Makam Karel Albert Rudolf Bosscha

13.21
Arsitektur makam Bosscha berciri Eropa, mirip Tugu Lady Raffles di Kebun Raya bogor 

Assalamu'alaikum Wr Wb

Lengang. Tiada seorang pengunjung pun di makam Karel Albert Rudolf Bosscha siang itu. Seperti bukan tempat wisata. Atau memang bukan tempat wisata? Saya tak mengetahui keberadaannya, padahal letaknya dekat saja dengan jalan membentang berkelok yang biasa disusuri tiap kali menuju Geothermal di Gunung Wayang & Gunung Windu. November tahun 2012 lalu, ketika berwisata ke Cibolang hot spring water, makam itu bahkan telah dilewati sebanyak dua kali.

Serba tua, ternyata bukan hanya pohon-pohon, rumah-rumah Belanda berarsitektur Eropa, kedai teh, mess tempat tinggal staff Perkebunan Teh Malabar, yang bisa dijumpai di gunung ini, tetapi juga makam tua tempat jasad Bosscha dikuburkan.

Lain halnya dengan Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung Utara, yang ramai pengunjung. Maka di sini, hampir setiap hari, selalu sunyi. Mungkin sejak kematiannya, ketika jasadnya di kubur pada 26 Nov 1928, tempat ini memang kurang diminati para wisatawan. Letaknya yang jauh di gunung, membuatnya terpencil. 

Jika bukan karena informasi teman di Star Energy, tentulah saya pun tak tahu jika di tengah kebun teh Malabar ini 'tersembunyi' makam megah yang terawat dengan sangat baik. Seorang penjaga yang merangkap perawat makam, adalah juga seorang pekerja pemetik teh (saya meragukan pendengaran saya, pemetik teh atau pemetik benalu teh). Namanya Bah Ohim. Ia mengantar dan menemani dengan keramahan yang mendekati sempurna. Hmm...melihat kondisi makam yang terawat begitu, bisa saya bayangkan ketelatenan Bah Ohim dalam melaksanakan tugasnya di makam Bosscha.

Prasasti di bagian depan makam



Berpagar besi, terawat rapi

Karel Albert Rudolf Bosscha lahir pada tanggal 15 Mei 1865.  Ia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887. Bosscha dikenal sebagai seorang brillian yang memiliki dedikasi, integrasi, serta kepribadian yang kuat, yang berhasil mengelola dan mengembangkan Perkebunan Teh Malabar sejak tahun 1826 hingga 1928. Konon kabarnya, semasa hidupnya Bosscha tidak pernah menikah. Karena kecintaannya pada perkebunan Teh Malabar pula yang membuatnya berpesan agar jika meninggal, jasadnya dimakamkan di antara pepohonan teh di kawasan Perkebunan Teh Malabar.


Sebuah prasasti yang terletak di depan makam, terpahat daftar karya Bosscha, antara lain: 
1. Technicshe Hugeshool, yang kini dikenal dengan nama Institute Teknologi Bandung.
 --> Bosscha merupakan pemrakarsa berdirinya Technische Hugeschool. Pada tahun 1924, menjabat sebagai ketua dewan direktur atau ketua dewan kuratornya. Di Fakultas Fisika ITB terdapat Lab 1201 sumbangsih Bosscha. Di depan laboratorium inilah terdapat prasasti untuk mengenang jasa Bosscha.
*keterangan tambahan dari Disparbud. Jabarprov.

2. Societeit Concordia, kini namanya Gedung Merdeka Bandung
--> Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Bandung ini pada tahun 1921 merupakan gedung pertemuan yang paling lengkap dan mewah. Perancangnya adalah seorang arsitek ternama CP Wolf Schoemaker.  Gedung ini dirancang dengan sentuhan seni art Deco. Dulu Gedung Merdeka difungsikan sebagai tempat pertemuan orang Belanda, tempat rekreasi sekaligus hotel. *keterangan tambahan dari Disparbud. Jabarprov.

3. Observatorium Bosscha di Lembang, tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia.

Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium di Lembang. Observatorium Bosscha merupakan tempat peneropongan bintang terbesar se-Asia Tenggara, dan merupakan satu dari tiga observatorium yang terdapat di belahan bumi selatan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf
 --> Bosscha juga merupakan seorang pemerhati astonomi. Maka pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium Bosscha merupakan tempat peneropongan bintang terbesar se-Asia Tenggara, dan merupakan satu dari tiga Observatorium yang terdapat di belahan bumi selatan. *keterangan tambahan dari Disparbud. Jabarprov.
lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf
lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf
lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf
lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf

Membaca karya-karya Bosscha yang tertulis di prasasti itu...jadi pingin bilang: "Terima kasih Bosscha." 

  Perkebunan Teh Malabar

Makam itu kembali sepi ketika kami beranjak pergi. Bosscha terbaring di dalamnya, mungkin tinggal tulang belulang. Saya memang tak mengenal wujudnya dalam nyata tapi karya-karyanya berwujud nyata untuk dikenali hingga hari ini. Mampir ke makamnya hari ini, paling tidak saya punya sesuatu yang bisa saya pahami.


Langit kelabu seperti senantiasa setia memayungi kawasan Gunung Wayang dan Gunung Windu. Udara dingin berlipat-lipat ketika hujan deras mengguyur bumi. Hamparan teh pasrah dalam gigil. Daunnya menari-nari dalam diam. Kesunyian terbunuh, gemuruh hujan menciptakan musik yang terkadang menyeramkan untuk didengar. Bukan hanya suara curahan air dari langit, tapi juga suara air yang bergulung-gulung datang dari ketinggian. Seperti hendak menerabas setiap yang dilaluinya, meluncur menuju tempat paling rendah. 

Hari menjelang petang.....


====
Katerina
Pengalengan, Bandung Selatan.
lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dengan mengembangkan perkebunan teh Malabar dan Pangalengan.  - See more at: http://disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=92&lang=id#sthash.9FSBcDhd.dpuf

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon