Berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, Melihat Gajah-Gajah Sumatera dari Sisi yang Berbeda

Artikel ini saya tulis tepat satu dekade setelah kunjungan pertama saya ke Way Kambas.

Dalam sepuluh tahun itu, saya beberapa kali kembali. Anehnya, tidak pernah ada kunjungan yang terasa sama. Alam rupanya tidak mengenal konsep repeat episode. Ia selalu punya cara menghadirkan cerita baru, berbeda dengan media sosial yang sanggup memutar video lama sampai kita hafal setiap detiknya.

Pengalaman wiisata gajah way kambas 

Kali ini, yang paling membekas justru bukan hanya pertemuan dengan gajah-gajah Sumatera, tetapi juga cerita-cerita yang saya dengar dari para mahout.

Itulah sebabnya, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata Way Kambas pada awal 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang

"Saya justru lega ketika Way Kambas ditutup."

Kalimat itu mungkin terdengar aneh. Bukankah selama ini kita selalu berharap tempat wisata tetap buka, semakin ramai dikunjungi, lalu ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak?

Saya juga berpikir begitu.

Sampai akhirnya saya pulang dari Way Kambas pada September 2025.

Sejak saat itu, linimasa media sosial saya mulai dipenuhi video anak gajah. Ada yang diunggah wisatawan, ada pula yang berasal dari akun-akun promosi perjalanan. Awalnya saya senang. Artinya, semakin banyak orang kenal Way Kambas.

Lama-lama, perasaan itu berubah.

Beberapa video terasa lebih sibuk mengejar reaksi satwa daripada menghargai keberadaannya. Anak gajah dipanggil-panggil supaya menoleh ke kamera. Diajak bercanda. Disoraki ketika melakukan sesuatu yang dianggap lucu. Entah sejak kapan sebagian orang merasa setiap momen di alam harus berubah menjadi konten yang layak masuk FYP.

Puncaknya, saya berhenti menggulir layar ketika melihat seseorang menyodorkan pisang kepada seekor gajah... lengkap dengan tali plastik yang masih melilitnya.

Saya langsung membayangkan hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang yang merekam videonya.

Bagaimana kalau plastik itu ikut termakan?


Sejak melihat video itu, setiap kali muncul konten serupa di linimasa, pikiran saya selalu kembali ke adegan yang sama. Bukan lagi soal lucu atau tidak lucu, melainkan pertanyaan sederhana yang terus mengganggu: apakah kita masih datang ke alam untuk belajar menghargainya, atau justru sibuk menjadikannya latar belakang konten?

Mungkin karena itulah, ketika membaca kabar penutupan sementara kawasan wisata alam BTN Way Kambas pada 15 Januari 2026, reaksi saya berbeda dari kebanyakan orang.

Di saat banyak orang mengeluh karena tidak bisa berkunjung, saya justru berpikir, mungkin ini saatnya Way Kambas bernapas sejenak.

Kalau ingin membaca pengumuman resminya, saya sertakan tautannya di sini: TN Way Kambas Ditutup Sementara Untuk Kegiatan Wisata Alam.

Tentu saja, rasa lega itu murni pandangan pribadi saya. Sama sekali tidak berkaitan dengan alasan resmi penutupan yang disampaikan Balai Taman Nasional Way Kambas.

Menjelang penutupan kawasan wisata, saya juga mengikuti berbagai pemberitaan tentang Way Kambas. Ada yang membahas alih fungsi lahan, ada pula yang menyoroti konflik gajah liar yang menewaskan Kepada Desa Braja Asri. 

Berbagai peristiwa itu memang terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan. Namun saya tidak sedang mencoba merangkai teori konspirasi atau mencari hubungan sebab-akibat di antara semuanya. Zaman sekarang orang memang gemar menyambung titik-titik yang sebenarnya tidak saling terhubung. Kadang dua kejadian yang berdekatan memang... hanya kebetulan terjadi berdekatan.

Bagi saya, penutupan kawasan wisata itu memiliki makna yang lebih sederhana. Saya membayangkannya seperti sebuah rumah yang sesekali perlu ditutup pintunya agar penghuninya bisa beristirahat. Bedanya, penghuni rumah ini bukan manusia yang bisa mengeluh lewat kolom komentar, melainkan satwa liar yang selama ini terus berbagi ruang dengan para pengunjung.

Saya tentu berharap penutupan itu hanya sementara. Saya juga berharap masyarakat sekitar tetap memperoleh manfaat dari pariwisata, karena konservasi dan kesejahteraan masyarakat seharusnya bisa berjalan beriringan, bukan saling mengorbankan.

Hanya saja, di balik semua itu saya merasa ada hikmah yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Mungkin sesekali manusialah yang perlu mundur selangkah, agar alam punya kesempatan menjadi dirinya sendiri.

Dan cerita itu sebenarnya sudah dimulai beberapa bulan sebelumnya.

21 September 2025.

Hari itu Way Kambas masih menerima kunjungan wisatawan. Saya datang bersama suami dan beberapa teman suami. Sebagian besar baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan konservasi ini.

Ada kesenangan yang sulit dijelaskan ketika mengajak seseorang datang ke tempat yang kita sukai. Rasanya seperti memperkenalkan sahabat lama kepada lingkaran pertemanan baru. Dalam hati muncul harapan kecil, "Semoga kalian akur."

Syukurlah, sejak awal antusiasme mereka sudah terlihat. Belum juga turun dari mobil, kepala mereka sibuk menoleh ke kanan dan kiri, seolah takut ada gajah yang tiba-tiba lewat begitu saja. Padahal kami baru sampai. Gajah juga tidak punya kebiasaan menyambut tamu di gerbang sambil mengucapkan, "Selamat datang di Way Kambas."

Seluruh kegiatan wisata hari itu berlangsung di kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas yang kini dikenal sebagai Pusat Konservasi Gajah. Di sinilah sebagian besar aktivitas edukasi dan interaksi pengunjung dengan gajah dilakukan di bawah pendampingan para mahout.

Mungkin karena itulah saya tidak pernah datang dengan target harus bertemu gajah tertentu.

Kalau tujuan kita ke kebun binatang, mungkin masih masuk akal mencari kandang satwa tertentu karena mereka memang tinggal di tempat yang sudah ditentukan. Namun di kawasan konservasi, saya merasa logikanya berbeda. Satwa bukan aktor yang menunggu panggilan syuting, lalu muncul tepat saat kamera mulai merekam.

Yang membuat saya selalu ingin kembali justru ketidakpastian itu. Saya tidak pernah tahu cerita apa yang akan saya bawa pulang. Kadang tentang seekor gajah. Kadang tentang seorang mahout. Kadang malah tentang diri saya sendiri yang pulang dengan cara pandang yang sedikit berubah dibanding saat berangkat.

Belakangan saya melihat fenomena yang cukup mengganggu. Media sosial perlahan membuat satu nama jauh lebih dikenal dibanding gajah-gajah lainnya. Banyak orang datang dengan harapan bertemu gajah yang sedang viral.

Saya bahkan sempat menemukan promosi perjalanan yang kurang lebih berbunyi,

"Kalau tidak ikut trip kami, kamu tidak akan bisa bertemu Gajah Nisa."

Saya membacanya dua kali.

Lalu tiga kali.

Bukan karena kalimatnya sulit dipahami, melainkan karena terdengar seperti sedang menawarkan akses eksklusif bertemu artis, bukan satwa liar di kawasan konservasi.

Bukan berarti saya tidak menyukai Nisa. Justru saya senang seekor gajah bisa membuat semakin banyak orang mengenal Way Kambas. Yang mengganjal adalah kesan bahwa pertemuan dengan gajah tertentu bisa dijanjikan begitu saja. Padahal, di kawasan konservasi tidak ada jadwal tampil. Semua bergantung pada kondisi di lapangan, aktivitas satwa, serta pertimbangan para mahout dan pengelola.

Kalimat itu membuat saya berpikir, jangan-jangan ada orang yang datang dengan ekspektasi terlalu tinggi, lalu pulang kecewa hanya karena tidak bertemu satu gajah yang sedang populer.

Saya sendiri sempat bertanya kepada Pak Mad apakah hari itu Nisa berada di sekitar area pemandian dekat pengunjung.

"Enggak tentu."

Jawabannya sesingkat itu.

Dan justru itulah jawaban yang paling masuk akal.

Kalau bertemu, alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Toh saya datang ke Way Kambas untuk bertemu alam, bukan mengejar daftar hadir selebritas.

Pak Ahmad Rokhani telah lebih dari 30 tahun mengbadi di TN Way Kambas sebagai bagian dari tim pelestari Gajah Sumatera.

Sejak itu, tujuan datang ke Way Kambas rasanya bukan lagi mengejar satu nama, melainkan menunggu kejutan-kejutan kecil yang selalu berbeda di setiap kunjungan.

Banyak orang mengenal Way Kambas sebagai rumah bagi gajah Sumatera. Saya pun pernah berpikir demikian. Wajar saja, karena gajahlah yang paling sering muncul di media sosial, seolah penghuni lain belum memenuhi syarat untuk masuk algoritma.

Padahal, Way Kambas juga menjadi rumah bagi badak Sumatera.

Fakta itu baru benar-benar terasa setelah beberapa kali berkunjung. Di akhir tulisan ini nanti saya akan bercerita tentang pertemuan dengan Mas Bio, putra Pak Mad, yang menjadi salah satu mahout badak di Way Kambas.

Dari beliaulah saya mengetahui bahwa badak juga memiliki mahout yang merawat dan mendampinginya. Selama ini cerita tentang mahout gajah jauh lebih sering terdengar, sementara kehidupan para mahout badak nyaris tak pernah muncul ke permukaan. Mungkin karena badak memang tidak pernah seramai gajah di media sosial. Padahal, peran mereka dalam konservasi sama pentingnya.

Pikiran saya kemudian melayang ke satwa-satwa lain di Lampung. Belum lama ini publik dihebohkan oleh kasus seekor tapir yang dibunuh warga di Mesuji. Peristiwa itu kembali mengingatkan saya bahwa persoalan konservasi tidak pernah sesederhana hitam dan putih.

Mungkin masih ada orang yang benar-benar tidak tahu bahwa tapir merupakan satwa yang dilindungi. Saat bertemu di alam, mereka menganggapnya sama seperti satwa liar lainnya. Namun bisa juga sebaliknya. Mereka sudah tahu, tetapi tetap memilih mengabaikannya. Manusia memang punya bakat luar biasa untuk membenarkan keputusan yang sebenarnya sudah tahu itu keliru.

Apa pun alasannya, kejadian seperti ini membuat saya semakin percaya bahwa konservasi tidak cukup dijaga dengan patroli dan penegakan hukum. Edukasi sama pentingnya. Sebab orang cenderung lebih menghargai sesuatu yang mereka kenal. Sulit berharap seseorang peduli pada satwa yang keberadaannya saja baru mereka sadari setelah menjadi berita.

Saya sempat mengikuti perkembangan kasus ini melalui media sosial dan kanal-kanal berita online, seperti di Kompas.com Polisi Ungkap Keganasan Pelaku Bunuh Tapir di Mesuji Satwa yang Dilindungi Itu 
Sumber: IG @natgeoindonesia
 

Mungkin karena itu, cerita-cerita yang jarang muncul di media sosial justru lebih menarik perhatian saya.

Bukan hanya tentang gajah, tetapi juga badak Sumatera, tapir, maupun satwa lain yang hidup di Way Kambas. Cerita dari para mahout, tim Balai Taman Nasional Way Kambas, peneliti, atau siapa pun yang sehari-hari bekerja di lapangan sering kali membuka sudut pandang yang tidak sempat tertangkap dalam video berdurasi tiga puluh detik.

Mengabadikan perjalanan lalu membagikannya di media sosial tentu tidak ada salahnya. Saya pun melakukannya. Akan tetapi, akan lebih menyenangkan jika semakin banyak konten yang bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga meninggalkan pengetahuan.

Konten yang paling saya nikmati justru yang membiarkan satwa tetap menjadi dirinya sendiri, lalu melengkapinya dengan cerita dan informasi yang membantu kita memahami kehidupan mereka di alam. 

Pak Ahmad Rokhani (pakai baju kaos biru)
 

Cerita hari itu dimulai tepat pukul 12.05 WIB.

Sesampainya di kawasan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, saya langsung melihat sosok yang tidak asing lagi: Pak Achmad Rokhani, atau yang lebih akrab dipanggil Pak Mad.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun beliau menjadi mahout. Kalau pengalaman bisa diwariskan lewat tatapan mata, mungkin Pak Mad sudah tidak perlu banyak bercerita lagi.

Begitu kami turun dari mobil, beliau langsung menyambut dengan senyum.

"Mau langsung keliling, atau lihat-lihat dulu?"

Belum sempat ada yang menjawab, teman-teman saya serempak menjawab,

"Salat Zuhur dulu ya, Pak."

Saya hanya tersenyum.

Toh gajah tidak sedang mengejar jadwal rapat. Mereka tidak akan protes hanya karena kami berhenti salat beberapa menit. Jadi tidak ada alasan untuk terburu-buru.

Musala di kawasan Pusat Latihan Gajah cukup besar. Air wudhunya melimpah, jernih, dan terasa sangat segar setelah perjalanan panjang dari Gisting menuju Lampung Timur yang sejak pagi ditemani hujan. Membasuh wajah dengan air dingin saat itu rasanya seperti menekan tombol refresh setelah berjam-jam berada di jalan.

Meski begitu, ada beberapa hal yang masih bisa ditingkatkan. Area di dalam maupun sekitar musala terlihat agak berdebu, sementara beberapa sudut tempat wudhu mulai ditumbuhi lumut.

Yang paling mengganggu justru aroma pesing dari toilet. Bahkan sebelum benar-benar mendekat, hidung kami sudah lebih dulu menerima sambutannya.

Toilet dan tempat wudhu

Fasilitas umum memang akan jauh lebih nyaman kalau sama-sama dijaga. Air di sini melimpah. Rasanya tidak sulit menyiram toilet hingga benar-benar bersih sebelum keluar.

Hal seperti itu mungkin terdengar sepele. Padahal, perbedaan antara toilet yang nyaman dan yang membuat orang buru-buru keluar sering kali hanya soal lima detik tambahan untuk menekan tombol flush.

Selesai salat, sempat muncul diskusi kecil.

"Makan dulu apa nanti?"

Perut sebenarnya sudah mulai mengajukan protes halus. Jam makan siang bahkan sudah lewat. Namun, rasa penasaran bertemu gajah rupanya jauh lebih keras suaranya daripada bunyi perut kami.

Akhirnya kami sepakat menunda makan siang.

Keputusan yang belakangan sama sekali tidak kami sesali. Lagi pula, kalau lapar masih bisa ditunda sebentar. Kesempatan bertemu gajah belum tentu datang dua kali di hari yang sama.

Musola


Keliling Way Kambas Naik Shuttle, Cara Menjelajahi Pusat Latihan Gajah

Pak Mad kemudian mengajak kami menuju area kendaraan wisata. Di sanalah beliau menjelaskan bahwa kendaraan pribadi tidak diperbolehkan masuk ke kawasan inti taman nasional. Semua pengunjung harus memarkir kendaraannya di area yang telah disediakan, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan wisata.

Awalnya saya hanya mengangguk mendengar penjelasan itu. Namun semakin dipikirkan, aturan tersebut memang masuk akal. Jalan di dalam kawasan menjadi lebih tertib, suara mesin kendaraan tidak saling bersahutan, dan suasana tetap tenang.

Bagaimanapun juga, kami sedang berkunjung ke rumah mereka. Rasanya kurang sopan kalau tamu datang membawa keramaian, lalu berharap tuan rumah tetap merasa nyaman.

Saat itu tersedia dua pilihan transportasi. Shuttle bus berkapasitas sekitar sepuluh penumpang dengan tarif Rp20.000 per orang, atau jeep adventure seharga Rp400.000 yang dapat dinaiki maksimal tiga orang.

Karena rombongan kami berjumlah delapan orang, shuttle jelas menjadi pilihan paling praktis. Lagi pula, perjalanan seperti ini memang lebih seru kalau bisa dinikmati bersama. Toh tidak setiap hari kami punya kesempatan duduk satu kendaraan sambil berharap ada gajah yang tiba-tiba muncul di balik pepohonan. 

Video naik shuttle keliling Pusat Latihan Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas dapat ditonton pada Reels berikut ini:

Kendaraan yang kami gunakan ternyata bukan odong-odong seperti yang sering saya lihat di media sosial, melainkan mobil pickup yang telah dimodifikasi. Bagian belakangnya dipasangi bangku lengkap dengan atap, sehingga perjalanan tetap nyaman meski harus melewati jalan tanah dan padang rumput.

Begitu kendaraan mulai bergerak, angin langsung menerpa dari sisi kanan dan kiri yang terbuka. Sesekali roda menghantam jalan yang bergelombang hingga kami spontan berpegangan pada sandaran bangku. Tidak ada yang mengeluh. Justru guncangan kecil itulah yang membuat perjalanan terasa lebih nyata. Rasanya seperti diingatkan bahwa kami sedang melintasi kawasan konservasi, bukan jalan tol.

Pak Mad ikut duduk bersama kami. Kehadiran beliau membuat perjalanan ini terasa lebih dari sekadar berkeliling. Hampir setiap sudut kawasan memiliki cerita, dan hampir setiap cerita selalu berakhir pada nama seekor gajah atau pengalaman beliau selama menjadi mahout.

Sebelum kendaraan benar-benar melaju, saya memastikan empat sisir pisang yang kami beli dari ibu-ibu di dekat pintu masuk sudah ikut terbawa.

"Jangan sampai ketinggalan," celetuk salah seorang teman.

Kami pun tertawa.

Hari itu, empat sisir pisang yang kami bawa ternyata menjadi "tiket perkenalan" dengan para gajah. Murah juga, pikir saya. Tidak sampai seratus ribu rupiah, tapi bisa membuka percakapan dengan penghuni paling besar di Way Kambas.

Jalur shuttle bus di kandang gajah

Rezeki yang Datang dalam Bentuk Langit Cerah

Kalau ada satu hal yang paling saya syukuri siang itu, jawabannya adalah cuaca.

Sepanjang perjalanan menuju Way Kambas, hujan nyaris tidak berhenti. Dari Gisting hingga memasuki Lampung Timur, langit terus diselimuti awan kelabu. Berkali-kali saya membayangkan bagaimana kalau nanti kami harus berkeliling di bawah hujan deras. Bukan tidak bisa, hanya saja suasananya tentu akan berbeda. Lagi pula, memotret gajah sambil sibuk menyelamatkan kamera dari hujan bukanlah kombinasi yang terlalu menyenangkan.

Namun, Allah rupanya menyiapkan kejutan yang jauh lebih indah.

Sesaat setelah kendaraan memasuki kawasan konservasi, langit perlahan mulai membuka. Matahari muncul tanpa terasa menyengat. Cahayanya memantul di dedaunan yang masih basah oleh hujan, membuat hijaunya pepohonan terlihat semakin hidup.

Kadang rezeki memang datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Cukup langit yang tiba-tiba cerah pada waktu yang tepat, lalu seluruh perjalanan terasa berbeda. 

Sesaat setelah memasuki kawasan PKG. Langit mulai membuka setelah hujan menemani perjalanan sejak pagi.

Saya sempat mendongak beberapa detik. Hujan yang sejak pagi menemani perjalanan rupanya berhenti tepat ketika shuttle mulai bergerak. Langit belum sepenuhnya cerah, tetapi itu sudah lebih dari cukup.

Shuttle terus melaju melewati padang rumput, kolam pemandian gajah, kandang gajah, rumah sakit gajah, hingga jalur yang menurut Pak Mad kerap dilintasi gajah liar. Delapan pasang mata di dalam kendaraan nyaris tidak berhenti melihat ke kanan dan kiri. Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, semuanya terasa baru. Saya sendiri justru menikmati melihat mereka sesekali menunjuk ke luar jendela, seolah takut ada satu pemandangan yang terlewat.

Semakin jauh shuttle melaju, semakin sedikit suara yang terdengar selain embusan angin dan sesekali kicau burung.

Tidak ada musik yang memekakkan telinga. Tidak ada deretan kios. Tidak ada keramaian yang biasanya identik dengan tempat wisata. Alam dibiarkan tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin itulah yang membuat suasana Way Kambas selalu terasa berbeda.

Sudah masuk ke kawasan PLG. Foto ini diambil di sekitar kolam pemandian gajah yang berada di area kandang gajah. Cuaca benar-benar berubah. Hujan telah berhenti, langit biru mulai terbuka, dihiasi awan-awan putih.

Fitria, Gajah Pertama yang Menyambut Kami

Shuttle baru saja memasuki area kandang gajah ketika Pak Mad tiba-tiba menunjuk ke arah padang rumput.

"Itu dia..."

Delapan kepala di dalam kendaraan langsung menoleh ke arah yang sama.

Seekor gajah betina berjalan pelan mendekati shuttle. Langkahnya tenang, seolah sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini biasanya datang membawa sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar wisatawan.

"Namanya Yulia," kata Pak Mad.

Belum sampai kami mengingat nama itu, beliau langsung tersenyum lalu mengoreksi ucapannya.

"Eh, bukan. Fitria."

Kata Pak Mad, wajah Fitria dan Yulia memang mirip. Bahkan beliau yang sudah puluhan tahun menjadi mahout pun kadang masih tertukar menyebut namanya.

Saya jadi berpikir, ternyata bukan cuma manusia yang pernah salah menyebut nama. Bedanya, kalau kita salah memanggil teman biasanya cukup dibalas tatapan heran. Kalau salah memanggil gajah, untungnya mereka tidak ikut protes.

Saya tidak tahu apakah Fitria mengenali suara shuttle atau memang sudah hafal bahwa kendaraan seperti ini sering membawa pengunjung yang ingin memberinya makan. Yang jelas, begitu jarak kami semakin dekat, belalainya mulai bergerak ke sana kemari, seperti sedang mencari aroma pisang.

Suasana di dalam shuttle langsung berubah riuh.

Enam dari delapan orang dalam rombongan kami baru pertama kali melihat gajah Sumatera dari jarak sedekat ini. Wajah mereka bergantian antara kagum, penasaran, dan sedikit gugup.

Awalnya hanya satu orang yang berani menyodorkan pisang. Setelah melihat semuanya aman, yang lain ikut mendekat. Dalam hitungan detik, semua ingin mendapat giliran.

Lucu juga melihat perubahan suasana di dalam shuttle. Orang-orang dewasa yang sejak tadi duduk tenang, mendadak sibuk menyodorkan pisang sambil berharap belalai Fitria lebih dulu menghampiri tangannya. 

Rasanya tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang berebut ingin mengelus kucing tetangga. Bedanya, yang berdiri di depan kami kali ini berbobot beberapa ton.

Selama berinteraksi dengan Fitria, kami tetap berada di dalam shuttle. Hanya Pak Mad yang turun untuk mengarahkan sekaligus mengawasi dari sisi belakang tubuh Fitria hingga belalainya dapat menjangkau tangan-tangan kami yang menyodorkan pisang.

Empat sisir pisang yang kami bawa perlahan mulai berkurang. Untungnya kami tidak langsung menghabiskannya untuk Fitria. Perjalanan masih berlanjut, dan Pak Mad sudah memberi isyarat bahwa kemungkinan masih ada gajah lain yang akan kami temui di sepanjang rute shuttle.


Di sela-sela suasana yang ramai itu, Pak Mad bercerita bahwa pisang yang dijual ibu-ibu di sekitar pintu masuk bukanlah pisang sembarangan. Para pedagang telah diberikan edukasi agar buah yang dijual untuk pakan gajah tidak dipercepat matang menggunakan karbit atau bahan kimia lain yang berpotensi membahayakan satwa.

Saya senang mendengar penjelasan itu.

Informasi sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi menurut saya penting diketahui pengunjung. Kadang kita begitu bersemangat ingin memberi makan satwa, sampai lupa bahwa makanan yang kita berikan juga harus aman bagi mereka. 


Kalau suatu hari Way Kambas kembali dibuka untuk umum, saya tetap menyarankan membeli pisang dari warga sekitar. Selain membantu perekonomian masyarakat, kita juga ikut memastikan pakan yang diberikan kepada gajah memang sudah sesuai dengan arahan pengelola.

Melihat Fitria menikmati pisang-pisang itu, saya jadi berpikir, mungkin kebahagiaan memang sesederhana melihat makhluk lain merasa kenyang. 

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja

Shuttle kembali melaju. Setelah melewati kandang gajah, kawasan hutan, dan jalur yang menurut Pak Mad sering dilintasi gajah liar, kami sampai di depan Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja.

Bangunan itu sudah tidak asing bagi saya. Pada kunjungan sebelumnya saya bahkan pernah masuk ke dalam area rumah sakit. Kali ini kami hanya melihat-lihat dari luar karena perjalanan masih harus dilanjutkan.

Sambil menunjuk ke arah bangunan, Pak Mad bercerita kalau beliau juga sering diperbantukan di rumah sakit tersebut, terutama saat ada gajah yang sedang sakit.

"Kalau ada yang sakit, ya ikut bantu di sana," kata beliau.

Meski berada di tengah kawasan hutan, rumah sakit gajah ini menjadi tempat penanganan gajah yang sakit sekaligus mendukung upaya menjaga kesehatan gajah-gajah di Way Kambas.

Beliau lalu bercerita bahwa kesehatan gajah dipantau secara berkala. Berat badannya ditimbang, kondisi fisiknya diperiksa, dan bila diperlukan akan menjalani penanganan lebih lanjut oleh dokter hewan.

Mendengar cerita itu saya kembali diingatkan bahwa menjadi mahout ternyata bukan hanya menemani gajah berjalan atau memberi makan. Ketika ada gajah yang sakit, mereka juga ikut mendampingi proses perawatannya.

Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. M. Rubini Atmawidjaja memang menjadi pusat perawatan gajah Sumatera di Way Kambas. Selain menangani gajah yang sakit atau terluka, tempat ini juga digunakan untuk memantau kesehatan gajah-gajah yang berada di kawasan konservasi.

Kami tidak turun untuk berkeliling. Shuttle hanya berhenti sebentar sehingga kami melihat-lihat bangunannya dari luar, sempat berfoto beberapa menit, lalu perjalanan kembali dilanjutkan.

Sepanjang perjalanan itu masih banyak hal yang kami lewati. Ada bak mandi raksasa yang biasa digunakan gajah untuk mandi sekaligus tempat mereka minum. Kami juga melintasi jalur yang, menurut Pak Mad, kerap dilalui gajah liar ketika berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sesaat kemudian shuttle melaju pelan di atas sebuah jembatan sempit yang lebarnya nyaris pas dengan badan kendaraan. Di bawahnya mengalir sungai yang siang itu sedang mengering.

Bagi teman-teman yang baru pertama kali datang, hampir setiap sudut kawasan memancing rasa penasaran. Sementara Pak Mad tidak pernah kehabisan cerita. Mulai dari kebiasaan gajah, kehidupan para mahout, hingga bagaimana kawasan ini dikelola sebagai habitat sekaligus tempat konservasi gajah Sumatera. 

 
Mungkin inilah yang membedakan pengalaman berkeliling di Way Kambas dengan konsep wisata minat khusus. Yang dibawa pulang bukan hanya foto bersama gajah, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan cara pandang baru tentang kehidupan satwa yang selama ini hanya kami lihat dari kejauhan.  

Bertemu Gajah Verdy di Way Kambas, Si Gagah yang Murah Senyum

Perjalanan kami bersama shuttle akhirnya selesai. Namun, perjumpaan dengan gajah-gajah Way Kambas rupanya belum berakhir.

Selain Fitria, kami juga melihat beberapa gajah lainnya. Ada Roy, Mbah Kartijah yang merupakan neneknya si gajah "seleb" Nisa, serta beberapa gajah lain yang namanya tidak sempat disebutkan oleh Pak Mad. Siang itu kami juga bertemu Verdy dan Yulia. Keduanya berada di kandang yang letaknya tidak jauh dari area depan Pusat Latihan Gajah. 

Gajah Verdy

 
Kawasan ini memang menjadi pusat aktivitas wisata di Pusat Latihan Gajah. Di sekitarnya terdapat area kuliner, musala, toilet, visitor center, wisma tamu, hingga kolam alami tempat gajah dimandikan.

Pengunjung diperbolehkan masuk ke area kandang, tetapi hanya sampai batas yang telah ditentukan. Selebihnya menjadi ruang bagi gajah dan para mahout. Menurut saya, aturan seperti ini memang sudah semestinya ada. Gajah tetap merasa nyaman di ruangnya, sementara pengunjung pun bisa berinteraksi dengan aman.

Di dalam kandang terdapat sebuah kolam berukuran cukup besar. Pada jam-jam tertentu, gajah akan dimandikan di sana. Momen inilah yang biasanya paling ditunggu pengunjung karena bisa melihat aktivitas gajah dari dekat, tentu saja dengan pendampingan para mahout.

Kalau membayangkan kandang gajah sebagai bangunan tertutup, saya juga sempat berpikir begitu dulu.

Padahal kandang di sini justru terbuka. Tanpa dinding. Tanpa atap. Lantainya hamparan rumput. Atapnya langit.

Yang menjadi penanda hanyalah patok-patok semen tempat rantai dipasang sebagai pengaman. Rantainya cukup panjang dan kendor sehingga gajah masih leluasa bergerak di sekitar kandangnya.

Hamparan padang rumput ini merupakan area kandang gajah di Pusat Konservasi Gajah Way Kambas. Di latar belakang tampak patok-patok semen tempat rantai gajah dipasang. Pengunjung hanya diperbolehkan berada di area yang telah ditentukan, sementara bagian lainnya dibatasi.
 

Pak Mad kemudian bercerita tentang seekor gajah bernama Karmila yang terkenal suka "kabur". Bukan kabur jauh meninggalkan kawasan, melainkan sekadar melepaskan diri lalu berjalan-jalan di sekitar kandang. Yang lebih lucu lagi, kata Pak Mad, Karmila kadang mengajak gajah lain ikut kabur bersamanya.

Saya spontan tertawa membayangkannya.

"Nah, kalau yang ini Verdy," ujar Pak Mad.

Seekor gajah jantan berdiri tegap di hadapan kami. Salah seorang teman langsung berkomentar,

"Wah, ganteng juga ya."

Saya spontan tertawa.

Rasanya baru kali itu saya mendengar seseorang memuji ketampanan seekor gajah dengan begitu serius.

Mahout yang mendampingi Verdy ternyata tak kalah menghibur. Saat kami bertanya namanya, ia menjawab singkat,

"Michael."

Kami sempat saling berpandangan. Beberapa detik kemudian ia menambahkan sambil tertawa,

"Michael... Rohman."

"Ya biar keren," katanya lagi.

Obrolan sederhana itu langsung mencairkan suasana.

Selama berinteraksi dengan Gajah Verdy, kami didampingi oleh Mahout "Michael" Rahman. Interaksi kami sebatas menyapa dan memegang bagian belalai/gading/telinga saja (seizin mahout), tanpa berlama-lama. Pemberian makan pun di bawah pengawasan mahout. 

Saya memang suka momen-momen seperti ini. Rasanya perjalanan menjadi lebih hangat karena kami tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga mengenal orang-orang yang setiap hari hidup dan bekerja bersama mereka. 

Ternyata Setiap Gajah Punya Wajah Berbeda

Di sela-sela obrolan, saya mengaku kepada Pak Mad kalau saya masih kesulitan membedakan satu gajah dengan gajah lainnya.

Buat saya, semuanya sama-sama menggemaskan.

Pak Mad kemudian menjelaskan bagaimana para mahout mengenali masing-masing gajah. Bukan dari besar kecil tubuhnya, melainkan dari bentuk wajah, posisi mata, lekuk dahi, bentuk belalai, hingga proporsi gadingnya. Setelah puluhan tahun mendampingi mereka, para mahout bahkan bisa mengenali perubahan kecil hanya dari cara seekor gajah berjalan atau ekspresi wajahnya.

Mendengar penjelasan itu, saya jadi paham mengapa hubungan antara mahout dan gajah terasa begitu dekat.

Mereka bukan sekadar bekerja bersama. Mereka tumbuh bersama. Saling mengenal. Dan saling menjaga.

Gajah jantan mungkin lebih mudah untuk dibedakan jika dilihat dari bentuk gadingnya. Kalau muka, keliatannya sama semua 😂 [Dokumentasi pribadi 2016)
 

Pak Mad lalu bercerita bahwa di kawasan konservasi ini terdapat sekitar 30 gajah jinak yang dirawat, ditambah sekitar 34 gajah patroli yang membantu menjaga kawasan Taman Nasional Way Kambas. Masing-masing memiliki nama, karakter, dan kisah hidupnya sendiri.

Bayi-bayi gajah tentu lebih mudah dikenali. Misalnya Jeremy yang saat itu baru berusia sekitar satu bulan, atau Nisa yang belakangan lebih sering muncul di media sosial. Namun bagi para mahout, membedakan gajah dewasa juga bukan hal yang sulit. Mereka tidak hanya hafal namanya, tetapi juga mengenali sifat masing-masing.

Hal itu terasa ketika saya memperhatikan cara para mahout berkomunikasi dengan gajahnya. Mahout Rizal berbicara lebih lembut kepada Yulia yang saat itu sedang mengandung. Sementara Mahout Rohman terdengar lebih tegas saat memanggil Verdy. Cara mereka berbicara berbeda, seolah masing-masing sudah tahu bahasa yang paling dipahami oleh gajah yang setiap hari mereka dampingi.

Melihat itu, saya jadi mengerti mengapa Pak Mad sejak awal berkali-kali mengatakan bahwa setiap gajah memiliki karakter yang berbeda. Dari luar mungkin sama-sama tampak seperti gajah Sumatera. Namun bagi para mahout, mereka adalah individu-individu yang sudah sangat akrab, masing-masing dengan kebiasaan dan sifatnya sendiri.

Ada yang bisa membedakan dua gajah di foto ini? [Dokumentasi pribadi 2016)
 

Disemprot Gajah Yulia di Way Kambas, Momen Kocar-Kacir yang Selalu Saya Ingat

Kalau ada satu momen yang paling sering kami ceritakan sepulang dari Way Kambas, jawabannya pasti saat bertemu Gajah Yulia.

Saat itu kami berdiri di dekat Yulia sambil mendengarkan Mahout Rizal bercerita. Sesekali beliau mengajak Yulia berbicara dengan nada pelan. Yulia pun berdiri tenang, seolah benar-benar menyimak.

Tidak ada yang terlihat mencurigakan.

Sampai saya melihat Pak Mad dan Mahout Rizal saling bertukar pandang.

Lalu...

Byur!

Semburan air dari belalai Yulia meluncur tepat ke arah kami.


Suasana di dekat bak air yang tadi tenang seketika berubah ricuh. Ada yang refleks menunduk, ada yang berteriak sambil tertawa, ada pula yang sudah pasrah karena bajunya telanjur basah.

Saya sendiri tidak sempat menghindar. Begitu airnya mengenai badan, yang keluar malah tawa.

Rupanya sejak tadi Pak Mad dan Mahout Rizal sudah bersekongkol. Kami baru menyadarinya setelah semuanya berakhir.

Anehnya, tidak ada yang protes. Justru semburan air dari belalai Yulia itulah yang paling sering muncul setiap kali kami mengenang perjalanan ke Way Kambas.

Foto-foto memang memenuhi galeri ponsel. Namun, kalau ditanya kenangan yang paling melekat, bukan foto yang pertama kali muncul di kepala saya, melainkan suara, "Byur!"

Video disemprot Gajah Yulia dapat ditonton pada Short berikut: 

Sebelum meninggalkan kandang, saya melambaikan tangan ke arah Verdy dan Yulia sambil berkata, "Dadah..."

Entah karena kebetulan atau memang mengikuti arahan mahout, keduanya mengangkat belalai hampir bersamaan. 

Pemandangan sederhana itu terasa begitu hangat. Rasanya seperti benar-benar sedang berpamitan.

Beberapa bulan setelah perjalanan ini, tepatnya pada tanggal 4 Desember 2025, saya membaca kabar bahwa Yulia telah melahirkan anak pertamanya, seekor gajah betina yang diberi nama Heti. Saya langsung teringat siang itu, ketika Yulia membuat kami semua basah kuyup sambil tertawa.

Selamat ya, Yulia.

Semoga Heti tumbuh sehat dan kelak menjadi bagian dari harapan baru bagi kelestarian gajah Sumatera di Way Kambas.

Gajah Yulia sedang mengandung anak pertama. Pada tahun 2025 usianya 12 tahun.

Peresmian nama Heti anak gajah Yulia dilaksanakan pada 9 Desember 2025. 

Nama Heti merupakan pemberian Kapolres Lampung Timur AKBP Heti Patmawati, SH., S.I.K., M.M. Video acara peresemian nama Gajah Heti dapat ditonton pada Reels @btn_waykambas berikut ini:


 

Visitor Center Way Kambas dan Kerangka Gajah yang Menyimpan Banyak Cerita

Begitu melangkah masuk ke Visitor Center, mata saya langsung tertuju ke sisi kiri ruangan.

Di sana berdiri sebuah kerangka gajah berukuran besar. Sulit untuk tidak memperhatikannya. Bahkan sebelum sempat melihat-lihat isi ruangan yang lain, Pak Mad sudah lebih dulu berjalan ke arahnya.

"Nah, ini..." katanya sambil menunjuk kerangka tersebut.

Visitor Center menyimpan banyak cerita tentang Way Kambas. Di dalamnya terdapat panel informasi, foto dokumentasi, koleksi konservasi, hingga ruang audiovisual yang memperkenalkan gajah Sumatera, badak Sumatera, dan berbagai satwa liar lainnya.

Namun siang itu, perhatian kami sudah lebih dulu berhenti di depan kerangka gajah tersebut.

Pak Ahmad Sakhroni dan kerangka gajah dari gajah yang mati di usia 18 tahun

Pak Mad bercerita bahwa kerangka itu berasal dari seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit. Kini kerangka tersebut dimanfaatkan sebagai media edukasi agar pengunjung dapat mengenal anatomi gajah sekaligus belajar lebih banyak tentang konservasi.

Lalu Pak Mad menambahkan satu cerita yang tidak saya duga.

Beliau ternyata menjadi salah satu orang yang ikut menyusun kerangka gajah itu hingga berdiri seperti sekarang.

Proses penyusunannya dikerjakan bersama Pak Nazzarudin, Catur Marsudi, Alfian Efendi, serta tiga orang yang didatangkan dari Bali, yaitu Pak Aan, Saiful, dan Ansori.

Saya mencoba membayangkan bagaimana tulang-tulang sebesar itu dipindahkan, disusun satu per satu, lalu dirangkai hingga akhirnya berdiri tegak di dalam ruangan ini. Rupanya, bahkan setelah seekor gajah mati, masih ada banyak tangan yang bekerja agar kisahnya tetap bisa diceritakan kepada para pengunjung.

Sejak mendengar cerita Pak Mad, kerangka tersebut tidak lagi terlihat seperti sekadar pajangan. Ia menjadi pengingat bahwa konservasi tidak selalu berlangsung di tengah hutan. Kadang, ia juga hadir dalam bentuk ruang belajar seperti Visitor Center ini.

Sebelum keluar ruangan, saya sempat menoleh sekali lagi ke arah kerangka itu.

Beberapa menit sebelumnya, yang saya lihat hanyalah susunan tulang seekor gajah.

Kini saya tahu, di baliknya ada cerita tentang seekor gajah, tentang orang-orang yang merangkainya, dan tentang upaya membuat kisah itu terus hidup bagi siapa pun yang datang berkunjung.

 

Makan Siang Sebelum Berpisah

Keluar dari Visitor Center, kami akhirnya menyerah pada rasa lapar yang sejak tadi ditunda. Area kuliner di depan Pusat Konservasi Gajah siang itu cukup ramai. Teman-teman langsung mencari tempat duduk. Ada yang memesan pecel lele, pecel ayam, mie ayam, lengkap dengan es kelapa muda untuk melepas dahaga setelah berkeliling sejak siang.

Lucu juga. Sejak tadi kami sibuk memperhatikan gajah makan pisang. Sekarang giliran kami yang sibuk menentukan mau makan apa.

Saya dan suami memilih duduk semeja dengan Pak Mad dan Mas Bio, sementara teman-teman yang lain mengobrol di meja sebelah. Topiknya ternyata belum berubah. Dari gajah, obrolan bergeser ke badak Sumatera ketika Mas Bio mulai bercerita tentang kesehariannya mendampingi satwa yang jauh lebih jarang ditemui pengunjung.

Saya lebih banyak mendengarkan. Sesekali ikut bertanya ketika ada bagian yang membuat penasaran. Makan siangnya sederhana. Justru cerita-cerita di meja itulah yang membuat kami betah berlama-lama sebelum akhirnya benar-benar berpamitan.

Pak Mad pelestari gajah dan putranya Mas Bio tim pelestari badak


Tak Terasa Waktu Terus Berjalan

Tak terasa waktu terus berjalan. Kami harus segera berpamitan karena perjalanan masih panjang. Tiket kapal menuju Bakauheni sudah dipesan dan kami tidak boleh terlambat. Setelah berfoto bersama, kami pun masuk ke mobil dan perlahan meninggalkan Way Kambas.

Di tengah perjalanan menuju Bakauheni, obrolan kami masih sesekali kembali ke Way Kambas. Kadang tentang Fitria, kadang mengingat semburan air Yulia yang membuat kami basah kuyup, lalu berpindah ke cerita-cerita Pak Mad yang sejak siang terus terngiang di kepala.

Di antara semua cerita itu, ada satu yang terus teringat: seekor gajah berusia 18 tahun yang mati karena sakit, lalu kerangkanya kini berdiri di Visitor Center sebagai media edukasi. Rasanya aneh juga. Seekor gajah yang sudah tiada ternyata masih terus "bercerita" kepada orang-orang yang datang berkunjung.

Perjalanan hari itu memang dipenuhi pertemuan dengan Fitria, Verdy, Yulia, dan gajah-gajah lainnya. Namun, yang ikut pulang bersama kami bukan hanya foto-foto di ponsel, melainkan juga cerita-cerita dari para mahout dan orang-orang yang setiap hari menjaga satwa-satwa langka di Way Kambas. 

Gajah Yekti. Gajah rescue yang terperosok di lubang. Menurut kabar yang saya dapat pada 2025, anak gajah ini sudah lama tiada (mati). Dokumentasi 2018 ini jadi saksi bahwa yang pernah dijumpai, belum tentu dapat ditemui lagi.
 

Way Kambas Hari Ini

Kini, saat tulisan ini diterbitkan, Way Kambas mulai kembali menerima kunjungan wisatawan. Namun konsepnya berbeda. Kawasan ini dibuka secara terbatas sebagai wisata minat khusus yang lebih menekankan pengalaman konservasi dibanding wisata massal.

Membaca konsep tersebut, saya langsung teringat pada pengalaman beberapa tahun lalu ketika mengikuti kegiatan di Camp ERU Margahayu, sebuah camp yang menjadi basis Elephant Response Unit (ERU) di Taman Nasional Way Kambas.

Di sana saya tidak hanya bertemu gajah, tetapi juga melihat bagaimana para mahout dan tim konservasi menjalani keseharian mereka: mendampingi gajah patroli, menjaga kawasan, hingga hidup berdampingan dengan satwa liar. Saya bahkan pernah ikut memandikan gajah dan menyusuri kawasan konservasi bersama mereka. Dua pengalaman itu saya tulis lebih lengkap dalam artikel berikut.

- Lipur Hati di Lampung Timur
- Memandikan Gajah di Camp Eru Margahayu

Pengalaman itulah yang membuat saya tertarik dengan arah baru wisata Way Kambas. Bukan semata karena ingin melihat satwa, melainkan karena ingin mengenal kawasan konservasi ini lebih dekat melalui orang-orang yang menjaganya dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

 

Selama ini, kalau ingin mengikuti cerita-cerita dari Way Kambas, saya biasanya mampir ke akun Instagram @btn_waykambas

Dari sanalah saya mengenal lebih banyak penghuni taman nasional ini. Bukan hanya gajah-gajah Sumatera, tetapi juga Badak Mirah, Delilah, Andatu, serta satwa liar lain yang memang jarang dijumpai pengunjung.

Tidak semua orang punya kesempatan sering datang ke Way Kambas. Untungnya, cerita dari kawasan ini tidak berhenti ketika kita pulang. Lewat akun-akun resmi seperti itu, kita tetap bisa mengikuti keseharian para satwa, belajar tentang konservasi, dan melihat banyak hal yang mungkin luput saat berkunjung langsung.

Barangkali itulah yang membuat saya belum pernah benar-benar selesai mengenal Way Kambas. Setiap kali satu cerita berakhir, selalu ada cerita lain yang membuat saya ingin kembali.

Di akhir tulisan ini, saya bagikan video kegiatan wisata minat khusus di Way Kambas saat ini. Semoga bisa memberi sedikit gambaran tentang bagaimana wisata dan konservasi berjalan berdampingan di sana.

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat, menginspirasi, dan sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya.

Travel blogger dan content creator sejak 2012. Menulis pengalaman, ulasan, dan cerita seputar travel, kuliner, teknologi, serta gaya hidup dari sudut pandang sehari-hari.

Share this

Previous
Next Post »

25 komentar

  1. Saya pun merasakan hal yang sama ketika konten gajah sempat viral beberapa waktu lalu. Bukan karena iri dengki karena tak bisa kesana. Tapi lebih ke.. khawatir saja.
    Sebab, orang-orang kita ini kan punya kecenderungan FOMO ya. Liat yang viral dikit, langsung rasanya pengen nyusul kesana. Masalahnya ya, gak semua yang datang itu datang dengan kesadaran. beberapa hanya demi aktualisasi semata, dan secercah postingan belaka.
    Semoga dengan ditutup sementaranya way kambas beberapa waktu lalu, bisa jadi bahan evaluasi positif dalam operasional wisata ini ke depannya ya.

    Viral boleh. Tapi niat untuk edukasi dan konservasi, harus tetap jadi yang utama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga merasakan hal yang sama dengan Fajar. Viral sebenarnya bisa menjadi pintu masuk agar lebih banyak orang mengenal Way Kambas. Yang penting, semoga rasa penasaran itu diikuti dengan kesadaran untuk menghormati satwa dan kawasan konservasi. Dengan begitu, upaya edukasi dan konservasi yang selama ini dilakukan oleh para pengelola Way Kambas juga bisa semakin didukung oleh para pengunjung. 😊

      Hapus
  2. Aku tuh selalu takjub sama Mahout mbak. Semacam babysitternya gajah kan ya..

    Yang bikin aku ngerasa agak was², meski belum ke sana tuh, kadang mikir gimana ya si gajah ini berinteraksi sama para tamu pas kondisinya lagi rame. Entah jadi bayangin diri sendiri, yang sering burnout kalau ketemu banyak orang. 🥲

    Dan aku juga baru tahu, gajah tuh atau hewan lain, setidaknya punya karakter psikologi yang mirip sama manusia. Kayak si Karmila yang doyan kabur. Which is aku mengartikan kalau mereka juga butuh hiburan. 🤭

    Makanya aku tuh suka jengkel kalau ada wisatawan yang nggak etis atau seenaknya hanya karena mereka hewan. Apalagi demi klik media sosial. Untungnya sih ke dia, tapi di sisi lain eksistensi gajah dan kondisi mentalnya juga pasti berpengaruh. 😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... analogi "burnout ketemu banyak orang" bikin aku ketawa deh, tapi ada benarnya juga. 🤣

      Nah iya soal Karmila yang hobi kabur itu, dari situ baru kebayang kan kalau mereka memang punya kebiasaan dan karakter masing-masing. Mungkin itu juga yang bikin pekerjaan mahout luar biasa, karena mereka bukan cuma merawat, tapi benar-benar mengenal gajahnya satu per satu.

      Hapus
  3. Iya aku pernah dengar soal Gajah Nisa, lagi-lagi promosi yang berujung eksploitasi yang dilakukan oleh industri.

    Tapi hewan pun punya cara recharge dirinya dari overexposure ya, mbaakk...sebagaimana manusia, mereka juga punya karakter sendiri-sendiri yang mana para mahout ini kudu bisa memahaminya. Salut sih, maka ngga heran kalau ada panda, monyet yang diasuh dari kecil trus denger suara pengasuhnya saat besar mereka masih kenal. Uuunnchh, haru bangeett..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya. Viral itu memang bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi bikin makin banyak orang kenal satwa, tapi di sisi lain juga perlu diimbangi dengan kesadaran untuk menghormati ruang mereka.

      Dan soal satwa yang masih mengenali orang yang merawatnya itu, rasanya bikin kita makin sadar kalo mereka memang punya cara sendiri untuk membangun ikatan.

      Hapus
  4. Konsep atau Tujuan dari dibentuknya TN itu untuk melestarikan alam dan makhluk hidup yang ada di kawasan TN tersebut. namun pada prakteknya TN sendiri malah menjadi komersil, seoalh mencari keuntungan sebesar2nya dari konsep Rekreasinya.
    di TNGC misalnya, saat ini makin banyak dibuka tempat2 "Komersil" meski dengan alasan meningkatkan perekonomian, tapi tetap saja alam yang menjadi korban.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, saya paham maksudnya. Menurutku tantangannya memang ada di mencari keseimbangan. Wisata bisa jadi jalan untuk mengenalkan konservasi ke lebih banyak orang, tapi semoga alam dan satwanya tetap menjadi yang paling diutamakan.

      Hapus
  5. Senang sekali membaca cerita mba Rien yang begitu akrab serta dekat sama taman Nasional Way Kambas. Asli, setiap kunjungan pasti punya cerita berbeda dan rasa yang tidak pernah sama.

    Sepakat, kalau pergi ke alam itu bukan menjadikan hewan setempat sebagai latar konten. Kita harus menghargai dan menghormati ia selaku hewan yang harus hidup layak dan aman.

    Jadi paham alasan kenapa penutupan sementara way kambas mba anggap baik. Edukasi terus menerus terhadap semua pihak terkait gajah ini amat sangat perlu banget.

    Kalimat penutup yang sangat amat hangat banget.

    BalasHapus
  6. Perjalanan yang banyak memberikan pengalaman hidup. Seru dan asyik

    Setiap buka sosmed, sering muncul video anak gajah yang lucu dan menggemaskan. Entah itu sedang bermain, mengerjai Mahout nya, atau kejadian unik lainnya. Tapi lama lama saya juga kepikiran, itu anak gajah nyaman gak ya?

    Yg unggah video mungkin nyari ketenaran saja? Apakah sudah memberikan apa yang seharusnya diterima para gajah?
    Karena jangankan gajah kewan yang dilindungi, kucing aja itu kan gak bisa sembarangan dieksploitasi

    Edukasi terhadap masyarakat luas tentang bagaimana kita seharusnya ikut mendukung program taman nasional memang harus lebih digencarkan ya

    BalasHapus
  7. Baca ini aku kangeeeen banget untuk DTG lagi ke Taman Nasional. Ga harus way kambas, tapi TN yg lain pun gapapa.

    Sama dengan mba , aku juga ada perasaan lega ketika tahu way kambas ditutup. Krn melihat beberapa interaksi pengunjung dengan gajah yg sepertinya lebih bebas. Agak kuatir kalau mereka tanpa sengaja malah menyakiti gajah2.

    Aku sendiri pas kesana, samasekali ga berharap bisa ketemu Nisa. Ketemu syukur, ga pun ya ga masalah. Toh masih banyak gajah lainnya.

    Sama kayak di Tesso Nilo. Cuma bisa ketemu Tari, tp ternyata ada rezeki jumpa doang di tengah jalan 😄.

    Dan kalau kesana pun, aku juga memilih beli buah2an utk gajah dari warga lokalnya. Krn biar gimana kita juga pengen membantu perekonomian mereka.

    Yg cerita tapir itu, aku nangis bacanya.. sampe smua akun yg post beritanya, aku skip. 😭😭😭. Penyiksaan terhadap hewan ini jauuuh lebih nyakitin drpd denger berita manusia meninggal.

    Tapi kayaknya air si taman nasional memang bersih2 dan deras ya mba. Krn aku inget pas ke Tesso Nilo, dan menginap, itu airnya jernih dan deras bangettttt. Dingiiiin pula. Sukaa deh aku.

    Sayangnya pas ke way kambas kami ga ke museum. Waktunya ga cukup Krn hrs ngejar destinasi lain. Soalnya baru landing Lampung itu ..

    BalasHapus
  8. Aduh soal tapir kesasar dan dimakan itu menyedihkan banget, kebayang gimana ketakutannya dia. Tapi konon katanya pelakunya bukan warlok melainkan pendatang. Meski demikian tetep bikin geram yaa.

    Way Kambas ini kyknya tutup awal tahun, tapi Mei lalu udah dibuka lagi nggak sih mbak?
    Tapi bagus sih ada masa jeda gitu supaya kasi waktu buat binatang2 di sana beristirahat.
    Lho ternyata boleh ya dikasi makan sama pengunjung? Kirain selama ini ya cuma dilihat2 aja trus mendekat kalau mau berfoto aja.
    Ngobrolin RS gajah jadi keinget postingan viral dokter hewan yang posting dulu pas ditanya cita2nya mau jadi apa sama gurunya. Dia bilang mau jadi dokter hewan biar bisa nyuntiik gajah. Ucapan adalah doa dia beneran kerja nyuntikin gajah =)) tapi lupa dia dinas di mana.
    Emang asyik kalau pas berkunjung ke sana pas cuaca sedang cerah yaa.
    Ooo jadi ada shuttle yang tersedia ya, jadi yang nggak pakai kendaraan pribadi masih bisa keliling2 di taman seluas itu.
    Nama2 gajah yang terkenal itu mungkin awalnya supaya mereka lebih di-notice aja kali ya.
    Tapi kalau nggak ada pemandu keknya kitanya juga nggak ngeh itu gajah namanya siapa hehe.
    Wah keknya kalau mendekati gajah yang dekat2 kolam air, kudu bawa baju ganti ya =))

    BalasHapus
  9. Wohoooo deep bangett mba Rien.Dan seperti biasa, artikel mba Rien bikin kita merenung, kontemplatif juga kan jadinya. karena jangan² selama ini manusia tuh mikirin egonya dewe. greget ngejar yg viral viral thok. FOMO tiada henti.

    Saatnya utk lebih peduli pd alam dan satwa yaaa, untuk kelangsungan kehidupan yg lebih baik, lestari, dan sustainable pastinyaaaa
    ((nurul rahma))

    BalasHapus
  10. Pas ke Lampung di penghujung tahu 2008 (waktu mama rahimahullah masih ada) sayangnya belum sempat ke Way Kambas. Sempat kala itu ingin singgah, sayangnya belum rejeki. Siapa tahu kedepannya bisa ke sana, karena mengunjunginya tentu berbeda suasananya dengan mengunjungi Taman Safari ataupun Ragunan ya.
    Hal yang mengena di sini buat daku adalah momen pengunjung yang seperti kurang elegan dalam berinteraksi dengan satwa. Entah cara mereka memberikan makan yang kurang adab tapi pakai acara direkam dengan alasan lucu²an terus diupload di medsos huhu. Padahal satwa juga memiliki nyawa sama seperti kita, yang kalau etikanya aja udah gak oke sudah bisa dibayangkan seperti itu juga etika kurang baiknya kepada sesama manusia.

    BalasHapus
  11. Saya kebetulan sudah membaca cerita Mbak Rien saat ke Way Kambas. Kalau tidak salah waktu itu habis ke kondangan teman Paksu kan, Mbak? Saya juga melihat postigan di Instagram Mbak Rien.
    Dan saya jujur baru tahu kalau Way Kambas ditutup saat ini. Padahal saya belum pernah ke sana. Tapi membaca cerita Mbak Rien kali ini, memang ada kabaikan bila ditutup sementara, agar Way Kambas bisa bernafas sejenak. Agar para gajah merasa hidup tenang, tanpa dieksplotasi demi konten memgejar view atau FYP. Lagipula sebagai pusat konservasi, memang seharusnya Way Kambas tidak didatangi oleh orang umum.

    BalasHapus
  12. Pasti keputusan yang sangat berat bagi pengelola.... tapi keputusan penutupan sementara Way Kambas di awal 2026 ini rasanya seperti memberi waktu buat alam dan gajah-gajah Sumatera di sana untuk bernapas sejenak dari hiruk-pikuk demi konten medsos. Biarkan mereka bernapas lega dan menikmati alam.... Semoga waktu rehat ini bisa bikin kita semua lebih bijak pas berkunjung lagi nanti.... semangat semua para gajaaaaah!

    BalasHapus
  13. Dilema dari sebuah tempat yang menampilkan hewan liar adalah bagaimana hewan-hewan tersebut bisa hidup dengan kesejahteraan dan juga tidak dieksploitasi dengan kejam di satu sisi karena menjadi atraksi utama sehingga kadang-kadang kesejahteraannya kurang tapi di sisi lain yang telah membuat daya tarik wisata tersebut. Itulah kenapa kita sebagai pelancong harus bisa belajar dan memahami bahwa hewan-hewan itu akan lebih menyenangkan ketika kita lihat dari kejauhan tanpa mengorbankan kodrat mereka sebagai hewan seperti di Afrika yang punya Safari seperti itu

    BalasHapus
  14. Salut buat pengelola TN Way Kambas yg menutup sementara akses ke situ. Gajah dan binatang apapun di dalamnya biar tenang dulu. Dgn kemunculan manusia di sekitarnya tentu terasa terganggu ya. Kalo gajah bs ngomong pun, sebenarnya mereka jg pgn menyendiri, hanya bersama kawasan gajah tanpa keriuhan manusia di sekitarnya.

    Smg pengelola bs mengatur kedatangan masyarakat agar tdk mengganggu gajah dan hewan apapun di dlm kompleks taman nasional ini ya.

    BalasHapus
  15. Mbak Rien, akun takjub baca tulisannya
    Wah sangat panjang. Tapi beneran runtun banget. Jadi makin paham tentang Taman Nasional Way Kambas
    Pengen, someday aku bisa juga menginjakkan kaki di sana

    BalasHapus
  16. AKu yang hobi nontonin para mahout dan gajah asuhannya live di tiktok.
    Suka bikin terharuu.. dan ketawa ngliat interaksi keduanya yang sangat alami.
    Seneng banget ada yang cinta dengan para gajah-gajah yang harus sudah mulai dilestarikan melihat jumlah kelahiran dan pertumbuhannya yang semakin menurun.

    Kalau ada kabar duka mengenai gajah meninggal, akupun ikut merasakan kesedihan yang luar biasaa.. seperti rasanyaa "Apakah sudah selesai tugasnya di dunia ini?"

    Kalau dari cerita ka Rien, sebenernya 1 hal yang aku catch-up sedariiii awal baca artikel ini... mungkin karena "Picture speaks a thousand words" yaah...
    Ka Rien berani banget pakai skirt dan sepatu putiiih....
    MashaAllah..

    Dari sini aku sadar kalo ternyata Way Kambas ituuu ramaaahh....
    Tapi gak kebayang kalo jalan yaa.. bisa puluhan kilo di cuaca yang mashaAllah.. sedang sangat kering inii.. Kebayang gajah gajah itu hauss... hehehe.. alhamdulillah sering diajakin main.. ya sama mahout, ya sama pengunjung.

    Semoga sehat-sehat selalu semua pengurus gajah di Way Kambas.
    Dan semoga semuanya baik-baik aja, bisa istirahat juga dengan baik selama masa penutupan.

    Lafff...

    BalasHapus
  17. jujur sekarang aku jadi makin penasaran sama tempat konservasi begini, mbak. Soalnya kan ini tempat untuk merawat dan melindungi binatang yang jumlahnya semakin sedikit yaa. Pengunjung yang datang juga seharusnya paham kalau mereka datang ke konservasi bukan sekedar untuk fomo dan bisa narsis sama binatang yang viral namun untuk bisa lebih mengenal dan mencintai binatang tersebut.

    BalasHapus
  18. Setiap kali membaca kunjungan orang ke Way Kambas rasanya pengin ke sana juga. Tapi penginnya lihat aktivitas gajah langsung di alam bebas. Bukan untuk hiburan.

    Mungkin penutupan Way Kambas sementara kemarin itu adalah yang terbaik. Dan semoga kedepannya menjadi lebih baik lagi.

    BalasHapus
  19. Setuju sih Way Kambas ditutup dulu untuk wisata biar hewannya lebih tentram dan damai yaa.. jadi kangen ngetrip bareng lagi deh.. hihi ingat foto kita yang fenomenal itu mbaa..

    BalasHapus
  20. Memang benar bahwa seharusnya Way Kambas dibuat dengan aturan yang ketat dan tidak semua orang bisa masuk ke sana. Jika sudah begini, penutupan Way Kambas sangatlah tepat. Soal tapir yang dimakan itu, saya rasa memang warga tidak tahu dan kurang niatan untuk mencari tahu.

    Mendengar cerita kakak ini, saya jadi merasa kakak itu kaya saudaraan dengan banyak gajah ya. Pengalaman luar biasa.

    BalasHapus
  21. Melihat gajah langsung di Way Kambas adalah pengalaman yang sangat seru ya, Mbak Rien. Apalagi gajahnya masih imut.
    Untung ada shuttle bus dan jeep di sana, kebayang seberapa luas Way Kambas kalau ditempuh dengan jalan kaki. Jadi ternyata mahout bukan hanya dekat dengan animals tapi punya kekuatan fisik yang luar biasa, karena area kerjanya luas.
    Kalau minta dipertemukan dengan badak sumatera di sana bisa juga kah Mbak?

    BalasHapus

Thank you for reading and taking the time to leave a comment. Every comment is truly appreciated, and I always enjoy reading your thoughts. I'll respond as soon as I can.