Jatuh Bangun Mengejar Gigi Hiu

09.24 29 Comments
batu gigi hiu batu layar pegadungan

Travelerien.com


Gigi Hiu. Nama itu yang melekat dalam benak. Padahal pantai penuh batu karang raksasa itu lebih dikenal dengan nama Pantai Batu Layar, atau Pantai Pegadungan, sesuai nama daerahnya.

Ada banyak foto Gigi Hiu bertebaran di dunia maya. Sayangnya,
ingatan saya tak begitu tajam untuk mengingat kapan pertama kali melihat dan foto siapa yang pertama kali saya lihat. Tapi yang jelas, sejak pertama kali melihat wujud Pantai Gigi Hiu dalam foto, ada rasa kagum yang menyeruak. Muncul harapan untuk bisa melihat langsung.

Di mata saya, Pantai Gigi Hiu adalah sebuah pantai dengan sensasi eksotisme yang tak biasa. Secara fisik pun sangat berbeda dari pantai lainnya di Nusantara. Cerita yang saya baca dan dengar dari para pejalan yang pernah ke sana, mengandung aroma petualangan yang mengembus dinding ruang mimpi. Hingga suatu hari di tahun 2015, saya menyelipkan Gigi Hiu sebagai salah satu tempat wisata di Lampung yang paling ingin saya kunjungi pada tahun 2016.


Baca juga: Trip Lampung 5 hari, dari Way Kanan hingga Kiluan dan Gigi Hiu
 
Rasa kagum terkembang jadi harapan. Harapan terkembang jadi kenyataan.
 
Trip Kiluan dan Gigi Hiu

Sabtu, 30 Juli 2016

"Bagaimana jika kita bawa teman-teman mencicipi kuliner Pindang Kepala Simba di Rumah Makan Ika?"

Mas Yopie Pangkey menyampaikan usul. Kami baru saja mengantar rombongan trip Kiluan ke Taman Kupu-Kupu Gita Persada sebelum memulai perjalanan ke Kiluan. Saya setuju. Makan siang dengan Pindang Kepala Simba bisa jadi pengalaman kuliner yang menarik bagi teman-teman yang baru pertama kali ke Lampung. Atau bagi mereka yang sudah pernah ke Lampung tapi belum pernah mencecapnya.

Kulineran Pindang Kepala Simba tidak termasuk dalam paket trip. Segala biaya makan hanya ditanggung selama di Kiluan saja. Jadi kami bayar masing-masing. Karena tidak murah, saya sempat khawatir yang lain keberatan. Tapi untunglah ada harga paket (paket pindang) yang bisa menyelamatkan isi kantong
 
Baru tiga kali ke Kiluan, ini kedua kali saya makan di RM Ika, meski di lokasi yang berbeda. Ada cerita yang tak pernah sama, baik saat bersama Ratna Aulia dkk, maupun bersama mbak Dian Radiata dkk. Terselip cerita suap-suapan di dalam mobil, di depan RM Ika, candid ala-ala oleh Rian. Lucu-lucu seru, bukan saru.


Makan siang dengan menu Pindang Kepala Simba di RM Ika, Pesawaran

Nikmati Saja Perjalanannya

17 orang dalam 3 mobil melakukan 2,5 jam perjalanan dari Bandar Lampung ke Desa Kiluan Negeri, Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus. Jalan tak mulus. Tanah berlubang, aspal berbatu, kadang tanah saja atau batu saja. Sesekali pemandangan laut, pantai, nusa kecil yang terserak, ladang garam dengan ratusan kincir, hamparan sawah, bukit-bukit menghijau, jadi selingan manis di antara rasa bosan terguncang-guncang di dalam mobil.

Masing-masing mobil di supiri oleh Mas Yopie, Mas Indra, dan Pak Johan. Di mobil pak Johan ada orang tua, ibunya mbak Samsiah yang berusia di atas 60 tahun. Beliau satu mobil dengan keluarga Mbak Ningsih (suami dan dua anaknya). Mereka para pejalan, tak kenal usia, berangkat tanpa ragu. Saya berada di mobil Mas Yopie, bersama Rian, Dian, dan Kak Rosanna.


Sesungguhnya badan saya masih digelayuti lelah setelah 2 hari sebelumnya berkendara mobil Bandar Lampung - Way Kanan selama 9 jam PP. Ditambah pula perjalanan 2 jam PP naik motor trail di Desa Jukuh Batu demi melihat keelokan Air Terjun Putri Malu di sudut terpencil Way Kanan.

Tulang seperti remuk diajak naik turun melintasi bukit terjal. Kaki pun seperti diganduli batu. Tapi, Mas Yopie pasti lebih lelah karena dia mengemudi sepanjang trip Way Kanan dan Kiluan selama 5 hari. Menyadari itu, tentu tak elok jika saya mengeluh dan menggerutu. Saya beruntung bepergian bersama Dian, Rian, Indra dan Kak Rosanna. Mereka orang-orang yang bisa diajak senang dalam segala suasana. Suka bercanda. Ada saja guyonan segar yang dilontarkan. Mendengar mereka tertawa, saya ikut tertawa, badan berasa bugar. Lupa segala letih. 3 hari kemudian, saat sudah balik ke rumah, baru terasa capeknya, langsung ambruk :D

Di gerbang Desa Kiluan Negeri, Kelumbayan, Tanggamus

Desa Kiluan Negeri

"Sudah di Pasar Bawang."

Ada panggilan telpon lagi, dari Mumun, pemilik cottage yang akan kami inapi selama di Kiluan. Mas Yopie menyebutkan posisi. Ojek ke Gigi Hiu sudah siap, begitu kabar dari Mumun. Kami sudah ditunggu. Laju mobil mas Indra sudah jauh di depan, mobil kami menyusul di belakangnya. Sedangkan mobil Pak Johan tertinggal jauh di belakang kami.


16 motor sudah menanti di Desa Kiluan Negeri. Wajah para abang ojek sumringah. Sepertinya senang melihat rombongan kami akhirnya tiba, meski kesorean. Jalan jelek menuju Kiluan memang tidak memungkinkan mobil melaju secepat Maglev Train. Itu mimpi. Tapi saat itu bulan Juli 2016. Kini jalan ke Kiluan sudah lebih baik. Bagi yang ingin tahu kondisi terbaru jalan menuju Kiluan, coba cari infonya di portal-portal berita online Lampung.

Rombongan pertama, Mas Indra dkk, begitu sampai langsung naik ojek. Mereka berangkat duluan. Beberapa warga yang saat itu menonton rombongan kami, menggoda abang-abang ojek yang motornya dinaiki para cewek. Saya mendengarnya. Tapi godaan itu hanya canda. Tidak ada yang nakal saat mengantar kami pergi dan pulang. 


Apa yang saya bayangkan tentang jalan menuju Pantai Pegadungan? Jalan  buruk. Saya simpulkan begitu karena sebelumnya Mas Yopie pernah cerita. Katanya, kalau naik motor ke Gigi Hiu mesti peluk abangnya erat-erat biar tidak jatuh terjengkang. Bukan karena abang ojeknya tidak handal, tapi karena jalannya parah. 



Apapun kondisi jalannya, Arie seru-seru aja tuh *Foto Dian Radiata*

Naik Ojek Motor ke Gigi Hiu

Motor ojek bukan motor trail seperti yang kami gunakan saat ke Air Terjun Putri Malu di Way Kanan. Di Kiluan, kami naik motor bebek wek wek wek. Ada yang manual, ada yang matic. Matic? Abang ojeknya beragam usia. Ada yang masih agak muda, dewasa, dan ada yang agak tua. Abang ojek saya orangnya gaya. Pakai kaca mata hitam mentereng, jaket merah, sama merah seperti warna motornya. Wajahnya coklat mengkilat. Saat tertawa, giginya pun berkilat. Usianya katanya kurang dari 35 tahun. Aih lebih muda dari saya. 

Fyi, biaya pulang pergi ojek motor dari Desa Kiluan Negeri ke Gigi Hiu Rp 200.000,- Mahal? Awalnya saya kira mahal. Setelah tahu seperti apa perjalanannya, harga itu pantas. Baik juga kalau diberi lebih. Seikhlasnya.


Sore menghampiri. Semua bergegas. Waktu Zuhur hampir habis, Ashar sudah dekat. Sebelum keluar dari gerbang desa Kiluan, kami mampir salat ke masjid sambil menunggu rombongan mobil Pak Johan. Mungkin karena bawa ibu-ibu tua, Pak Johan mengemudi pelan-pelan asal selamat. Kelar solat, mobil Pak Johan melintas. Beda 30 menit perjalanan. Lumayan jauh mobilnya tertinggal.

Ojek saya nih paling depan :D

Menaklukkan Jalan Terjal Menuju Gigi Hiu

Keluar dari gerbang Desa Kiluan Negeri, motor belok kiri, langsung disambut jalan menanjak. Saya ingat pesan Mas Yopie, “Pegang abang ojeknya kuat-kuat, jangan sampai jatuh.” Saya lakukan itu sepenuh hati. OMG!

Seperti apa kondisi jalan yang saya lewati?

Jalan berbatu dan jalan tanah berlubang. Silih berganti. Sangat tidak nyaman. Badan terguncang-guncang. Kadang motor melambat, kadang berhenti mencari selamat, kadang cuek saja menerabas apapun yang dilewati. Saya alami hal itu selama kurang lebih 45 menit. Pulang pergi 90 menit. Amboiii sedapnya…


Abang ojeknya banyak diam, mungkin menjaga kosentrasi. Saat jalan menurun, badan terdorong maju, merapat ke abang ojeknya. Saat menanjak, badan seperti merosot ke belakang. Gerak otomatis. Saya dengar cerita, dalam keadaan yang sama, Mbak Ross lupa mundur dan lupa maju lagi. Bukannya sadar, malah abang ojeknya yang mengingatkan. Ini secuil cerita lucu diantara medan jalan yang juga tak kalah "lucu".
 

Susahnya Berfoto Tanpa Tongsis


Dalam rombongan kedua, motor saya paling buncit. Saya memang minta ke abangnya agar tidak ngebut. Melaju sedikit lebih cepat di depan motor saya adalah motor yang dinaiki Mas Yopie. 

"Jangan jauh-jauh ya mas, jagain saya. Nanti kalau saya hilang kamu nangis lho."

Orangnya nyengir. Di atas tanjakan dia berhenti, berdiri sambil pegang HP yang diarahkan ke motor saya. Rupanya ambil gambar. Asik. Bakal punya foto dan video kenang-kenangan saat motoran ke Gigi Hiu. Sayangnya, sampai detik ini saya tidak pernah melihat foto dan video itu. Tidak pula di-upload di manapun. Entah disimpan di mana dan buat apa. Penasaran? Banget.

“Bang, bisa pelanin dikit gak? Saya mau selfie sambil motoran,” ucap saya ke abang ojek. Motor pun dipelankan. Setelah kamera hp siap, motor kembali melaju lebih cepat. Saya kerepotan tanpa tongsis, HP susah dipegang, sulit ambil gambar. Kalaupun bisa ambil video, hasilnya sungguh kacau. Hanya berisik suara motor dan gambar seperempat wajah saja yang masuk frame. Sisanya entah gambar apa. Kondisi jalan benar-benar menyulitkan. Jangankan foto cantik, foto jelek saja susah.


Dalam kondisi tidak sedang hujan saja ban motor acap tergelincir. Jika hujan, mungkin akan mengalami terjungkal dan terjatuh berkali-kali. Tapi perjalanan ini sungguh berwarna. Kami tak hanya disuguhi buruk rupa jalan, tapi juga cantik rupa alam Kelumbayan. Saat di ketinggian, terlihat garis pantai yang memisahkan daratan dan lautan. Bentangan laut berpaut kaki langit yang tak nampak ujungnya. Sebuah pemandangan yang memanjakan mata di tengah kemelut si roda dua yang berjuang menaklukkan medan jalan.
 
Beginilah kondisi jalannya *Foto mbak Ningsih*

Kenyamanan Sesaat


Jalan mulus! Hore…!

Ketemu jalan beton. Bukan main girangnya. Ini akhir segala derita di jalan? Oh ternyata, jalan mulus itu pendek. Belum sempat menikmati duduk manis manja di atas motor tanpa harus berpegangan erat pada abang ojeknya, sudah ketemu jalan berbatu dan berlubang-luban lagi. Bahkan, banyak jalan tidak rata yang isinya air bercampur lumpur. Lebih parah dari jalan menuju Air Terjun Putri Malu. Hiks...

“Jangan nangis, lanjutkan saja jalannya…”

Saya menghibur diri sendiri. Menyemangati diri sendiri. Kuat…kuat! Tekat ke Gigi Hiu sudah bulat. Harus tetap semangat! Ciaaaaaat!!!


Saya teringat ibu mbak Samsiah. Beliau tidak ikut serta, tinggal saja di Kiluan, bersantai di cottage. Meskipun Mbak Samsiah cerita bahwa ibunya kuat, terbiasa jalan, sudah sejak muda bertualang, tetap saja kami tidak tergoda untuk meluluskannya ikut serta motoran ke Gigi Hiu. Sangat beresiko.


Trip ini memang diikuti oleh beragam usia. Dari yang paling muda, Afif anaknya mbak Ningsih masih SD kelas 4, sampai yang paling tua ibunya Mbak Samsiah (> 60). Jika ibu Mbak Samsiah mau tinggal, maka lain halnya dengan Afif. Dia ikut serta, boncengan berdua saja dengan abang ojeknya. Tidak mau ditinggal. Anak kecil ini kuat, ia ikuti perjalanan penuh tantangan ini sampai Gigi Hiu, pulang pergi. Ibunya petualang tangguh, anaknya juga begitu.

Dusun Batu Suluh

Singgah di Jembatan


Kami sampai di sebuah jembatan beton ber-rangka baja. Semua singgah, foto-foto. Sesaat menikmati suasana asri di sekitar jembatan. Dari gerbang berwarna kuning sebelum jembatan terbaca sebuah nama: Dusun Batuh Suluh.

Di bawah jembatan ada sungai dengan batu-batu dan air yang mengalir tidak tenang. Segar lihatnya.  Mas Yopie cerita, dulu waktu awal-awal ke Gigi Hiu, ia pernah nyebur di sungai itu bareng kawannya. Saya lupa ia sebut tahun berapa, sepertinya 4-5 tahun yang lalu. Kalau ada yang penasaran dengan cerita tentang nyebur-nyebur itu, tanya saja orangnya, atau baca saja blognya tentang Gigi Hiu di www.yopiefranz.com. Seru buat disimak.

Sore kian tua. Perjalanan berlanjut.

Semua laki-laki di belakang kami itu adalah para pengojek motor yang kami sewa


Sungai yang kami lewati. Di sini katanya Mas Yopie dkk pernah nyebur :D

Truk Ngesot Naik Tanjakan

Sampai pada sebuah turunan, abang ojek minta saya turun dari motor. Saya diminta jalan sampai batas yang tidak bisa ditentukan.

“Gigi Hiu masih jauh?” tanya saya.

“Masih jauh. Jalan dulu aja mbak. Kita nggak bisa lewat,” jawabnya sambil menunjuk ke kerumunan orang di bawah (turunan).

Ada jeep sedang disiapkan untuk menarik truk. Truknya mati gaya, tidak bisa nanjak. Lagian sudah tahu jalan parah seperti itu kok dilewati. Katanya… katanya nih, itu truk pengangkut kayu. Kayu dari hutan Tanggamus. Abis tebang pohon di hutan? *ups…

Jeep ini yang akan menarik truk naik tanjakan. Perhatikan kondisi jalannya.

Disuruh jalan, kami tidak jalan. Bagaimana bisa jalan kalau jalannya terhalang truk dengan posisi melintang? Kiri kanan jalan tidak bisa dilewati dan ditembus, jadi kami menunggu sampai kepala truk itu lurus lagi.

Lebih dari belasan menit kami menonton saja. Laki-laki (bukan rombongan kami) tampak bekerja keras menyelesaikan urusan tarik menarik truk. Ada yang meneriakan bilangan angka. Ada yang mengencangkan otot menaklukkan truk yang ngotot.

Sekitar 20 menit kemudian, jalan kembali bebas hambatan. *lo kira tol bebas hambatan?? :))

Naik motor lagi. Terguncang-guncang lagi. Kali ini jalannya lebih seru, sempit dan penuh semak. Hanya muat satu motor. Jalannya tidak kalah asoy, berlubang-lubang dan becek. Motor Mbak Dian jatuh, dia juga ikut jatuh. Tapi mbak Dian tidak apa-apa, malah tertawa. Mbak Dian bangkit, lanjut motoran lagi.  Kebayang kan seperti apa jalannya? Nah, jalan inilah yang mengantar kami pada akhir perjalanan bermotor. 



Sesi jalan kaki :D *Foto by Lestari*
 
 GIGI HIU, Batu Karang Raksasa di Pantai Pegadungan

“Selamat Datang di Pegadung Kelumbayan”. Kata-kata itu tertulis pada sebuah papan nama yang tertancap rendah di pinggir pantai. Di sanalah motor-motor berhenti. Ada pondok kayu sederhana. Tempat duduk para abang ojek selama menunggu tumpangannya.


"Gigi Hiu ada di sana, di balik pantai yang menjorok ke laut itu."

Saat itu punggung dan bo**ng saya masih sakit, rasanya ingin duduk sesaat, istirahat. Tapi ada waktu yang harus diburu. Hari sudah sangat sore. Harus lanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman.
 
Saya membangkitkan semangat pada diri sendiri, mesti kuat lanjut jalan kaki sekitar 250 meter lagi. Jalur yang dilalui pinggiran pantai. Penuh batu. Lalu pasir. Batu lagi. Lalu tanah. Batu lagi. Setelah itu baru sampai di Gigi Hiu.



Luar biasa!

Itulah kata pertama yang terucap ketika pertama kali melihat barisan karang di pinggir pantai menjulang membentuk seperti bangunan megah. Ujungnya lancip ke atas, sepintas mirip jejeran gigi ikan hiu.

Baru saja hendak mengagumi batu-batu raksasa itu, tiba-tiba….

Megah!

Jumpa Para Petualang Lampung

Hai Eltra, Ikram, Denish! 

Saya berteriak. Iya, saya teriak senang melihat keberadaan tiga orang itu. Spontanitas yang keluar dari semangat yang hampir melemah. Pegalnya badan setelah motoran itu penyebabnya. Setidaknya perjumpaan itu mungkin cukup ampuh meluluhkan rasa letih yang saya rasa. Setidaknya dengan teriak begitu saya berusaha menjaga semangat saya untuk tidak layu.

Mereka adalah teman Lampung yang saya kenal tahun 2015 lalu saat sama-sama berangkat Tur Gunung Anak Krakatau pada Festival Krakatau 2015. Saya kenalan di kapal. Kami pulang dan pergi naik kapal yang sama. Kami pernah banyak ngobrol selama di kapal, jalan bareng nanjak gunung, foto-foto, tukeran akun medsos, dan tetap terhubung sampai kini. 


*Cek IG mereka di @parapetualanglampung

Beberapa hari sebelum ke Lampung, Denish dan Eltra memang sudah japrian dengan saya. Janjian bertemu kalau ada waktu. Tapi belum tahu tempatnya di mana. Ternyata ketemunya di Gigi Hiu. 

Bersama Eltra, Ikram, Denish dan dua kawannya. Senang jumpa di sini!

Eltra bawa oleh-oleh buat saya, selembar kaos K-Hoet. Yes, saya ingat kaos itu pernah dibawanya ke Gunung Anak Krakatau. Dulu dia foto-foto pakai kaos itu bareng Henry, katanya untuk keperluan promo. Saya sempat motret mereka dan meng-upload fotonya di Instagram. 


Saya suka kaosnya. Ada motif sulaman Tapis. Sulaman asli. Sangat mencirikan Lampung. Eltra minta saya pakai kaosnya, buat foto bareng. Untuk menghargai mereka, juga sebagai tanda terima kasih, saya tentu bersedia. Kami pun foto bareng dengan baju kaos itu.

Thanks Eltra untuk kaos K-Hoet-nya yang berhias sulaman tapis. Kece!

Gigi Hiu Spot Fotografi Paling Kece di Pantai Pegadungan

Teman-teman sudah menyebar. Ada yang masih duduk-duduk saja, bersantai sambil beristirahat. Ada yang sudah sibuk foto-foto. Mas Yopie mulai mengeluarkan kameranya. Ia memotret mereka, satu persatu, dengan sabarnya.


“Saya kapan difoto mas?”

Ingin juga difoto. Sudah jadi harapan sejak jauh-jauh hari berfoto di Gigi Hiu. Jika punya foto cakep jepretan kamera Mas Yopie, bakal dicetak gede-gede, dibingkai, dipajang di rumah. Sebuah gambar dengan seribu cerita, untuk jadi kenangan manis di masa akan datang. Indah bukan?


“Duduk di sini saja, saya motret mereka dulu,” jawabnya.

Saya nurut, duduk di batu, diam mengamati yang lain. Tampak Rian tertawa gembira. Kak Ros bergaya-gaya. Mas Indra berpose, lensa kamera Mas Yopie sedang terarah padanya. Mbak Ningsih sedang asik dengan kamera andalannya. Afif berbaring di atas batu, wajahnya mengguratkan lelah. Arie asik selfie. Mbak Samsiah dan Pupun tampak saling memotret. Yang lain tak kalah asik melakukan kesenangannya. 


Matahari perlahan turun. Cahayanya jatuh mengenai bagian samping bebatuan, membuat batu-batu karang raksasa itu tampak kemerahan. Terjangan ombak yang menghempasnya menghadirkan rasa ngeri. Saya membayangkan jika lidah ombak itu menjilat saya, lalu dihempas, diseret, dihempas lagi. Hancur. Saya bergidik. Nyali ciut. Urung mendekat ke batu-batu karang besar.

Buat saya tempat ini sungguh memesona tapi menakutkan

Betapa beruntungnya Lampung memiliki Gigi Hiu. Lanskap-nya sangat indah. Keindahannya terletak pada karang menjulang ke atas hingga 10 meter. Memiliki hempasan ombak besar karena berbatasan dengan samudera Indonesia. Saya yakin, pemandangan terbaik di tempati ini bisa dinikmati pada pagi, siang, maupun sore.

Pantai Gigi Hiu juga disebut-sebut sebagai pantai paling fotogenik di Indonesia selain Raja Ampat. Tak heran bila banyak orang penasaran dan terpesona. Bagi para fotografer, Gigi Hiu adalah destinasi utama di Kiluan. Inilah ikon spot fotografi Lampung. Telah banyak fotografer lanskap nasional berkunjung, bahkan fotografer dari negara lain seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. 

Tempat yang oke banget buat berpose ala model

Dalam Pelukan Lelah

Saya mencoba memotret dengan kamera  seadanya. Ingin coba ambil foto bagus, tapi apalah daya kemampuan tiada. Kemegahan Batu Gigi Hiu hanya bisa saya simpan dalam ingatan, juga dalam tulisan yang tak sepenuhnya bisa menggambarkan keadaan real-nya.

Pantaslah kiranya jika para fotografer pro dibuat tak henti-henti menekan tombol shutter kamera. Tempat ini memang surganya para fotografer. Bagi mereka, Gigi Hiu adalah destinasi utama saat berkunjung ke Kiluan. Sedang pelancong seperti saya, Gigi Hiu nomor dua, melihat lumba-lumba nomor satu. Makanya sampai 3x kali ke Kiluan tidak jera padahal tidak pernah benar-benar pernah bertemu lumba-lumba dalam jumlah ratusan. 10 ekor saja tidak :))

Selain kami, sore itu ada pengunjung lain, seorang perempuan dan beberapa laki-laki. Ada yang bilang mereka dari Thailand. Datang untuk melakukan pemotretan. Terlihat nekat. Karena pemotretan dilakukan di tempat yang saya anggap cukup berbahaya. Entah foto seperti apa yang hendak mereka buat sampai berani menantang maut dekat batu karang menjulang yang dihantam ombak deras. Kalau saya, baru dengar bunyi deru ombaknya saja sudah gemetar. 

Tidak ada yang tahu kan kalau saya takut? Tentu. Karena saya sembunyikan. Sore itu komplit. Takut dan lelah jadi satu. Canda tawa tak mempan jadi obat. Pesona batu-batu raksasa itu juga tak ampuh jadi pelipur. Perjalanan bermotor itu benar-benar telah menyergap saya ke dalam ruang penat yang tak berventilasi. Dua hal yang membuat saya tegar tidak sampai pingsan adalah melihat keceriaan teman-teman dan menunggu difoto bagus.


Afif sedang istirahat di dekat ayahnya
Arie Goiq!

Petang dibalut cemburu

~yaelah sub judulnya :))

Saya menoleh ke Mas Yopie. Masih sibuk motret. Sabar. Nanti pasti difoto kok. Kan dia sudah janji. Dari pada manyun, saya coba cari kesibukan. Nanti kalau sudah dapat giliran pasti dipanggil, tinggal mendekat lagi. Saya berjalan ke arah rombongan Eltra. Kebetulan dipanggil, ternyata diajak foto bareng lagi.


Sesaat saya ngobrol, jadi dapat cerita. Katanya, pengunjung yang pernah ke Gigi Hiu ada yang menginap demi mendapatkan momen matahari terbit dan tenggelam. Mereka pasang tenda buat tempat tidur. Bawa makanan dan minuman sendiri karena tempat ini jauh dari perkampungan. Pun tidak ada penjual makanan dan minuman

Biasanya begitu. Demi dapat momen terbaik, foto terbaik, rela lakukan apa saja, termasuk bermalam di tempat dengan keadaan apa adanya. Bahkan tidak ada apa-apa. Bagi mereka mungkin itu setimpal dengan yang akan didapat. Saya bisa bayangkan alangkah indahnya berada di tempat seperti ini saat matahari mulai merayapi langit. Mistis. Megah. Syahdu. Magis. Entah apa lagi...

Kebanyakan foto-foto sama mereka, ada yang ngambek :D

Kelar foto-foto dan ngobrol, saya balik lagi ke Mas Yopie.

Eh tapi orangnya malah pergi. Jalan ke arah pondok, mendekati ranselnya. Dari gerak-geriknya terbaca kalau ia hendak menyimpan kamera. Mukanya cemberut. Kaget lihatnya, untung saya nggak sampai terjengkang :D

“Mas, kok nggak jadi moto?”

Mukanya masam. Lebih masam dari jeruk purut muda. Saya ngilu liatnya. Berasa banget asamnya. Langsung mual. Pingin muntah. 

~mendadak sakit maag :D
Pupun dan Samsiah ~ Saya suka lihat kalian di foto ini ^_^

Batu Gigi Hiu Petang Itu

Ombak yang cukup deras terlihat berkali-kali menghempasnya. Nuansa mistis tampak hadir kala cahaya matahari petang menyelinap dari celah-celah karang. Begitu menawan. Begitu ingin saya berlama-lama menyaksikannya. Namun, sesuatu telah membuat saya bergerak pulang, mendahului yang lain. Saya bergegas, berlari, sebelum cahaya keemasan itu tenggelam ke peraduan.

Saya melewatkan bagian istimewa dari tempat ini. Memilih memunggungi Gigi Hiu dengan berbagai rasa yang tak bisa dijelaskan.



Petang yang sungguh "seru".

Tak lama lagi matahari terbenam, tapi saya melewatkannya

250 meter jalan kaki. Sendirian. Menyisir pantai. Setengah berlari menuju ojek sambil  menyepak batu, menghentakkan kaki kuat-kuat di atas pasir, mematahkan ranting kering, menyiramkan sisa air minum pada wajah yang basah.


“Ayo pulang, bang!”

Abang ojek itu diam. Matanya memandang heran. Tapi dia tak bertanya apapun. Lalu dia bawa motornya dengan kencang.


Segala lubang, becek, batu, terhempas-hempas, terbanting-banting, tidak terasa. Ada yang lebih sakit untuk dirasa. Magrib datang, langit mulai gelap. Tak ada satu pun penerangan di pinggir jalan. Kiri kanan hutan. Kadang jurang. Kadang padang ilalang. Gerimis turun. Senja berlalu dengan nyeri

Nun jauh di belakang, kumpulan batu karang raksasa itu mungkin sudah dalam keadaan terbaiknya. Tanpa siapa-siapa.

Menyisir pantai ini, sejauh 250 meter, menuju Gigi Hiu

Keesokan pagi, di Teluk Kiluan

Seusai
berburu penampakan lumba-lumba yang gagal, di bawah gerimis, di antara indah lengkung pelangi, lamat-lamat di kejauhan terlihat Pantai Batu Layar dengan Gigi Hiu-nya yang megah itu. 

Degh!

Teringat kopi pahit kemarin sore, masih hangat: “Kalau mau difoto, jangan buat fotografer marah.”

Duh!


Rasanya pingin lompat dari jukung, minta digigit hiu.

Pagi itu di Teluk Kiluan...

Kapan Kembali ke Gigi Hiu?

Di sebuah cekungan yang sunyi, di sanalah Batu Gigi Hiu berada. Saya akui daya tariknya. Saya akui kenapa orang-orang rela bersusah payah menempuh jalan berat demi melihatnya.

Lantas, apa yang saya kenang dari Pantai Pegadungan ini? Perjalanannya dan cerita fotografer yang ngambek itu :D Dua hal itu tampaknya lebih melekat dalam ingatan saya ketimbang hal lainnya. Kok gitu? Ya begitulah kenyataannya. Entah kenapa saya jadi tak bisa menyesap pesona yang dimiliki pantai itu. Terlalu 'hanyut' oleh perjalanannya? Mungkin. Yang saya tahu, sampai di lokasi malah mati rasa. Sudah coba dihidupkan dengan berbagai cara, tak jua berhasil. Tidak ada feel-nya.


Entah kapan akan ke Gigi Hiu lagi. Mengingat perjalanannya yang berat, bisa jadi yang pertama dan terakhir. Hmm....nggak boleh pesimis ya. Siapa tahu suatu hari jalannya jadi bagus, akses ke sana jadi lancar jaya. Sekarang saja jalan menuju Kiluan sudah diperbaiki, jadi lebih bagus. Bukan tidak mungkin nanti jalan ke Gigi Hiu-nya juga ikut diperbaiki. Apalagi Pantai Pegadungan itu sangat terkenal. Masa iya saat objek wisata unggulan dipromosikan kemana-mana tapi kondisi jalan buruk menuju ke sana dibiarkan saja?

Saya yakin suatu hari nanti jalan menuju Gigi Hiu bagus. Walau entah kapan. Moga saja tidak lama-lama. Sekarang keadaannya masih sama seperti yang kami lalui. Siapkan badan sehat dan niat yang kuat kalau tetap nekat berangkat.

Tami


Ada penampakan di belakang kak Ros :D


Ada yang penasaran dengan jepretan Mbak Ningsih?

Mas Yopie (jongkok dekat batu) sedang memotret teman-teman

Perjalanan ke Gigi Hiu ini penuh warna. Meski perjalanannya sulit, tapi seru. Saya salut teman-teman bisa menjaga semangatnya sampai akhir. Mereka tangguh. Sedangkan saya pura-pura tangguh. Sudah berusaha sekuat tenaga untuk tetap kuat dan tabah, tapi segala gumpalan rasa malah pecah menjadi kesal dan marah. 


Apapun itu, tempat ini telah memberi saya sesuatu yang bisa dikenang.

Lima bulan berlalu sejak trip Kiluan Gigi Hiu, dan saya masih ingat setiap detailnya. Sekarang, tiap mengingatnya ulang, ada rasa kangen sama mereka:
Mbak Ningsih+Suami+Fahri+Afif ibutravel.wordpress.com, Dian adventurose.com, Indra duniaindra.com, Rosanna anarosanna.com, Rian kulinerwisata.com, Arie goiq.blogspot.com, Lestari jejaksematawayang.com, Tami ranselsaya.com, Samsiah + ibu, Pupun, Tita.


Terima kasih buat admin +Keliling Lampung Mas +yopie franz atas perjalanan seru tak terlupakan ini. 

Cerita ini hanya pengalaman saat ke Gigi Hiu. Pada postingan berikutnya (jangan tanya kapan waktunya), akan saya tulis cerita tentang berburu penampakan lumba-lumba di Kiluan.

Cerita perjalanan ke Gigi Hiu pernah saya tulis untuk rubrik Pariwisata koran Kedaulatan Rakyat. Dimuat hari Sabtu tanggal 8 Oktober 2016. Tulisannya berisi informasi destinasi. Beda dari yang saya tulis di sini. Pastinya cerita tentang ngambek-ngambek itu tidak ikut ditulis. Nanti dijadiin novel saja :D



Kamu punya cerita pengalaman ke Gigi Hiu?