Berperahu Di Iboih, Keliling Pulau Rubiah


Senin 18 Januari 2010

Tak keliru bila ada anggapan bahwa salah satu hiden paradise di Indonesia ada di Pulau Weh. Bila tak melihatnya sendiri mungkin saya masih meragukan anggapan itu. Pulau Weh yang menjadi pulau paling ujung di pulau Sumatera, sekaligus pulau terujung dari negara Indonesia ini, ternyata memang memiliki banyal pantai yang indah dan eksotis. Tak heran bila banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk berkunjung ke tempat ini.

Salah satu objek wisata yang paling populer di Pulau Weh adalah Pantai Iboih. Lokasi pantai berpasir putih ini berada di sebelah barat Sabang dengan jarak tempuh sekitar 23Km. Namun siang itu, Senin 18 Januari 2010, kami berangkat menuju pantai Iboih dari Tugu Nol Kilometer yang berjarak sekitar 5km dari desa Iboih.
Siang itu saya bersama rombongan menuju Pantai Iboih selepas mengunjungi Tugu Nol Kilometer. Bertepatan dengan siang yang memuncak. Lapar dan lelah jadi satu. Namun, ketika menyaksikan keindahan Pantai Iboih dari dekat, rasa itu seperti terhenti. Menghilang begitu saja. Apa yang membuat saya begitu takjub? Pemandangan laut dengan dasarnya yang terlihat begitu jelas, menandakan betapa jernih air di tempat itu, sanggup membuat saya seakan membatu.

Pantai Iboih memang bukan pantai yang panjang, namun memiliki warna pasir yang putih bersih. Sinar matahari yang menerpa, membuat pasir di pantai seakan berkilau. Beberapa perahu tertambat di dermaga, juga di tepian. Owh, dermaga! Saya sangat terobsesi pada dermaga. Bagi saya, dermaga tempat berlabuh. Tempat orang-orang dan kapal-kapal pergi mengarungi laut, lalu kemanapun mereka pergi, ke dermagalah mereka kembali. Tempat berlabuh yang dirindu. Seperti manusia, sejauh apapun mereka meninggalkan rumahnya, keluarganya, mereka akan tetap kembali, berlabuh. Seindah-indahnya tempat kembali, adalah dermaga. 

Dermaga itu berada di ujung pantai. Di dekat pepohonan yang besar dan rindang. Laut yang ada di bawahnya, berair jernih dan kehijauan. Perpaduan yang sempurna.  Saya takjub memandangnya.

Di pantai, berjejer warung dan toko yang menjual berbagai keperluan. Mulai dari warung makan, toko sembako, toko souvenir, toko roti, hingga toko alat pancing dan keperluan berenang. Roti-roti yang dijual terlihat besar-besar. Jika dibandingkan dengan roti tawar yang biasa saya makan (Sari Roti dan Bread Talk), roti yang dijual di Pantia Iboih ini ukurannya jumbo. Serupa roti tawar yang dijual di Belanda (hanya contoh saja). Siapa di pantai ini yang makan roti besar-besar begitu? Tamu Bule! Wooooh....ternyata di sini banyak wisatawan asing. Mereka menginap di Gapang, dan cotage-cotage di dekat pantai Iboih. 

Cottage di Gapang itu sederhana. Bentuknya seperti rumah panggung. Terbuat dari kayu.  Letaknya di tebing pantai Iboih. Jadi, di pantai Iboih ini, ga cuma terdapat pantai yang landai, tapi juga terdapat tebing dengan lereng-lereng yang rimbun oleh pepohonan. Nah, cotage-cotage itu berdiri di antara pohon-pohon itu. Saya ga melihat dari dekat. Jika ingin mendekat mesti melalui jalan menanjak. Pun saya tak tahu mesti lewat jaur mana.

Dari Pantai Iboih, pandangan saya beralih ke lautan. Lalu, nampaklah Pulau Rubiah dalam jangkauan mata saya. Terlihat begitu dekat. Tapi tak dapat saya lihat isi pulau itu kecuali hanya pepohonan. Hijau daunnya seakan menutupi pulau itu. Saya ingin ke sana. Rasanya dengan berenangpun saya bisa mencapainya. Tapi saya tak bawa pakaian renang :D


Menurut pemilik perahu di pantai, kami bisa mengelilingi pulau Rubiah dengan perahu kalau mau. Biayanya Rp 200.000,- per perahu. Harga itu untuk satu kali keliling. Waktu keliling sekitar 2 jam katanya. Dan selama berkeliling, kami bisa menyaksikan pemandangan bawah laut lewat kotak kaca bening yang terdapat di bawah perahu. Oh, oke. Saya setuju.

Sebelum berperahu, kami mengisi perut terlebih dahulu. Kebetulan di dekat tempat kami berdiri, ada warung makan yang menjual menu ikan bakar. Kami makan di sana. Sebenarnya di warung itu ada bermacam variasi menu. Ada mie Aceh juga. Tapi siang-siang saya pikir makan nasi tentu lebih tepat ketimbang makan mie. Saya butuh kalori dan energi untuk petualangan pulau, bukan? Alhamdulillah. Makan siang saat itu rasanya nikmaaat sekali. Belum lagi saat ditutup dengan minum jus alpukat, nikmatnya double. Kalau sudah lapar, makanan apa saja jadi enak ya. Nikmatnya luar biasa hehe.

Oh ya, saat makan itu saya sempat bertanya ke pemilik warung makan mengenai tarif penginapan di tempat ini. Katanya cottage-cottage yang ada di lereng tebing itu harganya mulai dari 150.000 s/d 250.000. Owh, terbilang cukup murah ya. Eh tapi kondisinya memang sesuai juga sih. 


Seusai makan, kami mulai beranjak menuju dermaga. Dan, inilah tempat dan saat-saat yang paling saya sukai, yakni meniti jembatan (dermaga). Entah kenapa, selalu ada perasaan mellow yang hinggap. Seakan, ada begitu banyak kenangan di tiap langkah yang saya ayun meniti papan jembatan itu. Seakan suasana mendadak menjadi begitu romantis. Angin seperti berbisik merayu. Ombak yang berlari menuju pantai seperti berdendang. Dedaunan seperti menari-nari. Dan saya seperti berjalan menuju sebuah bahtera yang bersiap untuk membawa saya menuju samudera yang maha luas....

Sandal wedges yang saya kenakan nampaknya merepotkan. Gamis panjang di badan juga seakan mempersulit saya untuk menaiki perahu. Astaga...salah kostum ya ke pantai dengan pakaian dan sandal begini? Ya, apa boleh buat, saya kan memang selalu begitu. Banyak gaya. Eh, memang penuh gaya kan ya? Always modis lah...anytime anywhere...

Perahu membawa kami dengan kecepatan yang sangat minimal. Ya iyalah ya, mau ngejar apaan ngebut-ngebut? Apa yang bisa kami lihat kalau perahu dipacu bak speed boat? Perahu yang bisa diisi 10 hingga 12 orang ini hanya kami tumpangi bertujuh. Lega bukaaaan? Bisa selonjor kaki, dan bisa guling-guling malah! Hehe ga ding.


Oh iya, ini perahu bagian bawahnya didesign sedemikian rupa. Salah satu bidang lantai/pijakan, yang terletak dibagian tengah perahu, dibuat transparan dengan menggunakan bahan kaca (sebelumnya sudah saya ceritakan). Itu dimaksudkan agar wisatawan bisa melihat taman bawah laut dengan jelas. Wooooooooowww…I really really wow!!! Can you imagine? Itu air jernihnya bukan main. Dasar laut keliatan jelas. Karang, rumput warna warni, ikan warna warni...huaaaa.. Andai saja saat itu saya sudah jago diving (saya bisa diving thn 2011 waktu di Bali :p) mungkin saya udah nyemplung (pake perlengkapan nyelam tentunya). 

 Pulau Seulako di sebelah kanan, Pulau Rubiah di sebelah kiri

Laut Sabang jernih banget!

Setelah puas melihat pemandangan bawah laut, perahu membawa kami terus melaju. Lajunya kini lebih cepat karena mulai berada di laut dalam. Kami bergerak memutari Pulau Rubiah. Tak lama kemudian, terlihat oleh kami sebuah pulau kecil lainnya, yaitu Pulau Seulako (dalam bahasa Aceh, Seulako artinya suami). Tak kami dekati karena jaraknya lumayan jauh. Ombaknya juga terlalu tinggi. Selain pulau Selako, tak ada yang lain selain hamparan laut luas yang tak terlihat batasnya. Sedikit ngeri saya melihatnya.Terbayang kalau saya tenggelam, hilang sudah di samudera Hindia.
Adakah penghuni pulau Rubiah? Katanya sih ga ada. Tapi banyak wisatawan yang berkunjung untuk memancing di pulau ini karena terdapat banyak ikan-ikan batu karang, seperti ikan kerapu, juga cumi-cumi yang besar.  Oh iya pulau Rubiah merupakan cagar alam yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Keindahannya tak hanya yang nampak oleh mata, namun juga oleh apapun yang ada didalam pulau dan lautnya.

Taman Laut Rubiah, dengan biota-biota lautnya yang menakjubkan, dimana disini bisa ditemukan coral reefs and motley fish. Seperti yang saya dengar dari pengemudi perahu, ditempat ini terdapat banyak kerang-kerang raksasa (gigantic clams), lion fish, sea fans, dan masih banyak lagi. Ah, pantai dan laut di Iboih…. clear water very ideal to swim and snorkel Sebuah tempat yang luar biasa

Perahu terus melaju, ¾ pulau Rubiah telah kami kelilingi. Kami menjauhi PUlau Rubiah, lalu lebih mendekat ke tepian Iboih. Ke arah lereng-lereng tebing tempat cottage-cottage berada. Ada lebih dari 10 cottage yang nampak di mata saya saat itu. Berhubung perahu kami cukup dekat dengan tepian, jadi saya bisa melihat dengan jelas ke cottage. Mata saya cukup jelas untuk melihat penghuni cottage. Ada bule terlihat sedang berbaring terayun di hanmock, di balkon cottage. Di cottage lainnya, ada yang sedang menjemur pakaian. Cottage-cottage lainnya sepi. Mungkin penghuninya berada di dalam. Ya, siang panas begini orang-orang malas kali ya keluar.  


Soal penginapan,  sebetulnya kalo butuh ga mesti yang ditepi pantai sih. Ada banyak penginapan yang availably di desa Iboih. Desa Iboih memang kecil, tapi jelas sangat indah. Penduduk setempat ramah dan mudah berbagi informasi. Sebuah daya tarik lingkungan yang mengesankan. Tapi tentu saja, siapapun yang ingin menginap disini, mesti tahu aturan yang berlaku di daerah setempat ya. Jangan sampai seperti Nadine Candrawinata, yang nginep bareng rekan artis laki-lakinya, di gedor-gedor tengah malem oleh polisi syariah (ada ceritanya dalam buku Nadrenaline yang ditulisnya). Padahal dia nginep di rumah pak RT lho…

Tak terasa telah lebih dari 2 jam kami berada di Pantai Iboih. Hari kian petang. Saatnya kami untuk pergi. Masih ingin berlama-lama sih sebenarnya. Masih pingin duduk-duduk di pantainya. Barangkali bisa lebih lama memandangi laut, sambil minum es kelapa muda, asyik tentunya ya. Tapi kami mesti lekas kembali ke Sumur Tiga. Kurang nyaman berjalan dalam gelap di daerah hutan dan pegunungan Sabang. Bukan apa-apa, buat keamanan saja. Maklum kami kan hanya pengunjung pulau alias tamu. Bukan penduduk. 




Pantai Iboih. 
Keelokan lautnya begitu memukau. Indah dalam kesan. Juga kenangan. Kaki saya belum beranjak pergi, tapi saya telah merindukannya. Sepertinya saya merasa belum puas menjelajah. Belum berenang. Belum menyelam. Belum main jetski. Ah...semua itu membuat saya berjanji suatu hari iakan datang lagi. 

Oke, saya merindukan Sabang. Merindukan Pantai Iboih dengan segala isinya.
Nantikan saya kembali ya... 















 











Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »
Give us your opinion

Leave your message here, I will reply it soon!