Melihat Keberagaman Nusantara di Festival Budaya Nusantara 2 Kota Tangerang

18.09 Add Comment
Festival Budaya Nusantara Kota Tangerang - Saya masih terpesona oleh pertunjukan seni dan budaya pada acara pembukaan Festival Budaya Nusantara 2 di Kota Tangerang pada hari Minggu (11/11/2018) lalu. Sebuah pagelaran yang kemeriahan dan daya tariknya sungguh luar biasa. Pesertanya sangat banyak. Saya beruntung bisa menyaksikan langsung. Para peserta berparade mengenakan beragam busana adat Nusantara, serta kostum-kostum unik nan spektakuler. Mengagumkan! 

Fashion Carnaval - Festival Budaya Nusantara 2 tahun 2018 Kota Tangerang
Fashion Carnaval - Festival Budaya Nusantara 2 tahun 2018 Kota Tangerang

Rasanya baru kemarin nonton Jember Fashion Carnival (JFC) 2018. Masih jelas dalam ingatan bagaimana luar biasanya kostum-kostum yang ditampilkan. Unik, etnik, kaya warna, dan kaya makna. Bikin ketagihan, bikin rindu ingin nonton JFC lagi tahun depan. 

Tapi siapa sangka, kerinduan pada JFC terobati di Kota Tangerang, tepatnya saat pembukaan Festival Budaya Nusantara 2. Yah, walau memang tidak se-wonderful di JFC, tapi bagi saya sudah lebih dari cukup untuk melipur kerinduan pada fashion carnaval ala JFC.

Baca juga: Berburu Aneka Kuliner Jadul Hingga Kekinian di Pasar Lama Tangerang
Fashion Carnaval - Festival Budaya Nusantara 2 tahun 2018 Kota Tangerang

Fashion Carnaval - Festival Budaya Nusantara 2 tahun 2018 Kota Tangerang
Fashion Carnaval - Festival Budaya Nusantara 2 tahun 2018 Kota Tangerang

Festival Budaya Nusantara 2 Kota Tangerang digelar mulai hari Minggu (11/11/2018) hingga Kamis (15/11/2018). Acara pembukaannya dilaksanakan di Lapangan A Yani, Kota Tangerang, tepatnya di pusat pemerintahan Kota Tangerang. Gelaran festival ini merupakan yang ke-2. 

Selama 5 hari gelaran, kegiatan festival diisi dengan berbagai lomba di antaranya Lomba Fotografi, Lomba Parade Seni Musik Tradisi, Lomba Fashion Carnaval, Lomba Kreasi Seni Bela Diri, Lomba Desain dan Fashion Batik Nusantara, dan Lomba Kreativitas Tari Tradisional. 

Pusat Pemerintahan Kota Tangerang




Saya pribadi baru tahu ada festival semacam ini di Kota Tangerang. Itu pun berkat undangan dari Disbudpar Kota Tangerang yang mengajak saya untuk menjadi narasumber Talkshow (tema Travel Blog) sekaligus jadi peserta famtrip (bertajuk Generasi Milenial Jelajah Pariwisata Kota Tangerang) bersama 50-an blogger (Jabodetabek), vlogger (Jabodetabek), media, dan perwakilan dari komunitas Genpi se-provinsi Banten. 

Nah, menonton kemeriahan pembukaan Festival Budaya Nusantara ini menjadi salah satu agenda kegiatan famtrip yang saya ikuti.

Baca juga: Talkshow ‘Famtrip Generasi Milenial Jelajah Pariwisata Kota Tangerang’ di Hotel Kyriad Airport Tangerang

Nonton festival bersama teman-teman blogger dan vlogger

Saya membayangkan acara pembukaan akan diwarnai oleh banyak kata sambutan, lalu diisi dengan sedikit atraksi seni dan budaya, serta ditutup dengan kegiatan menonton pameran dan bazar yang membosankan. 

Tapi sungguh saya salah terka. Pembukaan festival justru langsung diisi dengan arak-arakan panjang yang dimulai dari lapangan Ahmad Yani, dan terus berjalan sambil diiringi musik Betawi, tanjidor, hingga menuju ke gedung pusat pemerintahan Kota Tangerang. 

Setiba di gedung Pemkot Tangsel, ada atraksi. Atraksi inilah yang menyedot perhatian seluruh masyarakat yang menyaksikan. Saya pun jadi lupa diri, lupa pada panasnya sinar mentari, saking asiknya menikmati.

Baca juga: Seba Baduy, Amanat Leluhur yang Masih Dijunjung



Walikota Kota Tangerang beserta jajarannya

Hadirnya karnaval pakaian adat dari SKPD di lingkungan Pemkot Tangerang dan sejumlah komunitas budaya Nusantara membuat suasana pembukaan jadi pecah. 

Banyak peserta dari luar kota tangerang ikut serta meramaikan, seperti peserta dari Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Cilegon Etnic Carnival, Serang Fashion Batik Carnival, Komunitas Penjahit Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang serta peserta dari luar provinsi banten yaitu Makassar Fashion Carnival hasil kreasi dari Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan dan Kediri Jawa Timur. 






Saya sungguh gembira melihat barisan panjang peserta yang tampil, begitu ramai dan penuh warna. Mau tahu jumlah peserta yang ikut meramaikan Festival Budaya Nusantara Tangerang tahun ini? 2.100 peserta dengan 51 rangkaian!

Banyak dan istimewa!

Seperti yang dituturkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Rina Hernaningsih, yang membedakan festival budaya tahun ini dari tahun sebelumnya adalah jumlah daerah yang ikut semakin banyak, yakni 19 kabupaten/kota. 


Walikota Kota Tangerang beserta jajarannya


Saya sempat menebak, jangan-jangan peserta karnavalnya lebih banyak daripada penontonnya. Mudah-mudahan tidak ya. Sungguh rugi jika rakyat Kota Tangerang tidak datang menyaksikan pembukaan festival pada Minggu pagi hari itu. Kapan lagi ada event semenarik ini. Sebagai sarana edukasi juga ya kan. Jadi kenal bermacam budaya. Ya seperti saya ini, 20 tahun tinggal di Banten tapi masih banyak belum tahu kesenian lokal itu apa saja hmm…

Para pejabat terhormat berpakaian adat, mengawali arak-arakan, melangkah di barisan paling depan dengan wajah sumringah. Setelah itu baru para peserta festival berparade dengan rombongannya masing-masing, menampilkan keragaman budaya lewat busana dan atraksi seni. 

Kang dan Nong Kota Tangerang

MC Pembukaan Festival

Kesenian Tanjidor mengiringi arak-arakan. Musiknya menggairahkan suasana. Membuat peserta dan penonton sama-sama larut dalam gembira. 

Setibanya di pusat Pemerintahan, peserta karnaval budaya di sambut oleh Walikota Tangerang beserta jajarannya. Para peserta langsung menampilkan berbagai atraksi budaya secara bergantian di hadapan walikota, seperti tarian Kolosal Anggana Raras, Barongsai, Tari Liong Vihara Bun San Bio serta Tangerang Fashion Carnival hingga Marching Band Tya Dita yang penampilannya sangat menghibur.

Tak ketinggalan penampilan Wayang Golek, Gambang Kromong, Wayang Orang Barata Yuda, Lenong Betawi, Calung, Light Dance dan masih banyak lagi. Semuanya sukses menghibur masyarakat yang turut hadir di acara. 






Atraksi dari kota dan kabupaten lain seperti Lebak, Serang, Pandeglang, dan luar Banten, yakni Kediri, juga turut tampil di acara pembukaan. 

Selain Kediri, Dinas Perindustrian Provinsi Sulawesi Selatan juga tampil di festival ini dengan menghadirkan Makassar Fashion Carnival. 

Tepuk tangan membahana melihat penampilan mereka. Suasana jadi kian meriah. Penonton pun kian ramai berdatangan, termasuk beberapa turis asing.  
  
Tarian Kolosal Anggana Raras

Tarian Kolosal Anggana Raras

Tarian Kolosal Anggana Raras

Tarian Kolosal Anggana Raras

Tarian Kolosal Anggana Raras

Penari Tarian Kolosal Anggana Raras

"Acara ini sekaligus memperingati Hari Pahlawan Nasional. Pesertanya ada sekira 2.100 orang dengan 51 rangkaian," ujar Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah.

”Ada yang istimewa dalam pagelaran Festival Budaya Nusantara yang kedua di Kota Tangerang ini, yakni terlibatnya sejumlah kota dan kabupaten lain di Banten, dan luar Provinsi Banten,” lanjutnya.

Sebagai warga Banten, saya turut bangga dengan festival ini. Sebab banyak juga yang dari luar daerah di Indonesia turut hadir memeriahkan festival. Semuanya melebur menjadi satu, membanggakan seni dan kebudayaan Indonesia.

Festival Kebudayaan Nusantara juga diramaikan oleh kehadiran 9 chef. Nantinya, kesembilan chef tersebut akan menunjukkan keahliannya dalam membuat masakan khas Provinsi Banten. Tenant-tenant dan stand pameran pada festival kali ini juga lebih banyak.  

Mappadendang (Pesta Panen) - Kostum ini terinspirasi dari pesta rakyat atau pesta padi masyarakat Sulawesi Selatan yang diadakan pada musim panen tiba sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Dewata Sewwae (Tuhan Yang Maha Esa) atas hasil panen yang melimpah

Pakaian kebesaran Pengantin Tangerang



Saya memang belum pernah melihat festival ini sebelumnya, tapi dari cerita yang saya dengar, tahun ini memang lebih meriah dan banyak kegiatannya. Jumlah wisatawan yang hadir pun meningkat. 

Turut senang tentunya. Bagaimanapun, Kota Tangerang adalah bagian dari Banten, bertetangga dengan Kota Tangerang Selatan tempat saya tinggal. Bila pariwisata Kota Tangerang maju pesat, tetangganya juga bakal kecipratan. Kecipratan kedatangan turis, baik nasional maupun mancanegara. Apalagi, kota ini kan punya bandar udara terbesar di Indonesia, yaitu Soekarno Hatta. Sangat dekat. Wisatawan bisa mampir dulu berwisata di Tangerang jika sedang ke Jakarta. 

Dalam postingan ini saya tidak akan menulis banyak, apalagi membahas budaya panjang kali lebar. Saya hanya bisa tampilkan lebih banyak gambar, biar foto-foto saja yang bercerita tentang bagaimana meriahnya festival budaya di Tangerang tahun ini.  








Selain sebagai cara untuk melestarikan budaya bangsa, Festival Budaya Nusantara juga memberikan keuntungan lebih pada masyarakat yang menyaksikan. Mereka dapat dengan bebas belajar, melihat, dan bereksplorasi secara langsung mengenai pagelaran budaya. 

Tidak hanya menampilkan banyak pakaian adat, alat-alat musik tradisional pun ditampilkan, seperti angklung, kemudian ada kuliner, pertunjukan wayang golek, dan masih banyak lagi. Masyarakat yang sebelumnya tidak mengetahui, sekarang bisa lebih tahu dan ini menjadi sarana edukasi bagi warga Tangerang khususnya. 


Tapis Lampung

Garuda

Dayak

Senang sekali dapat menikmati dan mengagumi beragam budaya yang tersaji dalam pembukaan Festival Budaya Nusantara 2. Sebuah suguhan yang mencerminkan miniatur Indonesia, dengan keheterogenan masyarakat yang ada di Kota Tangerang.

Jadi makin semangat untuk turut berperan melestarikan budaya Nusantara dengan kemampuan yang ada, yang sejatinya memang harus dijaga, karena merupakan warisan leluhur para pejuang, budayawan, dan juga seniman bangsa.  

Semoga saja dengan adanya acara ini dapat menarik minat wisatawan baik lokal ataupun mancanegara untuk berkunjung ke Tangerang. Tahun depan kalau ada lagi, saya pasti ingin nonton lagi.

Ada dua video yang saya upload di channel youtube, salah satunya berikut ini:
.
>

Berburu Aneka Kuliner Jadul hingga Kekinian di Pasar Lama Kota Tangerang

11.57 4 Comments
Kuliner Malam Pasar Lama Tangerang - Suasana Kawasan Kuliner Pasar Lama Tangerang ternyata sangat asyik dinikmati pada malam hari. Banyak pedagang gerobak dan warung tenda menyediakan aneka jajanan jadul hingga kekinian. Kafe dan resto yang nyaman buat ngemil-ngemil sambil nongkrong cantik pun berderet. Tinggal pilih suka makan apa dan di mana. Sabtu lalu (10/10/2018), saya dan teman-teman famtrip memilih berburu kuliner di warung-warung tenda dan gerobak. 

Kuliner Malam Pasar Lama Tangerang
Kuliner Malam di Pasar Lama Kota Tangerang 

Kulineran malam hari di Pasar Lama merupakan rangkaian kegiatan City Tour Kota Tangerang yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang dalam rangka Festival Budaya Nusantara 2. City tour bertema ‘Famtrip Generasi Milenial Jelajah Pariwata Kota Tangerang’ ini diikuti oleh 50-an peserta yang terdiri dari blogger, vlogger, media, dan GenPi se-provinsi Banten.

Sabtu siang sebelum acara kuliner di Pasar Lama, seluruh peserta diajak mengikuti acara pembukaan dan talkshow terlebih dahulu di Hotel Kyriad. Acara tersebut dihadiri oleh Ibu Eneng Nurcahyati Kadispar Provinsi Banten, Ibu H. Raden Rina Hernaningsih, S.H, M.H Kadisbudpar Promosi Pariwisata Kota Tangerang, dan Bapak Rizal Kabid Promosi Pariwisata Kota Tangerang. Pembukaannya dilakukan oleh Ibu Rina, sedangkan talkshow-nya diisi oleh Ibu Eneng, Mas Teguh Sudarisman, dan saya (sesi sharing Travel Blog). 
Baca juga: Talkshow Travel Blog Famtrip Jelajah Pariwisata Kota Tangerang
Famtrip City Tour Kota Tangerang
Famtrip City Tour Kota Tangerang

Kota Tangerang adalah kota modern yang dalam 5 tahun ini mengalami banyak sekali kemajuan. Dari sisi pariwisata, perkembangannya sangat pesat. Saya mengenal Tangerang sebagai kota belanja, dan bila berkunjung ke kota ini, kulineran adalah kegiatan yang paling sering saya lakukan. Akan tetapi, jujur saya belum pernah menjelajah Kota Tangerang di malam hari, khususnya Pasar Lama. Saat tahu akan diajak menikmati suasana Pasar Lama, saya antusias dan penasaran. 

Pengalaman seperti apa yang akan saya dapatkan dari Pasar Lama di malam hari?

Saya dan seluruh peserta famtrip berangkat dari Hotel Kyriad jelang magrib. Naik bus besar, berangkat rombongan. Saat bus sudah jalan, tiba-tiba ada yang menelpon. Rupanya Cory! Dia tertinggal bersama Rara.

Alamak!  Yang naik bus pada nggak ngeh, hanya fokus pada diri sendiri. Dua bidadari sampai tertinggal karena nggak saling cek dan ricek lagi 😂 Akhirnya Rara dan Cory menyusul naik taksi online. Cuma bayar Rp 7.000 ke Pasar Lama. Murah, karena dekat. Ya, Pasar Lama itu berada di tengah kota. Mudah dijangkau dari mana-mana, termasuk dari hotel Kyriad. 

Suasana Pasar Lama Sabtu malam (10/11/2018)

Pasar Lama itu di mana?

Kalau ada yang tanya-tanya lokasi Pasar Lama ke saya, jawaban termudah dari saya adalah: Dekat stasiun Tangerang! Hehe. Kadang saya tambahkan begini: Dekat Masjid Agung Kota Tangerang. Dekat Klenteng Boen Tek Bio. Nah, kalau masih belum jelas juga, lihat Google Peta. Zaman internet seperti sekarang, di mana setiap orang hampir punya smartphone, Google Map akan mempermudah. Tinggal tap tempat yang ingin dituju, maka Google akan mengarahkan kita sampai ke tujuan.

Malam itu, bus kami berhenti di depan pendopo (samping Masjid Agung Tangerang) beberapa puluh meter dari kawasan Pasar Lama. Satu hal yang perlu diingat, jika memasuki kawasan ini pada malam hari, terutama weekend, tinggalkan mobil di tempat yang agak jauh. Lebih baik jalan kaki ke arah pasarnya. Kendaraan yang melintas sangat padat. Jangankan mobil, motor saja berjejal. Karena itu pada waktu tertentu, jalan di kawasan kuliner ini ditutup. Tapi memang ada saja pengendara yang tidak tahu, mereka tetap melintas. Akhirnya bikin sempit jalan, padahal gerobak dan tenda warung penjual makanan sudah meluber sampai ke jalan. Laju kendaraan tersendat lama. Lebih baik hindari resiko stress karena macet 😃

Kota Tangerang

Dari jauh keramaian di kawasan kuliner Pasar Lama sudah terlihat. Mata dimanjakan oleh lampu-lampu yang menjuntai di atas jalan. Para pengunjung yang berjalan hilir mudik, aroma aneka masakan, asap sate yang dibakar, bunyi minyak panas sedang menggoreng sesuatu, suara klakson, panggilan-panggilan pedagang mengajak mampir, bahkan suara-suara orang makan sambil ngobrol heboh, memancing saya untuk lebih mendekat. Sesekali berhenti, melihat aneka makanan di baik kaca gerobak yang berbaris rapat sepanjang jalan.

Asyik? Tentu.

Terkadang saya ingin menikmati makanan di tempat yang tenang dan nyaman. Di waktu lain dalam suasana yang berbeda, ramai dan hingar bingar ala pasar, pun tak kalah nikmat. Ngemper di depan ruko, duduk di bangku kayu sederhana bersama orang-orang tak dikenal, dihibur pengamen, dan kadang ditemani gerimis. Kenikmatannya beda-beda, tapi sama menyenangkan. 

Pasar Lama Kota Tangerang
Pasar Lama Kota Tangerang



Makan apa?

Kami dibekali uang Rp 50,000 per orang. Dilepas bebaskan untuk makan apa saja yang ada di Pasar Lama. Maka, perburuan pun dimulai. Kami pergi berkelompok, sebab ada tugas dari panitia: Membuat video kuliner yang nantinya akan dinilai untuk mendapatkan hadiah. Semacam challenge gitu deh.

Saya satu kelompok dengan Rara (blogger), Amal (GenPI Kota Tangerang), dan Neng (GenPi Kota Tangerang). Ada banyak jajanan yang kami jumpai. Pilah pilih agak lama belum ada yang cocok. Terakhir, kami merapat agak ke dalam dekat ruko, di sanalah kami menjumpai Sate H. Ishak. Sebetulnya, kami terbawa ke sate ini karena Neng ingin beli bakso. Nah gerobak baksonya dekat sate. Kebetulan saya ingin cari makanan yang mengenyangkan (sate kan pakai lontong), maka pilihan pun jatuh pada sate. Amal dan Rara setuju. 

Ada yang sudah pernah makan Sate  Ayam H.Ishak? Bagaimana rasanya? Enak? 

Sate Ayam H.Ishak Pasar Lama Kota Tangerang
Sate Ayam H.Ishak Pasar Lama Kota Tangerang

Kalau tak menjajal tak tahu rasanya. Jadi, kami pun memesan 3 porsi. Saat itu pembelinya sangat ramai. Bangku panjang yang dijejer di depan ruko sudah penuh oleh orang makan sate. Antrian pembeli yang berdiri dekat gerobak juga banyak. Mereka mengelilingi penjual yang bekerja tak sendirian melayani pembeli. Kalau tak salah hitung, ada 6 orang yang melayani. Semuanya laki-laki.

3 orang bertugas membakar sate. 1 orang bertugas menyiapkan sate yang akan dibakar. 1 orang menata sate di atas piring, dan 1 orang lagi bertugas memotong lontong dan meletakannya dalam piring-piring yang sudah diisi sate. Jadi, meskipun ramai pembeli, antrinya tidak terlalu lama. Karena yang melayani bukan satu orang. Pekerjaan menyajikan sate siap makan jadi cepat.

Saya sendiri bukanlah penggemar sate, apalagi sate ayam. Tapi di sini, saya jadi enak makan sate. Dagingnya terasa lembut, dan bumbunya meresap sampai ke dalam. Aromanya juga wangi.

Sayangnya saya tidak sanggup menghabiskannya. Bukan karena tidak enak, tapi karena porsinya banyak. Baik satenya maupun lontongnya. Akhirnya, dibantu Rara dan Amal untuk menghabiskannya. Alhamdulillah nggak mubazir. 

Sate Ayam H.Ishak Pasar Lama Kota Tangerang

Sate Ayam H.Ishak Pasar Lama Kota Tangerang



Harga sate ayam H. Ishak Rp 25.000 per porsi. Satenya 10 tusuk, sudah sama lontong. Jadi, uang jajan saya masih sisa Rp 25.000. Saya belikan air mineral 3000, sisanya beli Bola Ubi Rp 10.000 (10 bola). Masih sisa 17.000 hehe. Dengan uang segitu sudah kenyang jajan di Pasar Lama. Murah meriah dan enak.

Apa kabar teman-teman yang lain? Mereka jajan apa?

Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, aneka makanan dijual di Pasar Lama. Mau makanan jadul hingga kekinian ada. Makanan khas Nusantara maupun internasional juga ada. Tinggal pilih saja sesuai selera.  



Dari cerita teman-teman, mereka mencicipi berbagai macam kuliner. Seperti Cory, dia makan Bakso Mas Gino, Coklat Pisang Milo, Lemon Sprite, hingga Sate Ayam Teriyaki. Valka jajan Sate Taichan dan Cumi Bakar. Lia makan Pempek Bakar dan Bubur Kepiting. Linda makan Soto Ayam Santan. Tami makan Nasi Goreng Ati Ampela dan minum Kopi Belitung. Bu Denik makan Bubur Selada. Neng beli Lumpia Basah dan Bakso. 

Nah itu tadi baru 6 orang yang cerita tentang makanan-makanan yang mereka beli. Yang lain saya tidak tahu jajan apa saja. Pastinya beda-beda karena di kawasan kuliner Pasar Lama ini ada banyak sekali jenis jajanan yang bisa dibeli. 



Saya dengar nih ya, di kawasan kuliner Pasar Lama ini juga ada yang jual makanan ekstrem, yaitu olahan ular dan biawak. Wow baru dengar namanya saja saya sudah ngeri, apalagi makannya. Saya tidak tahu di sebelah mana penjualnya. Tampaknya bukan di tempat kami makan kemarin karena tidak melihat ada tenda/gerobak dengan nama-nama makanan seperti itu. Buat pencinta kuliner ekstrem, coba saja ke Pasar Lama ini kalau mau mencicipi menu ular dan biawak hehe.

Kelar makan sate, perut kenyang. Pingin sih jalan-jalan lagi, liat-liat kuliner lainnya. Tapi kami masih ada acara lain di pusat pemerintahan Kota Tangerang yaitu menyaksikan pertunjukan musik di lokasi pagelaran Festival Budaya Nusantara. Jadi, acara kulinernya kami sudahi. 

Kalau dibilang puas, tentu belum puas. Karena masih banyak kuliner yang belum saya coba. Rencananya saya ingin datang lagi ke sini, ajak keluarga kulineran di akhir pekan, atau di hari libur lainnya. Pasti tak kalah seru dan mengasyikan. 



Kegiatan city tour Sabtu malam kami tutup dengan nonton band di panggung pertunjukan tempat Festival Budaya Nusantara yang akan dibuka pada keesokan harinya, Minggu (11/11/2018). Masyarakat Kota Tangerang yang menyaksikan ternyata ramai. Dari anak-anak, remaja, hingga yang tua dan dewasa, semua kumpul di lapangan. 

Kami tidak nonton musik sampai pertunjukan usai. Kami cepat pulang, karena ingin istirahat lebih cepat, sebab Minggu pagi sudah ditunggu oleh bermacam kegiatan yang akan dilaksanakan seharian. 



Alhamdulillah kembali ke Hotel Kyriad dengan senang. Bawa pulang kenangan dari jalan-jalan malam di Pasar Lama Kota Tangerang.

Ada yang ingin tahu kegiatan City Tour kami di hari Minggu (11/11/2018)? Tunggu tulisan berikutnya ya. Saya akan cerita tentang sejumlah destinasi wisata yang ada di Kota Tangerang. Mulai dari taman-taman tematik, cagar budaya, wisata sungai, hingga kuliner khas. 

Oh, ya. Buat wisatawan yang ingin menggoyang lidah di Pasar Lama, kawasan ini disebut juga dengan  Pecinan-nya Kota Tangerang. Disebut Pecinan karena sejumlah bangunan yang ada bergaya Tionghoa keturunan. 

Pasar Lama Tangerang
Jl. Ki Samaun, Kecamatan Tangerang, Sukasari, Kec. Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15810
Buka mulai pukul 15.00 sampai tengah malam. 


Salam Pariwisata! 

Festival Budaya Nusantara 2 - Kota Tangerang

Tonton juga cerita kulineran di Pasar Lama ini dalam video yang saya upload di channel youtube saya berikut ini: