Menghabiskan Petang di Belitung Timur, Menikmati Sedapnya Seafood RM Sinar Laut dan Mengunjungi SD Laskar Pelangi

13.07 3 Comments
Wisata Belitung Timur

Museum Kata Andrea Hirata. Replika SD Laskar Pelangi. Kuliner Seafood di RM Sinar Laut Pantai Serdang.

rumah makan seafood di belitung timur

Hujan belum reda saat saya dan teman-teman travel blogger tiba di Pelabuhan Tanjung Ru, Belitung Selatan. Kami baru saja meninggalkan Pulau Leebong, pulau kecil yang menjadi tempat kami berlibur selama 2 hari 1 malam (14/7-15/7). Dua mobil dari Mulia Rental Group yang melayani transportasi kami selama di Belitung sudah menunggu. Supirnya masih sama, Pak Atok dan Pak Yudi Uban. Kami ambil gerak cepat saat memasukkan barang-barang. Berpacu dengan waktu dan air hujan yang terus turun membasahi bumi. Saat itu, waktu sudah menunjukkan jam 12 lewat 30 menit.

Banjir di Belitung Timur

Dua hari di Belitung, cuaca memang tak cerah. Mendung, gerimis, hujan deras, bahkan banjir di beberapa titik di Belitung. Inilah yang kami alami selama 1 jam perjalanan menuju Manggar di Belitung Timur. Kami menghadapi banjir di wilayah Renggiang. Air sungai pada sebuah jembatan yang kami lalui meluap, jalan dan jembatan tertutup air. Rumah-rumah di sekitar aliran sungai terendam dengan ketinggian air lebih dari 1 meter. 


Supir nekat mengajak kami menerobos banjir. Saya diliputi ketegangan, khawatir arus air mengalahkan laju mobil dan mendorongnya ke sungai. Di depan, mobil yang dikemudikan oleh Pak Atok sempat dimasuki air. Tapi Alhamdulillah kami selamat dan dapat melanjutkan perjalanan menuju RM Sinar Laut, tempat kami makan siang hari itu (Sabtu, 15/7/2017).

Video banjir Belitung yang sempat saya buat : Banjir Belitung

renggiang belitung timur
Banjir di wilayah Renggiang, Belitung Timur(15/7/2017) Foto : Dian Radiata Adventuore.com

Manggar, Negeri 1001 Warung Kopi

Bicara tentang kuliner Belitung, ada dua hal yang tersimpan dalam benak saya: Kopi dan Seafood. Bila bicara kopi, Manggar yang menjadi ibukota Belitung Timur adalah tempat berkumpulnya para penikmat kopi. Tempat di mana masyarakatnya memang sudah sejak lama memiliki tradisi minum kopi yang kuat. Dalam kesehariannya mereka akan berkumpul di warung-warung sambil menikmati secangkir kopi. Begitulah Manggar dikenal. Maka tak heran bila sebuah tugu kopi dibangun di tengah kota, berbentuk Teko/Ceret dan cangkir Kopi.

Ajakan ngopi di Manggar diajukan Mbak Dian sebelum ke Belitung. Saya setuju. Bagi penikmat kopi seperti Mbak Dian, mampir ke Manggar tentu akan terasa afdol jika merasakan menyeruput kopi di salah satu warung kopinya. Namun sayang, hari itu kami kekurangan waktu. Makan siang sudah telat, dan masih ada SD Laskar Pelangi dan Museum Andrea Hirata yang mesti dikejar untuk dikunjungi. Jadi, ketika melewati Tugu 1001 Warung Kopi hanya saya lewati dengan tatapan yang entah 😀


Baca juga : 12 Tempat Wisata Kuliner di Belitung

tugu 1001 warung kopi
Tugu 1001 Warung Kopi, ikon Manggar Belitung Timur *Sept 2015*

Kulineran Seafood di Belitung Timur

Di mata saya, kuliner Belitung identik dengan seafood. Dari pengalaman ke Belitung baru 4 kali, makanan yang saya santap di waktu pagi, siang, maupun malam tak pernah absen dari olahan ikan, udang, cumi-cumi, dan kepiting. Makan di resto atau warung pinggir jalan, seafood merajai menu. Soal enak, lidah saya ini lebih banyak berkata enak. Tapi, kdar enak bisa berubah tergantung suasana di tempat makan. Bisa jadi “enak saja”, atau “enak banget” hehe.

Di Belitung Timur, ada 1 resto yang pernah 2 kali saya kunjungi, Rumah Makan Fega di pinggir danau. Tapi kali ini, saya punya pengalaman kuliner baru yang nggak kalah berkesan bagi lidah, yaitu RM Sinar Laut di pinggir pantai. Dua tempat berbeda, dengan suasana berbeda, dan orang-orang yang membersamai berbeda. Bagaimana rasanya? Yuk saya ceritakan.

RM Sinar Laut (Ayung)

RM Sinar Laut Pantai Serdang

RM Sinar Laut terletak di Jalan Pantai Serdang. Dinamakan jalan pantai karena di depannya  memang terdapat pantai yang dinamakan Pantai Serdang. Bangunan rumah makan Sinar Laut sekilas seperti pondok-pondok makan biasa di pinggir jalan. Jangan bayangkan sebuah rumah makan besar nan megah dan mentereng. 

Bangunannya sederhana saja, beratap seng, berlantai semen tanpa keramik, dan bagian depannya terdapat semacam banner terpal bergambar menu-menu Sinar Laut sebagai penutup bagian depan rumah makan yang berkonsep terbuka.

Baca juga: D'Makmoer Guest House murah di Tanjung Pendam

Dapat menampung pengunjung dalam jumlah cukup banyak

Pelanggan tetapnya Pak Yusril Ihza Mahendra lho...

Meski penampilan luarnya sederhana, rumah makan ini menyediakan menu-menu istimewa yang siap menggoyang lidah para penggemar seafood. Dan saya baru tahu ternyata Bapak Yusril Ihza Mahendra (pada tahu beliau kan?) adalah pelanggan tetap menu seafood di rumah makan Sinar Laut. Hari itu, kami melihatnya mampir di sini, bercelana pendek, dan memilih sendiri ikan yang hendak dipesan.

Urat norak saya sempat muncul, pingin numpang foto bareng. Orang terkenal dan fenomenal gitu lho. Kan seneng kalau ada foto bareng dia, di Belitung pula, tempat asalnya hehe. Tapi sayang nggak kesampaian. Malu mau minta foto bareng. Teman-teman juga nggak ada yang berani memanggilnya. Entahlah kenapa hihi.

Kerupuk ikan dan sambal terasi segar ala Sinar laut, kudapan sebelum makan

Makan bareng, bukan jaim bareng

Jam 2 siang jelang sore, makan siang kesorean namanya. Lapar sudah melanda sejak 2 jam sebelumnya. Masuk, duduk, dan berharap makanan segera terhidang, itu saja yang ada dipikiran. Tapi apalah daya, saat makanan terhidang, nafsu memotret sejenak mengalahkan nafsu makan. 

Ya, seperti biasa, para blogger termasuk saya, mesti mengabadikan makanan-makanan itu dulu ke dalam foto, baru makan. Makanan, selain bahan untuk mengisi perut, juga bahan utama untuk mengisi blog. Kami memang blogger. Nyam…kriuk...

jangan dimakan sebelum difoto :)))
Makanannya OK

Menu-menu Seafood Sinar Laut

Gangan jadi menu favoritku di Sinar Laut, tentu tanpa mengabaikan keberadaan Ikan Ayam-Ayam bakar, Udang dimasak Asam, Cumi goreng krispi, dan sayur kangkung gurih yang ikut menemaninya. Ikan yang dimasak gangan adalah ikan Katarap. Nama yang asing ditelinga saya. Padahal sudah 3x ke Belitung sebelumnya, tak saya dengar nama ikan tersebut. Salah saya juga tak pernah bertanya, saat terhidang hanya makan, tak mencari tahu apa ikan yang dimakan. 

Ikan Katarap disebut juga ikan kakatua, begitu orang Belitung menamakannya. Jangan salah sebut ya, bukan katarak, apalagi keparat.

Gangan kuliner khas Belitung mesti dicoba bagi siapa saja yang baru pertama kali ataupun berkali-kali ke Belitung. Kekhasannya ada pada bumbu kuahnya. Perpaduan kunyit, lengkuas, cabe, bawang, terasi, asam, dan potongan buah nanas yang dimasukkan ke dalamnya, membuat masakan gurih ini terasa segar dan sedap.

FYI, semua jenis lauk dapat dibuat menjadi Gangan seperti daging sapi dan ayam. Jadi bukan hanya ikan, ya :)

kuliner gangan khas belitung
Gangan Ikan Katarap

Saya menyukai udang asam ala RM Sinar Laut, mengingatkan saya pada ibu yang gemar mengolah udang dengan bumbu asam, salah satu masakan udang favorit kami di rumah. Cumi gorengnya renyah dan gurih, jadi kesukaannya Lala, anak mbak Dian. 

Yang tak kalah sedap, Ikan Ayam-Ayam bakar yang bumbu ikannya meresap dengan baik ke dalam daging, nikmat sampai akhir. Mas Arif makan ikan ini dari badan hingga bagian kepala, dan ia tampak menikmatinya sampai tak ada yang tersisa. Entah siapa saingannya di meja. Yang jelas, sebagai penyuka ikan yang dimasak dengan dibakar, saya yakin banget mas Arif menemukan makanan kegemarannya. 

Ikan Ayam Ayam Bakar
 
Udang masak Asam


Cumi goreng tepung


Cah kangkung sedap!

Nikmat, Kenyang, Harga terjangkau

Habis lapar terbitlah kenyang. Tak usah menunggu lama untuk itu. Rasa lapar, masakan sedap, udara yang dingin, serta teman-teman makan yang asyik, membuat acara makan siang kesorean itu terasa sempurna dan berlangsung cepat.

Tidak ada yang murah untuk masakan seafood, apalagi enak, begitu kata orang-orang. Di sini, menu seafood dibandrol mulai dari Rp 50 ribu – Rp 200 per porsi. Mungkin buat mereka yang biasa makan seafood di resto-resto bergaya dan mewah di kota besar, pernah menemukan seafood dengan harga paling murah sekitar Rp 200 ribu per porsi. Kalau begitu, harga di Sinar laut termasuk murah, ya nggak?

Konsentrasi :D

Pernah dengar cerita yang pernah viral soal harga makanan di rumah makan dekat lokasi wisata yang bikin pengunjungnya kejengkang karena harus bayar sampai juta-jutaan? Kabarnya, hal itu terjadi karena si pembeli tidak menemukan harga di daftar menu. Hanya tertera nama makanan. Lalu, main pesan saja, saat tagihan keluar baru panik. Nah di sini tidak usah khawatir, nama menu dan harga terpampang jelas. Tidak akan ada aksi tipu-tipu.

Mau tahu menu-menu dan harga seafood di Sinar Laut? Lihat pada gambar berikut ini:

Banyak pilihan menu dengan harga yang reasonable




Lokasi di Pantai Serdang, bisa sekalian rekreasi

Usai makan, hujan mulai reda, bikin kami bisa santai menuju mobil, tanpa terburu-buru seperti ketika datang. Saya melihat-lihat suasana depan rumah makan. Ada kedai kopi di depannya, terpisah oleh jalan. Sekitar 20 meter ke depannya lagi ada pantai. Ada pondok jajan/tempat ngopi lainnya. Di sekitar pantai tampak beberapa jukung sedang bersandar. Pohon-pohon yang entah apa namanya, menaungi kawasan pantai ini, terasa sejuk.

Berjumpa Yusril Ihza Mahendra, Gangan Sedap, Ikan Ayam-Ayam Bakar, Pantai Serdang, adalah hal yang saya ingat dari RM Sinar Laut. 


Baca juga: Tradisi makan bedulang di Timpo Duluk

Warung kopi di pantai Serdang, depan RM Sinar Laut


Pantai Serdang tempat rekreasi di depan RM Sinar Laut

Museum Kata dan SD Laskar Pelangi

Perjalanan wisata bersama Picniq Tour & Travel berlanjut. Tujuan akhir kami di sore itu adalah Museum Kata dan SD Laskar Pelangi. Dua tempat favorit wisatawan di Belitung Timur. Meski sudah pernah ke Museum Kata pada periode September 2015, saya masih ingin ke sana lagi. Mei 2016 pernah gagal ke sana karena museum sedang direnovasi. Juli 2016 tidak mampir karena tak cukup waktu. Dan kali ini, tentu saja saya ingin kunjung lagi. Setelah direnovasi tentu kondisinya lebih baik dan baru.

Sampai di Museum Kata saya kecewa, ternyata sudah tutup. Sebetulnya waktu tutup jam 5. Menurut Pak Atok, mungkin karena cuaca hujan, pengunjung sudah sepi, akhirnya ditutup lebih cepat. Yah, gagal ngajak Mas Arif lihat isi dalam museum. Kami hanya foto-foto sebentar di bagian luar, setelah itu lanjut pergi. Tadinya, saya mau ajak teman-teman muslim solat ashar di masjid depan museum. Tapi masjid sedang direnovasi, tidak dapat digunakan sementara. 

museum kata belitung timur
warna warni di sore yang gerimis :)

Replika SD Laskar Pelangi

Kami tiba area parkir wisata SD Laskar Pelangi. Hujan masih belum ada kabarnya kapan akan reda, bahkan makin deras. Kantuk mulai membebani mata. Teringat ada solat yang belum ditunaikan, juga keinginan untuk menemani Mas Arif melihat bangunan replika SD Laskar Pelangi, kantuk itu saya lawan dengan bersegera keluar mobil.


Musola adalah tempat yang paling kami cari saat itu. Dengan bertudung banner “Travel Blogger goes to Belitung”, Mas Arif keluar mobil bersama Dewi dan Aji, bergantian. Tami sedang halangan. Saya pinjam mantelnya buat ke musola. Ada musola kecil dekat tangga sebelum naik bukit tempat SD Laskar Pelangi berada. Di situ kami solat.
 


Di bawah hujan, saya berempat bersama Dewi, Aji, dan mas Arif melihat replika SD Laskar Pelangi. Ada beberapa pengunjung lainnya saat itu. Tampak asyik berfoto-foto dan melihat bagian dalam. Saya berharap mereka lekas pergi, biar bisa ambil gambar tanpa bocor hehe


Bangunan sekolah ini dulunya dibuat untuk keperluan syuting film Laskar Pelangi. Sejak Laskar Pelangi booming dan terkenal se-Indonesia, bangunan yang tetap dibiarkan berdiri itu jadi destinasi wisata yang tak pernah absen masuk list kunjungan di Belitung. 


Saya bahagia bisa mampir lagi ke tempat ini bersama Mas Arif. Mengulang lagi kebahagiaan di tempat yang sama seperti 2 tahun lalu saya kunjungi bersama mbak Samsiah, untuk kebahagiaan di masa kini bersama seseorang yang menjadikan saya satu-satunya belahan jiwanya 😍



 
Sebelum magrib, kami menamatkan wisata Laskar Pelangi, dan kembali meluncur cepat ke Tanjung Pandan. Masih ada makan malam di Dynasty dan ngopi-ngopi asyik di OS Kong Djie yang akan mengisi malam kami di Tanjung Pandan. Ikuti cerita saya dipostingan selanjutnya ^_^


Mulia Rental Mobil Belitung
Jalan Veteran No. 1 Tanjung Pandan - Belitung
Telp: 0878 9778 8008, 0812 7324 691, 0719 21466, 0719 21579
  
Picniq Tour Belitung
Telp: 081949555588, 081949222216
Leebong Island 
Leebong Island, Belitung - Indonesia
Telp: +62 21 5438 1355 , +62 21 5438 1356
HP: +62 812 9770 0776 (WhatsApp/LINE)
Terima kasih Pak Toto (Leebong), Darmawan (Mulia Rental Group), dan Jeffry (Picniq Tour Belitung) atas tripnya yang seru dan berkesan.

D’Makmoer Penginapan Murah di Tanjung Pandan dengan Kafe Pinggir Pantai View Matahari Terbenam

10.57 17 Comments
Hampir jam 11 malam saat kami tiba di d’Makmoer, guest house & cafe di Tanjung Pandan, Belitung. Supir bergegas turun, memberitahu kedatangan kami pada orang di penginapan. Saya dan suami tetap di mobil, menunggu. Sesaat kemudian seseorang datang dengan payung, mendekati pintu mobil. Saya keluar, dan dengan payungnya laki-laki itu melindungi saya dari hujan yang tak jua berhenti sejak sore. Saya di antar ke atas, tempat di mana kamar yang akan saya inapi bersama suami berada. Suami menyusul di belakang, membawa turun semua barang.

Guest House & Cafe di Tanjung Pandan Belitung
D'Makmoer Guest House & Cafe

“Mbak Katerina?” tanya laki-laki tersebut.

“Iya, pak.”

“Oh iya, Pak Toto sudah kabari saya mbak  mau datang,” ucapnya.

Saya mengiyakan. Selanjutnya saya fokus pada tangga yang saya naiki. Hujan membuat tangga yang tak beratap itu basah, saya berhati-hati. Sampai di atas terlihat deretan kamar dengan pintu langsung keluar. Cat warna kuning yang melapisi tembok kamar tampak ngejreng di bawah sinar lampu yang benderang. Kontras dengan lantai teras terbuka yang dicat warna biru muda.


Ada 5 kamar, saya di antar ke kamar nomor 4. Setelah pintu dibuka dan saya dipersilakan masuk, laki-laki itu lalu pergi dengan payungnya, dan saya lupa menanyakan namanya. Saya sempat melihat wajahnya, tapi sekilas saja, sehingga tidak terlalu ingat. Siapa dia? Pertanyaan ini terjawab 1 minggu kemudian.


Baca juga: Tempat wisata kuliner di Belitung

Ada 5 kamar di lantai atas, 7 kamar sedang dibangun di lantai dasar

Guest House Murah di Tepi Pantai

Seperti yang diceritakan oleh Pak Toto sebelumnya (pengelola Pulau Leebong), d’Makmoer dikenal sebagai salah satu tempat makan nge-hits di Belitung yang jarang sepi pengunjung. Setelah sukses dengan kafe, pemiliknya kemudian membangun guest house di lantai 2 untuk disewakan pada para tamu yang membutuhkan tempat bermalam yang nyaman dengan harga terjangkau. Saya tertarik untuk mencobanya, hitung-hitung buat menambah pengalaman menginap di Belitung.

Guest house d’Makmoer ini memang terbilang baru. Bahkan sangat baru. Mulai disewakan sejak tanggal 10 Juli 2017. Saya menginap di sana hari Sabtu tanggal 15 Juli 2017, baru lima hari sejak mulai disewakan. Menurut pemiliknya, Pak Ronny, saya dan suami adalah tamu d’Makmoer yang ke-5. 


Baca juga : Wisata Pulau Kepayang Belitung

Musola di lantai atas

Kafe dua lantai, di belakangnya laut

Penginapan Baru 

Perabotan di dalam kamar terlihat masih serba anyar. Ada kasur ukuran besar dengan dua bantal empuk, TV, AC yang dingin, serta lemari dan rak untuk menyimpan barang-barang. Kamar mandi standing shower menggunakan kloset duduk. Handuk putih lembut yang biasanya jarang ada di penginapan bujet, tersedia untuk dua orang tamu. Maksud saya, jarang-jarang ada hotel bujet menyediakan handuk tebal selembut yang saya pakai di d’Makmoer ini. 

Tersedia dua botol air mineral, gratis. Sebuah wastafel dilengkapi cermin terpasang di pojok kamar, di depan pintu kamar mandi. Ada jendela kecil di dinding sebelah selatan, tirai kainnya tampak basah oleh air hujan yang mungkin menampar-nampar jendela dan berhasil menyusup masuk lewat celah yang ada. 

Baca juga: Pesona Pulau Leebong Belitung

kedai makmoer
Kamar d'Makmoer, nyaman. *Photo : Dian www.adventurose.com*


kedai makmoer
Kamar mandi & wastafel luar *Photo : Dian www.adventurose.com*
Shower air panas dan dingin, dan dua handuk lembut yang tebal


Kedai Makmoer

Rate kamar per malam Rp 250.000,- Harga tersebut sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Kamarnya tidak sempit, tapi bukan yang terlalu luas. Cukup untuk dua orang, atau bertiga dengan 1 orang anak. Buat saya, penginapan ini bisa jadi pilihan yang cocok untuk wisatawan dengan bujet minimalis. Di sini, dengan harga yang ekonomis, tamu mendapat bonus manis. Apa itu?

D’Makmoer sudah lebih dulu dikenal sebagai salah satu tempat makan favorit di kawasan Pantai Tanjung Pendam. Orang Belitung mengenalnya dengan nama Kedai Makmoer. Jika sedang ke Belitung dan ingin mampir ke Kedai Makmoer, tanya saja pada supir atau orang-orang Belitung yang kita temui, kebanyakan dari mereka tahu dan bisa membantu menunjukkan lokasinya. 


Baca juga: Islands hopping di Belitung


kedai makmoer
Kedai Makmoer di lantai dasar, sisi kirinya laut


kedai kopi tanjung pandan
Coffee shop dNocturn, sisi kanannya pantai

Kafe dua lantai pinggir pantai view laut

Buat yang hobi kulineran, beruntung bisa menginap di d’Makmoer, bisa sekalian kulineran. Cuma 10-15 meter saja dari pintu kamar. Tidak perlu turun tangga lagi, karena kamar-kamar di lantai atas terhubung langsung ke kafe yang letaknya menjorok ke arah pantai. Ada beragam pilihan makanan dan minuman. Mau makanan berat atau ringan, tinggal pesan saja. Mau makan di kamar atau di kafe sambil menikmati pemandangan ke laut, terserah kita. Inilah salah satu bonus manis menginap di d’Makmoer. Mudah dalam hal urusan perut.

Tepat di sebelah kafe, ke arah laut, adalah pantai yang bila pagi airnya surut sehingga menampakkan pantai pasir yang sangat luas. Bila sore air pasang, airnya langsung berada tepat di ujung teras kafe. Tak berjarak. Kafe d’Makmoer terdiri dari dua lantai dengan dua area makan, indoor dan outdoor (balkon). Saat tak hujan, kita dapat duduk di balkonnya, bersantai sambil menikmati menu-menu kesukaan yang kita pesan. 


Baca juga: Tradisi Makan Bedulang di Timpo Duluk


tempat makan hits di pinggir pantai di tanjung pandan
Balkon kafe langsung menghadap laut

Menikmanti sejuknya udara pagi

Tempat menyaksikan matahari terbenam

Jika sedang hujan dan berangin, tinggal pindah ke dalam kafe. Ruang dalam kafe menggunakan dinding dan jendela yang terbuat dari kaca, memungkinkan tamu untuk tetap bisa melihat ke luar, ke arah laut lepas. Kapal dan perahu nelayan yang sedang melaju ataupun berlabuh, jadi pemandangan yang bisa dilihat tiap saat dari kafe ini.

Yang tak kalah menarik, dari kafe d’Makmoer ini kita bisa menyaksikan matahari terbenam. Ada semacam gerbang di antara dNocturn Coffee Shop dengan kafe. Posisi tenggelamnya sang surya berada tepat dalam bingkai gerbang itu. Seakan gerbang memang dibuat dan didesain untuk mengantar sang surya menuju peraduan. Sayangnya saya tak berada di sini pada sore hari, jadi tak sempat merasakan suasana senja dengan sunsetnya yang spektakuler.

Keberadaan kafe dengan view ke laut, pantai, dan langsung menghadap ke arah matahari terbenam, adalah bonus manis yang bisa didapat saat menginap di d’Makmoer. Inilah daya tarik yang dimiliki d’Makmoer. 


Sunset di Kedai Makmoer *Foto Kedai Makmoer*

Tepat di tengah 'gerbang' Kedai Makmoer
 Sarapan di kamar atau kafe?

Minggu pagi saya terbangun dengan badan yang sudah kembali bugar. Suasana tenang di pinggir pantai, apalagi sepanjang malam hujan, membuat hati jadi terasa begitu damai dan tentram. Tidurpun jadi nyenyak, membuat segala lelah seakan luruh dari setiap inci raga. Pagi itu, seusai mandi, saya berkemas. Bersiap untuk menamatkan sisa liburan di Belitung, lalu kembali ke Jakarta pada sore harinya.

Seorang perempuan mengetuk pintu. Ia menanyakan apakah sarapan mau diantar ke kamar atau dimakan di kafe. Melihat di luar masih hujan, dan barang belum selesai disusun dalam ransel, saya minta diantar ke kamar. Perempuan itu pergi. Di dalam kamar, tiba-tiba saya baru ingat belum memotret apapun. Saya butuh foto untuk bahan bercerita (blogger mah gitu ya hehe). Ide memotret sarapan di kafe pun muncul. Sarapan yang diantar ke kamar akhirnya diangkut ke kafe lantai atas.  



A post shared by Arif Wibowo (@arifgwibowo) on


Pantai dan laut di balik jendela


sarapan di penginapan kedai makmoer
Sarapan nasi goreng beralas daun simpor, daun dari pohon yang hanya tumbuh di Belitung

Pemandangan indah di kafe


Pagi itu, hanya ada saya dan suami di kafe. Kami seakan punya kafe pribadi, bebas pindah sana sini, pilah pilih tempat duduk, keluar masuk, bahkan foto-foto di mana suka. Hujan semalam belum jua reda. Balkon kafe basah. Meja dan kursi basah. Kami makan di dalam. Langit kelabu, ditambah kabut di kejauhan, dengan kapal-kapal yang tampak samar, membuat pagi tampak begitu sendu.

Meski begitu, hujan tak mengurangi keindahan yang seharusnya dinikmati. Langit sendu justru menghadirkan syahdu. Titik-titik air yang jatuh, daun-daun yang basah, desir angin, dan perahu-perahu yang terdampar di pantai, mengundang mata untuk memandang dengan jutaan rasa sayang. Hujan itu seperti rindu. Ia tak bisa ditebak kapan berhenti, cukup ditunggu sampai reda sendiri. Nikmati saja.









Coffee Shop DNocturn

Usai makan kami menjelajah kafe atas. Melihat-lihat dari dalam hingga luar. Tentunya sambil memotret. Setelah puas, baru turun. Kami memasuki coffee shop dNocturn. Tak ada siapapun di sana. Mungkin karena masih pagi, belum buka, belum ada layanan untuk siapapun dan apapun. Kami duduk-duduk saja menikmati suasana. 

Entah kenapa, tiap sudut D’Makmoer ini enak buat dijepret. Saya pun tidak merasa sedang di sebuah kafe, melainkan seperti sedang berada di sebuah rumah tinggal dengan suasana asri dan tenang. Mungkin itu yang bikin nyaman dan nggak ingin cepat-cepat kembali ke kamar. 

Baca juga : Bertandang ke Negeri Laskar Pelangi
  
dnocturn tanjung pendam
Coffee shop dNocturn - Kedai Makmoer
Pilihan Menu DNocturn

Saat sedang melihat-lihat inilah saya berjumpa Pak Ronny Setiawan, pemilik d’Makmoer. Awalnya saya tidak tahu siapa beliau. Entah apa yang membuat saya kemudian menyangka bahwa dialah si empunya d’Makmoer. Saat saya tanya, ternyata memang benar. Saya mengenalkan diri padanya, dan mengatakan bahwa mbak Dian yang menginap pada malam sebelumnya, adalah teman saya, sesama blogger. Lantas pak Ronny mengajak duduk.

Obrolan pun tercipta, mengalir dengan hangat, sehangat kopi susu dan kopi hitam yang disuguhkan untuk kami. Sepiring mengale (singkong goreng) menemani kopi, melengkapi obrolan. Pak Ronny adalah sosok yang ramah, berpenampilan sederhana, tapi memiliki pengalaman yang ‘wah’. Ia memiliki wawasan yang luas tentang dunia pariwisata. Saya menyimak ceritanya tentang Aceh yang sudah seperti rumah keduanya. Tentang Sabang dan kapal pesiar yang akan mampir ke sana untuk suatu event. Tentang Pulau Mendanau yang bisa dikunjungi untuk perjalanan ala backpacker. Pulau yang bisa dilihat dari d’Makmoer saat cuaca cerah. Tentang pengunjung-pengunjung yang datang ke kafenya. Tentang kamar-kamar yang sedang dibangun di lantai dasar. Tentang cuaca yang kerap tak lagi bisa diprediksi.  Tentang kafe yang akan dirombak. Tentang banyak hal lainnya….



Kopi dan obrolan pagi bersama Pak Ronny, owner d'Makmoer
Ngobrol asyik ditemani Mengale (singkong goreng), kopi hitam, dan kopi susu

Menarik! Ya, obrolan yang menarik. Membuat waktu tak terasa sudah mendekati jam 11 siang. Jika pak supir tak datang menjemput, mungkin obrolan itu terus berlanjut. Saya dan suami berpamitan untuk berberes, sebab Mbak Dian dan Tami sudah menunggu di Hotel Orion untuk dijemput. Siang itu kami akan mengunjungi Museum Tanjung Pandan, Rumah adat Belitung, makan siang, membeli oleh-oleh, dan menuju bandara untuk kemudian kembali pulang ke Jakarta.

Rasanya baru sekejab saja di D’Makmoer, sudah harus pergi lagi. Tersisa rasa penasaran untuk melihat sunset dari balkon/teras kafenya, juga bayangan mencicipi kopi seduhan barista DNocturn. Waktu yang terbatas memang tak memungkinkan untuk berlama-lama.  Mungkin suatu hari jika kembali berkunjung ke Belitung, saya akan datang lagi ke D’Makmoer. Entah datang untuk menginap sebelum/sesudah keliling Belitung untuk berwisata, atau sekedar mengisi malam dengan makan-makan bersama teman-teman seperjalanan sambil menikmati suasana pantai di malam hari.

Salah satu tempat untuk menyaksikan sunset di Kedai Makmoer
Satu minggu sejak menginap di d’Makmoer, saya mulai menulis tentang pengalaman saya bermalam di sini, dan saat itulah saya teringat dengan laki-laki yang saya jumpai pertama kali di d’Makmoer. Laki-laki yang menjemput saya ke mobil dengan payung dan kemudian mengantar saya ke depan pintu kamar. Laki-laki itu ternyata Pak Ronny, pemilik d’Makmoer!

Guest house D’Makmoer bisa jadi pilihan yang hemat untuk menginap. Kafenya pun nyaman dan asyik buat nongkrong-nongkrong cantik sambil makan enak dengan suasana tepi pantai yang menenangkan.


D’Makmoer
Guest house & Cafe
Jl. Patimura, Tanjung Pendam, Tanjung Pandan Belitung