Pengalaman Mengunjungi Pulau-Pulau Terkenal di Belitung

11.37

Awal bulan Mei tahun ini saya akan nge-trip ke Belitung lagi untuk kedua kalinya. Sekarang sudah tanggal 26 April, tinggal empat hari lagi. Sudah dekat. Nah, kemarin ada yang tanya ke saya, apa nggak bosan ke Belitung lagi, padahal baru bulan September 2015 lalu dari sana. Saya jawab tidak, dan nggak akan ada kata bosan. Apalagi kali ini saya akan berangkat bersama kawan-kawan blogger yang sudah saya kenal dekat. Bakal lebih seru. Dan yang pasti, akan ada pengalaman baru yang tidak akan sama dengan pengalaman sebelumnya.

Tahun lalu saya keliling Belitung selama tiga hari. Tempat wisata yang saya sambangi kebanyakan di Belitung Timur. Dari tiga hari tersebut, ada satu hari penuh saya jalan-jalan naik perahu keliling dari pulau ke pulau, di antaranya Pulau Burung, Pulau Batu Berlayar, Pulau Lengkuas, dan Pulau Kepayang.

Sayangnya, September tahun lalu langit Belitung sedang tidak dihiasi langit biru. Awan putih berhari-hari menjadi atap Pulau Belitung yang dikenal dengan sebutan Negeri Laskar Pelangi ini. Nggak ada masalah sih, diguyur hujan enggak, jelajah pulau tetap jalan, snorkeling tetap asik-asik saja, foto-foto bergembira tetap lancar. Yang bikin kecewa itu ya hasil fotonya hehe. Pinginnya sih langitnya biru cerah, bukan awan yang merata putih dan rada kelabu :D 

Pantai Tanjung Kelayang

Pantai Tanjung Kelayang
Pantai yang terletak di Kecamatan Sijuk ini menjadi titik awal keberangkatan kami menjelajah pulau-pulau indah di Belitung. Kami diantar ke RM. Nyiur Melambai, salah satu rumah makan yang terdapat di Pantai Tanjung Kelayang. Di rumah makan seafood ini life jacket dan peralatan snorkel sudah disiapkan, kami tinggal ambil dan pakai. Tidak ada dermaga di pantai, perahu tidak dapat merapat hingga ke tepian. Untuk naik perahu harus sedikit nyebur di laut. Itu pun naiknya mesti dibantu tangga yang seringkali goyah didorong ombak.

Jam 8.45 pagi perahu mulai berlayar. Kesiangan menurut saya. Baiknya lebih pagi, sebelum terlalu panas. Dan tentunya biar semua pulau yang hendak dituju bisa didatangi. Waktu itu kami melewatkan satu pulau yaitu Pulau Pasir. Kalau saya tak salah ingat, Pulau Pasir jadi tujuan terakhir. Air laut sudah keburu pasang, pulaunya tenggelam. Kami tak bisa mampir. 

Baju pelampung dan peralatan snorkling disewa di sini


Biasanya kalau siang rumah makan ini jadi ramai oleh pengunjung

Pulau Burung
Ini adalah pulau pertama yang kami datangi. Seperti namanya, di pulau yang dipenuhi oleh batu-batu granit raksasa ini terdapat batu yang bila dilihat sekilas, atau dilihat dari kejauhan, berbentuk seperti kepala burung. Batu berbentuk kepala burung tersebut sangat besar dan tinggi.

Pulau Burung terletak di pantai Utara Belitung, di lepas pantai desa nelayan Tanjung Binga. Pulau seluas kurang lebih 2 hektar ini dikelilingi pasir putih dan bebatuan granit yang tersebar di pantai dan laut di sekitar pulau. Saat itu gelombang tergolong tinggi, guide dan pengemudi perahu membatalkan singgah karena keadaan dianggap sedang tidak aman, perahu sulit untuk merapat ke tepian. Perahu hanya mendekat dengan jarak sekitar 50 meter saja. Ketika perahu berhenti melaju, kami buru-buru mengambil gambar, lalu pergi. Lain waktu, kalau keadaan aman, tentu saja saya ingin mampir dan menjejakkan kaki di atas Pulau Burung. Selain untuk menikmati keindahan pulau, juga merasakan asiknya bermain di pantainya yang bersih.

Terlihat seperti burung?

Perahu nggak bisa merapat, foto aja deh dari jauh hehe

Pulau Batu Berlayar
Tak ada tumbuhan hidup di atasnya. Hanya bebatuan granit berukuran raksasa dan pasir putih yang menutupi permukaan pulau. Dari kejauhan, batu-batunya yang tinggi terlihat seperti layar perahu. Mungkin  itu sebabnya dinamakan Batu Berlayar.

Saat sampai di pulau ini, beberapa perahu lain telah lebih dulu merapat di tepian, mengantar wisatawan. Di sini juga tak ada dermaga, kami harus meloncat ke laut yang ketinggian airnya sekitar 30-50 cm. Saat berjalan menuju pantai, terlihat oleh saya bintang laut berwarna merah muda. Seorang pengunjung lain melihatnya, lalu mengambilnya. Mengeluarkannya dari air, lalu memakainya untuk berfoto berlama-lama. Tega sekali.

Ada banyak bintang laut yang saya jumpai di sekitar pulau ini. Moga nggak ada wisatawan lain yang tega mengeluarkannya dari air hanya untuk kesenangan diri sendiri. 

Batu besar dan tinggi di mana-mana

Pulau kecil ini bisa dikelilingi dalam waktu 5-7 menit. Luasnya mungkin tak sampai 50 meter persegi. Kalau ingin memuaskan diri menikmati keindahan pulau penuh batu, berlama-lama saja di sini. Asal tahan panas saja sebab tidak ada satupun tempat berlindung dari sengatan matahari. Tetapi, airnya yang jernih menggoda untuk berenang dan berendam. Laut di sekitar pulau ini juga banyak batu, berserakan hingga jauh.

Pulau Batu Berlayar dapat dicapai selama 15 menit dari Pantai Tanjung Kelayang. Jika laut sedang surut, maka perahu dapat merapat. Kita pun dapat menikmati keindahan pasir putihnya yang bersih. 
Betah main di antara batu-batu raksasa


Pasirnya putih dan bersih

Pulau Langkuas
Selain punya pemandangan indah, baik di daratan maupun bawah lautnya, Pulau Langkuas terkenal dengan menara mercusuarnya. Bangunan mercusuar setinggi 60 meter tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1882. Sampai saat ini mercusuar masih berfungsi dengan baik sebagai penuntun lalu lintas kapal yang melewati atau keluar masuk Pulau Belitung.

Pulau Langkuas punya pantai yang lebar. Untuk wisatawan yang datang dengan rombongan, biasanya menjadikan pantai ini untuk kegiatan tim. Tempatnya memang memungkinkan, selain lapang, juga bersih. 

Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya yang terkenal
Pantainya sedang dipakai untuk kegiatan rombongan

Saya sedang tidak beruntung. Saat itu menara sedang diperbaiki, sehingga ditutup untuk umum. Tidak boleh masuk apalagi naik. Padahal saya sudah membayangkan akan melihat dan memotret pemandangan sekitar dari ketinggian. Karena ditutup, akhirnya saya masuk ke “House History of Langkuas”. Rumah ini terdiri dari beberapa ruang. Di dalam tiap ruang tergantung gambar-gambar yang berisi sejarah Pulau Langkuas, termasuk riwayat orang-orang Belanda yang pernah berkuasa pada masanya. Ada pula gambar-gambar pulau yang bertebaran di laut lepas Pantai Tanjung Kelayang. Terdapat benda-benda kuno yang dulu pernah digunakan pada masanya. Sayangnya seperti tidak terawat. Berdebu dan kusam. Bahkan ada benda yang pecah. 

sedang direnovasi


Mengenal sejarah Pulau Langkuas


Ditutup

agak kotor dan tidak terawat


salah satu gambar yang dipajang


benda-benda kuno yang dibiarkan berdebu

Ada beberapa bangunan di sekeliling menara yang merupakan kesatuan dari bangunan mercusuar.  Di belakang menara terdapat Hutan Asmara. Entah kenapa diberi nama demikian. Jawaban santai yang tidak saya anggap serius menyebutkan bahwa pasangan yang masuk ke hutan itu akan merasakan hubungan asmara yang langgeng. Apa iya?

Yang mau asmara-asmaraan silakan masuk hutan hihi




Penangkaran Penyu


Batu-batu berserakan

Kegiatan paling menyenangkan di pulau ini tentu saja snorkling dan diving. Sebelum nyebur ke laut, saya dan mbak Samsiah menikmati segarnya air kelapa muda yang dijual oleh satu-satunya warung yang terdapat di Pulau Lengkuas. Selain kelapa muda, ada juga gorengan, snack, dan air minum kemasan. Di dekat warung ada penangkaran penyu. Kalau mau lihat boleh-boleh saja. Gratis.

Hari itu wisatawan yang snorkling sangat ramai. Belasan perahu memenuhi spot snorkling Pulau Langkuas. Saya pesimis akan bertemu banyak ikan. Pikir saya, pasti airnya akan keruh dan tidak nyaman. Dugaan saya keliru. Meski banyak orang, air di sana tetap jernih. Ikan-ikannya banyak. Terumbu karangnya juga bagus-bagus. Saya sampai membandingkannya dengan Pulau Menjangan yang saya datangi satu bulan sebelum saya ke Belitung. Rasanya, ikan-ikan di pulau ini lebih banyak, terumbu karangnya juga nggak kalah bagus. 

sedang ramai yang snorkling


meski snorklingnya dekat pulau tapi ikannya banyak


Snorkling berdua mbak Samsiah

Ga perlu jauh-jauh untuk melihat keindahan alam bawah laut Pulau Langkuas

Cukup lama kami menikmati keindahan bawah laut Pulau Laengkuas. Sayang saat itu tak ada kamera underwater, jadi tak ada fotonya. Setelah puas, saya dan mbak Samsiah menghentikan kegiatan snorkling. Badan sudah dingin, perut juga sudah lapar. Maklum, waktu memang sudah menunjukkan jamnya makan. Hehe. Kami naik perahu, langsung dibawa ke Pulau Kepayang.

Pulau Kepayang
Di pulau ini kami singgah untuk makan siang, sekaligus mandi membersihkan diri seusai snorkeling di Pulau Lengkuas. Ada banyak kamar mandi dengan air berlimpah, juga toilet dan musola. Untuk menggunakan fasilitas tersebut ada tarifnya. Rp 5.000,- bila mandi, dan Rp 2.000,- untuk penggunaan toilet. Di sebelah musola tersedia dive shop, tempat penjualan dan penyewaan alat untuk menyelam.

Sampai juga di Pulau Kepayang
Pulau Kepayang tidak terlalu besar, tetapi memiliki fasilitas penunjang wisata seperti penginapan, rumah makan, dan sarana outbound. Penginapannya berupa rumah panggung yang terbuat dari material kayu dan papan. Sederhana namun banyak diminati wisatawan.

Selain penginapan, ada pula rumah makan yang menyajikan makanan berbahan ikan, termasuk Gangan makanan khas Belitung. Siang itu pengunjung yang datang sangat ramai. Kebanyakan dari mereka adalah wisatawan yang sedang melakukan kegiatan keliling pulau. Sebagian lainnya adalah tamu penginapan. Karena merupakan satu-satunya rumah makan yang ada di Pulau Kepayang, tak heran tempat ini jadi andalan sebagai tempat melepas lapar dan dahaga.






Bar


Bungalow yang disewakan


Teras belakang bungalow menghadap ke laut
   
Pulau Kepayang dijadikan tempat konservasi alam untuk penangkaran penyu dan pelestarian batu karang yang dikelola oleh Kelompok Peduli Lingkungan Belitung (KPLB). Tempat penangkaran berada di kawasan penginapan. Untuk memasuki kawasan tersebut dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000,- per orang. Wisatawan yang berkunjung dapat terlibat dalam upaya konservasi dengan mengadopsi karang seharga Rp 50.000 / stek. 
   
Pulau-pulau kecil yang ada di sekitar pulau seolah membentengi laut yang ada disekitar Pulau Kepayang. Pulau-pulau tersebut membuat perairan yang ada di depan pantai Pulau Kepayang menjadi tenang sehingga sangat cocok untuk dijadikan tempat snorkeling dan diving. Jika tertarik untuk memancing, maka disinilah tempat yang cocok untuk mengail ikan.






   
Di pulau ini saya menjumpai beberapa pohon kepayang. Terbersit di pikiran saya, mungkin karena keberadaan pohon kepayang itulah sehingga pulau ini dinamakan Pulau Kepayang. 

Sedangkan penamaan Pulau Babi, ada dua versi yang saya dengar dari guide kami. Pertama, dikarenakan dahulu di pulau ini pernah ada peternakan babi. Sedangkan versi lainnya konon karena ada batu granit raksasa yang bentuknya mirip dengan hewan yang bernama babi. Namun, selama berada di pulau, saya tak melihat ada batu yang dimaksud, juga tidak melihat ada hewan babi.


Batu-batu granit di pantai Pulau Kepayang
   
Ada banyak pulau menawan di perairan Pulau Belitung. Yang saya kunjungi baru sebagian kecilnya saja. Perlu waktu agak lama supaya bisa lebih banyak yang dilihat dan didatangi. Paling tidak tiga sampai empat hari khusus untuk jelajah pulau. Bila perlu bermalam di pulau saja. Biar puas menikmati keindahannya.

Pemandangan paling menonjol dari kepulauan di Belitung ini adalah batu-batu granitnya yang berukuran hingga sebesar rumah. Berserakan di daratan maupun di pantai dan laut sekitar pulau. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik dari Belitung. Ditambah pantainya yang bersih, pasir putih, air yang jernih, ikan dan terumbu karang yang beragam. Semua itu mampu menggoda siapapun untuk datang dan melihat.



Baca juga yuk cerita lainnya tentang Belitung :)

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

12 comments

Write comments
26 April 2016 12.00 delete

Langsung kutunjukkin anakku mba Rien, besok kita bakal ke sini kaaak :D

Reply
avatar
26 April 2016 12.58 delete

4 hari lagiiiiii.... Lala hepi banget loh waktu kukasih liat foto pulau-pulau di Belitung. Langsung pamer ke kakek neneknya "Lala mau ke Belituuuuung!"

Reply
avatar
26 April 2016 13.02 delete

Lalu saya mupeng pengen ikutan hiks

Reply
avatar
26 April 2016 16.50 delete

Sementara...ikut menikmati foto2nya dulu deh... Bsk jgn lupa bagi2 foto indahnya ya mba Rien.. Hehe...

Reply
avatar
26 April 2016 19.59 delete

Aaaaah...ga sabar jumpa dengan duo kiddos-mu mbak. Ga sabar juga pingin jalan bareng mbak Rahmi. Semoga sehat2 semuanya ya. Biar jalan2nya nanti lancar. Aamiin

Reply
avatar
26 April 2016 20.00 delete

Lala! Bilang Lala, tante Rien ga sabar pingin acak2 rambut keritingnya :D Sampa jumpa di Belitung ya mbak Dian :)

Reply
avatar
26 April 2016 20.01 delete

Mbak Arni ayo ikutan di trip Belitung selanjutnya ya. Ajak Prema.

Reply
avatar
26 April 2016 20.02 delete

Insha Allah mbak Tanti. Semoga di trip Belitung berikutnya mbak Tanti bisa berangkat. Salam untuk ibu, semoga lekas sembuh :)

Reply
avatar
26 April 2016 20.49 delete

Yang foto yuk Rien hadap ke kiri tersenyum itu mirip senyumnya Okky Asokawati. Asekkk model hits heheh

Reply
avatar
26 April 2016 20.53 delete

Waw...Deddy bikin aku jadi gugling liat foto2 Okky Asokawati wkwkwk

Reply
avatar
2 Mei 2016 21.40 delete

Belitung keren ya Mbak, keinginan terpendam saya sejak lama. Tahun 2014 nyaris ke sini, tapi akhirnya milih Flores hehehe. Semoga bisa mengikuti jejaknya Mbak keliling Belitung :)

Reply
avatar
7 Mei 2016 15.40 delete

Sayang banget gak bisa ikutan ya mbak Rien >.< padahal sebagian besar tempat yang mbak Rien sebutkan aku belum datangi juga :(

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon