Floating Market Lembang - Arena Bermain Yang Asyik Untuk Keluarga

15.47 2 Comments

Assalamu'alaikum Wr Wb

Jika sebelumnya saya bercerita tentang rumah cantik tempat refleksi dan pasar terapung tempat kulineran, kali ini saya akan bercerita tentang arena bermain yang ada di Floating Market Lembang. Weiiiisss...masih tentang Floating Market Lembang (FML), ga abis-abis nih hehe Ya nih, soalnya banyak yang bisa diceritakan tentang tempat wisata yang satu ini. Dan sengaja saya ceritakan terpisah, biar lebih fokus sharing infonya. Ceilah....kayak jago bercerita aja nih saya. Haha.

Wisata wahana yang tersedia di FML kebanyakan dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan anak-anak pada alam. Jadi, jangan bayangkan wahana yang ada di sini serupa wahana bermain yang ada di Duffan Ancol Jakarta, apalagi seperti di Trans Studio Bandung. Jauh banget! Ya iyalah...di sini kan wisata alam.

Wahana bermain yang paling menonjol tentu saja wahana air. Di sini, bersama anak dan suami kita bisa main kano, sepeda air, paddle boat, dan kereta air. Saat bermain, semua mesti pakai life jacket. Kecuali kalo kamu jago berenang, ya bolehlah belagu ga mau pake. Tapi afdolnya sih pake. Taati saja peraturannya. Siapa tahu saat kamu kecebur di danau kamu dalam keadaan mabok (mabok danau haha) atau pingsan, jatuh langsung tenggelem ga ngapung lagi. Kalo kelelep wassalam. Eh ada ding petugas penyelamatnya, tapi jangan ngandalin petugaslah, ngerepotin. Amannya sih pake pelampung saja. Udah, pake aja. Susah amat sih :p

Paddle boat Rp 30.000,- / 15 menit. Maksimal 2 orang.
Kalo punya anak batita, boleh bertiga. Tapi anaknya dipangku, jangan di taruh di depan boat hehe 


 Kano Rp 50.000,- / 30 menit  Maksimal 2 orang

 Sepeda Air Rp 50.000,- / 30 menit  Maksimal 2 orang

Kereta Air Rp 20.000,- / orang

Untuk wahana di darat ada ATV, Taman Kelinci, Kolam Angsa, Kolam Ikan, dan Flying fox. Kebanyakan sih yang main di wahana ini anak-anak. Boleh-boleh aja kalo yang dewasa mau ikut main. Tapi kayaknya lucu aja kalo ibu-ibu dan bapak-bapak ngejer-ngejer kelinci. Lagian juga menuh-menuhin taman aja. Udah, ga usahlah, nonton aja diluar dari sisi pagar sambil moto-moto anak. Di dalam taman kelinci, anak-anak dapat wortel, nah wortel itu bukan buat diglek ama si anak lho, tapi buat diberikan kepada kelinci. Selain itu, ada juga wahana lainnya seperti Speed car, Kereta api, Kora-kora dan Komidi putar. Kalo yang barusan, jelas buat anak-anak. Ambruk kali kalo yang besar-besar ikut main.

Selain arena bermain, anak-anak juga bisa ikut wisata tani, yaitu memetik sendiri buah strawberry dan markisa yang terletak di Kampung Leuit. Tenang saja, Kampung Leuit masih di dalam kawasan FML. Bukan keluar kawasan. Cukup jalan kaki beberapa meter, bukan naik mobil apalagi naik sepur hehe.

Kolam Angsa
Pengunjung boleh memberi makan angsa dengan makanan yang dijual seharga Rp 5000/bungkus

 Taman Kelinci
Bermain bersama kelinci sambil memberi makan kelinci

 ATV Rp 50.000,- / 3putaran /


 Tangkap Ikan Rp 20.000,- / orang
Kalau dapat dan ikannya mau diambil, boleh. Tapi ikannya bayar :D 

 Pemancingan Rp 25.000 / orang

 Kora-kora Rp 20.000,- / anak

Semua wahana bermain memiliki tarif masuk yang mesti dibayar dengan koin. Koin yang dimaksud adalah koin khusus yang dibuat oleh FML, untuk digunakan sebagai alat pembayaran, baik untuk bermain maupun belanja. Tempat penjualan koin tersebar di berbagai tempat di dalam kawasan FML. Pecahan koin terdiri dari 5000, 10.000, 20.000, 50.000, dan 100.000. Untuk pembayaran pembelian koin bisa dibayarkan dengan uang tunai, debet ATM, maupun kredit (kartu Visa dan Master). 

Tips dari saya, ketika masuk FML jangan buru-buru beli koin, apalagi buat kamu yang baru pertama kali ke tempat ini. Lebih baik keliling dulu, lihat-lihat dulu sampai ketemu mana permainan yang diminati. Setelah kamu dan anakmu tertarik untuk bermain pada suatu wahana, baru beli koin sesuai dengan tarif yang ditentukan di wahan tersebut. Jika koin yang dibeli kelebihan, tidak dapat dikembalikan maupun ditukarkan kembali dengan uang. 

Dikarenakan pengunjung yang datang biasanya selalu ramai, jadi mesti sabar juga saat menunggu antrian bermain. Tapi tenang, di dermaga tempat wahana air itu ada banyak bangku untuk duduk. Pun ga bakal kepanasan, soalnya udara di sini sejuk sepanjang waktu. Selain bangku, ada mejanya juga. Sambil menunggu kamu bisa makan-makan dan minum-minum ganteng dulu. Kalau mau ke toilet dulu juga bisa. Ada banyak toilet di sekitar tempat bermain. Ada musala juga. Musalanya ada 3 lho, 2 di daratan, dan 1 di atas danau alias terapung. Ingat, jangan sampai keasyikan bermain dan makan-makan, sampai melupakan kewajiban salat hehe. Nih bu ustadzah lagi ngomong. Di dengerin ya *plak. 

Dengan wahana bermain yang banyak dan menyenangkan ini, dijamin pasti asyik. Anak saya saja sampai ga pingin pulang. Abis main kelinci pingin mancing, abis mancing pingin nangkep ikan, abis nangkep ikan pingin naik perahu, abis naik perahu pingin metik buah, waah....kalo ga di stop ga ada habisnya. Yang udah dimainkan saja pingin diulang lagi. Hadeuuh. Kalo bukan karena hari sudah sore dan inget kalo arah pulang tuh selalu macet, ga bakal pulang kayaknya. 

Nah, pingin tahu rasanya berlibur ke wisata terpadu seperti FML? Mampirlah kemari. Ga kan nyesel deh. *gilee...promosinya yahud amir!  

Salah satu tempat penukaran koin yang terletak di depan Taman Kelinci

Dijual
Lukis wajah dan tangan untuk anak-anak
Gambar kucing, kupu-kupu, burung, dan hello kitty.


Warna-warni dari baling-baling kertas

=== 


Floating Market Lembang

Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung

Bandung - Jawa Barat INDONESIA



Tiket masuk Rp 10.000,- /orang 
(tiket bisa ditukarkan dengan wellcome drink berupa produk dari Nestle yakni: lemon tea, coffee latte, chocolatte, milo )

Tarif parkir Rp 5.000/hari

Jam operasional:
Week Day (Senin-Kamis) Jam 09.00-17.00
Week End (Jumat & Sabtu) Jam 09.00-20.00
Week End (Minggu) Jam 08.00-20.00

Floating Market Lembang - Kulineran Seru Di Atas Danau

22.23 Add Comment
Pasar Terapung

Assalamu'alaikum Wr Wb 

Floating Market Lembang (FML) terkenal dengan kulinernya yang beragam. Akan tetapi keistimewaan FML bukan terletak dari keanekaragaman kulinernya, melainkan pada tempat kulinernya. Tempatnya di atas permukaan danau. Di atas perahu-perahu yang tertambat rapi di sisi daratan kecil yang bentuknya memanjang. Disanalah aneka kuliner diperjualbelikan. Di sana pula orang-orang duduk menyantap makanan kesukaan mereka, sembari menikmati suguhan pemandangan alam yang fantastis, juga merasakan lembutnya belaian semilir angin pegunungan. Alangkah nikmatnya. 

Sesuai dengan nama tempatnya, Floating Market Lembang, maka inilah pasar terapung Lembang yang pesonanya telah memikat banyak wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Jika di tempat wisata lain kuliner hanya sebagai pelengkap, maka di sini kuliner justru paling ditonjolkan. 

Ngapain juga bawa makanan, kan di dalam banyak makanan :D

Jika kita masuk dari pintu utama, mata kita akan langsung tertuju pada sebuah danau. Di tengah-tengah danau nampak sebuah daratan kecil. Di situlah letak pasar terapung. Di atas pasar itu tertulis besar-besar nama Floating Market Lembang. Jejeran perahu kulinernya tak nampak sebab perahu-perahu itu berada di sisi belakangnya. Untuk mencapai pasar terapung, kita mesti berjalan kaki menyusuri tepian danau. Melewati deretan factory outlet, kolam angsa, taman-taman cantik, gazebo berarsitektur tradisional Sunda, dan juga dermaga paddleboat. Untuk menghubungkan tepian danau dengan pasar terapung, ada jembatan kayu yang bisa kita titi. Ketika berdiri di puncak jembatan maka akan terlihat ramainya pengunjung yang menyerbu penjual makanan.


Pasarnya di tengah danau

Jembatan yang menghubungkan daratan dengan pasar terapung

Tersedia banyak sekali kuliner di pasar terapung. Dari jenis makanan tradisional Indonesia, hingga makanan international. Dari Batagor dan siomai, hingga pizza dan steak. Semua makanan diolah di tempat, disaat kita mulai memesan. Jika kamu memesan sate, kamu bisa melihat penjualnya membakar satenya di hadapanmu. Di atas perahu, penjualnya mengipas-ngipasi api. Membuat perahu sesekali bergerak miring ke kiri dan ke kanan. Jika kamu memesan gado-gado, bumbunya diuleg dulu dihadapan kamu. Gerakan tangan si mbak penjual, membuat perahu agak bergoyang. Goyangan perahu itu menciptakan riak air di sekitar perahu. Kamu bisa memandang itu dengan asyik, sambil menunggu bumbu gado-gadomu jadi.
Asap ngebul di atas perahu

Sate-sate pesanan pembeli

Ketika tiba di pasar terapung, tidak perlu buru-buru memesan. Lihat-lihat saja dulu. Kelilingi semua tempat, pilih mana yang benar-benar menggugah selera. Sebab di sini tersedia banyak pilihan menu. Jika sudah memesan, lantas kamu menyesal karena ternyata ada makanan lain yang lebih nendang, ya sayang aja. Kecuali perutmu masih muat nampung makan lainnya hehe. Nama makanan dan harga makanan terpampang jelas dalam spanduk berbahan kain maupun terpal yang digantung di atap perahu maupun dinding perahu. Ini sangat memudahkan kita untuk mengenali jenis makanan yang dijual. 
Pilih-pilih menu dulu, baru beli koin

Alat pembayaran di Floating Market Lembang ini berupa koin. Tempat-tempat penjualan koin bertebaran di sekitar kawasan. Koin bisa dibeli dengan uang tunai, debet (kartu ATM), juga dengan kredit (kartu kredit Visa maupun Master). Koinnya terdiri pecahan 5.000, 10.000, 20.000, 50.000, dan 100.000. Tips buat kamu agar tidak kelebihan membeli koin, pastikan dulu total dari harga barang dan makanan/minuman yang hendak dibeli. Sebab, jika kelebihan beli (bersisa setelah dibelanjakan), koinnya tidak bisa ditukar atau dikembalikan. Untuk membayar biaya permainan pun demikian, ketahui dulu tarif permainannya, baru beli koin.

Tempat Penukaran Koin

Jadi misalnya, kalau kamu mau beli gado-gado 15.000, Es Cendol 15.000, Kentang Goreng 10.000, berarti kamu beli saja koinnya 40.000. Makanya kalau sedang keliling melihat-lihat makanan yang akan dibeli, catat harganya. Nanti kalau sudah, baru beli koin. Jangan beli koin dulu baru beli makanan, sayang kalau bersisa. Bisa sih dibelikan lagi, tapi kalau jumlahnya kurang, ya tetap harus nambah koin lagi.

Ketika week end, semua penjual kuliner di tempat ini beroperasi. Sedangkan week day, hanya separuh saja. Jumlah pengunjung di hari Sabtu dan Minggu selalu membludak, jadi pastikan kalau mau menikmati kulineran dengan duduk (tidak berdiri), datanglah pagi-pagi. Kalau sudah siang, kerap tidak kebagian tempat. Padahal meja dan tempat duduknya banyak. Tersedia dari ujung ke ujung, tapi karena selalu ramai, ya tetap tidak kebagian juga. Paling kalau mau, makanannya dibawa keluar pasar, ke gazebo-gazebo di daratan. Tapi gazebo itu bayar, ada tarifnya untuk sekian waktu. Saya sendiri saat itu mesti antri menunggui pengunjung yang makannya sampai 1 jam. Entah kenapa lama betul, tidak lihat kalau pengunjung lain juga ingin gantian duduk :D Bayangkan, jam 12 sudah waktunya makan (maklum pengidap maag, ga bisa telat dikit), beli makanannya ngantri, beli koinnya juga ngantri. Wadow! Saran nih buat FML, sedia lebih banyak lagi tempat duduk buat pengunjung makan.

Tuh, rame banget kan yang makan :D

Namun, biarpun rame dan berdesakan, ga bikin kita pusing apalagi kepanasan. Soalnya ditempat ini udaranya sejuk sepanjang waktu. Bahkan cenderung dingin. Rasanya seperti dipasang air conditioning raksasa hehe Pemandangan di sekitar juga menentramkan. Asri, rapi, dan bersih dari sampah. Jadi kamu makan di sudut manapun, tidak akan jijik dengan adanya tumpukan sampah yang biasanya ada di danau-danau. Di sini, danaunya sangat bersih. Tak ada sampah. Walaupun airnya tidak biru dan bening, tapi bersih dan tidak berbau busuk. Tanaman hias yang tumbuh di tepian danau, bikin suasana makan jadi nikmat. Saya malah sampai lupa apa rasa makanan yang saya makan. Semua jadi terasa enak kalau suasananya enak begini ya kan.


Ga ada makanan yang ga laku, semua laris manis

Harga makanan bervariasi namun terjangkau. Mulai dari 15.000 sampai 35.000 perporsi. Untuk minuman rata-rata 15.000 sedangkan makanan mulai dari 15.000 sampai 35.0000. Untuk makanan dan minuman, berdasarkan ingatan saya yang payah ini, ada nasi gudeg, nasi timbel, nasi goreng, nasi capcay, gado-gado, pecel, karedok, batagor, bajigur, sate kambing, sate sapi, sate padang, sate madura, aneka sup, tutut gulai, tongseng, aneka bakso, aneka mie, aneka soto, aneka gorengan, kwetiau, duren bakar, rujak, pizza, steak, ommelete, salad, spaghetti, aneka kue tradisional (yang namanya tidak semuanya dapat saya hafal), wedang ronde, es cendol, es doger, es campur, es mayang, es buah, sop buah, milkshake, aneka jus dan masih banyak lagi yang namanya tidak bisa saya ingat secara keseluruhan.

Rujak, sate, bakso


Nasi rames, ayam balado, tutut goreng, nasi bakar, duren bakar

Buat kamu yang 'hobi' ke toilet, jangan khawatir. Usai makan dan merasa kekenyangan, trus tiba-tiba 'kangen' toilet, di tempat ini ada 8 toilet bersih yang siap untuk kamu sambangi *lol. Toiletnya bersih dan berlimpah air. Nyaman banget.

Satu hal yang paling penting, jangan pernah berlaku tidak terdidik. You know what I mean : Jangan buang sampah sembarangan! Jangan mentang-mentang di sini banyak petugas kebersihan, lantas kamu semaunya meletakkan sampah bekas makan/minum hanya karena merasa ada yang mungutin. Jangan sekali-kali begitu! Ada banyak tong sampah yang siap menerima sampah-sampahmu. Eh...ini mah ngasih tahu bukan menganggap kamu tidak terdidik tapi karena nih mata saya melihat langsung ada pengunjung yang kelihatannya berasal dari keluarga kaya dan terdidik tapi seenaknya saja membuang sampah botol bekas minuman. Huh! Ohya, karena tempat makan di pasar terapung ini terbuka, menyatu dengan alam, jadi jangan terkejut kalau saat makan, ada pria di sebelahmu atau seberang mejamu, asyik menghisap rokok. Bah! Saya paling benci dengan asap rokok. Racun! Itu orang memangnya tak bisa ya mencari tempat lain, menjauh dari tempat makan dimana di sini ada banyak anak kecil yang tidak sudi menghisap racun dari rokokmu!


Suasana pasar terapung

Jika kamu ke Bandung, berwisatalah ke tempat ini bersama keluarga. Selain makan-makan puas, bisa main-main (di air maupun di darat), bisa pijat pijit (ada tempat refleksi lho), juga bisa belanja-belanji.

Untuk mencapai Floating Market Lembang, waktu tempuh dari Bandung ke Lembang sekitar 30 menit saja. Saya kira jauh dan medannya berat, teryata dekat dan mudah dicapai. Ketimbang saya macet-macetan dari Jalan Sudirman di Jakarta ke Depok, waktunya bisa 2,5 jam lamanya. Sudah rasanya capek, banyak polusi, terbit emosi, pemandangannya jelek pula (nonton banjir hihi). Wisata di sini murah, cuma bayar 10.000 buat masuk. Di dalam, jika hendak jajan dan main-main baru bayar lagi. Itupun kalau mau, kalau tidak mau ya tidak apa-apa sekedar keliling dan melihat-lihat. Tidak dilarang.

Floating Market Lembang. Pemandangannya fantastis, kulinernya bombastis!
Hihihi...lebay ga ya? Ga lah. Lha wong pesona pasar terapung di FML sama memikatnya dengan pasar terapung yang ada di Banjarmasin dan di Thailand kok. Tidak percaya? Buktikan sendiri :D

Hi, saya di Floating Market Lembang nih
Sedang di depan salah satu factory outlet punya FML, mau beli baling-baling kertas :))
*gaya lu :p


=====


Floating Market Lembang

Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung

Bandung - Jawa Barat INDONESIA



Tiket masuk Rp 10.000,- /orang 
(tiket bisa ditukarkan dengan wellcome drink berupa produk dari Nestle yakni: lemon tea, coffee latte, chocolatte, milo )

Tarif parkir Rp 5.000/hari

Jam operasional:
Week Day (Senin-Kamis) Jam 09.00-17.00
Week End (Jumat & Sabtu) Jam 09.00-20.00
Week End (Minggu) Jam 08.00-20.00

 


Floating Market Lembang - Rumah Cantik Tempat Pijat & Refleksi

21.12 3 Comments
Floating Market Lembang
Pasar jajan terapung di tengah danau

Assalamu'alaikum Wr Wb

Kereta air meluncur pelan di atas danau. Membawa 11 penumpang dan 2 petugas kemudi kereta dalam 6 buah boat yang digandeng menjadi 1. Satu persatu pemandangan menarik tersaji. Dari bukit-bukit hijau berselimut kabut, pasar jajan apung, kebun strawberry, taman-taman cantik yang tertata apik, pondok-pondok tradisional tempat bersantai, factory outlet di rumah-rumah kayu, hingga rumah Thailand dan rumah Belanda!

Lho, kok ada bangunan rumah Belanda dan rumah Thailand segala? Hehe.....penampakan kedua bangunan itu eye catching banget sih ya. Jadi bikin heran. Saya juga. Terlebih kedua rumah ini seperti terapung di atas danau. Unik!

Sewaktu saya konfirmasi ke petugas kereta (yang kebetulan duduknya dalam boat di belakang boat saya), katanya bangunan bercat putih dan hitam itu memang di sebut rumah Belanda. Ya, arsitekturnya persis ala rumah-rumah di Belanda yang pernah saya lihat. Bangunannya besar dan bertingkat dua, membuatnya terlihat megah. Hijau daun bambu yang rimbun di belakang bangunan, juga bukit-bukit yang menjulang nun jauh di belakangnya, membuat rumah Belanda ini terlihat sangat asri.

Rumah Belanda

Pijat refleksi di sini, betah kali yee :D

Behind the scene
Jauh kan motretnya? :D Hanya pake camdig Canon IXUS200IS 12MP lho.

Di dekat rumah Belanda, juga ada dua bangunan unik lainnya, yakni rumah Betawi dan rumah Thailand. Kedua rumah ini juga menarik perhatian karena sama-sama terapung seperti rumah Belanda. Hanya saja ukurannya lebih kecil dan pendek.

Rumah Thailand nampak unik karena bentuk atapnya yang mencuat. Sekilas mirip atap rumah gadang tapi bukan. Di bagian ujung bawah atap, terdapat hiasan menjuntai semacam rumbai berbentuk segitiga. Keseluruhan bangunan terbuat dari kayu. Sempat terlintas di pikiran kalau bangunan ini adalah Klenteng, eeeh...jauh banget sih ya. Hmm...rasanya pernah lihat. Eh iya, itu rumah Thailand! Hehehe ternyata benar.

 Rumah Belanda bersebelahan dengan Rumah Betawi

 Rumah Thailand

Rumah Betawi

Pertanyaannya, ketiga bangunan itu berfungsi sebagai tempat apa? Tempat PIJAT REFLEKSI!

Haha.Tak kusangka.

Ya, ternyata ketiga bangunan itu adalah tempat pijat refleksi. Tarif refleksi mulai dari Rp 25.000,- hingga Rp 100.000,-

Fasilitas yang unik dan hampir ga biasa. Bikin Floating Market Lembang (FML) semakin ideal sebagai tujuan wisata keluarga. Ya, siapa tahu pengunjung jauh seperti saya yang abis nyetir dari Jakarta-Bandung-Lembang (pake nanjak pula ya kan), merasa pegel-pegel linu, bisa pijat-pijat cantik dulu di rumah Belanda, atau rumah Betawi dan rumah Thailandnya itu hehe. Abis pijat-pijat cantik baru deh beraktifitas, main-main, dan makan-makan puas. Atau mau pijat refleksinya belakangan, sebelum meninggalkan FML? Bisa juga sih. Malah lebih enak. Pulangnya badan sudah segar lagi. Bisa nyetir lancar lagi menerjang kemacetan haha.

Mata segar, badan segar, kulineran puas, keluarga fun, biayanya murah pula. Wow banget lah. Kalo ke Bandung ga mampir ke sini, sayaaaaaaang banget. Biarpun murah tapi berkualitas. Dijamin :D
Yuk ah ke FML...

Taman-taman di sepanjang tepian danau


=====

Floating Market Lembang

Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung

Bandung - Jawa Barat INDONESIA



Tiket masuk Rp 10.000,- /orang 
(tiket bisa ditukarkan dengan wellcome drink berupa produk dari Nestle yakni: lemon tea, coffee latte, chocolatte, milo )

Tarif parkir Rp 5.000/hari

Jam operasional:
Week Day (Senin-Kamis) Jam 09.00-17.00
Week End (Jumat & Sabtu) Jam 09.00-20.00
Week End (Minggu) Jam 08.00-20.00

Rindu Cerita Utuh Sembalun Bumbung

10.26 Add Comment

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Dalam perjalanan menuju Air Terjun Sendang Gile dan Air Terjun Tiu Kelep, kami sejenak berhenti di sebuah tempat yang aku tak ingat namanya. Hanya ingat bahwa tempat ini adalah sebuah lereng bukit yang terletak di sekitar kaki Gunung Rinjani. Sewaktu disebutkan tempat ini adalah sembalun, aku cuma menangkap bahwa ini adalah sebuah desa. Akan tetapi, desa yang dimaksud justru nun jauh di bawah sana, di sebuah lembah. Nama desa itu  Desa Sembalun Bumbung. Katanya, Sembalun Bumbung termasuk desa adat. Di dalamnya tersimpan sejarah dan profil Suku Sasak. Selain itu, Sembalun Bumbung terkenal dengan kebun bawangnya (bawang putih dan bawang merah).

Di bawah sinar matahari yang tajam menyengat, aku (dan teman-teman) hanya dapat memandang Sembalun Bumbung dari kejauhan, tanpa sempat menjejakkan kaki, apalagi mencari tahu lebih jauh tentang desa tersebut. Ada apa di sana? Maaf, aku tak punya banyak cerita. Tapi sekedar info umum, Desa Sembalun Bumbung telah lama dikenal sebagai kawasan wisata, dimana dari desa tersebut menjadi awal tempat para pendaki berangkat menuju puncak Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak.

Lain kali jika ke sini lagi, harus lebih dekat. Bukan sekedar memandang, tapi harus menjejakkan kaki dan mengenal isi dari desa tersebut, agar perjalanan ke sembalun dapat lebih bermakna dan membuat 'kaya'.

 Berhenti di celah-celah bukit

 Jalan di perbukitan

 Singgah di sini untuk memandang Sembalun Bumbung

 Di bawah sana Desa Sembalun Bumbung

 Berbahaya jika jatuh ke jurang

Melompat ala Duta & Ninik

 Yes, I'm here

 Berpagar bukit, berpayung awan, oh indah pemandangan *nyanyi*


-----


17 Oktober 2013
Lombok Timur, NTB - Indonesia

Selayang Pandang Selendang Langit Petang

11.18 Add Comment
Rejeki petang selepas mengunjungi Air Terjun Tiu Kelep dan Air Terjun Sendang Gile di kaki Gunung Rinjani, adalah mendapat hadiah pemandangan seindah ini. Di sini, dari sebuah jembatan yang tiada air mengalir di bawahnya, sejenak mengagumi suasana alam yang tersaji.

Andai bisa, aku ingin mengajukan pinta: "Tolong hentikan waktu!" 












Lombok, NTB - INDONESIA