Liburan Seru ke Gunung Tangkuban Parahu - Dimuat di Majalah Anakku Edisi Januari 2016

11.57
Cover Majalah Anakku edisi Januari 2016

Pemandangan alam, iklim udara yang sejuk, serta deretan kawah yang terbentang yaitu Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Baru, dan Kawah Domas, menjadikan kawasan TWA Tangkuban Parahu sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik di Jawa Barat. Karena alasan inilah saya bersama keluarga datang ke tempat ini.

TWA Tangkuban Parahu terletak di Provinsi Jawa Barat, sekitar 20 km di utara kota Bandung. Meskipun letaknya berada di sebelah Utara Bandung, Gunung Tangkuban Perahu masih menjadi wilayah Bandung Barat. Gunung Tangkuban Perahu sendiri terletak di ketinggian 2.048 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 6.837 kaki dengan suhu rata-rata harian 17 DC siang hari dan 2 DC di malam hari.

Tangkuban Parahu merupakan gunung berapi yang masih aktif. Beberapa tanda aktifnya gunung ini adalah dengan adanya gas belerang dan juga sumber air panas yang mengalir di kaki gunung seperti Ciater. Letusan terakhir gunung ini tercatat pada tahun 2013. Meskipun demikian, kini gunung ini masih relatif aman untuk dikunjungi.
 



Tidak seperti gunung lainnya, puncak gunung Tangkuban Perahu berbentuk memanjang dan mirip dengan sebuah perahu terbalik. Hutan di sekitar gunung rimbun dengan tanaman pohon pinus dan hamparan tanaman teh.

Tarif masuk TWA Tangkuban Perahu Rp 25.000 per mobil. Sedangkan wisatawan dikenakan Rp 20.000 per orang dan Rp 200.000 per orang untuk wisatawan asing. 

Dari gerbang utama, jarak menuju Gunung Tangkuban Parahu masih agak jauh. Mobil harus melewati jalan menanjak dan berkelok. Namun panorama yang terlihat di sepanjang jalan sangat indah. Kami menikmatinya dari balik jendela mobil.

Di kiri dan kanan jalan terdapat hutan. Di dalam hutan inilah hidup hewan dan tumbuhan endemik Gunung Tangkuban Parahu. Terdapat Puspa (Shima Walichi), sejenis tanaman langka yang pada bagian tertentu dapat menyebabkan gatal jika dipegang. Ada juga Pakis Emas. Mirip pakis langka yang pernah saya lihat di Lembah Harau, Sumatera Barat. Pakis langka ini bisa tumbuh tinggi sampai 10 meter. Habitatnya memang di hutan yang dingin dan daerah berkabut. Selain Puspa dan Pakis Merah, ada juga Anggrek Hutan. Sedangkan hewan endemik Tangkuban Parahu, di antaranya Elang Jawa, Meong Congkok, Surili (sejenis kera), dan Lutung Jawa.  





Setelah menanjak beberapa kilometer, kami sampai di sebuah tempat lapang dan terbuka. Tak ada lagi hutan rimbun penuh pohon. Mobil dan motor wisatawan terlihat berjejer. Sebuah papan nama berdiri tegak berlatar sebuah lubang raksasa: TWA. Gn.Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Parahu terkenal dengan legenda yang ada di baliknya. Gunung ini memiliki lubang besar di tengahnya. Kawah Ratu namanya. Menggetarkan ketika dilihat, namun memesona. Gadis kecil saya sangat antusias. Tak henti-henti ia menunjuk ke kawah, ke arah kepulan asap belerang yang terus bergerak diterbangkan angin.

Ada pagar pengaman di pinggiran kawah. Kami berdiri dan berpegang pada pagar itu. Memandang kawah agak lama, selagi kabut belum datang menutupi segalanya. Beberapa laki-laki penjual souvenir mendekat, menawarkan dagangan. Saya menolak dengan halus, karena kami baru saja tiba dan ingin menikmati suasana lebih dahulu.

Kami menaiki tanjakan. Gadis kecil saya berhenti. Saya kira lelah, ternyata tidak. Ia tertarik pada deretan topi kupluk lucu berbentuk kepala hewan yang dijejer di pagar pembatas. Topi dagangan orang. “Lucu, ya, ma,” ucapnya. Sepertinya ia berminat, tapi tak sampai minta dibelikan. 





Topi-topi lucu

Cuaca sangat cerah, namun udara terasa sejuk. Makin naik ke atas makin sejuk. Di atas ada pondok jajan. Kami mampir untuk membeli sebotol air mineral. Setelah melepas dahaga, kami kembali berjalan-jalan. Di antara para wisatawan, ada seorang pedagang souvenir. Ia menghampiri, lalu kami membeli beberapa gantungan kunci khas Tangkuban Perahu.

Di gunung, kami menikmati pemandangan. Tak lama setelah itu kabut datang, melayang-layang menutupi kawah. Semua jadi putih. Namun, sekejab kemudian kabut pergi, datang lagi, begitu seterusnya. Berubah-ubah. Makin siang makin sering berubah.

Cuaca pun latah, ikut berubah. Langit cerah tiba-tiba mendadak kelabu. Gerimis turun kecil-kecil, lalu lama-lama menjadi besar. Kami berlarian, bergerak untuk turun.  Suami saya menenteng kamera, tripod, dan dua ransel. Saya memegang tangan anak. Dalam keadaan seperti itu, anak saya bukannya merasa cemas,  justru tertawa. Berlarian di tengah gerimis baginya seperti bermain.

Dengan tetap berhati-hati kami menuruni tanjakan demi tanjakan, dan akhirnya kembali ke mobil dengan selamat. Kami berteduh di mobil, tapi hujan tak mau berhenti, akhirnya kami memilih pulang. Lagipula telah cukup lama kami di atas. Rasanya sudah puas.

Anak saya masih terlihat gembira. Tak nampak lelah. Saya lega, ternyata mengajak anak naik gunung bukanlah hal menakutkan, justru menyenangkan. Mungkin karena keadaan Gunung Tangkuban Perahu terbilang aman, tak terlalu membutuhkan ekstra tenaga untuk perjalanan mendaki. Mengajak anak ke Tangkuban Perahu tak perlu ragu.
 
Foto bareng


Jagung siap dibakar


Pondok jajan


Turis asing

Info :
  • TWA Tangkuban Parahu buka setiap hari dari Jam 07.00 AM – 05.00 PM.
  • Harga tiket masuk weekdays: Pengunjung domestik Rp 20.000, pengunjung asing Rp 200.000,  sepeda Rp 7.000, sepeda motor Rp 12.000, mobil Rp 25.000, bus Rp 110.000,
  • Harga tiket masuk weekend : Pengunjung domestik Rp 30.000, pengunjung asing Rp 300.000,  sepeda Rp 10.000, sepeda motor Rp 17.000, mobil Rp 35.000, bus Rp 150.000,
  • Shuttle bus : Jayagiri-Kawah Ratu (round-trip) Rp 7.000, Guide Rp 150.000 (untuk wisatawan lokal) Rp 300.000 (untuk wisatawan asing).

Artikel ini pernah dimuat di Majalah (digital) ANAKKU edisi Januari 2016


Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

10 comments

Write comments
9 Februari 2016 12.26 delete

Selamat Mbak, artikelku masih nunggu jawaban he3

Reply
avatar
9 Februari 2016 15.21 delete

Selamat mbak. Selalu keren deh mbak Rien. Betewe kasih bocoran dong kalo kirim tulisan ke majalah anakku gmn caranya?

Reply
avatar
9 Februari 2016 15.40 delete

Terima kasih, Wan.

Sedang antri mungkin ya. Biasanya saat hendak dimuat baru dikabari.

Reply
avatar
9 Februari 2016 15.41 delete

Terima kasih, Mbak Muna.

Boleh. Tulis artikel sebanyak 3000 karakter, atau sepanjang artikel yang aku posting ini. Sertakan minimal 5 foto high res. Kirim ke redaksi.

Reply
avatar
9 Februari 2016 21.28 delete

Selamat mbak Rien.... Foto-fotonya keren banget!

Reply
avatar
9 Februari 2016 23.38 delete

Wah, udh lama banget ga ke Tangkuban Perahu. Dulu pas masih kecil bgt. Jadi pgn bw Rafasya kesana baca postingan ini..

Reply
avatar
10 Februari 2016 06.55 delete

Sekarang keadaannya lebih aman dan nyaman untuk dikunjungi. Pemandangannya pun pasti menyenangkan untuk dilihat oleh anak. Ayo mbak ajak Rafasya :)

Reply
avatar
10 Februari 2016 19.00 delete

Selamat yach mbak dan fotonya keren2 semua

Reply
avatar
11 Februari 2016 15.35 delete

Belum pernah ke Tangkuban Perahu mbak, ke Bandung baru ke daerah Lembang. Perlu diagendakan nih.

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon