[Radar Lampung] Indahnya Wisata Alam Lampung

02.51 Add Comment
RADAR Lampung - Pariwisata

Artikel ini dimuat di Koran Radar Lampung edisi hari Minggu tanggal 18 Juni 2017. Ditulis oleh Andreas, seorang jurnalis di salah satu koran tertua di Lampung. 

Saya mempublikasikannya di blog ini sebagai tanda terima kasih kepada penulisnya, juga kepada pihak-pihak yang pernah membantu saya melihat dan menikmati keindahan wisata alam Lampung, di antaranya:

- Mas Yopie Pangkey atas foto-fotonya yang indah. 

- @majestictanggamus yang pernah mengundang saya ke Festival Teluk Semaka.

- @Kruitourism yang pernah mengundang saya untuk mengikuti famtrip di Krui bulan Maret 2017. 

- Dispar Way Kanan yang pernah mengundang saya di Festival Radin Djambat bulan April 2017. 

- @Kelilinglampung yang pernah mengajak saya ke banyak tempat menawan di Lampung.

Foto-foto yang saya tampilkan di sini adalah beberapa foto pilihan redaksi Koran Radar yang dimuat dalam koran. 

Gigi Hiu Kelumbayan Tanggamus - Difoto oleh Samsiah.



Teluk Kiluan Lampung - Difoto oleh Yopie Pangkey

Way Kambas - Difoto oleh Yopie Pangkey
Air Terjun Lembah Pelangi Tanggamus - Difoto oleh Halim Santoso

Air Terjun Putri Malu Way Kanan - Difoto oleh Yopie Pangkey
Di atas Menara Rambu Suara - Pulau Pisang, Pesisir Barat

Saya hanya punya foto korannya, tidak punya korannya. Tulisan dalam koran tidak terbaca sehingga saya tidak dapat memuat tulisan tersebut di sini. Mudah-mudahan melalui foto yang ada bisa mewakili isi tulisan di koran :)


Glamping Bahagia di Trizara Resorts Bandung

01.04 43 Comments
Trizara Resorts Bandung - Niat untuk mengajak keluarga berlibur di Trizara Resorts sudah ada sejak tahun lalu, tepatnya seusai glamping bareng teman-teman blogger pada bulan Juni 2016. Tapi, tahun lalu belum berjodoh waktu dan rejeki. Hingga 2016 tutup tahun, rencana itu belum terealisasi. Bulan Januari 2017 saya ke Trizara lagi, masih bareng para blogger, glamping sekaligus menjajal Archery Battle dan off-road di Sukawana Lembang. Kesempatan glamping bareng keluarga baru datang pada bulan Maret 2017. Alhamdulillah akhirnya merasakan glamour camping di salah satu kawasan wisata terbaik di Bandung.
camping mewah di lembang bandung
Be One with Nature - It’s time to disconnect from your electronics and reconnect with nature

Glamping Bersama Keluarga


Perjalanan berkendara mobil dari BSD Tangsel menuju Bandung kami tempuh sekitar 2,5 jam. Kami berangkat sekitar jam 9 pagi. Mas Arif menyetir santai, tanpa buru-buru. Arus kendaraan di jalan tol tampak biasa, tidak padat, tidak pula terlalu lengang. Biasanya, hari Sabtu jalan tol menuju Puncak dan Bandung ramai. Hari Minggu giliran menuju Jakarta yang ramai. Katanya, Sabtu itu arus ‘mudik’ orang Bandung yang kerja di Jakarta, dan Minggu arus ‘balik’. Tapi Sabtu kali ini tampak biasa-biasa saja. Begitu juga hari Minggu keesokan hari.

Anak-anak senang sepanjang perjalanan, demikian juga ibu yang hari itu ikut serta, tampak bahagia. Ibu paling suka kalau diajak liburan ke Bandung. Pertama karena alasan kuliner. Kedua karena banyak tempat wisata yang bisa dinikmati oleh seluruh keluarga termasuk orang tua lanjut usia. Ketiga karena Bandung itu sejuk. Ke-empat karena Bandung itu ‘gudangnya’ produk fashion. Bagi ibu, Bandung tempatnya belanja baju. Kalau soal ini, saya kalah sama ibu. Kiblat fashion ibu di Bandung, kalau saya di mana saja :D


Baca juga : Trizara Resorts Tempat Glamping Kece di Lembang
glamping asyik di trizara
Glamping bareng keluarga

Jalan Mudah Menuju Trizara Lembang

Jika ke Bandung menuju Lembang, kami biasa keluar tol Pasteur. Begitu juga kali ini, saat akan ke Trizara. Setelah keluar tol, kami langsung ambil jalur ke Lembang lewat Sukajadi, Setiabudi, sampai Ledeng belok kiri masuk ke Jalan Sersan Badjuri. Sebelum melewati Kampung Gadjah, kami mampir makan siang dulu di sebuah resto, salat, baru melanjutkan perjalanan.

Selain keluar Tol Pasteur, pengendara dari Jakarta bisa juga keluar Tol Padalarang. Nanti belok kiri ambil arah Lembang, melewati Kantor Kabupaten Bandung Barat. Setelah itu tinggal lurus saja sampai ke Jalan Kolonel Masturi. Selanjutnya tinggal ikuti petunjuk arah ke Trizara.

Untuk mencapai Trizara Resorts, kami ambil jalan alternative masuk ke Perumahan Graha Puspa. Jalan alternative ini hanya berlaku untuk kendaraan pribadi, kalau bus tidak bisa lewat. Nah, dari perumahan tadi kami belok kanan. Setelah itu ada banyak petunjuk arah menuju Trizara. Tinggal ikuti saja. Dijamin tidak bakal nyasar. Atau, pakai aplikasi google map, lebih mudah. Oh ya, mulai sekarang kalau ke Trizara lagi, saya sudah bisa diandalkan lho buat jadi penunjuk arah jalan 😁


Baca juga : Fun Off-road dan Archery Battle di Trizara Resorts
tenda glamping lembang
Tenda-tenda di Trizara Resorts

Bandung Itu Dekat dan Mudah Dijangkau


Dua kali ke Trizara bareng para blogger, pertama naik ELF, kedua naik bus. Meski sudah 2 kali, jika ada yang tanya jalannya lewat mana, saya belum fasih untuk menjelaskan. Seingat saya, dua kali ke Trizara, tidak memperhatikan mobil lewat jalan mana saja. Mungkin karena berangkat bareng orang lain, jadi mengandalkan supir dan asistennya. Duduk manis, ngobrol atau tidur saja, lalu sampai. Akibatnya, saat ditanya arah jalan oleh Mas Arif, saya tidak tahu apa-apa.

Sebagai navigator andalan mas suami, mau tidak mau harus tahu jalan, kan? Caranya mudah sih, tinggal buka google map he he. Tapi beneran deh, jika pergi sama Mas Arif itu, saya mendadak menguasai peta, dan nggak ngantuk. Kata Mas Arif, tugasku sebagai navigator emang harus melek terus, ngoceh terus, biar driver semangat dan tetap fokus. Tapi kadang kalau saya sudah  tidak tahan dengan kantuk, biasanya volume suara radio saya besarkan, buat gantiin ngoceh 😀



Tugas saya jadi navigator itu kadang-kadang hanya diminta memantau trafik lewat Google Map, untuk melihat jalur yang akan dilalui apakah berwarna hijau, biru, atau merah. Kalau merah berarti padat (baca: macet), tandanya Mas Arif bakal cari jalan alternative. 


Saya sendiri maklum, Lembang itu kawasan wisata yang sampai saat ini belum sepenuhnya bebas dari padatnya kendaraan. Apalagi pada akhir pekan atau saat musim liburan. Harus pintar-pintar cari jalan alternative agar waktu tak habis di jalan. Apalagi saat kami ke sana (Maret), ada beberapa lokasi yang menjadi tempat terjadinya longsor sehingga jalur 2 arah hanya dipakai 1 jalur. Kendaraan yang lewat mesti gantian dan itu lama.

Sebenarnya Mas Arif familiar dengan tempat-tempat dan arah jalan di Bandung. Dulu waktu adek ipar masih kuliah di Unpad, mas bojoku itu sering mondar-mandir ke Bandung. Jamannya dia masih bujang juga rajin ke Bandung. Sekarang juga masih sih mondar-mandir, tapi memang tidak se-intens dulu. Saat ada urusan kerja saja, atau saat kami mau liburan, misalnya seperti sekarang. Mungkin karena dekat dari Jakarta, makanya Bandung itu mudah didatangi kapan saja. 


Tenang...

Glamping Pertama Buat Anak-Anak

Selama perjalanan menuju Trizara Resorts, Humayra banyak bertanya tentang glamping. Ia masih penasaran dengan tenda yang akan kami tempati. Dalam benaknya, camping itu pakai tenda seperti yang ia punya di rumah. Dalam film anak-anak yang pernah ditontonnya, camping itu tidur di alam, seadanya, tidak ada kamar mandi, tidak ada toilet, apalagi kasur bagus. Meski saya sudah tunjukkan gambar tenda yang ada di website Trizara Resorts, Humayra tetap penasaran.

“Sabar ya, nanti kalau sudah sampai adik (panggilan saya kepada Humayra) akan lihat sendiri tendanya bukan seperti yang adik bayangkan. Tendanya besar. Di dalamnya seperti kamar-kamar hotel yang pernah adik tempati.”

“Ada kolam renang, ya, Ma?” tanyanya.

“Ada kolam tapi bukan kolam renang.” Pertanyaan demi pertanyaan terus berlanjut. Saya meladeninya pelan-pelan. Makin banyak tanya, berarti dia makin tertarik untuk tahu. Selama ini, kalau liburan ke Bandung, tempat menginap yang saya pilih kadang hotel, resorts, ataupun hotel berkonsep residence. Anak-anak belum pernah saya ajak glamping. Jadi, ini bakal jadi pengalaman yang pertama. 


Tenda Nasika yang kami tempati

Saya jelaskan pada Humayra, juga pada kakaknya, bahwa di Trizara itu, meski konsepnya resorts dengan kamar-kamar tenda ala hotel berbintang, para tamu tetap akan dibawa menyatu dengan alam. 


Tanpa internet, tanpa TV, tanpa AC, tanpa telepon. Tinggal di lereng bukit yang sejuk, bisa lihat sunrise, sunset, lembah, bahkan bisa lihat langsung Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu dari tenda yang ditempati.

Saat saya sebut sunrise dan sunset, mata Humayra berbinar, “Aku suka lihat matahari terbit. Langit jadi merah, ungu, kuning, dan biru. Mataharinya oren. Kita bisa lihat malam berubah jadi siang.”  


Begitulah sunrise dalam benak kanak-kanaknya. 

Gerbang Trizara Resorts

Selamat Datang di Trizara Resorts

Sesi terakhir perjalanan kami melewati tanjakan cukup terjal. Mas Arif sempat ragu apa mobil kami bisa nanjak. Saya katakan padanya, elf yang saya naiki Juni 2016 lalu dan bus yang saya naiki pada bulan Januari 2017 saja bisa nanjak, mestinya mobil jenis SUV yang kami gunakan juga bisa. Mungkin Mas Arif rada keder duluan liat tanjakan 45 derajat yang akan kami lewati itu. he he. Alhamdulillah mobil aman nanjak sampai atas.

Jam 2 siang kami tiba di Trizara.  Area parkir tamu Trizara ada di depan gerbang, seberang jalan. Tempat parkirnya cukup luas, bisa menampung hingga 50-an mobil. Ada petugas keamanan yang berjaga 24 jam. Di sekitarnya ada kebun-kebun sayur milik penduduk desa.

Begitu memasuki gerbang Trizara yang mirip dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris, lalu berjalan ke lobi, mata langsung disambut panorama lembah dan keberadaan dua gunung ternama di Bandung, yaitu Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu.  


Lobby

“Kita di Trizara, Ma.” 


Humayra menunjuk rumput sintetis bertuliskan Trizara di area terdepan Trizara dekat gerbang. Anak gadis ini lincahnya nggak berkurang, padahal baru saja menempuh perjalanan 4 jam yang cukup melelahkan. Sejak memasuki gerbang, ia sibuk memperhatikan sekeliling. Sewaktu tiba di lobi dia langsung berucap, ”Tempat kita tinggi, ya, Ma.”

“Iya, posisi kita saat ini ada di atas bukit.”

Konsep menyatu dengan alam yang diterapkan oleh Trizara sudah dimulai sejak dari bagian terdepan Trizara, yaitu area lobi, kafe, dan bar. Semua tempat utama tersebut terbuka, tanpa sekat dengan alam sekitar. Kita bisa menunggu proses check-in sambil menikmati panorama alam, ditemani semilir angin, juga sejuknya udara pegunungan. Begitu pula saat sedang menikmati makanan dan minuman dari Indriya Kafe, Trizara Bar, atau Terrace Café, kita bisa lakukan itu semua sembari menyaksikan bentangan alam Lembang dari ketinggian. 


Terrace Cafe

Sejak sampai di Trizara, ibu dan anak-anak makin gembira. Tak ada lagi pertanyaan yang diajukan. Sepertinya bayangan mereka tentang camping sudah mulai berubah.

“Ini yang disebut glamping, bu,” ucap saya ke ibu. Humayra menggumamkan kata “glamping” sampai beberapa kali. Saya yakin sekarang dia mengerti apa itu glamping.

“Camping mewah, ya, Ma.” Saya mengangguk. Gadis kecil itu mengacungkan jempol sambil tersenyum. Lesung di pipinya muncul. Manis. Sementara papanya mengedipkan mata. Entah apa maksudnya. 


Indriya Cafe

Tenda Nasika Untuk Camping Keluarga

Ada 4 tipe tenda di Trizara Resorts, terdiri dari: Netra (deluxe room Rp 1.688.000/night), Zana (standar room Rp 1.488.000/night), Nasika (superior family room Rp 1.988.000/night), dan Svada (premiere family room Rp 2.188.000/night). Masing-masing harga tenda sudah termasuk sarapan untuk 2 orang ( Netra dan Zana) dan sarapan untuk 4 orang ( Nasika dan Svada). 


CATATAN: rate tersebut valid Maret-Juni 2017. Untuk update rate, bisa cek langsung ke Trizara Resorts.

Saya memilih tenda Nasika karena cocok untuk family. Tenda dengan ukuran 38,5 m2 ini memiliki tempat tidur double bed + two in one. Pas buat kami berlima. Harga tenda Nasika sudah termasuk bonfire, board and sport games facilities. Untuk sarapan, Humayra tidak dihitung alias masih free. Jadi kami tidak dikenakan biaya tambahan untuk sarapan.

Tenda-tenda terletak di bawah, bertebaran di lereng-lereng bukit. Tenda Svada paling strategis letaknya karena berada paling tinggi, menjorok ke lembah, dan berhadapan langsung dengan gunung. Tenda ‘honeymoon’ paling bawah, di area private. 


Santai...

Melewati Tangga Air

Ada tangga untuk turun yang didesain alami dengan taman air pada bagian tengahnya. Orang-orang di Trizara menyebutnya Tangga Air. Airnya mengalir mengikuti undakan tangga, dan berakhir di sebuah kolam mini tepat pada persimpangan jalan menuju area tenda. Tangga yang menyenangkan untuk dilewati. Ada kesan alami yang hadir dari bunyi gemericik air yang terus mengalir, juga dari cantiknya bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang sisi tangga. Dari tangga ini pula panorama Lembang terlihat jelas. Gunung, lembah, bahkan matahari terbit, juga atap-atap tenda di lereng bukit.

Ada mini jeep yang bisa digunakan untuk mengantar ke tenda, tapi kami pilih jalan kaki. Selain karena bawaan tidak banyak, juga agar anak-anak bisa melihat-lihat keadaan sepanjang jalan menuju tenda. Mungkin kalau sedang hujan dan bawa banyak barang, naik jeep bisa jadi pilihan yang tepat.

Humayra dan kakaknya setengah berlari menuju tenda. Berlomba siapa yang paling dulu menemukan tenda Nasika Nomor 12, tempat kami tidur Sabtu malam itu. Di sini tidak perlu bingung mencari letak tenda. Ada papan petunjuk arah di tiap persimpangan. Meski semua tenda sama warna putih, tapi ada nama dan nomornya. Letak tenda juga dikelompokkan berdasarkan tipe-nya. Jadi tak akan salah masuk tenda tamu lainnya. 

Tangga Air

Tenda Nyaman Fasilitas Hotel

Tiap tenda ada terasnya, dilengkapi 2 kursi santai dan meja kecil buat menaruh minuman atau makanan. Terdapat kamar mandi modern dengan kloset duduk, shower air panas dan dingin, serta cermin dan wastafel yang cukup besar. Tak ketinggalan handuk lembut dan bersih, serta perlengkapan mandi seperti odol, sikat gigi, samphoo, dan sabun mandi cair dalam wadah ukuran irit.

Tempat tidur yang empuk dan bersih dilengkapi selimut untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara Lembang. Terdapat kotak kayu besar untuk menyimpan barang berharga dilengkapi kunci gembok. Tersedia juga teko pemanas air beserta kopi+teh+gula dan 4 botol air mineral. 


Nyaman dan bersih

Yang membuat bahagia, power outletnya banyak! Ya, walaupun katanya sekarang waktunya untuk disconnect dengan gadget, tetap butuh listrik untuk mengisi daya batre kamera biar bisa foto-foto cantik,kan? Apalagi bareng anak-anak, saya pingin motret mereka. Motret suami juga. 


Ponsel juga perlu dicas buat ambil foto atau video. Sebagai blogger yang memiliki akun sosial media, saya tetap pingin punya dokumentasi yang nantinya bisa dijadikan bahan untuk posting.

Meski begitu, menikmati suasana, merasakan hangatnya kebersamaan, duduk-duduk santai sambil menikmati panorama, porsinya tetap lebih besar ketimbang urusan foto-foto dan bikin video. Apalagi buat saya yang sudah 2x ke Trizara, stock foto sudah banyak. Kali ini tidak terlalu ngoyo buat ambil foto. Ambil seperlunya untuk kenangan dengan keluarga, sisanya hanya memperbanyak menikmati dengan mata, telinga, dan perasaan. 


Yang di tengah itu pintu kamar mandinya

Memaknai Kebersamaan

Siapapun pasti ingin saat liburan itu segala harapan tentang kebersamaan dengan keluarga tercapai, nah begitu pula dengan saya. Sejauh ini, Alhamdulillah belum pernah gagal bahagia di tiap liburan bareng keluarga. Karena prinsip saya, bukanlah tempat yang membuat kami bahagia, tapi kamilah yang membuat bahagia di tempat manapun kami berada. 


Walau nggak sering-sering amat liburan bareng keluarga, tapi alhamdulillah tiap liburan selalu berkesan dan bikin ingin mengulanginya lagi meski di tempat yang sama.

Bukan sekedar bersama, tapi benar-benar menikmati kebersamaan. Itu yang ingin saya capai  saat liburan bareng keluarga.

Kebersamaan seperti apa? 


Tanpa gadget/TV bukanlah sesuatu yang sulit

Sore itu, usai menaruh semua barang di tenda, saya ajak anak-anak keluar tenda untuk jalan-jalan santai keliling Trizara. Tapi adik Ai tidak ingin banyak jalan, hanya ingin main trampoline dan main ayunan. Sedangkan Abang Al ingin bersepeda dan main ATV. Ibu ingin bersantai saja di teras tenda sambil minum teh, melihat bunga-bunga, dan juga melihat pohon-pohon alpukat. Suami ingin duduk-duduk santai di kafe. Saya? Saya jadi bingung kalau keinginan tiap orang beda-beda begini :D

Bagaimana caranya biar pada kompak?

Hmm….kebersamaan bukan melulu tentang melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Kompak juga bukan melulu soal punya keinginan yang sama. Kadang, kebersamaan adalah memahami apa yang menjadi keinginan orang lain dan membiarkannya melakukan apa yang disenanginya. 


Kalau bisa saya temani, ya ditemani. Kalau tidak bisa, ya masing-masing saja. Yang penting semua senang. 


Piknik cantik

Kalau dalam keadaan ‘tak kompak’ begini, suami biasanya melakukan upaya negosiasi dengan anak-anak.

“Bagaimana kalau kita main trampoline dulu, setelah itu baru main sepeda bareng sampai sore?”

“Tadi mama beli seaweed lho di Indomart. Nah, bagaimana kalau kita temani nenek lihat-lihat pohon alpukat dulu, abis itu kita piknik di atas sambil ngemil snack seaweed?” *seaweed ini snack kesukaan Al dan Ai.*

“Katanya mau jadi fotografer. Gimana kalau sebelum main ATV, kita foto-foto dulu dekat pohon yang tinggi itu, nanti kita sama-sama belajar motret gunung, mau?”


Selalu ada yang bisa dinegosiasikan meski belum tentu anak-anak mau menerima apa yang ditawarkan. Setidaknya dengan negosiasi jadi cara yang paling efektif untuk mencari jalan keluar. Anak-anak pun bisa terima tanpa acara ngambek-ngambekan, apalagi terpaksa. Setelah tawar menawar, akhirnya anak-anak mau menemani neneknya dulu. Setelah itu baru jalan bareng liat-lihat suasana, main ayunan, main sepeda, duduk-duduk di area piknik, dan terakhir santai-santai di bangku depan tangga air sambil makan seaweed kesukaan. Dengan cara begini, kami tetap bisa ‘bersama’. 



Dekat, akrab...

Pohon Alpukat Berbuah Lebat

Ibu sudah cukup senang meski jalan-jalan dekat tenda saja. Beliau kepincut dengan pohon-pohon alpukat yang banyak tumbuh di sekitar tenda. Kami memang beruntung, datang saat sedang musim buah alpukat. Hampir tiap tenda ada pohon alpukatnya. Semua pohon sedang berbuah lebat. Jangankan ibu, saya saja takjub.

Buat kami termasuk langka bisa lihat pohon alpukat berbuah lebat begini. Bukan sekedar lebat lho, tapi benar-benar lebat! Sebagai keluarga pecinta alpukat yang nggak pernah absen nyetok alpukat di rumah, melihat buah alpukat bergelantungan di pohon tentu saja bikin hati klepek-klepek. Rasanya pingin petik dan makan buahnya sampai puas.

Nah, sebagai pencinta aneka tanaman, baik buah maupun bunga, tanaman hias yang tumbuh di sekeliling tenda dan pohon buah alpukat di samping tenda, jauh lebih menarik bagi ibu ketimbang ikut kami naik turun tangga jalan kaki keliling Trizara. Faktor usia juga sih ya. Mungkin bakal lelah kalau mengikuti aktivitas yang muda 😁


Camping juga bisa main ayunan :D

Piknik Sore di Trizara

Setelah menemani ibu sebentar, dan beliau tak masalah sendirian, saya dan anak-anak mulai jalan ke atas. Saya tidak khawatir meninggalkan ibu. Kawasan camping Trizara bukan kawasan terbuka untuk umum. Seluruh kawasan dikelilingi pagar tinggi. Ada pos-pos penjaga di beberapa titik dengan petugas keamanan yang berjaga 24 jam. Ada kamera CCTV di banyak tempat. Ada pekerja dan petugas yang kerap melintas di jalan setapak di tiap jalur tenda. Entah untuk mengantarkan barang tamu yang baru datang, mengantar pesanan tamu, memantau lokasi, membersihkan area sekitar tenda, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Anak-anak sudah menentukan sendiri ingin melakukan kegiatan apa. Main tentu saja, tapi yang tidak banyak menguras tenaga, tidak memerlukan banyak waktu, dan tidak perlu tim. Yang ringan-ringan saja, sekedar hiburan saat menikmati suasana Lembang di sore hari. Seperti abang Al, dia cuma ingin bersepeda dan mencoba ATV. Sedangkan adik Ai cuma mau lompat-lompatan di trampoline. Setelah itu main ayunan. Itu saja. Sisanya, mereka ikut saya dan mas Arif jalan-jalan santai ke beberapa titik yang ada spot untuk foto-foto cantik.
 

Berdua saja main trampoline

Buat yang ingin beraktivitas, Trizara menyediakan fasilitas sport games, di antaranya: Jenga, Holla Hop, Rugby Ball, Pictionary, Uno Wild, Boggle, Monopoly, Giant Football, Twister, Backgammon, Dart Game, Guitar, Playing Card, Scrabble, Skip Rope, Taboo, Uno Rummy Up, Sit & Bounce, Sticky Catch Pads,Fressbee, Connect 4, Checkers, Foosball, Laybag, Handball, Volley Ball, Football, Boxing Set, Soccer Ball, Cluedo, Trampoline, Table Tennis, Volley Ball, Badminton. Ingin lakukan yang mana? Tinggal pilih dan sesuaikan dengan waktu yang ada. 

Jika menginap di Trizara pada akhir pekan, tamu bisa mengikuti kegiatan Morning Zumba, Morning Yoga, dan Evening Bonfire. Di antara ketiganya, saya dan keluarga cuma mengikuti kegiatan morning zumba. Kami tidak mencicipi evening bonfire karena malamnya kami pergi keluar, kulineran di Kampung Daun.

Harum bunga, sejuk udara, hijau rerumputan, gunung menjulang, taman-taman dengan bunga yang bermekaran, semua jadi teman dalam keindahan petang yang kami nikmati di Trizara. Lupa sudah segala penat yang dirasakan saat menempuh perjalanan hampir 4 jam lamanya dari Tangsel hingga Lembang. Segalanya terobati. 


Asyik...

Makan Malam Romantis di Kampung Daun
Sejak sebelum berangkat ke Bandung ibu sudah pesan untuk diajak kulineran ke salah satu tempat kuliner favorit di Lembang yaitu Kampung Daun. Permintaan ibu kami kabulkan. Sebetulnya bukan hanya ibu yang kepingin, saya dan mas Arif juga penasaran dengan Kampung Daun. 


Sudah beberapa kali mendengar cerita teman tentang Kampung Daun, katanya wajib dikunjungi kalau ke Lembang. Kebetulan sedang di Trizara, sekalian deh diwujudkan. Lagipula, lokasi Kampung Daun dekat dari Trizara Resorts, kami capai dalam waktu 10 menit saja. 

Kulineran di Kampung Daun

Awalnya saya mengira Kampung Daun itu hanya tempat untuk menikmati kulineran. Ternyata bisa buat belanja-belanja juga. Ada pondok-pondok souvenir, pondok jajanan jadul, pondok mainan jadul, minimarket, bahkan panggung hiburan. Kampung Daun memiliki konsep penataan kawasan wisata yang cukup unik. Kawasan tepian desa yang sunyi ini di desain dengan ornamen tradisional yang antik. Mulai dari tempat makan, saung makan, saung lesehan, hingga lampu dan obor yang menerangi kawasan ini tampak begitu indah, menghadirkan suasana romantis.

Malam itu, pengunjung Kampung Daun sangat ramai. Semua pondok baik yang lesehan maupun bangku sudah penuh. Kami beruntung masih kebagian tempat. Kami satu pondok dengan dua perempuan bule, tapi beda meja. Meski malam itu ramai tapi suasana tetap tenang. Tidak hingar bingar, tidak semrawut, tidak pula terjadi antrian. Makanan tersaji dengan cepat, pelayannya banyak, mudah dipanggil saat dibutuhkan. 



Santapan lezat

Nggak nyesel kemari

Makan enak dalam suasana romantis, ditemani lagu-lagu kekinian yang dinyanyikan secara live oleh band Kampung Daun, membuat kami semua betah berlama-lama. Ai dan Al beberapa kali jalan sendiri melihat-lihat suasana. Mereka paling suka saat melihat deretan obor dan api yang dinyalakan dekat gerbang menuju pondok-pondok makan. Kalau ibu sukanya melihat-lihat aneka souvenir dan jajanan jadul di deretan pondok dekat gerbang Kampung Daun.

Malam itu, kami kembali ke Trizara dalam keadaan kenyang dan senang. Saat melewati Kafe Indriya Trizara, tampak pengunjung yang sedang makan masih ramai. Saya bilang ke ibu, besok pagi ibu akan mencicipi masakan Trizara. Jadi jangan khawatir, menginap di Trizara tetap wajib mencicipi lezatnya kuliner Trizara.

Sampai di tenda sudah malam, anak-anak langsung bersiap untuk tidur. Saya dan suami menyisakan waktu dengan duduk-duduk di teras. Ngobrol di tengah dinginnya udara Lembang, menyaksikan bintang-bintang, juga kerlip cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk yang ada di lembah. Sabtu malam di Trizara terasa begitu indah. 


Ada hiburan lagu-lagu


Pagi yang Syahdu

Usai salat subuh, saya dan suami mengajak anak-anak untuk melihat matahari terbit. Tapi tampaknya, udara yang sangat dingin pagi itu membuat anak-anak dan ibu tidak sanggup untuk keluar tenda. Mereka kembali ke kasur, memasang kaus kaki, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Saya jadi teringat saat pertama kali ke Trizara, saat teman-teman satu kamar memilih hunting foto sunrise, saya memilih berkemul, menggigil kedinginan di kasur. Tapi kali ini tidak, sedingin apapun itu, saya akan keluar.

Kami keluar berdua. Jalan kaki ke atas, ke deretan tenda Svada. Di sana tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbit. Paling pinggir, paling tinggi, dan paling lebar jangkauan pandangan. Tapi entah kenapa kali ini nafsu untuk memotret jadi turun. Saya membiarkan diri untuk tak melakukan apa-apa. Hanya mendekapkan kedua tangan di badan, mengencangkan syal, merapatkan retsleting jaket. Mas Arif pun begitu. Sedangkan kamera yang sudah terpasang di tripod kami biarkan termangu. 



Welcome June ❤️ . . Saking sukanya, sampai 3x camping di sini. Camping mewah di tenda2 berfasilitas lengkap dengan suguhan terbaik berupa sunrise, sunset, lembah berkabut, pemandangan langsung ke Gunung Tangkuban Perahu, suasana tenang, serta layanan dan fasilitas yang baik. Tempat berkesan dan menyenangkan untuk liburan bersama pasangan atau keluarga. . Di sini, suasana libur seakan tiap hari. . Baca ulasannya di blog saya www.travelerien.com @trizararesorts TRIZARA RESORT Jl. Cihideung Gombong, Gudang Kahuripan Lembang, Kab. BANDUNG BARAT Telp 022-82780085 #morningview #trizararesorts #lembang #bandung #wonderfulmorning #sunshine #beautifulskys #leisure #travelblogger #travelerien #fresh #alifealive #photography #beautifulmorning #landscape_lovers #glamourcamping #campingmewah #glamping
A post shared by Katerina (@travelerien) on


Salah satu tenda Svada kosong. Kami duduk di terasnya. Udara masih terasa sangat dingin. Bagi saya yang tidak kuat dingin, badan benar-benar jadi menggigil. Bicarapun enggan. Hanya mata dan gerakan kecil yang bisa saya lakukan sebagai isyarat kepada mas Arif untuk melakukan sesuatu. 


Kami diam beberapa lama. Sampai akhirnya Mas Arif mengajak saya jalan. Katanya, dengan bergerak, badan jadi lebih hangat. Dan itu benar. Namun bagi saya, genggaman tangannya lah yang membuat seluruh badan jadi lebih hangat. Matahari terbit itu ada di sampingku, berjalan bersisian, intim. Sepertinya kami terbawa suasana. 



A post shared by Arif Wibowo (@arifgwibowo) on


Matahari dan Kabut yang Perlahan Pergi

Kabut tebal masih menyelimuti lembah saat mas suami mulai memainkan kamera. Dia mulai berisik. Meminta saya begini dan begitu untuk difoto. Saya berulangkali melihat ke tenda-tenda Svada yang bergeming dengan lampu-lampu yang masih menyala. Saya khawatir berisiknya kami mengusik mereka yang masih terlelap di kasur.

Saya masih enggan memegang kamera. Ponsel di saku jaket pun tak saya gunakan. Tadinya ingin merekam video, tapi tak jadi. Anehnya, enggan motret tapi antusias ketika difoto. Hehe. Mumpung yang pegang kamera lagi banyak maunya. Ya diikuti saja.

Kami tak melakukan apa-apa saat langit mulai menghipnotis dengan beragam warna yang dimilikinya. Dari biru, ungu, kuning, orange, hingga kemerahan. Pagi jadi begitu hening. Hanya hati yang sibuk bertutur tentang rasa syukur. Entah berapa lama kami duduk di bangku bawah pohon dekat tenda Svada itu. Seperti penonton bisu, kehilangan kata-kata. Sama-sama tak mampu melukiskan keindahan alam yang Tuhan cipta dan sajikan pada kami pagi itu.  


LOVE

Momen Indah itu….

Saya seringkali mendapati momen-momen indah di waktu yang tak terduga justru saat berdua Mas Arif. Dua kali ke Trizara Resorts, selalu gagal melihat sunrise. Pertama Juni 2016, saya tidak keluar tenda karena tidak tahan dingin. Kedua Januari 2017, saya keluar tenda tapi hujan. Yang ketiga, Maret 2017 saat bareng mas Arif, baru berhasil.

Ada juga contoh lainnya. Misalnya waktu mendaki Gunung Anak Krakatau di Lampung. 2x ke gunung itu (tahun 2015 dan 2016), tidak pernah berhasil nanjak sampai batas aman, selalu sampai pelataran saja. Ada saja penyebabnya. Kelelahan, kepanasan, sampai kehilangan tenaga. Maret tahun 2017 nanjak bareng mas Arif, tiada kendala sama sekali, dan berhasil naik.

Momen indah itu juga terjadi saat saya berburu penampakan lumba-lumba bulan Maret 2017 (lagi-lagi bulan Maret 2017) di Pulau Pisang, Lampung. Sebelumnya saya pernah 3x ke Kiluan Lampung di tahun 2016 (Januari, Februari, dan Juli). Tapi belum pernah sekalipun berhasil melihat lumba-lumba muncul sebanyak dan sedekat yang saya lihat saat di Pulau Pisang bareng mas Arif.  


Matahariku

Hal seperti ini seringkali terjadi. Bukan 3 momen itu saja, tapi masih ada momen-momen indah lainnya yang saya alami saat bersama Mas Arif. Saya merasa ini sungguh ajaib, membuat saya kembali sadar, bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Setiap yang terjadi pasti ada maksudnya.

Sepertinya Tuhan hendak memberitahu saya bahwa momen-momen spesial itu akan saya alami bersama orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Bahwa ada keberhasilan dibalik tiap kegagalan, ada kemenangan yang tertunda di balik sebuah kekalahan, dan ada pelangi indah seusai hujan yang tak kunjung reda.

Tuhan Maha Baik.  


Morning view
Aktivitas Pagi

Semesta mulai benderang. Kabut-kabut beranjak pergi seiring angin yang menerpa dan matahari yang terus meninggi merayapi langit. Cahaya kemerahan menerobos dedaunan, rumput-rumput, bahkan menyalip burung-burung yang sedang terbang mengepakkan sayap. Kami mulai bercengkerama dengan kamera, mengabadikan banyak hal yang terlihat.

Anak-anak telah bangun. Mereka menyusul kami di atas, begitu juga ibu. Di lapangan atas dekat gerbang utama Trizara sudah berkumpul orang-orang, bersiap untuk zumba. Saya ajak anak-anak untuk bergabung, tapi mereka memilih untuk berolahraga sendiri. Katanya malu gabung sama mama-mama hehe. 


Mas Arif memilih merekam saya sedang zumba. Ibu asyik jalan-jalan santai dekat tangga air, menikmati pemandangan Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu di pagi hari. 

zumba di trizara
Morning zumba

Usai zumba, kami berkumpul di ujung tangga air. Duduk-duduk di sana, lalu jalan kaki bareng. Turun tangga, jalan lagi. Sampai puas baru balik ke tenda. Setelah itu mandi. Berhubung kamar mandi dalam tenda cuma satu, mandinya giliran. Sambil menunggu mereka mandi, saya berkemas. Rencananya kami akan check-out sekitar jam 10. Mau lanjut jalan-jalan ke Lodge Maribaya sebelum balik ke Jakarta. Mumpung sudah dekat, wisata sekalian.

Pagi itu kami sarapan di Indriya Kafe. Namanya camping mewah, suguhan makannya pun bukan biasa-biasa saja. Nggak jauh beda dengan menu sarapan di hotel bintang 3, banyak jenisnya dan lezat citarasanya. Menunya cocok buat anak-anak, beragam dan banyak pilihan. Ada bubur ayam, nasi goreng, mie goreng, nasi putih, nasi uduk, sosis ayam, sosi sapi, nuget, ayam goreng, daging sapi masak lada hitam, sereal, roti, kue, puding, aneka buah, salad sayur, minuman buah, teh+kopi. 


Bubur Ayam

Beberapa menu sarapan yang terfoto, yang lainnya tidak sempat difoto

Sarapan biar kuat

Waktu cepat sekali berlalu. Baru Sabtu siang jam 2 tiba, Minggu pagi jam 10 sudah pergi lagi. Walau cuma semalam tapi berkesan. Saya juga mendapat pengalaman berharga di sini. Anak-anak senang dan berharap bisa datang lagi, menginap lebih lama, setidaknya 2-3 malam.

Saat kami di sana, wahana flying fox dan high ropes sedang dalam tahap penyelesaian, belum bisa digunakan. Kalau sudah, anak-anak pasti sudah mencobanya sejak pertama tiba di Trizara. Buat yang ingin beraktivitas di Trizara, bisa lihat informasinya dalam daftar berikut ini: 




The Lodge Maribaya

Saya tahu tempat ini dari Mbak Vania Samperuru dan Kang Ali Muakhir. Dari foto-foto yang ditunjukkan ke saya, tampaknya seru kalau main ke sana. Lokasinya di Cibodas, Lembang. Tidak terlalu dekat dari Trizara meski sama-sama berlokasi di Lembang. Seingat saya perjalanan menuju Lodge Maribaya itu kami tempuh sekitar 1 jam. Cukup lama. Mungkin karena baru pertama ke sana. Laju mobil kami juga lambat, banyak singgah untuk tanya arah jalan ke orang, takut nyasar. Sinyal tidak begitu baik, google map kadang jalan kadang tidak.

Sampai di Lodge Maribaya kami langsung makan siang. Setelah itu beli tiket masuk. Antrian beli tiketnya panjang. Sampai di dalam, antrian beli tiket wahana lebih panjang lagi. Begitu juga antrian wahananya. Terutama Sky Wing, Sky Bike, dan Sky Tree.  


Antriannya panjang, gagal main 3 wahana incaran :D


Saya antri lebih dari 1,5 jam, akhirnya menyerah, dan gagal foto-foto kekinian ala-ala. Tiket wahana saya jual separuh harga ke pengunjung yang sedang antri. Daripada rugi hehe. Selama saya antri, anak-anak dan ibu bersantai di kafe, makan dan minum sambil menunggu saya. Tadinya sih mau lihat saya, eh yang ditunggu malah menyerah hehe.

Buat yang ingin main ke The Lodge Maribaya, baiknya hindari akhir pekan. Ramainya bukan main. Kalaupun mau datang, sebaiknya siang. Antrian sejak pagi sudah panjang, jam 12 saja belum kelar. Tidak boleh bawa makanan dan minuman dari luar. Sebelum masuk baiknya makan dan minum dulu biar kuat berdiri di antrian. Tempat antrinya terbuka, tidak ada atap. Bisa kepanasan dan kehujanan. 


Salah satu spot foto di The Lodge Maribaya

Trizara Resorts Saja

Berwisata itu nggak melulu mudah dan asyik. Pengalaman ke Lodge Maribaya ini jadi pelajaran kalau ke sana lagi kudu milih hari dan waktu yang pas. Harus siap mental dan tenaga, biar kuat menghadapi berjubelnya antrian yang tidak hanya bikin lelah dan kehausan, tapi juga kepanasan. Kecewa sih ada, tapi tidak seberapa. Lagipula, kesenangan saat berlibur di Trizara bisa mengalahkan semua itu.

Buat yang ingin glamping di Lembang, Trizara Resorts ini bisa jadi pilihan yang tepat. Tempat yang kece buat liburan bareng teman-teman. Nyaman untuk liburan bareng keluarga. Tempat yang romantis untuk berduaan dengan pasangan (suami istri). Cocok buat honeymoon. Fasilitas outdoor-nya banyak. Asyik buat seru-seruan. Pokoknya tidak akan bosan selama berada di Trizara. Kulineran juga gampang. Mau di Trizara saja bisa, atau ke tempat-tempat lain yang dekat dari Trizara juga ada.

Tiga kata dari saya untuk Trizara: Tenang, Nyaman, dan Indah. 


Hubungi ini ya kalau mau ke Trizara Resorts :)

 

Liburan Seru di Pulau Failonga, Tidore Kepulauan

08.34 48 Comments
Failonga, pulau kecil tak berpenghuni yang menawarkan keanekaragaman hayati laut timur. Sebuah pulau dengan air laut bagaikan cermin, membuat awan putih tidak hanya berkeliaran di langit, tetapi juga di air laut. Keindahan pasir putih, bebatuan di pantainya yang landai, airnya yang dangkal dan sebening kristal, bagai magnet yang membius. Pulau sunyi dengan kecantikan alami ini dapat dicapai sekitar 10 menit saja dari Pelabuhan Goto Tidore.

tidore kepulauan
Pulau Failonga - Tidore Kepulauan

Gagal Snorkeling

Selama di Tidore, saya sering tidur larut malam. Beberapa kali memang karena ada kegiatan yang baru kelar agak malam, bahkan ada yang pernah sampai tengah malam. Tapi di luar itu, karena mata memang jadi sulit terpejam. Hal yang biasa terjadi saat saya sedang dalam keadaan haid. Ya, siklus bulanan itu menghampiri sejak pertama tiba di Tidore hingga pulang dari Tidore.

Seperti malam itu, Senin 10 April 2017, usai nyanyi-nyanyi senang di Kora-kora Kafe milik Bams, rasa kantuk tak jua berbuah tidur meski badan telah terbaring di atas kasur di salah satu kamar Seroja. Semestinya saya lekas istirahat karena esok hari rombongan blogger akan berangkat pagi-pagi untuk snorkeling di Pulau Failonga.  

Suasana nyaman di balik jendela kamar kami

Alhasil, selasa pagi saya terbangun dengan mata yang masih digelayuti kantuk. Bayangan tidak bisa ikut bersenang-senang main air di Pulau Failonga, menambah rasa kantuk itu. Urusan haid ini memang mempengaruhi mood. Syukur alhamdulillah masih sehat-sehat saja. Biasanya ada acara pusing, mual, mules, bahkan muntah segala.

Soal berendam di laut dalam keadaan haid, sebetulnya bukan masalah. Tekanan dalam air membuat darah haid berhenti keluar. Yang jadi soal adalah di pulau tidak ada tempat ganti. Bisa sih sekedar nyebur, tapi saat keluar dari air, apa yang lain bisa tahan melihat ada yang merah-merah berceceran? Kalo balik ke Pulau Tidorenya berenang sih tak apa hehe. Saya kan baliknya tetap naik speedboat bareng rombongan.

Jadi, syarat untuk nyebur saat haid itu cuma satu saja: Bisa ganti pakaian basah dengan pakaian kering, maka urusan nyebur-nyebur beres. Kalau tidak ada tempat ganti pakaian, harus rela berkering-kering ria sambil gigit jari. 


Baca juga : Nikmatnya Kuliner Tidore di Restoran Safira

Penginapan kami dan mobil oren kebanggaan :D

Keliling Tidore dengan Kendaraan BNPB

Kami berangkat menggunakan mobil bak terbuka warna oren, mobil kebanggaan blogger selama di Tidore. Ada mobil bagus semacam Avanza, tapi kami lebih suka naik mobil bak! Supir andalan kami Rifqi. Dia yang menyetir mobil itu kemanapun kami pergi.


Ada sensasi tak biasa naik mobil bak terbuka, meski naiknya rada susah. Saat naik mesti dibantu dengan ditarik. Saat turun mesti dengan sedikit meloncat.

Duduk di bak mobil jadi lebih leluasa memandangi suasana Kota Tidore yang senantiasa lengang. Kerudung berkibar-kibar ditiup angin. Mata dimanjakan oleh pemandangan gunung dan laut. Serunya, kalau sedang bicara mesti pakai nada sedikit tinggi, supaya bisa melawan deru angin dan suara jadi kedengaran.
 

Seru!

Kapan lagi bisa seseru ini?

Rifki menyetir tidak santai. Mobil Avanza yang dikemudikan mas Gathmir sudah lebih dulu di depan. Kami menuju Pantai Tugulufa. Di sana, speedboat oren sudah menunggu. 


Oren lagi?

Ya, setelah mobil BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), kali ini speedboat-nya pun pakai punya BNPB. Kendaraan penyelamat semua. 


Mungkin kami ini punya tampang-tampang yang patut diselamatkan. Atau mungkin juga kami ini punya tampang penyelamat. Makanya punya chemistry dengan kendaraan-kendaraan oren itu *lol.

Apapun kendaraannya, yang penting kami happy. Hidup tim Oren! 

Mobil oren dan speedboat oren. Hidup Oren!

Pantai Tugulufa

Turun dari mobil bak dengan sedikit gaya loncat indah, lalu menuju speedboat dengan mode slow motion *ngana pikir ini syuting film?!

Ternyata kami tidak boleh naik speedboat dari Tugulufa. Katanya, harus naik dari Pelabuhan Goto. Bayar retribusi dulu di sana, baru meluncur ke Failonga. Olala…kalau tahu gitu kami turun di pelabuhan saja.

Speedboat itu meluncur ke Goto, kami menyusul dengan jalan kaki. Siapa paling cepat? Pesawat Jet!

Saat itu mobil-mobil kami sudah tidak ada. Rifki, entah dia kemana dengan mobil orennya. Ditelpon tidak bisa, di kirimi pesan lewat WA tapi tidak ada sinyal. Ternyata Rifki mengikuti mas Gathmir, dikiranya mau menaruh mobil di rumah Bang Yudi. Pagi yang seru ketika dua orang saling cari akibat gagal paham haha. 

Suasana jalan di pinggir Pantai Tugulufa, lengang, disaksikan Kie Matubu

Suasana pagi di Pantai Tugulufa terasa syahdu. Matahari sedang merayapi langit, hangatnya terasa lembut menyentuh setiap inci kulit. Jalanan masih lengang, dan selalu begitu. 

Puncak Kie Matubu tanpa awan, menjulang gagah di pagi yang damai. Saya, Dedi, dan mas Dwi menyempatkan berfoto pada sebuah bangku di pinggir pantai.

Saya membayangkan duduk di situ bersama belahan jiwa. Menikmati pagi dengan sunrise-nya. Atau bercengkerama sore menanti terbenamnya matahari. Berduaan di bawah langit keemasan. Bicara tentang masa tua nanti, menikmati sisa hidup di tempat setenang Tidore. Alangkah indahnya..

“Ayo jalan, nanti keburu siang.” Lamunan itu buyar.   






Pantai Tugulufa merupakan salah satu pantai terkenal di Tidore. Di sini tidak ada pantai pasir, tempat di mana kita bisa berjalan kaki sambil bersentuhan langsung dengan air laut. Pinggiran pantai telah disemen, bagian atasnya dibuat trotoar. Ada jarak dengan air laut dengan ketinggian sekitar 2-3 meter. Ada taman dengan bangku-bangku di beberapa titik, tempat duduk gratis bagi siapapun yang  ingin bersantai di Tugulufa.

Jadi, kalau ke sini kita hanya datang untuk menikmati suasana pinggir laut saja. Ada pemandangan selat dan Pulau Ternate di kejauhan, juga sunrise dan sunset yang bisa disaksikan pada waktunya masing-masing.

Istimewanya, meski tempat ini gratis dan terbuka untuk umum, tapi suasananya tenang, tidak ada keramaian yang membuat orang jadi tidak nyaman. Tidak ada pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan dagangan. Mungkin karena Tidore itu dikelilingi laut, ya. Jadi warganya tidak melulu harus ke Tugulufa untuk bersantai menikmati suasana pinggir laut, di mana saja bisa.

Ada beberapa warung di pinggir pantai yang menjual bermacam menu seperti bakso, soto, ayam bakar, mie ayam, dan cemilan-cemilan seperti pisang goreng. Kawasan pantai ini cukup bersih dan nyaman, bikin mood tetap baik ketika duduk-duduk sambil menikmati makanan yang dipesan. 



Kendaraan umum bentor melintas di jalan utama Tidore

Pelabuhan Goto

Tak lama mobil Mas Gathmir datang, begitu juga mobil yang dibawa oleh Rifky. Kami naik lagi, ngebut menuju pelabuhan yang jaraknya ternyata tidak begitu jauh dari Pantai Tugulufa. Tapi, kalau ditempuh dengan jalan kaki sih lumayan gempor.

Sampai di pelabuhan, mobil mengambil tempat di area parkir yang tersedia. Tempat parkirnya tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menampung 10-15 mobil. Ada beberapa angkot dan bentor di bagian depan pelabuhan, menunggu penumpang. Di sisi kanannya ada warung-warung makanan dan minuman.

Kami memasuki pelabuhan dengan riang. Ada seorang petugas duduk dekat meja kecil di tengah jalan masuk menuju dermaga. Kami membayar retribusi padanya. Suasana pelabuhan Goto tidak seramai pelabuhan Rum. Mungkin karena Goto adalah pelabuhan peti kemas, tidak banyak orang mondar mandir. Oh, tapi pelabuhan ini melayani rute Tidore – Sofifi dengan kapal ferri.  


Baca juga : Lomba Menulis Blog Tidore Untuk Indonesia


Bentor, warung, dan area parkir di depan Pelabuhan Goto


Angkot di Pelabuhan Goto

Nuansa biru mendominasi Pelabuhan Goto. Mulai dari warna cat bangunan di kiri kanan gerbang pelabuhan, hingga gerbang pelabuhan itu sendiri, dari atap hingga tiangnya. 


Keluar dari gerbang utama langsung disambut laut biru nan jernih, juga langit yang tak mau kalah biru. Jika berlama-lama di sana, saya khawatir badan jadi ikut biru, seperti smurf haha.

Speedboat oren kami tampak paling ngejreng di antara speedboat lain yang dominan warna putih dengan variasi warna biru. Satu persatu kami naik. 


Jumlah kami 17 orang, terdiri dari Bang Yudi, Bang Udin, Fia, Mas Gathmir, mbak Anita, yuk Annie, saya, mas Eko, Rifqi, mbak Zulfa, Yayan, Dedi, mas Dwi, Ayu, mbak Tati, serta 2 orang awak speedboat


Pelabuhan Goto
Speedboat di Pelabuhan Goto

Menyeberang ke Pulau Failonga

Jaket pelampung, bekal sarapan pagi, alat snorkeling, dan barang bawaan masing-masing semua sudah masuk. Speedboat penuh. Entah sudah melebihi batas maksimum muatan atau belum.

Perjalanan dimulai, boat melaju dengan kecepatan maksimal. Suara mesin menderu, menerjang gelombang dan angin, menciptakan buih-buih di buritan. Orang-orang bicara agak berteriak, berusaha menaklukkan suara mesin. Tawa dan canda tercipta, menyambut gembira perjumpaan pertama dengan Failonga yang selama ini membuat penasaran bagi kami yang belum pernah ke sana.

Bagi pelancong yang ingin berkunjung ke Pulau Failonga, kapal cepat memang harus disewa, lantaran tidak ada transportasi umum yang khusus menuju Failonga. Waktu yang tepat untuk ke Failonga adalah pagi hari, saat gelombang belum terlalu tinggi, saat emosi belum meninggi #eh.



Kapal penuh, Kapten!

Waktu tempuh menuju Failonga sekitar 10 menit saja. Ini menguntungkan mereka yang mudah dilanda mabok laut, jadi tidak terlalu lama menahan derita mual dan pening. Saya bukan termasuk yang mudah mabok laut, tapi disaat haid, biasanya mendadak jadi serba sakit. Entah itu mual, mules, bahkan pingin muntah.

Saya sempat merasa keliyengan, tapi yakin banget itu bukan karena bawaan haid, melainkan karena belum makan! Yes, jam 8.30 WIT, dan saya belum makan nasi (kudu nasi!). 


Lambung yang memang mudah bermasalah, langsung deh kena. Akibatnya muncul nyut-nyutan di kepala, perut pun jadi mual. Untuk menghindari kejadian tidak enak (baca: muntah), nasi bungkus yang dibawa dari Tidore, langsung saya makan. 


Pendekar Tidore duduk di buritan

Eksotisme Failonga

Failonga nan cantik akhirnya di depan mata. Begitu dekat, begitu nyata. Dari kejauhan, pasir putihnya yang cemerlang tampak berkilau terkena sinar matahari. Perpaduan batu dan pasir di pantainya yang landai, bagai Xena, si warrior princess, cantik sekaligus garang. *siapa tuh Xena? :))

Pulau Failonga hanya seluas 1,1 km2. Sekitar 20 menit saja untuk mengitarinya dengan perahu. Hutan pulaunya yang lebat, bisa jadi tempat berteduh dari sinar matahari yang menyengat tanpa ampun. 


Bagi yang sayang kulit, pakailah sunblock tebal-tebal di sini. Sekali kena sengat, bisa menyebabkan bolak balik melakukan perawatan kecantikan kulit hihi. 


Pulau Failonga, kecil-kecil cantik

Speedboat fiberglass kami mengapung ringan. Bagian bawahnya tidak menyentuh terumbu karang, aman jika mendekati daratan. Tapi sayang tak bisa tenang, ombak terlalu kencang.

Akhirnya perahu pindah ke tempat lain. Ombaknya lebih tenang, tapi tempatnya lebih dangkal. Perahu berhenti agak jauh, sekitar 20 meter dari pantai. Teman-teman mesti berenang untuk mencapai tepian. 


Semua mengenakan jaket pelampung, lalu turun satu persatu. Saya agak cemas melihatnya, karena ada yang harus ditarik segala, tidak kuat melawan arus air.
 


Betapa susahnya untuk turun. Jika ada dermaga, tentu akan lebih mudah bagi perahu untuk bersandar. Wisatawan pun bisa mencapai daratan tanpa harus berenang-renang sambil membawa barang bawaan.  

Dan yang paling penting, dengan adanya dermaga yang menjorok agak jauh ke laut, bisa menyelamatkan terumbu karang dari kerusakan yang disebabkan oleh perahu yang mungkin saja bakal kerap merapat ke tepian tanpa menghiraukan keberadaan terumbu karang yang ada di bawahnya.

Kalau bawah laut sudah rusak, keindahan apa lagi yang bisa dilihat di Failonga? 







Kembali ke Tidore


Semua telah turun, tinggal saya sendiri. Tak ada cara untuk turun dalam keadaan tanpa basah. Saya memotret saja. Tak lama, mesin dihidupkan, speedboat kembali ke Tidore, menjemput Bams, Oji, Aka, dan semua bahan makanan untuk makan siang. Saya ikut serta.

Kembali merasakan ngebut di laut Tidore, tapi dalam keadaan lebih santai. Perahu seperti melayang, sesekali seperti melompat. Apa yang terjadi? Tampaknya gelombang tak lagi sependek ketika berangkat. 


Beberapa saat saya tercenung sendirian, memperhatikan ombak yang diterpa angin, berbuih-buih panjang di buritan. Failonga semakin jauh, makin kecil dari pandangan. Bisa kah speedboat ini membawa saya ke Surga? Fyuuuh….mulai deh berhalusinasi. 

Baca juga : Menjadi Juri Lomba Blog Tidore Untuk Indonesia


Pantai Tugulufa berlatar Kie Matubu, dilihat dari perahu yang masih dilaut

Speedboat kembali ke Pantai Tugulufa, bukan Pelabuhan Goto. Pria yang sejak awal sibuk dengan mesin, menelpon seseorang untuk minta diantar bahan bakar. 


Waktu menunjukkan jam 9.45 WIT. Saya bergegas menelpon Bam. Bam bilang, 30 menit lagi berangkat. Ditunggu 30 menit, belum ada juga. Saya SMS, bilangnya 3 menit lagi otw. Jiaaah…ujung-ujungnya jam 11.30 dia baru muncul. Hadeuuuh…1,5 jam nunggu di speedboat, hampir garing kepanasan.

Rupanya Bam mencari ikan segar dulu, buat dibakar di Failonga. Ada nasi dan sambal dabu-dabu yang mesti disiapkan dulu, ya kan? Nah iya, itu bukan pekerjaan cepat. Kalau saya jadi mereka, belum tentu juga kelar dalam 1,5 jam. Saya tak jadi ngomel-ngomel garing.

Speedboat kembali menuju Failonga. Melaju lebih kencang dari sebelumnya, seperti dikejar serigala laut. Ada ya serigala laut? :D 



Batu-batu besar di Pantai Pulau Failonga

Bersenang-senang di Failonga

Sepertinya air di laut Failonga telah lebih surut dari sebelumnya. Saya mencoba turun, sayang salah terka. Ternyata masih dalam, tetap basah juga setinggi paha. Tapi untung tidak lebih tinggi lagi, kalau iya, tamatlah apa yang sejak awal saya jaga agar tetap kering. Beruntung cuaca sedang panas-panasnya. Celana yang basah perlahan mengering.

Entah apa saja yang telah dilakukan teman-teman selama saya pergi. Saya menjumpai mereka sedang beristirahat di bawah pohon, di antara batu-batu besar pinggir pantai. Tampaknya sudah puas main air dan snorkeling. 


Saya terperanjat melihat mas Eko, kulitnya jadi lebih hitam. Alangkah cepatnya gosong.  


Yayan omnduut.com bersantai di atas lazy bed

Saya tak sabar ingin menikmati keindahan Failonga. Sekarang giliran saya bersenang-senang. Ada satu tempat yang saya incar, yakni ketinggian. Ya, di sana ada batu tinggi yang bisa dipanjat untuk mendapatkan view sekitar Failonga.

Saya ajak Oji naik, buat bantu ambil gambar. Saking terburu-buru, jadi kurang hati-hati. Dengkul kanan membentur batu. Sakitnya bukan main. Benturan itu ternyata menyebabkan memar lama hingga satu minggu kemudian. 


Memang perlu perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang bagus, dan saya mendapatkan itu setelah sampai di atas.  


Bareng Mbak Anita dan Kak Gathmir

Dari atas, untuk pertama kalinya saya melihat Failonga begitu menawan. Tertegun saya dibuatnya. 


Pasir putihnya yang lembut, bebatuannya, air lautnya yang bening berwarna hijau kebiru-biruan, bahkan bayang terumbu karang di dasarnya pun kelihatan. 

Nun jauh di seberang lautan, Pulau Ternate dengan Gunung Gamalama-nya dan Pulau Tidore dengan Kie Matubu-nya, menjulang gagah dengan jajaran bukit bak punggung naga. 




Saat itu ada Nale, admin akun IG @TidoreIsland. Entah kapan dan pakai apa dia datang. Ingatan saya samar tentang itu. Yang jelas, saya senang bisa ketemu Nale. Sudah sejak tahun lalu saya mengamati akun IG yang dipegangnya, akun yang berisi foto-foto indah dari Tidore. Nggak sangka malah ketemu orangnya di Failonga.

Nale itu pendiam, tapi ramah dan baik banget. Dia malah banyak bantu saya ambil foto. Nale bawa drone. Darinya kami jadi punya video bagus. Video itu diupload di IG @TidoreIsland, siapapun bisa lihat bagaimana keseruan kami saat di Failonga. 


.


Makan Siang Seru di Pinggir Pantai


Bagian terindah yang selalu saya ingat dari Failonga adalah sesi makan. Ini bagian paling berkesan. Kami makan siang di pinggir pantai, di antara batu-batu besar yang berserakan. Di bawah pohon, di antara sinar matahari yang berjuang mati-matian menerobos dedaunan.

Ikan-ikan kembung dibakar oleh Bam, Aka dan bang Yudi. Asapnya mengepul. Api sesekali ditiup. Ikan dibolak balik. 


Nasi diletakkan di atas daun pisang yang dibawa dari Tidore. Sambal dabu-dabu di dalam baskom. Satu persatu ikan matang, ditaruh di atas daun. Satu-satu mengambil jatah, lalu menikmatinya bareng-bareng. 


Mewah!

Kami mengelilingi daun pisang. Duduk dengan gaya bebas, tanpa sungkan, tanpa jaim, tanpa memikirkan soal higienis. Badan penuh pasir. Baju basah bercampur peluh. Ada yang menyilangkan kaki. Ada yang selonjoran. Ada yang menyamping. Ada pula yang setengah membungkuk. Untungnya tidak ada yang sambil salto. Semua posisi mengikuti kontur pantai yang tidak rata. 


Apapun itu, gaya tangannya tetap sama. Menyuap makanan ke dalam mulut.

Apa yang saya rasakan saat itu, adalah betapa kami begitu dekat, begitu akrab. Sama rasa, lapar, enak, kenyang, dan puas. Kapan saya pernah begini saat jalan-jalan bersama teman? Belum pernah kecuali saat itu, di Failonga.

Kemewahan itu memang relatif. Kadang berupa fisik tempat makan yang megah, hidangan mahal yang diolah oleh chef-chef handal bergaji puluhan juta per bulan, dengan pelayan berdasi yang siap membantu apapun yang kita minta. Kadang berupa hal sederhana berbiaya murah meriah, berlantai bumi beratap langit, tapi dalam suasana yang tidak bisa dicipta dengan seberapa pun banyaknya uang.  



Ikan kembung bakar, nasi, sambal dabu-dabu. Mewah!

Ada saat lidah dimanjakan oleh menu-menu spektakuler yang bikin lidah seperti menjerit-jerit keenakan, ada pula saat mulut jadi tidak berhenti mengunyah hanya karena seekor ikan bakar yang dimakan bersama sambal dabu-dabu.

Yang lebih ‘sadis’ lagi, makannya di hadapan laut yang airnya super jenih, dengan latar belakang Pulau Ternate yang terkenal itu. Diselingi obrolan segala topik, kelakar yang memancing tawa, hingga celetukan-celetukan usil yang berujung bully-bullyan yang tak menyinggung perasaan.

Hal-hal yang membuat bahagia, nikmatnya kadang bikin badan pingin kejengkang senang. Mantap jiwa! 





Selamatkan Failonga


Saya bersama orang-orang yang sangat menjaga lingkungan dan kelestarian alam. Semua barang yang kami bawa ke pulau, dibawa masuk lagi ke dalam speedboat. Termasuk sampah, semua dimasukkan dalam kantong besar, diangkut lagi ke Tidore.


Tak ada batang pohon yang dipatahkan. Tak ada batu yang dicoret dengan kata-kata alay. Tak ada sampah yang ditinggalkan. Tak ada api yang masih menyala.
 
Oh ya, asal tahu aja. Di pulau kecil dan cantik ini kami menemukan sampah bekas pengunjung sebelumnya. Tidak banyak, tapi ada, dan itu mengganggu. Kalau dibiarkan, dari sedikit bisa jadi bukit, dari satu bisa jadi seribu. Lama-lama pulau kecil ini bisa jadi pulau sampah. 



Foto-foto cantik boleh, tapi batunya jangan dicorat-coret ya :)

Yang lebih mengenaskan, kenyataan bahwa terumbu karang yang ada sudah banyak yang rusak. Saya mendapatkan pengakuan tersebut dari salah seorang teman yang hari itu snorkeling di Failonga.

Seperti yang saya ceritakan di awal ketika sampai di Failonga, perairan di sekitar pulau ini dangkal. Perahu yang mendekat ke pantai, kemungkinan tanpa sadar telah menabrak apa saja yang ada di bawahnya. 


Itu baru satu perahu. Bagaimana jika berpuluh-puluh perahu bahkan ratusan perahu? Kelak, bukan keindahan lagi yang ditemukan di Failonga, tapi kerusakan. Jembatan/dermaga memang sifatnya sudah urgent kalau kasusnya sudah seperti ini. 


Pulau Ternate di kejauhan

Vandalisme? Ada! Batu paling atas yang saya naiki terdapat coretan yang dibuat dengan cat pilox. Meski cuma satu-satunya tulisan yang saya temui, tapi jadi bukti bahwa pernah ada yang ke sana dengan kelakuan ala anak alay. Merusak banget deh.

Sejak dulu, baju pelampung yang disiapkan untuk orang yang akan snorkeling bukan hanya agar selamat dari tenggelam, tapi juga agar tetap mengapung dan tidak menginjak terumbu karang. Sudah menjadi hukum wajib agar selama snorkeling kaki tetap di atas, bukan bertumpu pada terumbu karang.

Baju pelampung WAJIB ada dan wajib dikenakan ketika snorkeling. Selain untuk menjaga keselamatan diri, juga menjaga keselamatan taman bawah laut dari kerusakan. Hal semacam ini harus menjadi perhatian penting bagi semua pihak, baik wisatawan, guide, maupun agent wisata.

Saya sayang Failonga. Pulau kecil ini terlalu cantik untuk dirusak. Jika tak ada yang dapat menjaganya, lebih baik Failonga ditutup saja sebagai tempat rekreasi. 



Kalau bersih begini, enak kan liatnya :)

Failonga, ‘surga’ tersembunyi di laut Tidore


Jam 2 siang kami mulai beranjak meninggalkan Failonga. Puas? Tentu saja tidak karena saya belum merasakan main air di lautnya. Tidak berenang, tidak berendam, dan tidak pula snorkeling.

Tidak puas bukan berarti kecewa. Saya masih bisa merasakan kesenangan lain. Terlalu lucu jika di tempat semenarik ini hanya bisa berkesan jika hanya dengan cara nyebur ke dalam airnya. 


Hal-hal sederhana, meski cuma duduk-duduk saja, bisa menjadi istimewa. Menikmati suasana sambil meresapi dalam-dalam apa yang tersuguh di pulau ini. Merasakan lembutnya hembusan angin laut. Mencium aroma batang-batang kayu dari hutannya yang kesepian. Memanjakan mata dengan pemandangan dua pulau sarat sejarah di timur Indonesia. Mengabadikan apa yang dilihat ke dalam bingkai lensa kamera. Dan kesenangan saya adalah ketika berhasil memasukkannya semuanya ke dalam jiwa. 









Sampai jumpa lagi Failonga

Info :

- Pulau Failonga dapat dicapai dari Pelabuhan Goto Tidore dengan waktu tempuh sekitar 10 menit menggunakan speedboat.

- Speedboat harus disewa karena tidak ada transportasi khusus ke Failonga.

- Bawa bekal makanan dan minuman secukupnya karena Failonga adalah pulau tidak berpenghuni, tidak ada seorang pun berjualan di sana.

- Jangan lupa bawa sunblock

- Waktu terbaik untuk berangkat ke Pulau Failonga adalah pagi hari, saat gelombang belum tinggi.

- Bawa kantong plastik untuk menyimpan sampah karena di Pulau Failonga tidak tersedia tempat sampah.

- Aktivitas yang bisa dilakukan di Pulau Failonga: Berenang, Snorkeling, Diving, dan jelajah pulau.  

- Sinyal ponsel tidak begitu baik selama di pulau. Jadi kalau mau update status atau apapun itu yang membuat kita harus terkoneksi dengan internet, akan sulit. Lupakan internet! :D

- Untuk melihat foto dan video underwater Pulau Failonga, bisa cek akun instagram @Tidoreisland. 
 
  
Contacts: Anita Gathmir – 0815.1433.7014, Gathmir – 0816.829.959, Annie Nugraha – 0811.108582. Emails: anitagathmir99@gmail.com, gathmir@yahoo.com, annie.nugraha@gmail.com, visittidore@gmail.com

Video kami saat rekreasi di Pulau Failonga: