Berkemah di Telaga Cebong

09.51 16 Comments

Esensi dari berjalan kaki di Desa Sembungan adalah menyerap keindahan alam dengan semua indra.  

****

Meresapi pesona Telaga Cebong seusai menyaksikan eksotisme golden sunrise dari puncak Bukit Sikunir, menjadi pengalaman menarik yang saya dapatkan ketika menjelajah Dieng pada Oktober 2014 lalu. 

Telaga di atas awan, demikian orang-orang menjulukinya. Telaga ini merupakan  keindahan lain dari jalur pendakian Bukit Sikunir. Disebut di atas awan karena  berada di Desa Sembungan dengan ketinggian 2300 mdpl, tidak jauh dari dataran tinggi Dieng. 

Saat turun dari Bukit Sikunir, langkah kami -saya dan Dely- terhenti di hadapan delapan laki-laki yang sedang bermain musik. Rupanya, hentakan musik berirama riang yang saya dengar dari atas bukit tadi berasal dari permainan mereka. Para lelaki itu, berbaju seragam warna orange, bersepatu dan berkaos kaki, serta mengenakan penutup kepala. Ada kain pendek terlilit di pinggang. Salah satu dari mereka mengenakan warna baju yang berbeda, putih, namun dengan penutup kepala yang serupa. 

Musik Tradisional "Angklung Jaka Sembung"

Siapa mereka? Sedang mengisi acara apa? Pentas apa? Untuk apa?

Musik Tradisional Angklung Jaka Sembung. Begitu kata-kata yang tertulis di kain-kain yang melekat pada alat musik yang mereka gunakan.

Ada yang memainkan gendang dan angklung, ada yang menari dan bernyanyi. Gerakannya terlihat sangat bersemangat. Lincah dan gembira. Orang-orang yang baru saja turun dari Bukit sikunir banyak yang berhenti untuk menyaksikan mereka. Ramai. Sepertinya sama-sama terkesima. Setiap satu lagu usai dinyanyikan, para wisatawan bertepuk tangan. Lalu memasukkan uang pada kantong yang tersedia. Oh. Ternyata mereka sedang mengamen. 

di kaki Bukit Sikunir

Atap-atap rumah penduduk desa Sembungan, berlatar Bukit Sikunir.

Desa Sembungan terletak di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Sembungan merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa dengan luas 2,65 km² dan dihuni oleh sekitar 1400 jiwa. Desa ini mempunyai banyak anugerah keindahan alam yang bisa dinikmati. Tak heran jika wisatawan pun banyak berdatangan. Bukan hanya wisatawan domestik tetapi juga mancanegara.

Tidak sulit mencari tempat menginap di Desa Sembungan, karena banyak rumah penduduk lokal  yang disewakan sebagai penginapan. Harga sewa cukup terjangkau, apalagi jika datang dengan rombongan, biaya penginapan bisa dibagi bersama. 

Di akhir pekan, homestay yang tersedia sering penuh. Tapi jangan kuatir, desa ini memiliki area perkemahan yang terletak di sekitar Telaga Cebong. Wisatawan pun bisa menginap di dalam tenda

Seperti apa area perkemahan di Telaga Cebong? Ada fasilitas apa saja?
Mari kita lihat.

Area berkemah di tepi Telaga Cebong
deretan tenda
Area perkemahan di Telaga Cebong memiliki fasilitas cukup lengkap. Ada area parkir yang luas, MCK, warung makan, kios souvenir, serta ojek motor yang siap mengantar kapan pun wisatawan ingin masuk dan keluar dari Desa Sembungan. Di sini juga ada pemandu yang siap menemani menjelajah desa, atau pun mendaki Bukit Sikunir.

Berkemah di tepi telaga tentu menghadirkan sensasi yang tak biasa. Ada kenikmatan yang dirasakan saat membiarkan diri menyatu dengan alam. Selain dapat memanjakan paru-paru dengan udara sejuk pegunungan yang bersih dan segar, juga dapat menemukan kabut awan yang selalu datang dan pergi terbawa angin.
 
Kios dagang makanan/minuman/souvenir di area perkemahan
Telaga Cebong diapit perkebunan penduduk, serta berpagar perbukitan dengan konturnya yang menarik. Permukaan airnya jernih dan tenang, memantulkan birunya langit dan hijaunya perbukitan sekitar, membuat suasana terasa begitu teduh dan menentramkan.

Deretan tenda warna-warni berjejer di sisi telaga. Orang-orang duduk di depannya, tenang menikmati sarapan. Ada juga yang sekedar berjalan menikmati suasana pagi, menyusuri tepian sambil mengambil gambar. 

Sementara, di permukaan telaga ada sebuah perahu merapat ke tepian, dikayuh pelan oleh seorang lelaki. Pemandangan itu bagai sebuah lukisan di pagi hari. Indah memikat hati. 


Saya iri pada orang-orang yang menginap di dalam tenda, di tepi Telaga Cebong. Entah kapan saya bisa merasakan pengalaman seasyik mereka. Mungkin suatu hari. 

Berarti, saya mesti kembali lagi ke Dieng.
Ayo, kapan?

Teman baikku Dely

Hi, aku di sini ^___^


(*) 

Semua foto dokumentasi pribadi

Dimuat di Majalah Anakku Edisi Mei 2015

15.24 8 Comments


Alhamdulillah.
Artikel Cibolang Hot Spring di majalah Anakku edisi Mei 2015.
Dimuat sebanyak 4 halaman.  







Tentang Cibolang Hot Spring 

Pemandian Air Panas Cibolang atau juga dikenal sebagai Cibolang Hot Spring, merupakan tempat berlibur yang cocok bagi wisatawan segala usia. Selain keindahan alamnya yang memanjakan mata, untuk mencapai lokasinya juga mudah. 

Kawasan wisata Cibolang berjarak sekitar 15 km dari Kecamatan Pangalengan, atau sekitar 56 km dari Kabupaten Bandung arah selatan. Terletak di ketinggian sekitar 1.450 meter di atas permukaan laut (mdpl). Mempunyai curah hujan 4000 mm/th dengan suhu udara 23 – 25 derajat Celcius. 

Untuk mencapai Cibolang harus datang ke Pengalengan terlebih dahulu. Dari Pengalengan dapat berkendara menuju kawasan perkebunan teh Malabar. Setelah menyusuri area perkebunan, nanti berjumpa papan petunjuk berukuran besar bertuliskan Cibolang Hot Spring. Setelah berbelok mengikuti petunjuk jalan dan melewati area pertanian (kebun sayur), jalan terus hingga berakhir di Cibolang Hot Spring. 

(*)

Bergaya Dengan Batu Mulia

14.12 18 Comments

Selain aksen, keindahan cincin juga lambang kejayaan.  

*****

Senin siang (25/5/2015), ada pesan gambar masuk via WhatsApp. Dari bojoku yang sedang di seberang pulau. Terlihat tiga bulatan berkilau.

“Apa itu, mas?”
Belum dilihat lebih jelas sudah bertanya. He he.

“Coba lihat yang jelas.”
Nah, kan disuruh lihat yang jelas. Ha ha.

Setelah di zoom maksimal, aku pun menebak. “Coklat made in Borneo!”

“Itu batu akiiiiiiiiiiiik.”

“Hah?!”


Astaga. Sejak kapan bojoku suka batu akik dan merasa aku akan tertarik sama akik? Sambil terheran-heran, aku menunggu penjelasan lebih lanjut. Selang beberapa menit kemudian, aku ditelpon. Maka, meluncurlah penjelasan yang membuatku akhirnya paham bahwa aku harus menerima tiga biji batu akik yang tadi ditunjukkan padaku. 

Hanya batu saja, tanpa pengikat cincin

Ibu N dan Pak K, pengusaha asal Pekanbaru yang saat ini sedang bekerja sama menggarap proyek PT.C di Balikpapan, menghadiahiku batu akik. Senin kemarin, seusai menyelesaikan urusan bisnis, mereka jalan-jalan ke Pasar Kebun Sayur, Balikpapan. Membeli berbagai oleh-oleh, termasuk ‘sekantong’ batu akik. Dan aku kebagian ditraktir.

Tentang Ibu N dan Pak K, aku mengenal sepasang pengusaha itu dengan baik. Usia keduanya hampir seusia mamaku. Tapi mereka masih lincah mengurus berbagai proyek besar yang bertebaran di Nusantara. Silakan dibayangkan kondisi finansial mereka seperti apa. Maksudnya biar nggak heran kenapa ‘enak’ bener mentraktir aku batu-batu akik hihi. Aku bersyukur mengenal keduanya, meski ‘menjulang’ namun rendah hatinya, dan sangat suka berbagi.

Selasa siang (26/5/2015), tiga biji batu akik itu aku terima. Pertama melihatnya, aku langsung terkesan. Sebetulnya rasa ini aneh, sebab biasanya aku tidak suka. Di mataku, batu akik seolah mengandung sesuatu yang mistis. Bahkan, aku menganggap orang yang memakainya seperti dukun, atau seseorang yang punya ilmu hitam. Mungkin aku terpengaruh tontonan, penampakan dukun dalam film Indonesia kerap dilengkapi cincin batu yang berukuran besar. Di film, jari-jari bercincin itu, menari-nari liar di atas dupa sembari merapal mantra. Batu akik itu dukun! Pokoknya gitu.

Tapi sekarang, di depan mataku, tiga buah batu akik itu terlihat seperti batu permata yang sangat mewah. Masa? Apa mataku sudah dipengaruhi oleh mahluk gaib yang bersembunyi di dalam batu akik itu?

“Kamu ini ada-ada saja,” ucap bojoku. Oh iya, nampaknya aku memang ‘ada-ada saja’. Sudah, ah

batu kecubung ini aslinya bening, jadi berwarna mengikuti latar dan alasnya

corak dompet etnik yang di latar belakang tergambar dalam batu kecubung

Batu akik yang pertama berwarna putih bening. Namanya Kecubung. Bentuknya seperti berlian pada umumnya. Agak bulat di satu sisi, dan mirip bentuk segi tiga di sisi lainnya. 

Menurutku, Batu Kecubung ini cocok jika aku jadikan perhiasan cincin. Ketika disenteri, cahaya senter bisa tembus seperti tembusnya cahaya pada sebuah kaca. Kata bojoku, makin tembus cahaya maka makin mahal harganya. “Oh, begituuuu.” Melongo kagum. 

Green Borneo

Batu yang kedua berwarna hijau. Namanya Green Borneo. Bentuknya bulat lonjong. Hijau bening dan berkilau. Ketika disenteri, Green Borneo ini juga tembus cahaya. Melihat ukurannya yang lebih besar dari Kecubung, aku berencana untuk menjadikannya sebagai liontin.

Kalung emas yang cocok dengan batu Green Borneo ini menurutku emas putih. Kalau kuning, yang terbayang olehku ketika mengenakannya seperti ibu-ibu juragan toko sembako. Kalau putih, jika dipakai akan seanggun Pevita Pearce. Elegan dan berkelas. *sotoy* 

Pancawarna

Batu yang ketiga punya lima macam warna. Sesuai namanya maka dinamakan Pancawarna. Nama ini cukup familiar di telingaku sebab beberapa teman penggemar batu akik kerap menyebut-nyebut namanya sebagai batu yang memiliki keindahan yang khas. Bentuknya bulat dan lebih lonjong dari Green Borneo. Ukurannya pun lebih besar dibanding Kecubung dan Green Borneo. Ketika disenteri, cahaya senter bisa tembus.

Jika batu Kecubung dan batu Green Borneo dapat aku bayangkan akan dijadikan perhiasan macam apa, maka tidak dengan batu Pancawarna. Mungkin cincin, tapi aku tidak mau memakainya. Jari-jariku yang kecil akan terlihat sangat aneh kalau memakai cincin dengan batu sebesar itu. Jangan-jangan nanti aku jadi mirip ibu dukun ketika memakainya. *halah :p Mungkin baiknya dijadikan bross saja. Iya, sepertinya begitu. 

Kayaknya Batu Kecubung ini saja yang cocok jadi cincin

Pancawarna gede banget, kayak ibu dukun wkwkwkwk

Green Borneo ini cocok jadi liontin sajooo..

Apapun itu, batu akik di mataku kini terlihat begitu indah. Seperti tidak ada bedanya dengan batu mulia lainnya. Mungkin karena aku melihatnya bukan langsung dalam bentuk cincin seperti yang aku pernah lihat dipakai oleh dukun-dukun dalam film. Atau, batu-batu itu terlihat indah karena dikasih gratis?  Haha. Yang jelas, batu-batu mulia ini akan membuatku bergaya jika memakainya :D

Sependek pengetahuanku, tampil bergaya dengan batu mulia (misalnya cincin) yang mewah memang ada dalam sejarah peradaban manusia. Peradaban Mesir misalnya, telah mengenal eksplorasi mineral dan logam untuk perhiasan. Beberapa jenis mineral yang biasa digunakan untuk membuat perhiasan, antara lain cornelian, amethyst, onyx, jasper dan kristal kuarsa. Menariknya, batu-batu itu diyakini memiliki nilai spiritual dan khasiat.

Bagi yang pernah membaca buku Finger Rings: From Ancient Egypt to the Present Day, akan mengetahui banyak hal tentang sejarah peradaban manusia terkait penggunaan cincin dan batu mulia. Monggo dibaca bukunya :)

Pengetahuan menyebutkan bahwa batu-batu mulia terbentuk melalui proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia. Pembentukan batu mulia mungkin saja terjadi melalui proses diferensiasi magma, proses metamorfosis, atau seditmentasi.

Dari sekian banyak jenis permata, beberapa jenis permata favorit yang aku kenal, seperti berlian, zamrud, ruby, safir, biru langit, dan kecubung. Kecubung ini baru aku kenal, tepatnya sejak batu akik mulai menggairahkan pasar perhiasan lokal. Kendati mulai kenal namanya, namun aku sendiri belum pernah membelinya. Alhamdulillah sekarang punya, meskipun dibelikan orang he he. 


Maksudnya Katerina tuh sekarang bisnis batu akik? :))))

Aku baru 2 hari punya batu akik. Pandanganku terhadap batu ini kini mulai membaik. Benar kata orang, tak kenal maka tak sayang. Tak punya maka tak suka. Bagaimana denganmu, kawan? Suka kah dengan batu akik? Kalau aku, mulai sekarang jadi suka.

Terlepas dari itu semua, fenomena batu akik ini ternyata mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat daerah. Sebut saja Biak, salah satu kabupaten di Papua ini, produksi batu akik telah membuat pendapatan para pengrajin di sana meningkat sangat drastis. Dalam data yang aku baca di beberapa surat kabar, pendapatan mereka berkisar 4 juta hingga 5 juta per bulan. Jumlah itu setidaknya telah menggambarkan banjirnya pesanan pembuatan cincin batu akik.

Harga jual batu akik, konon ada yang mencapai miliaran rupiah per buahnya. Menurut ibu N, harga tersebut biasanya tergantung dari minat pembelinya. Semakin suka seseorang pada batu akik tertentu, makin tinggi pula harganya. Harga jual batu akik itu sendiri bervariasi. Tergantung pada jenis motif dan asal daerah. Ada yang hanya ratusan ribu, jutaan, belasan juta, puluhan juta, ratusan, hingga miliaran rupiah. Fantastis!

Berapa harga masing-masing batu akik yang aku punya? Ibu N tidak menyebutkannya. Aku pun tidak menanyakannya. Yang aku tahu, harga batu pastinya lebih mahal ketimbang pengikat cincinnya. Di Biak, batu akik lokal berkisar Rp 500 ribu – 1 juta perbuah. Sedangkan pengikat cincinnya sekitar Rp 75 ribu – 100 ribu per cincin.

Terakhir, barangkali ada yang bertanya tentang bagaimana Islam memandang cincin?

Islam datang memberikan batasan-batasan tegas dalam bercincin, tanpa menghilangkan mutlak nilai estetika di dalamnya. Seperti larangan meyakini adanya kekuatan magis di dalamnya dan larangan perhiasan dari unsur emas.



“Rasulullah SAW memakai cincin dari batu dengan ikatan perak.” [HR Muslim dan Turmidzi].

(*) 


Semua foto dokumentasi pribadi.

Aku, Teman Baruku, dan Misteraladin

09.29 14 Comments

Rejeki tak hanya berupa uang, ia juga bisa berwujud teman, waktu, kesempatan, bahkan kebaikan yang diberikan oleh orang lain. Mendapatkannya di satu waktu merupakan kemujuran yang mendatangkan bahagia, dan tentunya wajib disyukuri. Dalam ketiadaan sangka, sederet rejeki itu Allah kirim lewat Misteraladin

Siapa Misteraladin? 


Jumat tgl 22/5/2015, untuk pertama kalinya saya menginjak gedung MNC Tower, Jakarta. Datang atas undangan dari Misteraladin, dalam rangka pengambilan hadiah lomba blog. Saya tak sendiri, 2 pemenang lainnya, Mbak Nurul dan Astari, juga diundang.

Sejumlah uang tunai senilai Rp 5 juta memang tak bisa dipungkiri jadi penggerak utama langkah saya untuk datang. Namun di balik itu, bertemu mbak Nurul dan Tari, Andin dan James, serta melihat langsung kantor Misteraladin, turut serta jadi pendorong semangat saya untuk datang.

Macetnya Jakarta, mengundang lelah, dan membuat saya jadi orang paling belakangan tiba di MNC. Saya meminta berkali-kali kepada mbak Nurul dan Tari untuk jangan pulang dulu sebelum saya tiba. 

“Tolong tunggu saya, saya sangat ingin berjumpa dengan kalian.” 

Seusai bojoku menunaikan kewajiban salat Jumat di Masjid Istiqlal, jalan menuju MNC Tower terasa begitu lancar dan lapang. Alhamdulillah, jam 1 lewat akhirnya tiba di Lt.21 kantor Misteraladin. 

selfie pake Go Pro anyar :))

Sosok gadis energic yang pernah saya jumpai di Café Batavia (acara Misteraladin) dan Kafe Kopicini (acara Dji Sam Soe Mahakarya), terlihat dari balik pintu kaca, sesaat setelah saya keluar dari lift. Senang? Tentu saja. 

“Hai, Tari.” 

Kami bersalaman dan berpelukan. Lalu, saya melihat Andin, James, dan seorang perempuan sedang berfoto di depan papan reward. Dia pasti Mbak Nurul!

“Hi, Andin. Hi, James.”

“Hi, Katerin. Selamat ya.”

Dua sosok yang tak asing lagi itu menebar senyum. Menyambut hangat. Di ruang meeting, saya diminta mengisi formulir. Sesaat setelahnya, James menghampiri, lalu menyerahkan sebuah amplop. Amplop apa? Amplop duit, lah. Wow, semudah itu hadiah diserahkan! Haha.

“Nggak pakai seremoni dan acara gebyar musik segala, toh?”

Plak!
 
Alhamdulillah

Kemudian, saya berkenalan dengan mbak Nurul. Oh ya, sebelum bertemu di MNC ini, saya sudah terlebih dahulu mengubek-ubek isi blognya. Mencoba mencari tahu, “Siapa sih mbak Nurul?” Ternyata, ibu muda yang sedang hamil anak ketiga ini, punya blog yang mengagumkan. Itu sebabnya saya berharap sekali dapat berjumpa dan berkenalan langsung. Terlebih setelah membaca artikel berbagi yang dipostingnya di grup KEB. Membuat saya ingin belajar banyak.

Hari itu, mbak Nurul tak datang sendiri. Ia bersama suami dan kedua anaknya. Berkat suami mbak Nurul, acara penerimaan hadiah yang diserahkan secara simbolis oleh James, terdokumentasi dengan baik. Saya berterima kasih kepada suami mbak Nurul, juga kepada Astari yang sudah ikut memotret dengan kamera GO Pro barunya.

Sedangkan Astari, biasa saya panggil Tari, namanya sudah saya kenal cukup lama. Bahkan, kami sudah berteman di Facebook jauh sebelum acara Misteraladin. Hanya saja, kami memang sangat jarang saling sapa dan berkomentar. Nama Astari tenar sebagai langganan pemenang lomba blog. Saya senang sekali berteman dengannya. Ia blogger berbakat. Di MNC ini jadi pertemuan kami yang ketiga. Dua pertemuan sebelumnya waktu acara Misteraladin di Café Batavia (23/4/2015) dan acara Djie Sam Soe Mahakarya di Kafe Kopicini (29/4/2015).
 
Selamat buat Astari

Selamat buat Katerina xixixi

Setelah penyerahan hadiah, tak ada acara resmi lainnya lagi. Hanya acara foto bersama untuk keperluan dokumentasi, baik untuk kami pribadi sebagai pemenang, maupun untuk keperluan Misteraladin. Sisanya, perbincangan singkat tentang promo-promo terbaru Misteraladin. Setelah itu, kami pulang, meninggalkan MNC Tower dengan membawa kesan bahagia di hati masing-masing. 

Terima kasih Misteraladin. Terima kasih MNC!

Foto bareng dulu sebelum pulang :D

Memiliki hobi traveling dan blogging, tak hanya berbuah pertemanan, hubungan baik, dan ilmu yang luas tak bertepi, namun juga membuahkan materi. Ada saja jalannya jika semua dilakukan dengan tulus dari hati.

Ketika pertama kali dihubungi oleh Andin by email atas nama MNC (dan kemudian baru atas nama Misteraladin) pada 14/4/2015, saya bertanya-tanya: “Kok saya? Tahu dari mana?” Jawabnya: “Tidak dari siapa-siapa. Kami mencari.”

Blogging with heart, money will follow.  


*****
 
Buat semua sobat aladiners, tetap semangat untuk jalan-jalan dan ngeblog, ya. Senang pernah bertemu dan berkenalan di Café Batavia tgl 23 April lalu. Kita semua sama-sama beruntung, punya teman baru, MisterAladin. Teman travel terbaik yang akan memanjakan kita dengan harga hotel dan travel deal terbaiknya.
 
Buat yang ingin tahu cerita tentang acara Kongkow bareng Misteraladin bulan April lalu, bisa simak tulisan saya di sini:
Misteraladin Kongkow Bareng Food & Travel Blogger

Siapa Misteraladin? Simak tulisan Astari di blognya berikut ini:
Misteraladin, Teman Berbagi Inspirasi Jalan-Jalan Traveller

Ingin mengetahui lebih detail tentang Website Misteraladin? Simak tulisan mbak Nurul berikut:
Mengenal Misteraladin, si Teman Travel Terbaik.

Penasaran? Ingin langsung baca di sini saja?
Ok. Saya copas saja dari blognya mbak Nurul, salah satu pemenang lomba blog Misteraladin. 

Selamat buat Mbak Nurul

Mengenal Misteraladin, si Teman Travel Terbaik 
Oleh: Nurul Noe

Bayangkan, jika kamu memiliki TEMAN TRAVEL TERBAIK seperti Aladin. Seorang tokoh dari negeri seribu satu malam yang hidupnya penuh keajaiban. Saat kelaparan di jalan dan kehabisan duit, kamu hanya tinggal menggosok lampu ajaib, dan… Boom! Sesosok jin keluar dan mengabulkan semua permintaanmu. Wah, senangnya…! 



Mister Aladin



Tetapi bagiku, teman travel tidak harus selalu soal siapa yang menemani perjalanan kita. Teman bisa berupa ransel, atau sandal yang selalu kita gunakan karena nyaman dipakai. Dalam hal traveling, alam juga bisa menjadi teman terbaik, karena selalu memberi kejutan dengan keindahan dan keunikan di setiap jengkalnya. Seperti panorama matahari terbit dan tenggelam, gunung, pantai, langit biru, awan putih, bahkan hujan dan pelangi.


Keajaiban juga bisa berupa kesejukan yang kita rasakan lewat senyum penduduk lokal di suatu tempat yang kita datangi, atau air kelapa muda yang mereka suguhkan saat kita terpaksa mampir karena kehausan. Ya, selalu ada keajaiban yang kutemui setiap kali kuberanikan diri untuk melangkahkan kaki, demi melihat dunia luar. 

Mister Aladin, Siapa Dia?



Eits, Mister Aladin yang ini bukan Aladin yang punya lampu ajaib loh, ya! Mister Aladin yang kusebut kali ini adalah MISTERALADIN.COM, yaitu sebuah situs online travel agent yang menawarkan berbagai travel deals dan promo hotel.


Seperti situs online travel agent pendahulunya, Mister Aladin juga menawarkan berbagai kemudahan, seperti bebas biaya transaksi, pembayaran yang mudah dan aman baik melalui transfer bank maupun secara online menggunakan kartu kredit, serta pelayanan yang cepat dan ramah.

Lalu apa yang membedakan Mister Aladin dengan yang lain? Menurutku, ada satu hal menarik yang bisa menjadi alasan mengapa Mister Aladin bisa dijadikan pilihan terbaik dibanding yang lain, yaitu tagline Teman Travel Terbaikmu yang dijadikan brand image-nya.

MisterAladin.Com bukan hanya situs penyedia hotel dan travel deals, tetapi juga sebagai teman yang dapat memberikan ide dan inspirasi jalan-jalan untuk para traveler.

Kelebihan Mister Aladin
Kelebihan Mister Aladin


Hal ini bisa dibuktikan dengan hadirnya Blog Mister Aladin (Blog.MisterAladin.Com), seiring dengan diluncurkan website MisterAladin.Com. Blog ini berisi tentang berbagai informasi yang berguna bagi para traveler, seperti ide-ide traveling atau ulasan berbagai destinasi liburan yang bisa dijadikan referensi. Blog semacam inilah yang tidak dimiliki oleh situs online travel agent lain.


Nah, buat kalian yang lebih suka mengatur segala kebutuhan liburanmu sendiri karena tidak suka terikat dengan destinasi dan jadual yang kaku yang dibuat oleh pihak tour & travel, bisa tuh main-main ke Blog Mister Aladin untuk mendapatkan ide dan referensi. Misal, kamu ngga harus ke Jepang untuk bisa melihat sakura. Kalau mau tau di negara mana saja ada sakura selain Jepang, coba deh cari jawabannya di Blognya Mister Aladin.

Jadi, hadirnya Blog.MisterAladin.Com ini bisa jadi salah satu bukti bahwa MisterAladin.Com memang bisa dijadikan teman travel terbaikmu, karena ternyata website MisterAladin.Com ini juga user friendly dan mobile friendly!

Ngga percaya? Coba yuk, baca review yang kutulis di bawah ini!

Review Website MisterAladin.Com

 


User Interface (UI)


Ada yang bilang bahwa penampilan adalah kesan pertama yang kita lihat saat bertemu seseorang, atau melihat sesuatu yang baru. Dalam dunia digital, tampilan atau design website saat pertama kali dibuka adalah hal pertama yang bisa kita lihat (User Interface). Maka, dibutuhkan design semenarik mungkin untuk membuat pengunjung jatuh cinta pada pandangan pertama.


MisterAladin.Com 1
Halaman depan MisterAladin.Com yang eye catching
Berikut adalah 3 hal yang paling berkesan saat pertama kali aku mengunjungi website Mister Aladin:


Hal pertama yang langsung menjadi pusat perhatian adalah form pencarian untuk booking hotel, dan promosi travel deal berupa paket perjalanan ke Green Canyon. Menurutku, ini sudah bisa langsung menegaskan kepada pengunjung bahwa MisterAladin.Com adalah website online travel deal.


Selanjutnya yang kedua, arah pandanganku bergeser ke kiri atas, ke bagian logo. Disana terdapat sebuah logo bebentuk wajah bulat yang mengenakan blangkon dengan kumis baplang, dan ada monokel di salah satu matanya. Memang, ngga ada mirip-miripnya sama sekali dengan tokoh Disney yang sudah bertahun-tahun kita kenal sebagai Aladin.

Tetapi justru logo Mister Aladin ini memberi kesan Indonesia yang sangat kental. 

Logo Mister Aladin 

Sedangkan monokel (kacamata untuk satu mata), memberi pesan kepada pengunjung bahwa Mister Aladin ini hadir untuk memudahkan dalam melakukan pencarian kebutuhan pengunjung yang berhubungan dengan traveling. Sebuah design logo yang simple tapi menarik, menurutku.


Terakhir yang ketiga, aku suka dengan pemilihan warnanya yang dominan biru, putih, dengan sedikit selingan warna kuning dan abu-abu. Biru mengingatkanku pada langit yang luas, yang selalu memberi kelegaan setiap kali aku memandangnya. Warna putih mewakili awan yang merupakan salah satu keajaiban alam dengan berbagai bentuk.


Selebihnya, apa yang sudah ditampilkan di halaman depan (home) MisterAladin.Com, menurutku sudah cukup lengkap dalam memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengunjung. Seperti pilihan menu, dan form berlangganan newsletter via email di bagian paling atas.


Eh, ada free travel guide juga loh. Lihat di kanan atas, di dekat form berlangganan newsletter. Coba klik kotak biru dengan tulisan “free travel guide”, dan kamu akan otomatis mendapat ebook travel guide dalam format PDF.


Di bagian paling bawah (footer), terdapat link-link yang bisa membawa pengunjung web kepada informasi yang mungkin dibutuhkan. Ada link-link yang menuju pada halaman yang terkait dengan perusahaan (halaman about, kebijakan/privacy & policy, FAQ, dll). Ada informasi jenis-jenis metode pembayaran bank, serta kontak customer service dan link akun media sosial Mister Aladin.


Satu hal yang juga sangat penting adalah tersedia form chat online dengan customer support. Nah, apakah semua yang terlihat di halaman awal web Mister Aladin ini bisa berfungsi dengan baik saat kita menggunakannnya dan di-klik? Yuk, lanjut ke bagian User Experience.

User Experience (UE)

 


Setelah melihat-lihat tampilan web MisterAladin.Com yang simple tapi menarik, sekarang waktunya mencoba berselancar, alias cobain semua menu yang ada di sana.


1. Searching Hotel


MisterAladin.Com 3
Isi form pencarian di MisterAladin.Com


Kalau mau booking hotel di suatu kota yang ingin kita tuju, kita tinggal isi form yang ada di halaman utama. Isi kota tujuan, tanggal check-in dan check-out, isi jumlah tamu yang akan menginap dan jumlah kamar, lalu klik enter atau tombol CARI HOTEL. Semudah itu!


MisterAladin.Com 4
Data hotel hasil pencarian sebelum difilter


Lalu nongol semua daftar hotel yang ada di Jaringan MisterAladin.Com, lengkap dengan daftar harganya.


MisterAladin.Com 5
Daftar hotel setelah diurutkan berdasar harga terendah

Disediakan juga menu filter untuk mengurutkan daftar hotel sesuai keinginan. Menu filter ini ada di sebelah kanan di atas daftar hotel. Ini penting untuk member kemudahan  kepada traveler dengan preferensi yang berbeda-beda. Kan ada traveler yang lebih suka kemewahan dan ngga mempermasalahkan harga, tetapi ada juga yang lebih suka hotel paling murah yang penting bisa untuk tidur. Contohnya aku, xixi. 


MisterAladin.Com 7
Informasi detil hotel yang dipilih

Selanjutnya, untuk memperoleh informasi lebih detil tentang hotel yang akan kita pilih, kita tinggal klik salah satu hotel yang muncul di daftar. Nanti akan muncul jenis-jenis kamar yang ada, deskripsi hotel, fasilitas apa saja yang disediakan, foto-foto hotel, lengkap dengan aturan dan kebijakan hotelnya. Ngga ketinggalan juga informasi lokasi yang bisa dilihat di peta.


MisterAladin.Com 8
Cocok? Yuk dibayar!

Kalau sudah melihat info detil dan merasa cocok, tinggal klik tombol PESAN di salah satu jenis kamar yang tersedia. Selanjutnya, akan muncul form isian data pemesan hotel, klik tombol SELANJUTNYA untuk menuju form pembayaran. Next, tinggal pilih metode pembayaran yang diinginkan.


Nah, disini kita bisa menemukan satu lagi kelebihan Mister Aladin. Kalau situs booking hotel yang lain tuh ada loh yang cuma bisa proses pembayaran pakai kartu kredit, tapi di MisterAladin.Com kita bisa memilih metode pembayaran dengan cara transfer bank.


2. Membeli Deals

Semudah itu juga kalau mau membeli salah satu deals yang ada. Di halaman utama MisterAladin.Com kita bisa lihat-lihat deals apa saja yang ditawarkan.


Mau beli deals
Klik BELI SEKARANG kalo mau beli dealsnya


Pilih salah satu, baca secara detil informasi deals-nya, kalo tertarik, tinggal ikuti arahan menuju pemesanan dan pembayaran yang menunya sudah disediakan dengan sangat jelas di web MisterAladin.Com. Gampang banget khan….


Untuk mencoba proses booking tersebut, aku menggunakan 2 browser berbeda yaitu google chrome dan mozila firefox. Dengan laptop jadul dan koneksi internet yang lumayan, mozila firefox lebih cepat loading-nya saat membuka website MisterAladin.Com.

Bisa booking kapan aja dimana aja!
Bisa booking kapan aja dimana aja!


Buka lewat browser di handphone juga cepat loading-nya, artinya web MisterAladin.Com ini sudah mobile friendly, ya. Sayangnya saat ini belum tersedia aplikasi Mister Aladin yang bisa di install di smartphone. Tapi aku percaya lah, tim MisterAladin.Com pasti sudah memikirkan hal ini dan mungkin sedang dipersiapkan. Ok deh, mari kita tunggu saja inovasinya.

Produk MisterAladin.Com



Produk-produk yang ditawarkan oleh MisterAladin.Com berupa jasa booking hotel online, dan deals-deals yang berhubungan dengan traveling. Deals-nya juga variatif, ngga cuma voucher hotel saja, tetapi juga ada voucher diskon untuk masuk ke berbagai tempat hiburan seperti waterpark, dan beberapa pilihan paket liburan seperti paket honeymoon atau paket tour ke berbagai destinasi menarik.


MisterAladin.Com 2
Berbagai deals yang ditawarkan MisterAladin.Com


So, guys! Buat kalian yang pingin traveling tapi mau atur semua sendiri, bisa booking hotelnya aja lewat MisterAladin.Com. Kalo ngga mau ribet dan tinggal bawa badan saat liburan, beli deals paket tour-nya aja. Atau buat penganten baru, atau penganten lama yang mau bulan madu lagi, ada tuh deals paket honeymoon ditawarkan MisterAladin. Atau, lagi, kalo mau ajak anak senang-senang, bisa piliha beberapa deals yang cocok buat anak, seperti ke waterpark.


Lengkap, kan? Lengkap, kan?


(*)

*Terima kasih mbak Nurul yang sudah mengijinkan isi postingannya di tampilkan di sini ^_^




Selincah Cuaca di Tangkuban Parahu

14.20 20 Comments

Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu terletak di Provinsi Jawa Barat. Secara administratif terletak di dua kabupaten, Subang dan Bandung Barat. Berjarak sekitar 20 km di utara kota Bandung.

Tangkuban Parahu merupakan gunung berapi yang masih aktif, terletak di ketinggian 2.048 meter di atas permukaan laut, atau sekitar 6.837 kaki. Pemandangan gunung, iklim udara yang sejuk, serta deretan kawah yang terbentang; Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Baru, dan Kawah Domas, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik di Jawa Barat. Suhu rata-rata harian 17 DC siang hari dan 2 DC di malam hari.  
  
*****

Ketika berkunjung ke Bandung pada tgl 3-5 Mei lalu, Tangkuban Parahu sebetulnya tidak masuk dalam rencana wisata kami. Selain Kawah Putih di Ciwidey, tujuan kami adalah Kampung Gajah dan D’Ranch di Lembang. Kedua tempat itu kami pilih karena cocok untuk tempat anak saya berlibur. Ada banyak wahana permainan yang bisa dinikmati dan ada tempat yang lapang untuk berkuda. Namun, Hotel Padma Bandung tempat kami menginap ternyata menyediakan banyak fasilitas bermain, bahkan berkuda. Berhubung anak saya sudah merasa puas, rencana pun kami ubah. Kampung Gajah dan D’Ranch batal, diganti dengan Tangkuban Parahu.

Selasa tgl 5/5/2015 pukul 11.00 WIB kami mulai meninggalkan Hotel Padma. Berdasarkan petunjuk bapak pemilik kuda di hotel Padma, kami menuju Lembang lewat jalan pintas, yakni lewat Cidadap dan Punclut. Katanya, waktu yang bisa dihemat bisa sampai 30 menit ketimbang melalui rute Bandung-Ledeng-Lembang. Jalan pintas yang kami lewati menanjak, menurun, kadang lebar, kadang sempit. Bagusnya, cuaca siang itu sangat cerah. Perjalanan kami ditemani pemandangan awan putih, langit biru, bahkan gunung menjulang. Melihat itu, gadis kecil kami terlihat gembira. Ia suka memandang awan putih.
 

wilujeng sumping di TWA Gn.Tangkuban Parahu

Perjalanan mencapai Lembang kurang dari 30 menit. Saya tak mengira secepat itu. Lancar, tanpa macet, dan mudah. Jadi teringat bapak pemilik kuda, merasa sangat berterima kasih padanya yang sudah memberi info bermanfaat. Andai saya tak pernah berbicara dan bertanya padanya tentang arah menuju Lembang, mungkin saat itu kami masih menyusuri rute lain yang biasanya macet dan padat. Berinteraksi dengan warga setempat itu memang berguna sekali :)

Dari Lembang, kami masih harus menempuh perjalanan sejauh 11 km ke arah Subang. Perlu waktu 30 menit untuk sampai di gerbang utama masuk KWA Tangkuban Parahu. Total waktu yang kami tempuh sejak dari Ciumbuleuit menjadi 1 jam. Sebelum melewati gerbang, saya sempat melihat-lihat keadaan, mencari barangkali ada tempat parkir kendaraan dan deretan ontang-anting (angkot wisata) seperti di Kawah Putih. Namun tidak ada.  

Tarif masuk untuk mobil Rp 25.000 per mobil. Sedangkan untuk wisatawan dikenakan Rp 20.000 per orang (domestic visitor). Saya sempat bertanya, kalau untuk foreign visitor dikenakan berapa? Rp 200.000 per orang. Waw! Agak kaget saya mendengarnya. Jauh sekali perbedaannya. Saya kira hanya sekitar 50 ribuan saja. Jujur, saat itu saya merasa kasihan dan tidak tega dengan tarif wisatawan asing semahal itu. Banyak alasan kenapa saya tidak tega. Ah, sudahlah.


di hutan ini ada akar naga (obat alami), pohon manarasa, dan buah buni (makanan Dayang Sumbi)

Saat memasuki kawasan TWA Tangkuban Parahu, waktu menunjukkan pukul 12 tepat. Waktunya makan siang, juga salat Dzuhur. Namun, saat itu tak satu pun dari kami ada yang sudah merasa lapar. Mungkin karena paginya kami sarapan sudah jam 9 lewat. Jadi, semua masih merasa kenyang.

Dari gerbang utama, saya kembali mengira jarak menuju Gunung Tangkuban Parahu itu dekat, ternyata masih agak jauh. Yang pertama kami jumpai adalah kebun teh. Letaknya di sisi kanan jalan. Mampir, kah? Tidak. Yang ada dalam pikiran kami saat itu hanya ingin berjumpa  gunung dan kawah.

Mobil terus melaju. Jalan yang kami lalui masih berkelok dan menanjak. Di kiri dan kanan jalan berderet pepohonan. Oh, hutan! Di dalam hutan inilah hidup hewan dan tumbuhan endemik Gunung Tangkuban Parahu. Ada Puspa (Shima Walichi). Sejenis tanaman langka yang pada bagian tertentu dapat menyebabkan gatal jika dipegang. Ada juga Pakis Emas. Mirip pakis langka yang pernah saya lihat di Lembah Harau, Sumatera Barat. Pakis langka ini bisa tumbuh tinggi sampai 10 meter. Habitatnya memang di hutan yang dingin dan daerah berkabut. Selain Puspa dan Pakis Merah, ada juga Anggrek Hutan. Sedangkan hewan endemik Tangkuban Parahu, di antaranya Elang Jawa, Meong Congkok, Surili (sejenis kera), dan Lutung Jawa.  


“Mas, itu bukan tempatnya?” tanya saya ke mas bojo saat di kanan jalan terlihat ada plang “Domas Parking Area”.

“Bukan, itu Kawah Domas.” Kami lanjut jalan. Tak berapa lama di sebelah kiri jalan ada belokan. Ada tulisan lagi “Jayagiri Bus Parking”.

“Kita ke sana kah, mas?” lagi-lagi saya bertanya.

“Enggak, itu tempat parkir bus.” Mobil lanjut jalan lagi. Hingga sampailah di sebuah tempat lapang yang terbuka. Tak ada lagi hutan. Mobil dan motor wisatawan berjejer. Sebuah papan nama berdiri tegak berlatar sebuah lubang raksasa: TWA. Gn.Tangkuban Parahu. Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tujuan.
 
sebelum kabut, dan sebelum hujan membuat kami berlarian

Ini pertama kalinya saya mengunjungi Tangkuban Parahu. Dan inilah tempat yang saya bayangkan itu, sebuah pemandangan gunung dengan lubang raksasa di tengahnya. Ngeri dilihat, namun memesona.

Kapan terakhir kali saya melihat rupa kawah? Tahun 2012, saat di Gunung Bromo. Gadis kecil saya sangat excited. Tak henti-henti ia menunjuk ke bawah, ke arah kepulan asap yang tak henti bergerak. Tak ada air.

“Kenapa tidak sama seperti di Kawah Putih, Ma?” tanyanya heran.

Ada pagar pengaman di pinggiran kawah. Kami berdiri dan berpegang pada pagar itu. Melihat lama-lama, selagi kabut belum datang menutupi segalanya. Beberapa laki-laki penjual souvenir mendekat, menawarkan dagangan. Mungkin terasa mengganggu, karena kami baru saja tiba dan ingin menikmati pemandangan lebih dahulu. Tapi mereka hanya orang-orang mencari rejeki, dan saya hanya bisa bilang “Nanti, ya, Kang.”  

topi-topi lucu
tanjakan enak :D
Kami menaiki tanjakan. Gadis kecil saya berhenti. Capek? Ternyata tidak. Ia tertarik pada deretan topi dan tas berbulu berbentuk kepala hewan yang dijejer di pagar pembatas. Topi dan tas lucu-lucu itu dagangan orang. “Nanti, ya, sayang.” Humayra tersenyum mengangguk.

Cuaca sangat cerah, namun udara terasa sangat sejuk. Makin ke atas makin sejuk. Rasa lapar tiba-tiba datang. Oh, bukan. Tepatnya, rasa untuk mencari sesuatu yang hangat dimakan dan diminum. Ada beberapa pondok. Kami mampir. Si gadis kecil meminta mie instant. Hmm…tak ada yang lain. Ok, saya pesan 1. Jadilah, siang itu duduk di ketinggian, menemani anak makan mie panas. Saya? Cukup minum air putih saja. 

jual minuman kemasan , mie instant, kopi, jagung bakar


menunggu arang dinyalakan

Seorang laki-laki muda, bernama Cahyana, menghampiri. Saya kira dia wisatawan. Dandanan dan pakaiannya menyiratkan itu. Memakai ikat kepala, menggendong ransel, memegang kamera, dan bersepatu gunung. Eh ternyata bukan. Ia menyapa dan mulai mengajak berbincang. Lalu, ia pun bercerita tentang keadaan sekitar Gunung Tangkuban Parahu yang ada di hadapan kami, tentang Kawah Ratu yang ada di bawah kami, dan tentang Kawah Upas dan Kawah Baru yang ada di balik Gunung Tangkuban Parahu. 


Banyak yang diceritakan oleh Kang Cahyana. Ceritanya menarik, berisi informasi-informasi yang bermanfaat.

Lalu, siapa dia? Guide, kah? Bukan! Lalu apa? Penjual souvenir.
Di ujung cerita, ia menawarkan souvenir khas Tangkuban Parahu. Dari ranselnya, ia mengeluarkan bermacam pulpen, gantungan kunci, bahkan hiasan-hiasan khas TP. 

1 cup mie instant hangat, mengalihkan udara dingin yang membelai kulit


Lelaki berbandana, berdiri di ujung, dialah Kang Cahyana.

Untuk menghargai usahanya, kami membeli satu set pulpen (isi 10) dan gantungan kunci. Dan, setelah itu dia menawarkan untuk memotret kami. Gratis. Saya setuju. Namun sayang, sesaat setelah tawaran itu datang, kabut datang, melayang-layang memenuhi kawah. Semua jadi putih. Tak lagi nampak guratan liar dari tebing-tebing di pinggiran kawah. View yang diharapkan jadi latar belakang foto keluarga pun menghilang. 

Sekejab kemudian, kabut pergi, kami bergegas memotret, tak mau kehilangan moment lagi. Si akang penjual souvenir sudah kami biarkan pergi. Dan kami memotret sendiri tanpanya, hanya dibantu timer dan tripod :D 

meskipun berpagar, tetap hati-hati yaaa sama kawah di belakang itu


Kembali, cuaca berubah sangat cepat. Langit cerah tiba-tiba mendadak kelabu. Gerimis turun kecil-kecil, lalu lama-lama menjadi besar. Kami berlarian menuruni gunung. Bojoku menenteng kamera, tripod, dan dua ransel. Saya memegang tangan anak. 

“Pegang tangan mama yang kuat, ya, sayang. Jangan terlalu cepat jalannya.”

“Aaaw…”

Baru saja saya memperingatkan, si gadis kecil terpeleset. Jatuh dalam keadaan seperti merangkak. Saya lihat wajahnya, ingin tahu apa dia kesakitan, meringis, atau bahkan menangis.

“Hahaha.”


Gubraks. Malah tertawa.
 
Terpesona

Tinggi seperti ayah, langsing bak model seperti ibu *preeeet* :))

Telapak tangannya kotor. Ada batu-batu kecil dan tanah yang  menempel. Setelah dibersihkan, tampak kemerahan, tapi tidak ada luka. Bagian lutut celananya juga kotor, ada baretan halus seperti habis bergesekan dengan sesuatu yang agak keras. Luka, kah? Saya angkat ke atas celana jeansnya, juga celana legingnya. Ternyata enggak. Alhamdulillah.



Oh ya, Humayra sengaja saya pakaikan celana 2 lapis. Leging bahan wol di bagian dalam itu gunanya agar tidak merasa dingin. Sebab, jika jeans saja, akan terasa dingin di kulit. Bahan jeans biasanya mengikuti suhu udara. Jika udara dingin, jeans ikut dingin. Jika hangat, jeans pun jadi hangat.   

enak pakai jeans

Kenapa memilih celana jeans di bagian luar? Supaya ‘lebih keras’. Jadi ‘tameng’ untuk menahan sesuatu yang bisa membuat kulitnya tergores atau terluka. Entah terkena daun ilalang, ranting dan semak-semak, atau pun saat jatuh dan terbentur. Oh ya, celana jeans kan berat? Celana jeans anak perempuan yang dipakai anak saya tidak berat.  


Saat menuruni tebing, gerimis makin lebat, bapak-bapak penjual souvenir mengikuti langkah kami, bahkan hingga kami mencapai pintu mobil.
 
“Oleh-olehnya, bu. Hanya Rp 70.000 saja.”

Entah barang apa yang dijual. Saya tak memperhatikannya. Saat itu saya hanya fokus pada gerak langkah kaki anak saya. Menjaganya agar tak jatuh. Turunan basah, licin, dan itu berbahaya. Mungkin saya tak sopan tidak peduli pada bapak-bapak itu, tapi sungguh, bukan itu maksud hati. Saya hanya sedang ingin memperhatikan anak saya.

Setelah semua berada di dalam mobil, saya mulai memperhatikan 3-4 orang yang tadi mengikuti langkah kami. Semuanya pedagang souvenir. Baiklah.

Hujan semakin deras. Udara kian dingin. Mobil pun bergerak, kami pergi, memunggungi Kawah Ratu. Ada rasa tidak puas.

Ok. Suatu hari, saya akan kembali lagi ke TWA Gn.Tangkuban Parahu. Trekking ke Kawah Domas, Kawah Baru, Kawah Upas, dan mengajak gadis kecil kami ikut outbond di games area.  

Wisatawan asing

TWA Tangkuban Parahu buka setiap hari dari Jam 07.00 AM – 05.00 PM

Tiket price TWA Tangkuban Parahu
Weekday rates:
Domestic visitor Rp 20.000
Foreign visitor Rp 200.000
Motorcycles Rp 12.000
Four-Wheel Vehicles Rp 25.000
Six – Wheel Vehicles Rp 110.000 (bus)
Bicyle Rp 7.000

Weekend rates:
Domestic visitor Rp 30.000
Foreign visitor Rp 300.000
Motorcycles Rp 17.000
Four-Wheel Vehicles Rp 35.000
Six – Wheel Vehicles Rp 150.000 (bus)
Bicyle Rp 10.000

Shuttle bus : Jayagiri-Kawah Ratu (round-trip) Rp 7.000
Wedding photo session Rp 500.000 / day
Video shooting individual Rp 800.000 / day
Shooting a commercial event/company Rp 2 juta / day, Rp 1,8 juta > 1 day/day
Stand 4x4m Rp 500.000 /day 


Guide Rp 150.000 (untuk wisatawan lokal) Rp 300.000 (untuk wisatawan asing).


(*) 

Semua foto dokumentasi pribadi.
Photographer: Bojoku sendiri