)


Ibu Sapri (baju hijau) pemilik Ratu Luwak

Danau Ranau

Usai menikmati santap siang di Khang Mengan JEJAMA, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Danau Ranau. Saya mencatat waktu berangkat mulai jam 2.05 siang. Sampai di Danau Ranau tepat jam 3. Sebelum mencapai danau, ada turunan yang tergolong curam. Agak deg-degan ketika melaluinya. Tapi syukurlah aman dan lancar saja.

Kami membuka jendela mobil, membiarkan udara segar masuk dan bertukar dengan udara di dalam. Ayuk Ugun terlihat sangat bahagia. Ia tak henti-henti memuja muji keindahan alam yang dilihatnya, saya pun demikian. 


Ada satu hal yang jadi perhatian saya, jalan menuju Danau Ranau tampak sangat sepi dari kendaraan yang melintas. Jarang sekali kami berpapasan dengan mobil lain. Padahal saat itu weekend. Tidak ada wisatawan lain kah yang berkunjung?
 

Menu Ikan Mujair bakar hasil budidaya di Danau Ranau


Makan siang yang lezat

Kami melewati perkampungan, di kiri dan kanan banyak rumah panggung  yang tak lagi panggung. Jika di sebelah kanan adalah danau, maka di sebelah kiri adalah hamparan tanaman padi di sawah. Danau terluas kedua di pulau Sumatra ini dikelilingi oleh perbukitan dengan kampung dan perkebunan kopi. Gunung Seminung pun jadi latar belakang, menambah keindahan danau.

Mobil melaju di jalan sempit yang ada di pinggir danau. Jalannya tidak bagus, berbatu dan berlubang, tidak diaspal. Kami mencari penginapan yang sudah dikenal oleh Mas Yopie. Ada aliran air seperti parit melintang di tengah jalan. Saya sempat khawatir dengan mobil baru mbak Ita. Sempat ada kayu mengenai bagian bawah, terdengar bunyi kayunya walau tidak keras. 



Suasana pinggir danau di penginapan yang tak jadi kami tempati

Menginap di Lumbok Ranau
Jam 15.35 kami tiba di penginapan yang dimaksud oleh mas Yopie. Penjaganya sedang tidak ada di tempat. Kami pun menunggu sambil melihat-lihat. Saya suka tempat ini. Bangunannya berdiri di pinggir danau dan punya view yang cantik.

Terdapat dua saung, dermaga yang dilengkapi atap, dan tempat duduk. Terasa nyaman sekali duduk di sana, apalagi sambil menikmati pemandangan sekeliling, terutama Gunung Seminung yang berdiri gagah seolah memagari danau. Terbayang nggak kala bangun di pagi hari buka jendela langsung disuguhi pemandangan alam seperti ini? Pasti tertegun, lalu melamun…
 

Menikmati suasana sore


Ilhan putra mbak Ita
Sempat turun hujan saat duduk-duduk di sini


Termenung menghadap Gunung Seminung



Menunggu ujung petang

Setelah pengurus penginapan datang, mbak Ita dan yang lainnya mulai melihat-lihat. Tapi karena ada yang tidak cocok, kami tidak jadi menginap di sana. Kami kembali balik arah, menuju Lumbok Ranau, penginapan milik dinas perikanan. Meski awalnya sempat ragu untuk bermalam di sana, tapi akhirnya jadi juga.

Penginapannya berupa rumah panggung dengan tiga buah kamar. Kami ambil dua. Satu untuk kamar laki-laki, satunya lagi untuk kami para perempuan. Rumah panggung tinggi dengan tangga yang curam itu punya beranda yang cukup luas.
 

Bermalam di sini


Kamar, kebun, dan hujan.

Di balkon banyak kursi. Bisa buat duduk-duduk santai sambil menikmati suasana sekitar. Kamar yang kami sewa sudah tak ditempati. Agak pengap dan hawanya nggak enak. Meski sudah dibersihkan oleh dua orang embak-embak, sudah dikibas-kibas dan dipasang sprei baru, tetap saja terasa ada sesuatu yang nggak membuat nyaman.

Air di kamar mandi mengalir lancar, tapi baunya agak kurang sedap. Bersih sih, bisa dipakai mandi dan wudhu. Tapi sore itu tak seorang pun dari kami yang mandi. 


Udara luar kamar terasa lebih segar, apalagi di sebelah penginapan ada kebun. Ada pancuran yang airnya tak henti mengalir. Gunung, danau, dan perbukitan, jadi semakin elok dipandang dari rumah yang berada di tempat agak tinggi ini.
 

beranda


makan di beranda

Malamnya, seusai makan kami bersantai sambil tidur-tiduran di beranda. Ilhan, yuk Gun, yuk Lina, Yogi, dan Mas Yopie, sudah menempati posisi masing-masing. Ada 3 kursi panjang, sisanya kursi pendek yang dirapatkan sehingga bisa ditiduri. Sepertinya semua akan tidur di luar karena udaranya sejuk. 


Sudah nyaman dan terkantuk-kantuk, tiba-tiba hujan deras. Meski tidak sampai basah, tapi angin yang disertai percikan hujan sukses bikin kami kedinginan dan tidak nyaman. Akhirnya semua masuk kamar. Tidur di dalam kamar.

Karena sudah lelah, nempel bantal langsung tidur. Saya tak mendengar suara apapun lagi, termasuk lolongan anjing di tengah malam yang didengar oleh Mbak Ita dan Yuk Gun. Pulaaaas…



Pagi yang senyap
Keramba-keramba ikan di latar belakang

Pagi nan Syahdu
Sejak tiba di Danau Ranau pada Sabtu sore (22/4), Ilhan sudah minta nyebur. Karena waktunya tidak memungkinkan (sudah kesorean), akhirnya ditunda Minggu pagi. Saya sudah berniat akan menemaninya berenang.

Jam 6 pagi saya dan Mas Yopie turun ke danau untuk memeriksa keadaan di sekitar dermaga. Penginapan kami tidak berada di tepi danau, kalau mau ke dermaga mesti menyeberangi jalan dulu. Jaraknya sekitar 20 meter dari pagar penginapan. Setelah saya lihat-lihat, sepertinya di dekat dermaga kurang enak buat tempat berenang. Terlihat keruh dan banyak tanaman air, entah apa namanya.  


Mentari tak jua muncul


Hilir mudik mengayuh perahu hendak memeriksa jaring ikan

Sambil berharap bisa melihat matahari muncul dari balik bukit, kami mencoba memotret suasana sekitar danau. Ada laki-laki sedang naik perahu, mondar-mandir memeriksa jaring ikan. Air danau tampak seperti beruap. Uapnya berkilau seolah kena pantulan cahaya. Padahal matahari belum terlihat memancarkan sinarnya.

Suasana saat itu masih sepi. Tak seorang pun terlihat di dekat keramba ikan. Gunung Seminung dan punggung perbukitan terlihat seperti bayangan hitam yang berdiri gagah menantang pagi. Langit di sebelah timur perlahan mulai benderang. Tapi sepertinya
sang mentari naik dengan tertatih.



Seorang bapak dan anaknya

Saya putus asa menunggu kemunculan matahari. Saya ajak Mas Yopie pergi, berjalan mengikuti jalan desa. Di kiri jalan ada hutan kopi, tumbuh rapat hingga ke atas bukit. Sesekali ada warga melintas, seorang nenek, seorang kakek, dan dua orang remaja perempuan. Langkah mereka ngebut. Rasanya saya lihat si nenek masih di belakang, tahu-tahu lewat dan sudah jauh di depan. Saat ditanya hendak kemana, dua remaja menjawab hendak ke kebun. Entah kebun apa. Mungkin kebun kopi.

Kami hanya jalan kaki sebentar, setelah itu balik lagi ke penginapan. Sebenarnya masih ingin jalan sampai jauh, berlama-lama menikmati segarnya udara pagi. Tempat ini benar-benar memanjakan paru-paru, juga mata. Tiada polusi, tiada pula lalu lalang kendaraan yang berisik dan bikin nyeri mata. Bikin betah. 


Alangkah bahagianya jika setiap hari bisa tinggal di tempat seperti ini...
 

Jalan pagi dekat kebun kopi

Saya ingin Ilhan melihat sendiri keadaan air di danau. Usai sarapan, saya ajak dia ke dermaga. Saya tunjukkan kondisinya. Setelah melihat sendiri, Ilhan menyatakan urung berenang. Saya nggak tega sebenarnya. Kalaupun Ilhan tetap mau berenang dengan kondisi air danau seperti itu, tetap akan saya temani. Tapi dia sudah memutuskan tidak. Ya sudah nggak jadi.

Meski tak sempat merasakan mandi di Danau Ranau, tapi saya sudah cukup senang dapat menikmati keindahan danau dari dekat. Lain waktu kalau mau lebih puas, mungkin harus menginap 2-3 malam. Bisa mandi, jalan-jalan di kampung, naik perahu, memancing dan memotret sampai lelah.

Seperti yang kita tahu, sepertiga Danau Ranau masuk wilayah administrasi Lampung, duapertiganya masuk wilayah administrasi Sumsel. Jadi, saya tak harus pulang kampung ke Sumsel dulu untuk dapat sampai ke danau ini karena dari Lampung pun bisa. Malah lebih dekat ^_^



Ilhan tidak jadi nyebur di danau

Kembali ke Bandar Lampung
Perjalanan pulang masih melalui rute yang sama. Tapi waktu yang kami tempuh terasa labih cepat. Kami singgah tiga kali, pertama di SPBU, kedua di rumah makan Bu Mar 1 Kotabumi, ketiga di Masjid Agung Istiqlal Bandar Jaya. 

Saya masih ingat masjid ini, dulu waktu ke Sumsel lewat jalan darat pernah dua kali mampir untuk shalat. 

 

Ayam goreng RM. Bu Mar 1, Kotabumi


Masjid megah di Bandar Jaya

Karena rute yang dilalui lewat bandara, maka saya turun lebih dulu. Waktu saat itu baru menunjukkan pukul 3 sore. Saya lega karena kekhawatiran telat ke bandara tidak terjadi. Bahkan saya masih punya waktu 3,5 jam sebelum jadwal penerbangan pukul 18.55 WIB tiba.

Tapi sebetulnya saya jadi merasa bersalah sama Ayuk Ugun. Akibat takut ketinggalan pesawat, pulang buru-buru, ajakannya untuk mandi di pancuran jadi batal.

Moga di lain waktu ada kesempatan lagi jalan-jalan ke Lampung Barat. Masih belum kesampaian menyaksikan indahnya kabut di lembah Batu Brak dan Bukit Bawang Bakung...



*Photo oleh Katerina & Yopie Pangkey

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

16 comments

Write comments
28 April 2016 01.27 delete

Sumaph, baca postingan ini bikin saya lapar lihat ikan mujair gorengnya.
#CariWarungLalapan

Reply
avatar
28 April 2016 01.40 delete

Lha, yang dicari kok warung lalapan mas? Bukannya warung ikan mujair? :D

Reply
avatar
28 April 2016 01.56 delete

Jadi sebenarnya danau ranau itu masuk lampung apa sumsel sih??
*masih dibahas* :D

Reply
avatar
28 April 2016 10.43 delete

Hahaha...bahas terus...terus..teruuus :D

Sepertiga Danau Ranau masuk wilaya administrasi Lampung. Dua pertiganya masuk wilayah administrasi Sumsel. Sudah ke Danau Ranau belum?

Reply
avatar
28 April 2016 12.45 delete

Tak pernah bosan dengan suasana syahdu danau Ranau waktu pagi. Kalau cerah di musim kemarau, kita bisa lihat langit penuh dengan bintang. Sesuatu yang jarang dilihat di kota besar.

Suka sama foto: "Hilir mudik mengayuh perahu hendak memeriksa jaring ikan"

Reply
avatar
28 April 2016 13.21 delete

Asli bikin ngiri berat acara jalan-jalannya... Jauh juga ya, Mbak ke danau Ranaunya- Alhamdulillah perjalanannya lancar. Dan makanannya bikin ngiler euy....

Reply
avatar
28 April 2016 13.22 delete

Itu yang di sebelah kopi luwak itu kok mirip ama cemilan apa tuh namanya.. yang kacang dibalur gula merah..
Danau Ranau cakep banget ya mbak.. Pengen ke sanaaaa...

Reply
avatar
28 April 2016 13.56 delete

Mudahan kalau ke sana lagi saat kemarau, biar bisa nikmati indahnya langit malam di Danau Ranau. Terakhir lihat langit bertabur bintang waktu malam-malam di Pananjakan Bromo. Berserakan seperti pasir di pantai. Sampe sekarang masih teringat saking berkesannya. Mungkin di Danau Ranau akan begitu juga ya...

Thanks Mas Yo, aku juga suka foto lelaki dan sampannya itu.

Reply
avatar
28 April 2016 13.58 delete

Alhamdulillah. Iya mbak Ira, jauh. 6 jam waktunya :D Tapi nggak berasa karena dinikmati. Apalagi sambil lihat pemandangan bagus-bagus di kiri kanan jalan.

Reply
avatar
28 April 2016 14.01 delete

Haha iya aku tahu makanan yang mbak Dian maksud. Bipang, kan?

Yuk ke Lampung mbak Dian :)

Reply
avatar
28 April 2016 14.06 delete

Penasaran sama kopi liwanya...

Reply
avatar
28 April 2016 14.14 delete

Yuk ke Lampung mbak Witri biar nggak penasaran lagi :D

Reply
avatar
28 April 2016 15.29 delete

Suka banget liat pemandangan Danau nya,, Ajibbb bener dahh. :)

Reply
avatar
29 April 2016 07.16 delete

Wiihhh wonderful bnget mbak
Jgn salah pilih itu mbk ya. Mau nyeruput kopi ato kopi yg blum diolah hhee

Reply
avatar
29 April 2016 14.09 delete

Iya, luwaknya ganteng mbak Rien, mau tak gendong-gendong kemana-mana, tak gendong kemana-amana *mbak Surip mode on*

Aku percaya, nanti bisa ketemu mbak Ita, Ilhan dan mas Pat di...PARIS! hahaha

eh ya, harusnya nyeberang ke tengah danau, ada pemandian air panas, di sana nyebur enak banget, bersiiiih dan jernih. Next time ya Ilham, sama abang Yayan eaaa

Reply
avatar
29 April 2016 20.58 delete

Wih, bener-bener main ke kampung halaman saya yah, hehe.. Tapi blm ke liwa namanya kalau blm cicip mie ayam sarka-nya, hahaha

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon