Hadiah Dari Bukit Sikunir

10.40

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Ini cerita dari trip Dieng Wonosobo tgl. 18-19 Oktober lalu.

====

"Mbak Ida, ini Rien. Mbak Rien, ini mbak Faidah."

Sesaat setelah Delyanti mengenalkan kami, kami pun saling pandang. Ooooh...ternyataaaa. Blar! Tawa pun pecah. Ya, siapa yang mengira di Puncak Bukit Sikunir kami bertemu. Beda rombongan, beda asal kedatangan, beda rencana, tapi ternyata sama-sama diberi nikmat bernama Perjumpaan. ~Pertemuan kadang memang tak perlu diatur-atur, biarlah takdir yang mengantarkannya. Itu akan terasa jauh lebih indah

Perjumpaan tak terduga dengan mba Faidah

Golden sunrise tak berhasil saya jumpai. Si bulat merah menyala tak muncul dari balik gunung. Awan menutupinya. Padahal tubuh ringkih ini telah bertarung dengan udara sangat dingin, jalan berbatu yang kasar, tanjakan panjang dan melelahkan, serta padatnya pengunjung yang membuat saya sempat terjepit, semua dilalui demi menyaksikannya.

Ketika kerumunan orang mulai lerai, sampah berserakan menyapa dengan manisnya, "Halloooo....senang melihatmu!" Dan seketika rusaklah citra indah bukit Sikunir dari mata saya. Sungguh kotor. Saat turun dari Sikunir, saya melihat ada laki-laki membawa karung besar bergerak naik sambil memunguti setiap sampah yang ia temui. Hebat sekali laki-laki itu mau jadi sukarelawan sampah. Mestinya pengunjung Sikunir semua seperti dia. Namun saya salah mengira, sebab ia bukanlah bagian dari pengunjung. 

Di salah satu undakan tangga, sebuah dus tergeletak. Ada tulisan kecil di atasnya: "Sumbangan untuk pembersih sampah". Saya melongok isi dus yang berisi lembaran-lembaran uang kertas. Hmm...bukan tidak bagus sih, tapi bukankah dengan cara begini, oknum-oknum pembuang sampah itu justru jadi mengandalkan pemungut sampah itu? Buang sampah jadi dianggap tidak masalah karena sudah ada yang bertugas membersihkannya. Moga saja tidak ada yang begitu. Kalau ada, saya harap itu orang janga pernah pergi kemana-mana. Mendekam saja dalam rumah daripada mengotori alam. Bukannya jadi pecinta alam, yang ada malah jadi perusak alam.

Sampah berserakan di Bukit Sikunir

Saat kerumunan orang mulai berkurang, tampak seorang bapak pedagang makanan berada tak jauh dari tempat saya berdiri gesit melayani pembeli. Minyak panas mendesis dalam wajan berisi kentang, siap menggoreng di tengah dinginnya udara Sikunir. Terpikat kentang goreng tapi saya justru memesan mie instant. Air panas mestinya mampu membuat mie jadi melar, tapi udara dingin angkuh mengalahkannya. Mie setengah matang pun masuk perut. Saya sempat was-was maag kambuh. Biasanya mie instant membuat perut ini jadi mulas dan mual. Tapi hingga 24 jam setelah mie itu dimakan, perut saya tetap aman sentosa. Alhamdulillah.

Delyanti, my lovely travelmate

Katanya dari Puncak Sikunir bisa menyaksikan 8 gunung, tapi mata dan kamera saya hanya mengakrabi pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Ya salah sendiri sih ga mau menoleh ke sisi lain hehe. Nun jauh di kaki-kaki gunung, atap rumah penduduk menyembul kecil-kecil. Menarik.

Makin siang, keindahan alam makin terbentang. Hamparan bukit, gunung, ladang, dan lembah-lembah nan dalam. Orang-orang berselfie ria di pinggir tebing, ngeri saya melihatnya. Biar deh ga punya foto spektakuler, asal saya selamat. Belum mau mati dulu, masih banyak dosa :D

Yang ditunggu akhirnya datang, walaupun telat, ya Del :D

Berjumpa teman, tak bersua sunrise, melihat sampah, bertemu bapak penjual sarapan, diberi nikmat panorama alam Dieng, semuanya itu adalah hadiah. Bagus atau jelek, semua sama-sama hadiah. Selanjutnya tinggal pilih mau dijadikan apa itu hadiah-hadiah? Disyukuri, dijaga, dimaknai, diperbaiki, atau apa? *bertanya pada pohon kering yang bergoyang*

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon