Sesi Foto di Pulau Menjangan

18.51 29 Comments

Pulau Menjangan, Bali. 01 Agustus 2015.


Sang raja siang tampak begitu bahagia memandikan kami dengan sinarnya. Panas? Iya, tapi kali ini saya menikmatinya, walau sadar akan bahayanya pada kulit. Saya hanya sedang butuh sinarnya untuk mengeringkan pakaian yang melekat di badan. Sebab tak lama lagi akan menjejak daratan Pulau Menjangan. Ingin saat di sana dalam keadaan kering.

Sisa-sisa snorkeling memang masih ada, sedikit lembab dan basah, namun tidak dingin dan tak lagi membuat badan gemetar. Hembusan angin laut turut mempercepat proses pengeringan. Rasanya seperti ikan yang hendak di awetkan. Sesampainya di daratan, akhirnya seluruh pakaian di badan tak lagi menunjukkan tanda-tanda usai dipakai nyebur ke laut.

Saya memang tak memakai pakaian renang seperti yang dikenakan mbak Ira, mbak Zulfa, dan Lestari. Apalagi wet suit khusus snorkeling seperti yang dipakai mbak Andrie. Selain memang sengaja tidak bawa, juga ada misi terselubung. Biar mudah tampil bergaya saat difoto! :D Eh, padahal, kalau cuma untuk bergaya doang mudah ya. Tinggal balutkan saja kain pantai tanpa harus membuka baju snorkeling. Lilitkan dipinggang, bentuk mirip rok, jadi deh


sahabat selamanya

serunya liburan bareng

Nah, saya punya kain pantai andalan yang sampe sekarang selalu dibawa kemanapun pergi traveling. Kain ini sudah lama. Hadiah tanda sayang dari seseorang. Awet, padahal sering digunakan. Warnanya pun bagus, warna merah kesukaan. Kalau ada yang mau memberi hadiah, tolong catat ya, warna merah. M-e-r-a-h


Waktu di Derawan, kain itu pernah saya jadikan kerudung. Waktu di Pulau Harapan dijadikan selimut. Waktu di Dieng dijadikan syal di leher. Sekarang di Pulau Menjangan, dijadikan rok. Karena berada di pinggir laut, banyak angin, bikin roknya berkibar melambai-lambai gembira. Tenang, aurat nggak kliatan. Di dalamnya kan pake celana aladin. Eh, celana joger ding.
 



Lestari

Usai makan, liat menjangan, istirahat sebentar, saatnya untuk foto-foto. Nah, kami beruntung punya guide yang jago motret. Mas Dwi –guide kami, selain punya alat dokumentasi lengkap (kamera Canon EOS 50D dan  Canon powershot D30), ternyata pandai memotret dan memilihkan tempat pengambilan gambar. Karena saya merasa dia pandai motret, kamera saya serahkan padanya. Modus biar difoto banyak-banyak.  


Jadi, saat kamera sudah di tangan mas Dwi, langsung dong nyari posisi. Dapet. Depan ayunan pinggir pulau. Pas minta difoto, eh ya ampun dia motonya jauh bener. Saya sudah under estimate saja itu foto hasilnya pasti tak sesuai harapan. 


“Kamu jalan aja ya pelan-pelan. Iya, pelan-pelan,” perintahnya.

Jepret. Jepret. Jepret. 


Hasilnya? Ya ampuuuun. Baguuuuus! Saya merasa seperti habis disulap. Abrakadabra! Emak-emak kusut masai, kusam dekil dan keriput, berubah kayak model dalam sekejab. Muka terlihat kinclong kayak buntut panci abis dibersihkan dengan 1 kaleng abu gosok.

“Tadi kamera saya disetting gimana, mas?” tanya saya penasaran.  

Wajib yah nyari tahu! Biar kalo foto-foto lagi hasilnya kayak gitu. Lumayan buat pencitraan kalau saya ini emang bakat jadi model. Padahal, pas orang liat aslinya, modelnya ini enggak banget! 





Saya ketagihan difoto lagi oleh mas Dwi. Saya minta mas Dwi memotret kami berlima. Mas Dwi mau. Dia semangat. Kami juga. Tapi sayang mbak Ira nggak ikut. Katanya mau duduk menunggu saja di dermaga. Mungkin mbak Ira kelelahan. Saya tanya kenapa. Tapi katanya nggak apa-apa. Ya sudah akhirnya kami berempat bikin foto sesion di pantai.

Ada yang menarik dari pakaian yang kami kenakan. Tanpa janjian, tanpa saling memberitahu, tahu-tahu kami sama-sama memakai baju bernuansa merah. Merah muda, merah marun, sampai merah-merah delima. Mbak Zulfa gamisnya merah jambu. Mbak Andrie dan Lestari baju atasannya merah. Saya memakai kerudung dan kain pantai merah. Mbak Ira motif baju renangnya juga bunga-bunga merah. 




ada burung di atas kepalaku

merah cerah ceria

Warna merah kalau dipakai ke pantai memang sangat cocok. Kontras dengan warna laut dan langit yang biasanya selalu biru. Apalagi di sekitarnya ada warna hijau pepohonan. Makin cerah dan bagus. 


Makanya kalau ke pantai saya selalu bawa baju-baju warna cerah. Kalau enggak merah, bisa juga kuning, ungu dan orange. Tapi kebanyakan punya warna merah. Kadang kalau sedang liat kumpulan foto-foto saat di pantai, baru sadar kayak orang nggak pernah ganti baju. Pakai merah melulu.




Apapun itu, foto-foto bergembira di tempat seindah ini menyenangkan.

Kami nggak merusak alam. Kami nggak mengotori alam.  


Kami merayakan hidup. Hidup yang pendek. 

Kami menikmati indahnya alam, indahnya hidup, juga indahnya persahabatan.  








Bagi yang ingin mengetahui cara ke Pulau Menjangan, info trip, akomodasi, sewa kapal dan alat snorkeling, serta biaya perjalanan ke Pulau Menjangan, silakan mampir ke tulisan yang aku posting sebelum ini:

  1. Berlayar ke Pulau Menjangan
  2. Snorkeling di Pulau Menjangan
  3. Pulau Menjangan Aduhai Indahnya


~Semua foto dokumentasi Katerina



Pulau Menjangan Aduhai Indahnya

11.15 26 Comments
Pulau Menjangan, di antara laut biru dan langit biru

Jam 1 siang baru lewat beberapa menit ketika kapal yang kami tumpangi mendekati daratan Pulau Menjangan. Dari kejauhan terlihat ada dermaga, sebuah gerbang, serta sebuah bangunan mirip rumah. Oh, aku kira pulau ini hanya berisi bangunan pura, ternyata ada juga yang lainnya. Tadi, sewaktu sedang mengelilingi pulau, dari atas kapal yang sedang berlayar aku lihat kapal-kapal berlabuh begitu saja di sekitar pantai dan hutan mangrove. Tak ada apa-apa. Benar-benar seperti pulau asing.

Apa yang aku inginkan saat berada di pulau Menjangan? Ingin berjumpa hewan menjangan, duduk-duduk di pantainya yang berpasir putih, jalan-jalan menyusuri savana, keliling melihat 7 pura, memotret dan dipotret sebanyak-banyaknya *yang ini mesti. Mesti!*. Tapi satu hal paling urgent yang aku ingin lakukan saat singgah di pulau ini adalah makan siang. Lapar men!

Menjangan dalam bahasa Jawa berarti kijang. Dinamakan Pulau Menjangan karena di pulau tak berpenghuni ini terlihat ada banyak menjangan, tapi populasinya kian menurun. Untuk melindungi habitat menjangan dari kepunahan dan tentunya untuk menjaga kelestarian alam serta keanekaragaman hayati Pulau Menjangan dan sekitarnya, akhirnya pemerintah melakukan usaha konservasi dengan menjadikannya sebagai Taman Nasional Bali Barat.
 
Kondisi geografis pulau Menjangan terdiri karang dan batuan vulkanik

cenderung gersang saat musim kering

Meski di Bali, tapi pulau Menjangan terpisah dari dataran utama Bali. Jadi, untuk mencapai pulau ini mesti menggunakan transportasi laut. Nah, kami ke sini nyebrangnya pakai kapal kecil. Bukan pake pesawat, apalagi pintu dora emon.

Saat itu angin berhembus agak kencang, ombak tak begitu tenang, kapal kami sedikit kesulitan merapat ke dermaga. Remaja laki-laki (awak kapal) beraksi. Ia melempar tambang ke arah dermaga. Aku lupa apa yang diincarnya. Lemparannya kurang mantep, tambang itu tak juga tersangkut. Yang ada, tiba-tiba terdengar bunyi benturan. Rupanya sisi kapal membentur sisi kapal lainnya. Jedug!

Suara mas Memen (kapten kapal) terdengar kencang memberi beberapa perintah. Suaranya membuat bapak tua (awak kapal) dan anak remaja itu makin bergerak lincah, berjuang keras melabuhkan kapal. Si remaja laki-laki melempar tali sekali lagi. Hap. Nyangkut. Aksi heoriknya aku catat baik-baik, ia bak pahlawan tak kesiangan.
 

Mbak Zulfa, Lestari, mbak Ira, dan kapal kami (paling kanan)

Kami berloncatan keluar dari kapal. Barang-barang penting kami bawa turun, terutama seperangkat alat untuk narsis dan bergaya-gaya. Rugi sudah sampai di sini ga foto-foto he he. Kamera andalan, tongsis narsis, handphone buat eksis di sosmed *emakemak alay*, kain pantai, sampai sunglasses pelindung mata, pokoknya semua di angkut ke daratan.

Sebelum kami meninggalkan kapal, mas Memen mengingatkan kami secara tegas: “Tolong bawa semua sampah bekas makan kembali ke kapal yaaa.” 
Siap boossss…!

Sinar matahari sedang cantik-cantiknya menghujam kulit. Rasanya ingin berlari di jembatan, lekas sampai di gazebo, duduk, makan, dan istirahat. Eiiit….ada ucapan manis menyambut di gerbang masuk pulau: “Selamat datang di Pulau Menjangan. Taman Nasional Bali Barat.” Abis baca itu, badan rasanya langsung nyesss kayak disiram air es. Abaikan panas, abaikan keringat. Nikmati moment ini. Moment menjejak Pulau Menjangan pertama kali. Rasakan sebaik mungkin. Siapa tahu besok-besok tak ada rejeki lagi ke sini. Tak terulang dua kali. Caelaaah…
 
selamat datang di Pulau Menjangan

gaya duluuuuu

Masuk pulau ini ada biaya yang mesti dibayarkan kepada pengelola. Saya tidak tahu berapa jumlahnya, sebab diurus oleh mas Dwi yang punya paket trip Menjangan. Kami tinggal datang dan masuk saja. 

Dari gerbang masuk langsung terlihat bangunan seperti rumah panggung. Bangunan bercat hijau ini merupakan balai Taman Nasional Bali Barat. Berfungsi sebagai kantor resort Pulau Menjangan. Jaraknya sekitar beberapa belas meter saja dari gerbang pulau.

Di sebelah kanan setelah gerbang ada gazebo kosong. Kami makan di situ. Eh, didekat gazebo itu ternyata ada seekor menjangan sedang melahap isi kelapa. Aaaaw….pucuk di lapar menjangan pun tiba. Urat motret mendadak lebih kencang daripada urat lapar. Tunda dulu makannya, motret si jelita menjangan dulu. Entah betina atau jantan, pokonya sebut saja si jelita. Cantik gitu. Bikin aku kesengsem.

 
awas salah makan, itu batu bukan kelapa :D

rasanya ingin kupeluk dan tak kulepas lagi

Oke, si menjangan sedang makan. Aku juga mesti makan. Makan siang kami berupa nasi pake telur, bakwan jagung, tahu dan pecel. Sederhana tapi rasanya sangaaaaat nikmat. Tempat kece ini bikin makanan jadi enak. Faktor lapar juga sih he he. Oh ya, kalau kamu ke pulau ini, bawa bekal sendiri ya. Nggak ada satupun orang jualan makanan dan minuman di sini. Kalo makanan kami memang sudah disediakan oleh mas Dwi karena sudah termasuk fasilitas dalam paket trip.

Di dekat gazebo ada pura, tempat sembahyang umat hindu. Kecil saja, tak mirip candi yang tinggi dan berundak-undak. Nah, di dekat pura itu ada jalan setapak kecil tapi panjang. Aku tak tahu ujungnya di mana. Dan tak tahu jika berjalan mengikuti setapak itu akan sampai di mana. Yang jelas bukan berujung di mall Alam Sutera. Ya eaaaalaaah.

Kantor pengelola


Pura

Tak jauh dari tempat kami makan, ada semacam lapangan terbuka. Rumput dan ilalang tumbuh di atasnya. Tampak kering dan kerontang. Namun bukan itu yang bikin mata tak enak memandang, melainkan sampah plastik yang berserakan. Rusak sudah pesona yang aku harapkan bisa bikin mata jadi segar.

Sampah siapa itu? Tak mungkin penduduk. Pulau ini tak dihuni penduduk. Hanya wisatawan yang datang ke pulau ini. Apakah itu ulah wisatawan yang datang seperti kami? Kalau benar, berarti yang membuangnya wisatawan alay yang patut dikandangin saja dirumahnya. Jangan disuruh kemanapun sampai dia nggak lagi buang sampah sembarangan.

Pantaslah kiranya mas Memen dan mas Dwi mengingatkan kami secara tegas untuk membawa kembali ke kapal semua bekas makanan dan minuman kami. Aku ngerti kenapa begitu, karena mereka merasa bertanggung jawab terhadap keadaan pulau Menjangan. Mereka tidak mau tempat indah ini menjadi tempat sampah oleh ulah wisatawan yang dibawanya.

Ya, walau tanpa diingatkan pun aku percaya kami bukanlah termasuk orang-orang seperti itu, yang buang sampah seenaknya. Kami tak kan meninggalkan apapun selain jejak. Kami tak kan mengambil apapun selain gambar.
 
tiga kapal itu isinya wisatawan asing semua
monyet saja bersenang-senang main di pantai, masa kamu enggak? :D

Lihat di sana, di laut sekeliling Pulau Menjangan. Turis-turis asing, wanita dan laki-laki, asyik snorkeling dan diving. Ada yang muda, dewasa, tua, bahkan ada bayi bule segala. Mereka datang dari jauh ke tempat ini, tak murah tentunya. Rela melintasi benua, rela mengarungi laut demi melihat keindahan pulau yang kita punya. Lantas, jika mereka melihat serakan sampah itu bagaimana? Aku malu semalu-malunya.

Pulau Menjangan dikenal sebagai wall diving terbaik di Bali. Memiliki taman bawah laut yang sangat cerah dan penuh warna sekaligus kaya biota laut. Pulau ini dikelilingi terumbu karang yang ditandai dengan drop off sedalam 60 meter dan formasi batuan yang kompleks. Formasi batuan tersebut membentuk sejumlah gua-gua besar dan kecil yang menjadi habitat bagi terumbu karang, karang lunak, kerapu besar, dan belut moray.  Di gua-gua kecil, kakap kecil dan batfish banyak terlihat hilir mudik.
 
Pura Ganesha, salah 1 dari 7 pura yang ada di Pulau Menjangan

Rombongan umat Hindu yang hendak sembahyang di Pura Ganesha

Dasar laut pulau Menjangan kaya akan barrel sponges dan sea fans yang bahkan dapat mencapai ukuran yang sangat besar.  Kedalaman laut dan aliran arus yang tenang menjadikan taman bawah laut sekitar Menjangan adalah tempat hidup bagi tuna, gerombolan jackfish, batfish, angelfish, penyu laut, bahkan hiu.

Pada kedalaman sekitar 45 meter, terdapat titik menyelam Anchor Wreck. Sesuai namanya, terdapat bangkai kapal lengkap dengan jangkarnya yang sudah berkarat. Lokasi tersebut dikenal dengan sebutan Anker atau Kapal Budak.

Di bagian barat Pulau Menjangan terdapat titik penyelaman yang disebut-sebut sebagai tempat menyelam terbaik di Pulau Menjangan. Eel Gardens namanya. Sesuai namanya, di kawasan ini terdapat sejumlah besar koloni garden eel dan sea fans.  Penyelaman biasanya dimulai dari dinding di kedalaman sekira 40 meter yang kaya gorgonia dan jenis biota atau tumbuhan laut lainnya. Kawasan ini juga tenar sebab pesona pasirnya yang putih berkilau di tepi garis pantainya.
 
taman laut mumpuni

lihatlah yang indah-indah agar hati pun menjadi indah

Surga bagi para makro-fotografer, video-operator, dan ahli biologi kelautan, adalah titik penyelaman Secret Bay. Terletak di dekat pelabuhan Gilimanuk, kawasan penyelaman ini memiliki dasar laut berupa pasir vulkanis (berlumpur) berwarna abu-abu dan merupakan habitat bagi biota laut yang langka dan endemik. Kawasan ini adalah rumah bagi banyak kuda laut dengan beragam jenis, seperti dragonets, ghostpipefish, nudibranch, lionfish, udang laut, belut pita, dan lain sebagainya.

Dengan keindahan taman laut yang mempuni, air jernih dan tenang, jenis ikan hias beragam, serta palung laut dengan keindahan terumbu karang beragam, Pulau Menjangan memang layak dijadikan sebagai spot diving paling populer di Bali. Bagi siapapun yang menyukai wisata snorkeling dan selam, mengagendakan tour ke pulau cantik ini tentu sebuah keharusan.

yuuuun ayuuuun asyik di ayunan

kalau hatimu merasa sempit, mungkin kamu kurang piknik. Pergilah melihat laut dan langit luas terbentang itu :D

Bagi yang ingin mengetahui cara ke Pulau Menjangan, info trip, akomodasi, sewa kapal dan alat snorkeling, serta biaya perjalanan ke Pulau Menjangan, silakan mampir ke tulisan yang saya posting sebelum ini:
  1. Berlayar ke Pulau Menjangan
  2. Snorkeling di Pulau Menjangan.
Catatan perjalanan ini belum selesai. Masih ada lanjutannya lagi. Nantikan postingan berikut yang akan bertabur foto-foto indah memesona. Tring. *ngilang*


*Semua foto dokumentasi Katerina

Snorkeling di Pulau Menjangan

23.02 20 Comments
-Foto oleh Andriani-


Watu Dodol, Banyuwangi. Sabtu, tgl 01 Agustus 2015.
Jam setengah sepuluh pagi, Kapal mulai berlayar menuju Pulau Menjangan yang terletak di Taman Nasional Bali Barat. Hampir 1,5 jam lamanya. Ombak tidak bersahabat. Begitu juga angin. Waktu yang tepat untuk snorkeling sebenarnya memang bukan bulan Agustus.

Bulan bagus itu kapan? Pokoknya, kata Dwi, selain Juni-Agustus. Tapi kesempatan kami pergi bareng hanya ada di bulan ini. Mumpung teman-teman yang dari Jerman dan India sedang berada di Indonesia. Mumpung teman-teman yang bekerja di Indonesia sedang cuti. Hanya bulan ini saja kami bisa punya waktu. Jadi, apapun kondisinya, siap kami hadapi. Kami perkasa!

Seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Pelayaran kecil ini membuatku cemas. Aku takut karam *ga jadi perkasa. Beberapa kali mas Memen memerintahkan kami untuk tidak duduk dan berkumpul di satu sisi. Harus dibagi. Biar imbang. Kalau tidak, kapal bisa miring ke satu sisi dan karam. Ya, kapal ini kecil. Untuk keadaan laut yang tak ramah itu, kapal ini seperti siap ditelan gelombang.
 

kapal wisatawan
'Parkir'. Menunggu wisatawan yang sedang snorkeling

lebih banyak wisatawan asing

Dalam takut, rasa lapar seperti tak kenal kompromi. Padahal baru jam 10. Di hotel aku sudah sarapan, banyak pula. Roti dan scrambel aku glek semua *masih sisa sih, tapi dikiiiit. Mungkin karena kena angin dan cipratan air, badan jadi dingin. Kedinginan bikin cepat lapar. Untung di kapal ada makanan, bekal sarapan yang dibawa dari posko. Kalau tidak, mungkin semua orang yang ada dikapal bakal aku lahap *tapi aku bukan Sumanto.


Masa-masa cemas akhirnya usai saat Pulau Menjangan terlihat makin dekat. Apalagi saat melihat ada kapal-kapal berseliweran. Ramai membawa wisatawan asing maupun lokal. Ada yang merapat ke pantai. Ada yang sekedar numpang lewat lalu pergi berlayar entah ke arah mana. Ada pula yang 'parkir' di laut, menunggu penumpangnya snorkeling. Suasana seperti itu bikin aku semangat lagi. 

Kapal kami terus berlayar, tapi bukan mendekati pantai, melainkan menjauh, lalu berhenti di tempat yang agak sepi. Ternyata kami sudah sampai di tempat snorkeling pertama.

tempat ini dinamakan spot mangrove

wisatawan lain yang sedang snorkeling

Spot Mangrove. Saat di sini, ombak masih belum begitu tenang. Namun, tak seganas yang aku lihat saat menyeberang. Mas Dwi bilang tak apa, aman. Kalau sudah dibilang begitu, aku mulai tenang. 


Sebelum nyebur, semua alat snorkeling diperiksa kembali. Jika sudah benar-benar terpasang, kami baru dibolehkan turun. Oh, ya, ada yang berbeda kali ini. Aku merasa perhatian guide kepada kami lebih besar. Keamanan dan keselamatan betul-betul diutamakan. Kami betul-betul 'diperiksa' sebelum terjun ke laut. Selain itu, tidak hanya kami yang diperhatikan, tetapi juga terumbu karang yang akan kami lihat dan dekati. 

"Tidak boleh diinjak. Tidak boleh dipegang!"  
"Jangan membuang sampah di laut!"
"Jangan meninggalkan sampah di daratan Pulau Menjangan!"

Aku bangga pada guide trip seperti itu!

Kami hanya berlima. Aku, mbak Ira, mbak Zulffa, mbak Andrie, dan Tari. Yang mengawal kami ada 4 orang! 3 laki-laki dewasa, mas Dwi, mas Memen, pak (lupa namanya), dan remaja laki-laki (lupa juga namanya). Private tour ini memang terasa private nya. Kita nggak dicuekin. Nggak ada yang buru-buru ngajak pindah tempat ke sana atau pun kemari. Bisa snorkeling dengan santai. Dan yang penting, keselamatan lebih terjaga.


Bersenang-senang perlu, tapi keselamatan juga perlu. Buat perempuan seperti kami, dikawal oleh orang berpengalaman adalah keharusan.


-foto oleh Andriani-

-foto oleh Andriani-
-foto oleh Andriani-

Lanjut ke snorkeling ya. Jadi, di spot pertama itu, kami agak lama snorkelingnya. Sampai capek sendiri. Sampe bosen sendiri. Puas moto-moto. Puas juga keminum air laut haha. Ya, ada saat aku melepas snorkel. Pas dibuka ombak datang. Mulut yang sedang kebuka langsung lahap menelan air. Untung nggak muntah.

Nah, ada satu hal yang aku lewati. Aku lupa bertanya pada mbak Ira apa sebelumnya sudah pernah snorkeling. Aku kira sudah pernah. Jadi aku biarkan mbak Ira langsung turun bersama yang lain. Eh ternyata setelah baca postingan mbak Ira di blog keluargapelancong.net (judulnya tips snorkeling untuk pemula), aku baru tahu kalo kemarin itu pengalaman pertama mbak Ira snorkeling. Huaaa…merasa menyesal tidak bisa membantu. Walau aku nggak punya ilmu snorkeling, tapi paling nggak aku bisa bantu memberitahu apa saja yang mesti dilakukan oleh pemula. Biar siap menghadapi laut yang dimasukinya. Aaah….maafkan aku ya mbak Ira.
 

Mbak Andri memotret dengan Canon G15 kesayangannya

Spot 2. Spot snorkeling terbaik di Pulau Menjangan.


Saat di tempat ini, aku sedang gemetar kedinginan. Sekujur badan basah seusai snorkeling di spot mangrove. Angin yang berhembus membuat rasa dingin itu makin tak terkira. Buat mengurangi dingin, aku duduk di ujung perahu, paling depan. Menjemur badan, biar cepat kering. Upaya ini lumayan berhasil mengurangi dingin.


Mbak Andrie turun ditemani mas Dwi. Tapi dia nggak bawa kamera. Jadi tak memotret apa-apa. Yang lain, mbak Ira, mbak Zulfa, dan Lestari, hanya menunggu di kapal. Mungkin punya alasan yang sama denganku. Dingin dan merasa agak takut untuk turun. Kenapa? Karena saat itu ombaknya juga masih lumayan ga asyik.

Kata mbak Andrie, pemandangan bawah laut di spot 2 itu memang benar-benar luar biasa. Benar-benar kaya ikan dan terumbu karang. Lebih berwarna dan banyak rupa. Lebih segalanya daripada spot sebelumnya. Mendengar itu tentu aku penasaran. Muncul sesal kenapa tak ikut turun. Tapi sumpah, badanku saat itu benar-benar gemetar kedinginan.
 

mbak Ira berani

mbak Ira mulai terbiasa menggunakan snorkel

mbak Ira hebat

Kapal meninggalkan spot 2. Kami berkeliling. Ketemu spot lainnya. Tapi ya ampun, kok kayak di tengah laut gitu ya? Kata kapten kapal, lautnya dangkal. Aduh, aku rasanya nggak percaya. Pun takut juga. Saat itu matahari sudah tepat berada di atas kepala. Aku merasa lapar. Rasa lapar bikin pikiran fokus ke perut. Bukan ke taman laut.  


Akhirnya diputuskan untuk ke daratan. Makan-makan dan istirahat. Setelah itu lanjut snorkeling lagi. Cerita tentang apa yang kami jumpai di daratan Pulau Menjangan nanti akan aku tulis pada postingan berikutnya.

Usai makan, istirahat, dan foto-foto bergembira di Pulau Menjangan, kami kembali berlayar. Ada satu spot lagi yang akan kami datangi sebelum akhirnya pulang dan kembali ke Watu Dodol. Spot Coral Garden namanya.

Di spot ketiga pemandangan bawah lautnya tampak lebih bagus daripada yang pertama. Tapi tetap lebih bagus spot kedua. Di spot ke 3 ini aku snorkeling lagi. Keadaan laut saat itu lumayan tenang. Mbak Ira sudah mulai bisa menggunakan snorkel dengan baik. Sudah lebih rileks dari sebelumnya. Dan mulai menikmati.
 

Mbak Zulfa keren snorkeling pake gamis

mbak Zulfa dan mbak Andrie bergandeng tangan

Sementara, ada yang berbeda dengan mbak Zulfa. Kali ini dia berenang dengan memakai gamis! Jadi gini, waktu di spot 1 ada kejadian yang membuat celana renang yang dipakainya jadi robek. Kita bingung juga gimana caranya supaya yang robek itu bisa ditutupi. Pakai celana keringnya mbak Ira, eh ga muat.

Karena ingin tetap bisa menyaksikan keindahan bawah laut Pulau Menjangan, mbak Zulfa tak menyerah. Pantang mundur maju terus tetap nyebur. Dipakainya gamis cantik warna pink yang tadi dipakai sebelum nyebur. Dengan gamis itu dia snorkeling. Snorkeling syar’i. Rekor deh. Muri mana muri :D

 

jepretan terakhir sebelum kamera Pentaxku mati untuk selamanya

Snorkeling di Menjangan jadi moment terakhirku bersama kamera Pentax Optio WG2. Ya, kameraku rusak. Tadinya masih sempat aku pakai untuk mengambil gambar di dalam laut. Entah kenapa pada saat di spot 3 itu tiba-tiba mati. Padahal belum ada 2 tahun aku bersamanya. Saat diperiksa, ada air di tempat batre. Tamat riwayat kalau sudah begitu.
Alhamdulillah memory card nya nggak ikut rusak.

Selama ini sudah banyak kenangan yang aku buat bersama Pentax. Tapi syukurlah kenangan itu tak ikut mati walaupun kameranya sudah mati. Jadi, aku nggak sedih ^_^

Apa saja kelebihan yang dimiliki oleh Pulau Menjangan? Banyak! Silakan gugling, atau baca artikelnya di situs Indonesia.Travel. Banyak hal luar biasa yang dimiliki oleh pulau ini. Dan aku punya cerita tentang apa-apa yang ada di daratan pulaunya. Nantikan lanjutannya di postingan berikutnya :D


Para ikan seperti sembunyi dariku

 
Info:
Untuk mengunjungi Pulau Menjangan, tidak selalu harus ke Pulau Bali terlebih dahulu. Pulau Menjangan juga bisa dicapai dari kawasan Watu Dodol, Banyuwangi. Jadi, kalau sudah berada di Banyuwangi, tidak perlu lagi menyeberang ke Gilimanuk. 


Penginapan:
Hotel Watu Dodol. Hotel ini terletak di kawasan Watu Dodol, tepat dipinggir laut. Dekat dengan pelabuhan Ketapang. Sekitar 10 menit berkendara. Di pantai dekat hotel ada dermaga, kapal bisa berlabuh untuk menjemput dan mengantar ke Pulau Menjangan. 

Kamar di Hotel Watu Dodol Rp 400.000/malam. Hotelnya bagus. Silakan baca ulasannya di postinganku yang ini --> Menginap di Hotel Watu Dodol 

Banyuwangi bisa dicapai dengan transportasi udara maupun darat. 
Berikut rute perjalananku menuju Banyuwangi:
  • Jakarta – Surabaya PP = Air Asia Rp 1.247.198,-
  • Surabaya – Banyuwangi  PP = Garuda Rp 781.000,-
  • Bandara Blimbing – Hotel Watu Dodol = Taksi Rp 200.000,- (kemarin aku ga naik taksi, tapi naik ojek)
  • Stasiun-hotel = gratis (fasilitas hotel)

Spot coral garden

Trip Pulau Menjangan
Harga :
  • Rp 280.000,- (Start Banyuwangi) Minimal peserta 7 orang. Karena kami hanya berlima, kena Rp 320.000/orang
  • Rp 375.000,- (Start Jember)
  • Rp 425.000,- (Start Surabaya)

Tempat yang dikunjungi :
1. Sunrise Watu Dodol
2. Snorkeling Bangsring
3. Pantai Pulau Menjangan (Pos 1)
4. Spot Mangroove Point
5. Spot Coral Garden
6. Spot Pos 2 (spot terbaik di P.Menjangan)
7. Pura Ganesha (Opsional)

Fasilitas :
1. Transport Menuju Watudodol dan Crossing Pulau Menjangan PP
2. Sarapan + Makan Siang
3. Free Pelatihan Snorkeling (bagi yang belum bisa)
4. Boat untuk ke Pulau Menjangan
5. Alat Snorkeling Lengkap (Mask + Fin + Pelampung)
6. Tiket Masuk Pulau Menjangan
7. Aqua, Snack & P3K
8. Dokumentasi DSLR + Underwater
9. Stiker Menjangan Island
10. Guide + Fotografer

**Upgrade Ke Pulau Tabuhan 30ribu/org
***Kuota Minimal 7 Orang kurang dari itu biaya disesuaikan
****Alat Snorkeling dijamin nyaman

Untuk Info dan Pemesanan hubungi : Dwi Unyink Wijayanto BB : 22705C67 Tlp/Sms/WA: 085711470037 / 082226322146 IG: @Indonesia_Traveler




*semua foto dokumentasi Katerina, kecuali foto underwater yang sudah diberi keterangan milik  Andriani (mbak Andrie).