Diseruduk Mesra oleh Gajah Way Kambas

23.37 41 Comments

Travelerien.com

Sudah satu tahun berlalu sejak pertama kali berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, baru sekarang terasa bergairah untuk berkisah. Tidak ada hal khusus yang memicu, melainkan hanya dari “Your Memories 1 Year Ago Today” Facebook yang muncul secara otomatis dalam beberapa hari ini lewat foto Kiluan dan Way Kambas. Seolah hendak mengingatkan, “Hei, kamu belum menulis tentang Gajah Way Kambas, lho.”

Baiklah.

Tahun lalu, tepatnya 18-20 Januari 2016, saya main ke Lampung. Dua hari pertama di Teluk Kiluan, main pasir di pantai, berendam di laut, melihat lumba-lumba yang tak muncul-muncul, dan menikmati suasana pesisir yang sepi. Hari ke-3 pulang, tapi jadwal pesawat sore. Sejak bangun pagi di hari Rabu tgl 20 Jan 2016 itu masih tak ada ide mau kemana. Hingga akhirnya dapat saran, “Ke Way Kambas saja, kamu kan pernah bilang ingin ke sana.”

Yessss! Setuju.
 

Saya masih ingat sekitar bulan Oktober 2015 editor majalah dalam pesawat Sriwijaya Air meminta saya untuk menulis tentang Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Saya tak bisa penuhi itu karena belum pernah berkunjung. Tidak punya foto, tidak punya cerita. Kosong.

Bulan November saya ke Lampung, diundang dalam acara Festival Teluk Semaka. Ada niat untuk menyempatkan waktu ke TNWK, tapi belum memungkinkan. Tahun 2015 berakhir, keinginan ke TNWK belum terwujud. Baru pada Januari 2016 tercapai, tanpa rencana. 

Loket tiket masuk TNWK

Taman Nasional Way Kambas (TNWK)

Jam 9 pagi berangkat dari Bandar Lampung. Start dari POP Hotel. Sampai di TNWK jam 11. Nah, saya tak paham rute Bandar Lampung - TNWK. Informasi rute berikut ini saya  contek dari blog Mas Yopie Pangkey yang hari itu menemani saya ke Way Kambas. Silakan dicatat jika diperlukan.

Rute Bandar Lampung menuju TNWK:
Keluar dari Bandar Lampung, melewati jalan lintas Sumatera menuju Tegineneng, berbelok ke kanan ke arah kota Metro dan Sukadana. Di Sukadana berbelok ke kanan memasuki Jalan Lintas Pantai Timur, saat bertemu dengan pasar kecamatan Labuhan Ratu belok kiri yang terdapat gerbang bertulis Taman Nasional Way Kambas.

Dari pusat kota Bandar Lampung sampai simpang kecamatan Labuhan Ratu sekitar 97 kilometer. Dari simpang tersebut kita harus menempuh jarak 7 kilometer untuk sampai di loket masuk TNWK. Dari loket ke lokasi Pusat Latihan Gajah masih harus berkendara lagi sejauh 8,5 kilometer melalui jalan aspal yang sebagian sudah diperbaiki oleh dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung pada tahun 2015. 

Baca tulisan Mas Yopie di sini: Bermesraan dengan Gajah Way Kambas
 

Di samping gerbang utama ada loket pembayaran tiket masuk. Harganya Rp 10.000 per orang. Karena saya mau ke toilet, kami singgah di depan kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional. Sementara Mas Yopie ngobrol dengan 2 orang petugas. 


Saya sempat dengar mereka bicara tentang paket wisata di TNWK. Paket bermalam lengkap dengan berbagai kegiatan. Cocok buat ajak rombongan. Karena tertarik, saya minta nomor telpon salah satu dari petugas tersebut. Buat dihubungi suatu waktu. Tapi sekarang saya lupa dimana menyimpan nomornya. Padahal paket itu akan saya rekomendasikan ke mertua laki-laki yang hendak liburan bersama teman-teman satu angkatannya di TNI.




Melewati Dua Gerbang

Dari gerbang pertama, mobil melaju lagi sejauh 8,5 km. Sepi sepanjang jalan. Jendela mobil saya buka, angin sejuk pun membelai wajah. Di kiri kanan hanya pohon. Sesekali terlihat penampakan kera, juga kepak sayap burung yang keluar dari balik rimbun daun. Suara serangga pun terdengar tak henti. Jalanan basah, sisa hujan yang baru usai. Syahdu.

Kami berhenti sesaat. Tergoda untuk turun dan ambil foto. Hasil jepretan ternyata menampakan kerudung di bagian leher dekat kerah baju agak tersingkap. 


“Nanti bisa diedit,” begitu katanya. 

Turun hanya untuk memotret saya? Tidak. Kami juga motret jalan. 

Jalan ke kanan ke Pusat Konservasi Gajah


Udara segar dan suasana asri di sepanjang jalan menuju PKG

Kami sampai di gerbang kedua, bertuliskan “Pusat Konservasi Gajah” (PKG). Di depan gerbang itu, jalan aspalnya berlubang cukup lebar, digenangi air. Sambutan yang bikin saya nyengir. 


Di dalam, terdapat area parkir, pondok-pondok jajan, pondok souvenir, toilet, kantor, asrama gajah, tempat atraksi gajah, penginapan, rumah pawang, bahkan Rumah Sakit Gajah.
Gerbang ke-2

Pusat Latihan Gajah


Lantas apa yang saya inginkan setelah berada di PKG? Hanya ingin masuk, tanpa memarkirkan mobil, melanjutkan laju dan berkeliling sambil melihat gajah dari dekat

Menunggang gajah? Entah kenapa tidak ada keinginan untuk itu. Lagi pula atraksi naik gajah  kini sudah dihentikan berdasarkan surat edaran Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup terkait dugaan korupsi atas penerimaan tarif hiburan oleh gajah.

Sebelum melewati kolam mandi/minum gajah, mobil berbelok ke arah asrama gajah. Berhenti di depan bangunan bernama Mahout House. Di belakangnya ada penginapan untuk orang-orang yang datang dengan tujuan penelitian, atau kegiatan-kegiatan terkait. Saya lihat ada dua orang asing (bule), perempuan dan laki-laki. Mungkin para peneliti. 

Kolam minum gajah

Kotoran gajah

Di depan Mahout House terdapat hamparan padang rumput yang luas. Di sinilah pertama kali saya melihat penampakan gajah-gajah Way Kambas. Meski agak jauh, tapi saya bisa melihat jelas beberapa ekor gajah tengah asik bersantap melahap rerumputan.

Asrama gajah terletak di sisi kanan Mahout House. Asrama yang dimaksud adalah sebuah kandang yang luas, berlantai bumi beratap langit. Di dalamnya terdapat tonggak-tonggak yang berfungsi sebagai penambat tali pengikat kaki gajah agar tidak pergi kemana-mana di malam hari. Tampak beberapa ekor gajah dan seorang petugas yang mungkin saja seorang pawang/pelatih/perawat gajah. Tak lama kami di situ, lalu pergi, lanjut berkeliling pakai mobil.

Penginapan

Asrama gajah

Suasana di dalam asrama gajah

Saat melewati kolam besar, tempat mandi sekaligus tempat minum gajah, Mas Yopie cerita. Katanya, biasanya gajah-gajah dimandikan pada sore hari oleh pawang. Pingin sih lihat, tapi kami tak mungkin menunggu karena bakal kesorean. Pukul 16.00 saya sudah harus berada di bandara Radin Inten II, karena pesawat saya take off pukul 18.30
 
Padang rumput di depan Mahout House

Dikejar dan diseruduk anak gajah

Selepas melewati kolam besar, kami sampai di tempat yang lebih terbuka, berupa padang ilalang yang luas di kiri dan kanan jalan. Ada banyak gajah di sana. Mereka berkelompok dan berada agak jauh dari jalan. Yang terdekat adalah seekor induk dan anaknya, sedang merumput di pinggir jalan. Dua gajah inilah yang bikin kami berhenti.


“Inikah saatnya mengejar gajah?" :D

Saya penasaran, tapi jujur saya takut kalau terlalu dekat. Mas Yopie bilang aman. Lalu saya bilang, “Kalau kita dikejar gajah, kita lari ke mobil ya.” Dia nyengir dan berkata, “Ga akan.” Meski ragu, saya cukup tenang dengan jawaban itu.

Dengan menggunakan kamera saya, Mas Yopie memotret. Baru beberapa jepretan, datang seorang pawang dengan motornya. Kalau tak salah namanya Edi. Ia berhenti dan mendekati kami.

Keluarga gajah
 
Motret induk dan anak gajah

Dibantu pawang

“Nggak usah takut, lawan saja kalau dia mendekat. Ayo fotonya yang agak dekatan, pegang gajahnya.”

Begini ya rasanya, mengejar gajah tapi hati dihinggapi rasa takut. Berusaha banget memberanikan diri, meski ngeri. Kebayang kan kalau diseruduk dan diinjak oleh badannya yang besar dan berat itu? Saya bakal remuk. Saya makan nasi dan daging, gajah cuma makan rumput. Tapi kekuatan dan bobotnya astaga naga, kebanting jauh.

“Pegang saja telinga induknya, dibelai, gapapa. Ga bakal nyeruduk.”

Sekali lagi pawang menenangkan saya. Memang sih, induk gajah itu diam saja. Tidak menolak apalagi melawan. Tapi tetap saja saya takut. Pawang sudah siap dengan sebatang ranting. Bukan untuk memukul tapi menakuti si gajah biar tidak macam-macam. He he. Katanya, gajah itu akan nurut dengan kata-kata tertentu, bukan karena dipukul. Jadi nggak perlu pakai teriak dan main fisik, gajah bisa mengerti apa yang diucapkan. Meski binatang, gajah juga punya perasaan.



Saya aman dari serudukan induk gajah, malah berhasil foto-foto. Eh siapa sangka justru si anak gajah yang nyeruduk. Bukan saya yang diseruduk, tapi mas Yopie! :D


Awalnya mas Yopie asik motret dan merekam video si anak gajah yang sedang minum di genangan air. Tapi tiba-tiba anak gajah itu mendekat, makin dekat makin cepat gerakannya. Lalu mas Yopie diseruduk dengan belalainya!

Saya terpingkal melihatnya. Mas Yopie sampai mundur-mundur dan hampir kejengkang. Untung selamat. Si anak gajah langsung diamankan oleh pawang Saya sih tidak khawatir dia jatuh, yang saya khawatir kamera saya yang jatuh :))


Kalau ingat itu saya tidak berhenti tertawa. Kejadian lucu yang masih saya kenang sampai sekarang :)

Dua gajah jantan yang kami lihat

Foto gajah jepretan mas Yopie dipakai untuk ini :)

Senangnya lihat foto itu di pajang di jalan kota Bandar Lampung :)

Kami meninggalkan anak gajah dan induknya. Berjalan ke sisi lain yang jumlah gajahnya lebih banyak. Dilihat dari gadingnya ternyata sekawanan gajah jantan. Lebih ngeri lagi. Apalagi lihat gadingnya. Bikin gemetar :)) Tapi pawang bilang saat itu sedang bukan musim kawin/birahi, gajah-gajahnya terkendali. Oh…jadi kalau sedang musim kawin, gajahnya beringas dan nafsuan gitu?  


Berhubung sudah dekat banget sama gajah, rugi dong kalau tidak ada sesi foto mesra sama gajah. Jadi, saya disuruh mendekati dua gajah jantan. Jantung dag dig lho. Agak-agak takut. Segala perintah pawang saya dengarkan. Sementara mas Yopie sudah siap-siap untuk memotret.

Jreng….jreng… satu jepret dua jepret hingga belasan kali.

Akhirnyaaaa…..foto sama gajah! :)) Lega ternyata nggak kenapa-kenapa. 

Senangnya bisa berdekatan dengan gajah-gajah jantan ini

Memang sungguh menyenangkan berada di alam terbuka dan melihat langsung gajah-gajah Lampung yang selama ini dilindungi dan dijaga keberadaannya agar tetap hidup dan berkembang biak dengan semestinya. Bisa lihat dari dekat, pegang-pegang, belai-belai, bahkan menatap mata kecilnya.

Sekarang sudah setahun saja pengalaman itu. Begitu cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin dari Way Kambas.

Kolam mandi gajah

Tempat atraksi gajah

Toilet untuk pengunjung

Rumah Sakit Gajah

Pondok jajan di kawasan PLG

Sensasi yang berpendar dalam kotak kenangan. Tentang mengejar gajah dan dikejar gajah. Perihal upaya mendekat dan lari menjauh. Diselimuti rasa senang dan deg-degan. Diliputi rasa cemas dan ketakutan. Disaat aman bisa bermesraan. Dikala tak nyaman muncul aroma permusuhan.

Pelajaran tentang rasa dari gajah. Berubah-ubah. Sekarang begini, besok begitu. Seperti halnya hidup yang penuh dinamika.

Semoga bisa menjejakkan kaki lagi di TNWK, bertemu kembali dengan gajah-gajah gagah dengan cerita baru yang tak kalah mesra dan indah.

Sampai jumpa lagi Way Kambas.


Sampai jumpa lagi TNWK

Tentang Taman Nasional Way Kambas (TNWK)


TNWK adalah Taman Nasional perlindungan gajah dan suaka alam dataran rendah seluas 126.000 hektar yang terletak di daerah Lampung Timur. Way Kambas dan gajahnya muncul sebagai ikon provinsi Lampung.

TNWK berdiri pada tahun 1985 dan merupakan sekolah gajah pertama di Indonesia. Awalnya disebut Pusat Latihan Gajah (PLG). Kini mulai disebut menjadi Pusat Konservasi Gajah, sehingga benar-benar bisa menjadi tempat konservasi, pengembangbiakan, penelitian, dan penjinakan. Sekitar 300 gajah sudah menjadi alumni Sekolah Gajah Way Kambas, dan gajah-gajah tersebut telah disebar ke seluruh Indonesia.

Jenis gajah yang ada di TNWK adalah Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus). Menurut para Mamout (pawang) di TNWK, yang membedakan Gajah Sumatra (dalam hal ini Gajah Lampung) dengan Gajah Afrika adalah Gajah Afrika memiliki bentuk kuping yang lebih mekar dan tegas, serta ukuran tubuh yang lebih besar.

Di Way Kambas tidak hanya ada tentang gajah, ada pula Badak Sumatra yang konon terancam punah. Karena itu di Way Kambas juga terdapat International Rhino Foundation yang bertugas menjaga spesies Badak agar tidak punah. Serta Sumateran Rhino Sanctuary (SRS) yang merupakan populasi Badak Sumatra di habitat aslinya.

Ada banyak fauna selain gajah dan badak. Bila beruntung, di TNWK kita juga dapat menjumpai hewan-hewan liar lainnya seperti monyet, burung, serta akwanan hewan lainnya. Jadi, berkunjung ke TNWK menjadi salah satu hal wajib ketika berkunjung ke Lampung.

Untuk mencapai TNWK, jarak dari Kota Bandar Lampung menuju Way Kambas sekitar 112 km. Dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dengan rute Bandar Lampung-Bandara Radin Intan-Metro-Way Jepara-Way Kambas.
 
 
*Canon EOS70D
*Difoto oleh Yopie Pangkey
*Lampung, 20 Januari 2016

Travel Blogger Fun Off-road di Jayagiri Bersama Trizara Resorts

13.43 14 Comments
fun off-road lembang

Travelerien.com

Tahun baru, liburan baru. Alhamdulillah diawali dengan liburan ke Trizara Resort bareng travel blogger dari Jakarta dan Bandung. Ini merupakan kunjungan ke-2 kali ke Trizara. Tahun lalu bareng travel blogger juga, tapi dalam suasana bulan Ramadhan. Kali ini dalam suasana tahun baru, meski sudah tanggal 8 dan 9 Januari. Ada yang berbeda? Tentu.

Perjalanan ke Bandung kali ini terasa lebih lama dari biasanya. Sejak terjadi kerusakan pada jembatan di ruas tol Cipularang, kendaraan besar seperti bus dan truk, tidak diperbolehkan melintas. Karena itu bus yang membawa saya dan rombongan travel blogger dari Jakarta, mesti melewati jalan lama yang dulu biasa digunakan menuju Bandung. Jam 10 dari Jakarta, jam 3 sore baru sampai Bandung. 


Baca juga tulisan sebelumnya: Trizara Resorts, Tempat Glamping di Lembang
 
Bersama rombongan travel blogger dari Jakarta

Waktu yang cukup lama ini memang agak membosankan, apalagi saat perjalanan tersendat karena ramainya kendaraan yang sama-sama menuju Bandung. Rasa haus dan lapar membuat kami singgah jajan di pinggir jalan. 

Perut memang jadi kenyang, haus pun hilang, tapi saya menghadapi sakit perut yang luar biasa akibat rujak buah dan lumpiah basah pedas yang saya makan. Terpaksa singgah pinggir jalan, di sebuah klinik, numpang pinjam toilet. Sampai toilet malah mual dan muntah-muntah. Bukan main siksaannya…

Enak di mata dan di lidah, enggak enak di perut

Pertama kali makan lumpia basah :D

Jajanan pinggir jalan diserbu oleh kita yang pada lapar :D

Jam 3 sore sampai Trizara. Langsung makan siang sambil temu muka dengan blogger Bandung yang sudah tiba sejak pagi. Setelah itu baru check-in. Lebih dari 20 orang yang ikut gathering kali ini. Saya lupa berapa tepatnya jumlahnya. Kami dibagi-bagi dalam beberapa tenda. Rata-rata 1 tenda 4 orang. Saya satu tenda dengan Ayuk Annie, Mbak Levina, dan Dzalika. 

Tertawa lebar setelah 5 jam perjalanan yang lumayan lama :D

Archery Battle

Meski sudah kesorean sampai Trizara, kegiatan hari pertama tetap dilaksanakan meski sudah tidak sesuai jadwal. Diawali dengan Fun Games & Ice Breaking, dilanjut Archery Battle dan afternoon picnic. Malamnya dinner BBQ dan api unggun sambil sharing travel bloggers.

Fun games yang dilaksanakan di Plaza Trizara Resorts ini merupakan pemanasan yang cukup ampuh bagi saya untuk melupakan penatnya perjalanan naik bus yang disertai mual muntah dan mulas saat perjalanan menuju Bandung. Gelak tawa dan suasana akrab yang hadir membangkitkan semangat untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. 

Tim saya nih, gagah-gagah dan cakep kan? :D

Archery Battle dilaksanakan di area parking trizara resort. Kami nggak langsung main, tapi diajari dulu cara menggunakan panah. Mulai dari cara memegang, membidik, hingga melesatkan panah. Ada beberapa teknik dan tips aman yang diajarkan. Mesti nyimak, biar bisa dan nggak salah sasaran. Seneng sih, tapi sesi belajar ini malah jadi sesi selfie, bergaya ala pemanah ulung, buat update di sosmed. Padahal, saat memanah, nggak kena sasaran. Kadang melambung jauh, kadang terkulai lemah satu atau dua meter saja dari depan badan he he

Waktunya bermain. Kami dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing beranggotakan 6-7 orang. Arena bermain sudah di batasi dengan jaring pengaman. Perlengkapan bermain seperti jaket pelindung badan, penutup wajah dan kepala, kami kenakan.
 
Tim lawan nih, jago-jago banget manahnya, tapi paling banyak orangnya kena panah :))

Dalam permainan panah memanah ini kami punya misi mengumpulkan poin melalui jumlah sasaran yang berhasil dibidik. Boleh memanah lawan supaya jumlah lawan berkurang. Untuk menghindari kena panah, ada semacam balon besar untuk tempat berlindung. Mainnya seru. Lari sana kemari, menghindari kena panah, sambil memanah. Dan saya kena panah 1 kali! :D

Ada 4 tim, dua kali main, 1 lawan 1 tim. Jelang magrib, permainan selesai. Tapi beberapa masih ada yang penasaran, permainan dilanjut tapi sebentar.
Gayanya sok berani ya, padahal ngumpet-ngumpet takut kena :D

Usai main, kami kumpul di Netra Garden. Piknik di waktu magrib :D Duduk-duduk mengistirahatkan badan seusai archery. Lumayan berkeringat lho. Ngobrol bareng di atas tikar sambil makan cemilan dan minum minuman segar yang sudah disediakan. Sekitar 30 menit kemudian baru balik ke tenda. Bersih-bersih dan bersiap dinner BBQ di Terrace Café.   


Lewat magrib di Terrace Cafe Trizara

terdampar di suatu tempat

cemilan piknik

ada yang terjatuh karena kedatangan muatan baru :D

main apa coba?

Sebelum kembali ke tenda masing-masing, kami kumpul sejenak di tempat yang biasa digunakan untuk api unggun. Dekat tenda-tenda Svada. Sama seperti tahun lalu, malam itu ada sesi sharing travel blogger. Tapi berhubung sudah malam (jam 11), tidak semua blogger berkesempatan sharing. Kami mesti lekas istirahat karena esoknya akan off-road ke beberapa tempat di Lembang. 

Ayam bbq

motret yang belum mateng

sosis bbq

dinner dulu sama teman satu tenda

makan..makan...

sharing travel blogger
Kamar kami di tenda Svada 6

teman sekamar :D

Off-road Sukawana-Cikole-Cikahuripan

Mengawali pagi dengan berburu sunrise bersama mbak Levina dari area tenda Netra. Ketemu kang Ali, lalu kami hunting bareng. Sayangnya, sunrise yang dinanti sejak jam 5 sampai jam 6 lewat itu tidak kelihatan. Saya yang tadinya mengira matahari akan muncul dari balik punggung gunung yang berhadapan dengan tenda Netra, ternyata tanda-tanda kemunculannya ada di  sebelah kanan tenda. Sayangnya yang dinanti tidak hadir dalam bentuk terbaiknya. Hanya ada kilau terang memancar menyinari awan-awan yang berubah jadi kemerahan. Si bulat tersembunyi di balik awan.

pagi begitu dingin

andai tiap bangun pagi bisa lihat pemandangan dan suasana berkabut seperti di sini

ga dapat sunrise, yang ancur begini pun jadilah :D

Balik ke tenda lalu mandi. Meluncur ke Indriya Resto untuk sarapan. Tapi yang lain sedang zumba, akhirnya ikutan. Lumayan goyang badan sampai keringatan. Setelah itu baru sarapan. Beberapa waktu kemudian berangkat off-road. Kali ini kami dibagi lagi menjadi 4 tim untuk 4 jeep yang sudah disiapkan.  

sendiri lebih baik daripada berdua tapi sakit hati :)))

zumba duluuu

baru sarapan

Pukul 9.30 perjalanan dimulai. 4 jeep beriringan. Saya duduk di depan, di samping supir yang pendiam tapi banyak senyum. Teman-teman satu tim Uni Dzalika, Riska Nidy, Kang Ali, Salman, Rifa, dan Amel. Awalnya melewati jalan desa yang masih rata hingga perkebunan teh Sukawana. Setelah itu baru dihadapkan dengan jalan penuh tantangan yang membuat badan seperti diaduk-aduk di dalam mobil.
Ini tim saya satu jeep, mas supirnya yang paling pinggir baju hitam
Jeep yang digunakan memang sudah disiapkan untuk menghadapi medan berat. Tidak heran jika kami bisa melewati itu semua meski harus pakai teriak-teriak di dalam mobil. Tidak sepanjang jalan sih, masih ada banyak jeda buat atur nafas. Tapi lumayan menegangkan. Kami dua kali singgah. Pertama masih di area dekat kebun teh, kedua di sebuah tanjakkan di mana kami bisa melihat view Bandung dari ketinggian.

Kebun Teh Sukawana

Persinggahan pertama
Foto-foto dulu yeee

Jam 11 perjalanan berangkat berakhir di Cikahuripan. Di sana ada pondok-pondok jajan dan sebuah toilet sederhana. Mereka yang menahan kencing sudah pasti berlarian menuju toilet hehe. Udara terasa lebih dingin, saya agak menggigil. Tanpa jaket, udara seperti menusuk-nusuk kulit. Saya tidak kuat dingin. Di sana ada area outbond. Tempat kumpul untuk acara gathering. Sebuah pondok buat duduk-duduk. 
Ternyata di sini ada benteng sejarah Belanda

formasi lengkap

Ada semacam setapak yang mengarah ke atas bukit. Di pangkal tanjakan ada semacam spanduk bertuliskan Selamat Datang di Benteng Sejarah Belanda. Saya kira tadinya kami akan ke atas, mungkin melihat benteng, ternyata tidak. Hanya duduk-duduk saja di bawah sambil menyantap cemilan dan minuman yang dibawa dari trizara. Sisanya dihabiskan dengan foto-foto. Saya sendiri baru tahu kalau di tempat itu ada objek wisata sejarah. Sayang tidak dibawa untuk berkunjung lebih dekat.

Tidak sampai satu jam di sana, kami meninggalkan lokasi wisata. Kembali pulang lewat jalan yang sama. Tadinya katanya akan lewat jalan lain, tapi tidak jadi karena jalannya biasa saja. Tidak seru. Memang tidak ada sensasinya sih ya kalau naik jeep garang tapi Cuma dipakai buat lewat jalan biasa :D

menyusup

lumpur dalam

Andre memang jagoan :))


Dalam perjalanan pulang, saya kaget ada yang berani duduk di atas jeep. Padahal kalau jeepnya mendadak miring, apa tidak terbanting tuh? Winda dan entah siapa yang satunya. Sedangkan jeep di depan kami ada Andre yang gelayutan di ban cadangan jeep. Seru kali ya rasanya. Tapi saya ga berani begitu, kalau pegangan lepas, bisa kejengkang jatuh di tanah becek :))

Jam 1 siang kami sudah kembali berada di Trizara. Makan siang sudah siap. Saat cuci tangan, air yang dipakai untuk membasuh tampak kehitaman. Rupanya badan jadi berselimut debu. Sudah pasti seluruh badan jadi kotor. Mau mandi dulu tapi perut sudah memanggil minta diisi. Akhirnya memilih makan dulu baru mandi-mandi. Jam 3 sore semua check-out. Ada yang kembali ke Bandung, sisanya ke Jakarta. Naik bus lagi bareng-bareng. Sudah kemalaman sampai di Jakarta karena perjalanan tidak lancar (ada mobil tanki terguling) Tapi alhamdulillah pulang dengan hati senang, bawa cerita dan pengalaman seru saat liburan bareng travel blogger di Trizara.

berani duduk di atas karena jeep sedang berhenti :D

Liburan seru bersama Trizara!

Bagi saya, liburan ke Trizara kali ini lengkap. Bisa menikmati glamping di tempat yang tenang dan memiliki pemandangan cantik, sekaligus bisa menikmati serunya off-road di Jayagiri. Liburan tenang dan garang, perpaduan yang apik untuk liburan asyik bersama Trizara. Apalagi bareng kawan-kawan yang serunya nggak abis-abis. Bikin happy!



Kamu kapan ke Trizara?

Trizara Resorts
Jl. Pasirwangi Wetan, Lembang, Bandung, Jawa Barat 
Untuk pemesanan silakan hubungi Tel: +62858 7169 8923
Email: trizararesorts@gmail.com
Facebook: https://www.facebook.com/trizararesorts
Instagram: https://www.instagram.com/trizararesorts/
Website: http://www.trizara.com/

Travel Blogger Gathering 8-9 Januari 2017 - Trizara Resorts Lembang