Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat 25/4/2015 : Menikmati Kopi Yang Disimpan 8 Tahun

04.41

Alhamdulillah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat hari Sabtu tgl. 25 April 2015.

Artikel ini bercerita tentang kunjungan saya ke pabrik Kopi Aroma Bandung. Sisanya, tentang wisata Pasar Terapung di Lembang, Bandung. Cerita tentang pabrik kopi sebetulnya lebih banyak, namun pihak redaksi membuat judul lebih besar untuk pasar apung. Sebetulnya tidak masalah, hanya saja judul tersebut membuat artikel ini seolah lebih menonjolkan pasar apungnya. Padahal foto-foto tentang kopi dan pabrik kopi lebih banyak, ada 5 foto yang dimuat. Sisanya, 3 foto yang berhubungan dengan pasar apung.

Berikut adalah artikel aslinya sebelum melewati meja editor :D

  

Menikmati Kopi Yang Disimpan 8 Tahun
Oleh : Katerina

Paris Van Java, sebutan cantik inilah yang disematkan bagi Bandung. Ibu kota Provinsi Jawa Barat dan termasuk ke dalam kota Metropolitan keempat terbesar di Indonesia. Kota ini memiliki keragaman tempat wisata yang mampu merespon kebutuhan akan rekreasi. Tak keliru saya menjadikannya sebagai tujuan untuk berakhir pekan bersama keluarga.

Perjalanan saya ke Bandung kali ini untuk menelisik kisah kuliner Kopi Aroma yang telah berdiri sejak masa kolonial, namun tetap berproduksi di tengah merebaknya kopi-kopi modern saat ini, serta mengunjungi Pasar Terapung Lembang, sebuah sarana wisata yang menawarkan wisata terpadu untuk keluarga.
 
Pabrik kopi Aroma di Jl.Banceuy Bandung

Pabrik Kopi Aroma
Sekilas tak ada yang spesial dengan berkunjung ke pabrik Kopi Aroma. Namun, inilah pabrik pembuat kopi legendaris yang namanya begitu populer di kalangan masyarakat Bandung. Kopi dengan cita rasa istimewa, yang diolah dengan cara unik, yaitu dengan proses penyimpanan selama lima sampai delapan tahun sebelum diolah menjadi bubuk kopi.

Saya merasa beruntung diterima langsung oleh Pak Widyapratama, pewaris tunggal pabrik Kopi Aroma. Ia menemani saya tur melihat proses pengolahan biji kopi. Tentu sebuah kesempatan istimewa dapat mendengar langsung penuturan beliau tentang sejarah berdirinya Kopi Aroma, lengkap dengan proses produksi menggunakan peralatan yang terbilang kuno.

Pabrik kopi Aroma berlokasi di Jl. Banceuy No.51 Bandung. Didirikan pada tahun 1930 oleh Tan How Sian, orang tua dari Widyapratama. Pak Widya (sapaan Widyapratama) tak hanya mewarisi pabrik beserta peralatan produksinya, tetapi juga metode dan konsep yang pernah dibuat ayahnya.
 
Biji kopi yang telah disangrai

Proses Pengolahan Biji Kopi
Saat memasuki ruang dalam pabrik, pemandangan ratusan karung menyambut kehadiran saya.  Ada dua macam warna karung, sama-sama berisi biji kopi dari berbagai daerah, namun dibedakan berdasarkan fungsi. Karung berwarna putih untuk menyimpan biji kopi yang masih berwarna kehijauan dan belum menjalani proses penyimpanan. Sedangkan karung goni berwarna coklat berisi biji kopi yang telah berubah menjadi coklat kehitaman karena proses penyimpanan. Berat kopi yang berada dalam karung goni lebih ringan karena telah mengalami penyusutan.

Biji kopi disimpan antara lima sampai delapan tahun. Tujuannya untuk menurunkan kadar asam pada kopi. Inilah rahasia kenapa lambung saya aman ketika mengkonsumsi kopi Aroma. Lama penyimpanan biji kopi untuk membuat kopi Mokka Arabika sekitar lima tahun, dan delapan tahun untuk kopi Robusta. Untuk membuat kopi Mokka Arabika, Kopi Aroma menggunakan biji kopi yang didatangkan dari Aceh, Medan, Toraja, dan Flores. Sedangkan untuk membuat kopi Robusta menggunakan biji kopi dari Lampung, Bengkulu, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Mesin Pengolah Kuno
Mesin dan peralatan pengolah Kopi Aroma kebanyakan sudah tua, jauh dari kesan modern dan canggih. Pabrik ini memiliki dua mesin penggarang, yakni buatan tahun 1930 dan 1936. Telah lebih dari 80 tahun dipergunakan, dan mesin itu masih berfungsi dengan baik. Setia mengolah kopi, bersama sembilan orang pegawai. Ya, hanya 9 saja pegawainya. Dan selalu sejumlah itu, walau orangnya silih berganti.

Sebelum diolah, biji kopi harus dijemur terlebih dahulu di bawah sinar matahari. Tempat penjemuran kopi di bagian belakang pabrik, di antara tumpukan limbah kayu karet yang dijadikan bahan bakar untuk proses penggorengan tanpa minyak (sangrai). "Yang butut itu rumah tinggal saya," ujar Pak Widya sambil menunjuk bangunan di belakang pabrik. Sebuah rumah bersahaja, seperti penampilan sang empunya pabrik.
 

Kesan tua dan kuno tak hanya pada mesin pengolah, tetapi juga pada beberapa barang perabotan lainnya. Kulkas tahun 1930, merk General Electric Made in Usa, masih tegak berdiri di lorong dapur pabrik. Berselimut debu, tak lagi digunakan. Tiga unit sepeda ontel, dipajang di tembok tinggi, dekat atap pabrik. "Dulu ayah saya naik sepeda itu untuk mencari biji kopi," kenang pak Widya. Saya memandangi sepeda-sepeda itu. Membayangkan seorang laki-laki berwajah Tionghoa sedang mengayuh pedal, menyusuri jalanan Bandung tempo doeloe, mencari penjual biji kopi.

Sejenak saya seperti memasuki mesin waktu, kembali ke jaman Belanda yang tidak tahu seperti apa suasana yang sebenarnya saat itu. Hanya dapat merasakan saja, betapa pabrik ini memiliki sejarah yang tentu sangat berarti bagi sang pemiliknya. Pak Widya tentu punya beribu kenangan bersama sang ayah, di jaman ketika negeri ini belum merdeka.

Perabotan jadul berupa wadah terbuat dari bahan aluminium tebal, dijadikan tempat menampung bubuk kopi yang keluar dari mesin penggilingan. Di meja pengemasan, ada stapller tahun 1930-an yang masih berfungsi.  Cukup banyak peralatan tua di pabrik ini. Setelah mesin pengolah, sepeda, kulkas, baskom, stappler, ada pula timbangan dan mesin kasir.

Selama saya dan Pak Widya berkeliling, produksi kopi terus berjalan. Suara kayu bakar dilahap api, berpadu dengan suara mesin penggoreng, juga kipas angin yang terus berputar ke arah tungku. Di ujung tur, saya kembali ke ruang pengemasan yang juga berfungsi sebagai toko. Di sini saya membeli sepuluh bungkus kopi, masing-masing lima bungkus kopi Robusta dan lima bungkus kopi Mokka Arabika. Saya dilayani oleh Ci Nonik, putri sulung Pak Widya.

Saat saya mengakhiri kunjungan, antrian pembeli terlihat memanjang hingga keluar pintu toko. Saya mengucap salam perpisahan pada Pak Widayapratama dan para pegawainya. Dalam langkah yang terus menjauh, segenggam kisah terbawa serta bersama oleh-oleh sekantong kopi, juga senyum tulus dari sosok bersahabat yang sangat bersahaja.
 
Danau alami di Pasar Terapung Lembang

Pasar Terapung Lembang 
Seusai berkunjung ke pabrik Kopi Aroma, saya menuju Lembang, suatu dataran tinggi di Bandung yang terkenal sebagai kawasan objek wisata memesona. Panorama alamnya indah, udaranya pun sejuk. Objek wisata di Lembang yang saat ini paling banyak diminati kalangan keluarga adalah Floating Market Lembang (FML), atau lebih dikenal dengan nama Pasar Terapung.

Berbeda dengan pasar sejenis yang ada di negara Thailand atau Kota Banjarmasin, perahu-perahu yang mengapung di FML tidak berjualan sayur mayur atau kebutuhan sehari-hari, melainkan menjajakan aneka makanan dan jajanan khas Bandung yang siap dinikmati. Di samping itu, ada pula aneka wahana bermain yang bisa memanjakan si kecil dan tak ketinggalan factory outlet khas Kota Bandung.
 


Menempati area seluas 7,2 hektar, FML terasa bagai sebuah perkampungan tradisional yang membuat kita dapat melakukan banyak aktifitas di dalamnya. Dengan membayar tiket masuk seharga Rp 15.000 per orang, pengunjung sudah bisa menikmati keindahan dan panorama obyek wisata ini. Tiket tanda masuk ini bisa ditukar dengan welcome drink berupa minuman dari produk sponsor.

Uniknya, seluruh transaksi di dalam FML menggunakan koin. Sehingga berwisata di FML seperti memiliki mata uang sendiri. Koin yang digunakan mulai dari pecahan Rp 5.000 hingga Rp 100.000. Pengunjung cukup membeli koin secukupnya, dan bisa ditukar dengan makanan, minuman atau permainan pilihan.

Ikon FML berupa pasar terapung terletak di tengah kawasan, di atas danau alami bernama Situ Umar. Ada sekitar 46 perahu berderet menjajakan aneka jajanan kegemaran, terutama jajanan tradisional. Harga makanan dan minuman dibandrol mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 35.000.
 


Pengunjung menikmati kuliner Pasar terapung

Selain menyajikan wisata kuliner, FML juga menyediakan wahana permainan air untuk anak dan dewasa, seperti kereta air, kano, sepeda air, dan paddle boat. Terdapat pula kolam angsa, taman kelinci, kolam ikan, kora-kora, speed car, motor ATV, serta komidi putar. Di salah satu sudut FML, terdapat desa tani, namanya Kampung Leuit. Berbagai sayur dan buah ditanam di desa ini. Ada lemon, markisa, strawberry yang bisa dipetik langsung dengan membayar tiket masuk terlebih dahulu.

Sementara di tepian danau, ada deretan gazebo dengan interior berkonsep yang digunakan untuk tempat duduk dan tempat makan. Ada pula rumah-rumah asli, tua dan kuno yang didatangkan langsung dari Jawa Timur. Selain itu, ada juga rumah rileksasi dengan arsitektur  khas Belanda, Thailand, dan Betawi.
 

Taman Kelinci
 
Kereta air

paddle boat

Suasana yang dihadirkan FML cukup memikat, menyatu dengan keindahan alam sekitar. Sejauh mata memandang hanya kehijauan yang tertangkap oleh kedua bola mata. Dalam sejuknya udara pegunungan, gendang telinga pun dimanjakan alunan seruling dengan irama musik tradisional sunda yang kental.

Floating Market Lembang terletak di Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang Bandung. Lokasinya mudah dijangkau, hanya berjarak sekitar 500 meter dari Pasar Lembang. Dengan iklim cuaca yang sejuk, panorama alam pegunungan yang indah, beragam pilihan tempat wisata menarik, serta banyaknya pilihan tempat menginap, menjadikan Lembang sangat ideal sebagai destinasi wisata untuk keluarga.

(*)

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
26 April 2015 07.54 delete

seruu yaa liputannya.. kereenn dan bikin pingin ke sana..

Reply
avatar
26 April 2015 11.51 delete

Terima kasih, Mbak Ima. Yok ke Bandung! :D

Reply
avatar
26 April 2015 13.42 delete

baru tahu kalau ada pengolahan kopi di bandung yang lumayan Kuno. biasanya kalau kesana pasti wisata alam. :)

Reply
avatar
27 April 2015 07.22 delete

Hihihi...aku juga baru tahu mbak. Ke Bandung biasanya malah wisata belanja :)) Mampir mbak ke pabrik kopi Aroma kalo sedang ke Bandung. Biasanya yg punya ada di tempat dan mau nemenin kita tur :)

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon