Floating Market Lembang - Kulineran Seru Di Atas Danau

Pasar Terapung

Assalamu'alaikum Wr Wb 

Floating Market Lembang (FML) terkenal dengan kulinernya yang beragam. Akan tetapi keistimewaan FML bukan terletak dari keanekaragaman kulinernya, melainkan pada tempat kulinernya. Tempatnya di atas permukaan danau. Di atas perahu-perahu yang tertambat rapi di sisi daratan kecil yang bentuknya memanjang. Disanalah aneka kuliner diperjualbelikan. Di sana pula orang-orang duduk menyantap makanan kesukaan mereka, sembari menikmati suguhan pemandangan alam yang fantastis, juga merasakan lembutnya belaian semilir angin pegunungan. Alangkah nikmatnya. 

Sesuai dengan nama tempatnya, Floating Market Lembang, maka inilah pasar terapung Lembang yang pesonanya telah memikat banyak wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Jika di tempat wisata lain kuliner hanya sebagai pelengkap, maka di sini kuliner justru paling ditonjolkan. 

Ngapain juga bawa makanan, kan di dalam banyak makanan :D

Jika kita masuk dari pintu utama, mata kita akan langsung tertuju pada sebuah danau. Di tengah-tengah danau nampak sebuah daratan kecil. Di situlah letak pasar terapung. Di atas pasar itu tertulis besar-besar nama Floating Market Lembang. Jejeran perahu kulinernya tak nampak sebab perahu-perahu itu berada di sisi belakangnya. Untuk mencapai pasar terapung, kita mesti berjalan kaki menyusuri tepian danau. Melewati deretan factory outlet, kolam angsa, taman-taman cantik, gazebo berarsitektur tradisional Sunda, dan juga dermaga paddleboat. Untuk menghubungkan tepian danau dengan pasar terapung, ada jembatan kayu yang bisa kita titi. Ketika berdiri di puncak jembatan maka akan terlihat ramainya pengunjung yang menyerbu penjual makanan.


Pasarnya di tengah danau

Jembatan yang menghubungkan daratan dengan pasar terapung

Tersedia banyak sekali kuliner di pasar terapung. Dari jenis makanan tradisional Indonesia, hingga makanan international. Dari Batagor dan siomai, hingga pizza dan steak. Semua makanan diolah di tempat, disaat kita mulai memesan. Jika kamu memesan sate, kamu bisa melihat penjualnya membakar satenya di hadapanmu. Di atas perahu, penjualnya mengipas-ngipasi api. Membuat perahu sesekali bergerak miring ke kiri dan ke kanan. Jika kamu memesan gado-gado, bumbunya diuleg dulu dihadapan kamu. Gerakan tangan si mbak penjual, membuat perahu agak bergoyang. Goyangan perahu itu menciptakan riak air di sekitar perahu. Kamu bisa memandang itu dengan asyik, sambil menunggu bumbu gado-gadomu jadi.
Asap ngebul di atas perahu

Sate-sate pesanan pembeli

Ketika tiba di pasar terapung, tidak perlu buru-buru memesan. Lihat-lihat saja dulu. Kelilingi semua tempat, pilih mana yang benar-benar menggugah selera. Sebab di sini tersedia banyak pilihan menu. Jika sudah memesan, lantas kamu menyesal karena ternyata ada makanan lain yang lebih nendang, ya sayang aja. Kecuali perutmu masih muat nampung makan lainnya hehe. Nama makanan dan harga makanan terpampang jelas dalam spanduk berbahan kain maupun terpal yang digantung di atap perahu maupun dinding perahu. Ini sangat memudahkan kita untuk mengenali jenis makanan yang dijual. 
Pilih-pilih menu dulu, baru beli koin

Alat pembayaran di Floating Market Lembang ini berupa koin. Tempat-tempat penjualan koin bertebaran di sekitar kawasan. Koin bisa dibeli dengan uang tunai, debet (kartu ATM), juga dengan kredit (kartu kredit Visa maupun Master). Koinnya terdiri pecahan 5.000, 10.000, 20.000, 50.000, dan 100.000. Tips buat kamu agar tidak kelebihan membeli koin, pastikan dulu total dari harga barang dan makanan/minuman yang hendak dibeli. Sebab, jika kelebihan beli (bersisa setelah dibelanjakan), koinnya tidak bisa ditukar atau dikembalikan. Untuk membayar biaya permainan pun demikian, ketahui dulu tarif permainannya, baru beli koin.

Tempat Penukaran Koin

Jadi misalnya, kalau kamu mau beli gado-gado 15.000, Es Cendol 15.000, Kentang Goreng 10.000, berarti kamu beli saja koinnya 40.000. Makanya kalau sedang keliling melihat-lihat makanan yang akan dibeli, catat harganya. Nanti kalau sudah, baru beli koin. Jangan beli koin dulu baru beli makanan, sayang kalau bersisa. Bisa sih dibelikan lagi, tapi kalau jumlahnya kurang, ya tetap harus nambah koin lagi.

Ketika week end, semua penjual kuliner di tempat ini beroperasi. Sedangkan week day, hanya separuh saja. Jumlah pengunjung di hari Sabtu dan Minggu selalu membludak, jadi pastikan kalau mau menikmati kulineran dengan duduk (tidak berdiri), datanglah pagi-pagi. Kalau sudah siang, kerap tidak kebagian tempat. Padahal meja dan tempat duduknya banyak. Tersedia dari ujung ke ujung, tapi karena selalu ramai, ya tetap tidak kebagian juga. Paling kalau mau, makanannya dibawa keluar pasar, ke gazebo-gazebo di daratan. Tapi gazebo itu bayar, ada tarifnya untuk sekian waktu. Saya sendiri saat itu mesti antri menunggui pengunjung yang makannya sampai 1 jam. Entah kenapa lama betul, tidak lihat kalau pengunjung lain juga ingin gantian duduk :D Bayangkan, jam 12 sudah waktunya makan (maklum pengidap maag, ga bisa telat dikit), beli makanannya ngantri, beli koinnya juga ngantri. Wadow! Saran nih buat FML, sedia lebih banyak lagi tempat duduk buat pengunjung makan.

Tuh, rame banget kan yang makan :D

Namun, biarpun rame dan berdesakan, ga bikin kita pusing apalagi kepanasan. Soalnya ditempat ini udaranya sejuk sepanjang waktu. Bahkan cenderung dingin. Rasanya seperti dipasang air conditioning raksasa hehe Pemandangan di sekitar juga menentramkan. Asri, rapi, dan bersih dari sampah. Jadi kamu makan di sudut manapun, tidak akan jijik dengan adanya tumpukan sampah yang biasanya ada di danau-danau. Di sini, danaunya sangat bersih. Tak ada sampah. Walaupun airnya tidak biru dan bening, tapi bersih dan tidak berbau busuk. Tanaman hias yang tumbuh di tepian danau, bikin suasana makan jadi nikmat. Saya malah sampai lupa apa rasa makanan yang saya makan. Semua jadi terasa enak kalau suasananya enak begini ya kan.


Ga ada makanan yang ga laku, semua laris manis

Harga makanan bervariasi namun terjangkau. Mulai dari 15.000 sampai 35.000 perporsi. Untuk minuman rata-rata 15.000 sedangkan makanan mulai dari 15.000 sampai 35.0000. Untuk makanan dan minuman, berdasarkan ingatan saya yang payah ini, ada nasi gudeg, nasi timbel, nasi goreng, nasi capcay, gado-gado, pecel, karedok, batagor, bajigur, sate kambing, sate sapi, sate padang, sate madura, aneka sup, tutut gulai, tongseng, aneka bakso, aneka mie, aneka soto, aneka gorengan, kwetiau, duren bakar, rujak, pizza, steak, ommelete, salad, spaghetti, aneka kue tradisional (yang namanya tidak semuanya dapat saya hafal), wedang ronde, es cendol, es doger, es campur, es mayang, es buah, sop buah, milkshake, aneka jus dan masih banyak lagi yang namanya tidak bisa saya ingat secara keseluruhan.

Rujak, sate, bakso


Nasi rames, ayam balado, tutut goreng, nasi bakar, duren bakar

Buat kamu yang 'hobi' ke toilet, jangan khawatir. Usai makan dan merasa kekenyangan, trus tiba-tiba 'kangen' toilet, di tempat ini ada 8 toilet bersih yang siap untuk kamu sambangi *lol. Toiletnya bersih dan berlimpah air. Nyaman banget.

Satu hal yang paling penting, jangan pernah berlaku tidak terdidik. You know what I mean : Jangan buang sampah sembarangan! Jangan mentang-mentang di sini banyak petugas kebersihan, lantas kamu semaunya meletakkan sampah bekas makan/minum hanya karena merasa ada yang mungutin. Jangan sekali-kali begitu! Ada banyak tong sampah yang siap menerima sampah-sampahmu. Eh...ini mah ngasih tahu bukan menganggap kamu tidak terdidik tapi karena nih mata saya melihat langsung ada pengunjung yang kelihatannya berasal dari keluarga kaya dan terdidik tapi seenaknya saja membuang sampah botol bekas minuman. Huh! Ohya, karena tempat makan di pasar terapung ini terbuka, menyatu dengan alam, jadi jangan terkejut kalau saat makan, ada pria di sebelahmu atau seberang mejamu, asyik menghisap rokok. Bah! Saya paling benci dengan asap rokok. Racun! Itu orang memangnya tak bisa ya mencari tempat lain, menjauh dari tempat makan dimana di sini ada banyak anak kecil yang tidak sudi menghisap racun dari rokokmu!


Suasana pasar terapung

Jika kamu ke Bandung, berwisatalah ke tempat ini bersama keluarga. Selain makan-makan puas, bisa main-main (di air maupun di darat), bisa pijat pijit (ada tempat refleksi lho), juga bisa belanja-belanji.

Untuk mencapai Floating Market Lembang, waktu tempuh dari Bandung ke Lembang sekitar 30 menit saja. Saya kira jauh dan medannya berat, teryata dekat dan mudah dicapai. Ketimbang saya macet-macetan dari Jalan Sudirman di Jakarta ke Depok, waktunya bisa 2,5 jam lamanya. Sudah rasanya capek, banyak polusi, terbit emosi, pemandangannya jelek pula (nonton banjir hihi). Wisata di sini murah, cuma bayar 10.000 buat masuk. Di dalam, jika hendak jajan dan main-main baru bayar lagi. Itupun kalau mau, kalau tidak mau ya tidak apa-apa sekedar keliling dan melihat-lihat. Tidak dilarang.

Floating Market Lembang. Pemandangannya fantastis, kulinernya bombastis!
Hihihi...lebay ga ya? Ga lah. Lha wong pesona pasar terapung di FML sama memikatnya dengan pasar terapung yang ada di Banjarmasin dan di Thailand kok. Tidak percaya? Buktikan sendiri :D

Hi, saya di Floating Market Lembang nih
Sedang di depan salah satu factory outlet punya FML, mau beli baling-baling kertas :))
*gaya lu :p


=====


Floating Market Lembang

Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung

Bandung - Jawa Barat INDONESIA



Tiket masuk Rp 10.000,- /orang 
(tiket bisa ditukarkan dengan wellcome drink berupa produk dari Nestle yakni: lemon tea, coffee latte, chocolatte, milo )

Tarif parkir Rp 5.000/hari

Jam operasional:
Week Day (Senin-Kamis) Jam 09.00-17.00
Week End (Jumat & Sabtu) Jam 09.00-20.00
Week End (Minggu) Jam 08.00-20.00

 


Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion

Leave your message here, I will reply it soon!