Ketika Lukisan Lebih Berbicara Ketimbang Pelukisnya

16.42
Terlepas dari kemegahan bangunan-bangunan kuno dan pahatan sejarah yang menyertainya, Kota Tua Batavia menghadirkan keindahan lain dalam hitam putih karya seni pelukis jalanan. Inilah deretan karya yang menghiasi trotoar dan dinding gedung-gedung tua bergaya Eropa peninggalan Belanda tiga abad  lalu.


Lelaki bertopi itu hanyut dalam guratan lukisannya. Hiruk pikuk orang lalu lalang tak membuatnya peduli. Jemarinya terus bergerak di atas kanvas, melukis wajah seseorang yang dilihatnya dari layar ponsel. Pergelangan tangannya menghitam, tebal oleh guratan tatto. Lelaki garang, pikir saya. Tetapi kemana garang itu? Sangar pun tak tampak. Ia tentu seniman berhati lembut dan berperasaan. Jika tidak, tentulah sebuah lukisan akan menjelma bak tanah bekas cakaran ayam. Kacau tak berbentuk.


"Berapa lama mengerjakan satu lukisan, Mas? Berapa harga satu lukisan? Sedang mengerjakan pesanan siapa? Tadi sewaktu hujan turun, masih terus melukis?" 

Sederet tanya saya ajukan. Tidak deras, hanya sepelan irama sisa hujan yang tak sempat menunggu kehadiran saya di pusat Kota Tua. Lelaki itu tak menjawab. Ia menoleh sekilas ke wajah saya, memberi seutas senyuman, lalu kembali menunduk menekuri kanvas. Saya mengintip kanvas, nampak sepotong wajah mulai terbentuk. Lelaki itu melanjutkan melukis. 

Uuuuh....sebel! Saya menggerutu dalam hati. Ya sudah, saya jepret kamu saja ya!
Cekrek. Cekrek. Cekrek!


"Sekitar 30 menit untuk satu lukisan." 

Glodak! Saya hampir terjengkang. Haha. Hiperbola. Sebetulnya saya memang kaget. Bagaimana tidak, setelah ia terdiam lama seusai saya ajukan tanya, tiba-tiba saja menjawab tanpa memberi pengumuman terlebih dahulu. Jika diumumkan, saya tentu akan bersiap siaga memasang telinga. Bahkan bila perlu memasang wajah penuh ekspresi di hadapannya. 

Lelaki ini, tutur katanya beraturan namun suaranya tidak halus. Khas suara yang keluar dari mulut yang biasa menghisap rokok. Parau. Bibirnya yang kehitaman turut menjelaskan ciri perokok yang saya tudingkan. Sekilas saya menangkap sorot mata senang di bola matanya. Entah senang karena apa. Tetapi saya menangkap hal lain, secarik pesan dari mimik wajahnya: "Tolong jangan ganggu kosentrasi saya." Arrggh.


Lelaki itu melepas ponsel dari genggaman, menaruhnya di atas kanvas. Saya membuka mata lebar-lebar, menatap layar ponsel. Owh! Ada seraut wajah wanita mirip dengan raut wajah di atas kanvas. Lelaki itu bangkit lalu melangkah mundur, mundur, dan  mundur. Bayang tubuhnya pun menghilang. Ia masuk ke dalam 'galeri'. Sebentuk sesal menyelinap di hati. Saya telah mengusiknya.

"Lelaki, kembalilah. Penuhi panggilan jiwamu. Rasakan kebebasanmu. Melukislah kembali."

Langit masih kelabu, mungkin hujan akan kembali menyapa. Orang-orang lalu lalang silih berganti. Makin ramai, makin sesak. Deretan lukisan hitam putih masih membisu di tempatnya, merahasiakan sejumlah angka-angka yang menjadi rejeki si lelaki. Konon, angkanya berkisar antara Rp 300.000 hingga Rp 1 juta. Angka yang berarti untuk tiap guratan tangan sang pelukis.

Saya melanjutkan langkah, menjauhi galeri pelukis jalanan, menuju Fatahillah Square. Dalam langkah yang kian jauh, saya masih dirundung sesal. Sesal pada sederet tanya yang tak terjawab. Bahkan nama lelaki itu pun saya tak tahu!

Ah! Saya harus kembali ke sini suatu hari nanti.

*****


Kota Tua, Jakarta. 07 Desember 2014

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
11 Desember 2014 09.41 delete

Tulisan yg berbeda,setelah ngelmu,,

Reply
avatar
14 Desember 2014 09.09 delete

Lead-nya kurang nyambung (jumping) dengan paragraf kedua. Lebih bagus kalau paragraf kedua (Lelaki bertopi itu...) jadi lead-nya dan info di paragraf pertama disisipkan di lead yg baru ini.
Gaya nulisnya beda ya, ini rada-rada puitis-melankolis gitu. Uhukk!

Reply
avatar
14 Desember 2014 15.35 delete

Ah iya, betul sekali Mas Teguh. Bukan kurang nyambung, memang tidak nyambung :)) Setelah membaca ulang, memang terasa ada yang janggal. Baik mas, saya perhatikan koreksinya. Masukkan yang sangat berarti. Nanti langsung saya perbaiki di sini juga.

Terima kasih banyak Mas Teguh.

Hehe iya nih, kebetulan lagi kesetrum perasaan puitis-melankolis :))
Oh ya, gaya nulis seperti ini apa bisa diterima oleh media untuk dimuat dalam rubrik perjalanan?

Reply
avatar
14 Desember 2014 15.36 delete

Salam kenal mas Daeng Mursyid. Terima kasih telah mampir dan berkenan berkomentar :)

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon