Diseruduk Mesra oleh Gajah Way Kambas

23.37

Travelerien.com

Sudah satu tahun berlalu sejak pertama kali berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, baru sekarang terasa bergairah untuk berkisah. Tidak ada hal khusus yang memicu, melainkan hanya dari “Your Memories 1 Year Ago Today” Facebook yang muncul secara otomatis dalam beberapa hari ini lewat foto Kiluan dan Way Kambas. Seolah hendak mengingatkan, “Hei, kamu belum menulis tentang Gajah Way Kambas, lho.”

Baiklah.

Tahun lalu, tepatnya 18-20 Januari 2016, saya main ke Lampung. Dua hari pertama di Teluk Kiluan, main pasir di pantai, berendam di laut, melihat lumba-lumba yang tak muncul-muncul, dan menikmati suasana pesisir yang sepi. Hari ke-3 pulang, tapi jadwal pesawat sore. Sejak bangun pagi di hari Rabu tgl 20 Jan 2016 itu masih tak ada ide mau kemana. Hingga akhirnya dapat saran, “Ke Way Kambas saja, kamu kan pernah bilang ingin ke sana.”

Yessss! Setuju.
 

Saya masih ingat sekitar bulan Oktober 2015 editor majalah dalam pesawat Sriwijaya Air meminta saya untuk menulis tentang Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Saya tak bisa penuhi itu karena belum pernah berkunjung. Tidak punya foto, tidak punya cerita. Kosong.

Bulan November saya ke Lampung, diundang dalam acara Festival Teluk Semaka. Ada niat untuk menyempatkan waktu ke TNWK, tapi belum memungkinkan. Tahun 2015 berakhir, keinginan ke TNWK belum terwujud. Baru pada Januari 2016 tercapai, tanpa rencana. 

Loket tiket masuk TNWK

Taman Nasional Way Kambas (TNWK)

Jam 9 pagi berangkat dari Bandar Lampung. Start dari POP Hotel. Sampai di TNWK jam 11. Nah, saya tak paham rute Bandar Lampung - TNWK. Informasi rute berikut ini saya  contek dari blog Mas Yopie Pangkey yang hari itu menemani saya ke Way Kambas. Silakan dicatat jika diperlukan.

Rute Bandar Lampung menuju TNWK:
Keluar dari Bandar Lampung, melewati jalan lintas Sumatera menuju Tegineneng, berbelok ke kanan ke arah kota Metro dan Sukadana. Di Sukadana berbelok ke kanan memasuki Jalan Lintas Pantai Timur, saat bertemu dengan pasar kecamatan Labuhan Ratu belok kiri yang terdapat gerbang bertulis Taman Nasional Way Kambas.

Dari pusat kota Bandar Lampung sampai simpang kecamatan Labuhan Ratu sekitar 97 kilometer. Dari simpang tersebut kita harus menempuh jarak 7 kilometer untuk sampai di loket masuk TNWK. Dari loket ke lokasi Pusat Latihan Gajah masih harus berkendara lagi sejauh 8,5 kilometer melalui jalan aspal yang sebagian sudah diperbaiki oleh dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung pada tahun 2015. 

Baca tulisan Mas Yopie di sini: Bermesraan dengan Gajah Way Kambas
 

Di samping gerbang utama ada loket pembayaran tiket masuk. Harganya Rp 10.000 per orang. Karena saya mau ke toilet, kami singgah di depan kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional. Sementara Mas Yopie ngobrol dengan 2 orang petugas. 


Saya sempat dengar mereka bicara tentang paket wisata di TNWK. Paket bermalam lengkap dengan berbagai kegiatan. Cocok buat ajak rombongan. Karena tertarik, saya minta nomor telpon salah satu dari petugas tersebut. Buat dihubungi suatu waktu. Tapi sekarang saya lupa dimana menyimpan nomornya. Padahal paket itu akan saya rekomendasikan ke mertua laki-laki yang hendak liburan bersama teman-teman satu angkatannya di TNI.




Melewati Dua Gerbang

Dari gerbang pertama, mobil melaju lagi sejauh 8,5 km. Sepi sepanjang jalan. Jendela mobil saya buka, angin sejuk pun membelai wajah. Di kiri kanan hanya pohon. Sesekali terlihat penampakan kera, juga kepak sayap burung yang keluar dari balik rimbun daun. Suara serangga pun terdengar tak henti. Jalanan basah, sisa hujan yang baru usai. Syahdu.

Kami berhenti sesaat. Tergoda untuk turun dan ambil foto. Hasil jepretan ternyata menampakan kerudung di bagian leher dekat kerah baju agak tersingkap. 


“Nanti bisa diedit,” begitu katanya. 

Turun hanya untuk memotret saya? Tidak. Kami juga motret jalan. 

Jalan ke kanan ke Pusat Konservasi Gajah


Udara segar dan suasana asri di sepanjang jalan menuju PKG

Kami sampai di gerbang kedua, bertuliskan “Pusat Konservasi Gajah” (PKG). Di depan gerbang itu, jalan aspalnya berlubang cukup lebar, digenangi air. Sambutan yang bikin saya nyengir. 


Di dalam, terdapat area parkir, pondok-pondok jajan, pondok souvenir, toilet, kantor, asrama gajah, tempat atraksi gajah, penginapan, rumah pawang, bahkan Rumah Sakit Gajah.
Gerbang ke-2

Pusat Latihan Gajah


Lantas apa yang saya inginkan setelah berada di PKG? Hanya ingin masuk, tanpa memarkirkan mobil, melanjutkan laju dan berkeliling sambil melihat gajah dari dekat

Menunggang gajah? Entah kenapa tidak ada keinginan untuk itu. Lagi pula atraksi naik gajah  kini sudah dihentikan berdasarkan surat edaran Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup terkait dugaan korupsi atas penerimaan tarif hiburan oleh gajah.

Sebelum melewati kolam mandi/minum gajah, mobil berbelok ke arah asrama gajah. Berhenti di depan bangunan bernama Mahout House. Di belakangnya ada penginapan untuk orang-orang yang datang dengan tujuan penelitian, atau kegiatan-kegiatan terkait. Saya lihat ada dua orang asing (bule), perempuan dan laki-laki. Mungkin para peneliti. 

Kolam minum gajah

Kotoran gajah

Di depan Mahout House terdapat hamparan padang rumput yang luas. Di sinilah pertama kali saya melihat penampakan gajah-gajah Way Kambas. Meski agak jauh, tapi saya bisa melihat jelas beberapa ekor gajah tengah asik bersantap melahap rerumputan.

Asrama gajah terletak di sisi kanan Mahout House. Asrama yang dimaksud adalah sebuah kandang yang luas, berlantai bumi beratap langit. Di dalamnya terdapat tonggak-tonggak yang berfungsi sebagai penambat tali pengikat kaki gajah agar tidak pergi kemana-mana di malam hari. Tampak beberapa ekor gajah dan seorang petugas yang mungkin saja seorang pawang/pelatih/perawat gajah. Tak lama kami di situ, lalu pergi, lanjut berkeliling pakai mobil.

Penginapan

Asrama gajah

Suasana di dalam asrama gajah

Saat melewati kolam besar, tempat mandi sekaligus tempat minum gajah, Mas Yopie cerita. Katanya, biasanya gajah-gajah dimandikan pada sore hari oleh pawang. Pingin sih lihat, tapi kami tak mungkin menunggu karena bakal kesorean. Pukul 16.00 saya sudah harus berada di bandara Radin Inten II, karena pesawat saya take off pukul 18.30
 
Padang rumput di depan Mahout House

Dikejar dan diseruduk anak gajah

Selepas melewati kolam besar, kami sampai di tempat yang lebih terbuka, berupa padang ilalang yang luas di kiri dan kanan jalan. Ada banyak gajah di sana. Mereka berkelompok dan berada agak jauh dari jalan. Yang terdekat adalah seekor induk dan anaknya, sedang merumput di pinggir jalan. Dua gajah inilah yang bikin kami berhenti.


“Inikah saatnya mengejar gajah?" :D

Saya penasaran, tapi jujur saya takut kalau terlalu dekat. Mas Yopie bilang aman. Lalu saya bilang, “Kalau kita dikejar gajah, kita lari ke mobil ya.” Dia nyengir dan berkata, “Ga akan.” Meski ragu, saya cukup tenang dengan jawaban itu.

Dengan menggunakan kamera saya, Mas Yopie memotret. Baru beberapa jepretan, datang seorang pawang dengan motornya. Kalau tak salah namanya Edi. Ia berhenti dan mendekati kami.

Keluarga gajah
 
Motret induk dan anak gajah

Dibantu pawang

“Nggak usah takut, lawan saja kalau dia mendekat. Ayo fotonya yang agak dekatan, pegang gajahnya.”

Begini ya rasanya, mengejar gajah tapi hati dihinggapi rasa takut. Berusaha banget memberanikan diri, meski ngeri. Kebayang kan kalau diseruduk dan diinjak oleh badannya yang besar dan berat itu? Saya bakal remuk. Saya makan nasi dan daging, gajah cuma makan rumput. Tapi kekuatan dan bobotnya astaga naga, kebanting jauh.

“Pegang saja telinga induknya, dibelai, gapapa. Ga bakal nyeruduk.”

Sekali lagi pawang menenangkan saya. Memang sih, induk gajah itu diam saja. Tidak menolak apalagi melawan. Tapi tetap saja saya takut. Pawang sudah siap dengan sebatang ranting. Bukan untuk memukul tapi menakuti si gajah biar tidak macam-macam. He he. Katanya, gajah itu akan nurut dengan kata-kata tertentu, bukan karena dipukul. Jadi nggak perlu pakai teriak dan main fisik, gajah bisa mengerti apa yang diucapkan. Meski binatang, gajah juga punya perasaan.



Saya aman dari serudukan induk gajah, malah berhasil foto-foto. Eh siapa sangka justru si anak gajah yang nyeruduk. Bukan saya yang diseruduk, tapi mas Yopie! :D


Awalnya mas Yopie asik motret dan merekam video si anak gajah yang sedang minum di genangan air. Tapi tiba-tiba anak gajah itu mendekat, makin dekat makin cepat gerakannya. Lalu mas Yopie diseruduk dengan belalainya!

Saya terpingkal melihatnya. Mas Yopie sampai mundur-mundur dan hampir kejengkang. Untung selamat. Si anak gajah langsung diamankan oleh pawang Saya sih tidak khawatir dia jatuh, yang saya khawatir kamera saya yang jatuh :))


Kalau ingat itu saya tidak berhenti tertawa. Kejadian lucu yang masih saya kenang sampai sekarang :)

Dua gajah jantan yang kami lihat

Foto gajah jepretan mas Yopie dipakai untuk ini :)

Senangnya lihat foto itu di pajang di jalan kota Bandar Lampung :)

Kami meninggalkan anak gajah dan induknya. Berjalan ke sisi lain yang jumlah gajahnya lebih banyak. Dilihat dari gadingnya ternyata sekawanan gajah jantan. Lebih ngeri lagi. Apalagi lihat gadingnya. Bikin gemetar :)) Tapi pawang bilang saat itu sedang bukan musim kawin/birahi, gajah-gajahnya terkendali. Oh…jadi kalau sedang musim kawin, gajahnya beringas dan nafsuan gitu?  


Berhubung sudah dekat banget sama gajah, rugi dong kalau tidak ada sesi foto mesra sama gajah. Jadi, saya disuruh mendekati dua gajah jantan. Jantung dag dig lho. Agak-agak takut. Segala perintah pawang saya dengarkan. Sementara mas Yopie sudah siap-siap untuk memotret.

Jreng….jreng… satu jepret dua jepret hingga belasan kali.

Akhirnyaaaa…..foto sama gajah! :)) Lega ternyata nggak kenapa-kenapa. 

Senangnya bisa berdekatan dengan gajah-gajah jantan ini

Memang sungguh menyenangkan berada di alam terbuka dan melihat langsung gajah-gajah Lampung yang selama ini dilindungi dan dijaga keberadaannya agar tetap hidup dan berkembang biak dengan semestinya. Bisa lihat dari dekat, pegang-pegang, belai-belai, bahkan menatap mata kecilnya.

Sekarang sudah setahun saja pengalaman itu. Begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin dari Way Kambas.

Kolam mandi gajah

Tempat atraksi gajah

Toilet untuk pengunjung

Rumah Sakit Gajah

Pondok jajan di kawasan PLG

Sensasi yang berpendar dalam kotak kenangan. Tentang mengejar gajah dan dikejar gajah. Perihal upaya mendekat dan lari menjauh. Diselimuti rasa senang dan deg-degan. Diliputi rasa cemas dan ketakutan. Disaat aman bisa bermesraan. Dikala tak nyaman muncul aroma permusuhan.

Pelajaran tentang rasa dari gajah. Berubah-ubah. Sekarang begini, besok begitu. Seperti halnya hidup yang penuh dinamika.

Semoga bisa menjejakkan kaki lagi di TNWK, bertemu kembali dengan gajah-gajah gagah dengan cerita baru yang tak kalah mesra dan indah.

Sampai jumpa lagi Way Kambas.


Sampai jumpa lagi TNWK

Tentang Taman Nasional Way Kambas (TNWK)


TNWK adalah Taman Nasional perlindungan gajah dan suaka alam dataran rendah seluas 126.000 hektar yang terletak di daerah Lampung Timur. Way Kambas dan gajahnya muncul sebagai ikon provinsi Lampung.

TNWK berdiri pada tahun 1985 dan merupakan sekolah gajah pertama di Indonesia. Awalnya disebut Pusat Latihan Gajah (PLG). Kini mulai disebut menjadi Pusat Konservasi Gajah, sehingga benar-benar bisa menjadi tempat konservasi, pengembangbiakan, penelitian, dan penjinakan. Sekitar 300 gajah sudah menjadi alumni Sekolah Gajah Way Kambas, dan gajah-gajah tersebut telah disebar ke seluruh Indonesia.

Jenis gajah yang ada di TNWK adalah Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus). Menurut para Mamout (pawang) di TNWK, yang membedakan Gajah Sumatra (dalam hal ini Gajah Lampung) dengan Gajah Afrika adalah Gajah Afrika memiliki bentuk kuping yang lebih mekar dan tegas, serta ukuran tubuh yang lebih besar.

Di Way Kambas tidak hanya ada tentang gajah, ada pula Badak Sumatra yang konon terancam punah. Karena itu di Way Kambas juga terdapat International Rhino Foundation yang bertugas menjaga spesies Badak agar tidak punah. Serta Sumateran Rhino Sanctuary (SRS) yang merupakan populasi Badak Sumatra di habitat aslinya.

Ada banyak fauna selain gajah dan badak. Bila beruntung, di TNWK kita juga dapat menjumpai hewan-hewan liar lainnya seperti monyet, burung, serta akwanan hewan lainnya. Jadi, berkunjung ke TNWK menjadi salah satu hal wajib ketika berkunjung ke Lampung.

Untuk mencapai TNWK, jarak dari Kota Bandar Lampung menuju Way Kambas sekitar 112 km. Dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Bandar Lampung-Bandara Radin Intan-Metro-Way Jepara-Way Kambas.
 
 
*Canon EOS70D
*Difoto oleh Yopie Pangkey
*Lampung, 20 Januari 2016

Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

41 comments

Write comments
26 Januari 2017 03.26 delete

Wow serunya... Inshaa Allah tahun ini kami juga berencana bertemu dengan gajah Sumatera...

Reply
avatar
26 Januari 2017 07.28 delete

Nggak ikut mandiin gajahnya mbak? Kayaknya asyik kalau sambil mandiin Gajah.

Reply
avatar
26 Januari 2017 08.27 delete

Asiiiiik...semoga lebih seru dari pengalamanku mbak :)

Reply
avatar
26 Januari 2017 08.28 delete

Nggak mas, waktunya nggak cukup. Salah mengejar pesawat sore. Mungkin lain waktu saat ke TNWK lagi ya :)

Reply
avatar
26 Januari 2017 08.42 delete

Way Kambas ini abadi banget. Dari jaman aku SD, udah sering baca Way kambas karena selalu ada di buku pelajaran biasanya pelajaran IPS. Tapi sampai sekarang belum pernah ke sana. Belum pernah blas ke pulau Sumatra deng. Hiks. Seru ya main sama gajah. Selalu ngerasa mereka tuh hatinya lembut *___* hahaha

Reply
avatar
26 Januari 2017 09.51 delete

Wajar Mbak Rien takut. Gajahnya segede itu, Mbak Rien kan mungil. Aku juga kalo disitu bakalan deg-degan terus hihihi.

Foto Mas Yopie kereeeen. Gajahnya lagi main gituuu :D

Reply
avatar
26 Januari 2017 10.07 delete

Diseruduk mesrapun aku masih takut dekat dekat sama si doi

Ahhh, foto mas yopie kece badai

Reply
avatar
26 Januari 2017 10.45 delete

gw berkali2 mau ke way kambas kok selalu gagal mulu, pernah denger cerita barry kalo saat sunrise ini di way kambas bangus banget perpadua gajah, padang savana dan matahari

Reply
avatar
26 Januari 2017 12.27 delete

Aku dulu kenal Lampung cuma tentang gajah dan kopi. Titik. Ternyata, 2 kali ke Lampung, malah belum sekalipun mengunjungi gajah di Way Kambas. Pengen banget bisa kesana. Tapi gak mau kalo diseruduk, maunya yang mesra-mesra ajah :)

Reply
avatar
27 Januari 2017 13.30 delete

Lengkap Banget sampai kotoran kotoranya di fotto :)
salam kenal kak.

Reply
avatar
27 Januari 2017 15.53 delete

Iya beneran, bagian foto kotoran itu agak gimana gitu...jijik tapi keren, hahaha. Keren-keren selalu foto travelnya mba rien.

Reply
avatar
30 Januari 2017 15.43 delete

kemarin habis liat gajah di wonogiri, tapi gajahnya cuma dua doang, kalau ini banyak banget...

Reply
avatar
31 Januari 2017 21.10 delete

Senengnyaaaa liat gajah di Way Kambas. Aku udah seneng banget pas diajak Sunpride ke kebun buahnya, liat agenda ada jadwal ke Way Kambas karena emang jejer sih kebun buahnya sama penangkaran gajah itu. Eh, ternyata buat keliling kebun aja waktunya nggak cukup. Batal deh ke liat LPG-nya. Hiks.

Semoga lain kali ada kesempatan ke Lampung lagi, dan bisa ke Way Kambas liat gajah. Amin.

Reply
avatar
31 Januari 2017 22.03 delete

Aku baru sekali liat gajah pas di Lahat. Agak kasian gajah yg aku liat gadingnya patah dan tua. Pengen liat yg di lampung juga.

Reply
avatar
3 Februari 2017 08.05 delete

Sama dengan Mbak Dee, ingat gajah ingat Lampung. Sudah terpatri sejak masa kecil dulu. Ternyata banyak surga tersembunyi di Lampung ya.
Semoga bisa eksplor Lampung lagi, suatu hari nanti. Aamiin.

Reply
avatar
5 Februari 2017 01.39 delete

way kambas salah satu bucket list Babang taun ini, mudah2an bisa secepatnya kesana. minta tolong aminkeun ya

Reply
avatar
13 Februari 2017 07.24 delete

mba bisa sedekat itu sama gajah pas foto..aku gak berani ngebayanginnya hahaha

Reply
avatar
14 Februari 2017 23.37 delete

waktu itu kurang beruntung ya ga bisa safari gajah 30an menit. Padahal itu daya tarik yang lumayan OK menurutku.

Reply
avatar
15 Februari 2017 14.55 delete

Desember kemarin pengen ke sini, tapi akhirnya malah ke Pulau Pisang. Next harus ke sini, penasaran sama ceritanya dan melihat langsung Gajah dari dekat di Way Kambas.

Keren, mbak.

Reply
avatar
22 Februari 2017 02.22 delete

Gajahnya pasti seneng ya bisa berkeliaran bebas, jadi inget gajah di Wonogiri yg dirantai ke 4 kakinya. Kasihan

Reply
avatar
28 Februari 2017 09.38 delete

Very nice article. Baca ini jd pengen pulang kampung T_T

Reply
avatar
7 Maret 2017 15.37 delete

Aku habis dari sini. Tapi sedih, karena ditinggal rombongan karena ke toilet. :'(

omnduut.com

Reply
avatar
7 Maret 2017 18.37 delete

Duh anak gajahnya menyenangkan, jadi kangen..

Reply
avatar
7 Maret 2017 19.57 delete

Semoga ada kesempatan ke Sumatera ya mbak Grace. Mbak bisa datang ke Lampung, Aceh, Bengkulu, jika ingin lihat gajah. Kalau mau bareng, aku mau temani ^_^

Iya, aku pun berfikir begitu. Gajah itu hatinya lembut ^_^

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.05 delete

Badan dan ukurannya yang gede itu bikin gentar, Lia. Asli takut banget. Ada bayangan2 jelek ttg belalainya, seolah bakal dililit, trus diangkat tinggi2 :D Ada-ada ya mbak Rien ini. Tapi tetep dalam hati berprasangka gajah itu baek, punya perasaan. Ya buktinya ternyata ga diapa-apain. Memang sih ada peran pawang juga.

Iya, fotonya mas Yopie keren. Seneng lihatnya ^_^

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.11 delete

Sama mbak, ngeri kejengkang :D

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.29 delete

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Selamat jalan Mas Adi. Semoga sudah tenang dan bahagia di sisi-Nya ya. Semoga di sana bisa lihat banyak keindahan, mas. Sunrise jelita berpadu dengan gajah-gajah gagah di padang savana yang abadi T_T

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.46 delete

Ya nanti kalo ke Lampung jangan kemana-mana dulu ya, langsung melesat ke Way Kambas. Trus panggil gajah2 jantan yang sedang musim kawin, dekati, minta dimesra-mesrain haha

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.51 delete

Hai Zainal, salam kenal. Iya nih, ga lengkap tulisannya kalau nggak sama foto kotorannya *lol

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.53 delete

Jijik tapi keren. Baiklah om, ntar aku tambah foto kotorannya. Spesial buat Omali haha. Makasih om sudah mampir ^_^

Reply
avatar
7 Maret 2017 20.57 delete

Di Wonogiri lihat di kebun binatang kah?

Mari main ke Sumatera mas Dhanang, liat banyak gajah, sekalian jalan2 liat tempat lain selain gajah :)

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.02 delete

Aamiin. Semoga di kesempatan lain, punya waktu khusus buat ke Way Kambas ya mas Eko.

Kalau ada kegiatan lagi di kebun Sunpride, nambah hari lagi aja mas, jalan sendiri ke Way Kambas. Atau janjian sama teman-teman. Sayang juga kalau sudah dekat Way Kambas dilewatkan.

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.04 delete

Aamiin kak. Semoga bisa ekslpore Lampung lagi. Aku lagi pingin ke Bengkulu, ke Seblat, liat gajah juga. Pernah liat mas Cumilebay mandiin gajah di Aceh, tampaknya bisa juga liat di sana. Sumatera banyak gajah ya. Makin cinta sama Sumatera.

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.12 delete

Aamiin. Hayo berangkat segera bang :D

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.15 delete

Aku juga nggak beraniiii haha. Itu karena ada dua orang yang bantu aku jadi berani. Aslinya mah takuuut. Gajah jantan pula. Liat gadingnya saja berasa bakal kena tusuk haha Alhamdulillah pas foto gak kenapa2...

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.27 delete

Iya, kurang beruntung. Tapi gapapa mas. Kalaupun bisa belum tentu juga aku berani :D

Lain kali kalau sudah berani sama gajah, sudah berani menunggang, baru ikut safari gajah.

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.28 delete

Kalau sudah dekat dengan gajahnya, jangan lupa bermesraan ya Mel :D

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.33 delete

Aduh kasihan :( Kenapa diikat mbak? Biar nggak kabur? hiks

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.43 delete

Thanks Mbak Julee. Maaf kalau jadi bikin kangen kampung halaman. Semoga diberi kemudahan dan kesempatan untuk pulang ya. Jadikan postingan ini sebagai obat kangen aja mbak. Jangan sedih ya ^_^

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.49 delete

Alhamdulillah Yayan akhirnya ke Way Kambas lihat gajah ya. Pasti seneng banget rasanya. Sama seperti mbak Rien waktu pertama kali ke sana. Selalu jadi kenangan.

Itu ditinggal karena kelamaan di toilet atau pada nggak sadar Yayan nggak ada? :D

Reply
avatar
7 Maret 2017 21.52 delete

Biarpun anak gajah, tapi badannya gede juga dibanding aku. Malah anaknya itu yang agresif banget, mas Yopie sampe diseruduk dan hampir kejengkang :D

Tapi anak gajah memang lucu dan menggemaskan. Senang lihatnya.

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon