Mengenal Batik Belitung Timur di Sanggar Batik de Simpor Kampoeng Ahok



“Kita akan melewati Kampoeng Ahok. Apa kalian ingin mampir?” tanya Bang Romi, supir sekaligus guide kami selama keliling Belitung.

Saat itu kami baru saja usai berkunjung ke Museum Kata Andrea Hirata. Jarak museum dengan Kampoeng Ahok dekat, dapat dicapai dalam waktu sekitar 2-3 menit saja. Itu sebabnya Bang Romi menawarkannya pada kami. Kenapa harus ditawarkan terlebih dahulu? Karena sebetulnya tempat itu tidak ada dalam itinerary.

“Apa yang bisa kami lihat?” tanyaku.

“Rumah dan sanggar batiknya,” jawab bang Romi.

Sebenarnya aku bertanya-tanya dalam hati, memang apa menariknya rumah seorang Ahok? Apa karena dia mantan bupati yang kemudian jadi terkenal seantero negeri karena berhasil memangku jabatan jadi orang nomor satu di DKI Jakarta? Di Jabodetabek aku bisa melihat rumah-rumah pejabat tinggi lainnya tanpa harus menganggap bahwa rumah mereka perlu dikunjungi. Tapi di Belitung, guide-ku menawarkan kunjungan ke rumah Ahok, mantan orang penting di Belitung. Harus gitu?

Baiklah, aku memang bertanya-tanya keheranan. Tapi pada kenyataannya aku antusias. Rasa heran memang harus dituntaskan dengan menjadi ‘tahu’ bukan? Kalau tidak dituntaskan, selamanya akan heran. Heran berkepanjangan bisa menyebabkan muntah. Muntah karena mual merasa tidak puas :p
 
Nggak ada Pak Ahok di Kampoeng Ahok :D

Belakangan banyak anggapan bahwa Belitung jadi terkenal karena fenomena Laskar Pelangi dan Ahok. Anggapan yang tidak bisa dipungkiri. Dua magnet itu memang cukup menyedot perhatian. Itu sebabnya kini para penggiat travel di Belitung punya dua tawaran menarik yang bisa dijual ke wisatawan selain Laskar Pelangi, yaitu Ahok. Maksudku, segala sesuatu yang ada di Belitung yang  berhubungan dengan Ahok. Contohnya Kampoeng Ahok.

Tawaran bang Romi aku terima. Lalu Bang Romi pun mulai bercerita. Menurutnya, Ahok mendapat banyak tempat di hati sebagian besar masyarakat Belitung. Ketika menjabat sebagai bupati, peran dan jasanya sangat berarti. Ada satu kisah yang dirasa sangat berkesan oleh Bang Romi sehingga ia menceritakannya pada kami. Dulu, sebelum Ahok menjadi bupati, ada sebuah kawasan kosong, sepi, dan tak berguna. Di kawasan itu banyak lubang-lubang bekas tambang timah yang ditumbuhi ilalang, dan sedikit pohon yang tidak rindang. Suatu saat ketika Ahok menjadi bupati, tanah di kawasan tersebut dibagi-bagikan kepada masyarakat Belitung. Sampai di sini, Bang Romi tidak menjelaskan masyarakat yang mana dan seperti apa yang mendapat bagian tersebut. Tapi yang jelas, tanah yang dibagikan tersebut gratis. Rakyat tidak perlu membayar. Yang perlu dilakukan adalah membangun tanah yang dibagikan tersebut dalam kurun waktu 6 bulan. Jika tidak, maka akan diambil kembali dan diberikan pada orang lain.

“Bagaimana bisa tanah diobral-obral tanpa bayar seperti itu?” tanyaku keheranan.

“Supaya kawasan mati itu hidup!” pungkas bang Romi.

Cerita tersebut tak sekedar cerita. Seusai dari rumah Ahok, kami diajak melewati tempat yang diceritakan. Wujud tempatnya kini memang sudah menjelma sebuah desa. Bukan lagi lahan kerontang dengan lubang-lubang bekas tambang yang ditinggalkan. Desanya tidak padat tapi banyak rumah dan tempat usaha, sehingga terlihat hidup. Dulu sepi. Jarang ada orang yang melintas apalagi datang.
 
Jl. KA. Bujang No. 22 Gantung - Belitung Timur

Selepas Ahok menjabat bupati, bagi-bagi tanah itu tak terjadi lagi. Dan ini menjadi salah satu kisah yang melekat indah di hati Bang Romi, salah satu warga Belitung yang mengaku mencintai kepemimpinan Ahok. Terlepas dari segala fenomena Ahok yang katanya kadang dianggap ‘menyebalkan’, kisah lainnya tentang Ahok yang diceritakan oleh Romi, cukup membuat aku kagum. Bagaimanapun, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Menghargai sisi lebihnya bukan sesuatu yang haram. Soal kekurangan, aku pribadi kadang lebih suka bergegas mencari kaca sebelum bicara. Aku rasa hidup ini indah kalau bisa melihat lebih dalam. Kisah-kisah nyata perlu didengar, apapun coraknya. Hal-hal personal sudah ada jalurnya akan dihubungkan kemana, begitu pula dengan kebaikan terkait orang banyak.

Mobil kami berhenti di depan sebuah rumah tradisional model panggung tapi pendek. Bangunannya terbuat dari kayu dan papan yang didominasi warna coklat kehitaman. Di halaman depannya yang bersih terpancang sebuah plang bertuliskan Kampoeng Ahok. Kami sudah sampai!

Namun, bukan rumah itu yang kami tuju. Melainkan rumah megah yang ada di seberang jalan. Rumah keluarga Indra Purnama, ayahnya Ahok. Untuk masuk, bang Romi mesti lapor. Ada penjaga dan beberapa orang yang terlihat di pos keamanan. Sebetulnya tidak ada prosedur ketat, apalagi pemeriksaan macam-macam, hanya sekedar lapor saja. Lalu kami pun masuk. Jalan kaki ke arah rumah. Tidak untuk masuk, tapi lewat saja. Rumahnya besar, bertingkat dua dengan bangunan melebar ke kiri dan kanan seperti bangunan bersayap. Menurutku rumahnya mirip sebuah kantor pemerintahan :D Di dalam rumah tentu saja tidak ada Ahok karena beliau tinggal di Jakarta. Rumah itu ditempati oleh keluarganya, termasuk ayah dan ibunya. Mungkin juga ditempati oleh keluarga Basuri Tjahaja Purnama, adik Ahok yang kini menjabat sebagai bupati Belitung. Tapi soal ini aku tidak tahu pasti. Kemarin kurang mendengar infonya dari Bang Romi.





Ada sumur di halaman depan rumah Ahok









Halaman depan rumah Ahok terbilang luas, namun agak kosong. Tidak ada tanamanan yang membuat halaman jadi terlihat asri dan sejuk. Hanya ada beberapa pohon yang tidak bisa dijadikan tempat untuk berteduh. Lain halnya di bagian samping. Di sana ada aneka tanaman, terlihat subur dan hijau. Di sebelahnya ada Sanggar Batik de Simpor, sanggar yang ingin diperlihatkan oleh bang Romi kepadaku dan mbak Iah. Sanggarnya terlihat sederhana. Tapi di sinilah batik-batik khas Belitung Timur dibuat. Pembinanya adalah istri bupati, sedangkan penggeraknya ibu-ibu anggota PKK Belitung Timur.

Simpor adalah nama pohon yang tumbuh di Belitung. Konon pohon ini hanya ada di Belitung. Daun pohon inilah yang dijadikan motif batik, serta dilekatkan menjadi nama sanggar. 

Aku tidak pernah tahu sebelumnya seperti apa wujud daun Simpor. Mendengarnya pun baru kali itu, saat pertama kali ke Belitung. Aku baru tahu bentuk aslinya ketika makan di Rumah Makan Fega. Di sana ada pohonnya. Ternyata bukan termasuk pohon besar yang tinggi menjulang. Daunnya lebar-lebar dengan urat daun besar-besar. Warnanya hijau terang.
 
Daun Simpor

Motif daun simpor yang digambar di kain agak besar-besar mengikuti ukuran aslinya. Tampak menarik dan cantik dilihat. Kain yang digunakan pun dari bahan berkualitas. Kebetulan ada kain pantai, kain yang sedang aku cari, aku pun beli tanpa ragu. Ternyata mbak Iah juga mau. Akhirnya kami sama-sama beli. Aku pilih warna coklat kekuningan, mbak Iah warna merah. Kain batik tersebut kami pakai keesokan harinya saat hopping island di perairan Belitung.  


Beli di Belitung, dianyari di Belitung.

Batik-batik yang diproduksi di sanggar ini ada yang dibuat dalam bentuk baju atasan, celana, rok, baju-baju formal dan casual, kain pantai, dan dress etnik. Kebanyakan didominasi warna cerah yang eye catching, seperti merah, oranye maupun kuning. Harganya bervariasi, tidak terlalu mahal, tapi juga tidak murah sekali. Menurutku sesuai dengan kualitas dan model, serta desain yang ekslusif dan elegan. Buat koleksi aku rasa bagus. Apalagi untuk beberapa model ada yang diproduksi terbatas. Kecuali baju kaos Belitung, banyak macam dan jumlahnya. Harganya pun harga pelancong.

Batik de Simpor sudah dikenal sebagai batik asli Belitung Timur. Sebuah ikon yang tak terbantahkan. Masyarakat Belitung Timur yang punya karya, motifnya mereka yang cipta, dan namanya melekat di tanah mereka.

Selain motif daun simpor, ada pula motif buah Keremunting, motif ikan Cempedik, dan motif gelas kopi yang asapnya mengepul. Buah Keremunting dijuluki anggurnya masyarakat Bangka Belitung. Sedangkan Ikan Cempedik yaitu sejenis ikan air tawar yang hidup di Belitung, dan banyak ditemukan di perairan sungai lenggang di Belitung Timur. Semua motif tersebut menjadi ciri khas batik Belitung Timur, pembeda dari batik-batik daerah lain, dan sudah dipatenkan.
 






 
Selain tersedia suvenir kaus dan baju batik, ada juga hiasan buah pinang, mug, tas batik, dan kartupos




Bahan untuk batik tulis


alat untuk batik cap




 
jual aneka makanan dan madu


Miniatur rumah adat melayu Belitung

Berkunjung ke sanggar de Simpor tidak hanya membuatku sekedar mengenal dan membeli sebuah karya batik, tapi juga melihat sebuah cita-cita masyarakat Belitung dalam mengangkat kain batik Belitung Timur sebagai ikon pariwisata. Peralatan membatik yang ada disanggar, bukan sekedar pajangan semata, tetapi memang benar-benar digunakan untuk membuat karya, serta digunakan saat kelas membatik dibuka. Ada edukasi, ada promosi, ada motivasi. 

Sanggar ini hidup dan menghidupkan. Selayaknya perlu didukung agar Batik Belitung Timur sejajar dengan batik-batik legendaris dari daerah-daerah di tanah Jawa. Dukungan itu tentu termasuk dari pelancong sepertiku.

Sekarang aku paham kenapa Bang Romi menawarkan untuk mampir ke Kampoeng Ahok. Ternyata ada hal menarik di tempat ini.
 
Belanja batik motif daun simpor


Batiknya dianyari saat hopping islands :D


~Belitung, 11 September 2015



*semua foto dokumentasi Katerina


Seorang istri. Ibu dari dua anak remaja. Tinggal di BSD City. Gemar jalan-jalan, memotret, dan menulis.

Share this

Previous
Next Post »

7 komentar

  1. Masih dalam rangka ngabibita tour ke belitung ya mba? :D
    Akuu mauuu bangeet nmenin mba ke belitung lagi :D

    BalasHapus
  2. Nanti ajak kami ke sini juga yaaa Mbak. Asyiiik. eh belum diiyain ya haha

    BalasHapus
  3. Nanti ajakin ke sini juga ya, mbak.. Mau beli kain pantai juga buat dipakai waktu island hopping.. eaaaa.... :)

    BalasHapus
  4. Pengin nanti bisa ke Belitung juga, moga ada rejeki dan kesempatan ke sana tapi tidak dalam waktu dekat ini cos Mama Ivon lagi hamil. Moga lancar ya Mbak nanti acara travelling JJS-nya.

    BalasHapus
  5. Agaknya bagus banget kalau setiap daerah punya batik khasnya sendiri ya Mbak. Apalagi dengan pemerintah daerah yang mendukung dan memberi saluran--coba, berapa pemerintah yang rela menjadikan rumah dinasnya demikian terbuka bagi rakyat dan jadi tempat tampilan bagi hasil-hasil kerajinan batik yang keren-keren itu? Apa yang terjadi di Belitung Timur ini semoga dapat dicontoh oleh daerah lain ya, saya yakin kalau semua pemerintah daerah beranggapan serupa, industri tekstil daerah pasti bertambah maju :)).

    BalasHapus
  6. Belum berkunjung kesini, soalnya dulu belum kenal pak Ahok. hehehe

    BalasHapus
  7. saya pembuat canting tulis dri Pekalongan,, mungkin jika suatu saat nanti perlu canting tulis bisa hubungi saya .
    Afwan no hp 08816512457

    BalasHapus

Leave your message here, I will reply it soon!