Masjid Ramlie Musofa, Monumen Cinta Sejati yang Menggetarkan Hati

13.16
Masjid Ramlie Musofa Jakarta Utara – Akhirnya rasa penasaranku pada penampakan masjid dalam video klip adzan magrib di TV Indosiar terjawab. Masjid megah menyerupai Taj Mahal dalam video adzan tersebut ternyata bernama Ramlie Musofa, terletak di sisi Danau Sunter, Tanjung Priok, Jakarta Utara.  
Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara
Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara 

Wedding Anniversary

Suatu hari di minggu ke-4 bulan Juni 2018, suami bertanya padaku; “Masjid yang bikin mama penasaran itu adalah monumen cinta seorang Ramlie Rasidin. Mau tahu ceritanya nggak?” 

“Iya, aku mau!” 

“Nanti, pas peringatan hari perkawinan kita ke-16 kita cari tahu di sana,” lanjutnya.

Dialog tersebut menjadi awal cerita kunjunganku ke Masjid Ramlie Musofa. Terlepas dari rasa penasaran yang ada, ajakan itu kusambut dengan suka cita karena niat suami mengajakku ke sana untuk suatu alasan; merayakan suka cita atas usia perkawinan kami. Aku gembira!

Bahagiaku mungkin teramat receh. Diajak ke masjid di Jakarta saja, bukan masjid megah di luar negeri, apalagi di Mekkah, rasa senangku bukan kepalang. Bagaimana jika nanti pergi berdua beribadah (sambil memperingati hari perkawinan) di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram? Bisa menjulang tinggi girangku.  

Tepat di ujung bulan Juni kami berangkat. Anak-anak kami bawa serta agar kebahagiaan makin sempurna, sebab merekalah anugerah terindah dalam kehidupan cinta kami. “Ini hari bersejarah mama dan papa, kita jalan-jalannya ke masjid.” Aku menekankan kata ‘masjid’, agar mereka paham ini bukan jalan-jalan mahal, atau jajan-jajan mewah, tapi jalan-jalan yang insha Allah bermakna. 

Tak ada sanggahan. Semua ikut berangkat tanpa rasa enggan.

Lantas, ada makna apa di balik kunjungan ke ‘monumen cinta” tepat di hari perkawinan kami ke-16 ini?  


Baca juga: Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi
Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara
Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara 

 Lokasi Masjid Dekat Danau Sunter yang Terkenal

Untuk merayakan hari spesial, kami tak melakukan persiapan khusus. Aku hanya menyampaikan ajakan untuk mengenakan busana bernuansa putih. Dan aku senang, suami dan anak-anak tak ada yang menolak. Bahkan di luar sangkaku, kami berempat kompak bergamis putih-putih! Berasa jamaah apa gitu. 

Masjid Ramlie Musofa terletak di kawasan perumahan Jalan Danau Sunter Raya Selatan Blok I/10 12C-14A, Jakarta Utara. Untuk mencapainya, kami berkendara mobil dari BSD City, Serpong, Tangerang Selatan. 

Rute yang kami tempuh lewat jalan tol Serpong Bintaro - tol bandara Soeta - tol Tanjung Priuk - Ancol. Dari Ancol kami tinggal mengikuti petunjuk Google Map menuju Danau Sunter Selatan. Sebetulnya, tanpa mengandalkan Google Map Insha Allah bisa sampai, Mas Arif hafal daerah sana. 

Arah ke Ancol bisa jadi patokan jika naik kendaraan umum. Bila menggunakan taksi (konvensional/online), tinggal tap Masjid Ramli Musofa. Biasanya di map langsung muncul komplek perumahan dekat Danau Sunter. Karena danau ini terkenal, lokasinya sangat mudah untuk dicari.

Jika sudah berada di Jalan Danau Sunter, tinggal tolehkan pandangan ke sebelah kiri (posisi danau di sebelah kanan). Letak masjid berada di tengah perumahan, sangat mudah ditemukan karena bangunannya unik mirip Taj Mahal di India.  
Baca juga: Masjid Islamic Center Samarinda
Parkiran luar depan masjid


Gratis Masuk dan Parkir di Masjid Ramlie Musofa

Hari masih cukup pagi ketika kami sampai di Masjid Ramlie Musofa. Area depan bagian luar masjid masih kosong. Kami langsung memilih tempat parkir yang paling strategis; dekat jalan. Kata Mas Arif, biar mudah keluarnya.

Lahan parkir Masjid Ramlie Musofa sangat terbatas. Bagian luar depan masjid yang berbatasan langsung dengan jalan raya hanya bisa ditempati sekitar 6-7 mobil. Itu pun berbagi tempat dengan motor. 

Danau Sunter hanya berjarak sekitar 20 meter dari depan masjid. Saat mengarahkan pandangan ke danau, terlihat olehku ramai orang sedang berolahraga. Ada yang bersepeda, jalan kaki, dan berlari. Beberapa orang duduk-duduk, memandangi permukaan air danau yang  berkilau memantulkan cahaya matahari pagi yang tumpah. 

Kembali ke masjid, ada dua gerbang besar di sisi paling kiri dan paling kanan. Masing-masing berfungsi sebagai tempat masuk dan keluar mobil. Jadi, bila masuk bukan berarti boleh parkir di dalam, hanya sebagai tempat untuk menurunkan dan menaikkan pengunjung saja. 

Tidak ada tiket masuk masjid yang harus dibayar. Tidak ada pula biaya parkir bagi yang membawa kendaraan. Meski begitu, kendaraan Insha Allah aman karena tetap dalam pengawasan petugas keamanan masjid.  
Baca juga: Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri Depok
Pintu masuk komplek masjid

“Assalamualaikum akhi, Allahu Akbar!” 

Salam ramah disertai takbir penuh semangat terucap kencang dari seorang security di gerbang. Ucapan itu ditujukan kepada suamiku yang berjalan paling depan, saat kami mulai memasuki halaman masjid. Aku menoleh kaget. Kukira ada laskar apa gitu yang sedang lewat. Ternyata sapaan itu ditujukan untuk kami. 

Hmmm… mungkin karena kostum gamis serba putih membuat kami disapa sedahsyat itu. Sebab kuperhatikan, pengunjung lain yang datang setelah kami, tak disapa pakai takbir segala 😂

Kompak bergamis 😄

Monumen Cinta Inspirasi dari Taj Mahal 

Tampilan asli Masjid Ramlie Musofa jauh lebih mengesankan dari yang aku lihat di TV. Keunikan bentuk bangunannya yang dominan berwarna putih, serta ukurannya yang lebih besar dibanding rumah-rumah elit di sekitarnya, langsung mencuri perhatian mata.

Satu hal yang pasti, melihat Masjid Ramlie Musofa pertama kali, ingatanku langsung tertuju pada Taj Mahal, satu dari tujuh keajaiban dunia yang berada di India. Seperti diketahui oleh banyak orang di dunia, Taj Mahal adalah monumen lambang cinta seorang raja terhadap istrinya. Kisah berdirinya Taj Mahal inilah yang menjadi inspirasi berdirinya Masjid Ramlie Musofa. 

Sang pendiri masjid yaitu Haji Ramli Rasidin, mendirikan Masjid Ramlie Musofa sebagai monumen cintanya. Pertama, cinta terhadap Allah SWT. Kedua, terhadap Islam. Ketiga, terhadap keluarga. 

Monumen cinta berbentuk masjid, bukankah itu mengagumkan? Pendirinya sudah tentu berharap agar masjid tetap abadi seperti Taj Mahal dan dipenuhi jamaah sepanjang masa. 

Sebuah filosofi cinta nan indah di balik Masjid Ramlie Musofa. Aku jadi penasaran untuk mengenal sosok pendirinya, Ramli Rasidin.  

monumen cinta kepada tuhan
Sekilas mirip Taj Mahal, Monumen cinta sang raja kepada istrinya


Arti Nama Ramli Musofa

Ramlie Musofa. Nama yang terdengar Islami. Apakah nama seseorang? 

Nama Ramlie Musofa yang dilekatkan sebagai nama masjid berasal dari inisial keluarga pendirinya, yaitu Ra untuk Ramli Rasidin dan Lie untuk nama sang istri, Lie Njok Kim. Sementara itu untuk Mu berasal dari nama Muhammad anak pertama Ramli, So dari Sofian anak kedua, dan Fa dari kata Fabian, nama anak ketiga.

Di masjid ini, nama Ramli Musofa ditulis dalam dua jenis aksara, yaitu aksara latin dan aksara Mandarin. Huruf Mandarin tersebut tersebut sesuai dengan latar belakang pendirinya yang merupakan keturunan Tionghoa.  

Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara
Ornamen masjid kombinasi budaya Cina, Arab, Melayu

Aku tertarik menyimak latar belakang Haji Ramli Rasidin, sang pendiri masjid. Sayangnya saat di sana, tak kujumpai Pak Sofian (anak Haji Ramli) yang biasanya jadi narasumber bila ada pengunjung yang ingin mencari tahu lebih dalam tentang sejarah masjid. Mungkin harus bikin janji temu dulu supaya bisa diwawancara. 

Aku hanya bisa mengorek sedikit informasi ke pekerja yang kujumpai di dalam masjid dan seorang petugas keamanan yang berjaga di pintu gerbang. Sisanya aku baca-baca di berbagai sumber.

Disebutkan bahwa Haji Ramli adalah seorang mualaf Indonesia keturunan Tionghoa asal Aceh yang merantau ke Jakarta pada awal 1970-an. Sewaktu di Aceh, keluarga Haji Ramli sudah terbiasa dengan lingkungan yang Islami. Ia bersama anak-anaknya, kakek dan buyutnya semua lahir di Aceh. Dulu ayah Ramli punya 13 usaha di Aceh, tapi kemudian bangkrut. Setelah itu Ramli pindah ke Jakarta bersama keluarganya, dan 4 kali juga bangkrut. Kemudahan dari Allah SWT baru ada pada usahanya yang terakhir, sampai sekarang. 

Masjid Ramlie Musofa, Danau Sunter, Jakarta Utara
Pengunjung Masjid Ramlie Musofa

Mimpi Indah Seorang Mualaf Tionghoa Setelah 40 tahun

Bermimpilah setinggi mungkin, dan bersabarlah dalam menggapainya. 

Takjub rasa hati saat tahu Masjid Ramlie Musofa adalah wujud mimpi Haji Ramli selama 40 tahun. Mimpi yang dibuat sejak beliau mulai memeluk Islam. Bagi kaum tak berharta berlimpah sepertiku, mimpi seperti itu seolah abadi sebatas mimpi.

Kekuatan niat menemukan wujudnya. Pada tahun 2011 pemasangan pancang pertama Masjid Ramli Musofa mulai dilakukan. Pembangunan berjalan lancar pada awalnya, lalu sempat terkendala sekitar 2 tahun. Berkat kuasaNYA akhirnya pembangunan selesai, masjid megah pun berdiri, kemudian diresmikan oleh Prof Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal) dan H Ramli Musofa pada tanggal 15 Mei 2016. 

Berkunjung bersama keluarga

Untuk Beribadah dan Membimbing Para Mualaf

Sebagaimana umumnya tujuan masjid dibangun adalah sebagai tempat untuk beribadah, tempat belajar ilmu agama, mengkaji Al-Quran, silaturahmi, dan berbagai kegiatan keislaman lainnya. Masjid Ramli juga memiliki tujuan mulia lainnya, yaitu sebagai tempat untuk membimbing mualaf-mualaf yang baru masuk Islam, serta sebagai salah satu destinasi alternatif dalam berwisata religi.

Sebagai masjid yang kini telah menjadi salah satu objek wisata, Masjid Ramli Musofa sangat terbuka kepada siapa pun yang ingin berkunjung, termasuk pengunjung beragama lain, atau pun pemuka agama lain untuk tujuan silaturahim. 

Biasanya, aktivitas mengambil foto atau berfoto di masjid, banyak dilakukan di tengah kegiatan berkunjung. Keindahan arsitektur masjid menjadi alasan untuk mengabadikannya dalam lensa kamera.

Perihal pengambilan gambar ini, tidak ada larangan dari pihak pengelola. Asalkan menyesuaikan keadaan. Misalnya, saat kegiatan ibadah salat, atau sedang ada pengajian, tentunya harus dihentikan dulu. Supaya jamaah bisa khusuk. Di luar itu, bebas saja. 

Buat yang ingin berkunjung ke Masjid Ramlie Musofa, jadwal buka masjid setiap hari sejak waktu Subuh hingga malam hari sekira pukul 21:30 WIB.  

Ruang salat utama

Arsitektur Indah Kombinasi Tiga Budaya

Taj Mahal memang menjadi inspirasi dari konsep desain masjid Ramlie Musofa. Namun sesungguhnya, arsitekturnya yang unik, serta keindahan ornamen pada masjid merupakan kombinasi tiga budaya yaitu Melayu, Arab dan Cina. 

Inspirasi budaya Arab didapatkan oleh Haji Ramli dan keluarganya saat melakukan umrah dan berjalan- jalan ke Masjid Nabawi di Madinah. Beberapa detail dari masjid di sana mereka potret, lalu ditunjukkan kepada arsitek Julius Danu yang non-Muslim, untuk kemudian diterapkan dalam desain masjid.

Selain konsep desain dan arsitektur yang serba menarik, penggunaan bahan dan material pun dipilih yang terbaik. Tak ada informasi yang menyebutkan berapa banyak biaya yang dihabiskan untuk membangun masjid. Haji Ramli memang tidak pernah mengungkapkannya. Mungkin memang demikian keinginan Haji Ramli demi menghindari riya. Karena sejatinya niat membangun masjid hanya untuk Allah SWT. Dari Allah, untuk Allah, dan kepada Allah SWT. 

Ukiran di salah satu pintu masjid

Aksara Cina dan Ukiran Tiga Bahasa Surah Al-Quran

Selain arsitektur yang menyerupai Taj Mahal, Masjid Ramlie Musofa mempunyai keunikan lain yaitu adanya kaligrafi surat Al Quran di dinding-dindingnya. Uniknya, surat tersebut dipahat dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Mandarin. 

Aksara Cina dihadirkan untuk menandakan bahwa masjid tersebut didirikan oleh keturunan Tionghoa. Keberadaan aksara Cina surat Al Quran berbahasa Mandarin juga ditujukan memudahkan turis asal Cina yang ingin memahami Islam.  

Surah Al-Qariah dipahat di tembok pagar bagian depan masjid

Di hadapan masjid, bagian luar dekat pangkal tangga, ada guratan potongan ayat Surah al- Qari'ah dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. Sedangkan di sisi kanan dan kiri tangga utama, tergurat surah Al-Fatihah, juga dalam tiga bahasa: Arab, terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin. 

Ada makna tersendiri dari penempatan kedua surat tersebut. Surah Al-Qari'ah untuk mengingatkan bahwa akhirat itu benar adanya. Manusia diperintah untuk berbuat baik selagi ada waktu di dunia. Sedangkan surah Al-Fatihah bermakna sebagai pengingat pada doa mohon petunjuk jalan yang lurus, ihdina ash- shiraat al-mustaqim (Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus). 

Surat Al Fatihah di gurat di dinding kiri dan kanan tangga

Fasilitas Masjid Penunjang Kegiatan Ibadah

Masjid Ramli Musofa berdiri di lahan seluas 2.000 meter persegi. Memiliki tinggi sekitar 30 meter, terdiri atas tiga tingkat. Sebagai tempat ibadah dan juga tujuan wisata religi, masjid ini telah memiliki sejumlah fasilitas memadai, terutama yang ditujukan sebagai penunjang kegiatan ibadah seperti ruang salat, tempat wudhu, toilet, tangga, dan lift.

Ruang utama untuk shalat terletak di lantai dua. Untuk mencapainya, ada tangga utama di bagian depan masjid. Bagi lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas bisa menggunakan lift. Kadang di waktu hujan tangga menjadi basah, sehingga dikhawatirkan terpeleset bila ada ibu-ibu hamil yang akan memasuki masjid. 



Selain 2 lift, pengelola masjid juga menyediakan toilet khusus bagi penyandang disabilitas baik laki-laki maupun perempuan. Fasilitas tempat wudhu yang begitu nyaman terletak tak jauh dari pintu masuk masjid. Dindingnya dihiasi dengan gambar langkah-langkah berwudhu yang benar mulai dari niat, doa sebelum berwudhu, tata cara hingga doa setelah wudhu. Uniknya, langkah-langkah berwudhu ini selain berbahasa Indonesia, juga tertulis dengan huruf Mandarin dan Arab. 

Bedug Masjid Ramlie Musofa

Balkon lantai 2 Masjid Ramlie Musofa

Di bagian depan di lantai 2 masjid,  terdapat bedug berukuran cukup besar yang dipukul setiap sebelum adzan.

Jajaran lampu pijar membuat bangunan masjid makin memperlihatkan kecantikannya, ditambah lagi kubah berukuran besar yang dikelilingi sejumlah tiang-tiang kecil yang bertuliskan Allah dengan tulisan Arab saat memasuki ruang salat. 





Acara Pernikahan di Masjid Ramlie Musofa

Kunjungan kami ke Masjid Musofa bersamaan dengan berlangsungnya acara pernikahan. Itu sebabnya ketika sampai kami tidak langsung masuk ke dalam ruang salat utama, melainkan berkeliling di lantai 2 masjid, melihat-lihat dan mengambil foto. Banyak keluarga dan tamu mempelai yang hadir. Mereka tampak lalu lalang dengan busana muslim yang rapi.  Beberapa mengenakan baju seragam, mungkin keluarga mempelai.

Dari pintu-pintu besar di sekeliling masjid, juga dari jendela-jendela yang terbuka, kami sesekali mengintip acara yang berjalan khidmat tersebut. Bahkan secara tak sengaja, ketika berdiri di balkon bagian depan, sang pengantin wanitanya tampak sedang ‘disembunyikan’ dalam salah satu ruang. Mungkin baru keluar setelah akad selesai. 

Pengantin

Ada rasa haru yang membuat mataku berkaca-kaca ketika mendengar ijab kabul diucapkan. Ada rasa syahdu ketika doa-doa dan lantunan ayat suci dibacakan. Ada semacam rindu yang bertalu-talu....

Jadi terkenang 16 tahun yang lalu, di hari yang sama, saat aku dan suami mengikat janji sehidup semati dalam pernikahan yang sah. Dan hari ini, kami datang memperingati hari jadi itu. 

Di masjid ini, siapa saja boleh mengadakan acara pernikahan, gratis tak dipungut bayaran. Pengelola hanya menyediakan kotak amal, tempat menaruh sedekah untuk kegiatan ibadah atau pun perawatan masjid. Jumlahnya bebas, tidak ditentukan. Semacam sumbangan sukarela saja.  

Seusai gelaran akad nikah

Foto bersama para keluarga pengantin

Monumen Cinta Untuk Tuhan, Agama, dan Keluarga

Masjid Ramlie Musofa, sebuah monumen cinta yang diawali dari mimpi, demi cinta kepada Allah SWT, Islam, dan keluarga. 

Bila sedang ingin mendekatkan diri pada Tuhan, melepaskan kepenatan dan kejenuhan, menambah ilmu pengetahuan, serta meningkatkan kualitas diri, mengunjungi objek wisata religi seperti Masjid Ramlie Musofa ini bisa menjadi pilihan yang baik. 

Masjid ini jadi pengingat yang indah tentang makna cinta sejati. Sebuah rumah tempat ibadah yang mengajak siapapun untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT sambil memanjatkan doa dan mengingat hari akhir.  

Dari seorang mualaf kita diingatkan bahwa Islam itu mengajarkan kebaikan, mengajarkan kedamaian, memperingatkan tentang adanya hari akhir.

Masjid Ramlie Musofa monumen cinta taj mahal
Monumen cinta yang indah 💗

Dan aku mengerti kenapa suami mengajakku dan anak-anak kemari. Ada makna cinta yang ingin ia ungkapkan secara tersirat.

Tentang cintanya pada Tuhan, Islam, dan keluarga.

Monumen itu terpancang dalam jiwanya. 

💗


30 Juni 2018
Foto-foto dokumentasi pribadi Katerina & Arif.

Share this

Indonesian Travel Blogger 

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
31 Oktober 2018 14.23 delete

Indaaahhh bgt mbak Rien.
So lovely :D

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon