Eureca! Enak Makanannya, Cozy Tempatnya

23.25 1 Comment

Eureca! Akhirnya saya menemukanmu ! 

Saya baru tahu ada kafe ini sewaktu ada acara kumpul bareng teman-teman sesama artis *artis RT*. Ceritanya reuni kecil-kecilan, sambil sarapan pagi dan ngobrol ngalor ngidul *tanda orang ga punya kerjaan yak*. Pas dapat tempat ini, eh beruntung banget, soale teman-teman langsung pada suka. Tempatnya chic and cozy. Sarapan sesaat jadi berlipat-lipat waktunya. Sampe ga sadar mendekati waktu lunch. Alamak...

Ternyata Eureca baru 3 bulan buka (sejak Des 2013). Masih baru, pantesan sebelum-sebelumnya ga pernah lihat. Buka setiap hari mulai dari 06 AM - 09 PM. Nih kafe cuma 2 lantai, maklum ruko. Deretan ruko tempat Eureca ini kebanyakan adalah tempat makan tapi menu yang dijual adalah menu tradisional. Jadi, Eureca ini memang beda sendiri.


 
chic and cozy

Menu makanan yang tersedia terdiri dari: 
  • Soup : Minestrone, Soup of the day
  • Salad : Chicken salad, Green salad, Caesar salad
  • Snack : Buffalo chicken wings, French Fries, Mashed Potato
  • Pancakes and savoury crepes : Pancakes, Egg and bean, Smoked beef and cheese crepes, Egg white and cheese crepes, sweet pancakes.
  • Melt and sandwich : Garlie bread, Panizza, Scramble egg-tofu and sausage, Chicken-corn and avocado, Mix berry chicken, Eureca sampler, Combo Buns.
  • Pasta : Pasta Aglio Olio, Bolognaise, Primavera,Carbonara, Chicken and Broccoli. with the coice of pasta: spaghetti, fettuccine, penne.
  • Rice and potato
  • Dessert : Coconut Creme Brulle, Cinnamon Apple roll, Banana choco nuts crepes, strawberry yoghurt crepes, Chocolate molten cake.
 
Pasta Aglio Olio

Untuk minuman tersedia:  
  • Coffee : Espresso, Eureca black coffee, cappuccino, mochaccino, affogato, cafe latte, cafe mocha latte, hot chocolate.
  • Hot Teas : Organic tea. English breakfast, jasmine, peppermint, chamomile.
  • Ice Teas : Ice tea, ice lemon tea, flavour lychee tea.
  • World's best milkshakes : Chocolate, strawberry, Vanilla or green tea.
  • Smoothies : Eureca Espresso Smoothies
  • Mocktails : Tasty fruit punch.
  • Juices : Guava, Pineapple, Orange.
  • Fresh : Watermelon, strawberry, or tomato.
  • Mixed juices : Orange + tomato
  • Soft drink : Coke & Sprite.
  • Mineral water : Aqua.
 Eureca Espresso Smoothies

Keunggulan Eureka adalah pada penyajian makanan/minumannya yang detail dan ciamik. Soal rasa makanan, lezat! Kalau bicara soal harga, sesuailah dengan tempatnya, suasananya, penyajiannya, juga pada rasa makanan dan minumannya yang membuat saya bilang : Mantaaaap....!

Agak siangan, sekitar jam 9, pengunjungnya mulai ramai. Kebanyakan yang datang ibu-ibu berjilbab dengan dandanan modis. Para sosialita yang nongkrong membahas busana dan perhiasan hehe

Eureca!
Healthy breakfast to start your day!

Saya mau makan di sini lagi, asal ditraktir :D


Eureca BSD City


Dimuat Di Suara Merdeka Minggu 23 Maret 2014

06.54 Add Comment

Assalamu'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah. Artikel saya berjudul Jembatan Cinta Pulau Tidung dimuat di Suara Merdeka Minggu 23 Maret 2014.

Artikel untuk Suara Merdeka ini baru saya kirim pada Selasa 18 Maret. Ternyata langsung dimuat pada Minggu 23 Maret. Sekedar info, rubrik Jalan-Jalan Suara Merdeka biasanya terbit setiap hari Minggu. Sayang saya tak mendapatkan koran versi cetaknya, tapi tak apa, masih bisa lihat dan mendapatkan capt-nya dari epaper Suara Merdeka.

Terima kasih mbak Irawati atas bimbingan dan ilmunya.

Rubrik Jalan-Jalan Suara Merdeka

Artikel ini menceritakan tentang Jembatan Cinta yang menjadi ikon di Pulau Tidung. Tempat di mana para wisatawan tak pernah lupa melewatkannya setiap kali berkunjung ke Pulau Tidung. Selain Jembatan Cinta, Pulau Tidung juga memiliki water sport center dan aneka wisata menarik lainnya. Semua itu aku tuliskan dalam artikel. Buat yang ingin baca, bisa beli korannya ya *eh udah lewat hari ding hehe* atau bisa juga baca di epaper Suara Merdeka (registrasi dulu biar bisa login).


Mari berkarya, berbagi, dan menjadi bermanfaat.

Salam
Katerina




Dimuat Di Scarf Magazine Vol.7 Edisi Womenesia 1st Anniversary

11.06 11 Comments



Assalamu'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah dimuat di majalah Scarf.


Artikel yang saya tulis ini bercerita tentang pengalaman berkunjung ke kawasan Gunung Bromo. Sebuah pengalaman yang selalu indah untuk diceritakan ulang, bahkan berulang-ulang. Jika tahun 2013 lalu VivaLog dan Daihatsu memasukkan kisah Bromo sebagai nominasi pada ajang lomba blog Terios7Wonders, maka kali ini tim majalah Scarf memilihnya untuk menampilkannya dalam Travelogue edisi Womenesia. Alhamdulillah.



Artikel Bromo

Norak-norak bergembira

Ini pengalaman spesial. Spesial karena untuk pertama kalinya tulisan saya dimuat di media cetak. Spesial karena di muat di majalah muslimah urban fashion. Spesial karena dimuat di edisi Womenesia. Spesial karena dimuat pada moment 1st anniversary majalah SCARF. 

Spesial karena di edisi womenesia ini ukuran majalahnya lebih besar dari ukuran terbitan sebelum-sebelumnya.

Spesial karena yang mengenalkan saya ke majalah ini  (termasuk ke editornya) adalah mbak Irawati Prilia. Seorang travel writer aktif yang artikel travelingnya telah dimuat di berbagai media cetak (koran dan majalah), juga di media online. Terima kasih mbak Ira.



Nampang bareng Whulandary Herman (Putri Indonesia 2013)  
di halaman The Team sebagai kontributor travelogue




Buat kamu muslimah yang melek mode dan segala sesuatu yang berkaitan dengan fashion, namun sesuai dengan citra dirimu sebagai muslimah, majalah Scarf cocok buatmu. Aku baru kenal dengan majalah ini, dan ternyata langsung jatuh hati. Penasaran dengan isinya yang serba serbi? Beli deh Majalah Scarf. Atau bisa follow twitternya di SCARF on Twitter

Sensasi Mie Kocok Iga Kikil Cihampelas

05.21 Add Comment
 


Assalamu'alaikum Wr Wb


Kuliner khas Bandung yang satu ini sedari awal memang sudah saya niatkan untuk tidak dilewatkan. Berhubung waktu itu posisi sedang di Cihampelas, jadi saya memburunya di sekitar Cihampelas.  Alhamdulillah ketemu, Mie Kocok GAKIL namanya. Letaknya sekitar beberapa ratus meter sebelum Hotel Amaris Cihampelas. Cuma kedai mie kocok ini yang terdekat dan mudah dicapai saat itu.

Dari tepi jalan Cihampelas yang padat, kedai mie kocok GAKIL mudah sekali kelihatan. Tulisan mie Kocok GAKIL yang disertai gambar-gambar mie dalam berbagai variasi menu, terpampang besar-besar di depan kedai. Dengan melihat gambarnya saja sudah menggiurkan, apalagi mencicipinya langsung. 



 Kedai Mie Kocok dan Ayam Cobek Cihampelas

Area parkir di kedai ini sangat terbatas. Hanya berkapasitas 3-4 mobil. Area parkirnya pun sangat dekat dengan bahu jalan. Di sebelah kedai ada minimarket Indomart, area parkirnya kerap kosong. Kata seorang pelayan, jika parkiran kedai sedang penuh, pengunjung biasanya numpang parkir di depan Indomart itu.

Di bagian depan kedai juga terpampang besar-besar tulisan Ayam Cobek Langganan Khas Rasanya. Sepertinya kedai ini memang bukan hanya punya menu mie kocok, tapi juga punya ayam cobek sebagai menu andalan. Berhubung saya datang untuk makan mie kocok, jadi saya tak mencicipi menu ayam cobek.

Mie kocok di sajikan dalam beberapa variasi, antara lain : mie kocok dengan iga/kikil/baso, mie kocok dengan iga kikil, mi kocok dengan iga kikil bakar, mie kocok ayam baso, dll (aneka menu mie kocok bisa dilihat pada gambar daftar menu di bawah). Jadi, selain iga/kikil yang disajikan biasa dan spesial (tanpa dibakar), juga ada yang spesial dengan dibakar terlebih dahulu. Kalau menurut saya, sensasi mie kocoknya lebih nendang dengan iga dan kikil yang dibakar. Lebih gurih dan lezat. Porsinya lumayan besar, bikin kenyang untuk sekali makan.

Mie Kocok Iga dan Kikil Bakar Spesial

Kelapa Muda Float

Daftar minuman yang tersedia standard saja. Sama seperti kebanyakan kedai makan lainnya. Tapi Kelapa Muda Float-nya cukup spesial. Minuman ini merupakan minuman favorit pengunjung. Hal itu terlihat dari minuman yang dipesan pengunjung lain, kebanyakan Kelapa Muda Float.

Untuk tempat memang tidak terlalu luas. Mungkin bisa menampung sekitar 30-35 pengunjung saja. Pelayanannya cukup baik dan cepat. Untuk pembayaran bisa dilakukan dengan tunai, debet, dan juga kredit. Cukup modern. Tempatnya juga bersih. Kekurangannya mungkin karena letaknya terlalu dekat dengan jalan raya, jadi agak bising oleh suara motor dan klakson angkot. Apalagi suasana jalan di depan kedai selalu padat dan macet. Menginap di Hotel Amaris Cihampelas, membuat saya beberapa kali mondar-mandir melewati jalan ini. Jadi lumayan tahu keadaan lalu lintas di depan kedai.

Harga 1 porsi Mie Kocok Iga Kikil Bakar Spesial Rp 35.000,- 
Untuk 1 minuman Kelapa Muda Float Rp 15.000,-

Well, dengan harga segitu, tidak masuk budget backpacker sepertinya ya hihihi

Soal rasa, hmm...jika dideskripsikan dengan kata-kata, terkadang sulit juga. So,  just look at the pictures hehe. Atau, cicipi langsung saja biar tahu enaknya seperti apa :D

Menu makanan dan minuman

Kedai Mie Kocok Gakil atau disebut juga dengan Ayam Cobek Langganan (di struk pembayaran namanya sih Ayam Cobek Langganan), beralamat di : Jl. Cihampelas 314 BANDUNG No. Telp: 022-2033920.





Kapasitas parkirnya sedikit


Kopi Aroma, Kopi Legendaris Dari Bandung

10.33 1 Comment

"Wilt U heerlijke Koffie drinken? Aroma en smaak blijven goed. Indien U de Koffie van de zak direct in een gesloten stopfles of blik over plaatst. Niet in de zak lateen staan!"
 ~
Maoe minoem Koffie selamanja enak? Aromanja dan rasanja tinggal tetep, kaloe ini koffie soeda di boeka dari kantongnya harep dipindahken di stofles atawa di blik jang tertoetoep rapet. 

Djangan tinggal di kantong!

-Koffie Faberik AROMA Bandoeng- 

Demikianlah yang tertulis di kantong kemasan Kopi Aroma, baik jenis Robusta maupun Mokka Arabika. Kopi legendaris dari Bandung yang telah berdiri sejak 1930. Berlokasi di Jl. Banceuy No.51 Bandung, tempat toko sekaligus tempat diproduksinya Kopi Aroma.

Berkunjung ke pabrik Kopi Aroma, memang bukan sebuah keharusan. Namun mengetahui sejarah berdirinya pabrik kopi Aroma yang namanya begitu populer dan melegenda, serta sebuah rahasia tentang kopi enak yang tidak mengandung kadar asam tersebab disimpan 5-8 tahun sebelum diolah menjadi bubuk kopi, seperti pemicu untuk menjadikannya sebagai sebuah keharusan.

Pak Widyapratama, pemilik tunggal Pabrik Kopi Aroma menerima kehadiran saya. Beliau yang menemani saya keliling pbarik, menjadi guide, menerangkan hal-hal penting terkait sejarah berdirinya pabrik, serta proses produksi dengan peralatan yang terbilang kuno dan tua. 

Masuk dari toko, berarti dari ruang terdepan pabrik. Jika diuraikan dalam cerita, maka cerita tentang proses produksi kopi Aroma ini akan bermula dari proses akhir produksi. Saya tidak akan mengurutkan proses produksi dari awal, ataupun sebaliknya.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari dua tulisan sebelumnya, yakni: Ke Bandung Mesti Ke Faberik Koffie Aroma dan Lebih Dekat Dengan Pemilik Pabrik Kopi Aroma. Dan tulisan ini menjadi penutup dari dua tulisan tersebut.

Tumpukan karung biji kopi

 Biji kopi baru masih berwarna hijau

Biji kopi harus dijemur sebelum diolah

Seperti yang telah saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, pabrik kopi Aroma berdiri sejak 1930. Pendirinya Tan How Sian, adalah ayah dari pak Widya (sapaan Pak Widyapratama). Pak Widya tak hanya mewarisi pabrik dengan segala peralatan produksinya, tetapi juga metode dan konsep yang dibuat ayahnya.

Dalam ruang pabrik yang tak terlalu luas, karung putih berisi biji kopi dari berbagai daerah, menumpuk di depan gudang penyimpanan. Siap untuk proses penyimpanan.  Sedangkan biji kopi yang sedang menjalani proses penyimpanan, tersimpan dalam karung goni berwarna coklat. Karungnya diletakkan dalam gudang lainnya. Ketika saya melongok ke gudang tersebut, astaga...tumpukan karungnya menggunung, Atap gudang saja hampir tak terlihat saking banyaknya.

Biji kopi yang baru tiba dan belum disimpan, warnanya masih kehijauan. Setelah disimpan, warna biji kopi baru berubah menjadi coklat kehitaman. Biasanya berat biji kopi tersebut akan menyusut dari berat sebelum disimpan. Ketika hendak diolah, biji kopi dijemur terlebih dahulu di bawah matahari. Jika hujan, tetap harus menunggu sampai ada matahari. Tempat penjemuran kopi di bagian belakang pabrik. Di antara tumpukan limbah kayu karet yang dijadikan bahan bakar untuk proses penggorengan biji kopi (menggoreng tanpa minyak / sangrai). "Yang butut itu rumah tinggal saya," kata Pak Widya sambil menunjuk bagian belakang sebuah bangunan. Saya melihat rumah yang dimaksud, lalu memandang raut muka pak Widya yang tersenyum. Senyum ikhlas. Diam-diam saya merasa malu pada pak Widya yang sangat bersahaja.

Proses pengolahan biji kopi dengan mesin dan manual



Dengan bahan bakar kayu limba, biji kopi matang sempurna

Kualitas terpilih, siap untuk di giling

Biji kopi disimpan antara 5 sampai 8 tahun. Tujuannya untuk menurunkan kadar asam pada kopi. Dan inilah rahasia kenapa perut saya aman ketika minum kopi Aroma. Maag saya tidak kambuh. Tidak seperti biasanya jika saya minum kopi merk lain. 

Lama penyimpanan biji kopi untuk membuat kopi Mokka Arabika adalah selama 5 tahun. Dan 8 tahun untuk kopi Robusta. Untuk kopi Mokka Arabika, Pak Widya memakai biji kopi yang didatangkan dari Aceh, Medan, Toraja, dan Flores. Sedangkan untuk kopi Robusta memakai biji kopi dari Lampung, Bengkulu, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Mesin dan peralatan pengolah benar-benar terlihat tua dan usang. Jauh dari kesan modern dan canggih. Pak Widya memiliki 2 mesin penggarang, yakni buatan 1930 dan 1936. Telah lebih dari 80 tahun dipergunakan, dan mesin itu masih berfungsi dengan baik. Setia mengolah kopi, bersama 9 pegawai pak Widya. Ya, hanya 9 saja pegawainya. Dan selalu sejumlah itu, walau orangnya silih berganti.

Barang-barang kuno : Kulkas, baskom, mesin kasir, stappler, timbangan




Sepeda tua buatan tahun 1930


Kesan tua dan kuno itu tak hanya pada mesin pengolah, tetapi juga pada beberapa benda lainnya. Hampir semua benda kuno itu buatan tahun 1930. Sejenak saya seperti memasuki mesin waktu, kembali ke jaman Belanda yang tidak tahu seperti apa suasana yang sebenarnya. Hanya dapat merasakan saja, betapa pabrik ini memiliki sejarah yang tentu sangat berarti bagi sang pemiliknya. Pak Widya tentu punya seribu kenangan bersama sang ayah. Di jaman ketika negeri ini belum merdeka.

Kulkas tahun 1930, merk General Electric Made in Usa, masih tegak berdiri di lorong dapur pabrik. Dibalut tipis oleh debu, tak digunakan. 3 unit sepeda ontel, diletakkan di dinding, dekat atap pabrik. "Dulu ayah saya naik sepeda itu untuk mencari biji kopi," kenang pak Widya. Saya memandangi sepeda-sepeda itu. Membayangkan seorang laki-laki berwajah Tionghoa, kencang mengayuh pedal, menyusuri jalanan Bandung tempo doeloe. Mencari penjual biji kopi.

Peralatan jadul lainnya seperti baskom yang seperti terbuat dari bahan serupa aluminium tebal, tempat menampung bubuk kopi yang keluar dari mesin penggilingan. Rasanya saya pernah melihatnya, dulu, di rumah tua punya nenek kakek saya. Mirip bak mandi bayi-bayi, tapi dengan cekungan yang agak dalam. Di meja pengemasan, ada stapller tahun 1930-an. Pak Widya mendekatkan stappler produksi tahun 2013, menyandingkannya dengan stappler jadul. Kontras sekali. Dua stappler beda jaman, di atas satu meja. Sama-sama berfungsi. 
Cukup banyak peralatan tua di pabrik ini. Setelah mesin pengolah, sepeda, kulkas, baskom, stappler, ada pula timbangan, bahkan mesin kasir. Sangat usang tapi bernilai sejarah. 

 Kantong Kemasan
 Proses Pengemasan

Antrian pembeli

Sementara saya dan Pak Widya berkeliling, produksi kopi terus berjalan. Suara kayu bakar dilahap api, berpadu dengan suara mesin penggoreng, juga kipas angin yang terus berputar ke arah tungku. Para pegawai tetap bekerja. Hanya satu dan dua di ruang produksi, di gudang penuh karung, dan di alat pemilah kopi (QC). Dua lainnya di ruang pengemasan bersama seorang putri dan istri pak Widya. Yang lainnya, di dekat tempat penjemuran, dan ruang belakang. Tak begitu terlihat apa yang sedang dilakukan.

Hingga 'tur' itu kelar, dan saya kembali ke ruang depan. Membeli 10 bungkus kopi, masing-masing 5 kopi Robusta dan 5 kopi Mokka Arabika. Dilayani langsung oleh Ci Nonik yang ramah, putri sulung Pak Widya. Sementara di toko, antrian panjang hingga keluar pintu, di atas trotoar. Rupanya pembeli makin ramai. Menarik sekali melihatnya. Satu-satunya toko dan pabrik Kopi Aroma yang 'kecil' dan tua ini, diminati banyak pembeli.

Kopi Aroma Bandung.
Label. Cita rasa. Dan legenda. Saya bersyukur mengetahui dan mengenalnya dari dekat.


Pengakuan masyarakat luas untuk Kopi Aroma Bandoeng


Bangunan Unik, Cantik, dan Megah Di Serpong Tangsel

22.01 Add Comment
 Froggy Floating Castle, BSD City.  
-Canon Ixus 200IS-

Froggy Floating Castle tampak atas
*sumber foto Froggy BSD*


Bangunan yang disebut floating castle with the highest suspended glass in the world ini, menggunakan 66 lembar kaca setinggi 10,8 meter tanpa sambungan dengan lebar 1,9 meter dan ketebalannya 19 milimeter yang dipasang dengan teknik digantung. Info lebih lanjut tentang Froggy bisa dibaca di sini --> Froggy BSD

 Ruko di Gading Serpong.
 -Ponsel Android Lenovo K860-

Ruko di Gading Serpong
 -Ponsel Android Lenovo K860-

Ruko-ruko baru dengan arsitektur klasik ala Eropa. Berada di jalur baru Gading Serpong - BSD, lewat Summerecon (jalan belakang tembus ke Froggy Floating Castle, BSD City). Masih banyak kosong, karena baru. Jumlah unitnya banyak, ratusan. Letaknya memanjang sepanjang sisi jalan utama.

Surya Research and Education Center (SREC), Gading Serpong

Gedung berbentuk bulat dengan luas 5.800 meter persegi ini dibangun dengan konsep fisika yang diterjemahkan oleh arsitek Hendrajaya Isnaeni. Wujud kecintaan Prof Yohanes Surya terhadap pendidikan bagi anak-anak dari daerah tertinggal, salah satunya Papua. Terletak di depan kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong. Info lebih lanjut mengenai SREC dapat dibaca di sini --> SREC


Kampus Swiss German University (SGU), BSD City (tampak samping)
 -Ponsel Android Lenovo K860-


Kampus Swiss German University (SGU), BSD City (tampak depan)

 -Ponsel Android Lenovo K860-

Swiss German University (SGU), BSD City
Peringkat ke 2 dari 8 universitas termahal di Indonesia. Berdiri pada tahun 2000, SGU merupakan kampus bernuansa internasional pertama di Indonesia. Dengan suasana kompleks yang nyaman dan asri, kampus yang berlokasi di BSD ini menetapkan biaya kuliah mulai dari Rp24 juta-Rp28 juta per semester. Jadi, untuk memperoleh gelar S-1, orangtua harus mengeluarkan dana sebesar Rp223 juta-Rp247 juta. Kehadiran tenaga pengajar asing, menjadi salah satu alasan kampus ini mematok harga yang cukup mahal. Sebelum memiliki gedung sendiri di edu town BSD City, kampus SGU 'numpang' di gedung German Center.Tentang SGU bisa dilihat di situs ini --> SGU BSD.

German Centre, BSD City.
*sumber foto --> German Center Indonesia*

German Centre BSD City masuk dalam jaringan German Centre seluruh dunia. Mantan Kanselir Jerman Helmut Kohl pernah mengunjungi German Centre pada periode sebelum tahun 2009. Lebih dari 100 perusahaan Jerman dan perusahaan Eropa berkantor di German Centre. Sebelum memiliki gedung sendiri, kampus SGU (Swiss German University) tadinya di German Centre ini. Gedung berlantai tujuh ini berarsitektur modern dan dilengkapi infrastruktur teknologi komunikasi yang canggih. Memiliki kualitas bangunan yang sangat baik, bahkan disebutkan mampu bertahan hingga 100tahun. Dibuka untuk pertama kalinya pada tahun 1999. 

Info lebih lanjut bisa di baca di sini --> German Centre Worldwide. 



Serpong, Tangerang Selatan. Provinsi BANTEN - INDONESIA

Islamic Book Fair 2014, Istora Senayan Jakarta

13.12 Add Comment
Mbak Yayah dan Indah *Foto oleh Indah*

Assalamu'alaikum Wr Wb

Alhamdulillah berkesempatan berkunjung ke Islamic Book Fair 2014 di Istora Senayan Jakarta. Meskipun IBF telah berlangsung sejak 28 Februari 2014, saya baru bisa datang di hari terakhir yakni Minggu tanggal 09 Maret 2014. Ini kali kedua bagi saya datang ke IBF. Terakhir datang ke IBF pada tahun 2009 lalu. Terbilang lama karena telah 4 kali berturut-turut tidak hadir pada event pesta buku yang diselenggarakan setiap tahun ini.

IBF di hari terakhir benar-benar diserbu pengunjung. Suasananya sangat padat. Bahkan arus pengunjung di sepanjang koridor Istora Senayan berjalan sangat lambat. Ketika datang saya langsung fokus mencari toilet dan musola untuk menunaikan salat dzuhur. Setelah itu langsung menuju panggung utama dimana akan berlangsung acara meet and greet with Darwis Tere Liye. Sayangnya tempat duduk di depan panggung sudah dipenuhi pengunjung, jadi saya duduk di tribun penonton yang terletak di sisi kanan panggung. Ruang yang besar dan luas dengan pendingin udara yang sejuk, membuat suasana sekitar panggung utama jadi lebih nyaman. Walaupun berisik, setidaknya bisa duduk dan tidak berdesakan seperti di koridor yang padat oleh stan penerbit dan pengunjung.

Pengunjung membludak

Stan Republika padat

Saya teringat 4 tahun yang lalu ketika pertama kali ke IBF karena ingin hadir menyaksikan rilis buku Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Darwis Tere Liye. Waktu itu sedang senang-senangnya membaca karya DTL (sekarang juga masih sih, tapi belum rutin). Kabarnya, saat ini  novel karya DTL telah berjumlah 18. Fantastis! Walaupun saya pernah kecewa dengan sikap penulis yang satu ini (karena pernah diblockir oleh suatu sebab yang sangat sepele), tapi tak berarti saya benci pada karya-karyanya. Maka itu, ketika tahu bahwa kemarin di stan Republika ada book signing Tere Liye (sayangnya acaranya berlangsung ketika saya belum tiba di IBF) dan acara meet and greet w/ DTL, saya tetap antusias ingin hadir. Sayangnya acara yang semestinya berlangsung dari 12.30-14.00 itu hanya berlangsung 20 menit. DTL turun panggung dengan cepat, berlalu tanpa acara book signing lagi.

Meet and Greet w/ Darwis Tere Liye dipanggung utama Istora Senayan

Biarpun pernah dibanned, tetap hadir di meet & greet Tere Liye hehe

Di IBF, saya punya janji bertemu dengan mbak Yayah, Indah, Fatma, dan juga Sinta. Mbak Yayah dan Indah adalah teman yang saya kenal di komunitas muslimah backpacker. Sedangkan Fatma saya kenal ketika ngeblog di Multiply. Saya dan Fatma sama-sama pernah jadi kontributor di buku Love Journey; Ada Cinta Di Tiap Perjalanan. Sebetulnya sudah sejak buku LJ terbit kami ingin berjumpa, tapi karena belum berjodoh waktu dan kesempatan, keinginan itu selalu tertunda. Alhamdulillah akhirnya terwujud kemarin. Waktunya tepat, tempatnya pun keren. Saya bilang keren karena kami berjumpa di tempat pesta buku hehe. Dari siang hingga malam, hanya Sinta yang tidak jadi datang. Sepertinya perjumpaan pertama saya dengan Sinta memang harus terwujud di Pulau Derawan *cieee mau pelesiran ke Derawan ni yeee :p

 Berjumpa mbak Yayah dan Indah

Berjumpa Yaya (Fatma Soraya, sesama penulis di Love Journey#1

Ada banyak sekali stan penerbit, namun tidak semuanya berhasil saya sambangi. Capek! Hehe...saya beneran capek kalo mesti keliling. Ya sudahlah, semampunya saja. Tapi lumayan masih sempat belanja di stan buku-buku anak di penerbit Bestari Kids dan di stan Republika maupun lainnya. Di stan Republika seperti biasa yang dibeli hanya novel-novel Tere Liye.

Kemarin, niat hati ke stan BSMI ingin bertemu Dr Prita (kontributor buku Love Journey #1 dan Love Journey #2), namun sayang bersilang waktu. Kami mampir sore, sedangkan beliau ada di stan pada pagi dan siang harinya. Saya sangat ingin berkenalan dengan Dr Prita. Sejak membaca kisah-kisah Dr Prita di buku LJ (terutama kisah beliau ketika jadi relawan di Palestina), saya jadi kagum sama beliau. Semoga di lain waktu. Aamiin. Thanks Yaya yang sudah mengantar dan menemani ke stan BSMI ^_^

Berburu novel-novel Tere Liye *candid oleh Indah*

Belanja buku-buku anak di sini nih :D

Padatnya suasana pameran kemarin membuat saya agak sedikit tidak nyaman. Tapi tidak berarti saya akan kapok datang IBF. Justru bagus dong ya kalau pameran buku Islam ini ramai. Berarti peminatnya banyak. IBF sendiri kabarnya menargetkan 410 ribu pengunjung selama pameran dengan rata-rata kunjungan perhari sebanyak 42 ribu pengunjung *sumber Republika 10032014*. Kalau melihat suasana di hari terakhir kemarin, bukan tak mungkin target tersebut dapat dicapai. Dari keterangan ketua IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Bp, Afrizal Sinaro, pengunjung yang datang ke IBF juga ada yang berasal dari luar negeri. Yang terbanyak berasal dari Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Umumnya mereka yang datang itu adalah pedagang buku di negaranya. Mereka membeli buku-buku untuk dijual lagi di negaranya. Selain pedagang ada juga dari penerbit. Mereka datang untuk membeli copy right buku-buku yang cocok untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu atau bahasa setempat dan diterbitkan di sana. *Sumber Republika 07032014*.

Tak sedikit pengunjung IBF yang datang dari daerah, baik sebagi individu, maupun pedagang buku. Kemarin, ada juga rombongan pesantren dan sekolah-sekolah dari suatu daerah yang saya tidak ingat namanya, datang ke IBF dengan bus. Ini menunjukkan betapa pameran buku-buku Islam ini telah mengundang perhatian dan minat pengunjung dari luar daerah. Semoga saja kelak IBF tak hanya hadir di Jakarta, tapi juga di daerah. Toh, manfaat IBF ini tak kecil. Selain sebagai ajang promosi, penjualan stok buku, juga sebagai ajang untuk membentuk citra penerbit. 

Dukung selalu IBF!


Jakarta, 0903014
Katerina