4 Fakta Tersembunyi Mengenai Sepatu Sneaker

07.42 Add Comment
Travelerien.com

Alas kaki termasuk dalam item fashion penting yang banyak dikoleksi oleh masyarakat, baik itu dalam bentuk sandal atau sepatu. Biasanya orang-orang akan menyesuaikan penggunaannya dengan acara yang akan dihadiri. Sebut saja diantaranya ketika sekolah, maka sepatu lebih banyak dijadikan sebagai pilihan, karena memang setiap instansi pendidikan mewajibkan muridnya menggunakan alas kaki tertutup. 

Namun untuk kegiatan santai-santai di rumah tentunya Anda sendiri lebih memilih sandal. Model sepatu yang ada di pasaran sebenarnya banyak, sebagian diantaranya tak hanya cocok dipakai untuk acara formal saja, melainkan juga santai, sebut saja diantaranya adalah sepatu sneaker

Foto dari bukalapak.com

Sepatu model lainnya yang juga ada seperti flat shoes yang cocok digunakan oleh kaum hawa atau sepatu hak tinggi. Lalu mana yang paling banyak Anda koleksi?. Kenyataannya jika dilihat bukan hanya kaum hawa, melainkan kaum adam juga sangat senang mengoleksi sepatu, tampilan terlihat lebih casual dan juga keren ternyata juga sangat bergantung akan hal yang satu ini. Khusus bagi Anda yang banyak melakukan aktivitas mungkin sepatu tertutup lebih nyaman dipakai.

Seperti halnya model sepatu sneaker, model yang satu ini sudah ada sejak lama, namun belakangan ini trendnya kian berubah, khususnya dari segi bentuk atau motifnya, semakin banyak pilihan yang ditawarkan. Setidaknya bagi yang senang terhadap model sepatu tersebut, maka harus tau beberapa hal mengenai sepatu model sneaker ini, diantaranya adalah:

1. Sudah ada sejak abad ke 18, meskipun sudah ada sejak lama, namun sampai sekarang ini tidak ada istilah sepatu tersebut ketinggalan zaman, salah satu alasannya karena memang item fashion setiap waktu selalu mengalami perubahan. Dulunya sepatu ini pertama kali dibuat oleh perusahaan sepatu ternama dari Amerika, yaitu U.S Rubber, mereka membuat model sepatu ini dengan bahan karet yang paling bagus sebagai solnya, sehingga lebih kuat dan tahan lama.

2. Nama sneaker ternyata diambil dari istilah sneak, sekarang bisa bandingkan dengan jenis sepatu yang lainnya, ketika dipakai pastinya akan berbunyi bukan, apalagi sepatu hak tinggi. Namun jenis ini tidak, itulah mengapa banyak yang menyebutnya sebagai sepatu kabur, atau tidak ketahuan yaitu sneaker.

3. Tak hanya cocok digunakan untuk sekolah, melainkan juga ngantor, bagi yang bekerja di kantor tak perlu mempermasalahkan mengenai item fashion apa yang akan digunakan, khususnya adalah alas kaki, Anda bisa tetap nyaman beraktivitas menggunakan sneaker ini. Khususnya di beberapa perusahaan yang memang tidak terlalu mempermasalahkan tampilan, seperti perusahaan kreatif, banyak diantara karyawannya yang lebih senang menggunakan sneaker. Apalagi khusus yang pekerjaannya berhubungan dengan lapangan, maka menggunakan sepatu kulit model pantofel atau bahkan high heels terasa kurang nyaman bukan, itulah mengapa sneaker ini banyak dipilih.

4. Tersedia dalam berbagai pilihan model dan juga harga, masalah harga tidak perlu khawatir, kenyataannya sepatu tersebut ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Namun bagi yang menginginkan kualitas juga sebanding ada, harganya hingga pilihan juta rupiah, modelnya beragam, cari yang sudah pasaran maupun limited edition dari berbagai brand ternama.

Tampil lebih gaya menggunakan sepatu sneaker, sudah berapa banyak koleksi Anda di rumah. Khusus bagi pengguna sepatu yang satu ini tentunya bisa semakin aktif dalam bergerak bukan. Langkah menjadi kian nyaman dan pastinya keren. Untuk pilihan brand dan juga harga bisa mencari yang paling bagus, sesuai dengan keuangan.

Makan Enak di Kafe Cantik The Magnolia Floral Café

22.58 26 Comments
Travelerien.com

The Magnolia Floral Café tempat makan recommended di Kota Bandar Lampung. Saya makan enak di kafe cantik ini bareng teman-teman blogger dari Batam, Palembang dan Jakarta seusai pelesiran di Krui, Pesisir Barat, pada hari Minggu 19/3/2017.

The Magnolia Floral Cafe


Bermula dari Encim Gendut 

Hati, jika sudah nyangkut, biasanya jadi betah dan kangen. Bikin ingin ketemu lagi dan lagi. Seperti Encim Gendut, rumah makan ini sudah bikin saya jatuh hati sejak tahun lalu, bikin ingin mampir dan mampir lagi. Selain memang sudah berkawan baik dengan pemiliknya, berteman akrab dengan salah satu pegawainya, juga karena suka dengan menu otentik yang disediakannya. 

Tahun lalu saya pernah sendiri ke Encim Gendut, pernah juga bersama teman. Kali ini bersama mbak Dian dan Yuk Annie, serta mas Arif.

Nah, dari Encim Gendut inilah kunjungan saya ke The Magnolia Floral Cafe bermula.

Baca juga: Sepiring Cerita dari Encim Gendut.
 
Makan siang di Encim Gendut

Saya baru saja menyelesaikan makan siang ketika Koh Willy (pemilik Encim Gendut) muncul. Saat saya datang ia tak ada. Biasanya ia terlihat di antara pengunjung dan pegawainya, ikut sibuk melayani pengunjung yang hendak makan. Menurut pegawainya, Koh Willy sedang di lantai atas, mengerjakan sesuatu. Saya makan sambil menunggu barangkali ia turun dan bisa bertemu. Dan benar, akhirnya Koh Willy keluar dari persembunyiannya. Kami pun bersua.

Kali ini tak banyak obrolan antara saya dan Koh Willy karena saya dan teman-teman seperjalanan buru-buru hendak berangkat ke Krui. Waktunya sempit, bicara pun jadi sedikit. Tapi ada hal menarik yang sempat Koh Willy sampaikan ke saya. 

Senang bisa ajak Mbak Dian, Yuk Annie, dan Pak Ardi mencicipi makan di Encim Gendut

“Saya punya teman, pemilik resto. Restonya bagus banget, cakep lho kalau difoto-foto. Makanannya juga ‘lucu-lucu’ dan enak. Ayo saya kenalkan pada orangnya,” ajak Koh Willy.

Koh Willy punya rumah makan, tapi merekomendasikan rumah makan lain untuk dikunjungi oleh pelanggannya. Saya menatap wajahnya. Ada ketulusan di sana. Jauh dari rasa takut tersaingi. Saya mengikutinya, melangkah ke salah satu meja.

“Ini Ci Fenny, dia yang punya The Magnolia Floral Café.”

Maka, saat itulah awal perkenalan saya dengan Ci Fenny, pemilik The Magnolia Floral Café.

Tawaran baik Ci Fenny untuk mampir ke The Magnolia Floral Café saya terima dengan senang hati. Saya katakan padanya, mungkin kami bisa singgah pada hari Minggu, seusai trip Krui.

Ketemu Koh Willy lagi yang ke-3 kalinya

Setelah tiga hari di Krui sejak Kamis (16/3) sampai Sabtu (18/3), bersama Yuk Annie, Yayan, Dian, dan Deddy mengeksplor keindahan Pesisir Barat, akhirnya hari Minggu kami kembali ke Bandar Lampung untuk seterusnya kembali ke daerah masing-masing.

Tawaran untuk mampir mencicipi menu-menu di Magnolia Café tentu tidak saya lupakan. Saya sudah berkomunikasi dengan Ci Fenny dan memastikan bisa mampir. Jadwal pesawat Mbak Dian jam 12.30, Yuk Annie 14.10, dan saya 16.10. Masih ada waktu untuk icip-icip menu Magnolia Cafe.

The Magnolia Floral Café berlokasi di Jl. Jend. Sudirman No.108, Rw. Laut, Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung. Belum ada seorang pun di antara kami ada yang pernah ke Magnolia. Termasuk Pak Ardi yang menjadi supir kami sejak dari Krui.

“Tidak jauh dari Tugu Adipura, lurus aja ada deretan ruko-ruko, di situ kafenya.”

The Magnolia Floral Cafe

Petunjuk dari Ci Fenny yang dikirim via Whatsapp jadi acuan dalam mencari lokasi. Tugu Adipura dengan patung gajahnya tentu tidak asing bagi saya, termasuk mbak Dian dan Yayan, sebab pada Agustus 2016 lalu kami pernah berjam-jam ada di sana menyaksikan parade budaya Festival Krakatau 2016.

Ruko dengan warna dominan biru dan bertuliskan The Magnolia itu mudah dikenali. Kami sampai di depan kafe tepat jam 10. Saya kira bakal datang kepagian, karena café baru buka jam 10. Ternyata waktunya pas.

Lelah, lapar, dan haus jadi satu. Setelah 5 jam perjalanan tanpa singgah untuk sarapan, yang terpikir begitu sampai di Magnolia adalah istirahat dan makan. Tanpa berlama-lama di luar kami segera masuk. Pintu dibukakan, suasana bak taman bunga pun terpampang. 



Sesuai namanya, The Magnolia Floral Café adalah kafe sekaligus toko bunga artificial. Karena itu ruang dalam kafe dipenuhi oleh bermacam bunga. Seperti memasuki ruang resepsi pernikahan, dekorasi bunga di mana-mana. Sebuah kafe yang cantik, segar dan berseri-seri. Sangat menyenangkan untuk dipandang lama-lama.

Perempuan mana yang tidak suka bunga? Apalagi jadi dekorasi ruangan kafe yang ditata dengan begitu apik jadi hiasan meja, dinding, kursi, lemari, dan sudut-sudut ruangan. Bikin terlena memandangnya.




The Magnolia Floral Café menempati dua bangunan ruko yang dijadikan satu sehingga memiliki ruang makan yang luas dan lapang. Di bagian belakang ada ruang makan outdoor buat yang merokok.

Menurut keterangan Ci Fenny, awalnya ia dan adik iparnya berencana membuka florist saja, tapi kemudian muncul ide menyatukannya dengan kafe. Bagi Ci Fenny dan adiknya, kafe dengan nuansa bunga-bunga akan jadi sesuatu yang unik. Ide itu kemudian direalisasikan. Maka pada bulan April 2016, kafe sekaligus florist The Magnolia Floral Café resmi dibuka.



Tata ruang yang apik, dengan meja dan bangku makan bervarisi, baik dalam bentuk, warna, dan ukuran, menampilkan suasana ruang makan yang tidak monoton. Bikin nyaman dan betah berlama-lama.

Tiap sudut kafe bisa jadi spot foto yang IG-able banget. Bunga-bunga telah membuat ruang kafe jadi tampak menarik. Mood pun jadi baik. Kalau sudah begini, selera makan saya biasanya jadi naik.

Bagaimana dengan makanannya? 

Shot by +Omnduut 


Jadwal pesawat mbak Dian ke Batam jam 12.30. Jam 11 sudah harus berangkat ke bandara. Karena itu kami pun menyegerakan makan. Kebetulan makanan sudah terhidang sejak kami masih asik memotret bunga-bunga.

The Magnolia Floral Café menyediakan menu Western dan Asian. Selain makanan Nusantara, tersedia menu Japanese dan Korean. Menu-menu internasional maupun lokal yang disediakan adalah menu-menu kekinian yang cocok untuk semua kalangan usia.

Kami mencicipi beberapa menu andalan yang jadi favorit pengunjung. Untuk main course, kami mencoba Cobia Fish with Sambal Matah, Fetucini Cabe Hijau, Tongseng Wagyu, Korean Beef Galbi, Lemongrass Chicken dan Chicken Wing.  


Menikmati makanan lezat dalam suasana nyaman

Sebagai penggemar ikan, mencoba olahan Cobia fish wajib. Rasa gurih daging ikan yang bentuknya mirip hiu berukuran kecil ini membuat lidah seperti tak ingin berhenti mengunyah. Kalau terbiasa menikmatinya dengan aneka pilihan saus, di sini cobia fish disajikan dengan sambal matah. Sensasional! Cobia fish disajikan bersama nasi yang porsinya pas untuk ukuran saya yang makannya tidak banyak.

Penyuka pasta bisa coba Fettucini Cabe Hijau. Pedas-pedas enak dan mengenyangkan. Untuk sekedar mencicipi saya berani, tapi kalau menghabiskannya saya mikir dulu. Ga kuat sama cabenya haha. 

Cobia Fish with Sambal Matah Rp 58.000,-

Fettucini Cabe Ijo Rp 38.000,-

Cita rasa rempah yang komplit dalam kuah Tongseng Wagyu yang disajikan, membuat masakan ini terasa segar dan sedap. Satu mangkuk nasi yang menjadi temannya cukup untuk mengenyangkan bagi mereka yang makannya banyak.

Saya termasuk bukan penggemar olahan ayam. Jika disajikan dimakan, jika tak ada, tak akan saya cari. Ada banyak rumah makan menyediakan menu Chicken Wing, tapi sangat jarang yang berhasil membuat saya jadi MAU, apalagi sampai ketagihan. Nah, tanya sama Dian dan Yuk Annie deh, Chicken Wing di Magnolia ini juara banget. Saya jadi doyan dan pingin nambah! Apa rahasia di balik kelezatan chicken wing di kafe Magnolia? Hanya chef-nya yang tahu :D

Lemongrass Chicken Rp 35.000,-

Korean Beef Galbi Rp 62.000,-

Chicken Wing si juara! Rp 35.000,-

Tongseng Wagyu Rp 79.000,-

Sticky Date Pudding, Sweet Potato, dan Banana Pop cocok jadi kudapan ringan di saat belum ingin bersantap dengan makanan berat. Banana Pop jadi favorit. Pisangnya lembut di dalam, garing di luar. Dilengkapi caramel sauce dengan vanila ice cream.

Kalau ke Magnolia Café, jangan lewatkan Sticky Date Pudding. Kue yang terbuat dari korma ini memiliki kelezatan yang tak terbantahkan. Selain enak, pastinya kaya manfaat untuk tubuh. Saus caramel-nya bikin kue ini makin nagih. Recommended! 

Sweet Potato Rp 18.000,-

Banana Pop Rp 25.000,-

Sticky Date Pudding Rp 45.000,-
 
Ada 6 macam minuman yang kami cicipi, di antaranya Tiramisu Cone Shake, Caramel Crème Brulee, Passion Fruit Island, Red & Yellow Slush, Margarita Buzz, dan White Zombi

Banyak pilihan minuman, suka yang mana? Saya suka semuanya karena semuanya enak. Tapi tidak usah bingung jika harus pilih salah satu, langsung fokus saja pada apa yang paling kita suka :) 

Saya menyukai Red & Yellow Slush, karena minuman ini terbuat dari buah naga kesukaan dan mangga. Segera banget di mulut!

Aneka minuman menyegarkan mulai Rp 28.000,- sampai Rp 38.000,-

Red & Yellow Slush (mangga dan buah naga) Rp 28.000,-



The Magnolia Floral Cafe ini bisa jadi pilihan yang menarik untuk tempat bersantap bersama keluarga maupun teman. Tidak perlu khawatir kantong jebol untuk makan enak di The Magnolia Floral Café, karena menu-menu all day breakfast, Entrée, Rice Bowl, Dessert, Light Fares, Cold Drink dan Hot Drink, dibandrol dengan harga yang reasonable.

Kafe cantik nan cozy, bersih, menu-menu istimewa dan enak, layanan prima, harga terjangkau, di pusat kota pula. Semua jadi alasan untuk berkunjung ke The Magnolia Floral Café. Jika ke Lampung lagi, saya akan mampir lagi di kafe ini. Makan dan minum sambil bertemu teman, atau bersantai sebelum/sesudah melakukan perjalanan ke tempat-tempat wisata yang ada di Lampung.

Hati nyangkut di sini. Pertanda bakal balik lagi.

Lihat juga foto lainnya: 

Ci Fenny (tengah), owner The Magnolia Floral Cafe


Tempat makan di belakang, untuk smoking area

Salah satu sudut kafe

Di antara bunga-bunga artifical







The Magnolia Floral Café 
Jl. Jend. Sudirman No.108, Rw. Laut 
Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung


 

Jelajah Keindahan Pulau Pisang Pesisir Barat

19.10 54 Comments
pulau pisang pesisir barat

Travelerien.com

Pelabuhan Kuala Stabas Krui tampak berseri meski sedang sepi dari seliweran orang-orang. Mungkin yang ingin menyeberang sudah berangkat, atau bisa jadi jadwal kedatangan baru saja lewat. Beberapa pria tampak duduk di warung sambil menyeruput kopi, menikmati pagi. Melewati mereka tanpa sedikitpun melirik cukup membantu saya berjalan lebih cepat ke arah jukung dengan pengemudi yang  mulai berteriak-teriak. 


“Cepat, cepat…cepat naik!

Seruan itu terdengar berulang tiap kali ombak kembali ke laut, sedikit mendatangkan rasa panik. Memang beralasan, sebab dengan cara itu naik jukung jadi lebih mudah. Meski diminta cepat, kami tetap ditunggu karena jaket pelampung orange harus dipakai dulu, cover ransel dipasang, gadget disimpan rapat-rapat, dan bila perlu minum obat anti mabuk dulu agar nyaman selama berlayar. Setelah beres baru naik. 

Jukung-jukung di Pelabuhan Kuala Stabas

“Mundur sini, ke belakang, duduk ke belakang….cepaaat.” 


Bapak pengemudi masih setengah berteriak. Wajahnya tegang. Saya mengikuti perintahnya, menata letak badan di atas perahu yang dikuasainya.

Petualangan dimulai. Jukung menuju lautan, melaju kencang menyeberang ke Pulau Pisang. Sepuluh orang dalam satu jukung, sesuai kapasitas maksimum. Ikut serta ransel-ransel berisi berbagai perlengkapan. Alam semesta tampaknya merestui perjalanan. Dihadiahkannya kami langit biru bersih, matahari bersinar terang, dan angin yang membelai wajah dengan jutaan rasa sayang. 

Tak keliru memilih trip di bulan Maret karena cuaca mulai bersahabat. Berlibur ke pulau sudah aman. Pelayaran ini pun mengandung kebahagiaan. Wajah-wajah teman seperjalanan mengguratkan rasa senang yang tak terkatakan. Saya mengembangkan senyum, mensyukuri nikmat Tuhan yang telah mengantarkan saya ke Pesisir Barat pada waktu yang tepat bersama orang-orang yang tepat. Rejeki sungguh misteri, seperti halnya jodoh. Indah pada waktunya.

Pakai jaket pelampung sebelum naik, biar aman :)

Menyeberang ke Pulau Pisang

Pulau Pisang dapat dilihat dari Pelabuhan Kuala Stabas, seakan begitu dekat. Tapi ternyata perlu waktu tempuh 45 menit untuk mencapainya. Pagi itu tak ada acara berburu atraksi lumba-lumba. Jadwalnya besok, saat kembali ke Pelabuhan Kuala. Fokus pada jelajah daratan Pulau Pisang membuat saya ingin lekas sampai. Meski begitu, mata tetap saja awas menyapu lautan. Barangkali bersirobok dengan gerombolan lumba-lumba yang tiba-tiba muncul dan melompat.

“Kalau sudah dekat Pulau Pisang saya mau ambil gambar, boleh agak melambat, pak?” tanya Mas Arif ke bapak pengemudi di belakang. Bapak tua itu mengiyakan. Waktu yang diberikan untuk mengambil gambar Pulau Pisang yang luasnya sekitar 231 hektar saja itu hanya sebentar. Selanjutnya perahu kembali ngebut.

Pengalaman seru menyeberang naik jukung

Dari kejauhan, pasir putih yang membalut permukaan pantai tampak begitu cemerlang. Sedangkan pohon-pohon kelapa dengan daunnya yang melambai-lambai, bak canopy yang memayungi pulau. Jauh di bagian tertingginya terlihat puncak Menara Rambu Suara menyembul di antara pepohonan. Rasa tak sabar untuk segera sampai kian memuncak.

Pulau Pisang cukup dekat dengan daratan Pulau Sumatera bagian Lampung, tepatnya Desa Tembakak, Kecamatan Karya Penggawa, Pesisir Barat. Jika menyeberang dari Desa Tembakak, hanya perlu waktu tempuh 15 menit saja untuk sampai ke Pulau Pisang. Jika saya tinggal di Tembakak, mungkin sudah bolak-balik beberapa kali dalam sehari ke Pulau Pisang. Ngapain? Leyeh-leyeh senang di atas pasir putihnya :D 

Dermaga apung Pulau Pisang

Pulau Pisang kami datang!

Sebuah dermaga peninggalan masa lampau, tampak rusak, retak, dan bolong-bolong. Sungguh mustahil digunakan. Di sebelahnya ada tonggak-tonggak hitam berjejer mengapit pijakan terapung warna oren yang terbuat dari plastic floating dock. Sayangnya jukung tidak mengantar ke dermaga apung itu, sebab katanya sulit untuk turun. Musim angin barat begini, pasirnya bertumpuk, jadi terangkat.

Kebanyakan jukung memilih mendarat di atas hamparan pasir pantai. Termasuk jukung kami. Melompat dari jukung saat ombak lari ke laut sepertinya akan menjadi hal biasa di musim ini. Sensasi berkejaran dengan ombak disertai jeritan kebasahan membuat acara turun dari jukung jadi seru-seru menegangkan. 

Akhirnya saya di sini bersama mereka

Tulisan “Welcome to Pulau Pisang” pada sebuah kayu dengan latar belakang bangunan Balai Pekon Pasar menyambut kedatangan. “Akhirnya saya menjejakkan kaki di Pulau Pisang,” begitu yang terucap di hati ketika membaca tulisan itu. Sebuah kelegaan sederhana untuk keinginan yang pernah tertunda.

Siang amat terik, keringat mengucur, membangkitkan rasa haus untuk menenggak minuman soda dingin. Tapi ucapan Aries bahwa di sini susah listrik, membuyarkan keinginan itu. Membuahkan gelak tawa seiring langkah menuju homestay yang berjarak cukup dekat dari pantai. Homestay Bang Jon namanya. 

Menginap di rumah warga

Ada banyak rumah warga yang kamarnya disewakan untuk wisatawan. Harga sewa rata-rata Rp 200 ribu/malam/orang sudah termasuk makan 3 kali sehari. Rumah yang kami tempati berada di pinggir jalan, dekat pantai dan dermaga. 

Dua kamar untuk rombongan kami. Satu kamar besar dengan dua kasur besar untuk 4 orang (Yayan, Aries, Deddy, dan Mas Arif). Sedangkan mas Don di ruang tengah. Satu kamar ukuran sedang dengan dua kasur besar untuk Yuk Annie, Dian, dan saya. Dua kamar mandi dalam rumah sepertinya mesti bergantian agak lama he he. Tapi antrian tertib kok :D 

Kamar kami para perempuan


Kamar para lelaki, cukup buat berempat

Usai menaruh barang-barang dan melepas lelah sejenak, kami mengisi waktu dengan pergi ke pantai dekat dermaga. Ada waktu satu jam sebelum solat Jumat, cukup lama untuk melihat-lihat dan mengambil foto suasana pantai. Beberapa kali jukung datang menurunkan penumpang. Saat itulah pantai jadi ramai. Setelahnya, sepi lagi. 

Sesi foto jadi pecah kalah anjing tuan rumah mengikuti kemana kami pergi. Bahkan tanpa terduga jadi model masuk frame. Sebuah nama diberikan padanya: Ogik! 

Main bareng di pantai Pulau Pisang *Photo Aries Pratama*

Desa bersahaja dengan warga yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, terutama para perempuan. Sedangkan laki-laki ada yang menjadi nelayan dan berkebun. Jalan desa berupa setapak kecil yang cukup untuk dilewati motor. Tak ada mobil di sini. Bangunan-bangunan rumah banyak telah tua dan tak terurus, ditinggalkan penghuninya yang telah pindah ke luar pulau.

Mau kemana kita?
Banyak rumah tua kosong dan rusak di Pulau Pisang, salah satunya ini

Hidangan makan siang masakan dari pemilik homestay berupa gulai buah kelor, ikan segar goreng, sayur lodeh daun katu, kentang cabai merah, petai rebus, dan sambal pedas, sukses menggoyang lidah. 

Ada kenikmatan tersendiri bersantap bersama kawan-kawan yang doyan makan. Saya yang sehari-harinya tergolong malas makan, jadi ketularan lahap dan nambah-nambah. Tapi memang perlu makan yang cukup karena energi yang keluar saat traveling itu berlipat-lipat. Saya sering berkata pada diri sendiri: ”Makan yang cukup dari apa yang ada, biar nggak ada apa-apa saat jalan-jalan.” 



Naik Motor Keliling Pulau Pisang

Aries memberi saya kejutan dengan mengajak keliling pulau naik motor. Kapan saya pernah menduga bakal motoran menjelajah Pulau Pisang? Kenyataan yang amat menyenangkan. Aroma petualangan pun menyergap, memeluk saya dengan seribu kegembiraan, terlebih boncengan berdua Mas Arif. Sebuah pengalaman baru yang benar-benar seru.

“SIM C ku kan sudah kadaluarsa, Ma,” ucap Mas Arif khawatir. Entah kapan terakhir kali bojoku itu nyetir motor. Saya pun sudah lupa saking lamanya :D

“Yang menilang paling kera atau mungkin lumba-lumba, mas.” Candaan istrinya ini tak membuatnya tertawa. Hadeuuh… khawatir banget sih mas…mas…haha. Dampak terbiasa taat aturan berkendara mungkin ya. Positive sih ketimbang ia justru merasa baik-baik saja tanpa SIM kemana-mana.

Sewa motor buat keliling pulau

Aries berdua Don, Deddy bonceng yuk Annie, Yayan bonceng Dian. Saya dan mas Arif. Pas 4 motor. Seingat saya Deddy ingin dibonceng biar bisa foto-foto, tapi pada akhirnya dia yang harus nyetir motor boncengin yuk Annie hihi.

Di Pulau Pisang, motor bisa disewa dengan harga Rp 60.000 perhari. Nyetir sendiri. Kalau masih asing dengan pulau, saran saya ajak warga buat jadi guide. Meski pulau kecil, tetap perlu seseorang untuk bantu menunjukkan tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Pun kita tidak tahu mana tempat yang aman dan tidak aman. Menggunakan jasa warga turut membantu mereka dalam merasakan manfaat atas kedatangan wisatawan juga, kan?

Sepanjang jalan berfoto dan membuat video, saksikan videonya diYoutube saya ya  :D

Bangunan Sekolah Jaman Belanda
Di Pulau Pisang hanya ada dua sekolah dasar, salah satunya SDN Pasar Pulau Pisang. Bangunan SDN Pasar ini sudah beberapa kali saya lihat fotonya di medsos para pejalan yang pernah ke Pulau Pisang. Sekolah didirikan sejak jaman kolonial Belanda sehingga dianggap bersejarah.

Bangunan asli berdiri di bagian depan, terdiri dari 5 ruang kelas. Sedangkan bangunan tambahannya ada di belakang. Bentuk pintu yang tinggi dan lebar, mencirikan arsitektur bangunan gaya Eropa. Tanpa jendela namun dinding bagian atas dibuat berlubang-lubang sebagai sirkulasi udara. 

Bangunan sekolah sejak jaman Belanda

Menara Rambu Suara

Perjalanan berkendara motor terasa mudah karena jalan yang kami lalui berupa setapak yang disemen. Rata dan mulus meski kontur tanah menanjak dan menurun. Melintasi perkampungan dan perkebunan. Pada satu belokan, jalanan menurun terjal, ada sedikit ketakutan yang menyertai. Tapi mas Arif menenangkan, aman katanya.

Saya tak pernah sesenang ini. Menceritakan ulang bagaimana rasanya bermotor berdua di tengah kebun cengkeh yang rimbun, adalah pengalaman tak biasa yang mampu menggetarkan rasa. Mungkin hal biasa bagi orang lain, tapi ini beda bagi saya. Merekamnya dalam video jadi sebuah keharusan. Saya ingin menjadikannya oleh-oleh untuk diperlihatkan pada dua buah hati tersayang.

Perkebunan cengkeh milik warga

Di perkebunan cengkeh milik warga inilah terdapat Menara Rambu Suara. Saya sempat keliru menyebutnya sebagai Mercusuar. Jika mercusuar pada umumnya bangunan tertutup, Menara Rambu Suara terbuka. Fungsinya pun berbeda. 

Menara ini terdiri dari 4 tingkat. Lantai singgahnya kecil, paling banyak bisa dipijak oleh 4 orang dengan total beban tertentu. Mesti bergantian kalau mau naik. Karena terbuka, bisa jadi kena panas atau hujan. Harus berhati-hati saat turun. Besi-besi masih terlihat baru dan kuat. Catnya pun masih bagus. Enak dilihat. Naik pun merasa aman. 

Gratis masuk Menara Rambu Suara

Saya hanya sampai pada tingkat 2. Pada tingkat 3 dan 4 ada Yayan, Deddy, Aries, dan Mas Arif. Agak gentar jika melanjutkan. Saya tak seberani itu. Namun apa yang saya lihat dari tingkat dua sudah sungguh Alhamdulillah. Menakjubkan dan bikin saya tak ingin lekas-lekas turun.

Pemandangan laut dengan gradasi warna yang cantik. Barisan bukit di daratan Pulau Sumatera bagian Lampung. Garis pantai, pasir putih di pantai, nyiur melambai, atap-atap rumah penduduk, area perkebunan, hingga gulungan ombak yang tak henti menyerbu pantai. Semua terlihat dari atas menara. Memanjakan mata. Menyegarkan jiwa. Pesona tak terbantahkan dari Pesisir Barat. Jika ke sini, naiklah menara ini. 

Pemandangan indah dari atas menara


Alhamdulillah bisa berada di sini bersama orang-orang tersayang

Makam Keramat di Batu Liang

Tawaran menggiurkan dari Batu Liang karena merupakan salah satu spot sunset terbaik di Pulau Pisang. Motor-motor pun berhenti pada sebuah jembatan. Sekitar 20 meter jalan kaki untuk sampai di pinggir tebing yang sangat curam. Dibawahnya sudah menanti batu-batu cadas yang cukup dengan sekali jatuh bisa meremukkan tulang belulang. Naudzubillah. 

Sementara di samudera nan luas, gelombang menciptakan ombak panjang dan tinggi menuju tepian. Surganya para peselancar. Surganya para fotografer. 



Terus terang, tempat ini membuat saya dihantui ketegangan sekaligus rasa takut. Duduk sesaat pada sebuah batu yang menjorok ke laut pun bikin saya gemetar. Melihat Deddy, Yayan, Dian, dan Mas Arif berfoto di batu itu saya jadi takut. 

Karena tempat ini tidak aman, saya sarankan pada siapa saja yang mampir ke sini untuk berhati-hati. Jangan berdiri terlalu pinggir. Jangan abaikan keselamatan untuk sekedar mendapatkan foto spektakuler.

Aries dengan keberaniannya berdiri di ujung batu :D


Kita fotonya di sini saja biar aman :D

Sekitar 5 meter dari bibir jurang ada lubang dalam dan panjang, yang konon kabarnya jika dimasuki ada terowongan yang mengantar kita pada suatu tempat. Hmm…ada yang sudah membuktikan? Tapi jaman dulu, mungkin saja ada yang membuatnya untuk tujuan tertentu. Bisa jadi sebagai tempat persembunyian, jalan pelarian, atau malah tempat pembuangan mayat? Hiii…saya bergidik. 

Terdapat sebuah makam yang disebut-sebut keramat. Kuburannya panjang. Mungkin karena ukuran orang jaman dulu tinggi-tinggi. Konon merupakan orang penting di jamannya (perlu diteliti lagi). Di nisan tertulis tahun lahir tahun 1844 dan meninggal di tahun 1964. Itu artinya usia hidupnya 120 tahun dan jenazahnya telah 53 tahun bersemayam di Pulau Pisang.

Suasana sepi dan jauh dari keramaian membuat tempat yang menjanjikan pemandangan menawan ini kami tinggalkan. Agak kurang nyaman jika harus berada di sini sampai gelap. Hutan di kiri dan kanan jalan juga menambah kesan angker. Tapi percayalah, ungkapan ini ditulis oleh seorang penakut he he. Kalau kamu pemberani, habiskan petangmu di sini. Siapa tahu bisa bertualang sampai menjelajah dunia lain :D 


Kenangan Indah di Batu Gukhi

Jalan bagus dan panjang, berawal dari Pekon Pasar tempat kami menginap dan berakhir sampai Pekon Pasar lagi, membuat motoran keliling Pulau Pisang jadi asik. Jalannya tidak putus meski banyak persimpangan. Letaknya pun berada di sepanjang pinggir pantai. Memudahkan untuk mampir berwisata pantai bagi siapa saja yang lewat.

Kami sempat mampir ke salah satu pantai untuk acara mandi-mandi senang, tapi urung karena banyak karang. Pantainya sepi. Hanya terlihat 2 orang sedang memancing ikan. Motor kembali dipacu, kali ini langsung ke tujuan terakhir: Batu Gukhi. 



Abrasi menyebabkan kerusakan pada garis pantai. Beberapa pohon rubuh dengan akar yang terangkat ke atas. Di dekatnya tersisa area terbuka dengan permukaan yang dibalut rerumputan halus. Di sana kami duduk melepas penat setelah beberapa jam berkeliling naik motor.

Pantai di sebelah selatan merupakan pantai pasir putih, cocok buat berenang-renang atau sekedar berendam. Sedangkan sebelah utara lebih banyak karang, besar-besar dan tajam. Terdapat karang tinggi yang bila dilihat dari samping bentuknya menyerupai wajah manusia. Karang inilah yang disebut sebagai batu Gukhi. Namanya kemudian dilekatkan sebagai nama pantai. 
Ada yang asik bermain air melihat hewan-hewan laut

Perairan di sekitar pantai terbilang dangkal meski banyak karang. Sekitar 100 meter ke arah laut baru agak dalam. Deddy, Yayan, Dian mengisi waktu dengan melakukan sesi foto. Mas Arif sibuk dengan action cam, merekam video hewan-hewan laut yang banyak ia jumpai di sekitar Batu Gukhi. Cukup lama ia asyik sendiri melihat teripang, kepiting, ikan, hingga kerang. Sementara saya, yuk Annie, Aries, dan mas Don lebih banyak beristirahat di atas rerumputan. Mengunyah snack dan menyeruput kopi yang dibeli Aries di warung desa. Sore yang indah dan tak terlupakan.

Gempuran ombak besar dan tinggi di sisi selatan jadi hiburan yang tak henti membuat kagum sekaligus ngeri. Aries dan Mas Arif tampak bersemangat memotret moment tersebut.

Matahari mulai turun, tapi awan tebal kelabu sepertinya datang dan tak mau menyingkir. Nun jauh di kaki langit, sepertinya badai di laut tengah terjadi. Nyali saya ciut. Ditambah angin kencang yang terus berhembus. Kami memilih pulang.


Di saat langit senja tanpa selendang jingga. Coba menggoyahkanku. Merapuhkanku. Aku tegar berdiri ---------------------------------------------------------------------------- . . 📍 Pantai Batu Gukhi, Pulau Pisang. Salah satu spot sunset terbaik di Pulau Pisang. Ombak tinggi dan besar, suguhan memukau kala bergulung2 menuju pantai. Pantai pasir, pantai karang, karang tinggi, dan hewan2 laut yang cuek beibeh. Rerumputan hijau, dan tubuh2 yang rebah dan bersujud. Tempat ini menawarkan ketenangan, juga indahnya kenangan. Tentu sayang dilewatkan kalau sedang di Pulau Pisang. Nikmati alam sambil dijaga dengan tidak membuang sampah sembarangan ya teman 🙂 ---------------------------------------------------------------------------- . . Trip Krui oleh Dinas Pariwisata Krui @kruitourism Goes to Pesona Krui 2017 Special thanks to @riez_aries Photo by @arifgwibowo #ijamitkrui #kruitourism #pesisirbarat #pulaupisang #pantaigukhi #kelilinglampung #lampunggeh #pikniklampung #jalanjalan #adventure #lampung #travelblogger #pesonakrui #beach #travelblogger #visitlampung #sunset #beautiful #travel #wonderfulindonesia #pesonaindonesia
A post shared by Katerina (@travelerien) on
  
Melihat Kerajinan Tapis di Pulau Pisang

Ibu pemilik homestay menyajikan makan malam dengan sayur khetak kidhip, masakan yang baru pertama kali saya jumpai. Sayur berkuah santan berisi campuran daun tangkil dan kacang hijau. Mirip lodeh bening tanpa bumbu-bumbu yang rasanya tajam. 
Lauknya ikan blue marlin/tuhuk goreng. Tak ketinggalan petai rebus, mentimun, dan sambal. Kejutan kuliner kedua di Pulau Pisang setelah siangnya makan sayur buah kelor :D
Makan malam dengan Ikan Tuhuk (marlin) goreng dan sayur Khetak Khidip. Enak!

Kegiatan jelajah pulau selama seharian menyisakan lelah. Badan segar seusai mandi dan rasa kenyang seusai makan, menghadirkan kantuk yang tak bisa saya lawan. Ketika yang lain masih asik mengelilingi hidangan sambil ngobrol, saya masuk kamar. Tidur nyenyak sampai pagi tanpa tahu kalau teman-teman malah pergi ke rumah tetangga untuk melihat kerajinan tapis.

Beruntung Mas Arif mengambil beberapa foto, ditambah info dari Mbak Dian dan Yuk Annie, jadi saya bisa bercerita sedikit tentang kerajinan tapis ini. Pengrajin tapis di Pulau Pisang cukup banyak. Biasanya tapis dibuat berdasarkan permintaan. Ada yang dalam bentuk kain, selendang, dan gorden pintu yang digunakan untuk acara tertentu. Kisaran harga kain Rp 3 juta, sedangkan gorden pintu Rp 1,5-2 juta.

Jika malam itu saya ikut serta, kebayang bakal ngiler liat kainnya dan bisa saja jadi kebawa mimpi :D 
Kain Tapis Rp 3 jutaan

Tapis untuk gorden pintu Rp 1,5-2 juta

Pagi tanpa Sunrise tetap indah


Anjing pemilik homestay mengikuti langkah kami yang bergegas menuju pantai. Sepertinya hewan jinak itu cepat akrab dengan orang yang baru dia temui. Aries dan Mas Arief sibuk menata kamera, angkat tripod ke sana kemari. Saya dan yang lain mengisi waktu membicarakan Ogik yang tak mau lepas dari Deddy. Kami seperti punya teman baru, meski hanya seekor hewan.

Bukit di seberang pulau tempat matahari pagi biasa muncul masih jadi pusat perhatian. Tapi, langit di ufuk timur tak jua memerah. Akhirnya, sama seperti matahari terbenam di Batu Gukhi yang tak bisa kami saksikan karena awan yang menutupi, pagi ini pun matahari terbit lewat dari harapan. Sedih? Tidak.
Demi sunrise indah, keluar pagi2 seusai subuh

Alam memang tak bisa diajak janjian. Masih bersyukur tidak hujan. Setidaknya masih bisa menikmati suasana fajar di Pulau Pisang. Menyaksikan nelayan menaiki perahu, pergi mencari ikan di lautan. Sisanya melakukan kesenangan dengan memotret. Namun yang paling saya sukai adalah menghirup dalam-dalam udara pagi yang masih sangat bersih dan segar. Tidak tiap saat begini. Betapa saya mensyukurinya. 
Pagi nan syahdu

Pagi masih terasa syahdu, masih asik untuk berlama-lama di pantai. Namun ada yang mesti diburu. Jam 7 kami mesti segera meninggalkan Pulau Pisang. Hari ini hari terakhir menjelajah pesona Krui. Kami harus kembali ke Labuhan Jukung secepatnya.

Kopi, teh, dan pisang goreng jadi sarapan pembuka yang lezat. Di jeda berkemas dan mandi, lalu dilanjut sarapan bersama dengan nasi goreng. Sederhana namun nikmatnya luar biasa. Meski hanya semalam, berpisah dengan rumah yang menjadi tempat kami bermalam menerbitkan sedih. Masih terkenang mandi bergantian di dua kamar mandi yang ada. Kamar mandi kecil namun airnya berlimpah. Mati lampu di kamar mandi. Pakai senter HP. Ngecas batre Hp dan kamera, ternyata listrik mati. Tidur di kamar yang pintunya terbuka, hanya ditutup gorden tipis yang kapan saja bisa terbuka kala melambai tertiup angin. Entah kapan saya akan kembali lagi melihat rumah itu… 
Sarapan pembuka

Sarapan penutup

Waktu pasti akan berlalu, tapi kenangan akan Pulau Pisang akan tetap tinggal dalam ingatan. Kebersamaan dengan sahabat-sahabat dekat, adalah momen terindah yang tak akan pernah berulang. Teramat sayang jika tak menghargainya.
colokan kabel di ruang tengah yang akan selalu dikenang :D

Momen Indah Bertemu Banyak Lumba-lumba

Telah tiga kali datang ke Kiluan pada periode 2016, tak juga bertemu banyak lumba-lumba yang mampu membuat saya benar-benar merasa puas. Meski selalu gagal, tapi tak ada kesal, tak ada kapok. Yang ada saya terus menyulam harapan suatu hari nanti akan bertemu dengan sajian paling spesial. Entah kapan, hanya bisa menunggu sampai semesta menjawab dengan caranya yang paling rahasia.

Perjalanan pulang ke Pelabuhan Kuala Stabas punya warna yang berbeda. Jika saat berangkat dihadiahi langit cerah dan sangat biru, sekarang kami pulang dengan langit berawan dan cenderung mendung. Tapi siapa sangka di balik itu Tuhan menghadiahkan kami dengan atraksi paling menawan dari lumba-lumba. 
Lumba-lumba terbanyak yang pernah saya lihat *Photo by Aries Pratama*

Lumba-lumba muncul jauh lebih banyak dari yang pernah saya lihat selama di Kiluan. Sangat dekat. Dari depan, dari samping kanan dan kiri jukung. Kamera sudah siap, tapi selalu kalah cepat. Mungkin memang waktunya hanya melihat dengan mata. Menikmati tanpa harus terbebani oleh kata-kata hoax bagi yang meragukan. Seperti yang diucapkan Yayan yang saat itu duduk dekat saya, “Cuma mau menikmati”. Iya, kita adalah pejalan yang menikmati perjalanan. Menikmati apa-apa yang kita lihat dalam perjalanan. Kita bukan penjual foto. Lupakan urusan foto-foto. Terima kasih kepada Aries yang berhasil mengabadikan kemunculan lumba-lumba lewat kameranya.

Lagi-lagi, saya tak pernah sesenang ini. Betapa keberuntungan begitu pandai memberi pelukan pada waktu yang sangat indah.

“Saya tak membawa atraksi lumba-lumba itu ke hadapanmu, tapi saya membawamu ke tempat di mana lumba-lumba beratraksi di habitatnya.”




Pesona Krui 2017

Perjalanan menjelajah Pulau Pisang memberi pengalaman berharga, sekaligus kenangan yang indah. Laut dan daratannya menawarkan petualangan seru yang akan selalu dirindukan pada masa-masa yang akan datang.

Tidakkah kamu juga menginginkannya?

Sebagai salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Lampung, Kabupaten Pesisir Barat memiliki berbagai potensi pariwisata dan keberagaman budaya yang tidak kalah menarik dengan daerah lain. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia sehingga memiliki panorama pantai yang indah dan memukau. Para pengunjung dapat menikmati indahnya pemandangan pantai dan deburan ombak serta kesejukan angin sambil menyaksikan sunset. 




Selain pantai, objek wisata di Kabupaten Pesisir Barat sangat beragam. Terdapat beberapa wisata unggulan yang akan terus dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Pesisir Barat, di antaranya Pulau Pisang yang baru saja saya jelajahi tgl. 17/3, Pantai Tanjung Setia yang kami kunjungi pada tgl. 18/3, Pantai Labuhan Jukung tempat kami menginap tgl. 16/3, dan wisata sejarah di Kramat Manulla, Makam Gajah Mada, dan Goa Matu.

Letak pantai-pantai di Pesisir Barat sangat strategis dan mudah diakses. Dari Bandar Lampung, Pesisir Barat dapat ditempuh sekitar 5-6 jam dengan berkendara mobil atau motor. Jangan khawatir dengan tiket masuk tempat wisata, di sini rata-rata tidak dipungut biaya. Sewa mobil dari Bandar Lampung Rp 250 ribu per hari belum termasuk supir dan BBM. Biaya sewa perahu ke Pulau Pisang Rp 600.000 PP sudah termasuk tur lumba-lumba. 




Bulan April nanti Dinas Pariwisata Krui akan menggelar berbagai event dalam rangka hari jadi Krui. Banyak kegiatan yang akan dilaksanakan dalam event tersebut, di antaranya:
• Krui Pro 2017 WSL QS1000 Surfing Competition pada tgl. 15-20 April 2017
• Aneka lomba yang akan digelar mulai 13-22 April 2017 terdiri dari lomba tari adat, lomba tari kreasi, lomba ngunduh damar, lomba pidato bahasa Inggris, lomba layang-layang, lomba lagu Lampung, Lomba Mawalan, Lomba Foto Wisata, Lomba Bahasa Arab, Lomba Pidato Bahasa Mandarin, Lomba Ngukur kelapa
• Rekor MURI 1001 orang Ngunduh Damar pada tgl. 13 April 2017

Rangkaian kegiatan yang tentunya sangat menarik untuk disaksikan. Selain dapat memperkaya pengetahuan akan budaya salah satu daerah di Lampung, juga dapat memperkaya pengalaman berwisata.  





Jika teman-teman punya rencana berkunjung ke Pulau Pisang pada bulan April nanti, bisa datang saat event, biar dapat momentnya. Percaya deh bakal ketagihan datang ke Krui. Saya yang baru saja habis dari sana rasanya pingin balik lagi dan ingin ikut menyaksikan rangkaian kegiatannya, tapi tidak bisa karena bertepatan dengan trip selama 2 minggu di Tidore dan Ternate. Tapi suatu saat saya pasti kembali, entah bersama rombongan traveler, atau berdua saja bersama suami.

Berwisata di Krui tentu bukan hanya ke Pulau Pisang. Masih ada tempat-tempat menarik lainnya yang kami kunjungi selama di Krui, seperti Pantai Tanjung Setia, Perkebunan Damar, Pantai Labuhan Jukung. Kami juga sempat mengunjungi sentra kuliner di Pasar Pagi, melihat Bandara Seray, dan mampir ke Tugu Tuhuk (ikon Krui). Kunjungan ke tempat-tempat tersebut akan saya tulis pada postingan berikutnya.  



Liburan bareng ke Pulau Pisang itu menyenangkan :)

  • Terima kasih kepada Dinas Pariwisata Krui atas undangan mengikuti trip Krui dari tgl 16-18 Maret 2017 dalam rangka menyambut Pesona Krui 2017.
  • Terima kasih juga kepada Mas Aries Pratama dari Dinas Pariwisata Krui yang telah menemani kami selama 3 hari Eksplorasi Keindahan Krui
  • Terima kasih kepada akun-akun medsos di Lampung yang telah membantu me-repost postingan foto-foto Krui saya di Instagram dengan tanpa pamrih telah turut menyebarkan informasi wisata Krui: @Lampuung @lampunggham @pesisirbarat_ @ilovelampung @jalan2lampung @lampungkuybareng.
  • Terima kasih @ijamitkrui dan  @kruitourism
  • Terima kasih teman-teman Travel Blogger Indonesia atas kebersamaannya : Dian Radiata dari Batam (adventurose.com), Deddy (deddyhuang.com) dan Haryadi Yansyah (omnduut.com) dari Palembang, dan yuk Annie (annienugraha.com) seorang blogger sekaligus konsultan pariwisata dari Jakarta

Lampung memang bukan milik masyarakat Lampung saja, Lampung adalah milik mereka semua yang mencintai Lampung. Jaya terus pariwisata di Indonesia, khususnya Pesisir Barat dan semoga event Pesona Krui 2017 sukses.

Baca juga cerita perjalanan Jelajah Krui dari teman-teman seperjalanan saya berikut ini :

Dian Radiata : Ija Mit Krui


Video Jelajah Pulau Pisang: