Tradisi Orang Baduy Dalam Untuk Harmoni Alam dan Kelangsungan Hidup

20.18

Menemui kehidupan tradisional Suku Baduy Dalam yang tinggal di wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, adalah sebuah pengalaman tidak sederhana yang akan selalu lekat dalam ingatan saya. Selain gaya hidup masyarakatnya yang masih terjaga secara tradisi, untuk menuju ke lokasi tempat mereka tinggal juga sebuah petualangan tersendiri. 

“Mereka terbelakang, bodoh, bau, dan tidak kenal peradaban.” 

Itulah sepintas gambaran tentang orang Suku Baduy Dalam yang pernah saya dengar. Gambaran yang membuat saya penasaran, hingga rela menempuh perjalanan dengan kaki selama 5 jam. 

Apa benar masyarakat Suku Baduy demikian? 


Porter cilik menyambut wisatawan di Ciboleger

Lebak, hari Sabtu 19 Juni 2014 sekitar jam 12 siang.
Cuaca siang itu sangat panas. Perjalanan berkendara ELF dari stasiun Rangkas Bitung menuju Leuwidamar hingga berakhir di Ciboleger saya tempuh selama 2 jam. Siang mencapai puncaknya ketika saya dan rombongan tiba di tugu selamat datang Ciboleger. Di sana, orang-orang suku Baduy Luar dan Baduy Dalam telah ramai menanti, bersiap menawarkan diri menjadi porter untuk para pendatang. 


Porter? Mereka berbadan kurus, tidak terlihat gagah, apalagi perkasa. Bahkan diantaranya masih terbilang muda, masih belasan tahun. Berpakaian adat nan sederhana, warna hitam dan putih, serta pengikat kepala yang menjadi ciri khas. 

Melihat itu, yang terlintas dalam benak saya adalah jarak menuju Desa Cibeo yang sangat dekat. Jika jauh, tidak mungkin anak-anak muda dan kecil itu mau jadi porter demi uang sejumlah Rp 25.000 saja. 

Dekat? Dugaan saya keliru!

Mari berjalan kaki

Tiada Transportasi Modern
Dari tiga desa yang berada dalam kawasan Baduy Dalam, yaitu Desa Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik, Desa Cibeo memang dianggap paling dekat untuk dijangkau. Kendati dianggap paling dekat, jarak tempuh menuju Desa Cibeo sekitar 10 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam jalan kaki. Jauh!


Saya tidak pernah menduga jika harus berjalan kaki sejauh itu. Tentu tak mudah bagi saya untuk mencapai Desa Cibeo. Banyak jalan berbatu, bukit terjal, serta sungai-sungai dan jembatan bambu yang harus dilalui selama berjam-jam. 

“Apa tidak ada kendaraan menuju ke sana?” tanya saya pada Asmi, porter berusia 15 tahun yang membawa ransel saya. Ia hanya menggeleng. 

Aturan adat di Baduy Dalam tidak memperkenankan menggunakan sarana transportasi modern. Oleh karena itu, setiap orang harus berjalan kaki untuk masuk dan keluar Baduy. Membuat jalan berarti membuka lahan, itu sama saja dengan menebangi pohon-pohon. Belum lagi polusi yang ditimbulkan, mencemari udara, dan itu semua dianggap turut menyumbang kerusakan pada kesehatan manusia dan alam. 


Jalan berbatu seperti ini ada di setiap perkampungan yang dilalui
Belasan bukit terjal dilalui, demi menemui kehidupan tradisional orang Baduy

Tidak Mengambil Gambar
Makin jauh berjalan, alam Baduy makin menampakkan pesonanya. Makin indah, namun makin sunyi. Segala hiruk pikuk Provinsi Banten yang modern, seperti lenyap ditelan bumi. Hamparan bukit, lembah, dan aliran sungai yang saya jumpai, bagai sebuah setting sempurna yang mengantarkan pada keheningan. Saya ingin sekali mengabadikannya lewat lensa kamera. 


“Di sini masih boleh mengambil gambar, tapi nanti di kawasan Baduy Dalam tidak boleh lagi. Semua barang elektronik (kamera & ponsel) harus dimatikan,” ucap Asmi. 

Warga Baduy Dalam memiliki keyakinan tabu untuk difoto. Segala sesuatu yang berada dalam kawasan Baduy Dalam menjadi area terlarang untuk difoto. Mereka tidak ingin alam yang menjadi tempat mereka tinggal diekspose. Mereka memilih menyimpan semua keindahan dalam sunyi dan di dalam ingatan saja, agar tak mengundang orang datang dan memanfaatkannya untuk kepentingan yang tak mengindahkan kelestarian alam. 


Jembatan bambu di setiap sungai yang dilalui

Telapak Kaki Rendah Hati
Di mana ada aliran sungai, di situ ada kampung. Letak perkampungan biasanya berada di celah-celah bukit dan lembah yang ditumbuhi pepohonan besar. Jarak antara satu kampung dengan kampung lainnya berjauhan. Rumah adat kampung bentuknya sama. Materialnya dari kayu, berdinding anyaman bambu dan beratap rumbia. 


Tampak anak-anak sedang bermain di sekitar rumah, begitu lincah dan polos. Mereka asyik bercengkerama, menghabiskan waktu siang hingga petang tiba. Bermain bersama alam, tanpa gadget yang sekarang sedang menjajah masa kanak-kanak di perkotaan. 

Gemericik air sungai yang mengalir di antara bebatuan cadas, menghadirkan harmoni alam yang syahdu. Pohon-pohon tinggi rindang menaungi jalur yang kami lalui. Daunnya lebat menjuntai hingga ke permukaan sungai. Jika tak ingat hari yang kian petang, ingin rasanya menikmati jernihnya air sungai untuk sekedar membasuh muka dan kaki. 

Di tepian sungai sejenak saya terpaku, menatap sepasang kaki porter saya yang telanjang. Saya baru sadar, sepanjang perjalanan ia tanpa alas kaki. 

Menapak bumi tanpa alas kaki, tanda kerendahan hati

Ternyata, berjalan tanpa alas kaki merupakan salah satu aturan adat suku Baduy. Aturan itu berlaku ke mana pun mereka hendak berjalan. Namun, saat kembali ke rumah, mereka harus mencuci kakinya hingga bersih dalam sebuah wadah terbuat dari bambu yang diberi tanda, lalu mengeringkannya pada secarik kain hitam agak kebiruan. 

“Orang kami tetap begini, termasuk ketika menapaki aspal saat menuju Kota Jakarta,” ucap Asmi. Meringis saya membayangkannya.

Orang Baduy Dalam kadang bepergian ke kota, menjual madu dan hasil hutan lainnya. Ajaibnya, mereka tidak menggunakan kendaraan angkut apapun. Mereka berjalan kaki, berhari-hari, dan tanpa alas kaki. 

Tak ada keterangan lain yang saya dapat tentang ketiadaan alas kaki itu. Namun, tersirat sebuah makna mendalam tentang kesederhanaan dan kerendahhatian, bahwa tetaplah menapak bumi, setinggi atau sejauh apapun kedudukan dan ilmu yang dimiliki. 


Orang Baduy setiap hari melintasi bukit dan hutan, dengan kaki, dan tanpa alas kaki

Makam Tumpuk
Dalam perjalanan, kami melewati perkampungan dan berjumpa deretan bangunan leuit tempat penyimpanan padi. Di dekat leuit tersebut terdapat pemakaman yang dibiarkan tak terawat. 


Menurut Kang Jali, terdapat kesamaan antara Baduy Dalam dengan umat Islam dalam hal penguburan jenazah. Jenazah dikuburkan dan dihadapkan ke arah kiblat, namun tidak ada ritual 3, 7, 40, atau 100 harian. Bagi mereka, amalan dan hubungan seseorang akan terputus setelah dirinya meninggal.

Orang Baduy mempunyai aturan untuk tidak merawat makam, membiarkannya kembali seperti semula sehingga bisa dimanfaatkan lagi untuk pemakaman berikutnya. Penghematan lahan. 


Leuit, bangunan tempat menyimpan padi

Di Desa Cibeo
Setelah 5 jam berjalan kaki, akhirnya kami tiba di Desa Cibeo, tempat suku Baduy Dalam tinggal. Sepi dan tenang, itulah kesan pertama saya ketika menjejakkan kaki di mulut desa. 


Saat pertama memasuki desa ini, terdengar suara khas mesin tenun manual yang setiap hari menjadi ritual wanita-wanita Baduy. Mereka duduk menenun di serambi rumah sambil menjajakan hasil karyanya berupa songket dan kain-kain berukuran kecil. Kerajinan tenun menjadi aktivitas yang dilakukan kaum perempuan Baduy. Hampir semua wanita Baduy bisa menenun. 

Penampilan fisik dan bahasa orang Baduy mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka.  


Wanita Baduy menenun kain tradisional

Sebagian besar suku Baduy menghidupi keluarga mereka dengan mencari nafkah sebagai petani. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. 

Sesuai aturan adat, orang Baduy Dalam tidak diperkenankan memakai baju modern. Busana mereka mempunyai ciri khusus seperti serba putih, tidak memakai kerah, tidak pakai kancing dan tidak memakai kantong baju. Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun. Mereka tidak memakai celana, karena pakaian tersebut dianggap barang tabu.

Anak perempuan Baduy

Sebagai pelengkap busana, orang Baduy menggunakan ikat kepala berwarna putih. Pakaian Baduy Dalam yang bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum terpengaruh budaya luar. 

Tinggal di pedalaman yang terpencil, anak-anak suku Baduy tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Walaupun hidup dengan kondisi sederhana, namun hubungan kekerabatan di antara mereka sangat erat. 


Dua anak Baduy berpakaian adat, malu-malu berpose dengan kedua teman saya

Ada Terang Dalam Gelap
Desa Cibeo terletak di tengah hutan dan tanpa penerangan listrik. Bukan karena listrik tidak masuk desa, melainkan karena suku Baduy teguh memegang aturan adat, mereka menolak hidup dengan teknologi listrik dan semua barang elektronik seperti televisi, radio dan ponsel. 


Bagi saya yang tak biasa, kegelapan bagai sebuah siksaan. Terlebih jika ingin buang air kecil di malam hari. Rumah-rumah di desa tidak memiliki kamar kecil. Aktifitas mandi dan buang air dilakukan di sungai. Kami mesti pergi ke sungai jika butuh MCK.

Sungai yang biasa digunakan untuk aktifitas sehari-hari terletak di belakang desa, di tepi sebuah hutan. Sejak dari desa hingga hutan suasana gelap tanpa penerangan. Dalam kegelapan apapun bisa terjadi, entah itu sebuah kecelakaan terpeleset di sungai, dimangsa hewan buas, atau bahkan diculik mahluk halus yang biasa tinggal di pohon-pohon tua. Saya merinding.

Jujur, saya ingin sekali malam lekas berlalu, menghilangkan keluh, pada ketiadaan listrik yang membuat alam seperti bisu. 

Hmm… Inilah saya, tiada listrik mengeluh, pakai listrik dan bayar mahal juga mengeluh. Bahkan menggerutu karena ketergantungan pada listrik. Jadi, maunya apa? Mari bertanya pada orang Baduy yang lebih mencintai terang bulan dan indahnya cahaya bintang gemintang. 


silakan bayangkan suasananya di malam hari

Keluarga Baduy
Tuan rumah tempat saya bermalam di Desa Cibeo bernama Jali. Saya memanggilnya Kang Jali. Ia tak sekedar guide selama kami jalan kaki pulang dan pergi dari Desa Cibeo, melainkan juga seseorang yang dengan begitu baiknya mempersilakan rumahnya dijadikan tempat bermalam. Ia mempunyai istri dan seorang anak yang masih bayi. Kedua orang tuanya yang telah renta juga tinggal bersamanya. Sebuah keluarga sederhana yang punya ketulusan hati tiada tara.


Malam itu saya kesulitan untuk tidur. Lantai rumah kang Jali yang terbuat dari anyaman bambu kerap berbunyi. Setiap kali ada yang melangkah, bambunya berderit. Angin dari bawah seperti menusuk-nusuk lewat lubang anyaman bambu yang tak rapat. Saya harus mengenakan sleeping bag agar bisa berbaring dengan nyaman. Namun sleeping bag tak mampu membuat saya merasa betul-betul nyaman.

Ciri keluarga Baduy Luar, bajunya modern, beda dengan Baduy Dalam

Bayi kang Jali menangis berulang kali. Sang ibu yang tampak masih berusia muda menenangkannya. Ia melantunkan dendang yang liriknya tak saya mengerti. Sementara dari bilik lain yang tak berpintu, nyala api membakar panci berisi air. Saya mengintip dari balik sleeping bag. Tampak ibu Kang Jali sedang meniup api dengan sepotong bambu. Percikan api membuat saya cemas, takut wajah keriputnya terbakar. 

Tak lama, ibu Kang Jali keluar membawa panci berisi air panas. Ia membuat kopi, untuk dihidangkan pada kami. Kebaikannya menyentuh hati. Sementara, bayi kecil masih menangis. Mungkin kepanasan, mungkin juga matanya pedih, sebab asap dari tungku masak menyebar ke seluruh ruangan dalam rumah. Saya gelisah. Gelisah dengan kesederhanaan yang tidak bisa saya nikmati.

Apa yang saya cari? Kenikmatan? Nikmatilah kehangatan keluarga ini. 

suasana desa Baduy Luar


Langit Berkilau
Saat itu akhir pekan, Desa Cibeo sedang ramai dikunjungi pendatang. Lapangan terbuka di tengah desa jadi tempat berkumpul. Celoteh para perempuan seperti suara nyamuk yang kegirangan menemukan mangsa. Berisik. Suasana tenang tak dapat direngkuh. 


Saya semestinya tidak nyaman sebab desa jadi penuh sesak. Namun, siapa tahu ramainya pendatang justru menjadi hiburan tersendiri bagi warga Desa Cibeo. Bukankah desa ini setiap harinya hanya diselimuti sunyi? Jauh dari hiruk pikuk kehidupan modern yang gegap gempita.

Orang-orang tak hanya berkumpul di lapangan desa, tetapi juga berkeliaran di sekitar sungai. Dengan senter mereka hilir mudik menyeberangi jembatan bambu. Cahaya senter tampak berkelebatan di hutan. Entah, keindahan seperti apa yang bisa dinikmati di malam hari?

Ternyata, ada keindahan langka di desa ini. Tanah sekitar hutan dekat sungai mengeluarkan cahaya yang sangat indah. Bagaikan lampion-lampion yang beterbangan ke langit. Cahaya itu berasal dari jamur-jamur yang tumbuh dan hidup di tanah, juga di sisa-sisa tebangan bambu.

Sementara, langit malam dihiasi bintang-bintang berkilauan. Sangat cantik. Bagaikan kristal yang terukir indah di atas semesta. Jauh lebih indah dari gemerlap cahaya di kota Jakarta. Bagi warga desa, pemandangan indah seperti itu sudah biasa, tak lagi luar biasa.

Tempat terpencil ini menakjubkan. 

Di langit itu, bulan dan bintang gemintang tampil gemilang di waktu malam

Sungai Untuk Kehidupan
Pagi hari jelang Subuh, para perempuan suku Baduy telah beraktifitas di sungai. Saya penasaran dengan apa yang mereka lakukan. Dengan sebuah senter, saya memberanikan diri mencapai sungai. Gelap tentu saja. Pohon-pohon tinggi berwarna kehitaman seperti bayangan monster. Dahannya bergoyang, daunnya mendesau dihembus angin. Horor.


Apa yang saya jumpai di sungai membuat saya keheranan. Dalam pagi yang belum benderang, para perempuan Baduy melakukan aktifitas mandi, buang air, mencuci baju, beras, badan, dan berbagai perabotan dapur. 

Sungai desa dibagi dua guna memisahkan antara perempuan dan laki-laki. Air sungai bersih, jernih, namun dangkal. Arusnya deras, mengalir di antara batu-batu cadas. Di bagian hulu digunakan untuk mandi, lalu berurutan untuk mencuci beras, baju, dan paling hilir untuk buang hajat. Dengan demikian air bersih dan air kotor tidak bercampur. 

Orang Baduy tidak menggunakan sabun, sampho, odol, dan sikat gigi. Mereka memakai sabut kelapa untuk menggosok gigi, menggosok alat masak, dan menghempaskan baju pada batu untuk menghilangkan kotor dan bau di baju, serta menggosok badan dengan daun honje. Semuanya menggunakan bahan alami. Bagi mereka produk buatan pabrik akan merusak alam. Prinsip hidup yang bagus, demi menjaga keseimbangan alam dan manusia.


sungai-sungai di Baduy tetap bersih dan seindah ini karena orang Baduy menjaganya

Kehidupan Bersahaja

Lojor teu meunang dipotong. Pondok teu meunang disambung. Kurang teu meunang ditambah. Leuwih teu meunang dikurang.  

Demikianlah peribahasa Suku Baduy yang artinya panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung, kurang tak boleh ditambah, lebih tak boleh dikurang. 

Kehidupan sehari-hari orang Baduy bersahaja karena mereka menyatu dengan alam dan menolak segala macam aktifitas dan barang modern. Demikianlah aturan adat berlaku. Dalam kesederhanaanya, mereka tampak ikhlas dan tetap semangat menjalani hidup. Senyum tulus mereka kepada kami para pendatang, menyiratkan penerimaan yang indah. 

Kehidupan bersahaja

Minggu, 20 Juni 2014
Ini hari terakhir kami tinggal bersama masyarakat Baduy Dalam. Sebelum meninggalkan Cibeo, kami berpamitan dengan warga, dan berkesempatan bertemu dengan salah satu Jaro untuk berbincang beberapa hal yang ingin kami ketahui. Jaro adalah sebutan untuk kepala desa. Sedangkan pimpinan adat tertinggi dalam sistem adat Baduy Dalam disebut Pu’un. Pu’un inilah yang menjadi sosok panutan warga. 


Saya terharu. Ada kesan mendalam meski hanya semalam merasakan kehidupan alami di Baduy Dalam. Kehidupan yang tenang dan damai, dimana waktu seakan begitu lamban berjalan. Tempat orang-orang bersahaja yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi, dan jauh dari kesan materialitis. Sungguh bertolak belakang dari gambaran terbelakang, bodoh, bau, dan tidak kenal peradaban seperti yang pernah saya dengar.

Suku Baduy bukan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar, melainkan masyarakat yang ketat mengikuti adat-istiadat demi menjaga keseimbangan alam dan kelangsungan hidup mereka. 

Sungguh kehidupan yang langka. Inilah citra Indonesia yang dulu sempat tertanam menjadi jati diri bangsa ini.

Orang Baduy, mereka-lah penjaga Mahakarya Indonesia.

(KS

Saya (rok kuning), bersama porter Baduy di gerbang masuk Desa Baduy


catatan:
- Semua foto diambil di kawasan Baduy Luar, area tidak terlarang untuk diambil gambar. Tidak ada satu pun foto yang diambil di kawasan Baduy Dalam. Saya menghormati adat istiadat Suku Baduy yang melarang pengambilan gambar di area terlarang.


- Semua foto dokumentasi pribadi.



Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

27 comments

Write comments
9 Juni 2015 20.21 delete

Pengen euy ke Baduy....

Reply
avatar
9 Juni 2015 22.54 delete

Satu destinasi yang belom kesampaian sampai saat ini adalah menelusuri baduy, aku pengen banget

Reply
avatar
10 Juni 2015 00.35 delete

Udah lama banget pengen ke Baduy, udah disuruh-suruh sama suami juga, malah mau dicariin guide buat nemenin ke sana. Duh gimana nggak baik coba dia hehe...tapi situasi dan kondisi belum mendukung.

Reply
avatar
10 Juni 2015 06.03 delete

Kehidupan tradisionalnya itu kah yang bikin mbak Dian kepengen? :)

Reply
avatar
10 Juni 2015 06.06 delete

Baduy luas, ada Baduy Luar dan ada Baduy Dalam. Baduy Dalam ada 3 desa, salah satunya Cibeo yang saya datangi ini. Itu pun 5 jam. Kebayang gak kalau semua kawasan Baduy ditelusuri? Bisa2 Salman jalan kaki berhari-hari :)))

Reply
avatar
10 Juni 2015 06.09 delete

Baik sekali suaminya mbak :)
Ikut open trip kayak temenku aja mbak. Sudah disiapkan guidenya, tempat bermalamnya, juga makan selama tinggal di Baduy. Semoga berkesempatan di waktu yang tepat ya mbak Lina.

Reply
avatar
10 Juni 2015 09.57 delete

mau donk menelusuri baduy , hehe

Reply
avatar
10 Juni 2015 10.55 delete

Dan aku lelah jalan kaki nya #Gempor

Reply
avatar
10 Juni 2015 12.20 delete

Semua mbak... Udah lama aku pengen ke Baduy, sejak aku kenal ama Etin, temen pondokku yang asli orang Banten. Berkali rencana ke Baduy bareng dia selalu batal. Cerita-cerita tentang Baduy dari buku-buku Gola Gong makin bikin aku tambah mupeng ke Baduy...

Reply
avatar
10 Juni 2015 14.39 delete

hahaha...pastinya. Aku aja pas ke sana merasa kayak ga nyampe-nyampe :))
Syukurnya selama perjalanan pulang dan pergi aku sehat dan baik-baik saja. Alhamdulillah kuat dan ga pake sakit sesudahnya :D

Reply
avatar
10 Juni 2015 14.42 delete

Mudah-mudahan saat berencana ke Baduy lagi, lancar dan ga batal lagi ya mbak. Menemui kehidupan tradisional orang Baduy itu seru dan bikin bikin terharu :)

Reply
avatar
10 Juni 2015 17.49 delete

Kehidupan suku baduy ini memang sederhana banget dan menghormati alam :)

Reply
avatar
11 Juni 2015 07.24 delete

Wow mba rien kereeennn petualangannyaa.. itu kebayang kl mau ke toilet kayak apa ya? trus baju-baju mereka dijahit sendiri ya mba? kain batik yang dipakai anak perempuan baduy hasil buatan sendiri atau beli dari luar baduy?

Reply
avatar
11 Juni 2015 23.58 delete

mirip2 desa jaboi sabang, di era 90an awal mbak. walaupun sekarang, semuanya sudah berubah total.
hmmm mandi di sungai, buang air,dan malam hari? saya sudah pernah ngerasain gimana :))

Reply
avatar
12 Juni 2015 04.43 delete

Yup. Prinsip hidup mereka yang seperti itu patut diterapkan kendati kita tidak tinggal di Baduy :)

Reply
avatar
12 Juni 2015 04.53 delete

Mbak Ima, aku bingung saat mau ke toiletnya :D
Orang2 mesti ke sungai tapi di sungai nggak ada bilik toilet. Aku liat sih orang2 pada berendam dalam air. Jongkok hahaha. Aku nggak tahu temen2 berani nggak begitu kalo siang. Kebanyakan sih malem2 :D

Kalau baju warga Baduy Dalam mereka jahit sendiri. Jahit tangan dan nggak boleh pakai mesin. Warnanya pun minim.

Anak perempuan dalam foto itu bukan anak Baduy Dalam, melainkan Baduy Luar. Mereka sudah terkontaminasi budaya luar. Bajunya sudah modern, bahkan ada yang pakai baju2 kaos seperti pada umumnya. Kalo setelan kain sarung warna biru itu, aku lupa tanya mereka bikin sendiri atau beli dari luar. Soalnya kain itu juga dijual di Baduy Dalam. Tapi orang Baduy Dalam tidak ada yang memakainya. Waktu di sana, teman2ku beli buat dipakai mandi.



Reply
avatar
12 Juni 2015 05.03 delete

Oh pernah ada ya Yud desa adat seperti ini di Sabang. Seperti apa tradisi di Jaboi? Pernah tahu nggak alasannya kenapa Desa Jaboi berubah?

Hehe....rasanya ya gitu. Malu dan takut. Takut ada hewan yang tiba-tiba keluar dari sungai dan menggigit :D Kalo buaya sih kayaknya nggak ada. Paling kayak ular atau ikan2.

Kalo malu sih paling saat ada yang nyenterin ga sengaja :D Waktu itu aku dan temen2 ke sungai (subuh), mau wudhu ceritanya. Kirain masih gelap gitu sungainya sepi, pas disenterin eeeeh lagi banyak yang pada jongkok di atas batu hahaha. Aku yang nyenterin aja malu :D

Reply
avatar
12 Juni 2015 06.01 delete

saya ke sana itu waktu SMA sekitar tahun 2002an, orang baduy sederhana dan cenderung diam waktu itu, saya sampai bengong di sana kok bisa jauh dari modernisasi, cuma saya takjub dengan pemandangan alamnya, indah banget, kalo saya mbak kayanya gak bisa hidup di sana deh hehe

Reply
avatar
12 Juni 2015 10.32 delete

ooo begini suku Badui Mbak Rien.... wah masih ada ya kultur seperti itu di zaman kayak gini. *salut

Reply
avatar
ira
12 Juni 2015 17.23 delete

Terharu bacanya... Mereka bersahaja dan bijaksana memanfaatkan alam.

Reply
avatar
13 Juni 2015 01.00 delete

Kalo aku pulang ke kampung ortuku di Aceh Selatan (12 jam dari kota Banda Aceh), aku BAB-nya di sungai mbaaaaak, duduk jongkok sambil rendam pantat, hahahahaaa... mau siang atau malam, ya gitu. Ya abis gimana, kalau udah sesak itu, tancap terus, hahahahaaaaa.... kampungku tempat ortu tinggal memang kampung kali masih, andalan tempat BAB adalah sungai :v

Reply
avatar
13 Juni 2015 11.33 delete

pakaiannya orang baduy tradisional banget

Reply
avatar
Anonim
14 Juni 2015 06.02 delete

Salah satu Destinasi impian sejak dulu nih, belum kesampaian hiks
Sekarang cukup puas dulu membayangkan dari tulisan mbak Rien, lumayan buat obat kangen dan mendekatkan impian. Soalnya belum sanggup rasanya jalan bawa Prema sejauh itu.
Ou soal mandi dan bebersih disungai, tak punya listrik, itu masa kecil saya jaman di Kendari dulu, sekarang sudah jauh berubah kondisinya. Kenangan itu bikin kangen

Salam
Arni

Reply
avatar
15 Juni 2015 01.09 delete

Aku belum pernah kesana mba rien, memang tulisanmu pantas jadi juara, barakallah yaa...bkin buku solo mba rien travelling aku suka tulisan2mu..

Reply
avatar
23 Juni 2015 19.52 delete

Suka sekali bacanya, saya seperti terbawa ke dalam kehidupan suku baduy

Reply
avatar
8 Juli 2015 19.44 delete

Tulisannya detail banget, mbak. Nggak salah kalau jadi jawara. Selamaaat...

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon