Anak Kucing Lincah Pelipur Duka

12.34

Assalamu'alaikum

Senin sore (23/3/2015) saya membeli makanan kucing di toko langganan. Begitu masuk, si mas penjaga toko langsung menyambut dan menyapa dengan ramah.

"Sore bu, sudah lama ga keliatan. Oreo ga diajak, bu?"

Sudah lama tidak kelihatan? Oh! Ya, itu betul. Biasanya setiap 2-3 kali dalam seminggu saya datang ke toko ini (toko makanan kucing sekaligus salon dan penitipan kucing) bersama anak sambil membawa kucing peliharaan saya yang bernama Oreo. Entah untuk membeli makanan, membeli obat cacing, vaksinasi atau pun untuk memandikan. Dan sore itu saya baru muncul setelah 14 hari tidak datang.

"Tidak, mas. Oreo sudah meninggal 14 hari yang lalu," jawab saya. Sudah saya duga jawaban itu akan membuat wajah si mas penjaga toko berubah. Dari ceria menjadi terkejut, lalu sedih dan diliputi rasa menyesal. Selanjutnya, meluncur beberapa pertanyaan dari mulutnya, dan berujung dengan ucapan turut berduka cita yang mendalam. Dia memang sudah kenal Oreo karena sudah sering bertemu dan pernah beberapa kali ikut memandikan.

"Sekarang kami sudah punya anak kucing lagi. Namanya Larry. Sudah 2 minggu kami pelihara," lanjut saya.

"Kok baru sekarang dibelikan makanan, bu?" tanya si mas penjaga toko keheranan.

"Sehari sebelum Oreo meninggal (Minggu 8/3/2015), saya membeli makanan kucing, baik yang kering maupun basah (sarden) dalam jumlah agak banyak. Makanan itu yang saya berikan pada si Larry. Mas ingat gak hari itu saya ke sini sekalian mendaftarkan Oreo untuk dimandikan? Itulah kenapa Senin (9/3/2015) saya tidak datang, karena hari itu Oreo meninggal...."

Menceritakan kembali tentang kepergian Oreo membuat perasaan saya jadi sedih. Saya kembali merasakan kehilangan itu. Tiba-tiba ada rasa rindu pada Oreo. Anak saya juga demikian. Membicarakan Oreo berarti membuatnya jadi menangis.

Oreo saat masih kecil (Juli 2014)
Selamat Jalan Oreo

Senin tgl. 9/3/2015, sekitar pukul 8 pagi, saya mendapati Oreo tergeletak di jalan di depan rumah. Saya panggil, dia diam saja. Oreo tidak pernah demikian. Jika dipanggil dia langsung berdiri dan datang mendekati. Saya curiga. Setelah saya dekati.... Ya Allah, ada darah menggenang di bawah kepalanya. Darah itu mengalir dari lubang matanya. Saat itu juga saya angkat, ternyata mata kirinya hampir keluar dari rongga matanya. Kondisi mengenaskan itu membuat saya pilu.

"Ibuuuuuu....."

Saya memanggil ibu tetangga depan rumah. Si ibu datang. Ia kaget. 

"Oreo ditabrak mobil bu...," adu saya sambil terisak.

Oreo saya angkat, lalu saya taruh di carport. Darah mengenai kedua tangan dan rok saya. Saya bergegas masuk ke rumah. Berganti baju dan mengambil dompet. Oreo hendak saya bawa ke dokter.

"Rieeeen....Oreo sudah meninggal," ibu tetangga memanggil saya.

Saya lari keluar rumah, mendekati Oreo. Saya pegang dadanya, kepalanya, dan kakinya. Entah, saya sendiri tidak tahu bagian mana yang mesti saya raba guna memastikan Oreo sudah tiada. Dalam kebingungan itu, saya lihat ada gerakan lemah dari kaki kanannya. Masih hidup! Harapan itu masih ada. Tetapi....Allah berkehendak lain. Beberapa detik kemudian tak ada lagi gerakan dari tubuh Oreo. Allah telah mencabut nyawanya. Innalillahi.

Dengan air mata yang berderai, saya peluk Oreo. Saya usap matanya yang masih terbuka. Antara percaya dan tidak percaya dia sudah tiada. Baru beberapa menit yang lalu saya mengajaknya bermain, ternyata kini sudah tak bernyawa.

Oreo jarang main ke jalan, namun hari itu dia keluar rumah untuk menjemput maut. Tetangga sebelah yang melintas langsung menabraknya. Dan si tetangga  tidak turun, terus melaju begitu saja. Tak pula datang meminta maaf, padahal tahu itu kucing saya T_T
  
Oreo punya mata yang bisa berubah warna, kadang kuning, kadang biru. (26 Nop 2014)

Tubuh Oreo saya bungkus dengan selembar handuk mandi berwarna putih. Handuk ini biasanya digunakan sebagai alas tidur sekaligus selimut Oreo. Karena handuknya tebal dan hangat, Oreo betah berbaring di atasnya. Sambil membungkus tubuh Oreo, air mata saya terus menetes. Meski seekor kucing, Oreo sudah seperti bagian dari anggota keluarga kami. Saya merasa sangat kehilangan.


Security yang saya panggil datang membawa cangkul. Ia yang membantu saya menguburkan Oreo di bawah pohon ceri. Saya ingin saya sendiri yang memasukkan Oreo ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mungkin hanya itu yang bisa saya lakukan untuk terakhir kalinya. 

"Mama, nanti di surga kita berjumpa Oreo lagi, gak?" tanya anak saya sambil menangis. Saat itu saya tidak bisa berkata-kata. Pertanyaannya membuat perasaan saya makin sedih. Saya hanya bisa mengangguk.

"Aku mau ketemu Oreo di surga." Dan tangisnya makin kencang. Saya memeluknya erat.




Selamat Datang Larry


Sekitar 12 jam setelah kematian Oreo, teman saya mengantarkan seekor anak kucing ke rumah. Katanya untuk melipur kesedihan anak saya. Saya memutuskan untuk menerima kucing tersebut karena tidak tega melihat keadaan anak saya yang terus bersedih. Dia jadi tidak mau makan dan minum, tidak mau bermain, dan tidak mau mandi. Setiap saat yang dia sebut Oreo. Sore hari badannya jadi panas. Saya panik. Untunglah teman saya mau membantu. Ia berikan salah satu anak kucingnya kepada kami.

Anak kucing itu diantar ke rumah sekitar pukul 8 malam. Dibawa pakai motor, dimasukkan ke dalam kardus yang dibolongi di beberapa tempat. Ketika dikeluarkan, ia langsung meloncat dan mengeong kencang. 

"Hallo, selamat datang ke rumah kami."

Itulah kata pertama yang saya ucapkan pada anak kucing kecil itu. Usianya sekitar 2 bulan. Warna bulunya dominan putih dengan belang coklat keemasan di bagian telinga, kening, punggung, dan ekor. Cantik! 

Si embak yang mengantar bilang jenis kelaminnya betina. Lalu, oleh anak saya diberi nama Lacey. Nama itu dia ambil dari nama kucing yang ada dalam buku bacaannya. Tapi esoknya saat diperiksa ulang ternyata jenis kelaminnya jantan, dan nama pun diubah jadi Larry.

Nama Larry berasal dari kata LARI. Dinamakan Lari karena anak kucingnya sangat aktif, suka lari-lari dan meloncat kesana kemari. Biar keren, LARI saya eja dengan LARRY. Larry sangat lincah, berbeda sekali dengan Oreo yang kalem dan tidak berisik.  




Pertama datang, Larry langsung kami beri makan dan minum. Kebetulan stock makanan punya Oreo masih sangat banyak, jadi malam itu si Larry bisa makan kenyang. 

Oh ya, rupanya si Larry belum mengerti di mana tempat pup. Saya sediakan wadah berisi pasir, malah dipakai untuk main guling-guling. Perlu 3 hari untuk toilet training. Saya coba dengan mendekatkan hidungnya ke pasir, eh malah kabur. Setiap habis makan, saya taruh dalam pasir, malah main guling-gulingan lagi. Padahal maksudnya biar dia pup dan pipis di sana. 

Tadinya kalau mau pup dia mendekati lubang di area cuci pel. Tapi pupnya bukan di lubang, melainkan di lantai dekat lubang. Lumayan 3 hari membersihkan sendiri semua kotoran itu. Jijik sih enggak ya. Tapi baunya yang ga nahan. Apalagi Larry kan makannya sarden, bau kotorannya tajem banget. Kalau mau membersihkan kotorannya, saya mesti berpakaian seperti astronot. Eh, ga ding hehe. Cuma pake masker 2 lapis dan pake sarung tangan karet. Trus kalau sudah, seluruh area tempat buang pup dan pis nya itu saya siram dengan karbol. Biar wangi dan bebas kuman.

Larry agak rakus. Berapapun banyak makanan yang diberikan pasti habis. Dan cara makannya sangat berbeda dengan Oreo. Kakinya sampai masuk ke dalam piring. Sarden 3 sendok (tanpa dicampur apapun), habis dalam sekejab. Bongkahan sarden yang besar-besar itu masuk semua ke dalam mulut kecilnya. Kalau Oreo, biasanya dijilat-jilat dulu, trus digigit sedikit-sedikit. Ga habis dalam sekejab seperti Larry. Oreo biasanya kalau diberi 2-3 kali dalam satu waktu, pasti ga habis. Kalau si Larry, sudah kenyang masih saja membuntuti sambil mengeong. Pantesan perutnya gendut. Ketika Oreo seusia Larry, badannya memang ga sebesar Larry. 

Alhamdulillah kehadiran Larry kembali membawa keceriaan di dalam rumah. Rasa kehilangan Oreo perlahan mulai terobati. Meski demikian, rasa rindu pada Oreo tetap ada. Dan ketika merindukannya, saya terkenang ketika pertama kali memungutnya dari dalam got. Kecil, kelaparan, terluka, dan kedinginan. 

Allah menitipkan Oreo pada kami hanya 9 bulan lamanya (Juli 2014-Maret 2015). Semoga segala kekurangan dan kesalahan yang kami lakukan selama merawat dan menjaga Oreo, Allah berikan ampunan. Aamiin.


Selamat jalan Oreo, selamat datang Larry

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

18 comments

Write comments
24 Maret 2015 12.54 delete

Lucu si larry, aku suka yang waranya cokalt. Ngerawat kucing kayak ngerawat anak. yang bikin nggak kuku itu mini padi ..... lenctiknya kucing kucing sekarang :)

Reply
avatar
24 Maret 2015 13.02 delete

Iya mbak, seperti merawat anak, dan itu yang menumbuhkan rasa sayang dan cinta. Makanya saat meninggal, terasa betul kehilangannya. Hehehe....lenctik :D

Di tempat biasa aku beli makanan kucing itu ada kucing bengali (kucing India). Warna bulunya mirip macan tutul. Ada tutul-tutul coklat dan hitam gitu. Besar pula.Cakep tapi serem. Apa semua kucing di India seperti itu mbak?

Reply
avatar
24 Maret 2015 14.51 delete

Aaahh.. udah ada gantinya ya si Oreo? Manis banget nih si Larry..

Reply
avatar
24 Maret 2015 16.21 delete

Namanya lucu, Larry karena suka lari2... hihihi. Bulunya mulus. Semoga lari doyan makanannya dan cepet gede, ya... ira

Reply
avatar
24 Maret 2015 16.28 delete

Alhamdulillah. Iya, mbak :)

Reply
avatar
24 Maret 2015 16.29 delete

Aamiin. Terima kasih, Mbak Ira. Iya, aktif sekali kucingnya. Banyak gerak banyak suara :D

Reply
avatar
24 Maret 2015 16.47 delete

Kalau liat lucunya pas kecil memang masih imutan si Oreo ya.
Oreo pasti tidak akan bisa digantikan oleh Larry, namun Larry pasti bisa menghibur dan mewarnai hari-hari keluarga Mbak Rien dengan keceriaan dan tingkahnya yang lucu,

Reply
avatar
24 Maret 2015 20.20 delete

Betul, Wan. Mungkin karena saat ditemukan pertama kali, usia Oreo lebih muda dari Larry. Oreo jadi lebih imut :)
Iya, rasanya sulit tergantikan. Allah mengirimkan Oreo kepada kami dalam keadaan tak terencana dan tak terduga. Ia nyaris mati di dalam got, sendirian dan sangat menderita. Kami memeliharanya karena ingin menyelamatkannya. Dan kemudian membuat kami jadi sangat menyayanginya. Sedangkan Larry hadir dalam situasi yang berbeda. Meskipun begitu, kami punya rasa sayang yang sama terhadap Larry :)

Aamiin. Terima kasih, ya, Wan :)

Reply
avatar
24 Maret 2015 22.37 delete

mampir ya kunjungan perdana, mengingatkan kucing saya dirumah

Reply
avatar
25 Maret 2015 01.59 delete

Aduh, namanya lucu-lucu kali mb Rien, satu Oreo satu Larry, hahaa..tapi kucingnya so cute.
Aku suka kucing gak suka miaranya :D

Reply
avatar
25 Maret 2015 07.39 delete

oreo itu warnanya kayak salah satu kucing saya. namanya ukang :)

Reply
avatar
25 Maret 2015 07.42 delete

si oreo warna bulunya mirip salah satu kucing saya. namanya ukang :)

Reply
avatar
26 Maret 2015 07.56 delete

Terima kasih atas kunjungannya :)

Reply
avatar
26 Maret 2015 07.58 delete

Iya lucu. Nama yang kami kasih biasanya sesuai dengan karakter kucingnya. Kalo nama Oreo karena bulunya hitam putih mirip biskuit Oreo. Kalo Larry karena suka lari-lari :))

Reply
avatar
26 Maret 2015 08.02 delete

Hai Yana. Nama kucingmu unik, Ukang :)

Reply
avatar
27 Maret 2015 07.00 delete

Sedih ya Zahra. Mbak aja sampe sekarang kalo teringat masih sedih. Kadang sampe nangis :(

Reply
avatar
31 Maret 2015 17.41 delete

welcome Larry... gemeess ya sama amata kucing yang imyut imyut.. kl yang galakk jadi ngeri takut digigit.. *emang kucing nggigit yaa?

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon