Travel

Hotel

Culinary

Recent Posts

Indahnya Etika Bertemu, Senangnya Berjumpa denganmu!


Mbak Savitry "Icha" Khairunnisa dari Norwegia sedang mudik ke Indonesia sejak bulan Juni sampai Agustus 2022. Baru-baru ini saya bertemu dengannya di Plaza Senayan, Jakarta (2/8).

Pertemuan kami singkat saja, namun menyenangkan, istimewa, dan agak "langka". Karenanya, saya jadi ingin mengabadikannya di blog ini, sebagai kenangan.

Namun sebelum itu...

Saat hendak menuliskan cerita pertemuan dengan Mbak Icha di sini, ada satu ingatan yang tiba-tiba muncul dalam benak saya. Tentang ajakan bertemu yang pernah tak berkenan di hati. Ceritanya begini.....

Beberapa tahun silam, pada suatu siang. Seorang kenalan blogger mengirim pesan melalui Whatsapp. Isinya singkat saja. Intinya dia memberitahu saya sedang berada di suatu tempat di BSD, dan meminta saya datang untuk bertemu saat itu juga.

Tidak ada yang salah dengan ajakan itu, saya hanya jadi agak kaget karena ajakan bertemu tersebut sangat mendadak dan harus saat itu juga.

Saya mencoba mengingat kapan kami pernah membicarakan janji temu. Namun, sekeras apapun saya berusaha, ingatan soal janji temu itu tak ditemukan, karena memang tak pernah ada. 

Kami sebenarnya bukanlah kawan dekat. Hanya saling tahu dan pernah berinteraksi di medsos saja, itu pun sesekali.

"Mohon maaf banget tidak bisa sekarang. Saya sedang kurang sehat, baru haid. Badan lemas, mual, mulas, dan kepala pusing."

Saya menjelaskan kondisi diri sesuai fakta. Meskipun ada fakta lainnya seperti sedang ada kerjaan di rumah, sebentar lagi mau jemput anak pulang sekolah, dan lainnya. Namun fakta lain itu saya sembunyikan. Cukup hal paling gawat saja yang terinfo, soal sakit itu.

Ketidakbisaan saya untuk bertemu direspon dengan datar. Kemudian yang luar biasa, saya distatusin di Facebook! 😱 Aneh juga sih. Kan katanya dia lagi ada acara di BSD. Ketemu saya itu cuma sambilan. 

Kenapa kesalnya sebegitunya, ditumpahin di tempat umum pula 😂 Jujurly, saya paling gak suka sama orang yang bila ada masalah diomongin di belakang, atau malah di statusin di medsos dengan tujuan ngajak orang mendukung emosi pribadinya dia. Kalau ada masalah dikelarin, bukan dipanjangin wkwk.


Ketika Saya Mengajak Bertemu 

Saat saya punya rencana datang ke suatu kota, dan punya waktu untuk bertemu dengan teman-teman yang ada di kota itu, tapi waktunya terbatas, saya biasanya akan bilang begini:

"Insha Allah hari Jumat saya ke Surabaya. Saya punya waktu luang hari Sabtu, jam 4 sore. Kalau ada waktu, ketemuan bareng-bareng yuk di Mall Tunjungan Plaza. Lokasinya dekat dari hotel tempat saya nginap. Biar gak jauh. Soalnya saya punya waktu 2 jam-an saja buat ketemu."

Dengan cara begini, saya menawarkan kesempatan, tapi tidak memaksa. Yang bisa ayo mari ketemu, yang gak bisa gapapa. 

Penting bagi saya memberi info yang jelas dan rinci. Untuk mempermudah orang lain membuat keputusan apakah bisa bertemu atau tidak. Karena yang sibuk bukan saya saja, orang lain juga sibuk.

Saya ada sebut "bareng-bareng", tujuannya supaya bisa dilakukan di satu tempat, pada satu waktu. Selain untuk efisiensi waktu, juga biar hemat biaya, dan meminimalisir kerepotan. 

Balik lagi ke soal bertamu ke suatu kota, lalu ngajak ketemu...

Kalau sudah terinfo, harapannya gak ada lagi teman yang ngomong: "Ih ke Surabaya ga bilang-bilang. Kok ga ngabarin? Kok gak ajak-ajak ketemu? Sombong amat diem-diem aja ke Surabaya"

Hadeuh 😅

Saya suka mengajak teman bertemu. Bukan untuk merepotkan, tapi untuk merawat hubungan, supaya silaturahmi senantiasa baik dan terjaga. 

Kepada kawan dekat, biasanya langsung saya japri seperti ini:


Ketika Saya Mengajak Mbak Icha Bertemu

Mbak Icha adalah seorang penulis. Beliau berasal dari Surabaya. Pernah tinggal di Inggris, Malaysia, dan sekarang sudah belasan tahun di Norwegia bersama keluarganya. 

Mbak Icha punya blog, tapi sudah lama belum diupdate. Katanya sibuk dan ada prioritas lain.  Tetapi kegiatan menulisnya jalan terus, terbukti dari adanya karya berupa buku-buku solo yang diterbitkan oleh Gramedia dan dapat dibaca oleh penggemarnya di Indonesia.

Selain menulis buku, Mbak Icha aktif di media sosial; Facebook dan Instagram. Di FB Mbak Icha menulis beragam topik. Kadang tentang keluarga, kegiatan harian di rumah, traveling, parenting, aktivitas putranya di sekolah (pendidikan di Norwegia), kuliner dan masakan, pertemanan, politik, dan agama pun ada. 

Saya suka baca tulisan-tulisannya yang berbobot. Saya suka dengan pandangan-pandangannya yang dewasa dan bijaksana. Saya suka buah pikirannya yang cerdas. Selalu ada hal menarik yang bisa diketahui, dan ada saja pelajaran yang bisa dipetik. 

Lewat tulisan-tulisannya itulah kami berinteraksi. Berbalas komen dengannya terasa menyenangkan. Hal seperti inilah yang membuat saya nyaman, betah dan jadi ingin jumpa.

Pada minggu terakhir bulan Juni lalu saya melihat postingan mbak Icha di Instagram. Ada foto Mbak Icha sedang di Jakarta. Ternyata Mbak Icha dan keluarganya sedang mudik ke Indonesia.

Lantas bagaimana dengan saya, ada rasa pengen ketemu? Oh itu pasti.

Tapi saya sangat mengerti. Orang baru datang dari benua jauh, telah 2 tahun tak bisa mudik karena pandemi, saat mudik tentu sudah punya prioritas bersama keluarganya.

Untuk mengajak Mbak Icha bertemu, tentu saya perlu menyusun kata setepat mungkin supaya tidak menjadi bebannya, dan tidak mengganggu jadwal kegiatannya.


Pada saat saya menulis:

"Masya Allah 😍😍 Selamat menikmati hari² selama di Indonesia ya mbak. Lumayan agak lamaan di Indonesia-nya ya sampai awal Agustus. Sekiranya sedang papasan waktu dan tempat, senang sekali jika dapat berjumpa. Jumpa sama panutankuuu 😚😘"

Lalu Mbak Icha membalas: 

"insyaallah nanti setelah aku kembali dari Surabaya, semoga kita ada rezeki ketemuan, ya Mbak Erien ❤️" 

Ungkapan mengajak bertemu hanya sekali itu saja. Setelah itu saya tidak mengulanginya lagi. Saya tidak ingin membuat Mbak Icha jadi terbebani waktu. Sebab saya pun sama, kalau sedang bepergian ke suatu tempat, semisal ada yang menagih pertemuan, rasanya tak tenang. Sayanya jadi sibuk mencari waktu, bahkan menggeser jadwal sana sini. Karena itulah, saya pun ingin pengertian terhadap orang lain.

Hingga suatu hari Senin tgl. 1 Agustus 2022.....



Ketika Mbak Icha Mengajak Saya Bertemu 

Masya Allah. Niat tulus menjalin silaturahmi dimudahkan Allah. Rejeki waktu dan kesempatan itu akhirnya datang. 

Tanpa saya duga tepat di hari pertama bulan Agustus, Mbak Icha menghubungi saya lewat DM IG. Saya diajak bertemu hari Senin tgl. 8 Agustus di Citos, Jaksel. Waktunya tepat satu hari sebelum keberangkatan kembali ke Norwegia pada Selasa 9 Agustus 2022.

Tanpa menawar, saya langsung setuju. Sebab di sini yang sibuk adalah Mbak Icha. Waktunya berada di Indonesia terbatas. Jadi, saya biarkan Mbak Icha yang mengatur waktu dan tempat. Saya tinggal mengikuti dengan senang hati.

Termasuk ketika tiba-tiba Mbak Icha mengubah jadwal ketemuan dengan memajukannya menjadi Selasa tgl. 2 Agustus. Saya tetap setuju, tetap dengan senang hati.

Tidak ada keadaan yang membuat saya mesti menolak, terlambat datang, atau pun merasa malas menempuh jarak panjang dari BSD ke Plaza Senayan. 

Saya sangat bersemangat. Alhamdulillah semuanya lancar, semuanya aman. Kami pun berjumpa.


Bertiga di Monologi, Plaza Senayan

Hari itu, Mbak Icha juga janjian dengan Mbak Mia, seorang business woman mumpuni yang merupakan adik angkatan kuliah adiknya Mbak Icha. Kami ketemu bertiga di waktu yang sama. Alhamdulillah saya jadi punya teman baru.

Nah, Mbak Mia itu ternyata pernah tinggal di BSD, di komplek yang sama dengan saya. Gak nyangka kami pernah tetanggaan, bahkan satu blok. Lucunya, selama bertetangga kami belum pernah ketemu. Ketemu dan kenalannya baru hari itu, di Plaza Senayan,  setelah udah gak tetanggaan lagi.

Dunia memang sesempit itu 😁 

Drama Hilang HP yang Ditemukan Kembali

Obrolan siang itu mengalir lancar, sambung menyambung, dan ada saja yang bisa diceritakan. Suasana terasa hangat dan akrab. Saya merasa seperti bertemu kawan lama yang sudah lama tak jumpa. 

Sampai kemudian obrolan terhenti saat Mbak Icha sadar dua buah HP nya tidak ada. Kalau tak salah, saat itu Mbak Icha mau menghubungi suami dan anaknya, ternyata kedua hapenya hilang!

Ada satu tempat yang langsung terlintas di pikiran saya saat itu, yakni musala. Tempat saya dan Mbak Icha pertama bertemu, saat sama-sama menunaikan salat Zuhur.

Dan benar saja, HP memang ketinggalan di musala. Ditemukan di rak sepatu oleh akhwat yang jaga musala, lalu dititipkan di pos keamanan tempat pengambilan barang ketinggalan. Saya jadi ingat, ketemu mbak Icha di musala saat sedang pasang sepatu. Kemungkinan tertinggalnya saat itu. 

Alhamdulillah HP sudah ketemu. Mbak Icha lega, saya juga turut lega. Masih rejeki. Masih Allah jaga. 

Selama ngobrol di Monologi itu kami memang sama sekali gak pegang HP. Semua abai pada gawai. Sebuah etika juga, lepaskan HP ketika duduk berjumpa kawan. Kami baru pegang HP lagi saat mau foto bareng.

Buku Kelana Rasa Mancanegara karya Mbak Icha, terbitan Gramedia. Thanks bukunya, mbak!

Tak lama setelah HP ketemu, kami menyudahi pertemuan. Karena Mbak Icha masih ada janji temu lagi dengan orang lain, masih di sekitaran Senayan juga. Dan ternyata terjadi drama kedua di Mbak Icha, orang yang hendak mereka temui kemudian ternyata ada di gedung seberangnya wkwk.

Udah selesai? Belum. 

Masih ada sesi singkat saya ketemu Fatih, anaknya mbak Icha yang sore itu menyusul ke Plaza Senayan bersama suaminya.

Walau sesaat tapi saya senang bisa bertemu keluarga Mbak Icha lengkap. Ngobrol sedikit sama Fatih, yang ternyata bahasa Indonesianya bagus sekali. Kata Mbak Icha, bahasa Ibu tetap diajarkan dikeseharian, makanya Fatih lancar berbahasa Indonesia. Malah ada aksen Jawa nya.



Terima kasih Mbak @ichasavitry untuk pertemuan yang hangat ini. Untuk obrolan yang bersahaja. Untuk buku Kelana Rasa Mancanegara yang menggugah selera dan mengajak untuk "Ayo praktekkan". Untuk kesempatan berjumpa dengan Fatih, anak soleh yang manis sekali sikapnya.

Selamat bersiap kembali ke Norwegia, mbak Icha.

Semoga kita sehat selalu, umur panjang, dan berjumpa lagi di lain waktu.

Indahnya berteman 😍



Terakhir, saya unggah poster KEB Ngobrol. Saat Mbak Icha jadi narasumber untuk obrolan bertema: Catatan Seorang Ibu Tentang Pendidikan di Norwegia.

Instagram Mbak Icha @ichasavitry

Saya sangat suka dengan persahabatan yang sehat. Saling memberi dampak positif, kekuatan, dan kedamaian hati, satu sama lain ✨❤️

Mencicipi Croffle Croffory dan Minuman Neocha di Kumulo, The Breeze BSD City

 
Blogpost pertama bulan Agustus, cerita jalan dan jajan di Kumulo, BSD. Berdua suami saja. Cuci mata lihat Kumulo Market. Foto-foto. Makan croffle Croffory. Minum Neocha. Belanja oleh-oleh. Lalu pulang.

Saya senang. Maka, saya menuliskannya di sini, di blog.

----###------

Kadang ada yang suka nanya begini ke saya...

"Ngapain sih apa aja ditulis di blog, emang masih ada orang mau baca blog? Emang masih ada yang cari info jalan-jalan, kulineran, belanja, dan semua hal tentang gaya hidup di blog? Emang masih ada yang nawarin kerjasama di blog, lalu ngasih barang dan duit? Emang blog kamu isinya apaan? Tuh, orang kalau butuh apa-apa buka tiktok dan reel, bukan blog. Udahlah tinggalin lah blog, gak guna lagi saat ini" 😱

....sit down

be humble....

Begitu isi tulisan di dinding @croffory.id @neocha.id yang saya mampiri.

Memang, rasanya tiba-tiba jadi pengen cerita tentang banyak hal jika ada yang tanya-tanya seperti itu. 

Cerita tentang hal-hal positif yang banyak didapat dari kegiatan ngeblog, sejak 14 tahun lalu. Hal positif bagi diri, dalam berbagai bentuk, yang terlihat dan bisa disentuh, maupun yang hanya bisa dirasakan.

Tapi, ah sudahlah...

Mari duduk tenang saja. Menikmati makanan lezat, menyeruput minuman kesukaan, berbincang dengan orang tersayang, dan melakukan hal-hal baik yang disukai, sembari tak henti bersyukur.

 

Saya suka punya waktu yang baik. Waktu untuk duduk santai depan laptop, buka blog. Menulis hal-hal positif yang dilakukan, lagi baik dan menyenangkan. 

Mengabadikan sesuatu atau bermacam hal di blog, menjadikannya kenangan, dalam rangkaian kata dan foto-foto yang diambil dengan sukacita.

Karena blog, tempatnya pikiran bahagia. Milik mereka dan saya, yang menjadikannya rumah, teman sejiwa tempat di mana hati berada. 

Tak peduli masih jadi tren atau sudah berlalu, dibaca atau sudah tidak lagi, dibutuhkan lalu dibayar atau tidak sama sekali, diingat dan dicari atau ditinggalkan lalu dilupakan, blog tetaplah rumah, akan selalu ditempati dan diisi.

Kalau masih tak mengerti, duduk sini kita bicara dengan pikiran bahagia 😍🤗

 

Biar gak kaku, mari berbincang sambil makan Salmon Mentai Croffle dan Smoked Beef BBQ Croffle, ditemani minuman Rose Thai Pearl Genmaicha dan Hojicha Milk Tea. 

Tempatnya sudah saya sebut di awal. Yakni di Croffory dan Neocha, di Kumulo BSD. Ini tempatnya bukan terpisah, melainkan satu.

Kumulo terletak di The Breeze BSD City. Mall without walls, sebutan untuk The Breeze, salah satu tempat hangout terbaik di BSD. Khusus untuk memanjakan perut. Laksana taman, ini adalah taman jajan kelas premium di BSD.

Gak cuma jajan-jajan gembira, di sini bisa sekadar jalan menikmati suasana taman di pinggir danau, nonton bioskop, dan bahkan belanja.

Saya sering ke The Breeze bersama keluarga, tapi baru November tahun 2021 lalu mau masuk Kumulo. Eh ternyata masuknya bayar Rp 15.000. Berhubung waktu itu cuma mau survey untuk tempat kumpul bareng temen-temen AII, saya dan teman ga jadi masuk. Ga recommended juga kalau buat kumpul rame. Karena rumah modular atau prefab di dalam Kumulo itu kecil-kecil. Kalau dimasuki bareng bakal sesak.

Ternyata sekarang masuk Kumulo gratis!

 

Banyak croffle enak di luar sana, salah satu yang disajikan oleh Croffory ini, termasuk yang recommended untuk dicoba. Khususnya, bagi mereka penggemar croffle, yang tinggal di BSD dan sekitarnya. 

Croffory memiliki tempat berukuran kecil saja, tapi Instagrammable dengan interior simpel dan elegan. Selain croffle, di sini bisa menyantap menu lainnya.

Ada menu Brunch, Savory Croissant, Sweet Croffles, dan Beer. Aiih bir...

Harga menu brunch: Big breakfast (50K), Omelette (30K), Parisian Breakfast  (35K), Eggs Benedict (40K), Avo Toast (40K).

Harga menu Savory Croissant: Salmon Mentai Croffle (35K), Beef Floss Menti Croffle (25K), Smoked Beef BBQ Croffle (25K), Sausage Marinara Croffle (25K), Mozarella Marinara Croffle (25K).

Harga Sweet Croffles: Mint Ichigo Cream Croffle (25K), Mix Berries Cream Croffle (35K).

 

Karena sajian utamanya croffle, jadi saya dan suami akan makan croffle. Saya suka ikan, jadi saya memesan Salmon Mentai dan suami Smoked Beef BBQ. 

Karena prefabnya kecil, dan dapurnya terbuka, jadi saya bisa lihat mbaknya membuat croffle. 

Mbaknya sendiri, tiada teman. Tapi lincah membuat croffle dan minuman. Seru liat croffle dibuat,  "ditembak" pake api segala hihi. 

Saya suka Salmon Mentai Croffle. Lezatnya Salmon Mentai dalam perpaduan rasa dari gurihnya croissant dan manisnya wafle, terasa enak sejak gigitan pertama. 

Ukuran croffle nya pas buat saya. Kecil enggak. Besar banget juga enggak. Kalau saya makan 2 tampaknya akan kekenyangan. 

Salmon Mentai Croffle

Beef Smoked BBQ Croffle


Saya nggak nanya kenapa dalam 1 prefab ada Croffory dan Neocha. Apakah milik orang yang sama? Bisa jadi iya, bisa juga tidak. 

Croffory dan Neocha. Satunya makanan, satunya lagi minuman. Memang serasi. Karena orang makan biasanya butuh minum. Keduanya sedang sama viral. Jadi hits di kalangan coffee hunter.

Ada tiga macam menu minuman di Neocha, di antaranya: Fleur Family, Frut Family, Creme Family.

Minuman Fleur Family terdiri dari: Elderflower dill crysanthemum, Lavender rosemary asmanthus, Rose thai pearl genmaicha, Violet crystal genmaica.

Frut Family tediri dari: Lemon-lime-dill, Lychee rosemary genmaicha, Mixed berries tea, Peach passion rosemary, Reed kandis tea.

Creme Family terdiri dari: Hojicha milk tea, Matcha milk tea, Thai milk tea.
 

Nama-nama minumannya cantik, pakai nama- bunga-bunga. 

Sebelum liat minumannya saya sudah bayangin warna-warni cantik bunga dengan aroma yang wangi dan lembut. Makanya saya coba pesan Rose thai pearl genmaicha. Ternyata sesuai bayangan. 

Untuk minuman, pelanggan bisa memesan dengan pilihan gula & ice level normal, half, atau none. Sedangkan ukurannya tersedia small dan large. Harga minuman seragam. Ukuran small 31K dan large 36K.

Minuman disajikan dengan cup plastik. Makanan pakai kotak kertas. Semua sekali pakai.

Rice Bowl nya harus dicoba lain waktu

Saya suka ke Kumulo. Ide kafe dengan rumah prefab nya itu unik. Simple tapi instagramble. Kadang berasa ada beach vibes nya, mungkin karena keberadaan pohon-pohon mirip palem. Tinggi kurus gak bercabang, berdaun di bagian puncak saja.

Croffory yang saya datangi paling muat 4-6 orang saja di dalam. Di depan bagian luar ada 4 bangku. Di samping ada 1 bangku muat berdua. Jadi kalau datang bersepuluh ke sini, bisa aja. Sebagian di dalam, sisanya di luar.

Pemilik prefab menyediakan hand sanitizer, tisu kering, sarung tangan plastik untuk memegang makanan di meja-meja. 

Pembayaran mudah, dengan uang tunai, OVO, Gopay, transfer, namun tidak debet.

Tempatnya bersih, nyaman, dan sejuk pakai AC. 

 
Saya mau cerita juga soal Kumulo Market nya. Tapi nanti di lain tulisan.

Kalau ada teman-teman yang berencana mengisi akhir pekan di Tangsel, coba datang ke The Breeze BSD City. 

Ada banyak pilihan tempat makan enak di The Breeze BSD. Buat jadi pilihan tempat bersantap bersama keluarga, teman, sahabat, rekan bisnis, semua cocok. 

Toilet dan tempat solat tersedia, bersih dan lapang. 

Soal kebersihan, hampir semua sudut The Breeze BSD itu bersih. Sangat nyaman buat berjalan-jalan di mall tanpa dinding. Cakep buat foto-foto.


Kalau datang ke The Breeze BSD,  jangan lupa mampir ke Kumulo. Tempatnya kecil saja, tapi bikin happy. 

Kamu mesti menyeberangi jembatan di atas danau untuk ke sini, dan pemandangan sekitarnya menarik buat dilihat. 

Kumulo buka tiap hari dari Senin sampai Minggu, jam 10am - 8pm

Buat yang ingin tahu lebih banyak soal Kumulo, bisa kunjungi IG @kumulo.bsd

Sampai jumpa di cerita berikutnya: Kumulo Market

Wisata Taman Mas Kemambang Purwokerto, Tempat Asri Untuk Rekreasi

Taman Mas Kemambang - Purwokerto 19 Juni 2022
  

Tak Jadi ke Batu Raden, ke Taman Mas Kemambang pun Bahagia

Dalam susunan kegiatan jalan-jalan di Purwokerto, saya menempatkan Batu Raden sebagai tujuan wisata pertama. Beberapa tempat sudah saya tandai, dan berharap dapat terwujud. Tetapi, situasi membuat rencana berubah. Kegiatan rekreasi akhirnya berlabuh di Taman Mas Kemambang dan Menara Teratai. 

Nama Taman Mas Kemambang mengingatkan saya pada nama taman di Palembang. Yakni Kambang Iwak. Ada kemiripan pada Kambang dan Kemambang. Kambang Iwak itu sendiri secara harfiah berarti kolam ikan. Apakah Kemambang berarti Kolam? Saya tidak tahu, tapi yang pasti sama-sama taman. Sama-sama punya kolam ikan.

Teman saya Pungky yang mengenalkan Taman Mas Kemambang. Katanya, kalau sore enak jalan ke sana aja. Tempatnya asyik buat nongkrong sambil menikmati cemilan dari pondok-pondok jajan. 

Kata-kata Pungky bagai mantra. Saya patuh, lantas memasukkannya dalam kegiatan sore di hari pertama di Purwokerto.  Taman macam apa Taman Mas Kemambang itu? 


Kesorean dan Kehujanan di Taman Mas Kemambang

Sabtu sore tgl. 18 Juni saya berencana ke Taman Mas Kemambang, tentunya bersama keluarga. Tapi apa daya, siang hingga sore itu kami istirahat saja di kamar Hotel Luminor. Memulihkan tenaga setelah semalaman berkendara dari BSD ke Purwokerto yang dilanjut kondangan. 

Setelah berenergi lagi, baru kami pergi. Tapi sudah kesorean. Cuaca cerah sedari pagi sampai siang pun telah berubah hujan tanpa ada tanda berhenti. 

Baca juga cerita kami Menginap di Hotel Luminor.

Namun, hujan tak bikin kami mundur, tetap maju terus ke Taman Mas Kemambang. Kami pergi meninggalkan hotel. Berkendara pelan di bawah langit berawan kelabu. Kota tampak redup seperti suasana selepas magrib. Diiringi hujan yang masih awet. Terasa begitu sendu, syahdu, dan basah. Pertanda bahwa: Ini bukan waktu yang cocok untuk main ke taman! 😅

Dalam remang petang, di bawah guyuran hujan, saya melihat gerbang Taman Mas Kemambang. Desainnya serupa gerbang-gerbang cluster perumahan di BSD. Tampak megah dan memesona.

Saya berpayung menuju loket. Menanyakan apakah masih buka. Katanya masih. Lalu petugas di loket berkata: "Bisa masuk bu, tapi hujan. Paling ibu keliling taman sambil payungan."

"Gak mas, besok aja saya balik lagi." wkwkw. Ya iyalah ngapain di taman hujan-hujanan. Mau foto-foto pun gak bakal dapet apa-apa. Ya udah kami mundur. Sebelum kami pergi, pak security memberitahu ada restoran seafood di belakang, di luar taman. Saya memang niat cari makan sore itu. Tapi arahan pak security saya lewatkan. Saya cari yang lain. Sempat singgah di beberapa rumah makan, dan akhirnya berhenti di Kosek Cak Kholiq, makan bebek ditemani pengamen yang senang sekali diminta nyanyi lagu-lagunya Padi 😂 

HARGA TIKET. Senin-Jumat Anak-anak & Dewasa Rp 10.000 / orang. Sabtu-Minggu & Hari Libur Nasional Anak dan Dewasa Rp 15.000 / orang. Buka jam 9AM - 10PM

Taman di Tengah Kota, Bukan Sekadar Tempat Rekreasi

Saya suka kini banyak taman di tengah kota. Di BSD tempat saya tinggal, sejak lama ada Taman Kota 1 dan Taman Kota 2. Tamannya bersih dan sehat. Selalu ramai dikunjungi warga untuk beragam aktivitas. Banyak pohon di dalamnya, tinggi-tinggi dan rindang. Ada jalan setapak buat berjalan kaki, alat bermain untuk anak, alat olahraga, sarana untuk bermain skate board, pondok jajan dalam satu area, tempat senam. Bahkan di Taman Kota 2, sungainya kini disulap menjadi pedestrian yang sangat indah, bagaikan suasana taman di pinggiran Sungai Cheonggyecheon di Seoul Korea Selatan.

Keberadaan taman kota amatlah penting, sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Gak hanya dalam skala kota, kini tiap cluster perumahan pun punya taman. Warga dalam cluster tak perlu ke taman kota lagi sekedar untuk menikmati suasana asri yang menyehatkan. Di perumahan saya pun ada taman hijau terawat ditumbuhi banyak pohon, bisa dinikmati untuk berolahraga atau duduk-duduk saja.

Berkat penghijauan yang dilakukan, taman menjadi paru-paru kota, penghasil O2. Dapat menyaring debu dan asap kendaraan bermotor, sehingga meminimalisir polusi udara. Dapat menyimpan air tanah, untuk mencegah erosi dan banjir, dan menjamin pasokan air tanah. Juga untuk kelestarian ekosistem, seperti burung.

Taman kota kini bagus-bagus. Termasuk Taman Mas Kemambang yang saya kunjungi. Biaya bikinnya pasti gak murah. Di balik pembuatannya tentu bukan untuk fungsi ekologis saja, tapi juga ada fungsi sosial sebagai tempat komunikasi sosial, bermain, berolahraga, dan rekreasi. 

Ada lagi selain itu, taman juga dapat menambah nilai estetika sebuah lingkungan sehingga menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan,  taman bisa menjadi landmark sebuah kota. Seperti Taman Mas Kemambang ini, bila namanya disebut, orang-orang akan langsung ingat Purwokerto. Dan bila ke Purwokerto, orang-orang akan mendatanginya sebagai bagian dari kegiatan city tour.

Gak heran kenapa Pungky merekomendasikan Taman Mas Kemambang kepada saya. Ternyata, setelah saya masuk dan berkeliling, memang recommended untuk dikunjungi!

Berapa tiket masuknya? Rp 10.000 (weekdays) Rp 15.000 (weekend dan libur nasional). Anak dan dewasa harganya sama. Murah banget kan?

REKREASI di Taman Mas Kemambang. Taman asri untuk rekreasi di tengah kota.

Gerbang Menawan

Taman Mas Kemambang terletak di Jalan Karang Nobar, Glempang, Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas. Berjarak kurang lebih 2,4 kilometer dari Hotel Luminor yang kami inapi. Waktu tempuh dari hotel kurang lebih 10 menit saja. Sangat dekat dari alun-alun kota.

Gak sulit mencapai Taman Mas Kemambang. Perjalanan lancar. Orang-orang berkendara dengan tertib. Suasana kota juga nyaman, banyak bersihnya. Enak sekali dilihat. 

Saat menuju Taman Mas Kemambang, kami melewati Hotel Java Heritage Purwokerto. Hotel yang ingin saya inapi selama di Purwokerto. Sayangnya untuk tgl. 17 dan 18 Juni saat itu sudah penuh. Karena itu jadinya nginap di Hotel Luminor.

Bagian terdepan Taman Mas Kemambang itu lebar. Di sisi kanan gerbangnya bisa buat parkir mobil. Tapi hanya 1 baris. Di saat ramai pengunjung, saya yakin banyak yang gak kebagian parkir mobil. Ada juru parkir di sana. Begitu sampai kami diminta langsung bayar. Gak ada tarif khusus. Kami bayar saja 10.000,-

Gerbang tamannya cakep. Saya naksir dengan desainnya. Nama taman dibuat ngejreng pakai warna merah, dengan foreground tanaman hijau. Diperkaya dengan desain berbentuk bunga, dipadu padan dengan elemen besi secara seimbang. Sungguh mengundang untuk berfoto. 


Kamera DSLR Tertinggal di Gerbang Taman, TIDAK HILANG

Rasanya, belum afdol ke taman kalau belum berfoto di depan gerbang. Untuk berfoto selama di taman, saya mengandalkan realme 9 Pro+. Bawa kamera DSLR Canon EOS 70D juga sih. Tapi gak dipakai, hanya ditenteng oleh suami. 

Nah, terjadi sesuatu pada kamera DSLR. Tasnya tertinggal di gerbang, setelah kami berfoto. Entah gimana ceritanya sampai tertinggal. Suami melepaskannya dari pegangan, lalu masuk taman begitu saja.

Setelah melewati loket, di belakangnya langsung terpampang kolam ikan, sekaligus tempat bermain perahu bagi pengunjung. Di situ kami duduk-duduk sejenak, menikmati suasana, melihat-lihat ikan di kolam. Tiba-tiba suami berdiri dengan terkejut, sambil meraba-raba badannya. Mukanya serius dan tegang. Lalu berlari menuju gerbang, keluar taman.

"Tas kamera (beserta isinya) ketinggalan di luar," kata Alief. 

Saya terkejut. Tapi tak mau berkata-kata selain melihat ke mana suami berjalan saja. Sambil berharap semoga tas kamera masih ada. Tak lama suami kembali. Dibahunya kini tersandang tas kamera. Ya Allah ketemu. Gak hilang. Padahal di luar saat itu banyak orang lalu lalang dekat gerbang. Masih rejeki! Alhamdulillah.

Di sini belum sadar kalau tas kamera tertinggal di gerbang

Setelah tas kamera ditemukan 😄 Alhamdulillah gak hilang

Main Scooter Listrik 

Main scooter listrik di Taman Mas Kemambang jadi aktivitas paling seru yang dilakukan oleh anak saya Aisyah. Paling bikin dia senang. Paling bikin dia heboh. 

Hal yang paling Aisyah senangi di Taman Mas Kemambang, jadi hal yang paling saya ingat. Memang ya, kesenangan anak itu nomor satu. Karena itu,  di antara semua hal yang saya temui di Taman Mas Kemambang, saya akan cerita soal scooter listrik itu dulu. 

Tempat main scooter gak jauh dari pintu masuk utama. Dari loket ambil jalan di sebelah kanan setelah kolam ikan. Nanti keliatan ada lapangan kecil berbentuk lingkaran. Lapangannya tanpa peneduh. Tapi di pinggir lapangan itu ada beberapa pohon rindang. Paling ujung ada kios souvenir, kios jajan, dan tempat penyewaan scooter listrik. Nah, di situ tempat sewanya.

Harga sewa scooter listrik Rp 20.000 per 15 menit. Setelah 15 menit akan ada tanda berupa bunyi-bunyi di scooter-nya, berarti dayanya mau habis, lalu scooter pun mati. Itu saatnya scooter dikembalikan. Kalau masih mau main tinggal sewa lagi dengan harga yang sama.

Scooternya buat anak kecil sampai remaja. Aisyah dan Alief kan udah termasuk remaja nih, kata mas yang jaga masih boleh pakai. Kalau saya udah gak remaja, udah mama-mama yang udah cocok jadi nenek, tapi aman kalau saya naiki, karena body saya masih kayak remajaaa haha

 

Heboh Scooteran!

Hanya Aisyah yang main scooter. Alief mencoba pakai sesaat, lalu stop. Mungkin merasa udah bukan mainannya lagi. Iya lho udah bujang setinggi 174cm, masa masih main scooter anak 😆

Kami bertiga jadi penonton. Nonton Aisyah yang kegirangan bermain scooter. Mainnya keluar lapangan. katanya gak seru kalau muter-muter di lapangan itu saja. Dia pengen meluncur di sepanjang setapak dalam taman, mengitari kolam. Lalu, heboh sendiri selama scooteran.

"Allahu akbar... allahu akbaaaaar," teriak Aisyah. Tiap meluncur di turunan, pasti teriak gitu. Kenceng banget pula. Pengunjung lain pada nengok liatin Aisyah, dikira kenapa-kenapa. Padahal ya gak ada apa-apa. Mukanya Aisyah dipenuhi rasa senang, tawanya lebar. Dia mentertawakan ketegangan yang dirasakannya.

"Dek, ga usah teriak-teriak kayak gituuu..." kata saya.

"Gapapa Ma, itu ekspresi dia antara senang dan takut jatoh. Bagus dia mengucapkan Allahu Akbar, bukan kata-kata....." ucapan suami saya terputus dipotong Alief.

"Iya daripada nyebut anjay, buseeeet, gilaaaak..." sambung Alief.

Bener sih. Semestinya begitu, dan udah bagus begitu. Saya sebenarnya bukan protes ucapan Allahu Akbarnya, tapi suaranya, minta diturunin dikit volumenya. Gimana kalau bermain ski di meluncur di atas salju ya, bisa membahana teriakannya😁 

Saya lihat cuma Aisyah yang scooteran di taman. Yang lainnya di area bermain scooter saja, di lapangan dekat penyewaan. Aisyah mainnya gak mau sebentar. Kami biarkan dia berlama-lama, hanyut dalam keasyikan bermain scooter.

Alief duduk-duduk santai. Suami sibuk motret Aisyah. Saya motret mereka dan suasana di taman.



Musala di Tengah Taman

Saya selalu kagum sama pengelola hotel/mall/fasilitas publik yang meletakkan musala di tempat yang baik. Di Teras Kota BSD, dulu musalanya berada di lantai dasar mall, satu deret dengan resto-resto ternama. Desain dan fasilitas musalanya pun bagus. Sangat bersih & nyaman. Bahkan mendapat penghargaan sebagai mushola mall terbersih di Tangsel. 

Padahal Teras Kota itu bukan mall besar. Tapi pengelola menempatkan musala di tempat yang baik. Bukan di basement, atau malah di lantai teratas di pojokan sempit dan gelap. Sekarang, Teras Kota punya masjid di lantai 3, persis di samping bioskop CGV. Luasnya hampir seperempat lantai 3 gedung Teras Kota. Sederet sama bioskop lho. Bukan di pojokan bioskop.

Saya pernah menginap di Edensor Hills Villa & Resorts. Musalanya justru paling depan. Depan resto, dekat front office. Ukurannya cukup besar, bisa salat berjamaah 3-4 saf. Kondisinya sangat bersih dan nyaman. Mudah diakses dari luar maupun dalam.

The Brezee BSD juga menempatkan musala di tengah, pada suatu gedung yang dikelilingi restoran-restoran ternama. Luas, bersih, dan sangat nyaman. Bukan di belakang di pojokan sepi dan jauh.

Di ibukota negara, hotel bintang 4 dan 5 bergedung megah dan menjulang, masih ada yang menempatkan musala di basement yang pengap. Atau di lantai tinggi yang jauh. Untuk mencapainya mesti muter lorong sana sini dengan penerangan yang minim. 

Nah, di Taman Mas Kemambang ini saya acung jempol sama desainer taman. Musala diletakkan di tengah taman. Bangunannya gak megah dan mewah tapi menonjol. Mudah dilihat dari sudut mana pun. Berdinding kaca sehingga terang benderang. Terbuka di bagian atas sehingga sirkulasi udara sangat bagus gak bikin pengap dan kepanasan. Tinggal ditutupi dikit tempat wudhunya, supaya perempuan bisa wudhu tanpa repot menutupi aurat.


Kios Jajan Penambah Estetika 

Orang-orang kalau main ke taman seringnya pengen sambil makan dan minum. Duduk-duduk santai sambil menikmati cemilan yang dibawa. Tapi di sini, dilarang bawa makanan dan minuman dari luar. Kalau butuh cemilan tinggal beli di dalam. Ada banyak kios jajan yang bisa dituju untuk belanja cemilan.

Buat saya, aturan macam itu sangat bagus. Di beberapa fasilitas rekreasi yang pernah saya datangi di kota lain, aturan ini diberlakukan ketat. Tujuannya bukan buat menyusahkan pengunjung. Tapi ada guna lain untuk kepentingan bersama.

Ntar kalau bebas bawa makanan, bisa-bisa ada yang bawa rantang sambil gelar tikar makan di taman. Ada kemungkinan jadi kotor, ganggu orang berkegiatan di taman, dan pastinya mengurangi keindahan dan estetika taman. Udah paling bener jajan aja di taman, buat bantu ekonomi pedagang juga kan.

Pengelola taman tak sembarang menyediakan kios jajan. Tampak betul dirancang dengan baik. Pondok jualan didesain menarik dengan warna-warni ngejreng, bak bathing box di Brighton Beach Melbourne.




Jajan Makanan dan Souvenir

Aktivitas yang bisa dilakukan di Taman Mas Kemambang ini terbilang lengkap. Saya merasa benar-benar diajak rekreasi. Selain nyaman untuk bersantai, mengenyangkan untuk jajan, juga menyenangkan untuk bermain dan belanja-belanji souvenir. 

Makanan dan minuman kemasan pabrik tersedia. Kuliner khas daerah pun ada. Makanan ringan maupun agak berat juga bisa didapat. Harganya standar kok, sama kayak di minimarket. Gak ada dimahal-mahalin aji mumpung mentang-mentang di tempat rekreasi. Jadi gak ada alasan untuk menolak aturan tidak boleh bawa makanan dan minuman dari luar.

Untuk souvenir khas di sini kita bisa beli produk kerajinan sulam, rajut, ecoprint, tas kanvas, homedecor, hingga kerajinan lukis. Buat apa beli produk itu di taman? Buat saya sebagai pendatang gini, ya buat oleh-oleh bisa, buat kenang-kenangan dipakai sendiri bisa, buat bantu perekonomian dan UMKM juga bisa. Bermanfaat kok.

Saya selalu memandang positif pedagang yang berjualan di taman. Selama pengelola taman memfasilitasi tempat yang baik untuk mereka. Gak akan membuat taman jadi kumuh dan berantakan. Seperti di Taman Mas Kemambang ini, kios belanja malah jadi elemen yang berguna untuk menambah estetika dan fungsi ekonomi.  





Puluhan Ribu Ikan di Kolam, Sebuah Tips Untuk Bahagia

Konon, bila ingin merawat kesehatan mental, salah satunya dengan rutin melihat ikan berenang. 

Beberapa studi menemukan fakta bahwa melihat ikan berenang di akuarium dapat mengurangi stres dan perasaan cemas, menenangkan diri, dan menurunkan denyut jantung serta mengendurkan ketegangan otot.

Semakin banyak ikan, maka semakin membaik suasana hati orang yang melihatnya, dan orang-orang tersebut menjadi bahagia. Seberapa banyak ikan di Taman Mas Kemambang? Puluhan ribu!

Menurut informasi yang saya dapat di akun IG resmi @tamanmaskemambang,  puluhan ribu ikan nila yang ada di kolam ikan Taman Mas Kemambang seluas 4 hektar ini, bibitnya ditabur oleh bapak bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein @ir_achmadhusein dan kepala dinas perikanan dan peternakan kab. Banyumas, Ir. Sulistiono M.Si.

Ikan sebanyak itu tersebar di kolam paling depan, sampai kolam paling belakang. Mau lihat tinggal mendekat. Cukup berdiri di pinggir kolam. Gak usah pakai nyebur. Ya kali mau berenang bareng ikan wkwk. Kami tentu tak melewatkan liat-liat ikan. Meskipun cuaca sedang terik, matahari sedang garang-garangnya, keasyikan kami menonton ikan-ikan berenang tak terusik.

Keren banget kan Taman Mas Kemambang ini. Tawaran untuk sehatnya bukan cuma untuk badan tapi juga untuk mental dan pikiran. Lewat beragam fasilitas, termasuk ikan-ikan di kolam.

Saya suka melihat ikan berenang. Bukan karena sakit mental, tapi karena memang ada keindahan yang bisa ditemukan di sana. Melihat yang indah-indah itu menyenangkan. Rasa senang bikin bahagia. Kalau udah bahagia, apa aja yang dilakukan jadi serba positif. 

Apa cuma di akuarium dan kolam buat liat ikan? Gak lah ya, di laut juga bisa. Makanya saya kalau main ke pulau gak melewatkan snorkeling, karena memang semenyenangkan itu liat ikan berenang. Apalagi langsung di habitatnya. Luar biasa, double bahagia.

Pondok Istirahat Tempat Berteduh

Dari tadi saya banyak sebut panas, karena siang itu cuaca memang panas banget. Saya saranin banget kalau ke Taman Mas Kemambang bawa payung atau pakai topi. Kalau nggak mau silau pakai kaca mata hitam juga. 

Nggak peduli datang jam berapa, pokoknya bawa kalau mau selamat dari sengatan matahari. Pakai sunblock bukan cuma buat ke pantai. Ke tempat mana pun di siang hari, apalagi outdoor juga kudu pakai. Senang-senang boleh, tapi jangan sampai kulit jadi bermasalah.

Jam 8 pagi saja sudah terang benderang dan panas. Apalagi siang sampai sore. 

Pohon tinggi dan rindang banyak di bagian depan. Kita bisa duduk-duduk tanpa kepanasan. Tapi kalau sudah berjalan ke belakang, di sana masih kurang pohonnya. Saya lihat sudah ada pohon ditanam tapi belum tinggi karena masih baru.

Tapi tenang, taman ini sudah dirancang untuk bikin pengunjung betah. Pondok-pondok untuk berteduh sudah disediakan. Semuanya gratis. Silakan duduk di mana saja asal tidak rebutan dan bikin kotor.

Ada satu gazebo besar dengan banyak bangku di dalamnya. Selama bangku-bangku itu kosong bebas diduduki oleh siapa saja. Ada tujuh gazebo kecil bederet menghadap taman. Di dekatnya ada kios-kios jajan. Selama duduk di situ kita bisa sekalian menikmati suasana ditemani aneka cemilan beli di kios.

Ada pula deretan pondok mirip cottage. Saya kira tadinya itu penginapan. Tapi kata Pungky bukan. Nantinya sih akan ada. Bagus juga kalau ada ya. Jadi ada pilihan baru buat menginap di Purwokerto, menginap dalam taman. Kan keren tuh segala fasilitasnya udah ada. Udah berasa kaya di villa.

Saya selama di sana gak duduk-duduk lama di gazebo. Sibuk jalan liat anak main scooter, dan liat isi taman sambil foto-foto.  Pastinya pakai topi, biar muka gak gosong 😃





Semoga Keindahan Taman Terjaga

Taman Mas Kemambang ini masih baru. Saat saya ke sana pada bulan Juni umurnya baru dua bulan. Sama muda dengan Menara Teratai yang saya kunjungi berikutnya.

Banyak kesan baik yang saya dapat. Soal kebersihannya, sangat membuat nyaman. Sejak dari depan gerbang, sampai masuk hingga ke belakang. Seluruhnya bersih. 

Bisa bersih, tentunya berkat semua orang, para pengelola dan kesadaran para pengunjung. Semoga selalu seperti itu. Bukan hanya karena masih baru. 
Tempat sampah bagus sudah bederet, semoga taman senantiasa bersih

Tempat sampah banyak, ada di beberapa titik strategis. Wastafel pun mudah ditemui. Ada di tiap kios jajan. Abis jajan bisa langsung cuci tangan, sebelum pegang makanan dan minuman. Air di toilet lancar. 

Taman bersih dan rapi pasti disukai. Hal paling penting untuk dimiliki. Meskipun tiketnya murah, semoga gak menurunkan kualitas yang sudah dimiliki. Seringkali orang rela bayar mahalan, asalkan nyaman. 

Tapi tentu, penting juga buat pengunjung. Jangan mentang-mentang tiket masuknya murah, lantas semaunya gak mau ikut merawat dan menjaga. Jangan tinggalkan apapun di taman kecuali kenangan. Jangan ambil apapun kecuali gambar.  


Saya senang mengunjungi Taman Mas Kemambang ini. Mengetahui keberadaannya, menambah kekaguman saya pada Purwokerto. Kota yang membuat saya betah sejak pertama kali menjejakkan kaki.

Semoga bila saya kembali ke Purwokerto, Taman Mas Kemambang tetap seindah yang pernah saya lihat. Syukur-syukur bila kelak lebih indah lagi. Lebih teduh, dan sudah ada kafe/resto, serta penginapan 😁

Terima kasih telah membaca. 

Sampai bertemu lagi di tulisan Purwokerto lainnya, tentang kuliner dan Menara Teratai 💚