Dimuat Di Suara Merdeka Minggu 14 Sept 2014

08.32 Add Comment

 Assalamu'alaikum Wr Wb

"Telah 69 tahun sejak kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan dan sejak itu telah membuahkan sejumlah perubahan. Kemerdekaan telah memberi keleluasaan pada warga negara untuk berbuat lebih banyak, hidup lebih baik, dan menjadi lebih beradab. Namun, nun jauh di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, warga Suku Baduy menolak kemajuan jaman. Kehidupan mereka menyatu dengan alam, tak mengikuti segala perubahan yang terjadi di jaman kemerdekaan.

Suku Baduy merupakan salah satu suku tradisional Nusantara dari kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda. Suku ini terdiri dari dua kelompok, yaitu Suku Baduy Luar dan Suku Baduy Dalam. Dari dua kelompok tersebut, warga Suku Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka ketimbang Suku Baduy Luar. Kendati demikian, mereka sama-sama memiliki kehidupan yang menarik untuk diselami...."  


**** 

Alhamdulillah dimuat di koran Suara Merdeka, hari Minggu tanggal 14 September 2014. 
Dalam artikel ini tulisan yang saya buat lebih fokus pada kehidupan unik Suku Baduy. Artikel dapat di baca di halaman http://epaper.suaramerdeka.com/


Bye

19.58 2 Comments
Sumber foto di sini

Ini bagi saya: jika terucap 'bye', berarti tak akan ada lagi perjumpaan (di dunia). Makanya saya tidak pernah mau mengucapkan kata itu apapun bentuk perpisahannya dan dengan siapapun perpisahan itu terjadi.

Tapi 3 hari ini, 3 orang yang saya kenal, pergi meninggalkan dunia.

Bye.

3 hari berturut-turut berita kematian itu.
Sungguh ini sebuah peringatan, bahwa hidup ini begitu singkat. Tinggal menunggu giliran.

Dan seharian ini, sejak pagi hingga jelang malam hari, berada di Bekasi yang panas dengan seseorang yang hampir kehilangan nafas, saya menggigil.

Akankah ujung September ini benar-benar penuh berita kematian?





Rumah Jepang Di Taman Wiladatika

11.37 4 Comments

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Ternyata di Taman Wiladatika, Cibubur, ada Rumah Jepang. Bukan sekedar rumah berarsitektur ala Jepang, tetapi juga lengkap dengan taman bergaya Jepang. Rumah Jepang ini biasanya disewakan untuk acara tertentu seperti pernikahan, reuni, gathering, maupun acara kumpul keluarga. 

*Suasana Jepang di area ini lumayan terasa. Jadi, buat yang ngebet pingin liat Jepang, boleh juga untuk datang ke sini dulu. Lumayan dapat suasananya :D


Di taman, banyak pohon tinggi besar dan rindang. Saya suka melihatnya. Selain asri, udara di sekitar taman juga jadi sejuk. Orang-orang tampak betah berlama-lama duduk di bawah pohon. Meskipun sudah lama tak diguyur hujan, rumput-rumput di taman tetap terlihat hijau. Area terbuka taman terbilang luas, cocok untuk tempat bermain anak-anak. Sewaktu ke sana suasananya tidak ramai, padahal weekend. Jadi cukup tenang.



Kondisi taman yang diresmikan mantan presiden Soeharto pada tahun 1980 ini terawat. Memang tidak bisa dibilang indah banget, tapi tetap menyenangkan untuk dikunjungi. Terdapat saung dan juga bangku-bangku di taman. Ada kolam di bawah pohon besar, dan di kolam itu ada perahu mini yang disewakan untuk anak-anak bermain. Harganya hanya Rp 10.000 per 15 menit. Ada juga becak mini yang bisa disewa dengan harga Rp 10.000. Bisa dipakai untuk keliling taman sampai puas. Saya sempat mencoba jadi ibu becak, dan anak saya jadi penumpang becak. Seru! :D 


Taman ala Jepang

Di dekat Rumah Jepang ada kolam renang, namanya kolam Tirta Teja. Masuk ke kolam ini bayar Rp 20.000 per orang. Kalau weekend Rp 25.000  per orang. Kolamnya terdiri dari 2 kolam, kolam anak dan kolam dewasa. Yang saya suka, kondisi sekitar kolam ini bersih. Tidak jorok. Sama seperti taman rumah Jepang, suasana di kolam tidak terlalu ramai. Berenang juga jadi lebih nyaman. 

*Saya baru tahu kalo di taman ini ada kolam renangnya segala. Padahal sebelumnya sudah 2 kali ke tempat ini.


Taman Wiladatika letaknya di Cibubur. Dari Jakarta keluar tol Cibubur, sekitar 500 meter dari bumi perkemahan Cibubur. Dekat dengan Cibubur Junction. Harga tiket masuk per orang hanya Rp 6.000. Di area seluas 32 hektar ini terdapat Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pramuka Nasional (Pusdiklatnas), Olah raga dan gedung pertemuan. Selain itu terdapat juga fasilitas outbond, kolam renang, tenis, dan penginapan yang menampung 500 orang. Biasanya lapangan Gajah Mada yang berada dalam area ini dipakai untuk Upacara HUT Gerakan Pramuka 14 Agustus dengan Pembina Upacara Presiden.

*Saya mampir ke sini biasanya buat beli madu Pramuka. 

Informasi lengkap tentang Taman Wiladatika bisa dilihat di website berikut :  http://pramuka.or.id/news/taman-rekreasi-wiladatika.php

Silakan mencoba berkunjung sambil mengajak anak-anak bermain di akhir pekan :)


Kelas Travel Writing #2 @AkberDepok

07.50 2 Comments

Assalamu'alaikum Wr Wb

Please READ MORE, TRAVEL MORE, WRITE MORE !

Ini most tips travel writing yang paling saya ingat, yang dibagi oleh mbak Fira Abdurahman di kelas Travel Writing #2 kemarin, Sabtu 13 September 2014. Buat saya ini menohok, karena selama ini write iya (ga pake more pula hehe), tapi travel more dan read more enggak. Padahal untuk jadi travel writer ketiga hal itu mesti seiring sejalan saling bergenggaman tangan *lho.

Alhamdulillah kemarin bisa turut belajar di Akademi Berbagi. Saya datang karena memang ingin belajar. Hobi jalan dan nulis ini jika disertai dengan ilmu tentu akan lebih berarti dan bermanfaat. Apalagi sejak kenal sama mbak senior yang telah mengenalkan saya ke media (lirik mbak yang di Jerman sono), rasanya makin ingin jadi penulis yang baik. Dan saya ingin belajar dari mana saja, termasuk dari Akber ini.

Good writer : Responsibility, honest, trusted, cover both side.

Cover both side. Ini kosa kata yang melekat di otak saya kemarin. Bukan apa-apa, saya sendiri kadang abai pada prinsip ini. Dalam terminologi jurnalistik, cover both side artinya berimbang. Netral. Tidak memihak. Prinsip ini penting karena tujuannya untuk menghormati hak masyarakat memperoleh informasi yang benar. Sesuatu yang penting tentunya. Mengingat belakangan ini media (no mention-lah) mulai banyak keluar dari prinsip ini. Kosa kata ini jadi reminder yang bagus banget buat saya ;)


"Untuk jadi penulis, lo harus kaya!"

Tahu ga sih kaya yang dimaksud oleh mbak Fira itu apa? Kaya vocabulary. Ya, kalau mau jadi penulis jadilah orang yang kaya vocabulary. Lalu: baca, baca, baca, be yourself. Terakhir, biasakan untuk menulis apapun (kecuali curhatan alay kali yeee hehe). Tips ini tamparan banget deh buat saya yang masih miskin vocabulary :)

Title and Lead
Title and lead are sibling. Stealing the eyes (jadi ingat tip mbak Irawati tentang title dan lead yang 'catcher). Title -> simple but WOW (funny, firm, clear, conclution). Lead -> make them keep reading (melalui story, questioning, scary, etc..). Ya, pas banget bagian ini. Pas saya lagi mikirin kenapa selama ini saya ga bisa-bisa bikin judul yang bombastis dengan isi yang fantastis :))

How to be good

Find something new. Find something different. Emphaty. Sharf knife. Dan yang penting lagi: Zero ego. Hoho...bisa ga sih zero ego? *mikir* :D 


Para penerima souvenir dari mbak Fira :D
*yang main teater boleh juga aktingnya :))

Masih banyak lagi ilmu yang saya dapat di kelas ini. Walaupun beberapa sudah pernah saya ketahui lewat teks di buku maupun artikel-artikel online dan offline, tapi ketemu langsung dengan yang share bisa lebih jelas (karena bisa langsung tanya-tanya dan diskusi). Pengalaman yang dibagi oleh mbak Fira (saat ini aktif sebagai travel writer di Kompas.com) tentunya jadi pencerahan buat saya. Apalagi cerita-cerita unik yang dialaminya kala melancong ke berbagai negeri di luar sana.

Seusai mengikuti kelas, saya sampai berucap banyak dalam hati, "Oh iya ya, saya kalo nulis tuh ternyata masih begini. Pantesan ga ada gregetnya. Pantesan ga 'laku. Pantesan bikin bosan." Kayak orang baru ngeh gitu lho. Ya emang pada dasarnya saya pemula yang masih belajar sih ya :D

Hore jumpa Talita

"Karena berbagi bikin happy"
Kalimat itu saya baca di rubrik Let's Share Majalah Scarf Vol.7 (inget lho, di Vol 7 ini ada tulisan saya di rubrik travelogue * halah :p ). Di edisi inilah pertama kalinya saya tahu tentang Akademi Berbagi (akber). Ainun Chomsun yang disebut sebagai pencetus Akademi Berbagi menyebutkan bahwa Akademi berbagi adalah gerakan sosial untuk mengajak orang belajar, berjejaring, dan berbagi dengan menggabungkan online dan offline berbasis volunteering

Akademi Berbagi lahir pada tahun 2009. Memiliki perwakilan di setiap daerah, hampir di seluruh Indonesia. Kabarnya sampai saat ini ada 45 kota yang memiliki Akber. Tentang Akber dan kegiatannya bisa dibaca di http://akademiberbagi.org/ Mengenai pengajar di Akber adalah orang-orang yang sudah ahli dibidangnya. Yang bikin saya salut tuh, ternyata para pengajarnya hanya ingin berbagi tanpa balasan materi. *acung 2 jempol*

Ya gimana ga salut ya, hari gini gitu lho. Punya ilmu dikit minta bayaran. Banyak apalagi, makin banyak pula bayarannya (masih mending kalo ga plus belagu :D ). Karena itulah, lewat blog saya yang penuh foto narsis ini saya mau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya pada segenap panitia Akber Depok, juga untuk mbak Fira yang telah membagikan ilmunya kepada kami. Saya juga berterima kasih kepada Talita.Z dari Scarf Magazine yang sudah mengundang saya ke acara ini. Seneng deh akhirnya ketemu setelah biasanya cuma chat lewat WhatsApp :)

Bersama Sinta dan Mbak Nanit, dan 2 teman baru lainnya

Teman baru dan reuni geng Derawan

Hehe... ya ini cerita tambahan di Akber kemarin. Selain dapat ilmu, saya juga dapat teman baru yang punya minat dan hobi yang sama. Alhamdulillah. Yang cetar banget sih ya kemarin bisa ketemu lagi sama mbak Nanit dan Sinta. Mereka temen jalanku waktu ke Kepulauan Derawan April lalu. Kangen saya sama 30 orang geng Derawan udah numpuk (kangen ngetrip bareng lagi), dan kemarin akhirnya terobati walau cuma 2 orang saja yang saya jumpai :D Thanks mbak Nanit yang udah traktir makan siangku. Sering-sering ya mbak :))

Sampai jumpa di kelas travel writing selanjutnya.
Ayo yang mau joint silakan pantau terus twitternya Akber di @AkberDepok

Salam travel!


Trio Macan :D


Ke Garut, Kamu Mesti Ke Sini

05.30 Add Comment
Ini tempat terkenal banget. Ada hot spring, waterboom, dan ember tumpah. Bisa trekking ke puncak, berkuda, dan main flying fox terpanjang di Garut. Setelah berada di puncak, bisa lihat panorama alam Garut yang bikin kamu malas turun.

Brassica Napus. Hanya berbunga sebagian. Ketika semuanya berbunga, tumbuhan semi-winter type penghasil minyak penting bernama rapa ini pasti akan menjelma serupa permadani kuning di kaki-kaki bukit. Dan saya langsung teringat Ping'an village :D

Sepintas seperti kawah biasa yang muncul di antara hutan belukar. Padahal inilah kawah vulkanik pertama di Indonesia yang dieksploitasi sebagai sumber energi panas bumi dan telah dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1928. Yang ini kini kering kerontang, tak lagi aktif. Tetapi yang lainnya masih mengeluarkan panas bumi dan masih dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi oleh Pertamina. Unik dan bersejarah.

Dimuat Di Majalah Flona Edisi 141 Bulan September 2014

11.18 2 Comments
Assalamu'alaikum Wr Wb,

''Beraneka ragam biota laut dan ratusan jenis terumbu karang yang begitu indah dan masih alami menjadi daya tarik pulau ini. Tentunya sangat ideal untuk snorkeling dan diving."

Kalimat di atas merupakan petikan dari artikel saya yang dimuat di Majalah Flona edisi Septermber 2014, berjudul: Menyelam Bersama Penyu-Penyu Raksasa Di Pulau Maratua.

Yuk beli majalahnya supaya bisa baca artikel lengkapnya. Empat halaman artikelnya disertai dengan foto-foto underwater Pulau Maratua yang menakjubkan ^_^





Dimuat Di Majalah Anakku Edisi Agustus 2014

13.26 Add Comment
Assalamu'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah dimuat di Majalah Anakku edisi bulan Agustus 2014.

Judul: Bermain dan Berwisata Kuliner di Pasar Terapung Lembang

"Menikmati wisata kuliner yang berpadu dengan wisata alam di Pasar Terapung Lembang patut menjadi alternatif pilihan berlibur bersama keluarga......"

Silakan baca artikel selengkapnya di Majalah Anakku. Yuk dapatkan majalahnya segera ^_^