[Lombok] Menjadi Tamu Di Negeri Sendiri

09.54 9 Comments


Horeee...aku masuk album "Beautiful" Mbak Andrie Potlot he he.

Yang beautiful itu sebenarnya anak-anak bule itu. Bukan aku. Foto-foto ini berlokasi di Gili Nanggu. Aku copy paste dari album foto mbak Andrie di FB.

Emak dan dua anaknya hehehe

Gili Nanggu terletak di seberang Desa Sekotong, Lombok Barat. Untuk mencapai Gili Nanggu, aku dan kawan-kawan muslimah backpacker menyeberang dengan sebuah perahu tradisional yang digerakkan dengan motor. Pulau ini bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 15 menit. Pulau yang tak lagi perawan namun tetap memiliki pantai yang bersih. Pasirnya putih lembut. Airnya jernih. Warna air lautnya biru muda, biru tua, dan terkadang biru kehijauan. Pohon-pohon tumbuh tinggi dan rindang. Menjadi peneduh dari teriknya sang surya.

Di Gili Nanggu ada cottage yang oke banget untuk didiami kala berlibur. Ada banyak bule di sana. Tua muda, kecil besar, hingga anak-anak. Rame. Kenapa ramai? Mungkin karena karena keindahan pulaunya yang membuat turis asing senang berkunjung dan tinggal di sini. Karena pingin tahu lebih detail perihal Gili Nanggu ini,  tadi aku gugling, ketemu websitenya : http://www.gilinanggu.com/ Pikirku siapa tahu kapan-kapan kalo ke Lombok lagi, ada rejeki untuk menginap di Gili Nanggu. 


cakep-cakep memang

Jumat pagi itu, kedatangan rombongan kami membuat suasana pantai yang sebelumnya agak sepi, jadi berubah ramai. Tak terlihat ada wisatawan lokal selain kami. Hanya bule-bule. Jumlah mereka seakan mendominasi isi pulau. Dari yang bayi, anak-anak kecil, remaja, dewasa, bahkan yang sudah nenek-nenek dan kakek-kakek. 

Kenapa banyak bule di sana? Jangan-jangan itu cottage-cottage milik mereka ya? Jangan-jangan kayak di Bunaken, salah satu resort (di sebuah pulau), pemiliknya ternyata orang Perancis. Aku penasaran. Trus sambil bikin tulisan ini, aku gugling lagi. Nyari info. Harusnya kemarin sih ya, pas di Lombok, nanya langsung ke orang-orang sana. Tapi ya gitulah, waktu itu sibuk ama urusan sendiri. Sekarang deh baru nyari-nyari info.

Aku terdampar di sebuah blog, Are we still in Indonesia? yang bercerita tentang dominasi orang asing di Gili Trawangan. Wiiiih....ternyata bener-bener parah. Penginapan, kafe, dan tempat-tempat seperti diver center, ternyata banyak yang dimiliki oleh orang asing. Pekerjanya juga hampir 75% adalah pekerja asing. Dan ironisnya, yang jadi tamu, penyewa dan pembelinya adalah penduduk lokal dan wisatawan lokal. Apa itu juga yang terjadi di Gili Nanggu ini?



Gimana? udah sama-sama bule kan kita bertiga? Gedubrak

Aku teringat dengan tulisan Lalu Abdul Fatah di buku Love Journey : Ada Cinta di Tiap Perjalanan, yang mengungkapkan kegundahannya akan pulau-pulau di Lombok yang sudah berpindah ke tangan orang asing. Kejadian serupa juga terjadi di Raja Ampat Papua. Keindahan Raja Ampat yang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir berhasil menyedot perhatian wisatawan dunia, membuat orang asing tak hanya datang untuk melihat dan menikmati keindahannya, tapi juga menancapkan kukunya di sana. Negeri kita. Mereka membeli tanah, membangun villa, dan menyewakannya kepada para wisatawan. Lalu, penduduk setempat dapat apa dan jadi apa? Dapat uang banyak dalam sesaat. Barangkali. Atau malah dapat bengongnya. Kasihan.

Antara mau ketawa, miris, marah, ga ridho dan sedih yang berujung tangis bombay lebay, kala mendengar ada yang mengatakan: pribumi jadi tamu, tamu jadi pribumi. Orang Indonesia malah menjadi orang asing di negerinya sendiri. Memang begitu keadaannya. Ah...

Aku punya teman wanita asal Lombok (namanya mbak A) yang bersuamikan seorang pilot sebuah maskapai di Indonesia (yang juga asal Lombok). Aku kenal dia sejak 2006 lalu. Orangtuanya punya resort di Gili Trawangan. Jika tiba masa libur, dia mudik ke Lombok. Sekali waktu aku pernah ditawari untuk main ke sana dan menginap gratis di resortnya. Ga cuma sekali, tapi ditawari hingga dua kali olehnya. Tapi karena memang belum rejeki, tawaran-tawarannya itu lewat. Menyesal sih. Pasca dari Lombok kemarin, aku menghubungi Mbak A, menanyakan tawarannya dulu. Oh, sayang sungguh sayang. Ternyata tawaran itu ga mungkin ada lagi. Sebab cerita kini telah berubah. Resortnya sudah ga ada. 

Temanku itu mengaku bahwa penjualan itu terjadi karena dia butuh uang dalam jumlah besar untuk membeli sebuah rumah tinggal senilai 1,5M (dia sebut jumlahnya untuk memperkuat alasan dijualnya resort ayahnya itu) di daerah Tangsel. Tapi aku tidak tahu kepada orang lokal atau orang asing dia menjual resortnya. Bisa jadi ke orang asing, toh sudah banyak bukti kalau resort-resort di Gili Trawangan itu banyak dimiliki oleh orang asing. Hmm...menjual resort/tanah karena butuh uang? Itulah alasan orang yang menjual tanah maupun resort yang mereka punya di kawasan wisata Lombok. Dan ini menjadi bukti. Saksi nyata yang masih hidup.


Yang satu nutup aurat, yang satu kebuka-buka auratnya
*tepok jidat

Balik ke anak-anak bule dalam foto ini....

Kelar snorkeling, aku duduk di atas pasir. Tepat di bibir pantai. Makan TOP chocolate rice krispies. Sendirian. Ga bagi-bagi. Cuma satu sih. Ada dua anak bule didekatku. Keduanya sedang asyik menggambar sesuatu di atas pasir. Kutanyakan namanya. Tak ada yang menjawab. Hanya memandang sekilas padaku. Lalu putar badan. Jyaaaah...

Aku tanya sedang menggambar apa. Ga di jawab juga. Yang laki-laki malah berputar cepat ke arah lain. Seakan hendak pergi. Tapi ga jadi. Dia berdiri lagi dekat kakak perempuannya. Kakak? Tau dari mana. Nebak aja kok.

Jangan tinggi-tinggi angkat tangannya maaak...bau niiih

Terakhir aku tanyakan asalnya. Jgeeeeer!! Akhirnya dijawab. Dari Italy katanya. Oooooh. Abis itu pingin nanya lagi, tapi aku mulai merasa jangan-jangan mereka ga nyaman ditanya-tanya. Ya sudahlah. Udahin aja. Sebenernya sih mereka itu pemalu. Menjawab aja sambil senyum-senyum dikulum gitu. Malu kali ya ama emak-emak lokal yang putih kulitnya melebihi mereka. Waaaaww??? Pede amat buuuu? 

Abis nanya-nanya ga jelas, aku liat mbak Andrie mengarahkan kameranya ke aku. Aku?? Ke anak-anak bule itu kaliiii. Oh, jadi dari tadi mbak Andrie moto candid? Wah, waktu itu aku langsung GR. Berasa kayak model candid. Model kesasar. Abis GR, langsung pingin loncat-loncat girang. Selain girang, sengaja biar difotoin. Ya ampun, emang ya aku ini emak-emak mata kamera-an. Sebutan apa pula ini? Bah!

Aslinya sih, aku seneng banget liat foto-foto ini. Ga pake ditawarin juga langsung aku copas. Buat ditunjukin ke yayang tersayang. Norak deh gue. Masalah buat lo? Siapa "lo"? Itu si tukang jagal di pasar daging. Virus Soimah merajalela. Parah.

Terima kasih banget buat mbak Andrie yang udah motretin aku. Eh anak-anak bule ini maksudku. Haha...GR mulu deh. Berada dekat mereka, orang-orang bisa menduga kok kalo anak-anak ini anakku. Soalnya tampangku juga udah bule toh? Iya toh? Ngaca mak, ngaaaaacaaaa....

Mohon maaf kalau foto anak-anak ini mengganggu pandang mata. Memang kontras sekali sih ya, aku yang berpakaian menutup aurat, kedua anak ini malah kebuka-buka auratnya. Mereka masih kecil. Yang laki-laki kuperkirakan masih 7-8 tahun gitu. Yang perempuan sekitar 9-10 tahun. Biasanya anak bule bongsor tapi usianya masih muda. Tampang mereka yang beautiful memang menarik untuk ditangkap oleh lensa kamera. Sayangnya ada aku di sini, jadi beautifulnya ga full. Merusak pemandangan saja. Halah, merendah apa merendah?

Ini si bule yang bilang "put it in water" itu :D

Ohya, di foto ini juga ada foto ibu-ibu bule dengan anak balitanya sedang main di air. Itu si ibu, waktu naik ke darat dan melihat salah satu kawan MB berpose dengan starfish (aku ga tahu starfishnya udah mati atau belum) dia berseru sambil menggendong anak kecilnya itu ke arah kawanku: "Put it back in the water..." Sekali dia teriak, belum ngeh sepertinya yang diteriaki. Dia berseru lagi: "Put it back in the water..." Si bule perlu sampe 3x mengulang ucapannya. Dan yang terakhir dia persingkat kalimatnya: "Put it in water." Tangannya menunjuk ke starfish, lalu menunjuk ke laut. Masukin ke air. Gitu maksudnya.

Sependek yang aku tahu, turis asing mancanegara itu punya rasa peduli yang tinggi terhadap biota laut. Sebab di tempat asal mereka, mereka "miskin" dengan kekayaan alam dan keindahan laut seperti di negara kita (I love you, Indonesia). Jadi, mereka sangat menyayangi apa-apa yang terkandung di dalam lautan. Wajar kalau bule perempuan itu nampak marah. Justru itu bagus menurutku, jadi contoh buat kita-kita yang mungkin masih ada yang kurang peduli pada hal-hal seperti ini. 

Ada contoh yang paling dekat, Mr. D, kakek tampan yang merupakan bos, bapak, sekaligus sahabat bagiku (bisa dibayangkan betapa akrabnya aku ama beliau ya kan huehehe), adalah salah satu orang asing yang sangat peduli pada lingkungan (di Indonesia). Lelaki pensiunan dari S****** AG Germany (beliau tinggal di Bavaria) ini adalah sosok traveler yang sangat cinta Indonesia. Ketika aku belum kemana-mana, dia sudah lebih dulu menjejak Lombok, Bali, Pulau Komodo, Pulau Derawan, hingga Raja Ampat (dan dia tetap rendah hati). Satu hal yang paling melekat diingatanku tentangnya, dia adalah orang yang sangat ramah dan sayang pada lingkungan. Ga cuma di Indonesia, tapi dimanapun dia berada ketika traveling.

Bagi kakek tampan, melihat tak berarti harus memiliki. Menyukai tak berarti harus memiliki. Menikmati tak berarti harus memiliki. Dia tak seperti warga asing kebanyakan. Meski berpeluang untuk memiliki salah satu resort di kawasan Bali (kemarin dia baru abis kursus bahasa Indonesia di Bali selama sebulan), tapi itu sama sekali tak diambilnya. Jangankan sebuah tempat di tanah air, hewan-hewan unik di kedalaman yang beliau lihat saat scuba diving saja tak ia sentuh. Sedikit orang asing yang begini. Eh bisa jadi banyak, tapi aku ga tahu ya. Kalau begitu, cukup aku tahu 1 ini saja. Sebab dengan 1 ini saja sudah banyak menginspirasiku. Aamiin.

 Kakek tampan yang cinta banget sama Indonesia
(dokumentasi pribadi)

Jika orang luar saja menghargai dan menyayangi isi daratan dan lautan kita, kenapa kita tidak? Ya, mari dimulai dari sekarang bagi yang belum mulai. Lebih baik terlambat daripada terlambat banget hehe. Eh bentar, kemarin aku ada ngambil kerang-kerang hidup dan terumbu karang hidup ga ya? Jangan-jangan aku ngambil? Ntar, aku ingat-ingat dulu. Hmm...Doooor!!! Aku ga ngambil. Enggak. Enggak. Jangan sampai ngambil ya. Please. Please. Kalo mau buat kenang-kenangan, ambil saja yang sudah mati. Kan biasanya yang udah mati, "sampah"nya terdampar di tepi pantai tuh. Nah itu aja yang diambil.

Ngoceh panjang lebar tentang foto ini, menyeretku pada ending yang ternyata menimbulkan sejumput pertanyaan. Bisakah pulau-pulau elok yang dimiliki negeri ini, esok-esoknya, tak dikuasai lagi oleh orang asing? Bagaimana cara mencegahnya? Bisakah siapa saja yang datang ke kawasan wisata laut seperti ini tidak menyumbang kerusakan walau hanya sebesar biji duku (iih...kok bisa-bisanya menyeret-nyeret biji duku?) 

Mari bertanya pada ombak yang menderu......

Bersama kawan-kawan MB di Gili Nanggu


===


Gili Nanggu, Lombok Barat - INDONESIA
Jumat, 18 Oktober 2013



[Lombok] Indahnya Negeri, Indahnya Berbagi

15.16 4 Comments


Assalamu'alaikum Wr Wb  
Ada point lebih yang aku dapati di komunitas muslimah backpacker selain jalan-jalan dan silaturahmi, yaitu adanya aksi berbagi. MB memang bukan sebuah komunitas yang hanya mengakomodir para anggotanya (para muslimah) untuk berjalan (backpackeran), mengenal dan melihat keindahan alam ciptaanNya saja, tetapi juga mengajak dan menggerakan para anggota untuk melakukan aksi peduli dalam bentuk berbagi. Aksi yang bukan saja dilakukan saat adanya trip tetapi juga saat ada moment-moment tertentu, misalnya seperti di bulan Ramadhan, Hari Raya Qurban, maupun saat terjadi peristiwa bencana. 


Tiba di Gili Sudak
 (foto oleh mbak Andrie)

Ini point penting yang menurutku bagus sekali. Gairah bersenang-senang semestinya memang diiringi pula dengan gairah berbagi kasih dan rejeki. Berbagi adalah wujud peduli. Wujud peduli yang bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik dalam bentuk materi maupun moril. Peduli yang tak hanya ditujukan pada sesama, tetapi juga pada lingkungan. Dimanapun itu. Dan MB memiliki itu.

Trip ke Lombok pada 16-20 Oktober lalu bukanlah trip pertama MB, tetapi ini menjadi trip pertamaku sejak aku bergabung di MB. Di Lombok hendak berbagi apa dan kemana? Dari itirerary yang dibuat, dijelaskan bahwa kami akan menyumbangkan Al- Quran dan buku-buku bacaan untuk anak-anak yang tinggal di kaki gunung Rinjani. Di salah satu sembalun.

Books for mountain. Taglinenya begitu. Sama seperti yang dilakukan MB saat mengadakan trip ke kawasan Gunung Bromo pada bulan-bulan sebelumnya. Waktu itu para peserta trip juga bawa-bawa buku untuk disumbangkan ke sebuah perpustakaan desa di kaki gunung Bromo.


Bagi-bagi snack

Sebuah aksi nyata yang membuatku terharu. Meskipun waktu itu aku tak ikut ambil bagian, tapi aku mencatatnya. Dan sekarang, aksi berbagi dalam trip Lombok ini tentu saja membuat antusiasmeku melonjak naik. Walau aku bukan seorang dermawan, apalagi yang rajin betul berbagi, aku selalu mendukung kegiatan seperti ini. Ini bagian dari ciri muslimah.

Berjalan sambil berbagi, kenapa tidak? 
Ketika di Lombok, baksos yang semula direncanakan akan dilakukan di sebuah desa di kaki Gunung Rinjani, ternyata mesti diubah karena sesuatu dan lain hal. Lokasi baksos dipindahkan ke Gili Sudak, sebuah pulau kecil yang terletak di seberang desa Sekotong, Lombok Barat. Ok, buatku pribadi itu tak masalah. Yang penting tujuan utamanya tetap terlaksana. Paling taglinenya berubah menjadi "Books For Beach". Tagline semauku itu.


 
 Bagi-bagi buku tulis

Jumat, 18 Oktober 2013
Langit pagi hari ini begitu cerah. Secerah suasana hatiku yang akan merasakan snorkeling di Gili Nanggu, Gili Sudak, dan Gili Kedis. Oh iya, hari ini bukan hanya jadwal untuk snorkeling, tetapi juga jadwal untuk baksos. Jadi, kami tak hanya akan bersenang-senang menikmati keindahan bawah laut gili-gili cantik itu, melainkan juga menikmati kebersamaan dengan anak-anak dari Desa Sekotong yang akan menerima sumbangan buku dan Al-Quran dari kami.

Pagi hari di awali dengan snorkeling di Gili Nanggu, siangnya baru bergerak pindah ke Gili Sudak. Kalau menurut rencana semula, di Gili Sudak ini, baksos akan diadakan pada petang hari. 

Sewaktu tiba di Gili Sudak, yang pertama nampak oleh pandanganku tentu saja keberadaan anak-anak yang bermain di tepi pantai. Tak ada sangka apapun jika anak-anak itulah nantinya yang akan kami temui. Aku hanya mengira bahwa mereka adalah kumpulan anak-anak dari sebuah madrasah yang baru pulang belajar. Seragam yang dikenakan sebagian dari anak-anak itu yang membuatku mengira begitu.

Perahu yang kami tumpangi, ditambatkan tak jauh dari sebuah pondok kecil yang di dalamnya terdapat ibu-ibu yang sedang duduk. Ibu-ibu pulau. Hmm...pikirku ini pulau ternyata ramai juga ya. Aku sempat bertanya pada mas Heri (guide snorkeling kami), apa pulau ini ada penghuninya? Aku tak tahu jawabannya. Bukan tak diberitahu, tapi karena aku lupa hehe. Tak kulihat ada bangunan rumah di sekitarnya. Hanya ada bangunan rumah makan. Di rumah makan itu kulihat beberapa bule sedang makan. Barangkali saja ada rumah, tapi entah di mana.

Yang menjadi penghubung MB dengan anak-anak yang akan menerima sumbangan kami adalah Duta. Siapa Duta? Duta adalah temannya Lalu Abdul Fatah. Fatah ini teman mayaku (yang mewujud nyata) sejak ngeblog di Multiply. Dia juga teman satu bukuku di Love Journey : Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Duta dan Fatah adalah admin Grup Lombok Backpacker (LB), tempat dimana aku adalah salah satu membernya. Sekian perihal Duta.  

Para ibu

Duta bukan sosok yang asing di tempat ini. Dia sudah sering datang, bertemu, dan membantu anak-anak ini bersama teman-temannya. Bukan hanya teman-teman lokalnya, tetapi juga teman-temannya di grup LB (karena aku pernah beberapa kali melihat foto-fotonya). Jadi siang itu, kami menunggu kedatangan Duta yang sedang Jumatan di desa seberang. Waktu menunggu kumanfaatkan untuk berenang dan snorkeling. Tapi ternyata rasa dingin yang bikin aku menggigil (karena sebelumnya snorkeling di Gili Nanggu), membuatku urung. Akhirnya aku cuma menonton Zahra, Lestari, Gita, dan Ikha yang snorkeling ditemani oleh mas Heri.

Tak terlalu lama, aku dan Citra kembali ke tempat semula. Rupanya Duta sudah datang. Acara baksos baru saja dimulai. Dan aku terkejut, ternyata anak-anak yang kukira dari madrasah tadi ternyata adalah anak-anak yang akan kami temui. Pantas saja, suara mereka yang tadi hiruk pikuk, kini sudah lenyap. Tenang. Rupanya mereka telah berkumpul di dekat sebuah pondok.

Dari ceritanya mbak Fathia, katanya ketika Duta datang, anak-anak itu menyambutnya dengan antusias. Ibu-ibu mereka (ternyata ibu-ibu yang duduk di pondok itu adalah  ibu-ibunya si anak-anak) berteriak menyuruh anak-anaknya menyambut Duta. Dalam bahasa Sasak, mungkin artinya seperti ini: "Hai sini... itu kak Duta. Ayo sambut tamu." 
Anak-anak itu lalu mengerubungi Duta. Mereka lalu duduk di atas pasir. Begitu saja. Dan...bisa kubayangkan bagaimana antusiasnya anak-anak itu. Itu pertanda, Duta sudah sering datang untuk  anak-anak itu.



Di pondok, bersama buku-buku dan Al-Quran dari MBers


Sebelum acara pembagian buku dimulai, acara didahului dengan kata sambutan dari mbak Ima selaku founder MB. Selain itu acara juga diisi dengan tausiyah singkat dari bu Imas. Alhamdulillah sekali Ibu Imas ikut serta dalam trip ini. Kehadiran beliau di tengah kami sudah kami (khususnya saya pribadi) anggap seperti ibu kami. Di acara pemberian sumbangan ini, beliau tak hanya memberi tausiyah, tetapi juga menceritakan tentang budi pekerti Rasulullah SAW dihadapan anak-anak itu. 

Mbak Fathia pun ikut kebagian mengisi acara. Beliau diminta membuat semacam kuis. Bagi anak-anak yang bisa menjawab, akan diberi hadiah. Kuis pertama, Mbak Fathia meminta pada anak-anak untuk menyanyikan lagu khas daerahnya. Tapi anak-anak itu malah berpandangan dengan bingung. Mbak Fathia mungkin berfikir jangan-jangan mereka tidak tahu, akhirnya diubah, lalu anak-anak itu diminta menyanyikan lagu hari merdeka. Syukurnya mereka bisa. 

Anak-anak itu pun bernyanyi, kami juga ikut bernyanyi. Semuanya bersemangat. Ada keharuan dalam hati. Tentu saja. Bagaimana tidak, suara kami yang walau tidak seindah suara Kikan (ex vokalis Coklat), terdengar membahana di pulau kecil itu. Andai ada Ari dan Nia Sihasale, mungkin kami sudah direkamnya. Dijadikan adegan sebuah film tentang anak-anak pulau. Dan pastinya aku jadi bintang utamanya, si penyanyi dangdut yang banting setir jadi penyanyi lagu perjuangan. Bah.

 Ibu Imas sedang bercerita tentang budi pekerti Rasulullah 


Setelah bernyanyi dengan semangat 45, Bu Imas lalu meminta anak-anak itu untuk membaca surah Al Fatihah dan surah-surah pendek lainnya. Alhamdulillah mereka hapal. Untung bukan aku yang disuruh ya, soalnya surah-surah pendek juz amma aku ga hapal. Tapi aku ga kuatir, sebab dalam ranselku sudah sedia juz amma mini yang siap dibaca dengan lantang jika diminta. Eh aku bukan anak-anak itu ya? Ya ampun, kenapa harus cemas ya. Malu ih. Ketahuan ga banyak hafal surah-surah pendek. Ah masa? Ga ding.

Ketika mbak Fathia bertanya: "Hayoo anak-anak, siapa nama presiden dan wakil presiden RI?"

Anak-anak itu terdiam agak lama. Hanya sedikit yang kemudian bisa menjawab. Miris. Lebih miris lagi ketika ditanya siapa wakil presiden RI. Hanya satu orang saja yang tahu, yakni si Ella. Siswi kelas 6 SD yang katanya selalu meraih rangking satu di kelasnya.
Mbak Fathia kembali lanjut bertanya: "Anak-anak, kalian tau kenapa banyak orang-orang asing atau bule datang ke Gili Sudak ini?" 

Anak-anak itu kembali terdiam. Wajah polos kekanakan mereka justru memandang mbak Fathia. Entah apa perasaan Mbak Fathia saat itu.
"Maksud ibu... kalian tau mengapa ibu dan teman-teman ibu datang kesini?"
Gadis kecil manis bernama Ella itu kembali menjawab:  "Untuk melihat keindahan pemandangan bu."
Oh! Sungguh anak-anak itu belum paham mengapa banyak orang asing dari negara lain, maupun orang Indonesia dari daerah lain berbondong-bondong datang ke tempat mereka.




Ella sedang membaca sebuah surah yang diminta oleh Ibu Imas

Siapa anak-anak ini? Mereka anak-anak pulau, tinggal di tepi pantai Desa Sekotong. Setiap hari bertelanjang kaki menempuh perjalanan sejauh 3-4km dari rumah menuju tempat mereka sekolah. Menaiki dan menuruni bukit. Jauh. 1km saja bagiku jauh. Dan mereka setiap hari melakukan itu demi sebuah ilmu yang ingin mereka dapatkan di bangku sekolah.

Kondisi mereka selama ini tetap begini. Miskin dan kurang pendidikan. Mengenakan alas kaki dan baju seadanya. Pendidikan merekapun kebanyakan paling tinggi hanya hingga SD. Kalaupun ada yang lanjut ke SMP dan SMA, kebanyakan tidak sampai selesai. Jauhnya lokasi SMP dan SMA itu yang menjadi penyebab mereka putus sekolah. Aku sedih meneruskan menulis tentang kondisi mereka. Kusudahi saja paragaraf ini. 


 Penyerahan sumbangan secara simbolis dari founder MB, Mbak Ima, kepada perwakilan anak-anak
(foto oleh Mbak Andrie)

Dibalik indahnya daratan dan lautan yang selama ini menjadi destinasi tujuan wisata nasional maupun internasional, ada kisah pilu pada diri anak-anak ini. Oke, mereka mungkin tak merasakan pilu. Mereka terbiasa dalam keadaan demikian, terbiasa dengan apa-apa yang sudah mereka rasakan sedari lahir, besar, bahkan hingga menua. Tetapi, tidakkah kebiasaan itu mestinya beralih menjadi sesuatu yang sepadan dengan apa-apa yang orang nikmati, yang orang rasakan, yang orang lihat atas apa yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka?
Foto sama tante ya sayang...

Mbak Ima, Nita, Mbak Andrie, aku, dan Ella

Mbak Fathia dan Ella 


Waktu begitu cepat berlalu. Pertemuan kami dengan anak-anak itu usai. Buku-buku dan Al-Quran telah dibagikan. Diterima dengan sukacita. Ya Allah, semoga berkah semua ini. Dan sedikit dari yang kami berikan ini semoga berguna untuk mereka. Oh, andai tahu begini, mungkin akan kubawa banyak makanan, pakaian dan obat-obatan untuk mereka. Obat-obatan? Aku melihat anak laki-laki kecil, lengannya diperban dari siku hingga pergelangan tangan. Katanya tangannya patah akibat jatuh dari pohon yang dipanjatnya. Hanya diobati sekedarnya. Sudah lama belum sembuh juga. Tangan kecilnya nampak menjuntai lesu, terayun-ayun seperti bukan bagian dari tubuh yang hidup. Ya Allah ....

Kami bergerak untuk pindah ke Gili Kedis. Melanjutkan snorkeling. Matahari mulai turun. Petang mendekati waktunya. Dan ketika perahu mulai berlayar menjauhi Gili Sudak, anak-anak itu berlarian sambil melambaikan tangan ke arah kami. Teriakan mereka terdengar kencang. Bukan sekedar masuk telinga, tapi melesat kencang menuju sudut hati terdalam. Menciptakan sentuhan yang membuat sedih, seperti akan berpisah dengan anggota keluarga dalam waktu yang lama. Mataku memanas. Setetes air menggenang disudut mata. Kuambil kacamata, menutupinya dari pandangan teman-teman di perahu. 


"dadaaaah.....dadaaaaah........"
(foto oleh mbak Andrie)


-----------


Indah negeriku. Sudah "indahkah" nasib seluruh anak-anak negeriku ini?

Mari bertanya pada pasir-pasir yang terhampar di pantai...


==


Gili Sudak, Lombok Barat - INDONESIA
Jumat 18 Oktober 2013

[Lombok] Di Pantai Kuta, Belanja Souvenir Hingga Pasir Merica

13.45 4 Comments

Assalamu'alaikum Wr Wb

Di Lombok ada Kuta, di Kuta tak ada Lombok.

Menyebut Pantai Kuta, ingatanku langsung tertuju pada Pantai Kuta di Bali. Pantai populer yang sudah tak asing lagi di dunia wisata internasional. Tempat romantis para pasangan yang hendak berbulan madu. Atau bahkan tempat para pencinta olah raga surfing yang hendak menuntaskan hasratnya ber-surfing ria. Ombaknya yang sempurna, pantai panjangnya yang berpasir putih, air lautnya yang jernih dan berwarna biru, juga sunsetnya yang aduhai. Sungguh merupakan sebuah tempat yang berkesan bagi siapapun yang pernah menjejakkan kaki di sana. Tak terkecuali aku yang pernah berkunjung ke Pantai Kuta Bali pada 2011 lalu. Oh, ujung-ujungnya aku malah narsis.

Dari hasil mendengar cerita-cerita para teman yang pernah menjelajah Lombok, mereka sepakat mengatakan bahwa Lombok tidak identik dengan Kuta, sebagaimana Bali identik dengan Kuta. Lombok justru identik dengan Gili. Dan aku sepakat dengan itu.

Lain di Pantai Kuta Bali, lain pula dengan Pantai Kuta di Lombok. Apanya yang lain? Suasananya. 

Aku di Pantai Kuta
Hotel Novotel di latar belakang

Alhamdulillah berkesempatan menapakkan kaki di Pantai Kuta Lombok --salah satu pantai populer di Lombok-- bersama rombongan Muslimah Backpacker. Tercapai salah satu keinginan untuk menjejak pantai menawan yang selama ini hanya bisa kudengar saja cerita-cerita tentangnya. Pantai Kuta ternyata jauh dari Kota Mataram. Perjalanan yang kami tempuh dari Cakranegara, sepertinya telah membuat kami mengelilingi separuh Lombok. Untuk mencapai Pantai Kuta, kami berkendara dengan ELF sewaan. Disupiri seorang Bapak yang kami panggil dengan Pak Haji Ismail.

Pantai Kuta Lombok bukanlah seramai Pantai Kuta Bali. Suasananya masih terbilang sepi dan tenang. Dalam artian tidak banyak orang yang berseliweran, apalagi berjejal seperti Pantai di Hawai. Memang pernah ke Hawai? Ya iyalah, masa belum? Sombong. Pentung aja.

Dalam sekejab pandang mata, nampak pondok-pondok sederhana berdiri di tepian pantai, di antara pohon-pohon yang miskin daun. Pohon yang  unik. Miskin daun tapi kaya ranting. Eksotik kalo kata bule yang suka ama cewek pribumi yang item-item. Pohon apa? Entah aku tak sempat menanyakannya. Tak kulihat ada pohon kelapa di sini, ciri khas pohon yang tumbuh disekitar pantai.

Ketika sampai, kukira kami akan segera turun dari mobil lalu mencari tempat untuk duduk-duduk, tapi ternyata tidak. Ada permintaan untuk pindah dikarenakan teman-teman ingin mencari tempat yang lain. Jauh dari pengunjung lain. Agar lebih nyaman katanya. Pak Haji Ismail pun menurut, kamipun dibawanya untuk pindah tempat. Katanya hendak ke pantai dekat Hotel Novotel.

Mobil melintasi kawasan Kuta. Aku memandang keluar jendela dengan seksama. Memperhatikan keadaan. Ternyata kawasan Kuta cukup ramai. Tempat ini seperti begitu hidup. Beda sekali dengan tempat-tempat lain yang telah kami datangi dan lewati sebelumnya. 

Kawasan wisata di Kuta

Ada banyak penginapan, kafe, dan juga restoran. Di pinggir jalan juga dengan mudah dijumpai tempat-tempat penyewaan papan surfing, life jacket, snorkel, perlengkapan selam dll. Bahkan diskotik dan bar juga ada. Ada banyak toko-toko yang menjual berbagai keperluan. Ada salon. Ada bank (BNI). Dan ada banyak turis asing yang nampak santai melenggang di pinggir jalan. Bukan satu dua tiga atau empat, tapi lebih banyak dari itu. Sekilas sudah mirip suasana di Pantai Kuta Bali, di mana jumlah turis asing terkadang justru mendominasi isi kawasan. 

Pak Haji Ismail bertutur --inilah gunanya duduk tak jauh dari pak supir-- menurutnya nantinya kawasan ini akan dikelola oleh pemerintah. Akan ditata lingkungannya, juga bangunannya. Tetapi, penduduk setempat (para pengusaha hotel dan restoran) seakan tidak mengindahkan itu. Mereka tetap membangun kafe (itu terlihat saat kami melintas) dan penginapan. Bahkan penginapan yang sudah ada, justru diperbagus. Seakan tidak peduli kalau nantinya bangunan mereka itu akan dirubuhkan dan lahannya diambil oleh pemerintah.

Ohya, penginapan, kafe dan resto-resto di kawasan ini terlihat tidak sebagus dan seindah di Bali. Maksudku, bangunannya masih biasa. Tidak artistik. Belum megah apalagi terlihat mewah. Tapi tentu saja sudah cukup lumayan untuk dijadikan tempat menginap. Aku sih ga tahu gimana dalamnya, ya wong cuma melintas saja. Itupun mobilnya sambil ngebut. 

Lain kali kalo ke Lombok lagi, ingin mencoba menginap di kawasan ini. Dekat dengan pantai-pantai. Bisa berbaur pula dengan bule-bule. Lho, buat apa? Eh iya ya buat apa. Ndak tau ah. Eh tapi....sepertinya di Kuta jauh dengan gili-gili. Kalo gitu, ya nginep di kota Mataram saja. Labil.

Kawasan Mandalika
(motret dari balik kaca jendela mobil)

Dari balik kaca mobil, aku membaca signboard bertuliskan "Kawasan Mandalika". Aku sengaja menatap keluar jendela dengan awas, bermaksud mencari keterangan tentang lokasi yang dituju. Dan beruntung ketemu signboard itu. Ga cuma itu sih yang aku temukan, tapi juga tugu-tugu batu yang memperlihatkan bentuk cicak dalam ukuran besar. Kenapa cicak? Ada maknanya lho. Apa? Aku lupa. Ntar aku gugling dulu :D

Kawasan ini cukup luas tetapi terlihat gersang. Tanahnya kering kerontang, tapi anehnya tak menimbulkan debu. Padahal angin laut kerap berhembus di sini. Dan mestinya jika ada debu, maka daun-daun dan apapun yang ada di tempat ini pasti akan berselimut debu. Tapi itu tak terjadi. Hotel serupa resort yang bangunannya menyesuaikan kondisi di pantai, beratap serupa rumah adat suku Sasak. Lokasinya persis di tepi pantai.

Tanah lapang di samping hotel ditumbuhi pohon kelapa yang berbaris rapi. Di bawah pohon-pohon kelapa itu, kerbau-kerbau nampak merumput. Benarkah merumput? Entah. Sebab tiada kulihat rumput hijau di atas permukaan tanah. Jadi kerbau itu sedang makan apa? Mari tanya si kerbau.


Pantai di kawasan Mandalika masih disebut Pantai Kuta (katanya begitu). Ok, berarti tetap kesampaian ya buatku main-main di Pantai Kuta. Dan rupanya, kawasan ini sepi. Betul-betul sepi. Pengunjung pantai hari itu hanya rombongan kami. Ada sih selain kami, tapi hanya sepasang pengunjung saja. Mereka datang dengan motor. Sisanya, hanya ada para penjual souvenir. Apa ndak lihat ada tamu hotel yang turun ke pantai? Siang itu tak ada.

Maka ketika sampai, aku lekas berlarian ke arah bibir pantai. Menyeret segala perlengkapan, mulai dari kain pantai buat alas duduk, kamera, topi, dan juga ransel berisi aneka keperluan. Apa yang dilakukan? Foto-foto tentu saja !


Ninik, photographerku di Pantai Kuta :D

Aku minta tolong Ninik untuk mengulang mengambil gambarku. Sebab sebelumnya ketika di Pantai Mawun, fotoku blur semua. Rasanya tak sempurna kalau tiada foto bagus di tempat sebagus ini. Jadi jangan tanya apa yang terjadi kemudian, aku dan Ninik beraksi di bawah terik mentari yang menyengat kulit. Yang penting foto! 

Alhamdulillah di tengah panasnya cuaca, ada air kelapa muda yang dibelikan untuk kami. Walaupun 1 kelapa diminum untuk berdua, ya tetap Alhamdulillah. Makin afdol rasanya ke pantai. Pinginnya 1 buat sendiri, tapi karena belinya terbatas, ya diminum saja berdua. Untungnya Mbak Fathia mau minum berdua denganku. Kalau enggak, aku yang untung hehe. Jangan gitu ah! Air kelapanya sebetulnya tidak manis, malah terasa sedikit asam. Tapi aku yakin itu asam bukan karena busuk. Jadi tetap kuminum. Termasuk daging kelapa mudanya. Segaaaar.... 

Satu kelapa untuk diminum berdua dengan mbak Fathia :D

Adik-adik kecil penjual souvenir, nampak gigih merayuku dengan gelang-gelang dan gantungan kunci berbentuk orang-orangan dan monyet. Ada tulisan "Lombok Primitif" di gantungan kunci itu. Wajah adik-adik itu begitu memelas. Kata-katanya terus mendesakku. Teringat pesan Pak Haji Ismail, kalau tidak minat beli jangan dipegang, jangan ditawar, dan jangan dijanjikan begini: "nanti aja". Kalau sampai iya, akan diikuti terus.

Tapi aku ga tega. Melihat upaya mereka dalam menjual, timbul rasa kasihan di hati. Akhirnya kuputuskan untuk membeli. Tapi ya gitu, satu penjual laku, penjual lain berdatangan mendekat. Tak ketinggalan pula tiga lelaki dewasa yang menjajakan baju kaos bertuliskan dan bergambarkan karakter Lombok. Tapi ya gapapa juga sih. Namanya jualan, ya harus upaya. Kebetulan aku melihat mbak Fathia, Mbak Andri, dan Mbak Hanifa membeli kaos-kaosnya, aku jadi ikut beli. Beli 5 kaos. Buat siapa? Ya buat siapa saja nanti kalau pulang. Sebagai oleh-oleh. 



 
Penjual Souvenir

Makan siang di salah satu pondok. Makanan dengan rasa seperti biasanya, pedas. Kunikmati saja. Walau belum terlalu lapar, tapi aku harus makan. Bukan agar kenyang, tapi agar jadwal makanku tetap tepat waktu. Ada maag yang selalu mengintai lambungku. Jadi, karena ini jadwal makan siang, maka pedas ga pedas, lapar ga lapar, doyan ga doyan, harus aku makan. Soal habis atau tidak, itu urusan perut. Lho yang punya perut siapa? Aku dong.

Foto-foto sudah, belanja-belanja sudah, makan-makan sudah, minum-minum air kelapa sudah, apa yang belum? Apa ya? Ternyata belum sadar kalau pasir yang kuinjak sedari tiba di sini adalah pasir merica! Apa? Ciyuuuss? Miapaaa? 

Pasir Merica Lombok. 
(yang putih itu pecahan terumbu karang yang dikasih mbak Fathia)

Ya, sudah lama kudengar tentang pasir merica. Dan selama ini baru mendengar dan melihat dari foto saja. Belum pernah melihat langsung. Belum pernah memegangnya langsung. Belum pernah menginjaknya langsung. Dan belum pernah memakannya langsung? Lho emangnya bisa di makan? Ga ding.

Oh, masha Allah, ternyata pasirnya betul-betul serupa biji merica. Merica yang pastinya si bumbu dapur, bukan merica si artis. Eh ada ya nama artis Merica? Ga tahu. Yang ada sih Macica. Wiih...

Aku begitu ingin membawa pasir itu pulang. Ga harus 1 truk sih ya, itu mah namanya mau bangun rumah buuu! Cuma mau ambil sebotol kecil ukuran 300ml saja kok. Boleh ga ya? Bukannya ini namanya termasuk dalam upaya merusak alam? Hah? Masa sih? Haduuuh....tolong deh, minta sedikit saja. Boleh yaa...ya...ya? 

Satu botol pasir merica di tangan Ibu Imas
(difoto dalam mobil ELF saat meninggalkan Pantai Kuta)

Kulihat teman-teman mengambil dan memasukkannya ke wadah botol minum. Akupun melakukan hal serupa. Mulanya kupunguti pasir di bawah pondok tempatku makan, menunduk-nunduk memindahkan pasir ke dalam botol. Hingga datang seorang anak kecil, yang ternyata bersedia mengambilkan pasir merica yang lebih besar, bagus, dan bersih. Di mana? Rupanya ke sisi lain pantai. Ke arah karang besar di sisi kanan pondok tempatku makan. Tapi bayar 2000 perbotol katanya. Okelah. Ga masalah. Sedekah juga buatmu ya dik. Sedekah 2000 doang? Ga dong. Berapa? Mau tau aja deh. Haduh, belagu.

Siang mencapai puncaknya. Matahari merajai hari. Masih ada tempat lain yang hendak kami tuju. Jadi, kami kembali akan berpindah tempat. Melanjutkan perjalanan. Membawa kenangan tentang Pantai Kuta, juga sejumput oleh-oleh. Oleh-oleh yang dibeli dari anak-anak kecil yang bertahan dengan panas, demi sejumput rupiah dari para pengunjung seperti kami. Di mana rumah anak-anak itu? Barangkali di desa-desa dekat kawasan hotel ini. Di sana, berjarak 1-2km sepertinya. Rumah-rumah sederhana, yang berada di kawasan memukau. Memukau para pencinta keindahan. Keindahan yang mengalirkan banyak rupiah tapi belum mengalirkan kesejahteraan pada mereka yang "punya tanah".

Oh negeriku. Indah di mata. Semoga indah pula di "kantong" mereka yang tinggal di sana ya ^__^


Sebelum meninggalkan Pantai Kuta, berfoto bersama Mbak Fathia, Ibu Imas, Zahra, dan Aulia (cucu ibu Imas)
Dua anak kecil (laki-laki berbaju biru dan perempuan ber-rok pendek) adalah dua anak yang mengambilkan pasir merica untuk kami ^_^




====

Lombok, 19 Oktober 2013

 Terima kasih MB (sang founder dan para peserta) yang telah mengadakan di trip ini. 
Karenanya aku berjalan dan belajar.