Road Trip ke Way Kambas Lampung: Dari Gisting ke Pusat Latihan Gajah


Gisting, Minggu 21 September 2025

Saya selalu percaya bahwa hari terakhir saat bepergian adalah momen paling jujur dalam hidup. Tidak ada lagi euforia. Tidak ada lagi ilusi santai. Yang tersisa hanyalah tas terbuka, baju berserakan, dan saya yang mendadak berubah jadi atlet cabang olahraga serba ngebut. 

Ngebut mandi, ngebut packing, ngebut menuntaskan sarapan yang berubah jadi urusan strategis. Karena kami harus berangkat secepatnya menuju Taman Nasional Way Kambas, yang jaraknya itu mesti ditempuh lebih dari empat jam perjalanan.

Pagi itu Gisting menyambut kami dengan hujan. Jenis hujan yang turunnya pelan tapi konsisten, seperti tagihan bulanan yang tidak pernah lupa datang. Tidak heboh, tidak dramatis, tapi cukup untuk membuat suasana pagi terasa sendu sekaligus sedikit panik.

Di Hotel 21 Gisting. 21 September 2025.
Kiri: setelah check-out. Kanan: Persiapan berangkat ke Lampung Timur

Rutinitas pagi pun berubah menjadi kompetisi tak resmi. Siapa paling cepat mandi. Siapa paling cekatan beberes. Siapa paling dramatis mencari charger yang entah sejak kapan seolah punya kaki sendiri. Semua bergerak dengan energi khas hari checkout

Hingga akhirnya kami berkumpul di lobi, menyelesaikan proses checkout, lalu berjibaku memasukkan barang ke dalam mobil yang hari itu berisi delapan orang dewasa dengan segala bawaan dan ekspektasinya.

Aneh memang. Saat datang, rasanya santai sekali. Langkah ringan, hati riang, tas dibuka tanpa beban. Tapi saat pulang, atmosfernya berubah total. Ritmenya seperti evakuasi darurat. Cepat, sigap, sedikit tegang, dan entah kenapa selalu diiringi perasaan “kok rasanya baru sebentar?”

Misi utama ke Gisting: Kondangan

Kami memang cuma semalam di Gisting. Tapi seperti biasa, manusia punya bakat alami untuk membangun kenangan bahkan dalam waktu yang singkat. Dari menyeberangi Selat Sunda antara Merak dan Bakauheni, menghadiri kondangan di Gisting, jalan sore ke pelabuhan ikan Kota Agung, makan malam yang hangat, sampai tidur di hotel yang nyaman meskipun tidak mewah.

Kadang kebahagiaan memang sederhana. Tidak perlu bintang lima, cukup kasur empuk, air panas yang bersahabat, dan suasana yang terasa ramah.

Cerita lengkap hari pertama di Gisting pada Sabtu, 20 September 2025 bisa dibaca di postingan sebelumnya. Atau, tinggal klik link berikut : Jalan-Jalan ke Gisting Tanggamus

Perjalanan dari Tanggamus ke Lampung Timur

Empat jam, kata Google Map. Empat jam yang terdengar singkat kalau cuma dibaca, tapi terasa filosofis kalau benar-benar dijalani. 

Perjalanan darat memang punya kemampuan unik mengubah manusia biasa menjadi makhluk penuh refleksi. Terutama saat hujan turun, langit mendung total, dan jalan mulai menunjukkan karakter aslinya tanpa sensor.

Berikut gambaran rute perjalanan dari Gisting, Tanggamus, ke Way Kambas beserta estimasi waktu dan jarak tempuh menurut Google Maps:

Rute perjalanan dari Tanggamus menuju Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur umumnya melewati Kabupaten Pesawaran dan Bandar Lampung. 

Secara teori terdengar sederhana. Dari pesisir Tanggamus, lanjut ke Pesawaran, melintasi Kota Bandar Lampung, kemudian masuk Lampung Selatan, dan akhirnya Lampung Timur. 

Di atas peta semuanya tampak rapi, tertib, dan penuh harapan. Di dunia nyata? Ya… mari kita bicara jujur.

Dari Tanggamus kami melaju menuju Pesawaran. Bisa lewat jalur pesisir arah Teluk Kiluan, bisa juga lewat jalur utara via Pringsewu menuju arah timur. 

Suasana perjalanan saat melintas di daerah Pesawaran terekam dalam video berikut ini:

Apa pun pilihannya, satu hal terasa konsisten: beberapa ruas jalan di Pesawaran benar-benar memberikan pengalaman yang sulit-dilupakan. 

Lubang-lubang di jalan bukan lagi sekadar kerusakan, melainkan ujian kepercayaan diri. Setiap genangan air berubah menjadi teka-teki eksistensial. Ini cuma air biasa, atau kejutan mekanik yang siap menguras saldo rekening?

Beberapa kali mobil kami “tertipu”. Kelihatannya genangan biasa. Ternyata lubang. 

Guncangan datang tanpa aba-aba, sukses bikin badan ikut bergoyang dengan cara yang sama-sekali tidak menyenangkan. Suspensi bekerja keras. Tulang-belulang ikut bekerja sama menahan realita. Jiwa? Sudah mulai masuk mode pasrah.

Drama Jalan Pintas Oleh Navigator Online

Drama bertambah saat Google Map, dengan kepercayaan diri khas teknologi modern, mengarahkan kami masuk ke jalan kecil desa, bukan jalan utama kabupaten. Jalan yang lebarnya membuat saya mempertanyakan definisi kata “akses utama”. Tapi ya sudah lah. Zaman sekarang, suara digital sering terasa lebih meyakinkan dibanding insting manusia.

Inilah Negeri Katon, titik ketika Google Maps dengan percaya diri mengarahkan kami ke jalur yang katanya lebih cepat, meski kondisi jalannya ternyata penuh tantangan. 😁

Barulah setelah keluar dari jalur kecil penuh tanda tanya itu, kami kembali bertemu jalan besar yang lebih ramai dan terasa normal. Di titik itulah kami sadar bahwa tadi kami memang diajak “jalan-jalan tambahan” oleh navigasi. 

Google Map memang kadang begitu. Masih untung kami dibawa keluar dari jalan tembus. Bayangkan kalau malah disuruh lurus ke hutan buntu. Itu bukan lagi perjalanan wisata, tapi reality show survival.

Dan di tengah perjalanan panjang penuh guncangan itu, saya mulai sadar: hidup memang sering terasa seperti navigasi digital. Kita ikuti arahannya, belok ke jalur yang kadang tidak masuk akal, sambil berharap pada satu hal sederhana… semoga di depan jalannya sedikit lebih bersahabat.

Persiapan di Tengah Hujan: Mantel dan Pisang untuk Gajah

Dari Pesawaran, perjalanan kami berlanjut menuju Bandar Lampung. Masuk ke ibu kota provinsi, suasana jalan mulai terasa lebih ramai, lebih hidup, lebih… beradab. 

Dari Bandar Lampung, mobil kembali melaju ke Lampung Selatan, arah Natar dan Rajabasa. Di titik ini, di antara kebutuhan isi BBM dan urusan pertoiletan yang tidak bisa ditunda oleh idealisme perjalanan, saya mengabari Pak Mad, orang Way Kambas yang nantinya akan menemani kami berkeliling.

Sementara itu hujan masih turun tanpa tanda-tanda ingin kompromi. Deras, konsisten, dan sedikit menyebalkan. 

Ngide beli jas hujan karena sejak pagi dari Tanggamus sampai Sukadana Lampung Timur hujan terus, teryata sampai Way Kambas secerah ini

Melihat kondisi langit yang tampaknya belum move on dari mendung, saya pun melontarkan ide yang terdengar cemerlang pada saat itu: bagaimana kalau kita beli jas hujan? Sebuah solusi praktis khas manusia modern. Rasional, sederhana, meskipun secara estetika hasil akhirnya membuat kami tampak seperti rombongan ninja yang gagal tampil misterius.

Akhirnya, dalam perjalanan dari Lampung Selatan menuju Lampung Timur, melalui rute Metro dan Sukadana hingga ke Kecamatan Labuhan Ratu, kami mampir ke minimarket. Belanja jas hujan. Karena bagaimanapun, perjalanan sudah sejauh ini. Rasanya terlalu dramatis kalau harus putar-balik belok ke Bakauheni lalu pulang hanya karena hujan. Jadi ya sudah, lanjut saja ke Way Kambas dengan gaya mantelan.

Namun misi hari itu ternyata tidak berhenti di jas hujan. Saat mulai memasuki wilayah Lampung Timur, kami singgah di lapak penjual pisang di pinggir jalan. Pisang-pisang ini rencananya akan dijadikan oleh-oleh untuk gajah. Ya, oleh-oleh. Karena bahkan dalam hubungan manusia dan satwa pun, kita tetap membawa budaya dasar bangsa ini: datang jangan dengan tangan kosong.

Pisang yang kami beli ada di video berikut:

Harga pisangnya sukses membuat saya reflektif sebagai warga BSD. Tiga sisir pisang emas seharga dua puluh ribu rupiah. Dua puluh ribu. Di Pasar Modern BSD, satu sisir saja bisa bermain di kisaran dua puluh sampai dua puluh lima ribu. Jauh sekali. 

Tapi ya masuk akal juga. Di BSD tidak ada kebun pisang. Kalau pisangnya memang dari Lampung, tentu ada ongkos kirim, tenaga, logistik, dan mungkin drama distribusi lainnya.

Ironisnya, keputusan membeli pisang ini kemudian saya sesali. Bukan karena mahal. Justru sebaliknya. Kalau beli di ibu-ibu penjual pisang dekat loket masuk Way Kambas, harganya malah lebih mahal lagi. Satu sisir bisa tembus tiga puluh ribu. Tapi yang membuat saya merasa sedikit bersalah ternyata bukan soal harga, melainkan soal informasi yang datang belakangan.

Gajah Fitria, gajah pertama yang mencicipi oleh-oleh pisang dari kami. Semoga saja pisang yang kami beli aman buat gajah-gajah yang kami kasih makan.
 
Ternyata penjual pisang di kawasan Way Kambas sudah diedukasi untuk hanya menjual pisang yang benar-benar alami, tanpa obat-obatan, tanpa zat kimia, tanpa karbit-karbitan demi kematangan instan. 

Mau mentah, mau matang, apa adanya saja. Karena bagi gajah, pisang karbitan bukan cuma soal rasa atau kualitas. Itu bisa berbahaya. Saya baru mengetahui fakta itu setelah bertemu Pak Mad. Dan tentu saja, pada saat itu pisang sudah terlanjur kami beli di luar. Meskipun mungkin saja pisangnya aman, tapi cemas itu tetap ada.

Di situ saya langsung merasa seperti manusia yang tanpa sadar hampir menyuapi junk food kepada makhluk paling bijak di hutan. Ampun Ya Allah, semoga gajahnya tidak kenapa-kenapa. 

Pak Mad, beliau yang kasih penjelasan tentang makanan baik yang sebaiknya diberikan pada gajah.

Tapi sejak momen itu, saya membuat janji kecil pada diri sendiri. Kalau suatu hari kembali ke Way Kambas, saya akan membeli pisang dari ibu-ibu di dalam kawasan, dekat loket tiket itu. Mau dikata mahal pun tidak apa-apa. Ada rasa tenang yang tidak bisa dinegosiasikan dengan selisih harga.

Karena lucu juga ya. Gajah saja begitu diperhatikan makanannya. Begitu dijaga dari zat berbahaya. Sementara ada manusia yang dengan santai memasukkan apa pun ke tubuh sendiri, asal enak, asal murah, asal viral. Kalau gajah saja dijaga dari pisang karbitan, harusnya kita juga sedikit lebih selektif pada apa yang setiap hari kita telan tanpa banyak pertanyaan. Huhu.

Eh btw, waktu di mobil, saya sempat mencicipi pisangnya. Masih agak mentah cuy. Iyuuh banget rasanya kelat wkwk. Tahu kelat? Pahit yang ada asem-asemnya gitu hihi.

Sukadana dan Benturan yang Membuat Istigfar Massal 

Ada satu hal yang selalu berhasil menyatukan manusia lintas usia, profesi, dan latar-belakang: jalan rusak. Tidak peduli Anda optimis, realistis, atau tipe yang hidupnya penuh afirmasi positif, begitu bertemu aspal penuh lubang, semua langsung kompak. Kompak tegang.

Jam 11.29 WIB kami melintasi Sukadana, Lampung Timur. Dan di situlah drama kecil perjalanan kami mencapai titik klimaks. Pada satu ruas jalan sepanjang kurang-lebih 500 meter, kondisi jalan berubah dari sekadar tidak mulus menjadi ujian mental tingkat lanjut. Lubang-besar menganga lebar, tersebar merata, diisi genangan air hujan yang tampak polos tapi menyimpan niat jahat.

Jalan rusak yang bikin istighfar itu ada di video berikut:

Kami pun “terjebak kejutan”. Mobil menghantam salah satu lubang yang tidak sempat teridentifikasi dengan baik. Benturannya keras. Jenis benturan yang refleks memicu istigfar massal di dalam mobil. Untuk sepersekian detik, jantung berhenti berdebat dengan logika. Pikiran langsung lompat ke kemungkinan terburuk. Kejeblos? Ban aman? Suspensi masih bernapas?

Masalahnya, lubang itu nyaris mustahil dihindari. Untuk berkelit dibutuhkan ruang lebar dan jalan kosong. 

Sementara saat itu hujan, kendaraan ramai, mobil berjejer di depan-belakang seperti sedang ikut konvoi tak resmi bertema “pasrah bersama”. Tidak ada ruang manuver elegan. Pilihannya sederhana: maju dengan hati-hati, atau mundur dengan rasa frustasi.

Di momen seperti itu saya selalu punya pertanyaan absurd tapi jujur: apakah ada teknologi tersembunyi yang memungkinkan mobil terbang rendah khusus di wilayah-wilayah tertentu? Karena kalau harus mengandalkan refleks sopir semata, rasanya ini bukan lagi perjalanan wisata, tapi simulasi survival otomotif.

Namun begitulah hidup, eh perjalanan. Jalan boleh rusak, hati boleh dongkol, tapi roda harus tetap berputar. Tidak mungkin berhenti lama-lama hanya untuk meratapi aspal yang kehilangan integritas strukturalnya.

Langit Cerah di Gerbang Way Kambas

Sesuai arahan Pak Mad, kami diminta mengabari saat sudah mendekati kawasan Way Kambas. Strateginya sederhana dan efisien. Supaya saat kami tiba, beliau sudah siap di lokasi. Dan benar saja, tepat pukul 12.05 WIB, kami akhirnya sampai di kawasan TNWK.

Secerah apa cuaca saat kami tiba di gerbang Taman Nasional Way Kambas? Terlihat di video berikut:

Yang mengejutkan bukan hanya keberhasilan mencapai tujuan tanpa drama lanjutan, melainkan perubahan suasana yang nyaris terasa sinematik. 

Hujan yang sejak pagi setia menemani perjalanan mendadak lenyap. Langit cerah. Matahari bersinar dengan percaya-diri. Udara terasa hangat, bersahabat, seolah alam semesta berkata, “Nah, ini baru pemandangan yang layak dinikmati.”

Mantel hujan yang sebelumnya terasa seperti investasi penting langsung kembali masuk tas. Nasibnya berubah cepat. Dari benda krusial menjadi properti cadangan. Disimpan rapi, tak perlu ikut menjadi saksi kunjungan kami hari itu. 

Hidup memang kadang ironis. Kita panik bersiap menghadapi badai, lalu semesta memberi matahari.

Gak nyangka cuaca berubah cerah setiba di Way kambas!

Tanda kami benar-benar memasuki kawasan TNWK adalah saat terlihat beberapa bangunan bercat hijau dengan plang besar bertuliskan TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS. Ada portal dengan palang buka-tutup yang sempat membuat saya mengira, “Oh, ini gerbangnya.” Ternyata bukan. Itu adalah portal menuju SRS, tempat pelestarian badak Sumatera.

Jadi kalau mau lihat gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG), kami masih harus belok kanan, lalu menempuh sekitar sembilan kilometer lagi menuju gerbang tiket masuk Pusat Pelatihan Gajah Way Kambas.

Ini adalah kunjungan ketiga saya ke TNWK. Pertama berkunjung ke Way Kambas tahun 2016, dan yang kedua tahun 2017 bersama Yuk Annie, Atanasia Rian, dan Dian Radiata. Dulu kami sampai ke Camp ERU segala, area khusus yang tidak sembarang orang boleh masuk. 

Cerita eksplore Way Kambas pada 2017 dapat di baca pada tulisan berikut: Lipur Hati di Lampung Timur.

Delapan tahun berlalu, dan saya kembali. Anehnya, beberapa potongan memori terasa buram. Loket tiketnya dulu di sini ya? Atau di sana? Atau sebenarnya ingatan saya saja yang mulai mengalami renovasi internal?

Tahun 2017. Kala memandikan gajah di Camp ERU Margahayu, Way Kambas
Memori: Kunjungan saya ke Way Kambas pada tahun 2017 saya tulis dan dimuat di inflight magazine Trans Nusa edisi Januari 2018.
Memori: Foto saya memeluk Yekti, bayi gajah yang dulu diselamatkan karena terjebak di lubang dan kini telah tiada, dimuat di majalah sebagai pelengkap tulisan yang saya buat.

Selagi mobil menyusuri jalan masuk yang sepi, kiri-kanan masih hutan, suasana terasa tenang dengan sentuhan liar yang elegan. 

Sesekali terlihat monyet bergelayutan di pohon, seperti penonton alami yang diam-diam mengamati manusia-manusia kota datang dengan kamera dan rasa kagum. Beberapa burung cantik bertengger santai di dahan pohon. Tak terusik oleh kehadiran kami yang numpang melintas.

Tak lama kemudian, Pak Mad menelepon. Memastikan apakah mobil hitam dengan pelat nomor tertentu adalah kendaraan kami. Ternyata beliau berada tepat di belakang. Kami pun memelankan mobil, memberi jalan, lalu mengikuti dari belakang.

Sebuah momen kecil yang terasa lucu. Bahkan di tengah hutan, manusia tetap bermain peran dalam koreografi lalu-lintas.

Dari gerbang awal hingga loket tiket di dalam kawasan, jaraknya ternyata tidak bisa dibilang dekat. Tapi anehnya, kali ini tidak ada rasa lelah yang dominan. Ada rasa lega. Ada rasa senang sekaligus tenang. Barangkali udara segar di tempat banyak pohon ini yang mengubah segalanya menjadi lebih damai. Lalu ada rasa yang sulit dijelaskan selain dengan kalimat sederhana: akhirnya sampai juga.

Jalan masuk objek wisata TN Way Kambas. Kurang lebih 9 km dari gerbang hijau di depan

Perjalanan empat jam yang dalam praktiknya menjadi lima jam itu pun resmi berakhir. Kami tiba. Kami selamat. Kami siap bertemu gajah. Dan di titik itu saya kembali berpikir, dengan sedikit senyum dan sedikit heran: Kenapa ya, justru bagian perjalanan yang bikin capek, pegal, dan hampir emosi itu yang nantinya paling semangat kita ceritakan?

Berwisata dan bertemu Gajah!

Lucu juga, kami menempuh lima jam perjalanan penuh guncangan hanya untuk berdiri tenang menatap seekor gajah yang bahkan tidak peduli kami datang dari BSD, Bekasi, atau Bulan.

Soal detail pengalaman di Way Kambas ini nanti akan saya ceritakan khusus di tulisan terpisah. Karena kalau semua saya bongkar sekarang, tulisan ini bisa berubah fungsi jadi skripsi konservasi dengan bumbu drama keluarga. Jadi anggap saja ini teaser. Trailer sebelum filmnya tayang panjang. Tapi sebelum filmnya benar benar diputar, ada baiknya kita kenalan dulu dengan panggung besarnya.

Lampung itu bukan cuma soal pantai dan kopi. Di balik hutan yang tadi kami masuki dengan penuh rasa lega itu, hidup tapir, gajah Sumatera, enam jenis primata, rusa sambar, kijang, harimau Sumatera, sampai beruang madu. Daftarnya terdengar seperti absensi rapat alam raya. 

Dan sejak 1936, kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional Way Kambas. Tahun segitu manusia mungkin belum kenal skincare, tapi sudah ada kesadaran melindungi satwa. Sebuah ironi manis yang bikin saya mikir, kadang kita maju teknologi tapi mundur empati.

Nah, dari panggung besar itu, fokus kami mengerucut ke salah satu titik paling terkenal, yaitu Pusat Latihan Gajah. Fasilitasnya cukup lengkap. Ada area gajah, kolam, lapangan, guest house, visitor center yang merangkap pusat informasi dan museum, ruang terbuka yang rindang, musola, dan toilet. Secara fisik tertata. Secara batin? Ya tergantung pengunjungnya. Mau datang sekadar foto atau benar benar belajar, itu pilihan masing masing.

Menuju ke sana pun tidak sesulit bayangan orang kota yang alergi jalan tanah. Aksesnya surprisingly mudah. Dari Jalan Lintas Timur sekitar 16 kilometer, dan 9 kilometer dari Plang Ijo. Jalannya sudah aspal bagus, bisa dilalui kendaraan roda dua sampai enam, bahkan bus besar. 

Bahkan sekarang ada Bus Damri dari Terminal Rajabasa langsung ke PLG. Jadi kalau niatnya kuat, alasan jauh sudah makin tipis. Kadang yang jauh itu memang bukan jaraknya, tapi kemauan meninggalkan kenyamanan.

Setelah sampai, barulah terasa perubahan pendekatan yang cukup signifikan dibanding masa lalu. Dulu di sini ada atraksi gajah. Ada tunggang gajah juga. Sekarang tidak ada lagi. Gajahnya tidak lagi jadi properti hiburan. 

Saya pribadi merasa ini kemajuan. Karena jujur saja, melihat makhluk sebesar itu disuruh melakukan trik demi tepuk tangan manusia selalu terasa agak tidak adil. Sekarang kalau mau interaksi, ada paket memandikan atau memberi makan gajah. Lebih masuk akal. Walau tetap saja, pada akhirnya manusia tetap beli pengalaman.

Keliling naik shuttle, ketemu gajah boleh kasih makan

Perubahan itu ternyata bukan cuma soal atraksi, tapi juga soal cara berkunjung.

Yang menurut saya menarik adalah aturan kendaraan. Pengunjung tidak boleh membawa mobil sampai ke lokasi gajah. Semua parkir di rest area, lalu lanjut naik shuttle atau jeep yang dikelola masyarakat sekitar.

Alasannya jelas, mengurangi polusi dan sekaligus memberdayakan warga. Konservasi yang tidak cuma bicara hewan, tapi juga ekonomi. Saya suka konsep ini. Karena menjaga alam tanpa menjaga manusia di sekitarnya itu seperti diet tanpa olahraga. Setengah hati.

Karena bicara kunjungan rasanya tidak lengkap tanpa bicara angka, mari kita realistis sedikit. Tahun 2025, wisatawan nusantara membayar Rp20.000 saat hari biasa dan Rp30.000 saat akhir pekan. Wisatawan mancanegara Rp200.000 per orang. 

Pelajar rombongan lebih hemat, Rp10.000 sampai Rp15.000. Kendaraan roda dua Rp5.000, roda empat sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000, roda enam Rp50.000. Ada juga denda lima kali lipat untuk pengunjung ilegal. 

Semua biaya mengacu pada PP Nomor 36 Tahun 2024. Belum termasuk paket jungle track, memandikan, memberi makan gajah, atau pemanduan yang dikelola koperasi desa. Intinya, mau pengalaman lebih dalam, ya ada konsekuensi finansialnya. Bahkan untuk belajar rendah hati di depan gajah pun tetap harus antre loket.

Pak Mad dan kerangka asli tubuh gajah yang mati karena sakit. Pak Mad adalah salah satu saksi atas kematian gajah tersebut, dan turut menyusun ulang tulang belulangnya hingga bisa dilihat oleh siapa saja yang berkunjung ke visitor centre TNWK

Namun Way Kambas tidak berhenti di gajah saja. Selain gajah, kawasan ini punya Suaka Rhino Sumatera atau SRS. Satu satunya di dunia. 

Kalimat itu terdengar megah sekaligus menyedihkan. Megah karena eksklusif. Menyedihkan karena artinya jumlah badaknya memang sesedikit itu. 

Lokasinya sekitar 9 kilometer dari Plang Ijo, di tengah hutan, di antara ruas jalan Plang Ijo dan Way Kanan. Dibangun untuk menyelamatkan badak Sumatera yang di alam liar terdesak, di kebun binatang pun rentan.

Di sanalah cerita berubah jadi lebih personal. Saya bertemu Edo, mahout badak. Anak muda yang memilih mengabdi menjaga hewan yang mungkin tidak pernah ia unggah di Instagram dengan caption estetik. 

Edo, mahout badak TNWK

Ia putra Pak Mad, meneruskan pengabdian ayahnya. Saya selalu diam beberapa detik kalau bertemu orang seperti ini. Karena di tengah dunia yang sibuk mengejar validasi digital, ada yang memilih menjaga makhluk yang bahkan tidak tahu apa itu like dan share.

Kunjungan hari itu sendiri berjalan cukup sederhana. Kami tiba sudah masuk waktu Zuhur, jadi salat dulu di musola yang tersedia. Sederhana, bersih, cukup. Setelah itu keliling naik shuttle, melihat rumah sakit gajah, kandang terbuka, dan dua gajah yang berdiri cukup dekat dengan area pengunjung. Besar. Tenang. Tidak terburu buru. 

Saya berdiri memandang sambil berpikir, kenapa makhluk yang disebut liar justru terlihat lebih stabil daripada kita yang mengaku paling rasional?

Akhirnya, seperti semua perjalanan singkat, momen itu pun ditutup dengan hal yang sangat manusiawi. Kami ke visitor area, makan siang, lalu bersiap pulang. Kunjungannya memang tidak lama. Tapi berdiri di hadapan gajah dan mendengar cerita tentang badak yang populasinya bisa dihitung dengan jari membuat perjalanan tadi terasa lebih dari sekadar agenda wisata.

Saya datang membawa pisang, jas hujan, dan ekspektasi sederhana ingin melihat satwa. Saya pulang dengan kepala yang sedikit lebih ramai. Tentang bagaimana manusia bisa merusak sekaligus menyelamatkan. Tentang bagaimana kita rela membayar tiket untuk masuk ke kawasan konservasi, tapi sering lupa menjaga habitat paling dekat yang kita punya, yaitu diri sendiri.

Dan di tengah hutan itu, pertanyaan itu muncul pelan pelan, sebenarnya siapa yang sedang dilatih di Pusat Latihan Gajah ini. Gajahnya, atau kita yang diam diam sedang diajari cara hidup lebih tenang dan tidak rakus?

Jajan Bakso Sony di Lampung Timur

Setelah menuntaskan misi bertemu gajah yang lebih tenang dari timeline media sosial, kenyataan kembali mengetuk. Jam sudah mendekati pukul 16. Artinya sesi kontemplasi harus ditutup, dan mode manusia dikebut jadwal kembali diaktifkan. 

Kapal berangkat pukul 19, dan idealnya pukul 18 sudah harus tiba di Bakauheni. Dari situ perjalanan berubah status, dari wisata reflektif menjadi lomba presisi melawan waktu.

Keinginan mampir santai jelas gugur satu per satu. Tidak ada ruang untuk duduk manis di kafe, apalagi berburu oleh oleh. Bahkan rencana kuliner pun harus beradaptasi.  

Maka ketika nama Bakso Sony disebut, solusinya sederhana dan realistis, pesan take away. Bukan karena tidak ingin menikmati suasana warungnya, tetapi karena hidup kadang menuntut efisiensi. Romantisnya nanti dimakan di kapal. Praktisnya supaya tidak ketinggalan kapal. 

Sebelum benar benar meninggalkan Way Kambas, Pak Mad memberi saran yang terdengar sederhana tapi menentukan, lewat jalur pesisir saja. Katanya lebih cepat. 

Dalam kondisi seperti itu, saran orang lokal terasa seperti kompas moral. Jalur ini berbeda dari rute saat datang, dan ternyata jauh lebih bersahabat. Tidak ada lubang ekstrem seperti di Sukadana. Jalannya naik turun dengan pemandangan laut dan gunung di kejauhan, seolah memberi bonus visual bagi rombongan yang sedang menahan hasrat untuk mampir.


Bakso akhirnya disantap bukan di daratan Lampung, melainkan nanti di atas kapal. Hangat, gurih, dan terasa seperti hadiah kecil setelah perjalanan ngebut. 

Ada ironi tipis ketika kuliner khas justru dinikmati saat sudah meninggalkan wilayah asalnya. Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja, rasa tidak selalu harus dimakan di tempat ia lahir, yang penting dimakan dengan lega. 

Pukul 17.35 WIB. Pemandangan yang terlihat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni

Langit sore sempat memberi harapan. Cahaya tipis menggantung di ufuk barat, cukup untuk membuat kami berharap ada senja kemerahan dramatis sebagai penutup perjalanan. 

Sayangnya langit memilih biasa saja. Tidak ada semburat jingga yang bisa dijadikan latar foto reflektif. Tapi setidaknya tidak ada hujan. Itu sudah lebih dari cukup.

Di atas kapal, suasananya justru terasa lebih hidup dibanding penyeberangan sebelumnya. Tidak ada yang mencari sudut untuk rebahan. Tidak ada wajah setengah tertidur. Semua duduk santai di dek kuliner, memesan minuman, membuka bungkus bakso, dan bercerita ulang potongan-potongan perjalanan dua hari terakhir. 

Pelabuhan Bakauheni sore itu, dan suasana di kapal menuju Merak, ada di video berikut:

Dari Gisting Tanggamus sampai Way Kambas Lampung Timur, dari jalan berlubang sampai jalur pesisir yang menenangkan.

Penyeberangan malam itu terasa cepat. Entah karena ombak bersahabat atau karena perut sudah kenyang dan hati cukup penuh. 

Sebelum pukul 21 kami sudah kembali menginjak Tanah Jawa. Perjalanan singkat, padat, dengan rasa yang campur aduk. Ada lelah, ada tawa, ada hening di depan gajah, ada ngebut demi kapal.

Dan di antara bunyi mesin kapal dan sisa kuah bakso di mangkuk kertas, pertanyaan itu muncul lagi pelan pelan, sebenarnya yang membuat perjalanan ini berkesan jaraknya, tempatnya, atau cara kami memaknainya?

Alhamdulillah dan Terima Kasih

Sebagai penutup perjalanan ini, saya cuma ingin bilang terima kasih. Terima kasih mas suami dan teman teman muda yang sudah membawa saya ikut dalam ritme dua hari yang padat ini. 

Dari jalan berguncang sampai dek kapal, dari pisang untuk gajah sampai bakso dalam mangkuk kertas. Kadang yang membuat perjalanan terasa utuh bukan hanya tempatnya, tapi orang orang yang berjalan bersama kita di dalamnya.

Buat yang membaca tulisan ini dan mulai tergoda menyusun rencana sendiri, sebenarnya ke Way Kambas itu tidak serumit yang dibayangkan.

Datang mandiri pun sangat mungkin, seperti yang kami lakukan. Tinggal ikuti petunjuk arah di Google Map, siapkan biaya masuk dan kebutuhan lain secara pribadi, lalu jalan. Tidak ribet. Cukup niat dan sedikit keberanian untuk tidak selalu menunggu diajak. 

Tapi kalau merasa lebih nyaman semuanya sudah diatur, ikut travel atau tur Way Kambas juga pilihan yang masuk akal. Tidak semua orang menikmati sensasi menyusun itinerary sambil deg degan mengejar kapal.


Saat ini Way Kambas Ditutup !

Ada satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan. Saat tulisan ini dibuat, kawasan wisata Way Kambas sedang ditutup untuk kunjungan wisatawan sampai waktu yang belum dapat ditentukan. Jadi, sekuat apa pun niat dan seantusias apa pun rencana disusun, tetap saja semuanya bergantung pada satu hal sederhana: pintunya sedang dibuka atau tidak.

Maka, sebelum semangat berangkat mengalahkan logika, pastikan dulu informasinya. Pantau pembaruan resmi lewat akun Instagram mereka di @btn_waykambas. Dalam urusan perjalanan, memastikan aksesnya tersedia sering kali jauh lebih penting daripada sekadar memesan tiket dan menyusun itinerary dengan penuh percaya diri.

Alhamdulillah, saya, suami, dan teman teman muda sempat berkunjung dan bertemu gajah Sumatera sebelum penutupan ini diberlakukan. Ada banyak momen yang membekas saat kami berinteraksi langsung dengan mereka di Taman Nasional Way Kambas. Kisah lengkap tentang pertemuan itu akan saya ceritakan secara terpisah setelah tulisan ini.

Apa Itu Penyuntingan dan Manfaatnya: Panduan Lengkap untuk Penulis dan Pembaca

Dalam dunia menulis, ada satu tahap yang sering dianggap sepele, padahal justru sangat menentukan nasib sebuah tulisan, yaitu penyuntingan. Sebagus apa pun ide yang dimiliki, jika disajikan dengan bahasa yang berantakan atau alur yang membingungkan, pesan besar di dalamnya bisa gagal sampai ke pembaca.

Baik itu artikel blog, naskah akademik, proposal bisnis, maupun konten digital sehari-hari, penyuntingan berperan sebagai proses “memoles” tulisan agar tampil lebih rapi, jelas, dan enak dibaca. Di tahap inilah sebuah karya mulai menemukan bentuk terbaiknya, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi makna.


Pengertian Penyuntingan

Secara umum, penyuntingan adalah proses meninjau, memeriksa, dan memperbaiki suatu teks untuk meningkatkan kualitasnya.

Proses ini mencakup banyak aspek, mulai dari tata bahasa, struktur kalimat, kesesuaian gaya penulisan, konsistensi istilah, hingga akurasi informasi yang disampaikan. Jadi, penyuntingan tidak sekadar berburu salah ketik atau tanda baca, tetapi juga memastikan bahwa ide dan pesan dalam tulisan tersampaikan dengan tepat.

Tujuan utama penyuntingan bukan hanya memperbaiki kesalahan teknis, melainkan membantu penulis menyampaikan gagasan secara lebih efektif. Karena itu, penyuntingan menuntut pemahaman terhadap isi dan konteks teks, supaya hasil akhirnya tetap akurat dan tidak melenceng dari maksud awal.

Dalam praktiknya, penyuntingan bisa dilakukan sendiri oleh penulis sebagai tahap awal, atau melibatkan editor profesional. Banyak penulis melakukan self-editing terlebih dahulu, lalu menyerahkan naskah ke editor untuk mendapatkan sudut pandang baru yang sering kali justru membuat tulisan naik kelas.

Tujuan Utama Penyuntingan

Penyuntingan memiliki beberapa tujuan penting yang saling berkaitan untuk meningkatkan kualitas tulisan, antara lain:

  • Memastikan Kejelasan Pesan
    Penyuntingan membantu mengatur struktur dan bahasa sehingga pembaca dapat memahami ide utama dengan mudah. Ini penting agar pesan yang ingin disampaikan tidak tersamarkan oleh kesalahan atau kalimat yang membingungkan.
  • Meningkatkan Profesionalisme
    Tulisan yang telah disunting dengan baik mencerminkan perhatian terhadap detail dan kredibilitas penulis, terutama dalam konteks profesional atau akademik.
  • Menyesuaikan dengan Target Audiens
    Penyuntingan menyesuaikan gaya dan isi tulisan agar sesuai dengan kebutuhan dan harapan pembaca yang dituju.
  • Mengurangi Kesalahan
    Proses ini membantu menangkap dan memperbaiki kesalahan tata bahasa, ejaan, atau fakta yang mungkin terlewat sebelumnya.
  • Meningkatkan Estetika
    Penyuntingan juga membuat teks lebih rapi, terstruktur, dan menarik secara visual dan naratif, sehingga meningkatkan pengalaman membaca.


Manfaat Penyuntingan bagi Penulis dan Pembaca

Penyuntingan memberi manfaat yang signifikan tidak hanya bagi penulis, tetapi juga pembaca serta pihak lain yang menggunakan informasi tersebut:

  • Meningkatkan Kejelasan dan Konsistensi
    Dengan penyuntingan yang tepat, ide dalam tulisan tersampaikan secara logis dan konsisten sehingga pembaca dapat memahami pesan utama tanpa hambatan. Hasilnya, tulisan akan terasa lebih halus dan mudah diikuti.
  • Mengurangi Risiko Kesalahan Informasi
    Penyuntingan membantu mendeteksi kesalahan fakta serta inkonsistensi dalam data atau pernyataan sebelum teks dipublikasikan, yang sangat penting terutama pada dokumen resmi atau ilmiah.
  • Menyesuaikan dengan Standar Profesional
    Dalam konteks bisnis maupun akademik, tulisan yang telah disunting mencerminkan citra profesional, meningkatkan peluang dokumen tersebut diterima oleh klien, penerbit, atau mitra kerja.
  • Meningkatkan Peluang Diterima
    Naskah yang melewati proses penyuntingan biasanya memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh penerbit atau lembaga karena sudah memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan.
  • Efisiensi Waktu di Masa Depan. 
    Penyuntingan yang dilakukan secara teliti sejak awal dapat mengurangi kebutuhan revisi besar di kemudian hari, sehingga menghemat waktu dan sumber daya dalam jangka panjang.


Jenis-Jenis Penyuntingan

Penyuntingan dapat dilakukan pada berbagai tingkatan dan fokus tertentu, seperti:

  • Penyuntingan Substansial – Fokus pada struktur dan alur teks.
  • Penyuntingan Tata Bahasa – Memperbaiki aspek teknis seperti ejaan, tanda baca, dan konsistensi istilah.
  • Penyuntingan Gaya – Menyesuaikan nada dan gaya penulisan agar sesuai dengan audiens.
  • Penyuntingan Teknis – Melibatkan perbaikan format dan elemen visual agar lebih menarik.


Masing-masing jenis penyuntingan memiliki peran tersendiri, dan sering kali saling melengkapi dalam satu proses yang utuh.

Kesimpulan

Penyuntingan adalah bagian integral dari proses penulisan yang tidak boleh diabaikan. Melalui penyuntingan, tulisan menjadi lebih jelas, lebih profesional, dan lebih efektif dalam menyampaikan pesan kepada pembaca.

Penyuntingan bukan hanya soal memperbaiki kesalahan, tetapi juga menyempurnakan struktur dan gaya agar tulisan benar-benar mencapai tujuan komunikasinya. Karena itu, keterlibatan penyunting yang kompeten, baik dilakukan sendiri oleh penulis maupun bersama editor profesional, merupakan langkah penting untuk menghasilkan karya berkualitas tinggi.

Cara Merawat Kulkas Agar Tetap Bersih & Hemat Energi

Di rumah, ada banyak peralatan elektronik yang membantu hidup terasa lebih mudah. Tapi kalau disuruh memilih satu yang paling berjasa dan jarang dapat pujian, saya akan menunjuk kulkas.

Bayangkan saja, kulkas bekerja tanpa henti. Siang malam menyala, menjaga bahan makanan tetap segar, menyimpan stok lauk, buah, sayur, minuman dingin, sampai es krim yang sering kali “tiba-tiba habis sendiri”.

Ironisnya, karena terlalu terbiasa, kita sering menganggap keberadaan kulkas sebagai hal yang otomatis. Padahal, kulkas juga punya batas kemampuan. Kalau tidak dirawat dengan baik, performanya bisa menurun, konsumsi listrik meningkat, dan umur pakainya jadi lebih pendek.

Merawat kulkas sebenarnya bukan soal ribet atau butuh biaya besar. Lebih ke soal kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dari situlah efek besarnya terasa.

Artikel ini membahas cara merawat kulkas dengan benar serta memberikan tips hemat listrik kulkas agar perangkat tetap awet dan efisien.

1. Rutin Membersihkan Kulkas

Salah satu langkah penting dalam cara merawat kulkas adalah menjaga kebersihannya.

Banyak orang hanya membersihkan kulkas ketika sudah tercium bau aneh atau menemukan noda yang sulit hilang. Padahal, idealnya kulkas dibersihkan secara rutin, misalnya seminggu sekali untuk lap ringan, dan sebulan sekali untuk pembersihan menyeluruh.

Yang bisa dilakukan antara lain:

  • Mengeluarkan isi kulkas terlebih dahulu agar semua sudut mudah dijangkau.
  • Membersihkan bagian dalam menggunakan kain lembut dan air hangat yang dicampur sedikit sabun.
  • Mencuci rak dan laci secara terpisah, lalu mengeringkannya sebelum dipasang kembali.
  • Menghindari cairan pembersih berbahan keras agar lapisan dalam kulkas tidak rusak.
  • Membersihkan karet pintu (gasket) karena bagian ini sering luput dari perhatian.

Gasket yang kotor atau mengeras dapat membuat pintu kulkas tidak menutup sempurna. Akibatnya, udara dingin keluar secara perlahan, dan kulkas harus bekerja ekstra untuk menjaga suhu tetap stabil.

Selain membuat kulkas lebih awet, kebersihan juga berdampak langsung pada kualitas makanan. Makanan tersimpan lebih higienis, bau tidak bercampur, dan kita pun lebih nyaman setiap kali membuka pintu kulkas.

2. Atur Suhu Optimal

Menetapkan suhu yang tepat merupakan bagian penting dari tips hemat listrik kulkas.

Sering kali kita tergoda untuk menyetel kulkas ke suhu paling dingin dengan harapan makanan lebih awet. Padahal, suhu terlalu rendah justru membuat kompresor bekerja lebih berat dan boros energi.

Sebaliknya, suhu yang terlalu hangat berisiko membuat makanan lebih cepat rusak.

Sebagai panduan umum:

  • Kulkas bagian utama berada di kisaran 3 sampai 5 derajat Celsius.
  • Freezer atau freezer box sekitar minus 18 derajat Celsius.

Dengan suhu tersebut, makanan tetap segar tanpa membebani kinerja kulkas secara berlebihan.

Beberapa kulkas modern, termasuk model dari Toshiba Indonesia, sudah dilengkapi pengaturan suhu digital. Fitur ini memudahkan pengguna menyesuaikan suhu sesuai kebutuhan, bahkan berdasarkan jenis makanan yang disimpan.

Pengaturan suhu yang tepat bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga berpengaruh besar pada efisiensi energi. 



3. Hindari Kesalahan Umum Pengguna Kulkas

Tanpa sadar, kita sering melakukan kebiasaan kecil yang ternyata berdampak besar pada kinerja kulkas.

Beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi antara lain:

  • Langsung memasukkan makanan panas ke dalam kulkas. Panas dari makanan akan menaikkan suhu di dalam kulkas sehingga kompresor harus bekerja ekstra.
  • Membuka pintu kulkas terlalu lama sambil berpikir atau memilih makanan.
  • Terlalu sering membuka tutup kulkas hanya untuk “cek isi”.
  • Menyimpan terlalu banyak barang hingga kulkas penuh sesak.
  • Meletakkan kulkas terlalu dekat dengan kompor atau area yang terkena sinar matahari langsung.

Kesalahan-kesalahan ini mungkin terlihat sepele, tetapi jika terjadi setiap hari, dampaknya terasa pada konsumsi listrik dan umur pakai kulkas.

Mulai dari hal sederhana seperti memastikan makanan sudah dingin sebelum dimasukkan dan menutup pintu kulkas dengan cepat sudah sangat membantu.

4. Tips Hemat Listrik Kulkas

Selain membersihkan dan mengatur suhu, ada beberapa kebiasaan tambahan yang bisa diterapkan agar kulkas lebih hemat energi.

Beberapa di antaranya:

  • Menggunakan kulkas dengan label hemat energi.
  • Menyusun isi kulkas dengan rapi agar sirkulasi udara tetap lancar.
  • Tidak membiarkan pintu kulkas terbuka lama.
  • Melakukan pencairan bunga es secara berkala pada kulkas manual defrost.
  • Meletakkan kulkas di area yang sejuk dan memiliki ventilasi baik.
  • Memberi jarak antara kulkas dan dinding agar panas dari belakang kulkas dapat keluar dengan optimal.

Kombinasi perawatan dan penggunaan yang tepat akan membantu kulkas bekerja lebih efisien, sekaligus menjaga tagihan listrik tetap terkendali. 

 

Kesimpulan

Cara merawat kulkas tidak sulit, tetapi membutuhkan konsistensi.

Membersihkan kulkas secara rutin, mengatur suhu optimal, menghindari kebiasaan yang membebani kinerja, serta menerapkan tips hemat listrik kulkas akan membuat peralatan ini bekerja lebih maksimal.

Pada akhirnya, merawat kulkas bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga tentang investasi jangka panjang. Kulkas menjadi lebih awet, makanan tersimpan lebih aman, dan pengeluaran listrik bisa ditekan.

Langkahnya sederhana, manfaatnya besar, dan hasilnya bisa dirasakan setiap hari di rumah.

Perbedaan Air Conditioner Standar vs Inverter: Mana yang Lebih Baik?

AC Standar vs AC Inverter: Pengalaman Memilih yang Paling Masuk Akal

Jujur saja, memilih AC itu kadang bikin pusing. Bukan cuma soal merek, tapi juga jenisnya. Di pasaran, dua tipe yang paling sering ditemui adalah AC standar dan AC inverter. Sekilas kelihatan sama, sama-sama dingin, sama-sama bikin adem. Tapi setelah saya pelajari, ternyata cara kerjanya cukup berbeda dan efeknya ke tagihan listrik juga lumayan terasa.

Makanya, memahami perbedaan AC inverter dan standar itu penting, karena dari sanalah kita bisa menentukan pilihan terbaik sesuai kebutuhan. Di artikel ini, saya akan membahas keunggulan masing-masing jenis AC, sekaligus berbagi tips memilih AC yang tepat, termasuk rekomendasi dari Midea Indonesia.

Supaya tidak salah pilih, saya rangkum perbedaan utamanya di sini.


1. Cara Kerja AC Standar vs Inverter

AC standar bekerja dengan sistem sederhana. Saat dinyalakan, kompresor langsung bekerja penuh. Ketika suhu ruangan sudah mencapai angka yang kita set, kompresor akan mati. Begitu suhu naik lagi, kompresor menyala kembali. Siklus ini terus berulang.

Masalahnya, pola mati dan nyala ini membuat konsumsi listrik jadi lebih besar. Selain itu, suhu ruangan juga kadang terasa naik turun.

Berbeda dengan AC inverter. Teknologi inverter memungkinkan kompresor bekerja lebih fleksibel. Kecepatannya bisa menyesuaikan kebutuhan. Saat ruangan sudah dingin, kompresor tidak mati, tapi melambat. Jadi tetap bekerja, hanya dengan daya yang lebih kecil.

Di sinilah salah satu perbedaan AC inverter yang paling terasa.

2. Konsumsi Listrik dan Efisiensi Energi

Buat saya pribadi, faktor listrik ini cukup krusial. Apalagi kalau AC dipakai setiap hari.

Pada perbandingan AC inverter vs standar, inverter jelas unggul dalam hal efisiensi energi. Karena tidak harus menyala dengan daya penuh terus menerus, konsumsi listriknya lebih hemat.

AC standar cenderung lebih boros karena setiap kali kompresor menyala, dayanya langsung besar.

Banyak sumber menyebutkan, penggunaan AC inverter bisa menghemat listrik sekitar 30 sampai 50 persen dibanding AC standar. Tentu saja hasilnya bisa berbeda tergantung lama pemakaian dan ukuran ruangan.



3. Suhu Ruangan dan Kenyamanan

Kalau pernah merasa ruangan tiba-tiba terlalu dingin lalu beberapa saat kemudian terasa agak hangat, itu biasanya efek dari AC standar.

Karena kompresor mati dan menyala, suhu ruangan jadi tidak benar-benar stabil.

AC inverter punya keunggulan di sini. Dengan sistem kerja yang menyesuaikan, suhu bisa dijaga lebih konsisten. Ruangan terasa sejuk merata, tanpa sensasi “kaget dingin” atau mendadak gerah.

Buat yang sensitif terhadap perubahan suhu, ini jelas jadi nilai plus.

4. Umur Pakai dan Perawatan

Secara umum, AC inverter punya potensi umur lebih panjang. Alasannya sederhana. Kompresor tidak terus dipaksa bekerja maksimal, sehingga beban kerjanya lebih ringan.

Sebaliknya, pada AC standar, kompresor sering bekerja penuh setiap kali menyala. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mempercepat keausan komponen.

Meski begitu, baik AC inverter maupun standar tetap butuh perawatan rutin. Membersihkan filter, mengecek refrigeran, dan servis berkala tetap penting supaya performa AC optimal.

Untuk urusan ini, Midea Indonesia menawarkan AC inverter dengan kualitas tinggi serta jaringan servis resmi di berbagai kota, sehingga perawatan dan perbaikan jadi lebih mudah.

5. Harga vs Investasi Jangka Panjang

Tidak bisa dipungkiri, harga awal AC standar biasanya lebih murah. Cocok untuk yang punya anggaran terbatas atau penggunaan AC yang tidak terlalu sering.

Namun kalau dihitung jangka panjang, AC inverter justru lebih masuk akal. Tagihan listrik lebih ringan, performa stabil, dan umur pakai lebih panjang. Artinya, biaya yang dikeluarkan di awal bisa terbayar seiring waktu. 

 

Kesimpulan

Memahami perbedaan AC inverter dan standar membantu kita menentukan pilihan yang lebih bijak.

Jika prioritas Anda adalah hemat listrik, suhu yang stabil, dan perangkat yang awet, AC inverter jelas lebih unggul. Sementara AC standar masih relevan untuk pemakaian sesekali atau kebutuhan dasar dengan budget terbatas.

Bagi Anda yang sedang mencari AC berkualitas untuk rumah maupun kantor, Midea Indonesia menyediakan beragam pilihan AC inverter modern dengan teknologi hemat energi, desain yang elegan, serta dukungan servis resmi. Dengan memilih AC yang tepat, ruangan jadi nyaman, tagihan listrik lebih terkendali, dan AC bisa menemani aktivitas sehari-hari dalam jangka panjang.

Tiba-Tiba ke Tanggamus, Lampung, Kondangan dan Jalan-Jalan di Musim Hujan

 

Tiba-Tiba ke Tanggamus...

Saya kadang curiga pada perjalanan yang tidak direncanakan. Biasanya, yang tidak direncanakan itu entah berujung pada kisah paling berkesan, atau paling melelahkan. Tidak jarang juga dua-duanya sekaligus. 

Maka ketika suami tiba-tiba bilang, “Kita ke Lampung, ya. Ada undangan nikah,” saya tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak mau, tapi karena otak saya sedang menghitung: Lampung itu jauh, Tanggamus itu lebih jauh lagi, dan saya ini manusia yang kalau sudah nyaman di rumah, bisa tiba-tiba merasa semua tempat di luar sana terlalu ambisius. Namun hidup, seperti biasa, punya cara sendiri untuk menyeret saya ke petualangan.

September 2025 menjadi momen kembalinya saya ke Tanggamus, Lampung, untuk kedua kalinya. Sepuluh tahun setelah kunjungan pertama pada 2015. 

Kalau setiap detik dalam satu dekade itu bisa dikonversi menjadi uang seratus ribu rupiah, mungkin saya sudah bisa membangun monumen peringatan: “Di sini berdiri seseorang yang akhirnya kembali ke Tanggamus setelah sepuluh tahun, tanpa jadi triliuner.” Sayangnya tidak. Yang ada hanya saya, sebuah tas kecil, dan satu rombongan manusia kantor yang setengah mengantuk.

Jejak pertama ke Tanggamus saat mengikuti D’Semaka Tour 2015, Alfatihah untuk alm. Elvan (berdiri paling tengah di belakang spanduk, bersyal oranye, memakai topi), staf Dispar Tanggamus yang mengundang para blogger ke Festival Teluk Semaka 2015. 

Undangan Nikah, Alasan Resmi Menjadi Turis Dadakan

Perjalanan ini bukan agenda pribadi saya, melainkan agenda sosial suami. Suami punya satu prinsip hidup yang konsisten: kalau ada anggota timnya menikah, sejauh apa pun lokasinya, ia ingin datang langsung. Katanya, doa dan kehadiran itu terasa berbeda dibanding sekadar transfer dan ucapan di grup WhatsApp. 

Saya tidak membantah. Saya hanya menambahkan dalam hati, semoga suatu hari ada yang menikah di Kanada atau Spanyol. Bukan apa-apa, saya ingin ikut suami menunaikan tugas sosial sambil jalan-jalan.

Dulu kami pernah kondangan ke Purwokerto dan Cilegon, dan waktu itu hanya kami sekeluarga: saya, suami, dan anak-anak. Kali ini berbeda. Rombongan. Satu mobil penuh. Semuanya anak muda, masih single, dan saya otomatis naik pangkat menjadi ibu yang ikut nyempil di antara anak-anak kantor.

Anehnya, saya tidak canggung. Mungkin karena usia akhirnya mengajarkan satu hal penting: tidak semua perbedaan generasi harus jadi tembok. Sebagian bisa jadi jembatan. Sebagian lagi cukup jadi bahan bercanda.

Bonusnya, saya pernah ke Tanggamus. Artinya, saya punya satu modal sosial yang cukup bergengsi: “Saya tahu dikit tempat di sana.” Dikit, tapi cukup untuk sok jadi tour guide. Saya bahagia. Akhirnya ada fungsi nyata dari memori sepuluh tahun lalu.

Rombongan yang berangkat. 1 mobil 8 orang, termasuk saya yang tidak in frame karena bagian yang pegang kamera 😂


Berangkat Malam Demi Sampai Pagi

Kami berangkat Sabtu dini hari, 20 September 2025. Harapannya, supaya bisa menyaksikan prosesi akad nikah yang akan berlangsung jam 9 pagi. Tapi misalkan gak keburu, hadir di resepsinya saja sudah cukup.

Teman-teman suami berkumpul di kantor lalu menjemput kami di BSD, dan dari situ langsung menuju Merak. Delapan orang ikut dalam perjalanan ini. Dua laki-laki duduk di depan, bergantian menyetir. Enam perempuan mengisi baris tengah dan belakang.

Barang bawaan minimalis, masing-masing satu tas pakaian untuk dua kali ganti. Rencana perjalanan pun sederhana: pergi Sabtu dini hari, pulang Minggu malam.

Saya lupa jam berapa tepatnya tiba di Pelabuhan Merak karena tidak sempat memotret apa pun sebagai penanda waktu. Foto pertama saya justru diambil saat sudah berada di kabin penumpang dek paling atas kapal, pukul 03.30 WIB. Teman-teman suami sudah dalam posisi paling nyaman versi masing-masing, lengkap dengan berbagai camilan di atas meja. 

 
Saya dan suami memilih bangku rebah seperti kursi santai di pinggir kolam. Kabin ini bersih, sofanya empuk, indoor, ber-AC, dan memiliki dinding kaca besar yang menghadap laut. 

Toiletnya juga bersih dan kering. Mushola berada di dek bawah turun satu kali, lengkap dengan tempat wudhu yang nyaman. Hal-hal kecil seperti ini sering luput dari sorotan, padahal justru di sanalah rasa syukur sering bersembunyi.

Selama penyeberangan, saya dan suami sempat tidur, lalu terbangun sekitar pukul lima untuk salat subuh. Tidak ada matahari terbit karena langit mendung. September memang sedang rajin hujan. Dan entah kenapa, semuanya terasa cocok.

Video pendek berikut ini membantu memberi gambaran suasana subuh di kapal yang kami naiki:

 
Menuju Gisting, Perut Ikut Berdebat

Kami keluar kapal sekitar pukul 05.32 WIB. Saya sempat nyeletuk soal sarapan, tetapi tidak ada yang merespons. Bukan karena jahat, lebih karena semua masih hidup setengah sadar.

Mobil langsung melaju meninggalkan pelabuhan, masuk tol, dan mengikuti arahan Google Maps menuju Tanggamus.

Saya mulai membuka peta, mencari kemungkinan tempat makan, bahkan sempat bertanya ke Mbak Alya soal rekomendasi di Bandar Lampung. Sayangnya, semangat saya tidak menular. Mobil tetap melaju lurus.

Di titik ini, saya mulai bernegosiasi dengan lambung sendiri. Sebagai pemilik maag setia, saya tahu betul tanda-tandanya.

Saya lalu menghubungi Hotel 21 Gisting. Mbak Afi memberi kabar baik: tidak ada kafe pagi, tetapi ada warung makan dekat hotel yang buka 24 jam, namanya RM Kartini. Saya langsung merasa seperti baru dikirimi oksigen.

Kami tiba di Gisting sekitar pukul sembilan pagi. Di titik itu saya sadar, perjalanan ini bukan tentang kembali setelah sekian lama, melainkan tentang diberi kesempatan untuk kembali. Dengan cara yang sederhana. Tanpa pesta. Tanpa rencana besar. Hanya dengan undangan nikah dan satu rombongan ngantuk. 

 
Sop Ayam Kampung yang Menyelamatkan Pagi

RM Kartini berada di pinggir jalan raya Gisting, dekat pertigaan menuju Hotel 21. Di bagian depan warung tertulis besar RM Kartini, lengkap dengan tulisan Terima Catering dan Sedia Paket Nasi Rp15.000. Entah kenapa, tulisan sederhana seperti itu selalu terasa jujur. Tidak banyak basa-basi. Tidak mencoba terlihat mewah. Hanya memberi tahu apa adanya.

Menu andalannya sop daging sapi dan sop ayam kampung. Tanpa banyak diskusi, semua kompak memesan sop ayam kampung, dengan tambahan terong balado, jengkol, gorengan, dan teh tawar hangat. Di titik ini, demokrasi benar-benar berjalan mulus.

Sop ayam kampungnya bukan sop yang cuma panas. Kuahnya gurih, rasanya sedap, dan ayamnya empuk. Jenis sop yang membuat orang mengangguk pelan sambil berpikir, “Oh, ini serius enak.” Saya benar-benar bahagia. Dan ya, kebahagiaan saya pagi itu bentuknya sangat sederhana.

Saya dan suami makan sekitar tujuh puluh ribuan. Perut kenyang, hati senang. Dan saya pun paham, mungkin hikmah tidak jadi sarapan di pelabuhan, juga tidak jadi mampir ke tempat-tempat yang direferensikan oleh Mbak Alya, adalah agar saya bisa bertemu sop ayam kampung ini. Hidup memang suka bercanda. Kadang juga cukup tahu diri.

Video pendek berikut ini saat kami makan di RM Kartini, Gisting. Penampakan sop ayam kampung yang saya maksud, lebih terlihat di video ini:

 


Hotel 21 Gisting, Si Aman di Antara Review Aneh

Hotel tempat kami menginap saya temukan lewat pencarian Google. Jujur saja, proses memilih hotel di daerah yang tidak terlalu sering saya kunjungi rasanya seperti main tebak-tebakan nasib. 

Dari sekitar empat hotel yang saya cek, tiga di antaranya punya ulasan yang bikin dahi otomatis berkerut. Mulai dari cerita penipuan, staf yang kasar, kesan angker, sampai kamar yang digambarkan seperti gudang. Bukan tipe pengalaman yang ingin saya bawa pulang dari perjalanan singkat ini.  

Di tengah lautan review yang meresahkan itu, hanya satu hotel yang terlihat “aman”. Tidak ada puja-puji berlebihan, tapi juga tidak ada keluhan serius. Namanya Hotel 21 Gisting. 

Hotel 21 Gisting

Kamar type deluxe di lantai 2 yang saya tempati bersama suami

Saya lalu mengonfirmasi ke Mbak Alya, teman saya yang bekerja di Dinas Pariwisata Provinsi Lampung. Ternyata beliau sudah beberapa kali menginap di sana dan selalu menjadikannya pilihan saat ada tugas di Gisting. Dari situ, keraguan saya langsung luruh.

Yang bikin saya makin mantap, respons dari pihak hotel cepat dan jelas. Setiap pertanyaan dijawab dengan lancar, komunikasinya enak, dan tidak ribet.

Saya lalu menyampaikan info hotel ini ke suami, karena proses pemesanan akan dilakukan oleh pihak kantor. Seluruh biaya perjalanan, terutama transportasi dan penginapan, memang ditanggung kantor. Kami hanya mengeluarkan uang untuk makan masing-masing. Meski begitu, saya tetap berkomunikasi langsung dengan pihak hotel untuk berbagai keperluan selama menginap.

Kamar type Standar di lantai 2 

Hotel 21 Gisting ternyata cukup besar, berlantai tiga, meski belum dilengkapi lift. Kami mendapatkan kamar di lantai dua, masih dalam batas toleransi napas. 

Stafnya ramah dan membantu, terutama Mbak Afi yang sejak awal komunikasinya terasa hangat. Tidak diminta DP, cukup bayar saat tiba. Bahkan beliau juga yang merekomendasikan RM Kartini sebagai tempat sarapan, yang pada akhirnya benar-benar menyelamatkan pagi kami.

Kamar yang saya tempati bersih dan nyaman. Ada AC, water heater, dan balkon kecil. Saat cuaca cerah, Gunung Tanggamus terlihat jelas dari balkon kamar. Hotel ini bukan tipe hotel mewah ala kota besar, tetapi suasananya tenang dan membuat betah. 

Detail lengkap tentang Hotel 21 Gisting akan saya tulis di postingan terpisah, karena rasanya layak mendapat ruang cerita sendiri.

View Gunung Tanggamus dari balkon kamar

Kondangan di Tengah Hujan dan Sambutan Hangat

Setelah sarapan dan check-in, kami langsung bersiap menuju lokasi kondangan. Mandi, berganti pakaian, lalu berangkat. Jarak dari hotel ke tempat acara tidak terlalu jauh, berada di kawasan Gisting Permai, sehingga perjalanan terasa singkat. 

Perjalanan ke lokasi kondangan ini akan melewati objek wisata air terjun Way Lalaan. Salah satu objek wisata yang pernah saya kunjungi 10 tahun yang lalu. Ceritanya dapat dibaca di sini: Air Terjun Way Lalaan Tanggamus.

Cuaca masih hujan gerimis. Sejak keluar hotel, selama di lokasi acara, sampai nanti pulang kembali, hujan seolah setia menemani. Udara pegunungan yang memang sudah dingin bertemu dengan air hujan, membuat suhu terasa semakin menusuk. Namun dingin itu langsung terkalahkan begitu kami tiba di tempat hajatan.

Sambutan ramah, senyum yang tulus, dan sapa yang sopan dari tuan rumah membuat hati terasa hangat. Anggota tim suami yang menikah adalah pihak laki-laki, sementara acara berlangsung di tempat keluarga mempelai perempuan. 

Pengantin pria tampak terkejut melihat kami datang berombongan dari tempat yang cukup jauh. Ekspresi bahagianya terlihat jelas, dan kami dipersilakan duduk di area tamu khusus.

Keluarga pihak perempuan menyuguhkan berbagai hidangan khas Lampung. Meja penuh dengan makanan dan minuman, dan kami diminta mencicipinya. Tak ketinggalan kopi asli Lampung yang dibuat secara tradisional, jadi suguhan paling nikmat di meja tamu kondangan. 

Di sesi hiburan, beberapa teman suami naik ke panggung untuk bernyanyi, menambah suasana meriah dan memberi suka cita bagi kedua mempelai.

Bagi saya, momen ini terasa istimewa. Bisa ikut suami mendoakan langsung pengantin, menyaksikan resepsi pernikahan adat Lampung, sekaligus mencicipi makanan khasnya. 

Di akhir acara, suami dan teman-temannya mengajak pengantin berfoto. Saya ikut berdiri di sana, ikut mengabadikan jejak kecil dari perjalanan ini.

Saat kami pamit, hujan masih turun. Kami bergegas kembali ke mobil, lalu menuju hotel untuk beristirahat. Rencana selanjutnya, sore hari kami akan keluar lagi. Kali ini, bergeser dari suasana hajatan ke suasana laut.

Happy wedding Mas F.

Mengejar Senja di Pelabuhan Ikan Kota Agung

Sore itu teman-teman mudaku ngajak ke pantai, siapa tahu bisa melihat sunset. Saya langsung curiga. Bukan karena tidak percaya pada konsep senja, tapi karena hujan sejak siang seperti sudah menandatangani kontrak kerja lembur sampai malam. 

Namun manusia, seperti biasa, tetap memelihara harapan, walau tahu harapan itu sering kali hobi menghilang tanpa pamit. Maka ajakan jalan ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung itu saya iyakan, meski dengan penuh optimisme palsu. Bukan soal sunset. Lebih ke soal: daripada terdampar di kamar hotel sambil menatap tembok, lebih baik keluar badan sedikit sambil menatap laut.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Suami memilih tinggal. Bukan karena tidak cinta pantai, melainkan karena cinta yang lebih besar kepada internet stabil. Ada meeting online dengan pak direktur utama, dan di zaman modern ini, hubungan manusia dengan sinyal lebih sakral daripada hubungan jarak jauh. Kamar hotel menyediakan kenyamanan: meja, colokan, WiFi kencang, dan suasana minim drama. 

Sementara saya memilih drama versi jalanan. Maka kami bertujuh berangkat pukul empat sore, di bawah gerimis yang tampak tidak punya niat berhenti.

Pelabuhan Ikan Kota Agung - Sept 2025

Perjalanan dari Hotel 21 Gisting ke Pelabuhan Perikanan Kota Agung sekitar dua puluh tiga kilometer. Kedengarannya sebentar, sampai kamu benar-benar melaluinya. 

Jalanan menanjak, menurun, berkelok, licin, dan dihiasi desa-desa sunyi yang membuat jam biologis merasa sudah magrib sejak sore. Rasanya seperti sedang menyusuri lereng gunung menuju dunia paralel. 

Sesekali papasan dengan motor, mobil, atau truk, dan setiap papasan terasa seperti pengingat lembut dari semesta: “Pelan-pelan saja, hidup ini tidak perlu diburu-buru, kecuali kalau mau celaka.”

Pelabuhan Ikan Kota Agung - November 2015. Dalam jepretan saya : Alm. Mas Elvan. Alfatihah buat beliau.

 
Di tengah perjalanan itu, ingatan saya mendadak meloncat sepuluh tahun ke belakang. Suatu pagi di tempat yang sama, bersama Mbak Evi, Mas Elvan, Mas Banu, Mas Ito, dan Agung. 

Pelabuhan yang ramai, ikan-ikan segar menumpuk ratusan kilogram, orang-orang datang dan pergi dengan mata berbinar, aroma amis menguasai udara seperti parfum resmi kawasan pesisir. Dulu, pelabuhan ini terasa hidup, bising, dan penuh energi. 

Sekarang, saya datang sebagai versi diri yang lebih tua, lebih sering pegal, dan lebih gampang terharu oleh hal-hal sepele.

Seperti inilah suasana pagi di Pelabuhan Ikan Kota Agung yang saya jepret pada 21 November 2015
 

UPTD Pelabuhan Perikanan Kota Agung, yang berada di Kelurahan Pasar Madang, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung, adalah pusat kegiatan perikanan utama di kawasan Teluk Semaka. 

Di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, tempat ini melayani tambat labuh kapal, bongkar muat hasil tangkapan, hingga operasional Tempat Pelelangan Ikan Higienis. 

Informasi ini terdengar sangat resmi, seperti brosur pemerintah. Realitanya, bagi saya sore itu, pelabuhan adalah ruang pertemuan antara laut, manusia, dan harapan yang kadang terlalu tinggi, seperti mimpi melihat sunset di musim hujan.

Kunjungan pertama saya ke pelabuhan ini pada tahun 2015 dapat dibaca di sini: Melihat Lelang Ikan di Pelabuhan Kota Agung

Dulu pas ke sini pagi, dapat sunrise. Kali ini ke sini sore, gak dapat sunset.
 

Kami berjalan di jembatan dermaga, menatap perahu-perahu yang diam, juga nelayan yang sibuk bersiap ke laut. Anak-anak kecil berenang di sekitar dermaga, menunggu koin dilempar seperti sedang bermain undian nasib. 

Saya berdiri, memotret, sambil berpikir betapa sejak dulu sampai sekarang, manusia tetap saja sama: berharap pada lemparan kecil yang mungkin mengubah sore mereka. 

Kami foto-foto, lalu jajan di deretan pedagang pinggir pantai. Dimsum, sate bakso, mochi, dan entah apa lagi, karena perut lebih demokratis daripada pikiran. Semua diterima.

Suasana pinggir pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung, Sabtu 20 September 2025

 
Langit sempat memberi sedikit cahaya, seperti teaser film yang ternyata tidak jadi tayang. Sebentar terang, lalu redup lagi. Sunset resmi absen tanpa pemberitahuan. Tidak ada pengumuman, tidak ada permintaan maaf. Hanya langit kelabu yang konsisten dengan pendiriannya. 

Tak lama kemudian, adzan magrib berkumandang. Itu semacam kode halus dari alam semesta bahwa acara mengejar senja sudah selesai, saatnya pulang.

Kami kembali menembus hujan dan jalanan licin. Kali ini terasa lebih horor, mungkin karena gelap, mungkin karena lelah, mungkin karena perasaan bahwa manusia memang suka menantang logika demi sebuah “jalan-jalan sore”. Tujuan kami bukan hotel, melainkan Mauna Café. Tempat untuk salat, makan malam, dan menenangkan diri seolah perjalanan barusan adalah hal yang sepenuhnya normal.

Video Reels berikut memberi gambaran suasana pantai Pelabuhan Ikan Kota Agung sore itu:

Di perjalanan pulang, saya merenung. Kami tidak mendapat sunset. Tidak ada panorama dramatis untuk dipamerkan. Tidak ada langit jingga untuk dijadikan latar foto profil. 

Yang ada hanya hujan, jalan berkelok, jajanan pinggir pantai, bayang hitam puncak Gunung Tanggamus yang tampak mistis, dan tawa kecil di antara lelah. 

Tapi mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia jarang memberi apa yang kita kejar, tapi sering memberi apa yang sebenarnya kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah kita bepergian untuk mengoleksi pemandangan, atau untuk mengoleksi versi-versi kecil dari diri kita yang terus berubah di sepanjang jalan?

Dalam video pendek berikut, ada beberapa jajanan yang kami temui di pinggir pantai pelabuhan ikan:



Suasana perjalanan pergi dan pulang dari Gisting menuju Pelabuhan Ikan Kota Agung saya rekam dalam video pendek berikut. Hujan, jalan basah, dan siluet gunung terus hadir mengisi pandang mata:
 

Makan Malam di Mauna Café Gisting

Jalan bareng anak-anak muda itu ada efek sampingnya. Bukan bikin kulit ikut kencang, tapi bikin jiwa sok merasa kencang. Sebagai yang paling senior sekaligus berstatus “ibunya rombongan”, saya memilih strategi aman: ikut saja ke mana mereka mau pergi. 

Termasuk ketika urusan makan malam dan mereka menemukan satu nama: Mauna Café. Saya oke saja. Selera makan mereka biasanya tidak ribet dan, jujur saja, saya merasa apa pun pilihannya akan baik-baik saja.

 
Mencari Mauna Café ternyata juga semacam ujian iman kecil. Google Maps mengajak masuk ke kawasan perumahan, belok-belok, lalu muncul rasa ragu khas manusia modern: ini beneran atau sedang dibawa ke jalan buntu kehidupan. Ternyata benar sampai. 

Dan lebih mengejutkan lagi, di tengah perumahan ada kafe yang cukup layak disebut “niat”. Ada area terbuka di tengah, panggung live music, kolam, taman, musala, sampai parkiran. Rasanya seperti menemukan oase kecil yang nyasar ke lingkungan warga.

Menu makanannya variatif. Dari yang kekinian ala barat sampai menu tradisional Indonesia. Saya sendiri sempat blank soal detailnya, sampai akhirnya harus membuka Instagram mereka, @mauna_goodplace, demi mengingat ulang. Dan oh iya, malam itu saya makan ngaliwet. Hangat, sederhana, dan entah kenapa terasa pas setelah seharian pindah lokasi seperti pion catur. Kami salat magrib di sini, menikmati live music yang mengiringi udara malam yang dingin. Lalu saya teringat satu hal penting: suami di hotel.

Video pendek berikut, sedikit dokumentasi suasana Mauna Cafe malam itu:

Demi cinta dan tanggung jawab domestik, saya pun mengingatkan teman-teman suami agar tidak terlalu lama nongkrong. Alasannya mulia: paksu bisa kelaparan. Mereka paham. Kami bergegas pulang, tentu saja dengan ritual wajib mampir minimarket untuk beli camilan. Karena dalam hidup, snack adalah bentuk asuransi kebahagiaan.

Sampai hotel, suami sudah menunggu dengan ekspresi lapar yang masih bisa ditoleransi, berkat stok snack di kamar. Makanan dari Mauna Café pun langsung mendarat dengan selamat. 

Malam ditutup dengan obrolan ringan di chat WA dan konfirmasi sarapan besok pagi. Ternyata bisa diantar ke kamar. Tinggal pilih nasi uduk, nasi kuning, mi goreng, atau nasi goreng. Minumnya teh atau kopi. Dan ya, kopi Lampungnya enak. Ini penting untuk dicatat, demi keadilan rasa. 

Anak-anak cantik dan ganteng

Ibu kucing cantik yang sedang hamil yang menemani selama makan di Mauna Cafe
 
Cerita perjalanan hari pertama di Lampung selesai sampai di sini.

Saya mencoba mengingat ulang hari itu. Sabtu, 20 September 2025. Sejak tengah malam berangkat dari BSD, menyeberang dari Merak ke Bakauheni, pagi tiba di Lampung, lanjut ke Tanggamus, kondangan, istirahat, sore ke Pelabuhan Ikan Kota Agung, malam di Mauna Café, lalu tidur di hotel yang nyaman walau tidak mewah. Padat, melelahkan, tapi entah kenapa terasa cukup.

Mungkin memang begitu cara perjalanan bekerja. Ia tidak selalu memberi apa yang kita rencanakan, tapi sering menghadirkan apa yang diam-diam kita butuhkan.

Minggu pagi, 21 Sept 2025. Siap untuk perjalanan ke TN. Way Kambas di Lampung Timur
 
Besoknya, Minggu 21 September, kami bersiap menuju Way Kambas, Lampung Timur, untuk melihat gajah. Cerita itu akan saya simpan di tulisan lain. 

Untuk sekarang, saya cuma ingin bertanya pelan pada diri sendiri, dan mungkin juga pada kamu yang membaca: sebenarnya, dalam perjalanan seperti ini, yang paling kita cari itu tempat baru, atau versi baru dari diri kita sendiri? 

Terima kasih mas suami dan teman-teman muda yang telah membawa serta saya dalam perjalanan ini. Senang bepergian bersama kalian 💖