Tampilkan postingan dengan label PLG Way Kambas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PLG Way Kambas. Tampilkan semua postingan

Berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, Melihat Gajah-Gajah Sumatera dari Sisi yang Berbeda

Empat kali berkunjung ke Way Kambas membuat saya sadar bahwa yang paling membekas bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga cerita para mahout yang menjaganya setiap hari. 

Pengalaman wiisata gajah way kambas

"Saya justru lega ketika Way Kambas ditutup."

Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Selama ini banyak orang berharap kawasan wisata tetap dibuka agar roda ekonomi masyarakat sekitar terus berputar. Semakin banyak orang datang, semakin banyak pula yang mengenal pentingnya konservasi.

Saya pun pernah berpikir demikian.

Namun, setelah pulang dari perjalanan ke Taman Nasional Way Kambas pada September 2025, ada perasaan yang terus mengendap. Bukan rasa kecewa, bukan pula penyesalan. Lebih seperti kegelisahan yang tumbuh pelan setiap kali saya melihat konten tentang anak gajah Way Kambas bermunculan di media sosial.

Sayangnya, yang paling sering lewat di beranda saya bukan konten edukasi dari tim lapangan BTN Way Kambas, melainkan video wisatawan atau agen perjalanan. Ada yang bercanda sambil berinteraksi berlebihan dengan anak gajah, seolah itu sesuatu yang lucu. Saya justru tidak bisa ikut tertawa.

Interaksi seperti itu, menurut saya, tidak perlu dipertontonkan. Kalau memang terjadi tanpa sengaja, cukup dijadikan pelajaran. Kalaupun diunggah, semestinya menjadi bahan edukasi, bukan contoh yang mengundang orang lain melakukan hal yang sama.

Suatu hari saya berhenti menggulir layar ketika melihat seseorang memberi pisang kepada gajah lengkap dengan tali plastiknya.

Pikiran saya langsung ke mana-mana. Kalau plastiknya ikut termakan bagaimana?


Sejak saat itu saya semakin sering merasa khawatir. Bukan hanya terhadap keselamatan gajah-gajah jinak di sana, tetapi juga terhadap tumbuh kembang mereka jika interaksi seperti itu terus dianggap wajar.

Perasaan itulah yang akhirnya membuat saya memandang kabar penutupan kawasan wisata alam BTN Way Kambas pada 15 Januari 2026 dengan cara yang berbeda. Seakan kekhawatiran saya didengar dan dirasakan semesta, hingga Allah memberikan jalannya.

Bagi yang ingin membaca pengumuman resmi penutupannya, saya sertakan tautan unggahan BTN Way Kambas di sini: TN Way Kambas Ditutup Sementara Untuk Kegiatan Wisata Alam.

Saya tentu berharap penutupan itu hanya sementara. Saya juga ingin masyarakat sekitar tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari pariwisata. Namun, saya merasa ada hikmah yang mungkin tidak disadari banyak orang.

Sebelum saya jelaskan alasannya, izinkan saya mengajak teman-teman mundur beberapa bulan ke belakang.

21 September 2025.

Saat itu Way Kambas masih menerima kunjungan wisatawan. Saya datang bersama suami dan beberapa teman suami. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi ini. Melihat antusiasme mereka, saya ikut bersemangat. Rasanya seperti mengajak seseorang bertemu teman lama yang selama ini hanya dikenal lewat cerita.

Seluruh kegiatan wisata yang kami ikuti hari itu berlangsung di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas yang kini dikenal sebagai Pusat Konservasi Gajah. Di sinilah sebagian besar aktivitas edukasi dan interaksi pengunjung dengan gajah dilakukan di bawah pendampingan para mahout.

Ini adalah kunjungan keempat saya ke Way Kambas. Anehnya, setiap kali datang saya selalu pulang dengan pengalaman yang berbeda. Bukan karena tempatnya berubah, melainkan karena setiap gajah yang saya temui memiliki karakter yang berbeda. Ada yang kalem, ada yang usil, ada yang cuek, ada pula yang begitu ekspresif.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah merasa perlu datang ke Way Kambas demi mencari satu gajah tertentu.

Belakangan saya melihat fenomena yang menurut saya cukup mengganggu. Saya merasa media sosial perlahan membuat satu nama jauh lebih dikenal dibanding gajah-gajah lainnya. Banyak orang datang dengan harapan bertemu gajah yang sedang viral.

Saya bahkan sempat menemukan promosi perjalanan yang kurang lebih berbunyi,

"Kalau tidak ikut trip kami, kamu tidak akan bisa bertemu Gajah Nisa."

Saya membaca kalimat itu dua kali. Entah kenapa terasa mengganjal.

Bukan karena saya tidak menyukai Nisa. Sebaliknya, saya ikut senang melihat seekor gajah bisa membuat banyak orang tertarik mengenal Way Kambas. Yang mengganjal justru cara promosi seperti itu seolah memberi kesan bahwa pengalaman bertemu gajah tertentu hanya bisa diperoleh melalui satu pihak saja. Padahal, perjumpaan dengan satwa di kawasan konservasi tetap dipengaruhi banyak hal, mulai dari kondisi di lapangan, aktivitas satwa pada hari itu, hingga pertimbangan para mahout dan pengelola kawasan.

Saya khawatir pesan seperti itu justru membentuk ekspektasi yang kurang tepat. Fokusnya bergeser dari menikmati pengalaman mengenal Way Kambas menjadi mengejar satu gajah tertentu. Padahal justru keberagaman gajah-gajah yang ada di Way Kambas itulah yang membuat setiap kunjungan terasa istimewa bagi saya.

Saya memang sempat bertanya kepada Pak Mad apakah hari itu Nisa berada di sekitar area pemandian dekat pengunjung.

"Enggak tentu."

Jawabannya sesingkat itu.

Dan bagi saya, jawaban itu sudah lebih dari cukup.

Kalau bertemu, alhamdulillah. Kalau tidak, tidak masalah.

Pak Ahmad Rokhani telah lebih dari 30 tahun mengbadi di TN Way Kambas sebagai bagian dari tim pelestari Gajah Sumatera.

Saya datang bukan untuk mengejar satu nama. Saya datang untuk kembali menikmati suasana Way Kambas, menyapa para mahout, dan mengenal lebih banyak penghuni hutan yang selama ini hanya saya lihat sesekali.

Dulu saya sendiri mengira Way Kambas hanya identik dengan gajah.

Padahal di sana juga ada badak Sumatera.

Lucunya, saya baru benar-benar menyadari hal itu setelah beberapa kali berkunjung. Di akhir tulisan ini nanti, saya akan bercerita tentang pertemuan saya dengan Mas Bio, putra Pak Mad, yang menjadi salah satu tim mahout badak di Way Kambas.

Saya juga baru tahu bahwa badak ternyata memiliki mahout yang merawat dan mendampinginya. Selama ini saya sering melihat cerita tentang mahout gajah, tetapi hampir tidak pernah melihat bagaimana mahout mengasuh badak.

Dari situ saya mulai sadar bahwa Way Kambas menyimpan jauh lebih banyak cerita daripada sekadar bertemu seekor gajah yang sedang viral.

Pikiran saya kemudian melayang ke satwa-satwa lain di Lampung. Belum lama ini publik dihebohkan dengan kasus tapir yang dibunuh warga di Mesuji. Peristiwa itu membuat saya berpikir bahwa persoalan konservasi tidak selalu sesederhana yang terlihat.

Bisa jadi masih ada orang yang benar-benar belum mengetahui bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi, sehingga ketika bertemu di alam mereka menganggapnya sama seperti satwa liar lainnya. Namun, bisa juga ada yang sebenarnya sudah mengetahui statusnya sebagai satwa langka, tetapi tetap memilih untuk membunuhnya. Apa pun alasannya, kejadian seperti ini mengingatkan saya bahwa upaya melindungi satwa tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan edukasi yang terus-menerus agar semakin banyak orang mengenali dan menghargai satwa-satwa langka yang hidup di sekitar mereka.

Saya sempat mengikuti perkembangan kasus ini melalui pemberitaan Kompas yang dapat dibaca di Kompas.com Polisi Ungkap Keganasan Pelaku Bunuh Tapir di Mesuji Satwa yang Dilindungi Itu 
Sumber: IG @natgeoindonesia
 
Mungkin karena itu saya tidak terlalu tertarik ketika media sosial hanya ramai membicarakan satu gajah yang sedang viral. Rasanya akan lebih menyenangkan jika semakin banyak orang juga bercerita tentang badak, tapir, dan satwa liar lainnya yang hidup di Way Kambas maupun di Lampung. Semakin banyak orang mengenal mereka, semakin besar pula harapan bahwa ketika suatu hari bertemu di alam, yang muncul bukan keinginan untuk menyakiti, melainkan kesadaran untuk menjaga.

Belakangan saya baru menyadari, mungkin karena cara pandang itulah setiap kunjungan ke Way Kambas selalu terasa menyenangkan. Saya tidak pernah pulang dengan rasa kecewa hanya karena tidak bertemu gajah tertentu.

Sebaliknya, saya justru selalu membawa pulang cerita baru dari gajah yang berbeda-beda.

Dan cerita itu dimulai tepat pukul 12.05 WIB. Sesampainya di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, saya langsung melihat sosok yang tidak asing lagi.

Pak Achmad Rokhani. Atau yang lebih akrab dipanggil Pak Mad.

Beliau sudah lebih dari tiga puluh tahun menjadi mahout. Pengalamannya bahkan lebih panjang dibanding usia sebagian pengunjung yang datang hari itu.

Pak Ahmad Rokhani (pakai baju kaos biru)
 
Begitu kami turun dari mobil, beliau langsung menyambut dengan senyum.

"Mau langsung keliling, atau lihat-lihat dulu?"

Belum sempat ada yang menjawab, teman-teman kompak berkata,

"Salat Zuhur dulu ya, Pak."

Saya hanya tersenyum.

Gajah tidak akan ke mana-mana hanya karena kami berhenti salat beberapa menit. Justru perjalanan yang baik memang tidak selalu dimulai dengan terburu-buru.

Musala di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas ukurannya cukup besar. Air wudhunya melimpah, jernih, dan terasa segar setelah perjalanan panjang dari Gisting menuju Lampung Timur yang sejak awal ditemani hujan. Menyentuhkan air dingin ke wajah saat itu benar-benar terasa menyegarkan.

Meski demikian, saya juga mencatat beberapa hal yang menurut saya masih bisa ditingkatkan. Area dalam maupun luar musala terlihat agak berdebu, dan beberapa sudut tempat wudhu mulai ditumbuhi lumut.

Yang paling mengganggu justru aroma pesing dari toilet yang sudah tercium bahkan sebelum kami benar-benar mendekat.

Toilet dan tempat wudhu

Saya percaya fasilitas umum adalah tanggung jawab bersama. Pengelola tentu memiliki peran untuk merawatnya, tetapi pengunjung juga memegang peranan yang sama penting. Air di sini sangat melimpah. Rasanya tidak sulit untuk menyiram toilet hingga benar-benar bersih sebelum meninggalkannya. Hal kecil seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sangat berpengaruh pada kenyamanan pengunjung berikutnya.

Selesai salat, sempat muncul diskusi kecil.

"Makan dulu apa nanti?"

Perut sebenarnya mulai mengingatkan bahwa waktu makan siang sudah lewat. Namun rasa penasaran bertemu gajah rupanya jauh lebih besar daripada rasa lapar.

Akhirnya kami sepakat menunda makan siang. Keputusan yang belakangan sama sekali tidak kami sesali. 

Musola

 
Keliling Way Kambas Naik Shuttle, Cara Menjelajahi Pusat Latihan Gajah

Pak Mad kemudian mengajak kami menuju area kendaraan wisata. Di sanalah beliau menjelaskan bahwa kendaraan pribadi memang tidak diperbolehkan masuk ke kawasan inti taman nasional. Semua pengunjung harus memarkir kendaraannya di area yang telah disediakan, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan wisata.

Awalnya saya hanya mengangguk mendengar penjelasan itu. Namun semakin dipikirkan, aturan tersebut memang masuk akal. Jalan di dalam kawasan menjadi lebih tertib, suara kendaraan tidak saling bersahutan, dan habitat gajah tetap terasa tenang.

Bagaimanapun juga, kami sedang memasuki rumah mereka, bukan sebaliknya.

Saat itu tersedia dua pilihan transportasi. Shuttle bus dengan tarif Rp20.000 per orang berkapasitas sekitar sepuluh penumpang, atau jeep adventure seharga Rp400.000 yang dapat dinaiki maksimal tiga orang.

Karena rombongan kami berjumlah delapan orang, shuttle menjadi pilihan paling praktis. 

Video naik shuttle keliling Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dapat ditonton pada Reels berikut ini:

Kendaraan yang kami gunakan ternyata bukan model odong-odong seperti yang sering saya lihat di media sosial, melainkan mobil pickup yang telah dimodifikasi. Bagian belakangnya dipasangi bangku empuk lengkap dengan atap, sehingga perjalanan tetap nyaman meski harus melewati jalan tanah dan padang rumput.

Begitu kendaraan mulai bergerak, angin langsung masuk dari sisi kanan dan kiri yang terbuka. Sesekali roda melewati jalan yang bergelombang sehingga kami spontan berpegangan pada sandaran bangku. Justru sensasi seperti itulah yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Pak Mad ikut duduk bersama kami. Kehadirannya membuat perjalanan ini tidak sekadar menjadi wisata berkeliling, tetapi lebih seperti mengikuti tur bersama seseorang yang mengenal hampir setiap sudut kawasan dan para penghuni yang tinggal di dalamnya.

Sebelum kendaraan benar-benar melaju, saya memastikan empat sisir pisang yang kami beli dari ibu-ibu di dekat pintu masuk sudah ikut terbawa.

"Jangan sampai ketinggalan," celetuk salah seorang teman.

Kami pun tertawa.

Hari itu, empat sisir pisang tersebut bukan sekadar bekal. Beberapa menit lagi, benda sederhana itu akan menjadi cara pertama kami berkenalan dengan para gajah Way Kambas. 

Jalur shuttle bus di kandang gajah

Rezeki yang Datang dalam Bentuk Langit Cerah

Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri siang itu, jawabannya adalah cuaca.

Sepanjang perjalanan menuju Way Kambas hujan nyaris tidak berhenti. Dari Gisting hingga memasuki wilayah Lampung Timur, langit terus dipenuhi awan kelabu. Berkali-kali saya membayangkan bagaimana kalau nanti kami harus berkeliling di bawah hujan deras. Bukan berarti tidak bisa, hanya saja suasananya tentu akan berbeda.

Ternyata Allah menyiapkan kejutan yang indah.

Sesaat setelah mobil memasuki kawasan konservasi, langit perlahan mulai membuka. Matahari muncul tanpa terasa menyengat. Cahayanya hangat, memantul di dedaunan yang masih basah oleh hujan dan membuat warna hijau di sepanjang jalan terlihat semakin segar. 

Sudah di Taman Nasional Way Kambas, tetapi belum masuk ke kawasan PLG. Hujan sudah berhenti, meski langit masih belum benar-benar cerah.

Saya sempat mendongak beberapa detik. Baru saat itulah saya merasa bersyukur. Hujan yang sejak pagi menemani perjalanan akhirnya berhenti tepat ketika kami mulai berkeliling. Mungkin memang sesederhana itu bentuk rezeki hari itu.

Shuttle terus melaju melewati padang rumput, kolam pemandian gajah, kandang gajah, rumah sakit gajah, hingga jalur yang menurut Pak Mad kerap dilintasi gajah liar. Delapan pasang mata di dalam kendaraan nyaris tidak berhenti melihat ke kanan dan kiri. Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, semuanya terasa baru. Sementara bagi saya, meski ini bukan kunjungan pertama, rasa takjub itu rupanya belum juga berkurang.

Semakin jauh shuttle melaju, semakin sedikit suara yang kami dengar selain angin dan sesekali kicau burung.

Tidak ada musik yang memekakkan telinga. Tidak ada deretan kios. Tidak ada keramaian yang biasanya identik dengan tempat wisata. Yang ada justru ruang bagi alam untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu sebabnya setiap kali meninggalkan Way Kambas, saya selalu merasa ingin kembali.

Sudah masuk ke kawasan PLG. Foto ini diambil di sekitar kolam pemandian gajah yang berada di area kandang gajah. Cuaca benar-benar berubah. Hujan telah berhenti, langit biru mulai terbuka, dihiasi awan-awan putih.

Fitria, Gajah Pertama yang Menyambut Kami

Pertemuan dengan Fitria terjadi saat shuttle telah memasuki area kandang gajah. Ada beberapa gajah yang terlihat sedang merumput. Namun, yang jaraknya paling dekat dengan jalur shuttle melintas adalah seekor gajah betina.

"Itu dia..."

Semua kepala spontan menoleh ke arah yang sama.

Seekor gajah tampak berjalan pelan mendekati kendaraan kami. Langkahnya mantap, seolah sudah tahu akan ada tamu yang datang membawa sesuatu.

"Namanya Yulia," kata Pak Mad.

Beliau kemudian langsung meralat ucapannya.

"Eh, bukan. Fitria."

Kata Pak Mad, Fitria dan Yulia memang mirip-mirip, jadi kadang beliau sendiri masih keliru menyebut namanya.

Saya tidak tahu apakah Fitria mengenali suara shuttle atau memang sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini sering membawa pengunjung yang ingin memberinya makan. Yang jelas, begitu jarak kami semakin dekat, belalainya mulai bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari aroma pisang.

Suasana di dalam shuttle langsung berubah riuh.

Enam dari delapan orang dalam rombongan kami baru pertama kali melihat gajah Sumatera dari jarak sedekat ini. Wajah mereka bergantian antara kagum, penasaran, dan sedikit gugup.

Awalnya hanya satu orang yang berani menyodorkan pisang. Setelah melihat semuanya aman, yang lain ikut mendekat. Dalam hitungan detik, semua ingin mendapat giliran.

Lucu juga. Orang-orang dewasa yang sehari-harinya terlihat tenang, tiba-tiba berubah seperti anak kecil yang berebut memberi makan hewan kesayangan.

Kami tetap berada di dalam shuttle selama berinteraksi dengan Fitria. Hanya Pak Mad yang turun untuk membantu mengarahkan sekaligus mengawasi dari sisi belakang tubuh Fitria yang mulai mendekat hingga belalainya dapat menjangkau tangan-tangan kami yang menyodorkan pisang.

Empat sisir pisang yang kami bawa perlahan mulai berkurang. Tentu tidak semuanya diberikan kepada Fitria. Perjalanan keliling dengan shuttle masih berlanjut. Mungkin masih ada gajah lain yang akan kami jumpai untuk diberi makan.

Di sela-sela suasana yang ramai itu, Pak Mad bercerita bahwa pisang yang dijual ibu-ibu di sekitar pintu masuk bukanlah pisang sembarangan. Para pedagang telah diberikan edukasi agar buah yang dijual untuk pakan gajah tidak dipercepat matang menggunakan karbit atau bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan satwa.

Saya senang mendengar penjelasan itu.

Informasi sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi menurut saya penting diketahui pengunjung. Kadang kita begitu bersemangat ingin memberi makan satwa, sampai lupa bahwa makanan yang kita berikan juga harus aman bagi mereka.

Kalau suatu hari Way Kambas kembali dibuka untuk umum, saya tetap menyarankan membeli pisang dari warga sekitar. Selain membantu perekonomian masyarakat, kita juga ikut memastikan pakan yang diberikan kepada gajah memang sudah sesuai dengan arahan pengelola.

Melihat Fitria menikmati pisang-pisang itu, saya jadi berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana melihat makhluk lain merasa kenyang. 

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja

Shuttle kembali melaju. Setelah melewati kandang gajah, kawasan hutan, dan jalur yang menurut Pak Mad sering dilintasi gajah liar, kami sampai di depan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja.

Bangunan itu sudah tidak asing bagi saya. Pada kunjungan sebelumnya saya bahkan pernah masuk ke dalam area rumah sakit. Kali ini kami hanya melihat-lihat dari luar karena perjalanan masih harus dilanjutkan.

Sambil menunjuk ke arah bangunan, Pak Mad bercerita kalau beliau juga sering diperbantukan di rumah sakit tersebut, terutama saat ada gajah yang sedang sakit.

"Kalau ada yang sakit, ya ikut bantu di sana," kata beliau.

Meski berada di tengah kawasan hutan, rumah sakit gajah ini menjadi tempat penanganan gajah yang sakit sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan gajah-gajah di Way Kambas.

Beliau lalu bercerita bahwa kesehatan gajah dipantau secara berkala. Berat badannya ditimbang, kondisi fisiknya diperiksa, dan bila diperlukan akan menjalani penanganan lebih lanjut oleh dokter hewan.

Mendengar cerita itu saya kembali diingatkan bahwa menjadi mahout ternyata bukan hanya menemani gajah berjalan atau memberi makan. Ketika ada gajah yang sakit, mereka juga ikut mendampingi proses perawatannya.

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja memang menjadi pusat perawatan gajah Sumatera di Way Kambas. Selain menangani gajah yang sakit atau terluka, tempat ini juga digunakan untuk memantau kesehatan gajah-gajah yang berada di kawasan konservasi.

Kami tidak turun untuk berkeliling. Shuttle hanya berhenti sebentar sehingga kami melihat-lihat bangunannya dari luar, sempat berfoto beberapa menit, lalu perjalanan kembali dilanjutkan.

Sepanjang perjalanan itu masih banyak hal yang kami lewati. Ada bak mandi raksasa yang biasa digunakan gajah untuk mandi sekaligus tempat mereka minum. Kami juga melintasi jalur yang, menurut Pak Mad, kerap dilalui gajah liar ketika berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sesaat kemudian shuttle melaju pelan di atas sebuah jembatan sempit yang lebarnya nyaris pas dengan badan kendaraan. Di bawahnya mengalir sungai yang siang itu sedang mengering.

Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, hampir setiap sudut kawasan memancing rasa penasaran. Sementara Pak Mad tidak pernah kehabisan cerita. Mulai dari kebiasaan gajah, kehidupan para mahout, hingga bagaimana kawasan ini dikelola sebagai habitat sekaligus tempat konservasi gajah Sumatera. 

 
Mungkin inilah yang membedakan pengalaman berkeliling di Way Kambas dengan konsep wisata minat khusus. Yang dibawa pulang bukan hanya foto bersama gajah, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan cara pandang baru tentang kehidupan satwa yang selama ini hanya kami lihat dari kejauhan.  

Bertemu Gajah Verdy di Way Kambas, Si Gagah yang Murah Senyum

Perjalanan kami bersama shuttle akhirnya selesai. Namun, perjumpaan dengan gajah-gajah Way Kambas rupanya belum berakhir.

Selain Fitria, kami juga melihat beberapa gajah lainnya. Ada Roy, Mbah Kartijah yang merupakan neneknya si gajah "seleb" Nisa, serta beberapa gajah lain yang namanya tidak sempat disebutkan oleh Pak Mad. Siang itu kami juga bertemu Verdy dan Yulia. Keduanya berada di kandang yang letaknya tidak jauh dari area depan Pusat Latihan Gajah. 

Gajah Verdy

 
Kawasan ini memang menjadi pusat aktivitas wisata di Pusat Latihan Gajah. Di sekitarnya terdapat area kuliner, musala, toilet, visitor center, wisma tamu, hingga kolam alami tempat gajah dimandikan.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke area kandang, tetapi hanya sampai batas yang telah ditentukan. Selebihnya menjadi ruang bagi gajah dan para mahout. Menurut saya, aturan seperti ini memang sudah semestinya ada. Gajah tetap merasa nyaman di ruangnya, sementara pengunjung pun bisa berinteraksi dengan aman.

Di dalam kandang terdapat sebuah kolam berukuran cukup besar. Pada jam-jam tertentu, gajah akan dimandikan di sana. Momen inilah yang biasanya paling ditunggu pengunjung karena bisa melihat aktivitas gajah dari dekat, tentu saja dengan pendampingan para mahout.

Kalau membayangkan kandang gajah sebagai bangunan tertutup, saya juga sempat berpikir begitu dulu.

Padahal kandang di sini justru terbuka. Tanpa dinding. Tanpa atap. Lantainya hamparan rumput. Atapnya langit.

Yang menjadi penanda hanyalah patok-patok semen tempat rantai dipasang sebagai pengaman. Rantainya cukup panjang dan kendor sehingga gajah masih leluasa bergerak di sekitar kandangnya.

Hamparan padang rumput ini merupakan area kandang gajah di Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di latar belakang tampak patok-patok semen tempat rantai gajah dipasang. Pengunjung hanya diperbolehkan berada di area yang telah ditentukan, sementara bagian lainnya dibatasi.
 

Pak Mad kemudian bercerita tentang seekor gajah bernama Karmila yang terkenal suka "kabur". Bukan kabur jauh meninggalkan kawasan, melainkan sekadar melepaskan diri lalu berjalan-jalan di sekitar kandang. Yang lebih lucu lagi, kata Pak Mad, Karmila kadang mengajak gajah lain ikut kabur bersamanya.

Saya spontan tertawa membayangkannya.

"Nah, kalau yang ini Verdy," ujar Pak Mad.

Seekor gajah jantan berdiri tegap di hadapan kami.

Salah seorang teman langsung berkomentar,

"Wah, ganteng juga ya."

Saya spontan tertawa.

Rasanya baru kali itu saya mendengar seseorang memuji ketampanan seekor gajah dengan begitu serius.

Mahout yang mendampingi Verdy ternyata tak kalah menghibur.

Saat kami bertanya namanya, ia menjawab singkat,

"Michael."

Kami sempat saling berpandangan.

Beberapa detik kemudian ia menambahkan sambil tertawa,

"Michael... Rohman."

"Ya biar keren," katanya lagi.

Obrolan sederhana itu langsung mencairkan suasana.

Selama berinteraksi dengan Gajah Verdy, kami didampingi oleh Mahout "Michael" Rahman. Interaksi kami sebatas menyapa dan memegang bagian belalai/gading/telinga saja (seizin mahout), tanpa berlama-lama. Pemberian makan pun di bawah pengawasan mahout. 

Saya memang suka momen-momen seperti ini. Rasanya perjalanan menjadi lebih hangat karena kami tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga mengenal orang-orang yang setiap hari hidup dan bekerja bersama mereka. 

Ternyata Semua Gajah Punya Wajah Berbeda

Di sela-sela obrolan, saya mengaku kepada Pak Mad kalau saya masih kesulitan membedakan satu gajah dengan gajah lainnya.

Buat saya, semuanya sama-sama menggemaskan.

Pak Mad kemudian menjelaskan bagaimana para mahout mengenali masing-masing gajah. Bukan dari besar kecil tubuhnya, melainkan dari bentuk wajah, posisi mata, lekuk dahi, bentuk belalai, hingga proporsi gadingnya. Setelah puluhan tahun mendampingi mereka, para mahout bahkan bisa mengenali perubahan kecil hanya dari cara seekor gajah berjalan atau ekspresi wajahnya.

Mendengar penjelasan itu, saya jadi paham mengapa hubungan antara mahout dan gajah terasa begitu dekat.

Mereka bukan sekadar bekerja bersama. Mereka tumbuh bersama. Saling mengenal. Dan saling menjaga.

Gajah jantan mungkin lebih mudah untuk dibedakan jika dilihat dari bentuk gadingnya. Kalau muka, keliatannya sama semua 😂 [Dokumentasi pribadi 2016)
 

Pak Mad lalu bercerita bahwa di kawasan konservasi ini terdapat sekitar 30 gajah jinak yang dirawat, ditambah sekitar 34 gajah patroli yang membantu menjaga kawasan Taman Nasional Way Kambas. Masing-masing memiliki nama, karakter, dan kisah hidupnya sendiri.

Bayi-bayi gajah tentu lebih mudah dikenali. Misalnya Jeremy yang saat itu baru berusia sekitar satu bulan, atau Nisa yang belakangan lebih sering muncul di media sosial. Sementara bagi para mahout, mengenali gajah dewasa bukan perkara sulit. Mereka tahu persis siapa yang sedang mereka hadapi.

Saya juga memperhatikan bahwa setiap mahout memiliki cara berkomunikasi yang berbeda dengan gajahnya. Mahout Rizal terdengar lebih lembut ketika berbicara dengan Yulia yang saat itu sedang mengandung. Sementara Mahout Rohman terdengar lebih tegas kepada Verdy. Mungkin karena karakter Verdy memang berbeda.

Di situlah saya kembali teringat pada pembahasan di awal tulisan. Berdiri di depan Verdy membuat saya semakin yakin bahwa setiap gajah di Way Kambas memiliki cerita yang layak dikenal, meski tidak semuanya akrab di telinga pengunjung.

Ada yang bisa membedakan dua gajah di foto ini?
 

Disemprot Gajah Yulia di Way Kambas, Momen Kocar-Kacir yang Selalu Saya Ingat

Kalau ada satu momen yang paling sering kami ceritakan sepulang dari Way Kambas, jawabannya pasti saat bertemu Gajah Yulia.

Awalnya tidak ada yang terasa istimewa. Kami berdiri di dekat Yulia sambil mendengarkan cerita Mahout Rizal. Cara beliau berbicara kepada Yulia terdengar lembut, hampir seperti seseorang yang sedang berbicara dengan sahabat lamanya.

Saya sempat memperhatikan perbedaan itu. Tadi Mahout Rohman terdengar lebih tegas kepada Verdy, sementara kepada Yulia, Mahout Rizal berbicara dengan nada yang jauh lebih halus. Saya jadi berpikir, mungkin memang setiap mahout memiliki cara komunikasi yang berbeda, menyesuaikan karakter gajah yang mereka dampingi.

Di tengah keasyikan mengamati itu, rupanya ada sesuatu yang luput dari perhatian kami. Pak Mad dan Mahout Rizal saling memberi kode.

Lalu...

Byur!

Semburan air dari belalai Yulia meluncur tepat ke arah kami.


Suasana di dekat bak air yang tadinya tenang langsung berubah ricuh. Ada yang spontan menunduk, ada yang berteriak sambil tertawa, ada pula yang pasrah karena bajunya sudah telanjur basah. 

Saya sendiri tidak sempat menghindar. Yang bisa saya lakukan hanya tertawa sejadi-jadinya.

Belakangan barulah kami sadar kalau sejak awal kami memang sedang "dikerjai". Lucunya, tidak ada seorang pun yang kesal. Sebaliknya, momen itulah yang paling sering kami kenang sepulang dari Way Kambas. 

Foto-foto memang memenuhi galeri ponsel, tetapi justru kejadian yang tidak direncanakan seperti inilah yang paling lama tinggal di ingatan.

Video disemprot Gajah Yulia dapat ditonton pada Short berikut: 

Sebelum meninggalkan kandang, saya melambaikan tangan ke arah Verdy dan Yulia sambil berkata, "Dadah..."

Entah karena kebetulan atau memang mengikuti arahan mahout, keduanya mengangkat belalai hampir bersamaan.

Saya terdiam beberapa detik. Pemandangan sederhana itu terasa begitu hangat.

Beberapa bulan setelah perjalanan ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2025, saya membaca kabar bahwa Yulia telah melahirkan anak pertamanya, seekor gajah betina yang diberi nama Heti. Saya langsung teringat siang itu, ketika Yulia membuat kami semua basah kuyup sambil tertawa.

Selamat ya, Yulia.

Semoga Heti tumbuh sehat dan kelak menjadi bagian dari harapan baru bagi kelestarian gajah Sumatera di Way Kambas.

Gajah Yulia sedang mengandung anak pertama. Pada tahun 2025 usianya 12 tahun.

Peresmian nama Heti anak gajah Yulia dilaksanakan pada 9 Desember 2025. 

Nama Heti merupakan pemberian Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, SH., S.I.K., M.M. Video acara peresemian nama Gajah Heti dapat ditonton pada Reels @btn_waykambas berikut ini:


 

Visitor Center Way Kambas dan Kerangka Gajah yang Menyimpan Banyak Cerita

Begitu melangkah masuk ke Visitor Center, mata saya langsung tertuju ke sisi kiri ruangan.

Di sana berdiri sebuah kerangka gajah berukuran besar. Sulit untuk tidak memperhatikannya. Bahkan sebelum kami sempat melihat-lihat isi ruangan yang lain, Pak Mad sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.

"Nah, ini..." katanya sambil menunjuk kerangka tersebut.

Visitor Center menjadi tempat yang pas untuk memulai kunjungan ke Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di dalamnya terdapat berbagai informasi mengenai satwa-satwa yang hidup di taman nasional, mulai dari gajah Sumatera, badak Sumatera, hingga satwa liar lainnya. Ada panel-panel edukasi, foto dokumentasi, koleksi konservasi, serta ruang audiovisual yang membantu pengunjung mengenal Way Kambas sebelum menjelajahi kawasan konservasi.

Namun siang itu, perhatian kami justru berhenti pada kerangka gajah tersebut.

Pak Ahmad Sakhroni dan kerangka gajah dari gajah yang mati di usia 18 tahun

Pak Mad bercerita bahwa kerangka itu berasal dari seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit. Kini kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai media edukasi di Visitor Center agar pengunjung dapat mengenal anatomi gajah sekaligus belajar lebih banyak tentang konservasi.

Ada satu cerita yang menurut saya justru lebih menarik.

Pak Mad ternyata menjadi salah satu orang yang ikut menyusun kerangka gajah itu hingga berdiri seperti sekarang. 

Proses penyusunannya dikerjakan bersama Pak Nazzarudin, Catur Marsudi, Alfian Efendi, serta tiga orang yang didatangkan dari Bali, yaitu Pak Aan, Saiful, dan Ansori.

Saya baru tahu bahwa kerangka sebesar itu tidak datang begitu saja ke dalam ruangan. Ada orang-orang yang dengan sabar menyusun setiap bagiannya hingga akhirnya menjadi sarana edukasi bagi ribuan pengunjung yang datang ke Way Kambas.

Setelah mendengar cerita Pak Mad, saya tidak lagi melihat kerangka itu sekadar sebagai pajangan di Visitor Center. Di baliknya ada kerja keras banyak orang agar kisah seekor gajah tetap dapat menjadi bahan pembelajaran bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Sebelum keluar ruangan, saya sempat menoleh sekali lagi ke arah kerangka itu.

 

Makan Siang Sebelum Berpisah

Keluar dari Visitor Center, kami akhirnya menyerah pada rasa lapar yang sejak tadi ditunda. Area kuliner di depan Pusat Konservasi Gajah siang itu cukup ramai. Teman-teman langsung mencari tempat duduk. Ada yang memesan pecel lele, pecel ayam, mie ayam, lengkap dengan es kelapa muda untuk melepas dahaga setelah berkeliling sejak siang.

Saya dan suami memilih duduk semeja dengan Pak Mad dan Mas Bio. Sementara teman-teman yang lain mengobrol di meja sebelah. Suasananya santai. Obrolan kami pun masih seputar Way Kambas, mulai dari gajah-gajah yang dirawat di sana hingga cerita Mas Bio yang sehari-hari mendampingi badak Sumatera. 

Saya lebih banyak mendengarkan. Rasanya menyenangkan bisa menutup kunjungan dengan makan siang sederhana sambil berbincang bersama orang-orang yang selama ini hanya saya kenal lewat cerita.

Pak Mad pelestari gajah dan putranya Mas Bio tim pelestari badak


Tak terasa waktu terus berjalan. Kami harus segera berpamitan karena perjalanan masih panjang. Tiket kapal menuju Bakauheni sudah dipesan dan kami tidak boleh terlambat. Setelah berfoto bersama, kami pun masuk ke mobil dan meninggalkan Way Kambas.

Di tengah perjalanan menuju Bakauheni, pikiran saya justru masih tertinggal di Visitor Center. Mendengar langsung cerita Pak Mad tentang seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit, lalu melihat kerangkanya yang kini menjadi media edukasi, menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi saya hari itu.

Mungkin itu juga yang membuat kunjungan kali ini terasa berbeda. Saya tetap senang bisa bertemu Fitria, Verdy, Yulia, dan gajah-gajah lainnya. Namun, saya pulang bukan hanya membawa foto atau video. Saya juga membawa cerita baru, cerita yang membuat saya semakin menghargai orang-orang yang setiap hari bekerja menjaga satwa-satwa langka di Way Kambas.

Way Kambas Hari Ini

Kini, saat tulisan ini diterbitkan, Way Kambas mulai kembali menerima kunjungan wisatawan. Namun konsepnya berbeda. Kawasan ini dibuka secara terbatas sebagai wisata minat khusus yang lebih menekankan pengalaman konservasi dibanding wisata massal.

Setelah mengingat kembali perjalanan pada September 2025 itu, saya justru merasa konsep tersebut sangat sejalan dengan cara saya menikmati Way Kambas. Yang paling membekas bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga obrolan bersama Pak Mad dan Mas Bio, cerita di Visitor Center, serta banyak hal kecil yang mungkin tidak akan saya temukan di media sosial.

Gajah Yekti. Gajah rescue yang terperosok di lubang. Menurut kabar yang saya dapat pada 2025, anak gajah ini sudah lama tiada (mati). Dokumentasi 2018 ini jadi saksi bahwa yang pernah dijumpai, belum tentu dapat ditemui lagi.
 

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan pengalaman seperti itu. Beberapa tahun lalu saya juga pernah mengikuti kegiatan di Camp ERU Margahayu, sebuah camp yang menjadi basis Elephant Response Unit (ERU) di Taman Nasional Way Kambas. 

Di sana saya tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga belajar bagaimana para mahout dan tim konservasi bekerja setiap hari menjaga kawasan, mendampingi gajah patroli, hingga hidup berdampingan dengan satwa liar. Saya bahkan pernah ikut memandikan gajah dan menyusuri kawasan konservasi bersama mereka. Pengalaman itu saya ceritakan lebih lengkap di dua tulisan saya sebelumnya.

- Lipur Hati di Lampung Timur
- Memandikan Gajah di Camp Eru Margahayu

Kalau dipikir-pikir, mungkin memang seperti itulah cara saya menikmati Way Kambas. Bukan sekadar datang untuk melihat gajah, melainkan memahami kehidupan yang berlangsung di baliknya. Semakin sering datang, semakin saya sadar bahwa Way Kambas bukan hanya tentang gajah. Di taman nasional ini juga ada badak Sumatera, tapir, dan berbagai satwa liar lain yang sama pentingnya untuk dikenal.

 
Jika teman-teman penasaran ingin mengenal badak Sumatera lebih dekat, sesekali mampirlah ke akun Instagram @btn_waykambas

Di sana ada banyak cerita menarik tentang Badak Mirah, Delilah, Andatu, dan penghuni Way Kambas lainnya. Rasanya menyenangkan melihat semakin banyak satwa mendapat ruang untuk dikenalkan kepada masyarakat.

Mungkin itulah alasan saya selalu ingin kembali ke Way Kambas. 

Setiap kunjungan menghadirkan cerita yang berbeda. Selalu ada hal baru untuk dipelajari, orang-orang yang bekerja dengan sepenuh hati menjaga satwa, dan pengingat bahwa taman nasional ini jauh lebih luas daripada apa yang sempat saya lihat dalam satu kali perjalanan.