Kerudung Simple dan Stylish Bercita Rasa Global

16.45 11 Comments

Hello dear,

Terima kasih atas partisipasinya telah mengupload foto di Zoyalovers.
Kami akan mulai mengaktifkan kembali group ini, dan memohon partisipasimu kedepannya, untuk sering-sering megupload foto cantikmu ke akun kami dan aktif dalam group ini karena akan banyak gift dan benefit untukmu.

Sebagai bentuk ucapan terimakasih, kami akan memberi gift kerudung exclusive untuk kamu <3

Best Regard,
E.R
Fashion Editor & Marcomm Zoya

***** 
Surat cinta itu saya terima tgl 16/01/2015 lalu. Gembira, tentu saja. Terlebih ketika hadiah itu akhirnya sampai ke tangan saya. Alhamdulillah, senangnya bukan main. ZANNA, produk kerudung ekslusif dari Zoya, senilai @ Rp 99.000,- menjadi milik saya secara cuma-cuma.

Saya teringat 2 tahun lalu saat pertama kali menggunakan Bergo Zoya (Bergo Husna dan Anna), saya langsung merasa suka dan cocok. Rasa suka itu saya nyatakan dalam bentuk kata-kata dan foto, lalu saya upload di website resmi Zoya. Nampang sebanyak dua kali. Meski dua kali, bukan berarti baru dua saja bergo Zoya yang saya punya dan pakai. Lebih dari dua dan dipakai berkali-kali hingga kini.

Foto yang saya upload di website Zoya bisa dilihat dalam link berikut: http://zoyalovers.zoya.co.id/author/travelerien

Selain saya, ada lima member Zoya Lovers lainnya yang juga mendapatkan hadiah dari Zoya. Lima member yang mendapat email cinta itu saya ketahui dari jumlah nama penerima yang tampak pada email.
 
Zanna Selendang Zoya
Dua tahun lalu saat mengupload foto di website Zoya, tak pernah ada niat di hati saya agar suatu saat mendapatkan imbalan. Bisa menyampaikan kepada Zoya dan para pecinta produk Zoya di mana pun berada, bahwa saya suka produk Zoya karena desainnya bagus dan bahannya berkualitas sudah cukup membuat saya merasa senang. Kalau ternyata MEMBERI membuat saya MENERIMA, itu soal rejeki. Rejeki memang tak kemana, ya :D

Prinsip saya, berbagi saja dengan hati agar sampai ke hati. Soal ‘diberi’, biarlah mengikuti dengan sendirinya. Jalan dan bentuknya seperti apa, bukan hal yang perlu dan penting untuk dipikirkan.

Berbagi kesan tentang pengalaman menggunakan produk Zoya, tidak hanya saya lakukan di website Zoya, tetapi juga di blog saya sendiri. Tulisan tentang bergo Zoya tersebut  saya posting pada bulan Juli tahun 2013. Sampai saat ini tulisan tersebut telah dibaca oleh 1675 pengunjung (berdasarkan data statistik blog).

Saya bukanlah pribadi yang fanatik pada merk. Prinsip saya, selama saya suka, merasa nyaman, dan sesuai dengan karakter saya, akan saya pakai. Zoya merupakan salah satu merk yang hadir dengan produk fashion yang berkualitas. Ragam kerudung yang diproduksi Zoya memiliki motif dan desain yang menarik. Cerah, unik, gaya, dan tidak membosankan.

Deretan produk bergo seperti Husna, Anna, Zaida, Kalila, Marsha, Necklet Scarf, Nazwa, hingga bergo Eropa, merupakan produk kerudung instan berkualitas yang masih saya gemari hingga kini. Beberapa di antaranya saya punya dan kerap saya gunakan untuk pemakaian sehari-hari.

Selain kerudung instant, kerudung segi empat juga tersedia dalam motif-motif menarik dan unik dengan warna-warna yang berani. Bagi penggemar jilbab tribal seperti saya, jilbab Arashiyama, Furano, Hokodate, Africa, Hampstead, Queen Marys, dan Monte Carlo, merupakan deretan kerudung
yang cocok untuk penampilan yang lebih elegan.

Motif floral melekat pada kerudung Yashira, Camden, Carnaby, Beauty Reiko, dan Somerset. Memakai kerudung segi empat Zoya, baik motif tribal maupun floral, memberi pengalaman berkerudung yang istimewa. Jika memakai kerudung-kerudung cantik ini, saya menjelma bak Revalina S.Temat dan Laudya C.Bella (dua pemeran film Assalamualaikum Beijing). Sangat mirip *jika dilihat pake sedotan dari puncak Monas*

Hadiah yang saya terima dari Zoya berupa selendang Zanna. Ukurannya panjang dan lebar. Biasanya selendang berukuran panjang dan tidak lebar, tapi yang ini lebar. Bisa menutup bagian depan (dada), dan belakang (punggung). Tadinya saya kira hanya bisa menutup depannya saja, ternyata belakang juga. Sesuai yang dijanjikan, selendang Zanna memang benar ekslusif. Ohya, untuk memakai selendang Zanna ini, saya menggunakan inner panjang (panjang di bagian depan dan belakang) agar tidak transparan.

Sewaktu ngecek di webstore Zoya Fashion, selendang Zanna belum dipajang (atau memang enggak dipajang?). Hanya ada selendang Kaigan tanpa motif dan Avant Garde motif tribal. Mungkin kah Zanna ini produk new arrival nya selendang Zoya? Jika iya, wah tersanjung sekali saya telah mendapatkannya. Gratis pula he he.

Btw, jilbab tribal dari selendang Avant Garde yang dipajang di website Zoya itu, bagus banget. Bikin ngiler *kanebo mana kanebo? Haha


Terima kasih Zoya atas hadiahnya.

Saya suka dengan warnanya yang cerah dan motifnya yang unik. Memakainya membuat saya terlihat begitu bercahaya dan berwarna. Cocok dengan filosofi Zoya, Light and Color. Sebuah karakter yang gue banget *brand ambassadors mode on*.

Semoga ZOYA selalu menjadi referensi utama bagi para muslimah dalam berbusana hijab yang fashionable


Tagline Zoya “Lebih Pas Untuk Cantikmu”, memang bukan sembarang tagline, karena Zoya sangat memahami karakter kecantikan yang berbeda bagi tiap wanita dan mampu memberikan solusi terbaik untuk tiap karakter garis wajah dan tubuh.

Ya, itu sebabnya saya memakai Zoya ^_^


Aman Menjamah Laut di Kala Menstruasi

16.41 24 Comments
Keinginan untuk nyebur-nyebur seru di laut Kepulauan Seribu tanpa kehadiran menstruasi ternyata tinggal keinginan. Satu hari sebelum hari H, si tamu bulanan datang. Mau tak mau saya harus jalan-jalan dalam keadaan dihinggapi pusing, mual, kram, mules, bahkan muntah. Biasa banget kalau sedang menstruasi mengalami hal seperti ini, badan dan pikiran jadi berat, perjalanan terasa tak nikmat.

Pengaruh menstruasi kadang ga cuma ke body, tapi juga ke suasana hati. Kadangkala, suatu urusan yang mudah bisa berubah jadi ribet. Perubahan hormon membuat emosi mudah meninggi. Bahkan, sekedar ransel padat oleh tumpukan pembalut saja bikin eneg.

Di situ kadang saya merasa sedih. *polwan 86 mode on*





Ini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, sewaktu ingin merasakan berenang dan snorkling di perairan Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Kedis di Lombok, menstruasi datang. Begitu juga saat menjelajah perairan Kepulauan Derawan, sejak datang sampai pulang dari Derawan, menstruasi belum juga berhenti. 

Entah kebetulan atau apa, rasanya menstruasi senang betul menyambangi saya saat hendak seru-seruan main di laut. Jika sudah begini, sakitnya tuh di sini *tunjuk urat penakut*

Bukan saya menolak kodrat saya sebagai wanita, apalagi membenci kehadiran menstruasi, sama sekali tidak. Saya sekedar mempunyai rasa takut apabila bepergian ke laut ketika sedang menstruasi. Pertama, karena takut diserang hiu. Kedua, karena takut bocor.

Mungkin akibat kebanyakan nonton film tentang keganasan hiu, saya jadi nganggep hiu sebagai predator paling menyeramkan di dalam laut. Hewan haus darah. Dan haid adalah darah. Gimana gak makin melangit kecemasan saya?

Ini nih yang melekat dalam benak saya: Diserang, digigit, dikunyah, ditelan, trus dicelupin dibuang jadi kotoran. Iiiih…horor!





Itu dulu. Sekarang sih sudah tak begitu takut, sebab sekarang saya sudah mengetahui fakta hiu tidak tertarik dengan bau darah manusia. Selera hiu lebih kepada bau darah ikan. Hiu bukanlah ancaman, tidak ada bukti meningkatnya serangan hiu karena menstruasi. Memang pernah ada laporan kejadian penyelam diserang oleh hiu, namun kejadian tersebut disebabkan aktifitas seorang peselam yang memberi makan kepada ikan hiu, atau melakukan aktifitas Spear Fishing, dimana darah yang dikeluarkan ikan yang tertembak akan merangsang selera makan ikan hiu.

Satu hal lagi yang membuat rasa takut saya pada hiu kian menjauh, karena sesungguhnya populasi hiu di Indonesia sudah semakin langka akibat pembantaian hiu yang berlebihan untuk diambil siripnya. Dengan realita begini, mestinya saya sedih, dong ya. Bukannya malah takut dan ingin mengusir hiu jauh-jauh. Lagipula, kejadian-kejadian shark attack itu kan umumnya terjadi di daerah iklim sub-tropik, bukan di perairan tropis seperti di Indonesia.

Bersyukur kalo masih bisa ketemu hiu. Itu berarti kelestarian alam bawah air masih terjaga. 




TAKUT BOCOR, adalah ketakutan saya yang kedua.

Dulu, saat masih belum mengerti, saya mengira darah menstruasi akan tetap keluar ketika saya nyemplung ke dalam air. Ga lucu banget kan saat sedang asyik-asyiknya berenang, tiba-tiba darah menstruasi keluar dan menyebar mewarnai air di sekitar saya? Tinggal cari saja alat pengaduk, aduk, aduk, aduk, yakin deh itu laut berubah jadi kayak es campur. Mending kalo diminum rasanya enak dan bikin badan jadi seger, yang ada temen-temen dan segala mahluk bawah air yang berenang didekat saya jadi pada mabok.

Apakah darah akan keluar ketika berenang saat menstruasi? 

Ternyata, darah tidak akan keluar saat berenang meskipun darah yang keluar sedang deras-derasnya. Dalam buku Book of Truths yang diterbitkan oleh Koteks (merk pembalut wanita), disebutkan bahwa pembuluh darah cenderung akan menutup atau mengerut ketika bersentuhan dengan air. Misalnya saat berenang, menyelam, berjalan di air, atau di kolam bergelombang.

Dari apa yang sudah saya alami, baik saat berenang di tempat tertutup (kolam renang), maupun di alam terbuka seperti danau dan laut, darah menstruasi memang tidak keluar. Dulu saya tidak menyadari hal ini. Padahal sejak pertama mengalami menstruasi, saya sudah berenang berkali-kali, tak terbilang angka-angka. Bisa jadi dulu saya tak menyadari hal itu karena memang sedang tidak berenang disaat menstruasi. Pun tidak terpikir untuk menemukan perbedaan berenang disaat menstruasi dan tidak menstruasi.

Darah menstruasi memang berhenti keluar saat badan nyemplung ke dalam air. Tetapi sesaat setelah keluar dari air, darah haid kembali keluar. Terakhir mengalami kejadian seperti ini saat berenang di Kepulauan Seribu 3 minggu lalu (7/2/2015). Setiap kali keluar dari air, lalu naik ke atas perahu, saya langsung merasakan hal itu. Sehingga harus berkali-kali memeriksa papan perahu yang saya duduki. Pembalut basah yang saya pakai tentu akan mudah sekali untuk bocor.

Sesungguhnya, berenang saat haid merupakan cara olahraga yang efektif. Menurut Majalah Shape, berenang justru dapat mengurangi gejala tidak nyaman akibat haid, seperti stres, kelelahan, dan nyeri. Berenang juga dapat membantu membuat kualitas tidur meningkat. Daya apung air juga dapat menopang tubuh serta mengurangi tekanan punggung sehingga memulihkan nyeri punggung yang kadang timbul saat haid.”





Berenang saat menstruasi itu menyehatkan, asalkan memperhatikan hal-hal berikut:
  • Higienitas, privasi dan kenyamanan, merupakan hal pokok yang perlu diperhatikan ketika berenang. Bagi saya, berenang di tempat yang bersih dan tidak berpolusi adalah penting.
  • Selalu memakai pembalut yang baru dan bersih sebelum berenang. Tetap memakai pembalut saat berenang tidak akan berpengaruh pada kesehatan. Yang penting, tampon dan pembalut diganti setiap 4 jam sekali. Pokoknya ganti sesering mungkin.
  • Tidak terlalu lama berada di dalam air, karena belum tentu air yang digunakan untuk beraktivitas itu bebas kuman. Kuman bisa jadi bersarang di pembalut dan bisa menyebabkan infeksi.
  • Kondisi tubuh (saya pribadi) saat datang bulan biasanya mengalami gejala pusing, mual, atau kram perut. Ketika gejala ini tetap terasa disaat berenang, saya lekas menghentikan aktifitas berenang. Tidak mau ambil resiko. Ngeri aja sih tiba-tiba pingsan dalam air. Iya kalo ada yang nyadar saya tenggelem bisa langsung diselamatkan. Kalau enggak? Wassalam.
  • Mengutip dari artikel yang dipublish di paradiseunpad.blogspot.com, dikatakan bahwa apabila terjadi peningkatan darah yang keluar (menorrhagia), dapat menyebabkan anemia meningkat. Anemia dapat menurunkan suplai oksigen tubuh, sehingga berbahaya bagi perenang maupun menyelam. Kalau resikonya tinggi seperti ini sih, baiknya memang ditunda dulu berenangnya. Demi keselamatan juga soalnya ya.


Bebaskan gayamu! :D

Beberapa teman saya sebetulnya masih banyak yang mengurungkan niatnya untuk berenang saat haid (terutama di laut). Selain karena urusan mitos, faktor takut juga menjadi alasan. Saya bisa mengerti kenapa mereka demikian, karena saya dulu juga pernah begitu. Tapi kini sudah tidak lagi karena menstruasi bukanlah penghalang untuk berenang.

Bagi perempuan penakut seperti saya, aktifitas berenang, snorkling, dan diving, justru dapat meningkatkan kadar keberanian. Ketika saya berhasil mengatasi rasa takut, kepercayaan diri pasti akan meningkat.

Ayo nyebur! Bebaskan gayamu dan mari lihat kehidupan bawah air yang menakjubkan itu ^_^

Majalah Anakku Edisi Februari 2015: Berlibur & Bermain di Pantai Tanjung Lesung

16.21 6 Comments
anakku; Dari Ahli Yang Peduli Buah Hati

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Alhamdulillah artikel berjudul : Berlibur & Bermain di Pantai Tanjung Lesung, dimuat dalam rubrik Jalan-Jalan Majalah Anakku edisi Februari 2015.

Seperti biasa, kabar tentang dimuatnya artikel datang dari Ibu Pemimpin Redaksi. Ibu Pemred yang baik itu selalu lengkap bila memberi kabar, hingga saya kadang tidak memiliki pertanyaan lagi yang harus diajukan. Apalagi kabar yang disampaikan kerap disertai dengan layout artikel, membuat saya bisa memajang halaman artikel sebelum saya melihat dan memegang fisik majalahnya.

Namun kali ini, foto artikel, atau pun gambar layout artikel, tidak ada. Saya hanya dikirimi gambar cover majalah dan logo Majalah Digital Anakku. Logo? Majalah Digital? 

Ya. Rupanya sejak edisi 1 bulan Januari 2015, Majalah Anakku berubah dalam format digital dan bisa didownload secara gratis melalui aplikasi yang tersedia di App Store dan Google Play Store. Aplikasi ini tersedia untuk semua jenis smartphone, kecuali iPhone. 


Kini, membaca Majalah Anakku jadi lebih mudah. Tinggal pasang aplikasinya di ponsel, download gratis, baca gratis. Itulah yang terbaru dari Majalah Anakku.

Saat mendapat kabar ini, saya langsung memasang aplikasinya di ponsel Android saya, dan mendowload majalahnya. Namun, saat ini baru edisi 1 saja yang tersedia. Mungkin, edisi 2 baru tersedia pada bulan berikutnya (Maret).

Berhubung saya belum bisa melihat tampilan artikel saya di majalah tersebut, akhirnya saya dikirimi  layout artikel. Alhamdulillah jadi bisa melihat penampakan artikelnya. Selalu senang rasa hati setiap kali tulisan yang dibuat berhasil dimuat. Senang karena bisa berkontribusi dan menjadi penyampai informasi melalui tulisan yang dibuat berdasarkan pengalaman pribadi.


Artikel Berlibur & Bermain di Pantai Tanjung Lesung adalah artikel saya yang ketiga yang dimuat dirubrik Jalan-Jalan Majalah Anakku. Yang pertama, Rekreasi Malam di Batu Night Spectacular (edisi Juni 2014), dan yang kedua Bermain & Berwisata Kuliner di Pasar Terapung Lembang (edisi Agustus 2014).

Artikel yang disajikan untuk rubrik Jalan-Jalan Majalah Anakku mempunyai ciri khas berupa tempat wisata yang cocok untuk keluarga. Sebuah tempat wisata yang asyik dan menyenangkan untuk anak-anak bermain, namun juga bisa dinikmati oleh anggota keluarga lainnya yang lebih dewasa.

Di dalam website resmi Majalah Anakku yaitu www.anakku.net, tersaji berbagai artikel tentang kesehatan dan pendidikan anak. Sebagaimana tagline mereka, Majalah Anakku; Informasi Kesehatan Terpercaya, sudah barang tentu artikel yang disuguhkan adalah artikel bermutu yang layak untuk dilahap oleh para orang tua yang merasa butuh informasi untuk perkembangan kesehatan anak-anaknya. Termasuk saya.

Selain format digital yang bisa didownload di smartphone, versi digital juga bisa dibaca dalam Dekstop Edition yang terdapat di halaman website Majalah Anakku. Tinggal klik, maka akan terbuka halaman demi halaman edisi Majalah yang sedang terbit di bulan berjalan. 

Artikel dimuat 4 halaman di rubrik Jalan-Jalan

Hadirnya Majalah Anakku dalam format digital interaktif, merupakan kemudahan yang diberikan oleh Majalah Anakku kepada pembaca setianya. Meskipun demikian, tidak berarti kualitas isi menurun. Saya sudah lihat dan baca sendiri isi edisi 1, tetap berbobot seperti ketika masih terbit dalam versi cetak. 

Mendownload versi digital, membuat Majalah Anakku jadi lebih mudah untuk dibaca. Lagipula, dengan cara begini berdampak pada pengurangan penggunaan kertas yang secara otomatis memberikan manfaat nyata bagi kehidupan, antara lain bisa mengurangi timbunan sampah yang sulit terurai, mendukung gerakan Go Green, serta menyelamatkan kelestarian hutan alam.

Saya sudah pasang dan download Majalah Digital Anakku. Kalau kamu? 
Pasang dan download juga yuk ^_^


Menjajal Ketangguhan si Hitam Manis di Kepulauan Seribu

14.57 21 Comments
Mesra dengan si hitam tangguh

Assalamu'alaikum Wr Wb, 

Ini pertama kalinya saya mengajak si hitam tangguh nyemplung bareng. Ya, nyemplung bareng, bukan sendiri-sendiri. Kalo saya nyemplung sendiri, masih bisa ngapung lagi. Kalo si hitam tangguh nyemplung sendiri? Wassalam. Ga bakal balik lagi ke permukaan air. Makanya harus bareng. Biar mesra kayak Raffi dan Nagita *preet*

Si hitam yang saya sebut tangguh itu adalah Pentax Optio WG-2. Dia tangguh karena diciptakan sebagai kamera waterproof, shockproof, crushproof, coldproof, dan dustproof. Sederet karakter yang gue banget. Itu sebabnya dinamakan si hitam tangguh. Matching, dong ya, si hijaber berkarakter metal seperti saya ini duet sama kamera ini? *brak gedubrak*

Seberapa tangguh?
Nah, itu yang saya belum tahu. Sejak pertama punya pada bulan Juni 2014 lalu, kamera ini belum pernah saya bawa masuk air. Kalo sekedar kehujanan sih pernah. Tapi semenit dua menit saja, ga terasa apa-apa. Mesti dibawa nyelem-nyelem bergembira, baru joss testingnya.

Pinginnya sih dianyari di perairan Kepulauan Togean. Berhubung ke Togean-nya baru akan terwujud tahun ini (entah bulan apa), jadi belum pernah dicoba sekalipun. Eh, ndilalah bulan Februari dapat tawaran manggung ngetrip ke Kepulauan Seribu. Ya sudah, akhirnya dianyari di sana. Mendinglah dianyari di dalam laut Kepulauan Seribu, dari pada di dalam gayung? Dipanggil nenek gayung ntar.

Perdana memotret terumbu karang pake underwater camera pentax Optio WG2

Meskipun si hitam tangguh ini adalah product baru yang dijamin mutu dan keasliannya, tetap saja ada rasa khawatir. Yang paling saya khawatirkan tentu saja saat digunakan untuk memotret di dalam air. Apa bener di-press abis? Apa bener ga akan blep blep blep kemasukan air? Apa bener ga akan bikin memory card camera jadi rusak?

Rasa khawatir itu gencar menghinggapi, namun keinginan untuk menjajalnya dalam air terus maju pantang mundur *MERDEKA!*.

Untuk mengantisipasi terjadi kerusakan, saya sudah melakukan berbagai persiapan. Semua isi foto dalam memory card saya keluarkan. Jika sampai terjadi apa-apa, isinya sudah saya selamatkan. Kebetulan punya 2 memory card 4GB yang nganggur, saya bawa buat cadangan. Siapa tahu kalo ga selamat, yang rusak cuma memorinya tok, kameranya masih bisa dipakai, ya kan?

Selain membawa memory card cadangan, saya juga membawa 1 kamera pocket Canon IXUS 200IS dan 1 kamera DLSR Canon EOS 7D. Udah kayak toko kamera aja pokoknya, saking ngebet banget pingin dapat foto banyak. Banyak? Hellooow...yang penting tuh dapat foto bagus, bukan banyak. Dapat banyak kalau ga bagus buat apa? *tepok jidat sendiri*

Loncat dari perahu bareng si hitam tangguh yang tergantung di leher :D

Singkat cerita, berlayarlah saya ke Kepulauan Seribu. Tegang-tegang senang pas siap-siap mau snorkling di Pulau Bira. Kamera Pentax saya kalungin di leher, biar ga ilang pas dibawa moto dalam air. Siapa tahu ada gelombang besar yang menghanyutkan *lebay mode on*, yang bikin kamera  misah dari badan.

Dengan membaca Bismillah, byuuur saya nyebur. Jepret. Jepret. Jepret.

Entah berapa puluh jepretan. Masuk air bikin saya kehilangan arah rasa cemas. Ga ingat lagi akan keselamatan kamera, yang penting senang bisa nyebur-nyebur bergembira di laut jernih yang berpemandangan indah. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kamera masih bisa terus memotret, dan itu artinya si kamera tetap bernyawa.

Yaaaak! Kameranya tidak kemasukan air. Horeeeee! Horeeeee!

Melihat semua aman terkendali, makin menggilalah saya memotret. Ada ikan lewat, jepret. Ada terumbu karang, jepret. Ada temen sedang fun dive, jepret. Ada ekor ikan besar lewat, jepret. Eh ndak taunya bukan ekor ikan, tapi fin yang dipake temen. Google snorkeling yang dipake ternyata bikin mata jereng. Haha.

Fun dive; uji coba si hitam tangguh memotret majikannya :))

Abis snorkling di Pulau Bira, lanjut snorkling di Pulau Putri. Sambil snorkling, kami –saya dan teman-teman- lanjut renang-renang senang sambil loncat-loncat girang dari atas perahu. Yang senang ga ketulungan sih saya. Soalnya janji manis Pentax, brand spesialis underwater camera yang saya punya, ternyata ga gombal. Itu kamera berkali-kali saya pake motret dalam air tidak apa-apa. Saya loncat ikut loncat, saya berenang ikut berenang, saya nyelem ikut nyelem, saya buang ingus di permukaan air, baru dia ga ikutan.

Pupus sudah semua rasa cemas yang ada. Padahal tadinya sangat khawatir kebeli product gagal, sekali masuk air langsung sekarat. Eh, ternyata setelah dites, aman. Jadi lega sekali. Kamera aman, memory card juga aman. Alhamdulillah. Ga salah dong ya saya namakan Hitam Tangguh. Memang terbukti tangguh.

Sekarang jadi makin ketagihan moto-moto underwater. Tapi sayang dalam waktu dekat ini saya belum ada rencana akan ke laut lagi. Trus, di mana dong kalo mau nyelem-nyelem cantik sambil moto-moto lagi?? Di bath-up! :))

"Hitam manis...eeeeh hitam manis. Pentax Optio WG-2....Pandang tak jemu..." 
*singing Hitam Manis*



Dimuat di Majalah Sang Buah Hati Edisi Februari 2015

14.35 7 Comments
MENIKMATI KEINDAHAN ALAM DI PERKEBUNAN TEH MALABAR

"Ditemani hijaunya perkebunan plus segarnya udara pegunungan, sensasi menikmati secangkir teh hangat bersama keluarga jadi terasa begitu sempurna."



Alhamdulillah kembali dimuat oleh Majalah Sang Buah Hati untuk edisi Februari 2015, dalam rubrik Bermain.

Sang Buah Hati adalah monthly free magazine yang menyajikan informasi seputar parenting, edukasi, kesehatan dan lain-lain. Tidak seperti majalah lainnya yang bisa didapatkan secara mudah dengan membeli di lapak-lapak koran/majalah, toko buku, atau pun rak-rak majalah di supermarket, Majalah Sang Buah Hati (SBH) justru tidak dijual bebas di tempat-tempat tersebut. 

Meskipun tidak dijual ditempat-tempat penjualan majalah pada umumnya, majalah SBH justru bisa dibaca dengan gratis di 285 reading point yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia dan di seluruh cabang seperti:
  • Lounge & Boarding Gate Bandara Soekarno Hatta
  • Tumbletots
  • KiddyCuts
  • Creativekids
  • Mothercare/ELC
  • Sekolah Musik Indonesia (SMI)
  • Dunkin Donut's
  • Rafa Health & Beauty Lifestyle
  • Willy Soemantri Music School

285 reading point (RP) majalah SBH yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, antara lain:
  • 27 RP di Jakarta Utara
  • 10 RP di Jakarta Pusat
  • 23 Rp di Jakarta Barat
  • 42 RP di Jakarta Selatan
  • 6 RP di Jakarta Timur
  • 14 RP di Bekasi
  • 65 Rp di Serpong, Bintaro, Tangerang, Banten
  • 11 RP di Bogor
  • 19 Rp di Depok
  • 5 RP di Medan
  • 22 RP Bandung
  • 3 RP di Cirebon
  • 3 RP di Jambi
  • 9 RP di Lampung
  • 9 RP di Surabaya
  • 8 RP di Bali
  • 7 Rp di Semarang
  • 1 RP di Kendari
  • 1 RP di Makasar

Pertama kali kenal majalah SBH tahun lalu, saat saya sedang kontrol di sebuah rumah sakit di daerah Serpong. Saat sedang menunggu giliran periksa, saya melihat beberapa eksemplar majalah SBH tergeletak di meja dekat bangku tunggu. Lalu saya ambil dan baca, ternyata isinya mengandung banyak informasi bermanfaat seputar kesehatan dan pendidikan anak. Awalnya saya kira hanya membahas tentang kesehatan saja, apalagi majalah ini saya temukan di sebuah rumah sakit, pikir saya pasti isinya tak jauh-jauh tentang dunia medis. Ternyata saya salah kira, isi majalah SBH bukan hanya itu, tetapi ada juga beisi info kuliner, info wisata, fashion anak, info event anak, psikologi dan lain-lain masih banyak lagi.

Setelah menyimak artikel di rubrik Bermain, saya mulai menghubungi majalah SBH, dan ternyata SBH menerima tulisan dari penulis luar. Kebetulan. Akhirnya saya kirim, dan jadilah artikel Floating Market Lembang sebagai artikel pertama yang dimuat di Majalah SBH. Artikel tentang Perkebunan Teh Malabar ini jadi artikel kedua yang dimuat oleh Majalah SBH.

Artikel wisata untuk  Rubrik Bermain tidak panjang, sekitar 2 halaman A4 saja. Sangat disarankan objek wisata yang diceritakan cocok untuk seluruh anggota keluarga (orang tua dan anak-anak).

Selain isinya yang informatif, majalah gratis ini memiliki tampilan yang elegan dan 'mahal'. Meskipun berlabel GRATIS tapi kualitas majalahnya bagus, baik dari segi isi, gambar, kertas, maupun cover. Tak ada bedanya dengan majalah sejenis yang beredar di lapak-lapak dan toko buku.


Konten majalah SBH edisi Februari, yakni sbb:
  • Surat pembaca
  • Cerita cover : Baby Rich
  • Kilas : Kenali Gejala Epilepsi Sejak Dini, Produk Makanan dan Minuman di Indonesia Harus Memilikii Izin Edar
  • Pendapatku : Ritual apa sih yang biasa dilakukan agar si kecil cepat tidur?
  • Apa Kata Mereka : Kenali Lebih Dalam Tentang Alergi
  • Laporan Utama: Kenali Penyakit Jantung Pada Anak
  • Pakar menjawab : Pilek Pada Bayi
  • Ragam : Manfaat Pelukan Bagi Sang Buah Hati
  • Cermat Memilih
  • Event
  • Berbagi Cerita : Titi Kamal - Ikat Hati Dengan Emotional Bonding
  • Psikologi : Mengapa Si Kecil Suka Berbohong
  • Fashion : I love Pink
  • Sehat : Rahasia Sembuhkan Epilepsi.
  • Kuliner : Pastis Kitchen Bar
  • Nutrisi : 8 Makanan Pelancar ASI
  • Cantik : Kenali Manfaat Sauna Bagi Tubuh
  • Kehamilan : Kesuburan dan Gaya Hidup
  • Bermain : Menikmati Keindahan Alam di Perkebunan Teh Malabar
  • Aksi Buah hati
Demikianlah sekilas tentang isi Majalah Sang Buah Hati edisi Februari 2015. Jika sedang berada di salah satu dari 285 reading point, silakan lihat-lihat rak atau meja yang ada di ruang tunggu, siapa tahu ada majalah SBH. Bisa baca-baca gratis. Tapi buat baca ditempat saja biasanya ya, tidak untuk dibawa pulang. Kalau memang ingin punya, seingat saya peminat bisa memesan langsung ke bagian pemasaran majalah SBH, namun jumlah pesanan mesti sesuai dengan jumlah pembelian minimum yang ditentukan.

Oh ya, maaf, saya belum sempat menulis satu persatu 285 reading point Majalah SBH. Saya mesti punya waktu lebih banyak lagi untuk menuliskannya di sini :D

Bagi yang belum bisa membaca versi cetaknya, majalah ini bisa dibaca dalam versi digital. Versi digital ini biasanya dipublish dalam website www.sangbuahhati.com. Sayangnya saat ini tampilan website majalah SBH sedang 'kosong'. Sepertinya sedang dalam proses perbaikan/perubahan. Untuk sementara peminat majalah SBH bisa mengikuti informasi yang disajikan melalui akun twitter dan facebook Majalah Sang Buah Hati.

Bukittinggi, Kota Sejuk Berseri Nempel di Hati

15.37 32 Comments
Jembatan Limpapeh
Sehari Menyusuri Kota Sejuk Berseri

Bukittinggi merupakan kota wisata yang memiliki beberapa tempat menarik yang tersebar di penjuru kota. Mulai dari bentang alam yang menawan, taman kota yang monumental, hingga bangunan-bangunan unik yang menjadi landmark kota. Di sini, kuliner, seni, sejarah, dan kecintaan pada alam terbuka, bukanlah konsep semata, melainkan kebahagiaan ala Parijs Van Sumatra.

Cuaca di kota Bukittinggi pagi itu mendung. Sama seperti cuaca pada hari-hari sebelumnya. Kabut tipis masih menyelimuti kota, udara dingin masih sangat terasa. Sudut-sudut jalan Ahmad Karim yang ada di hadapan saya saat itu nampak lengang, deretan ruko di seberang jalan belum satu pun ada yang buka. Cuaca membuat kota ini seperti lambat memulai hari.

The Hilss Bukittinggi, hotel tempat saya menginap, terletak di lokasi yang sangat strategis. Dikelilingi berbagai objek wisata seperti Jam Gadang, Istana Bung Hatta, Kampung Cina, Benteng Fort de Kock, Taman Marga Satwa Dan Budaya Kinantan, dan juga pasar tradisional. Jaraknya berdekatan. Sehingga cukup dengan jalan kaki saja saya bisa mencapai semua tempat itu dengan mudah.


Jam gadang
Landmark Kota
Kontur jalan Kota Bukittingi cenderung berbukit. Iklimnya yang sejuk membuat saya nyaman berjalan kaki. Perjalanan dimulai dari komplek Istana Bung Hatta yang berada tepat di sebelah hotel The Hills Bukittinggi. Komplek ini memiliki pelataran cukup luas dengan dua bangunan utama, yakni Istana Bung Hatta dan Balai Bung Hatta, dan dilengkapi dengan dua patung Bung Hatta, serta taman yang asri.

Yang pertama terlihat kala melintas di depan istana Bung Hatta adalah patung Bung Hatta yang dibuat separuh badan. Warnanya kuning tembaga. Tampak menonjol di antara tanaman yang menghiasi taman istana. Arsitektur bangunan istana berciri kolonial. Di dalamnya terdapat 12 kamar berukuran luas. Sementara, Balai Sidang Bung Hatta yang berdiri di sisi istana, kini kerap digunakan sebagai tempat seminar, lokakarya dan pertemuan tingkat nasional dan regional yang representatif serta sebagai rumah tamu negara bila berkunjung ke Bukittinggi.

Dari depan istana saya menyeberang ke Menara Jam Gadang. Letaknya hanya beberapa meter dari komplek istana Bung Hatta, berdiri diatas kawasan Taman Sabai Nan Aluih. Pelatarannya cukup luas dan sering dijadikan pusat kegiatan masyarakat. Di sini terdapat taman asri yang dilengkapi dengan bangku-bangku dan fasilitas toilet bawah tanah yang memadai.

Panorama Gunung Merapi yang terlihat dari taman Jam Gadang

Ketika duduk di taman ini, nampak panorama tiga gunung sekaligus, yakni Singgalang, Merapi, dan Sago. Sebetulnya, jika ingin melihat dari tempat yang lebih tinggi, bisa masuk ke dalam menara lalu naik ke bagian paling atasnya. Pemandangan sekitar Bukittinggi akan terlihat lebih spektakuler jika dilihat dari puncak menara. Namun saya tidak mencobanya.

Jam Gadang Bukittinggi adalah jejak kenangan kolonial Belanda sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Sekretaris Kota semasa pendudukan Belanda. Diproduksi di Recklinghausen, Jerman, pada tahun 1892.Dibangun pada 1926 dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Jam Gadangmemiliki empat buah jam yang diletakkan pada empat sisi bangunan menara dan masing-masing jam ini berdiameter 80 cm. Ada satu hal menarik pada jam ini dalam mencantumkan angka, yang mana angka 4 dalam tulisan Romawi kuno seharusnya ditulis dengan“IV” tetapi pada Jam Gadang tertulis “IIII”. Betapa ikon kota ini tak hanya sarat sejarah, tetapi juga unik karena kekhasan ornamennya.

Pukul 9 pagi langit di atas Kota Bukittingi masih kelabu, namun keramaian kota mulai terlihat. Kuda delman mulai berbaris di taman Menara Jam Gadang, menanti wisatawan yang ingin berkeliling kota. Saya kembali berjalan, menyusuri Jalan Ahmad Yani, memunggungi landmark kota Bukittinggi.

Kawasan Pecinan

Wisata Kota
Sebagaimana di kota-kota besar lainnya di Indonesia, Bukittinggi juga memiliki kawasan Pecinan. Untuk mencapai kawasan ini saya jalan kaki sekitar 1 km dari menara Jam Gadang. Meskipun disebut sebagai Chinatown -nya Bukittinggi, namun di sini tidak terdapat bangunan yang menampakkan nuansa Cina. Keorientalan kawasan Pecinan hanya terlihat dari keberadaan bangunan Vihara Buddha Sasana yang berhiaskan ukiran naga dan didominasi warna merah. Klenteng ini berfungsi sebagai rumah ibadah sekaligus rumah duka.

Beberapa puluh meter dari Klenteng, berdiri Jembatan Limpapeh. Sebuah jembatan gantung yang hanya bisa dilintasi oleh pejalan kaki, namun memiliki arsitektur dan corak yang unik khas Minangkabau. Panjang jembatan ini 90 meter dan lebar 3,8 meter. Jembatan yang dibangun pada tahun 1995 ini menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan benteng Fort de Kock. Sehingga, untuk melintas di jembatan ini harus melalui kedua tempat tersebut.

Awalnya saya kira ada tangga untuk naik ke atas jembatan, ternyata saya harus masuk melalui Benteng Fort de Kock, tempat salah satu ujung jembatan Limpapeh berada.

Benteng Fort De Kock

Taman Monumental
Bukittinggi kental dengan sejarah peninggalan masa silam semasa  pendudukan Belanda dan Jepang. Salah satunya adalah Benteng Fort de Kock.  Benteng ini didirikan tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas Bukit Jirek Negeri, Bukit Tinggi, pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock saat menjadi Komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Benteng Fort De Kock dibangun sebagai benteng pertahanan penjajah dalam menghadapi perlawanan rakyat Minangkabau, terutama sejak meletusnya Perang Paderi.

Bangunan benteng Fort De Kock berdiri di tengah lapangan berumput. Bangunannya sederhana. Berbentuk kubus setinggi 20 meter. Terlihat tua, kesepian, dan berlumut di beberapa bagiannya. Di ke empat sudut benteng terdapat meriam-meriam kuno yang pernah menjadi saksi perlawanan rakyat Minangkabau dalam Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Keberadaan taman burung tropis, tempat bermain warga, dan wahana permainan untuk anak-anak, membuat kawasan benteng ini jadi ceria dan menarik.

Museum & Rumah Adat Ba'anjuang
Seusai mengelilingi kawasan benteng, saya melintasi jembatan Limpapeh, menyeberang ke Taman Marga Satwa Kinantan. Taman satwa ini merupakan kebun binatang tertua di Indonesia serta satu-satunya di Sumatera Barat. Awal mulanya di bangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1900 oleh Conteleur Gravenzande dengan nama Stompark yang artinya kebun bunga. Salah satu hewan yang menarik perhatian saya di taman ini adalah onta. Hewan yang biasanya tinggal di gurun pasir itu tampak kurus tinggal di Ranah Minang yang sejuk.

Tak hanya satwa, di taman ini juga terdapat replika Rumah Gadang (rumah adat khas Minang), yang kini berfungsi sebagai Museum Kebudayaan Minangkabau. Namanya Museum Rumah Adat Baanjuang. Museum ini berada di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata, seni, dan kebudayaan kota Bukit Tinggi.

Beberapa koleksi museum terbagi menjadi beberapa kategori, misalnya seperti etnografi, numismatik, dan biologi. Selain itu, disini juga terdapat beberapa replika peninggalan-peninggalan sejarah kebudayaan Minangkabau dan beberapa pajangan dari hewan yang mati dan telah diawetkan. Saya sempat ditawari berfoto dengan menyewa baju adat Minang yang telah disediakan. Sayang waktu saya tak banyak, tawaran itu saya tolak. Mungkin lain waktu. 

Aneka product busana bordir : Kebaya, Baju Kurung, Mukena, & Gamis
Nampang cantik di antara kebaya-kebaya cantik :D

Pasar Ateh
Setelah berkeliling selama berjam-jam, perjalanan saya tutup dengan memasuki Pasar Atas (Pasar Ateh). Di Bukittinggi, pasar ini terkenal sebagai pusat oleh-oleh. Ada beragam product yang bisa didapatkan di sini, seperti aneka kerajinan tangan, suvenir, kebaya bordir Padang, mukena bordir Padang, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat.   

Selain itu, los Lambung Pasar Ateh merupakan pusat warung nasi kapau terkenal yang ada di Bukittinggi. Jadi, di pasar inilah saya menikmati lezatnya kuliner nasi kapau, sekaligus berbelanja buah tangan.

Malam hari saat acara makan malam di hotel, kami para tamu disuguhi pertunjukan tari tradisional Minangkabau, yaitu Tari Piring. Makin lengkaplah kebahagiaan saya hari itu. Setelah siangnya menjelajah Kota Bukittinggi, menikmati kuliner khas, malamnya dihibur oleh gerakan para penari yang diiringi hentakan musik tradisional yang memukau. Pengalaman berwisata di Bukittinggi terasa sangat berkesan.

-end-

Artikel (mentah) ini pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Sabtu 31/01/2015, dalam rubrik PARIWISATA


Majalah Noor Vol.XII/2015 Special Edition

10.25 31 Comments
NOOR Yakin-Cerdas-Bergaya


Terima kasih kepada Majalah Noor yang telah berkenan memuat artikel Masjid Agung Jawa Tengah; Mutiara Tanah Jawa dalam Rubrik Journey Of The Heart Vol.XII Tahun XII/2015 Special Edition.

Artikel Masjid Agung Jawa Tengah di edisi ini menjadi artikel saya yang ke tiga, yang dimuat untuk rubrik yang sama. Dua artikel sebelumnya, Pesona Lembah Harau dan Masjid Islamic Center Samarinda, masing-masing dimuat pada edisi Juni 2014 dan September 2014. 

Vol XII ini memang terasa spesial karena artikel sayadimuat untuk special edition. Saat terbit, edisi ini mengeluarkan dua majalah sekaligus. Yang pertama (cover Rani Hatta), format isinya sama seperti edisi-edisi sebelumnya. Yang kedua (cover Shireen Sungkar) sebagai bonus, di mana isinya banyak memuat tentang fashion trend 2015. Tebal kedua majalah ini sama dan tidak dijual terpisah. Harganya Rp 75.000,- Alhamdulillah saya mendapatkan dua majalah ini secara gratis dari Majalah Noor.

Masjid Agung Jateng difoto dari puncak menara Asmaul Husna
Saya juga berterima kasih kepada sahabat saya Delyanti Azzumarito yang telah menemani perjalanan saya mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah pada bulan Oktober 2014 silam. Berkat waktu yang diluangkannya, saya bisa sampai ke masjid tersebut. Ia berkeliling bersama saya, memasuki ruang demi ruang, menaiki menara, dan berpanas-panasan memotret plasa masjid yang di tengahnya terdapat 4 payung elektrik raksasa dan gerbang Al Qanatir yang indah. 

Selepas dari Masjid Agung Jawa Tengah di bulan Oktober itu, saya tidak langsung menulis dan mengirim artikelnya ke Majalah Noor. Artikel baru saya buat dan kirim pada bulan November. Saat itu redaksi memberitahu bahwa artikel akan dimuat untuk edisi spesial. Saya tidak tahu edisi spesial itu kapan. Yang saya tahu bahwa saya harus sabar, karena penting bagi seorang kontributor seperti saya untuk mengerti bahwa tidak setiap artikel yang dikirim langsung diterima dan dimuat.

Ya, rejeki memang tidak ke mana. Edisi spesial ternyata untuk 2 edisi sekaligus, yaitu Desember dan Januari. Kedua edisi itu beredar di akhir bulan Januari. Alhamdulillah kini sudah ada di tangan saya. Hingga saat ini, minggu ketiga bulan Februari, edisi spesial ini masih beredar dan bisa didapatkan di lapak-lapak, toko buku, dan di supermarket seperti Giant & Carrefour.

Artikel Masjid Agung Jawa Tengah Hal.92 - 93
Pada edisi Vol.XII ini, Majalah Noor menyajikan beragam informasi menarik dan menginspirasi. Berikut daftar isi yang saya salin dari halaman What's On, sbb: 
  • Cover Story: Impian Menjadi Nyata Rani Hatta
  • Worship To Allah : Bidadari Negeri Surgawi
  • Muslimah in story: Siti Aisyah We Tenri Olle, Ratu Tanete Penyelamat Naskah I La Galigo
  • Love & Life : Tafsir Ayat Jilbab
  • Focus : Inspirasi Muslimah Indonesia Untuk Dunia
  • Muslimah Leader : Berkiprah di Panggung Dunia
  • Zoom: Eksplorasi Tradisi
  • Stage Story : Citra Bordir Back To Stage
  • Info Kesehatan : Tangkal si UV dengan menutup aurat
  • Let's look : Yang praktis buat teman nge-teh
  • Journey Of The Heart : Masjid Agung Jawa Tengah; Mutiara Tanah Jawa
  • Keep Learning : Kata kuncinya inovasi & kreativitas
  • Art & Culture : Pesona Legong
  • The Dynasty : Tiga Generasi Pertahankan Reputasi
Artikel Masjid Agung Jawa Tengah Hal. 94 - 95

Sedangkan di dalam majalah bonus Special Edition Fashion Trend 2015, menyajikan informasi berupa:
  • Cover story : Dunia Baru Shireen
  • Focus : Sinergi Perdagangan Internasional dan Dakwah
  • Fashion : Let it rain
  • Beauty : Love the rain
  • Veil Ideas : Bright Blue
  • Unique Knacks : Eksplorasi Alas Kaki
  • Fashion : Hello Sun
  • Beauty : In the sun
  • Veil Ideas : Yellow Sun
  • Unique Knacks : In the mood of pastel
  • Fashion talk : Mencari Jati Diri Fashion Muslim Indonesia
  • The Dynasty : Wardah Cosmetics, Mawar Indah Yang Menebar Harmoni
Rubrik Info Kesehatan : Tangkal si UV dengan menutup aurat

Coming Home : Menyeruput Wedang Uwuh di Langgam Jiwo

Let's Cook : Yang Praktis Buat Teman Nge-teh

Artikel Masjid Agung Jawa Tengah yang saya tulis untuk Majalah Noor berjumlah 9.520 karakter dengan 1544 kata. Berikut, penggalan artikel Masjid Agung Jawa Tengah yang saya salin dari tulisan mentahnya. Artikel lengkap bisa di baca di majalahnya.

Masjid Agung Jawa Tengah
MUTIARA TANAH JAWA
Oleh : Katerina

Perpaduan unsur budaya universal maupun lokal dalam kebudayaan Islam, melekat dalam arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah. Tak hanya memancarkan kemegahan dan keindahan, masjid kebanggaan warga Semarang ini juga memiliki berbagai keistimewaan yang jarang dijumpai pada masjid-masjid lainnya di Indonesia.

Saat mengunjungi Semarang pada bulan Oktober 2014 lalu, saya tak melewatkan  kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Bersama teman, saya berangkat dari Jatingaleh menuju MAJT yang terletak di Jl. Gajahraya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Alhamdulillah lokasi MAJT mudah ditemukan.

Waktu baru menunjukkan pukul 9 pagi ketika saya tiba di MAJT. Taksi yang saya tumpangi masuk hingga sisi selatan halaman masjid. Melewati lima ornamen bertuliskan lima rukun Islam yang berjajar membentuk hiasan sangat indah. Ketika taksi berhenti, saya langsung turun dan mengedarkan pandang ke sekeliling kompleks masjid.

Sebuah kompleks sangat luas dan lengkap terbentang di hadapan. Mulai dari Gerbang Al-Qanatir nan megah, bangunan induk, wisma penginapan, auditorium, payung elektrik raksasa hingga menara besar tinggi menjulang yang di dalamnya terdapat Museum Kebudayaan Islam, studio Radio, bahkan kafe muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Masjid Penuh Pesona 

Saya memasuki plasa masjid, dan menjumpai gerbang megah bernama Gerbang Al Qanatir yang artinya “Megah dan Bernilai”. Tiang-tiang gerbang bergaya khas Romawi,  berjumlah 25 yang merupakan simbolisasi dari 25 Nabi Allah sebagai pembimbing umat. Pada banner gerbang bertuliskan kaligrafi kalimat Syahadat Tauhid “Asyhadu Alla Illa Ha Illallah” dan Syahadat Rasul “Asyhadu anna Muhammadar Rosulullah”.

Sebuah batu prasasti setinggi 3,2 meter dengan berat 7,8 ton terpancang di plasa. Di permukaan batu inilah Presiden RI Dr Susilo Bambang Yudoyono membubuhkan tanda tangan sebagai tanda diresmikannya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Peristiwa tersebut terjadi pada hari Selasa, tanggal 14 Nopember 2006M / 23 Syawal 1427H pukul 20.00

Uniknya, batu yang digunakan untuk prasasti bukan batu biasa melainkan batu alam khusus yang diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang. Prasasti dipahat oleh Nyoman M.Alim yang pernah dipercaya membuat miniatur Candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna Austria pada tahun 2001.

Plasa masjid juga dilengkapi dengan 6 payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis. Sama seperti payung yang ada di Masjid Nabawi di Madinah. Konon di dunia, hanya ada dua masjid yang di lengkapi payung elektrik semacam ini. Tinggi tiang payung masing-masing 20 meter, dan bentangan (jari-jari) masing-masing 14 meter. 


Dan seterusnya.

Semoga artikel ini berguna bagi para pembaca di mana pun berada.
Buat saya pribadi, berkunjung ke ke Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya mengingatkan saya kepada keagungan Allah SWT, tetapi juga kepada keragaman budaya yang melekat pada aristekturnya. Selain sebagai sarana ibadah umat, masjid ini juga menjadi perlambang perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah.

Dely, di pelataran plasa Masjid Agung Jawa Tengah, di bawah Gerbang Al Qanatir nan megah


Togean, Tunggu Aku!

15.43 20 Comments



Sederetan pulau indah mengapung di lautan terlindungi sebuah teluk bernama Tomini. Kawasannya adalah sebuah zona transisi Garis Imajiner Wallace dan Weber yang menyuguhkan keajaiban alam yang jangan sampai dilewatkan. Bersiaplah mereguk lebih banyak kemegahan Celebes dan melihat langsung tempat berdiamnya salah satu suku penghuni lautan, yaitu Bajoe. 
~dikutip dari www.Indonesia.Travel "Indonesia's Official Tourism Website"

Lihat diri saya, mengunyah sekilas informasi tentang Kepulauan Togean saja hati sudah bergetar, bagaimana jika nanti menapakkan kaki di sana? Barangkali saya akan ‘mabuk’  takjub di hadapan salah satu masterpiece alam semesta yang satu ini.

Kepulauan Togean nan menawan, sebuah taman nasional yang tersembunyi di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang diresmikan pada tahun 2004. Terbentang sekitar 102 Kilometer dengan luas daratan sekitar 755 Km2. Memiliki gugusan pulau sekitar 66 pulau yang tersebar di wilayah tengah Teluk Tomini. Kekayaan alam yang dimilikinya merupakan surga bagi setiap mahkluk. Saya ingin melihat serpihan surga itu!

Pergi ke Kepulauan Togean, lalu menuliskan cerita tentang keajaiban alam yang dimilikinya, adalah sebuah impian yang saya rajut sejak akhir tahun 2014 lalu.  Inilah benang-benang alasan yang saya sulam untuk sebuah tempat bernama Togean:

  • Sebagai orang asli Indonesia, saya ingin mengenal lebih banyak tentang hidden paradise yang Indonesia punya. Akan aneh kalau saya lebih tahu tentang Taman Nasional Swiss di Pegunungan Alpen ketimbang Taman Nasional Kepulauan Togean di Sulawesi, di negeri saya sendiri.
  • Saya ingin memuaskan rasa syukur dengan cara melihat, mendengar, dan merasakan langsung anugerah alam Togean yang luar biasa, ‘serpihan surga’ yang Allah letakkan di Indonesia.
  • Sebagai seorang pejalan dan penulis kisah perjalanan, jejak langkah dan tulisan saya akan makin lengkap dengan memiliki cerita tentang Kepulauan Togean.
  • Saya ingin berkata "Hei, Indonesia juga punya Togean! Bukan Raja Ampat dan Derawan saja."
  • Lokasi Togean yang terpencil dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan justru menjadi daya tarik yang memikat bagi saya yang sehari-harinya tinggal di Kota Metropolitan yang ramai dan selalu sibuk.

Amazing Togean
Disalin dari www.gocelebes.com dan www.Indonesia.travel, inilah keajaiban Kepulauan Togean yang saya impikan itu.

Coral Triangel
Kepulauan Togean tercatat dalam daftar wilayah Coral Triangle region Indonesia-Filipina (region 1). Coral Triangle adalah wilayah segitiga perairan laut tropis yang memiliki lebih dari 500 spesies gugusan terumbu karang. Wilayah perairan di sekitar Pulau Sulawesi termasuk di dalam segitiga ini. Yang terpenting adalah, kawasan Coral Triangle merupakan pusat kekayaan hayati bawah laut (biodiversitas) dari seluruh biodiversitas dunia. Serta merupakan kawasan konservasi yang utama di dunia, yang berada dibawah naungan WWF (World Wide Fund for Nature).
 


Biodiversitas Togean
Sebagai bagian dari The Coral Triangle, Kepulauan Togean menyimpan kekayaan hayati bawah laut yang sangat menakjubkan. 

  • Memiliki 4 tipe terumbu karang yaitu Karang Cincin (Atol), Karang Tompoh (Patch Reef), Karang Tepi (Fringing Reef), dan Karang Penghalang (Barrier Reef). Terdapat sekitar 262 spesies terumbu karang dari 19 famili juga tersebar di perairan kepulauan ini. 7 spesies diantaranya adalah spesies endemik Kepulauan Togean.
  • Memiliki beragam jenis ikan seperti Paus Pilot, Ikan Pari Manta, Hiu Karang Abu-abu, Ikan Trevally mata besar (Trochus niloticus), Kima raksasa (Tridagna gigas), Lola (Trachus niloticus), dan Dugong (sejenis Ikan Duyung). 
  • Memiliki spesies penyu langka seperti penyu hijau (Chelonia Mygas) dan penyu sisik (Eretmochelys Imbriocata).
  • Memiliki sekitar 596 spesies ikan (dari 62 Famili). Dua spesies diantaranya merupakan spesies ikan endemik Kepulauan Togean, yaitu Ecsenius sp. dan Paracheilinus Togeanensis
  • Memiliki hutan mangrove dan hamparan padang lamun patai atau ‘nambo’ (seagrass bed) yaitu berupa rumput pantai yang luas dan menjadi sumber makanan mamalia laut dugong. Ada sekitar 33 jenis mangrove yang terdiri dari 19 jenis mangrove sejati (true mangrove) dan 14 jenis mangrove ikutan (associate mangrove).  


Daratan Kepulauan Togean
Selain berupa jajaran kepulauan, Togean juga memiliki daratan besar yang menjadi tempat berlindung dan berkembang biak bermacam-macam hewan endemik Sulawesi yang dilindungi seperti tangkasi (Tarsius sp), kuskus (Ailurops Ursinus), rusa (Cervus Timorensis), dan ketam kenari (Birgus Iatro). Ada pula monyet togean (Macaca Togeanus), biawak togean (Varanus Salvator Togeanus) dan babi rusa togean (Babyrousa Babirussa Togeanensis) yang hanya ada di kepulauan Togean.

Dari berbagai sudut, bisa menemui keasrian hutan dengan pepohonan rimbun,  dengan udara yang masih segar dan sejuk. Di udaranya hidup sedikitnya 90 jenis burung termasuk yang dilindungi, seperti julang sulawesi atau alo (Rhyticeros Cassidix) dan elang bondol (Haliastur Indus).
 


Kegiatan yang akan saya lakukan di Togean
Semua keragaman hayati dan keindahan yang dimiliki Kepulauan Togean telah membuatnya ditetapkan sebagai taman nasional dengan Keputusan Menteri Kehutanan (SK. No. 41 8/Menhut-II/2004). Banyak kegiatan yang akan saya lakukan di taman nasional ini, diantaranya:

  • Mengunjungi permukiman orang (suku) Bajoe di Kabalutan, Pulau Enam, Pulau Malenge, atau di Kayome dimana ada sebuah rumah asli suku bajo yang ditinggalkan pemiliknya dan masih asli dibangun dengan tanpa bantuan paku satu pun.
  • Jalan-jalan ke kawasan pemukiman utama di Pulau Togean yaitu Desa Katupat yang pantainya indah.
  • Berenang, snorkling dan mengunjungi Goa Kelelawar di Pulau Batudaka, pulau terbesar dan paling mudah dicapai di Kepulauan Togean.
  • Menyelam ke bawah air dekat Pulau Enam, di situs penyelaman berupa bangkai pesawat pembom B24 milik Amerika serikat yang jatuh pada Mei 1945.
  • Menyelam ke Karang Dominic di bagian paling utara Kepulauan Togean dan berada pada kedalaman 30-40m.
  • Menjelajah alam hutan Pulau Malenge. Mengunjungi Gunung Colo di Pulau Una-Una. Dan mengunjungi pemukiman orang Bajo di Kabalutan.
  • Menikmati kuliner seafood dan sagu, makanan khas Togean. Pergi ke  Ampana, menikmati keindahan malam dan kuliner khas berupa ikan bakar rica-rica yang istimewa.

Bermimpi dan wujudkan!
Sebagai penikmat keindahan lanskap alam dan keragaman biota laut, impian untuk ke Togean terus bergerak mengikuti usaha dan doa yang menguar dari diri saya, sang pemilik impian. Beruntung saya sebagai orang Indonesia yang saat ini tinggal di Indonesia, sehingga mimpi untuk menjejak Taman Nasional Kepulauan Togean berada di Teluk Tomoni di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, akan lebih mudah diwujudkan karena lokasinya mudah dicapai dengan moda trasnportasi yang sudah tersedia. 


Saya sangat optimis impian menjejak Togean akan terwujud tahun ini. Waktu sudah  saya persiapkan. Biaya tinggal diusahakan dari menulis di media massa. Jika saya makin rajin menulis untuk media, bukan tidak mungkin fee yang terkumpul cukup untuk membiayai perjalanan ke Togean. Insha Allah selepas lebaran bisa berangkat. Semoga. 



*1000 kata


Postingan ini diikutsertakan dalam #evrinaspGiveAway: Wujudkan Impian Mu.


Keterangan:
  • Isi tulisan berupa informasi mengenai Kepulauan Togean sebagian besar saya sadur dari website Indonesia.Travel dan Gocelebes.Com 
  • Sumber foto dari website Indonesia.Travel dan Gocelebes.Com Masing-masing foto saya beri watermark sesuai sumber foto.