Jalan-Jalan Seru di Jember, Nonton JFC 2018

15.13
Jalan-jalan Jember, Nonton JFC 2018 

“Kumpul di Jember tanggal 11-12 Agustus 2018.” Begitu inti pembicaraan dalam WAG Lima Gadis Kece yang aku baca. Awal Agustus saat itu. Aku ragu untuk nimbrung karena di bulan Agustus aku tak ada rencana pergi ke mana-mana selain ke Flores. Yaaa, Flores yang ternyata tertunda lagi untuk ke sekian kali. 

jalan jalan jember jawa timur
Jalan-jalan Jember Bareng Sobat Blogger

Apa aku bisa pergi ke Jember ketemu dengan Mbak Ira (www.keluargapelancong.net), Mbak Zulfa (www.emakmbolang.com), Mbak Dian (www.adventurose.com), dan Lestari (@tarie_tarr) ?

Aku tanyakan hal itu ke Mas Arif. Ajaib, nggak pakai ribet, aku diperbolehkan pergi. Tapi Mas Arif mau ikut. Lha! Eh tapi kemudian, dia hanya persilakan aku sendiri yang pergi. Karena setelah dicek, jadwal kerjanya keluar kota di bulan itu padat merayap. 

Oke, yang penting lampu hijau jalan-jalan sudah menyala. 

Pilah-Pilih Moda Transportasi ke Jember

Bus, kereta, atau pesawat? Pesawat pasti lebih cepat, tapi nggak bisa langsung, dan tiketnya pasti lebih mahal dari pada bus atau kereta. Rutenya Jakarta - Surabaya - Jember. Kalau mampu bayar tiket pesawat, mending pesawat. Lumayan hemat tenaga dan waktu 12 jam perjalanan. Pulangnya tak apa kereta, bisa santai.

Aku beli tiket melalui Online Travel Agency (OTA) langgananku. Tiket pergi pesawat Lion tgl. 10/8 Rp 597.696 dan tiket kereta pulang tgl.12/8 Rp 509.854. Setelah tiket dibeli, aku baru diinfo kalau acara puncak JFC 2018 tepat di hari aku pulang. Ha?? 😱

Sudah ke Jember tapi melewatkan bagian terakhir JFC itu sayang banget! Akhirnya, jadwal pulang digeser ke tgl 13/8. Cek dan ricek harga, tiket pesawat ternyata lebih murah dari tiket kereta. Mending pesawat lah. Lebih cepat sampai. Tiket kereta pulang yang sudah dibeli langsung aku cancel. Uangku kembali tapi kena potong biaya administrasi 25%. Tak soal. 

Tiket kereta yang aku cancel

Ini pertama kali aku membatalkan tiket kereta. Prosesnya mesti dilakukan manual di stasiun besar. Nggak bisa via applikasi or telpon. Aku mesti ke Stasiun Gambir atau Stasiun Senen. Kemarin aku ke Senen. Antriannya ramai dan lama. Lelah euy. 

Capek ngantri demi uang sekitar sekitar 380 ribuan, aku pergi jajan ke tempat-tempat makan yang ada di stasiun. Suamiku yang gantiin aku antri hihi.

Di stasiun, aku beli apa saja, sesuka mulutku ingin mencecap apa. Dari Warung Padang, warung kopi, warung soto, sampai  Dunkin Donut. Setelah dihitung-hitung, duit jajan di stasiun udah setara dengan duit yang akan di-refund KAI. Alamak!!!

Berangkat ke Surabaya Jumpa Alid di Bandara

Berangkat ke Jember dari tgl 10/8 pulang tgl 13/8, total 4 hari aku meninggalkan rumah. Tapi aku tenang, karena anak-anakku sama ibu dan suami. Nggak ditinggal merana tanpa ada yang jaga. Semua beres, keluarga dukung aku pergi. 

Jumat siang tgl 10/8 berangkat ke Surabaya. Di bandara Soekarno Hatta nggak sengaja ketemu @alidabdul yang mau berangkat ke Jepang. Kamu tahu Alid? Itu lho, tukang ngoceh di FB yang haters-nya bejibunπŸ˜„ Ga ding. Aku becanda. Alid konyol, suka ngebanyol, tapi baek, temannya pun banyak.

Dari mana Alid tahu aku ada di bandara, padahal dia di terminal 3 (mau berangkat ke Jepang), aku di terminal 1? Jangan-jangan Alid itu fans gelapku, menguntit kemana aku pergi. Saat aku sendirian, dia langsung cari celah buat ketemu. Oh noooo. Bukan itu semua. Sebabnya adalah aku posting status di FB dan menulis sedang di bandara. Alid membacanya, dan dia komentar, ngajak kopdar kilat. Begitu.

Ketemu si tukang jalan @alidabdul

Kami beda terminal. Dia di terminal 3. Untuk menemuiku, Alid mesti naik sky train dulu ke terminal 1. Kami cuma ketemu sesaat sebelum pesawatku berangkat. Ngobrol singkat dan cepat, ketawa ketiwi, lalu pisah. Bentar banget ya! Tapi aku senang akhirnya ketemu anak muda ceria yang gemar jalan-jalan itu.

Baru saja kembali menjejak ruang tunggu, terdengar pengumuman. Ternyata pesawatku delay. Dan delaynya lebih dari 30 menit! Huh! Tahu gitu ketemu Alid yang lamaan biar bisa makan-makan dulu, foto-foto dulu, dan ghibah-ghibah syariah dulu πŸ˜„


Langit Memesona Jelang Mendarat di Surabaya

Aku menyaksikan langit berubah warna saat masih di udara. Dari biru, ungu, oren, hingga kemerahan. Melihatnya membuat perasaanku jadi menghangat dan penuh cinta. Mudah ya bikin rasaku seperti gadis-gadis remaja sedang digoda πŸ˜‚

Pesona senja di atas kota Surabaya saat itu amat indah! Aku menyesal menggerutu karena delay. Delay memang bikin sebal, tapi bisa jadi itu cara Tuhan untuk menghadiahiku dengan sesuatu yang menawan, seperti langit senja yang cakepnya bikin perasaan jadi membunga itu.

Magrib telah lewat saat pesawat mendarat di bandara Juanda. Aku langsung cari taksi ke Tropodo, ke rumah Mbak Dian. Supir yang aku samperi bilang harga sewanya Rp85ribu. Aku tawar Rp75ribu sesuai info Mbak Dian. Supirnya nggak pakai nolak langsung bilang setuju πŸ˜ƒ

Hamparan awan jelang senja di atas Kota Surabaya

Perjalanan ke Tropodo lancar jaya, dan nggak lama. Sekitar 15 menit saja. Yang lama justru saat supir mau kasih kembalian bayaran. Aku ga ada uang pas, supirnya ga ada uang kecil. Akhirnya pinjam sama ibunya Dian. Sungguh terlalu, baru sampai sudah bikin repot tuan rumah. Hihi. 

Senang sekali sore itu untuk pertama kalinya bertamu ke rumah Mbak Dian. Ketemu ibunya yang cantik, ketemu dua anaknya; Lala dan Reva. Keluarga yang hangat, penuh keramahan. Aku merasa beruntung. Usai salat magrib,  makan malam sudah terhidang, kami langsung makan. Setelah itu langsung berangkat lagi. Perjalanan belum berakhir, tujuan selanjutnya Jember.

Stasiun Gubeng Surabaya

Ini pengalaman pertamaku naik kereta di Jatim. Kereta kami Mutiara Timur. Tiketnya dibeli oleh Mbak Dian di Traveloka. Untuk tujuan Jember kelas bisnis Rp120.000/orang. Begitu juga tiket baliknya, kereta yang sama dengan harga yang sama. 

Stasiun Gubeng Surabaya

Kami berangkat jam 22.00. Tiba di Jember jam 01.42 beda hari. Hampir 4 jam perjalanan. Keretanya nyaman, pakai AC, bangkunya juga lumayan. Hanya punggung yang agak pegal karena sandarannya nggak bisa digerakkan. Tapi aku nggak menderita, tenang aja hehe.

Yang bikin heran tuh, kenapa cuma kami yang duduknya menghadap ke belakang? Salahkan Mbak Dian yang pilih kursi 😝

Tiba dini hari di Stasiun Jember, kami dijemput oleh Mbak Ira dan Mbak Kik. Alhamdulilah. Oh ya, catet. Ini perjalanan 2 hari Jakarta – Jember.  Dihitung sejak aku keluar rumah di BSD (jumat pagi tgl. 10/8), sampai Surabaya magrib, dan berakhir di Jember tgl. 11/8 dini hari.

Warbiasyaaak. Udah kayak naik kereta Jkt-Jember aja padahal naik pesawat lanjut kereta πŸ˜‚ 

Semua penumpang duduk hadap depan, cuma kami hadap belakang 😁

Menginap di Patrang

Aku dan Mbak Dian bermalam di rumah Mbak Yessi, teman baiknya mbak Ira. Rumahnya di Patrang, sekitar 15 menit dari stasiun Jember. Mbak Ira bertetangga dengan Mbak Yessi. Karena tinggal di Jerman, rumah mbak Ira biasanya kosong. Saat mudik baru ditempati, setahun sekali. Demi membuat kami nyaman, Mbak Ira menginapkan kami di rumah Mbak Yessi. 

Selama di Jember kami tidur, sarapan, dan mandi di rumah Mbak Yessi. Numpang doang ini. Makan siang dan makan malam banyakan ditraktir mbak Ira. Diantar keliling jalan-jalan dan disupiri oleh Mbak Ira. Tuh kurang baik apa Mbak Ira sama kami? Baik bangeeet 😍 

Di rumah Mbak Yessi juga ada anak-anaknya Mbak Ira; Imran dan syifa. Kedatangan kami membuat rumah Mbak Yessi jadi ramai. Hari itu, Mbak Zulfa belum bergabung bersama kami karena Sabtu masih kerja. Mbak Zulfa baru menyusul pada Sabtu malam pakai kereta. Lestari nggak jadi ikut ke Jember karena ada acara keluarga.  





Oh ya, selama 2 kali pernah ke Jember, aku belum pernah menginap di hotel. Jadi aku gak bisa merekomendasikan hotel mana yang bisa pejalan tempati jika ke Jember.

Teman traveler bisa cek di Tripadvisor ada banyak hotel yang direkomendasikan di antaranya JC Homestay Jember, Panorama Hotel & Resort, Hotel 88, InnBox Capsule Hotel, Seven Dream Syariah Hotel, Hotel GM253, Hotel dafam Lotus Jember, Hotel Ambulu, dll. Harganya bervariasi. Mulai dari 100 ribu sampai 500 ribu.

Belanja Oleh-oleh Jember

Suami adik iparku asli orang Jember. Tiap tahun mereka mudik. Balik dari mudik biasanya nggak pernah nggak bawa tape. Entah itu tape singkong atau pun tape ketan hitam. Aku sering kebagian. Anggapanku, mungkin hanya tape saja yang benar-benar khas Jember. Padahal enggak lho.

Kami diajak Mbak Ira ke Toko Sumber Madu, salah satu toko di sentra oleh-oleh Jember. Banyak macam oleh-oleh di sana. Dari tape, pia, prol, keripik2, kerupuk2, snack2 garing/manis/asin/asam, kopi, terasi, petis, kacang-kacangan, dan bermacam-macam jenis makanan kering lainnya.  

Belanja oleh-oleh Jember

Pia dan prol tape paling aku incar. Kerupuk kulit kesukaan Mas Arif tidak ketinggalan aku sambar.  Ada satu yang spesial, edamame; kacang kedelai jenis istimewa. Biji kacangnya besar-besar. Rasanya lebih enak dan empuk dari kedelai biasa. Ada 2 pilihan, kedelai masih mentah atau sudah matang. Kalau yang matang mesti lekas dimakan, bakal rusak kalau ditaruh di luar freezer. Akhirnya aku beli yang masih mentah. Soalnya baru balik Jakarta 2 hari ke depan. 1 bungkus 500 gram Rp 12.000,- Murah nggak menurut kalian?

Aku nggak banyak belanja, hanya beberapa makanan saja. Nggak habis uang 200 ribu sudah dapat 7 macam oleh-oleh. Oh ya aku sempat timang-timang petis botolan. Antara pingin beli sama enggak. Di rumah cuma mas Arif yang suka, aku dan anak-anak enggak. Dan aku nggak begitu ngerti mesti dimasak seperti apa. Akhirnya cuma timang-timang tanpa beli.  

Pia Tape oleh-oleh Jember


Oleh-oleh Jember


Edamame ini enak banget!


Oleh-oleh Kopi Jember

Berkunjung ke masjid megah Roudhotul Muchlisin

Kata orang-orang, kalau ke Jember wajib mampir ke Masjid Roudhotul Muchlisin. Terutama buat muslim. Selain sebagai tempat beribadah, masjid yang memiliki desain dan arsitektur yang indah ini juga merupakan objek wisata religi di Jember. Penasaran? Iya, aku penasaran. 

Masjid Roudhotul Muchlisin terletak di Jalan Gajah Mada, Kecamatan Kaliwates. Megah dan futuristik, inilah kesan pertamaku ketika pertama kali melihat bangunannya. Didominasi warna kuning dan jingga, masjid dipenuhi ornamen ala istana raja-raja di Timur Tengah. Desainnya mirip kebanyakan masjid-masjid di Turki.

Masjid Roudhotul Muchlisin bukanlah masjid baru. Sudah berdiri sejak tahun 1978 (berarti seumur aku dong ya). Karena berbagai alasan, pada tahun 2014 masjid ini direhab. Bangunannya dirombak total dengan desain yang lebih segar, dan diresmikan kembali pada tanggal 15 Mei 2017. 

Masjid Roudhotul Muchlisin Jember
Masjid Roudhotul Muchlisin Jember

Di komplek masjid terdapat 4 bangunan utama yaitu masjid, tempat wudhu wanita, tempat wudhu pria, dan menara. Yang menarik, bangunan masing-masing tempat wudhu memiliki 3 kubah pada bagian atapnya. Jarang ada tempat wudhu berkubah, tiga pula.

Bagian dalam masjid lebih memesona. Terdapat untaian ayat-ayat suci Alquran yang terpampang di setiap sisi dinding. Pada dinding barat lantai bawah ada Surat Ar-Rahman dan Al-Waqi’ah serta Asmaul Husna. Sementara di atas terdapat tulisan surat-surat pendek. 

Warna kuning cerah dan keemasan melapisi semua bidang dinding dan pilar. Bagian mihrabnya dipercantik dengan warna ungu. Sedangkan karpet tebal berwarna merah maroon terhampar bersih membalut lantai, tempat jamaah melaksanakan salat dan ibadah lainnya.

Secara fisik, masjid ini memang mengagumkan. Tak sedikit pengunjung yang masuk berfoto di setiap sudut. Tapi sekali lagi, ini tempat ibadah. Harus sadar fungsinya buat apa. Mengagumi boleh saja, terlebih bila bisa membangkitkan rasa syukur dan ketakwaan pada Allah SWT. Jangan datang cuma buat swafoto πŸ˜ƒ

Tempat wudhu Masjid Roudhotul Muchlisin

Bagian dalam masjid mampu menampung jamaah lebih dari 1500 per hari. Jika lantai 2 dan teras digunakan, daya tampungnya mencapai 2500 orang. 

Area parkir masjid cukup luas. Sayangnya, saat kami di sana tempat parkirnya belum rapi. Halaman masjid masih gersang, belum ada pohon-pohon rindang dan teduh. Taman cantik pun belum ada. Baru ada air mancur dengan hiasan lampu warna-warni yang berada persis di depan masuk. Keindahan air mancur dan lampu tersebut akan terlihat jika saksikan pada malam hari. 

Ruang salat Masjid Roudhotul Muchlisin

Kulineran Enak di Jember

Kulineran apa saja dan di mana? Kemana saja Mbak Ira mengajak hihi. Duh, jadi nggak enak lho ini selama di Jember banyak ditraktir Mbak Ira. Kapan giliran aku yang traktir Mbak Ira?

Pertama, kami mencicipi kue-kue khas yang dibeli di Pasar Patrang. Beberapa jenis kue yang aku jumpai nggak jauh beda dengan kue yang ada di daerah lainnya.

Ada satu kue yang bikin aku tertipu, namanya Kue Kerang. Bentuknya mirip pastel. Aku pikir ini semacam pastel isi kerang. Saat dimakan ternyata isinya sama seperti pastel kebanyakan. Mana kerangnya? Oh ternyata disebut kue kerang karena bentuknya seperti kerang. Hadeuh…

Kue Kerang karena bentuknya mirip kerang (aku menyebutnya pastel)



Pernah makan Sego Jagung? Aku belum pernah. Baru di Jember ini mencicipinya. Sego Jagung ini kami makan untuk sarapan. Mbak Ira belinya di pasar. Aku lupa tanya berapa harga perbungkusnya. Pokoknya murah nggak sampai 10 ribu.

Sego jagung adalah nasi yang terbuat dari jagung. Di tiap bungkusnya dilengkapi lauk tempe, bakwan jagung, mendol (semacam perkedel tempe), urap buah kecipir, terong, tumis tempe, dan sambal. Rasanya? Enak banget! 

Sego Jagung

Ada lagi nih makanan yang baru aku kenal, namanya Ketan Bubuk Kelapa. Sesuai namanya, makanan ini terbuat dari ketan yang ditaburi bubuk kedelai dan kelapa parut. Gurih rasanya. Menurutku ini cara lain menikmati ketan dengan enak, tanpa cepat merasa kenyang.   

Ketan Bubuk Kedelai

Sate ayam dan kambing “Al Huda”. Nah ini tempat makan siang kami sebelum nonton Wonderful Archipleago Carnival Indonesia, Sabtu 11/8/2018. Lokasinya di Jalan Melati No. 176, Kota Jember. Katanya, satenya juara. Ok, baiklah. Kemana pemilik Jember mengajak, ke situ kami ikut.

Kami memesan 1 sate kambing, 1 sate ayam, dan 1 gule. Makan bertiga dengan Mbak Dian, kali ini aku tidak menyisakan sedikitpun makananku. Habis ludes, isi piring bersih tuntas. Antara lapar dan enak nggak ada bedanya. Tapi beneran, ini sate memang enak banget. Bumbunya sedap, meresap sampai ke dalam daging. Gulenya jangan ditanya. Kalau biasanya aku mudah eneg dengan makanan berkuah kental begini, ini aku malah menyeruput kuahnya sampai banyak.  

Sate Ayam, Sate Kambing, Gule Kambing


Sudah pernah makan sate Al Huda?

Kepedasan Makan Rujak Cingur

Kulineran berikutnya di Pujasera Sudirman, pujasera tertua yang ada di Jember. Kami makan di sini sore hari, usai nonton Wonderful Asia Light JFC, hari Minggu (12/8/2018). Berlima bareng Mbak Ira, Mbak Zulfa, Mbak Dian, dan Syifa. Nah, ada 2 menu yang baru aku tahu dan baru kali ini kucicipi. Namanya Rujak Soto dan Rujak Cingur.

Dari dulu penasaran cingur itu apa dan rasanya seperti apa, ternyata bagian antara mulut dan hidung sapi. Rasanya kenyal-kenyal gitu, enak dan gurih. Saat makan, aku mencoba untuk nggak membayangkan bentuk mulut dan hidung sapi. Jika dibayangkan saat itu juga, bisa-bisa aku gak jadi makan😁 Ada alasannya sih sebenarnya. 

Rujak Soto


Rujak Cingur, pedasnya nampol

Keluargaku di Palembang sana, kalau potong sapi saat mau hajatan atau lebaran, ada bagian yang dibuang dan nggak pernah diolah jadi apapun. Bagian tersebut adalah kepala (hidung, mulut, lidah), kaki, dan ekor. Bukan karena ada pantangan atau apa, memang nggak mau dimakan aja. Seolah bagian itu dianggap ‘kotor’.

Sama seperti ceker ayam, nggak pernah dimakan, kakinya pasti dibuang. Apalagi kepala ayam yang ada jenggernya itu, atau kulit dan ususnya, nggak bakal dimakan πŸ˜‚

Nah, sejak tinggal di tanah Jawa kebiasaan tersebut jadi berubah. Jika dulu selalu jijik dengan sajian sop ceker ayam/mie ayam ceker, sop buntut, gongso lidah sapi, kerupuk usus ayam, kerupuk kulit ayam, dll, akhirnya nggak lagi, sampai sekarang.

Apalagi setelah bersuamikan orang Jawa tulen, aku ikut apa yang dimakan oleh keluarga suamiku. Dari segala macam ceker, buntut, hingga lidah sapi semua aku makan πŸ˜‚ 

Es duren enak di Pujasera Sudirman Jember

Di Jember kemarin, pertama kali bagiku makan rujak cingur. Sebetulnya enak, tapi karena terlalu pedas, aku jadi nggak bisa merasakan gurihnya potongan cingur. Aku sibuk mengurus bibir yang rasanya mau meledak πŸ˜†

Alasan lain aku nggak menghabiskan rujak cingurku karena aku mesti hati-hati dengan lambung ku. Nggak boleh banyak makan pedas. Aku sempat mencicipi rujak soto yang dimakan oleh mbak Dian. Sempat heran juga kok rujak bisa dicampur soto. Dalam bayanganku, rujak tuh ya rujak buah gitu. Ternyata bukan. Mana ada rujak buah dalam kuah soto πŸ˜‚

Nonton Jember Fashion Carnival (JFC) 2018

Di samping bertemu, berkumpul, dan jalan bareng dengan Mbak Ira, Mbak Zulfa, Mbak Dian, inilah hal paling menarik yang aku saksikan di Jember yaitu Jember Fashion Carnival (JFC) 2018. 

Sudah lama sekali ingin menyaksikan langsung karnaval yang paling aku tunggu-tunggu ini, tapi belum pernah kesampaian. Nggak sangka malah tahun ini bisa nonton, bareng sahabat pula. Double senangnya. Alhamdulillah. 

Jember Fashion Carnaval 2018

Jember Fashion Carnaval digelar pada 7-12 Agustus 2018. Penyelenggaraan JFC ke-17 ini mengangkat tema “ASIALIGHT” (Cahaya Asia). Empat hari pertama dimulai dengan acara pembukaan, kemudian berturut-turut ditampilkan Pets Carnival, Kids Carnival, juga Artwear Carnival.

Kami memiliki kesempatan menyaksikan parade di dua hari terakhir, yaitu Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI) pada hari Sabtu 11/8 /2018 dan Wonderful Asia Light pada hari Minggu 12/8/2018.

Cerita tentang JFC 2018 ini cukup panjang. Aku akan tuliskan lebih detail pada artikel lain dan akan diposting di lain waktu. 

Jember Fashion Carnaval 2018

Pada intinya aku kagum dan turut berbangga hati karena fashion carnaval kelas dunia yang aku saksikan ini bersanding dengan karnaval Mardi Grass di Amerika, Rio De Janeiro, dan The Fastnacht Jerman.

Meriah, megah, dan memesona. Layak untuk disaksikan oleh wisatawan mana pun. Bagi yang belum nonton, tahun depan ada lagi. Jadwalkan, sekalian keliling Kota Jember, kota karnaval terbaik di tingkat nasional. 

Nonton JFC bareng masyarakat Jember


Jumpa tanpa sengaja dengan Vicky Laurentina usai nonton JFC

Naik Kereta ke Surabaya, Kembali ke Jakarta

Senin dini hari, tepatnya 13/8/2018 pukul 0:32, aku kembali menempuh perjalanan 4 jam ke Surabaya. Naik kereta Mutiara Timur bareng Mbak Zulfa dan Mbak Dian. Kepulangan kami tentu saja membuat kami kembali berpisah dengan Mbak Ira. Semoga umur panjang, bisa jumpa lagi dengan Mbak Ira, entah di Indonesia, atau pun di Jerman tempat ia tinggal. Aamiin.

Sampai di Stasiun Gubeng Surabaya, aku dan Mbak Dian langsung meluncur ke Tropodo. Sedangkan Mbak Zulfa bergegas pulang dengan motornya untuk kembali masuk kerja. Rasanya baru sesaat kami bersama, tahu-tahu sudah berpisah lagi. Moga bisa ketemu lagi dengan waktu yang lebih panjang. 

Pesawatku ke Jakarta berangkat jam 16.50. Masih terlalu pagi kalau langsung ke bandara. Karena itu aku ke rumah Mbak Dian dulu. Mandi dulu, tidur dulu, sangat nyenyak. Lalu kami lupa ada janji jumpa Lalu Abdul Fatah jam 8 pagi di warung Soto Kudus. Omaigaaaat!!

Untunglah Fatah sabar, ia tetap menunggu walau telatnya kami sudah 2 jam, sungguh kebangetan πŸ˜…

Jumpa Lalu Abdul Fatah di Surabaya

Pertemuan dengan Fatah selalu menyenangkan. Bertahun-tahun tak jumpa, ia makin keren dengan kesibukan yang dijalaninya saat ini, sebagai pengajar dan tetap menulis.

Pagi itu kami makan soto sembari bertukar cerita. Tentang Lombok yang baru saja dilanda gempa, tentang buku puisi Ombak Orange yang menjadi karya terbarunya, juga tentang rencana-rencana ke depan yang begitu banyak dan indah.

Selalu ada kesan baik dan ribuan inspirasi ketika bertemu sahabat "satu suku". 

Soto Kudus


Es Campur

Sampai Jumpa Lagi Jatim!

Empat hari yang menyenangkan di Jatim. Selalu ada yang indah dalam silaturahmi; kebahagiaan dan kerinduan untuk bertemu lagi. 

Sore itu, aku kembali sendiri. Berangkat lagi ke Jakarta, untuk pulang. Aku sudah di Bandara Juanda 2 jam sebelum keberangkatan, dan ternyata pesawatku kembali delay. Maskapai Lion ini memang senang sekali “menghibur” penumpangnya dengan keterlambatan. Tapi aku berprasangka baik, mungkin ia akan menghadiahiku lagi dengan pemandangan cantik seperti 4 hari sebelumnya, langit merah saga.

Perjalananku kembali sendiri, tanpa teman.

Tak ada lagi yang akan kuceritakan setelah itu, selain termenung di bangku ruang tunggu. Di tengah rasa bosan menunggu, akhirnya aku menjelajahi bandara, cuci mata. Lelah cuci mata, lanjut memanjakan lidah; makan-makan di Kopi Bangi! 

Menu Nasi Ayam di Bangi Kopi Bandara Juanda Surabaya

Tak ada cerita yang tak bisa dituliskan, walau sekedar gerutu tentang pesawat yang hobi delay. 

Haha

Nikmati saja.

Bulan depan aku ke Jatim lagi, menyambangi 3 kota nan sejuk untuk glamping, jalan-jalan, dan berbagi ilmu tentang dunia travel blogging.

Kita bisa jumpa di sana?

Share this

Indonesian Travel Blogger 

Related Posts

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
23 Oktober 2018 03.05 delete

Wkwkwkwkwk.. Harus terima kasih kepada matanya Mbak Zulfa yang jeli menemukan aku di depan Pizza Hut di alun-alun tempat karnaval itu. Kok bisaa banget kita ketemu di sana secara nggak sengaja, hahahahah..

Kalo ke Surabaya, sisihkanlah waktu buat ketemu aku lagi, Mbak Rien. Janji deh nggak akan buru-buru ngejar Grab lagi, hahhahaha..

Reply
avatar
26 Oktober 2018 11.50 delete

Wahhh, mbak ke Jember. Aku di Pasuruan mbak, hehehehe... Ku ingin jumpa :)

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon