Bergaya Dengan Batu Mulia

14.12

Selain aksen, keindahan cincin juga lambang kejayaan.  

*****

Senin siang (25/5/2015), ada pesan gambar masuk via WhatsApp. Dari bojoku yang sedang di seberang pulau. Terlihat tiga bulatan berkilau.

“Apa itu, mas?”
Belum dilihat lebih jelas sudah bertanya. He he.

“Coba lihat yang jelas.”
Nah, kan disuruh lihat yang jelas. Ha ha.

Setelah di zoom maksimal, aku pun menebak. “Coklat made in Borneo!”

“Itu batu akiiiiiiiiiiiik.”

“Hah?!”


Astaga. Sejak kapan bojoku suka batu akik dan merasa aku akan tertarik sama akik? Sambil terheran-heran, aku menunggu penjelasan lebih lanjut. Selang beberapa menit kemudian, aku ditelpon. Maka, meluncurlah penjelasan yang membuatku akhirnya paham bahwa aku harus menerima tiga biji batu akik yang tadi ditunjukkan padaku. 

Hanya batu saja, tanpa pengikat cincin

Ibu N dan Pak K, pengusaha asal Pekanbaru yang saat ini sedang bekerja sama menggarap proyek PT.C di Balikpapan, menghadiahiku batu akik. Senin kemarin, seusai menyelesaikan urusan bisnis, mereka jalan-jalan ke Pasar Kebun Sayur, Balikpapan. Membeli berbagai oleh-oleh, termasuk ‘sekantong’ batu akik. Dan aku kebagian ditraktir.

Tentang Ibu N dan Pak K, aku mengenal sepasang pengusaha itu dengan baik. Usia keduanya hampir seusia mamaku. Tapi mereka masih lincah mengurus berbagai proyek besar yang bertebaran di Nusantara. Silakan dibayangkan kondisi finansial mereka seperti apa. Maksudnya biar nggak heran kenapa ‘enak’ bener mentraktir aku batu-batu akik hihi. Aku bersyukur mengenal keduanya, meski ‘menjulang’ namun rendah hatinya, dan sangat suka berbagi.

Selasa siang (26/5/2015), tiga biji batu akik itu aku terima. Pertama melihatnya, aku langsung terkesan. Sebetulnya rasa ini aneh, sebab biasanya aku tidak suka. Di mataku, batu akik seolah mengandung sesuatu yang mistis. Bahkan, aku menganggap orang yang memakainya seperti dukun, atau seseorang yang punya ilmu hitam. Mungkin aku terpengaruh tontonan, penampakan dukun dalam film Indonesia kerap dilengkapi cincin batu yang berukuran besar. Di film, jari-jari bercincin itu, menari-nari liar di atas dupa sembari merapal mantra. Batu akik itu dukun! Pokoknya gitu.

Tapi sekarang, di depan mataku, tiga buah batu akik itu terlihat seperti batu permata yang sangat mewah. Masa? Apa mataku sudah dipengaruhi oleh mahluk gaib yang bersembunyi di dalam batu akik itu?

“Kamu ini ada-ada saja,” ucap bojoku. Oh iya, nampaknya aku memang ‘ada-ada saja’. Sudah, ah

batu kecubung ini aslinya bening, jadi berwarna mengikuti latar dan alasnya

corak dompet etnik yang di latar belakang tergambar dalam batu kecubung

Batu akik yang pertama berwarna putih bening. Namanya Kecubung. Bentuknya seperti berlian pada umumnya. Agak bulat di satu sisi, dan mirip bentuk segi tiga di sisi lainnya. 

Menurutku, Batu Kecubung ini cocok jika aku jadikan perhiasan cincin. Ketika disenteri, cahaya senter bisa tembus seperti tembusnya cahaya pada sebuah kaca. Kata bojoku, makin tembus cahaya maka makin mahal harganya. “Oh, begituuuu.” Melongo kagum. 

Green Borneo

Batu yang kedua berwarna hijau. Namanya Green Borneo. Bentuknya bulat lonjong. Hijau bening dan berkilau. Ketika disenteri, Green Borneo ini juga tembus cahaya. Melihat ukurannya yang lebih besar dari Kecubung, aku berencana untuk menjadikannya sebagai liontin.

Kalung emas yang cocok dengan batu Green Borneo ini menurutku emas putih. Kalau kuning, yang terbayang olehku ketika mengenakannya seperti ibu-ibu juragan toko sembako. Kalau putih, jika dipakai akan seanggun Pevita Pearce. Elegan dan berkelas. *sotoy* 

Pancawarna

Batu yang ketiga punya lima macam warna. Sesuai namanya maka dinamakan Pancawarna. Nama ini cukup familiar di telingaku sebab beberapa teman penggemar batu akik kerap menyebut-nyebut namanya sebagai batu yang memiliki keindahan yang khas. Bentuknya bulat dan lebih lonjong dari Green Borneo. Ukurannya pun lebih besar dibanding Kecubung dan Green Borneo. Ketika disenteri, cahaya senter bisa tembus.

Jika batu Kecubung dan batu Green Borneo dapat aku bayangkan akan dijadikan perhiasan macam apa, maka tidak dengan batu Pancawarna. Mungkin cincin, tapi aku tidak mau memakainya. Jari-jariku yang kecil akan terlihat sangat aneh kalau memakai cincin dengan batu sebesar itu. Jangan-jangan nanti aku jadi mirip ibu dukun ketika memakainya. *halah :p Mungkin baiknya dijadikan bross saja. Iya, sepertinya begitu. 

Kayaknya Batu Kecubung ini saja yang cocok jadi cincin

Pancawarna gede banget, kayak ibu dukun wkwkwkwk

Green Borneo ini cocok jadi liontin sajooo..

Apapun itu, batu akik di mataku kini terlihat begitu indah. Seperti tidak ada bedanya dengan batu mulia lainnya. Mungkin karena aku melihatnya bukan langsung dalam bentuk cincin seperti yang aku pernah lihat dipakai oleh dukun-dukun dalam film. Atau, batu-batu itu terlihat indah karena dikasih gratis?  Haha. Yang jelas, batu-batu mulia ini akan membuatku bergaya jika memakainya :D

Sependek pengetahuanku, tampil bergaya dengan batu mulia (misalnya cincin) yang mewah memang ada dalam sejarah peradaban manusia. Peradaban Mesir misalnya, telah mengenal eksplorasi mineral dan logam untuk perhiasan. Beberapa jenis mineral yang biasa digunakan untuk membuat perhiasan, antara lain cornelian, amethyst, onyx, jasper dan kristal kuarsa. Menariknya, batu-batu itu diyakini memiliki nilai spiritual dan khasiat.

Bagi yang pernah membaca buku Finger Rings: From Ancient Egypt to the Present Day, akan mengetahui banyak hal tentang sejarah peradaban manusia terkait penggunaan cincin dan batu mulia. Monggo dibaca bukunya :)

Pengetahuan menyebutkan bahwa batu-batu mulia terbentuk melalui proses geologi yang unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia. Pembentukan batu mulia mungkin saja terjadi melalui proses diferensiasi magma, proses metamorfosis, atau seditmentasi.

Dari sekian banyak jenis permata, beberapa jenis permata favorit yang aku kenal, seperti berlian, zamrud, ruby, safir, biru langit, dan kecubung. Kecubung ini baru aku kenal, tepatnya sejak batu akik mulai menggairahkan pasar perhiasan lokal. Kendati mulai kenal namanya, namun aku sendiri belum pernah membelinya. Alhamdulillah sekarang punya, meskipun dibelikan orang he he. 


Maksudnya Katerina tuh sekarang bisnis batu akik? :))))

Aku baru 2 hari punya batu akik. Pandanganku terhadap batu ini kini mulai membaik. Benar kata orang, tak kenal maka tak sayang. Tak punya maka tak suka. Bagaimana denganmu, kawan? Suka kah dengan batu akik? Kalau aku, mulai sekarang jadi suka.

Terlepas dari itu semua, fenomena batu akik ini ternyata mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat daerah. Sebut saja Biak, salah satu kabupaten di Papua ini, produksi batu akik telah membuat pendapatan para pengrajin di sana meningkat sangat drastis. Dalam data yang aku baca di beberapa surat kabar, pendapatan mereka berkisar 4 juta hingga 5 juta per bulan. Jumlah itu setidaknya telah menggambarkan banjirnya pesanan pembuatan cincin batu akik.

Harga jual batu akik, konon ada yang mencapai miliaran rupiah per buahnya. Menurut ibu N, harga tersebut biasanya tergantung dari minat pembelinya. Semakin suka seseorang pada batu akik tertentu, makin tinggi pula harganya. Harga jual batu akik itu sendiri bervariasi. Tergantung pada jenis motif dan asal daerah. Ada yang hanya ratusan ribu, jutaan, belasan juta, puluhan juta, ratusan, hingga miliaran rupiah. Fantastis!

Berapa harga masing-masing batu akik yang aku punya? Ibu N tidak menyebutkannya. Aku pun tidak menanyakannya. Yang aku tahu, harga batu pastinya lebih mahal ketimbang pengikat cincinnya. Di Biak, batu akik lokal berkisar Rp 500 ribu – 1 juta perbuah. Sedangkan pengikat cincinnya sekitar Rp 75 ribu – 100 ribu per cincin.

Terakhir, barangkali ada yang bertanya tentang bagaimana Islam memandang cincin?

Islam datang memberikan batasan-batasan tegas dalam bercincin, tanpa menghilangkan mutlak nilai estetika di dalamnya. Seperti larangan meyakini adanya kekuatan magis di dalamnya dan larangan perhiasan dari unsur emas.



“Rasulullah SAW memakai cincin dari batu dengan ikatan perak.” [HR Muslim dan Turmidzi].

(*) 


Semua foto dokumentasi pribadi.

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

18 comments

Write comments
27 Mei 2015 14.32 delete

Jadi inget.. dulu waktu kuliah aku KP (Kerja Praktek) di Samarinda. Dosen pembimbingku minta dibawain oleh-oleh batu kecubung. Batu kecubung emang populer banget di Kalimantan. Bertiga ama temen sekelompok KP, kami pergi ke Pasar Citra buat nyari batu kecubung. Ternyata ada yang dijual satu set. Jadi satu set itu bisa buat cincin, sepasang anting, juga kalung. Warnanya ternyata cakep-cakep.

Reply
avatar
ira
27 Mei 2015 14.52 delete

Huaaa.... pengetahuan perbatuan Mbak Rien udah luas, nih.... Jadi nambah wawasanku tentang batu akik.

Reply
avatar
27 Mei 2015 15.03 delete

Virus batu akik ternyata menyebar dan cepat menular berbagai kalangan, jutaan bahkan milyaran rupiah digelontorkan demi akik.
salam kenal dari Malang.

Reply
avatar
27 Mei 2015 15.07 delete

Oiya, ngomong-ngomong tentang batu akik, akujuga mulai suka mbak.. Ada 1 batu yang bikin aku jatuh cinta mendadak. Mudahan bisa jadi postingan di blog nanti ;)

Reply
avatar
27 Mei 2015 15.23 delete

aakk, gue pengen batunya,,
dan gue pengen template blognya,,

Reply
avatar
27 Mei 2015 16.16 delete

Aku juga sekarang lagi kepikiran batu akik, pengin yang warna biru biar dibilang kekinian :D
Aku kan nggak pakai jam, jadi pengin ada something di tangan bir g kosongan.

Reply
avatar
27 Mei 2015 23.40 delete

Ngomongin tentang batu akii, aku agak heran, kenapa bisa begitu viral kayak sekarang :| Terus penasaran banget sama siapa yang memulainya :D

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.07 delete

Sudah lama sekali rupanya ya mbak. Aku dulu nggak suka batu, jadi ga berusaha nyari tahu nama-nama batu. Pokoknya kalau sedang nyari perhiasan gelang yang dijual di Pasar Kebun Sayur Balikpapan, ya beli-beli aja. Nggak nanya itu batu apaan :))

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.10 delete

Belum luas mbak. Baru secuilnya saja ini. Gara-gara punya akik, jadi baca-baca sana sini, dan nanya sana sini. Kebetulan temanku memang ada yang berbisnis batu akik, jadi aku tanya-tanya juga sama dia. Kalo temanku itu, batu-batu akiknya benar-benar dibuat untuk perhiasan mewah. Pemesannya ya teman-teman dia juga, para kolektor perhiasan. Cincin, kalung, maupun gelang pengikat batunya terbuat dari emas mahal yang gram dan karatnya gak main-main. Pingin juga pesen, tapi kok ya langsung keliyengan liat angkanya. Gigit jari dulu jadinya hahaha

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.12 delete

Buat penggemar batu akik, mungkin rela-rela saja menggelontorkan rupiahnya :)
Kalau hal tersebut bisa meningkatkan pendapatan penduduk lokal, malah bagus menurutku. Yang berduit biar saja kantongnya terkuras he he

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.13 delete

Yes....sesama emak yang baru jatuh cinta pada akik, mari kita toss :))
Eiits...aku jadi penasaran batu apa kah itu? Ditunggu postingannya ya...

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.14 delete

Aduh, kalau kepingin aku belum bisa memberikannya. Maaf ya hahaha
Oh suka ya sama templatenya? Kalo ngeblog di Blogspot, ada kok template ini :)

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.15 delete

Ayo Wan hunting batu akik, cari yang biru, khas keluarga biru.
Ooooh...pengen akik segede jam tangan? *gagalpaham* wakakak

Reply
avatar
28 Mei 2015 04.21 delete

Pertanyaan yang sama yang pernah aku ajukan ketika dulu pohon Gelombang Cinta begitu fenomenal. Pohon hias 'segitu' aja kok dijual seharga 5-10 juta. Orang-orang berbondong-bondong membeli, rela pesan beberapa minggu. Kalau sudah ditaruh di rumah, katanya simbol 'kejayaan" :))
Entah siapa yang memulai hal tersebut. Tapi sekarang fenomena Gelombang Cinta sudah pupus. Harganya kembali ke asal. Cuma 100 ribuan. Sekarang yang ada di rumahku, tinggal 8 saja. Gigit jari kalo ingat dulu belinya mahal :))

Mungkin begitu juga dengan akik, sekarang melambung, besok-besok mungkin mendarat lagi di bumi hihi. Siapapun yang memulai, pastilah dia punya trik dagang yang jitu. Mengangkat sebuah batu menjadi barang berharga yang mahal dan mewah. Kurasa, akik ga akan cepat 'mendarat', sebab peminat perhiasan itu nggak seperti hujan sesaat :)

Reply
avatar
30 Mei 2015 13.24 delete

Ketularan gandrung batu akik juga mbak, suamiku juga nih, tmsk saya. Sblm rame kayak skrg pas di Bali liat cincin ada batu ijonya lgs tertarik, eh skrg dikira ikut2an demen akik. Yang kecubung bening itu bagus mbak, dibikin cincin keren pasti.

Reply
avatar
30 Mei 2015 13.29 delete

Yg kecubung bening bagus tuh mbak, suamiku juga gandrung batu akik nih,dah punya bbrp batu dari dulu tp ga prnh dipake,eh sekrg dibukin cincin. Jenis batunya juga bkn yg kecubung ato panca warna , tp konon didpt dari dunia lain dan jenisnya jarang. Tp bener batu akik bs mengangkat perekonomian daerah,di wonogiri aja ada perbup yg mewajibkan pnsnya pake akik,hehe...ada2aja.

Reply
avatar
1 Juni 2015 19.16 delete

Suka yang batu kecubung buat cincin. Sama Mbak Rien, Aku dulu mikir Batu Akik itu identik dengan mistis dan Mbah dukun. Eh, sekarang malah jadi gelombang batu yang sangat diminati orang Indonesia.

Reply
avatar
4 Juni 2015 23.26 delete

Mba, percaya ataau ngga gue kemaren ke Banjarmasin hehehe, dan ke martapura juga, banyak batu2an disana, tapi cuman beli batu belom jadinya hihihi

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon