Ada CARA Dalam Secangkir Teh

13.39
*dokumentasi pribadi*
“Aduk teh dengan pelan, jangan sampai menimbulkan bunyi.”

Sudah puluhan tahun berlalu sejak pertama kali pesan itu saya dengar dari ibu, hingga kini masih melekat dalam benak, dan selalu saya praktekkan setiap kali mengaduk teh. Filosofi dari cara mengaduk teh dengan pelan dan tanpa bunyi itu bermakna bahwa sang tuan rumah menerima tamunya dengan senang dan ikhlas. Jika terdengar bunyi, dianggap menyiratkan ketidaksukaan, tidak ikhlas membuatkan tamunya minuman. Tata cara ini tetap berlaku, kendati bunyi adukan mungkin tidak terdengar oleh si tamu.

Saya belum pernah bertanya apakah tata cara tersebut dianut secara umum oleh masyarakat di daerah asal ibu, atau hanya tradisi keluarga yang dibawa secara turun temurun.  Pada 2 perempuan asal Jawa Tengah (usia 65 & 68 thn) saya pernah bertanya tentang hal ini, katanya mereka juga menganut tata cara tersebut. Berarti ibu tidak sendiri.

Tata cara menghidangkan teh berikut ini saya dapatkan dari ibu, mungkin sama saja dengan tata cara kebanyakan orang.
  • Menggunakan cangkir (ada gagangnya), bukan gelas. Alat minum berupa cangkir bergagang ini dimaksudkan agar tamu tidak kepanasan ketika memegangnnya. Cangkir identik dengan minuman panas. Kalau minuman dingin biasanya dihidangkan dalam gelas besar (bergagang maupun tidak bergagang).
  • Tidak mengisi cangkir terlalu penuh. Setidaknya batas air 1,5cm sebelum mulut cangkir.
  • Gunakan tatakan cangkir agar meja maupun taplak tidak lengket atau terkena noda minuman dari cangkir.
  • Sebelum dibawa ke hadapan tamu, periksa kembali apakah ada gula yang tercecer atau air yang tumpah. Tinggalkan sendok pengaduk teh di dapur. Kecuali kalau di kafe-kafe, teh nya kadang dihidangkan dalam teko, pengunjung perlu sendok untuk mengaduk sendiri tehnya.
  • Cangkir-cangkir teh dibawa dengan menggunakan nampan.
  • Saat menghidangkan, berdirilah di sebelah kanan tamu. Dan letakkan cangkir di meja di sebelah kanan tamu. Penempatan di sebelah kanan merupakan bentuk penghormatan kepada tamu.
  • Gunakan tangan kanan ketika meletakkan cangkir atau pun saat menuangkan air ke dalam cangkir. Seperti biasa, tangan kiri dianggap tidak sopan untuk digunakan.
  • Tidak meninggalkan nampan di hadapan tamu.

Belajar menghidangkan minuman, ya, nak :)
Etiket dalam suatu jamuan memang bukan hanya untuk yang dijamu, tetapi juga yang menjamu. Dalam skala kecil seperti di rumah, etiket menjamu tidak ‘seberat’ seperti perjamuan besar di restoran yang dihadiri undangan dari berbagai kalangan dan status sosial. Namun, tamu tetaplah tamu, siapa pun dan di mana pun si tamu dijamu.

Jika menghidangkan teh ada tata caranya, maka menikmati hidangan teh juga ada tata caranya.
  • Minum setelah tuan rumah mempersilahkan
  • Menggunakan tangan kanan ketika memegang cangkir teh, dan tangan kiri untuk mengangkat tatakan cangkir.
  • Akan dianggap sopan bila menyeruput teh dengan menundukkan kepala, dengan muka berada di belakang tangan yang memegang cangkir. Posisi tangan bukan di bawah muka.
  • Saat minum tidak melihat ke kiri atau ke kanan.
  • Tidak menimbulkan bunyi saat menyeruput teh.
  • Tidak meniup teh (karena panas) dengan mulut (lagi pula tidak baik untuk kesehatan). Tidak pula menuangkan teh ke dalam tatakan cangkir (dengan tujuan mendinginkan teh).

Ada yang bilang, “mau minum teh saja kok ribet amat sih” Hehe. Kalau saya pribadi, tidak memandangnya sebagai sesuatu yang bikin ribet. Selalu ada makna dibalik setiap cara, dan saya menyukai pesan dan rambu-rambu yang ada di balik tata cara tersebut.

Sekilas, etiket menghidangkan minuman atau pun menikmati minuman yang dihidangkan, bukanlah hal penting. Tapi, saya  percaya, etiket mempengaruhi hubungan sosial. Ada kesetaraan dan penghargaan yang terkandung di dalamnya.
 
(*)

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

16 comments

Write comments
21 April 2015 14.22 delete

Tata cara menyajikan teh ini mungkin terlihat sederhana. Tapi sebenarnya, 'pesan' yang terkandung di dalamnya tidaklah sesederhana itu. Makasih, mbak Rien.. udah diingetin lagi tentang 'cara' menyajikan teh ini...

Reply
avatar
21 April 2015 20.02 delete

Hadew, baca kayak nggak telaten, maklum .. emak yang suka grudak gruduk. hehehe bener Mbak Dee an ada unsur tata krama didalamnya. belajar Sopan!. Biar nggak keselak waktu minum teh hangat.

Reply
avatar
21 April 2015 20.28 delete

Benar sekali, Mbak Dee An. Alhamdulillah. Terima kasih :)

Reply
avatar
21 April 2015 20.29 delete

Hahaha....mau reply dengan serius malah jadi ketawa nih baca koment mba Zulfa :))

Reply
avatar
21 April 2015 21.43 delete

zahra baru tahu kalau ada pesan spt itu: aduk teh pelan, jangan sampai menimbulkan bunyi. thanks infonya mba rien :)

aku melihat cara menjamu teh tidak ribet sih, tapi menyenangkan :) pengen deh belajar menjamu dan minum teh khas jepang. kan banyak tata caranya tuh hehe.

Reply
avatar
21 April 2015 22.20 delete

Aahhh jawa bingiitttt mb rieeenn..... Dulu mama kl nyuguh tamu lengkap dgn tatakan dan tutup.. Skrg anak2nya sedia teh gelas di kulkas xixixixixi

Reply
avatar
ira
21 April 2015 22.48 delete

Uhhhh, ini model fotonya kok cantik banget, sih. Pengen nowel pipinya boleh, gak? Semoga Humayra menangkap pesan tersembunyi dari tata cara menghidangkan teh, ya....

Reply
avatar
21 April 2015 23.59 delete

kenapa niup teh berbahaya mbak?

Reply
avatar
22 April 2015 08.03 delete

Saya lebih fokus ke modelnya. Cantik :)

Reply
avatar
22 April 2015 08.47 delete

Sama-sama, Zahra. Iya, di negara-negara tertentu, ada tradisi minum teh lengkap dengan tata caranya masing-masing :)

Reply
avatar
22 April 2015 08.50 delete

Kalo kata iklan, teh itu "bicara". Maksudnya, untuk kebersamaan. Kalo sekarang kita2 maunya serba praktis, ga ngikutin langkah dan 'upacara' sebelum teh itu diminum :))
Oh ya, tradisi Jawa juga rupanya ya. Padahal ibuku bukan Jawa :)

Reply
avatar
22 April 2015 08.52 delete

Boleh banget ditowel, Tante Ira :))
Aamiin. Kata Humayra, biar ngaduknya ga bunyi, pake jari saja wkwkwk. Itu di foto kan dia ngaduknya pake jari mbak hahahah

Reply
avatar
22 April 2015 08.56 delete

Aku kutip dari Kompas Online ya, nanti selengkapnya bisa baca di

"Biasanya ketika kita makan makanan atau minuman yang panas maka kita meniupnya agar makanan atau minuman yang masuk ke mulut kita menjadi dingin. Hal ini dapat berisiko terhadap kesehatan kita dikarenakan makanan atau minuman yang masih panas tersebut akan mengeluarkan uap air yang mana kita tahu uap air adalah H2O(aq).'

Jika kita meniupnya, maka kita akan mengeluarkan gas CO2 dari dalam mulut. menurut reaksi kimia, apabila uap air bereaksi dengan karbondioksida akan membentuk senyawa asam karbonat (carbonic acid) yang bersifat asam.

H2O + CO2 => H2CO3
Perlu kita tahu bahwa didalam darah itu terdapat H2CO3 yang berguna untuk mengatur pH (tingkat keasaman) di dalam darah. Darah adalah Buffer (larutan yang dapat mempertahankan pH) dengan asam lemahnya berupa H2CO3 dan dengan basa konjugasinya berupa HCO3- sehingga darah memiliki pH sebesar 7,35 – 7,45 dengan reaksi sebagai berikut:
CO2 + H20 <= H2CO3 => HCO3- + H+

dst...baca di http://forum.kompas.com/teras/48087-hati-hati-bila-meniup-makanan-dan-minuman-yang-masih-panas.html

Reply
avatar
22 April 2015 08.56 delete

Terima kasih, mbak Lina :)

Reply
avatar
22 April 2015 09.58 delete

Upacara minum teh di Jepang juga ribet loh, malah lebih ribet menurutku :D

Reply
avatar
24 April 2015 09.29 delete

Saya kalo ngaduk teh, selalu bunyi, wkwkwkw...pertanda orangnya suka grasa grusu :D

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon