Nonton Atraksi Aneka Hewan di Ocean Dream Samudera Ancol

12.21 3 Comments
Berkesempatan rekreasi ke Ocean Dream Samudera Ancol (lagi) bersama anak. Di hari biasa (weekday). Tiketnya Rp 90.000,-/orang. Kami rencananya akan menonton Pentas Aneka Satwa (Burung Makau, Berang-berang, Beruang, Kuda Nil), Pentas Singa Laut, Pentas Lumba-Lumba, Pentas Underwater Theater, dan menonton Cinema 4D Turtle Vision Part. Tapi apa daya hanya 3 tempat (Pentas Aneka Satwa, Pentas Singa Laut, Pentas Lumba-Lumba) saja yang bisa disaksikan sebab kami (sebetulnya sih saya) sudah kelelahan (soalnya sesekali pake ngegendong anak segala). 
Semua tempat pertunjukan dipadati penonton. Ga nyangka di hari biasa penontonnya membludak. Yang mengecewakan waktu hendak nonton pentas lumba-lumba, kami kebagian di tempat paling atas gara-gara telat tiba. Salah sendiri sih ga merhatiin jadwal pertunjukan. Antriannya padat. Kami muter lewat belakang. Naik tangga tinggi. Sewaktu sudah di atas eh ternyata sudah ga ada lagi bangku kosong. Betul-betul rame!

Kami terpaksa berdiri sepanjang pertunjukan. Lumayan capek. Akibatnya jadi ga bisa 100% menikmati atraksi yang dipertontonkan. Next time, kalo mau dapat tempat duduk, mesti sigap ngantri. Siang-siang kalau antri di tangga, lumayan kepanasan. Kalo bawa anak, mendingan pentas lumba-lumba ini ditonton di awal (jadwal pertama).

Setelah makan siang, niatnya lanjut nonton cinema 4D, eh ternyata sedang dalam perbaikan. Wah kecewa banget. Setelah ga ada lagi yang ingin ditonton, akhirnya kami pulang.




 Burung Macau


 Berang-berang 

Beruang  Naik Sepeda


 Beruang Main Gitar


Tao Ming Tse, si beruang Afrika yang beratnya 2 Ton (2000 Kg)

 Si mulut besar yang makannya banyaaaak  

3 Singa Laut yang bernama: Syahrini, Dewi Sandra, Nike Ardilla


Singa laut galau, sedang curhat sama Mas Pelatih he he


 Penonton memadati pentas atraksi lumba-lumba



 Layar Lebar, Penonton Padat, 4 Lumba-Lumba, 4 Pelatih


 Lumba-Lumba Menangkap Gelang


 Lumba-Lumba Melompat dan Menari


 Surfing dibantu lumba-lumba


Lumba-lumba melambaikan ekor, mengucap salam sampai jumpa


Tempat Pentas Underwater

Underwater


Nah lupa, tempat apa ini :D

-------

OCEAN DREAM SAMUDERA

•Ocean Dream Samudra Ancol yang diresmikan pada Juni 1974 sebagai perwujudan cita cita  Gubernur Ali Sadikin akan perlunya sarana rekreasi untuk  mengenalkan kepada masyarakat tentang  laut beserta potensinya.
•Dibentuklah Dewan Curator yang terdiri dari Rektor Universitas terkemuka di Indonesia (Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dll) serta lembaga lembaga nasional yang terkait untuk membangun Oceanarium yang diberi nama Gelanggang Samudra Jaya Ancol.
•Gelanggang Samudra Jaya Ancol (Ocean Dream Samudra)  merupakan unit oceanarium terbesar yang terdiri dari pentas lumba-lumba, pentas singa laut, pentas aneka satwa, peragaan satwa, akuarium ikan laut dan tawar  serta taman yang merupakan habitat beraneka macam burung.
•Samudra menjadi pusat studi konservasi ex-situ lumba-lumba (dolphinarium) karena memiliki konsep dan manajemen lumba-lumba yang paling lengkap, meliputi berbagai unsur yang saling mendukung seperti kolam penampungan lumba-lumba, water treatment, trainer/keeper, pengadaan ikan yang berkualitas, laboratorium, para medis dan dokter hewan.

Gelanggang Samudra Ancol merupakan theme park ketiga yang dikembangkan oleh Ancol, merupakan theme park edutainment bertemakan KONSERVASI yang akan mengajak pengunjung untuk dekat, mengenali dan menyayangi aneka satwa, antara lain lumba-lumba, paus putih, dan lain-lain. Pengunjung diberikan sajian hiburan, rekreasi, konservasi satwa, serta pendidikan dan penelitian biota kelautan. Saat ini, pengunjung pun sudah mulai dapat menikmati petualangan Lumba-lumba dalam legenda 1001 Malam. Pengunjung juga dapat menikmati wahana 4D (Empat Dimensi) dimana pengunjung selain dapat melihat, mendengar, mencium juga akan merasakan apa yang dilihat, seperti : cipratan air, hembusan angin dan lain-lain.

Ketiga theme park tersebut tentu saja mengusung tiga tema yang berbeda, jika Dunia Fantasi mengajak pengunjung ber-Fantasi Keliling Dunia, Atlantis mengajak pengunjung untuk melakukan Water Adventure, maka di theme park ketiga ini, Gelanggang Samudra Ancol akan mengajak pengujung melakukan exciting expedition menelusuri kerajaan-kerajaan yang hilang. 

Menumpang Kapal Menuju Pulau Tidung

09.52 2 Comments
 Over Load
Dermaga Muara Angke Jakarta Barat


 Over Load
Beginilah, selama kapal berlayar menuju Pulau Tidung. Berani? :D


Dari buritan kapal, nampak langit pagi belum benderang


 Menikmati Angin 
On the way to Pulau Tidung


Hanya kakiku berkaos kaki 


 Kapal Nelayan


 Duduk tenang dan senang


Sampah para mahasiswa/mahasiswi!
Setiba di dermaga Pulau Tidung



Berjejal
Antri keluar dari kapal


Eiiiit....Jangan pegang saya!


Menjejak Dermaga Pulau Tidung


 Dermaga Pulau Tidung
Mencari Posisi Enak
Bersiap pulang ke Jakarta


Duduk di lantai dek tertutup paling atas


Duduk sama rata berdiri sama tinggi


 Satu kaki satu langit


Main kartu mengisi waktu



Pak Nahkoda


===================



Pulau Tidung terletak di Kepulauan Seribu, bagian dari Kepulauan yang ada di Provinsi DKI Jakarta.
Dapat dicapai dengan menggunakan kapal Ferry dari dermaga Muara Angke. Harga tiket perorang Rp 30.000,- + 3.000  (mungkin PPN 10% hehe) = Rp 33.000,- Waktu tempuh sekitar 2,5Jam. Waktu keberangkatan biasanya jam 7 pagi. Pastikan datang pagi-pagi biar dapat posisi enak di kapal. Dan jangan sampai ketinggalan. Kalau Jam 7 belum tiba, silahkan naik lagi di hari berikutnya hehe. Sebab Kapal hanya berlayar 1x sehari. Saya tak mengurusi tiket dan lain sebagainya sebab sudah diurus oleh pihak travel. Hanya perlu datang pagi-pagi ke dermaga Muara Angke. Di dermaga sudah ada yang menjemput dan mengantar hingga naik kapal. Nanti di Pulau Tidung juga sudah ada penjemput yang sudah disiapkan. Penjemput itu sekaligus merupakan guide selama di Pulau Tidung.

Di kapal, kalau mabuk silahkan ambil tempat di atas. Bagusnya sih diburitan. Selain beratap biar ga kepanasan, juga tak berdinding, biar udara segar leluasa bisa dinikmati selama di kapal. Selain itu juga, memungkinkan bisa leluasa menikmati pemandangan selama pelayaran. 

Selama di kapal, jangan lupa untuk tidak membuang sampah ke laut. Dan kalau makan minum, kantongi lagi semua pembungkus bekas dan botol bekas minuman. Bawa ke pulau, lalu buang di tempat sampah yang sudah di sediakan. Jangan nyampah di laut dan di pulauy, yeee!

---

Pulau Tidung, Kepulauan Seribu JAKARTA - Indonesia

Tetap Fashionable Ketika Fun Dive, Kenapa Tidak?

11.42 12 Comments
Melancong ke Pulau Tidung, rasanya akan menyesal jika melewatkan aktifitas berenang, snorkling dan diving. Pantainya yang berpasir putih, airnya yang jernih, pemandangan bawah lautnya yang indah -dengan berbagai jenis ikan yang rupanya cantik-cantik dan menarik- menjadi daya tarik yang kuat bagi tiap wisatawan yang berkunjung. Dipastikan, keinginan untuk menyelam akan menggebu-gebu. Sepertiku.

Sebagai penggemar olah raga renang dan selam, Pulau Tidung sudah cukup memberi kepuasan padaku. Memang sih, level keindahannya (mungkin) belum bisalah ya dibandingkan dengan taman laut di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Tapi sekali lagi, bagiku pulau yang terletak di utara Jakarta ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi dahaga para wisatawan yang tergila-gila pada keindahan dunia bawah laut.

Kemarin, aku tak membawa kostum khusus renang, apalagi selam. Pikirku, kostum seperti itu hanya akan membuat ranselku overload. Dipakainya pun hanya saat berada di air, kalau sudah di daratan, ya mesti diganti. Kan di Tidung itu, seusai snorkling/diving, wisatawan akan dibawa ke Jembatan Cinta oleh tour guide. Nah, di Jembatan Cinta itu dikasih waktunya lama. Sejak pukul 2 siang sampe matahari terbenam. Kenapa begitu? Karena jadwal tripnya memang begitu. Kebayang kan kelayapan di Jembatan Cinta pake baju selam? Hehe. Kalo pake baju yang bisa digunakan di darat dan di air, kan enak. Kena angin dan panas, kering deh. Kalo pingin nyebur lagi (siapa tahu mau main banana, jetski dll), ga masalah. Asal tahu aja, Jembatan Cinta itu merupakan lokasi tersibuk dan terpadat di Pulau Tidung. Mau antri ganti baju di kamar ganti yang jumlahnya sedikit? Lama!


Selain itu, aku juga punya alasan lain di mana aku bisa sedikit mengandalkan kostum yang tersedia di tempat Water Sport. Biasanya kan gitu ya. Seperti ketika menyelam di Tanjung Benoa-Bali dulu, pihak pengelola sudah menyiapkan kostum dengan berbagai ukuran. Kita tinggal pilih saja mau yang mana. Eeeh...rupanya alasan ini ga tepat kalo diterapkan di Pulau Tidung! Soalnya nih ya, tour guide ga ada mengumumkan tentang "wajib" pakai kostum khusus selam. Udah gitu, aku juga ga lihat ada persediaan baju untuk para penyelam. Eh..eehm..tapi aku ragu ding :D soalnya aku memang tak menanyakan itu. Ada sih liat beberapa laki-laki yang berkostum selam, tapi menurutku mereka itu bukan pengunjung melainkan guide selam. Kelihatan dari tindak tanduknya *kerbau kalee ada tanduknya.

Kostum andalanku untuk di darat (maksudku pantainya lho ya) yang sekaligus bisa digunakan di air (saat berenang, snorkling, diving) hanya berupa celana panjang+baju kaos lengan panjang+rok. Rok yang aku maksud itu berupa kain batik lebar (bukan sarung) yang dililitkan dipinggang. Dua ujungnya di bagian atas, aku ikat biar kencang (biar ga melorot tentunya yaa). Rok itu aku buat agar dapat membantu menutupi bentuk tubuh :)

Andaikata tour guideku mewajibkan harus berpakaian selam, ya tetap akan patuhi, tapi tentu dengan syarat-syarat tertentu. Kalau misal baju selamnya serba pendek (kayak waktu menyelam di Tanjung Benoa-Bali), akan kukenakan kostum double. Kostum menutup aurat di bagian dalam, lalu kostum selamnya di bagian luar. 
Untuk tutup kepala, aku mengenakan kerudung bahan Paris segi empat yang dilipat segitiga. Ujung kerudung bagian depannya dimasukkan ke dalam bros bulat yang dapat menjepit dengan erat. Kenapa kerudung di bagian depan mesti diikat? Supaya tidak mengganggu penyelaman! Karena biasanya saat menyelam posisi badan kan seperti menukik. Berdasarkan pengalamanku, pada posisi itu kerudung akan melayang naik ke atas, mengarah ke wajah. Menutupi pandangan. Bahaya lho. Coba kalau tiba-tiba ada sesuatu, misalnya ada Hiu lapar yang tiba-tiba meluncur mendekati, ga kliatan ya kan? #Takut Hiu, kebanyakan nonton film hehe

Ujung kerudung yang menjuntai ada kemungkinan bisa tersangkut di terumbu karang (kalo pa lagi dekat-dekat terumbu karang yang besar dan bentuknya rumit). Kalau mudah ditarik ya gapapa, kalau sulit? Silahkan sibuk antara menarik kerudung dan berlama-lama menahan nafas. Wiiih....serem kan ya :D

Untuk baju atasanku, hanya berupa kaos lengan panjang. Memang ga longgar sih, tapi bukan berarti daku hendak berketat ria ya. Di sini aku lebih memperhatikan faktor keamanan. Ada semacam ketakutan juga pada resiko-resiko berbahaya ketika berada di kedalaman. Dunia berbeda dari biasanya, dimana keselamatan bergantung pada oksigen. Baju besar dan longgar, seperti halnya kain batik yang aku kenakan, sangat beresiko jika tersangkut di terumbu karang, atau bahkan tidak sengaja melilit tubuh saat berputar atau bergerak-gerak di dalam air. Satu kesalahan kecil bisa berakibat besar, bukan? 

Mungkin memang jarang terjadi hal-hal seperti yang kubayangkan itu, tapi tidak menutup kemungkinan ujung rok atau baju yang menjuntai bisa tersangkut. Ketika mendapati keadaan demikian, sudah pasti akan menimbukan kepanikan. Rasa panik bisa membuat keadaan menjadi kacau. Menyelam tanpa alat bantu pernafasan (freediving) seperti yang aku lakukan ini tentu beresiko besar. Mengurus kostum yang tersangkut tentu memerlukan waktu lebih banyak untuk menahan nafas. Jika tak dapat bertahan, bisa terminum air, dan paru-paru terisi oleh air laut. Resiko terparahnya adalah kematian.


Lagipula, baju longgar akan membuatnya mudah tersingkap. Jangankan baju longgar, baju rada ketat yang kupakai saja tersingkap di menit-menit terakhir penyelaman. Itu terjadi karena gerakan-gerakan badan yang terjadi selama di dalam air. Udah gitu, rok batik yang melilit pingganggku sudah tak sekencang waktu pertama masuk air. Syukurnya, bagian tersingkap itu ga tertangkap kamera ya hehe. Jangan sampe deh.

Hmmm...aku jadi berfikir tentang sebab mengapa orang-orang yang beraktifitas di air itu kostumnya "minim", ketat dan tanpa tambahan macem-macem (seperti rumbai atau renda-renda haha), mungkin salah satu alasannya ya itu tadi. Tapi karena aku seorang muslimah, aku ga harus ngikut aturan kostum seperti itu dong ya. Tetapi juga tak berarti aku harus menyelam dengan kostum lebar panjaaang seperti mukena. Yang penting aman dan tetap usahakan agar menutup aurat. Bagaimanapun, kan ada guide juga yang melihat kita di dalam air :) 


Belajar freediving ke dasar laut dengan kedalaman 6-8 meter, melihat dari dekat beraneka ragam bentuk terumbu karang. Indah! Membawa potongan roti tawar, memancing ikan-ikan untuk datang. Bermain-main seru. Asyik! Memang tak seberapa kedalaman laut yang kuselami tapi prestasi freediving bukan pada kedalamannya tapi berapa lama seseorang mampu menahan nafas di dalam air.

Terumbu karang permukaannya tajam-tajam, beberapa kali tak hati-hati menyentuhnya. Kulitku tergores, bagai di parut. Darahnya lumayan. Air laut yang asin, membuat lukanya terasa pedih bukan main. Badan ini memang tanpa pemberat, tanpa fins, tanpa tabung oksigen, karena itulah berkali-kali badan bagai terpental ke permukaan. Aku berusaha keras berpegangan pada terumbu karang, agar tak lekas naik dan mengapung. Jari-jari tangan ingin kuat-kuat mencengkeram, tapi yang didapat justru luka. Menyesal pada karang-karang, bukan maksud hati hendak merusak, hanya sekedar ingin numpang berpegangan. Tapi syukurnya, aku tak "melukai" apapun, meskipun tanganku terluka. Rasa perihnya baru hilang tiga hari kemudian.

Darah merah yang mengalir di sela-sela jari, seketika bikin aku teringat Hiu. Darah dari luka-lukaku itu sepertinya bisa memancing kedatangannya! Hoaaa... ngeri!

Tapi kata teman-teman yang sudah berpengalaman, jangan takut Hiu, sebab Hiu itu sebenarnya juga takut manusia :D
Jadi mari nikmati bermain bersama ikan-ikan.... 

*********************



Ini kostum yang aku kenakan saat berenang dan menyelam itu 



Freediving di Dasar Laut Pulau Tidung bersama Buku LOVE JOURNEY

14.47 17 Comments

Pada Desember tahun 2012 lalu, saya pernah bilang ke teman-teman kontributor buku Love Journey (LJ) : Ada Cinta Di Tiap Perjalanan bahwa suatu hari saya akan membawa buku LJ berpetualang di dasar laut. Keinginan itu saya rencanakan selama hampir empat bulan. Alhamdulillah tercapai pada Sabtu 6 April 2013 kemarin. Lega dan bangga dapat menyelam bersama buku LJ di dasar laut Kepulauan Seribu.

Seperti yang teman-teman tahu, Buku Love Journey ini adalah buku pertama yang menyelipkan salah satu karya tulis saya. Perasaan gembira, haru, dan bahagia, tentu menyelimuti hati, hingga saya merasa begitu ingin memberikan penghargaan secara khusus pada buku ini. Semacam selebrasi. Dan penyelaman bersama buku LJ di dasar laut Pulau Tidung ini boleh jadi disebut sebagai selebrasi yang tertunda. 


Menyelam berdua buku LJ juga sebagai bentuk pembuktian bahwa apa yang pernah saya tulis di buku Love Journey, yakni tentang pengalaman perdana menyelam di dasar laut pulau dewata, memang benar-benar berharga (sekaligus berkesan) sebagai sebuah pembelajaran bagi saya pribadi. Sebuah pengalaman unik yang menjadi awal mula saya berani melakukan apa yang saya takutkan. Ya, saya takut kedalaman. Takut kegelapan. Takut hewan-hewan laut seperti hiu dan paus (hihi akibat kebanyakan nonton film :p). Lalu, semua ketakutan itu saya lawan. Saya bunuh. Dan satu-satunya cara ampuh melawan dan membunuh segala hal menakutkan itu adalah dengan cara melakukan apa yang saya takutkan. 


Moment di Bali itu sangat berkesan di hati. Saking berkesannya, rasanya tuh buku pantas mendapat kehormatan dengan cara yang unik. Saya sempat tak menemukan cara unik apa yang pantas saya persembahkan buat LJ. Setelah berfikir berkali-kali, muncul ide ini : “Kenapa ga di bawa menyelam saja? Trus foto deh di bawah laut.” Wah iya juga ya. Makanya, ide pun itu saya realisasikan dalam perjalanan wisata saya ke Pulau Tidung. 

Di Pulau Tidung, sebenarnya saya tidak punya jadwal diving. Sesuai paket dari travel agent yang saya pakai, saya ini cuma berhak snorkeling. Diving dan snorkeling itu beda lho. Nah, saya tidak ingin sekedar snorkeling, tapi juga ingin diving dan membuat foto-foto di dasar laut. Alhamdulillah, travel bisa flexible soal jadwal. Saya akhirnya bisa menikmati snorkling dan fun dive sekaligus.

Kamera underwater yang saya sewa seharga Rp 100.000,- saya gunakan sepuasnya. Di jepretkan sebanyak-banyaknya. Jadi, sebelum menyelam, saya tunjukkan pada mas Topan (guide tour saya selama di Tidung) pose-pose seperti apa saja yang saya inginkan di dalam air. Mas Topan yang memang cooperatif, mengerti dengan apa yang saya inginkan. Oke, siap menyelam. 


Life jacket, snorkel, serta fins yang diberikan tour guide, tidak saya kenakan. Fins itu bikin ribet, walaupun sebenarnya sangat membantu untuk menyelam maupun naik ke permukaan. Lagipula, jika fins mengenai terumbu karang, bisa bikin rusak. Saya ga mau begitu. Jadi, saya benar-benar hanya ingin membawa diri saja, bebas dari segala perlengkapan. Bebas. Lepas. Tanpa tabung oksigen!

Ya, jadi ceritanya saya ini freediving, sebutan untuk orang yang menyelam tanpa alat bantu pernafasan. Wow freediving? Untuk gagah-gagahan? Ya enggaklah! Apalagi untuk sok-sok'an. Kalau main-main taruhannya nyawa. Salah sedikit saja fatal akibatnya. Bisa mati kehabisan nafas. Sebagai olahraga terekstrem kedua setelah Skydiving, freediving jelas termasuk olahraga berbahaya. Jadi, ga mungkinlah saya mau sok jago. 

Eh bukan main, laut Pulau Tidung ternyata ga dingin ya. Saya ga merasa kedinginan apalagi menggigil. Beda banget dengan menyelam di Bali. Mungkin karena saya sangat siap, tanpa takut, dan punya semangat tinggi demi membawa buku Love Journey ke dasar laut. Hehe bisa jadi.

Singkatnya, saya pun menyelam. 1 kali 2 kali masih belum sukses karena agak diliputi ketegangan. Ketiga kali baru rileks, dan saya sukses mencapai dasar laut. Lumayan repot bawa-bawa buku, berkali-kali seperti terpental ke permukaan, mengapung lagi. Berjuang berkali-kali, menggapai karang di dasar, untuk berpegangan. Berhasil.Meskipun jari-jari di kedua tangan saya tergores terumbu karang. Berdarah lho. Pedih bukan main. Namun, biarpun terluka, usai berpose ria dengan buku, saya tetap lanjut fun diving.

Ya, foto-foto dan cerita ini saya persembahkan untuk semua teman kontributor Love Journey yang telah berbagi kisah-kisah inspiratif tentang journey mereka. Senang menjadi bagian dari mereka di buku ini. Kalau kalian ingin tahu tentang isi buku ini, silahkan cari tahu dengan membaca bukunya ya kawan. Banyak pesan dan hikmah yang bisa dipetik dari tiap kisah. Sekilas tentang buku Love Journey, bisa baca pada tulisan saya yang ini --> Love Journey: Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Hohoho...promosi sepanjang masa ^__^

Senang rasanya bisa melakukan penyelaman bersama buku Love Journey dengan teknik freediving. Makin kokoh deh ya sebutan titisan bidadari laut itu untuk saya huehehehe...belagu!

Bravo Love Journey!




Cerita lainnya --->: Tetap fashionable ketika fun dive

Mengikat Cinta Di Saung Selatan Pulau Tidung

16.02 Add Comment

Namanya Saung Selatan. Salah satu tempat minum air kelapa muda di Pulau Tidung. Dari penginapan, kami bersepeda. Melewati perkampungan, sekolah-sekolah, hamparan tanaman Tapak Dara, juga ilalang hijau lebat yang gemulai dihembus angin laut. Cantik sekali.

Sebenarnya, tempat minum kelapa yang disebutkan dalam jadwal trip adalah di Saung Barat. Tetapi Mas Topan bilang, kelapa di Saung Selatan adalah kelapa yang dipetik dari pohon kelapa yang tumbuh di Pulau Tidung. Sedangkan di Saung Barat, kelapanya kadang-kadang dibawa dari Jakarta. Katanya pasti lebih enak kelapa asli pulau. Entah apa bedanya, Mas Topan tak menerangkannya. Tetapi yang jelas, jarak tempuh ke Saung Barat lebih jauh ketimbang Saung Selatan!

Sluuurrrrrp. Segar!

Oke, memilih Saung Selatan berarti karena dekat. Maklum, saat itu sudah pukul 11 siang, dan kami baru 1 jam yang lalu tiba di Pulau. Mungkin Mas Topan bermaksud agar kami megnhemat energi, sebab 2 jam lagi kami akan di bawa ke pulau lain untuk kegiatan snorkling.

Seperti namanya, Saung Selatan terletak di sebelah selatan pulau Tidung. Saung-saung sederhana dari kayu dan bambu, beratap rumbia, berdiri di tepi pantai. Menghadap lautan luas, di kelilingi ilalang, pohon pinus, dan pohon kelapa. Ada gubug kayu menempel di ketinggian pohon, tempat minum kelapa muda bagi yang bisa memanjat dan ingin merasakan sensasi minum kelapa dari ketinggian. Angin laut. Debur Ombak. Pasir putih yang halus. Perpaduan yang sempurna untuk sebuah tempat bersantai sembari menikmati segarnya air kelapa muda yang dipetik dari pohon kelapa yang tumbuh di Pulau Tidung.

Ini anak-anak rombongan keluarga yang menggelar acara tunangan itu

Mas Topan hanya mengantar kami, lalu pergi lagi untuk menyiapkan perahu yang akan dipakai untuk pergi snorkling jam 1 siang nanti. Aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Tumpukan kelapa muda terlihat meninggi di belakang saung. Sepeda motor berjejer di sisi lainnya, berjumlah sekitar 7-8 sepeda motor. Motor wisatawan? Tentu bukan. Itu milik penduduk pulau. Wisatawan di Tidung hanya menggunakan sepeda. Saat itu tiada sepeda lain selain sepeda kami. Lantas, orang-orang yang datang dengan motor itu sedang apa?

"Ayo makan bareng kami, lihat ini nasi dan lauk pauknya banyak."

Seorang ibu tiba-tiba berucap pada kami, menawarkan makan bersama. Wajahnya tersenyum ramah dan sangat bersahabat. Aku menolehkan pandang ke saung sebelah, tempat ibu itu duduk bersama rombongannya. Nampak 8-10 orang sedang duduk mengerumuni hidangan makan. Wow, makan! Pepes ikan, gulai nangka, kerupuk ikan, sambal, lalapan, minuman, nasiiiiii! 

"Tidak ibu, terima kasih. Kami baru saja makan siang di penginapan."

Aku menolak tawarannya dengan halus. Tentu saja aku masih kenyang, sebab sebelum ke Saung Selatan ini perutku sudah diisi terlebih dahulu. Dan ini saja rasanya bakal bertambah kenyang karena sebuah kelapa yang sangat segar dan manis, bersiap untuk melewati tenggorokannku dan mengisi perutku.

"Ayolaaah, ini banyak sekali makanannya," ajak ibu itu lagi.

Aku kembali menolak dan mengucapkan terima kasih. Pria yang berada di antara rombongan keluarga itu, juga menawari kami makan. Kami tetap menolak. 
Pria yang lewat itu, dan anak-anak yang bermain air di belakangku
adalah bagian dari rombongan keluarga yang bertunangan

Tanpa aku perlu bertanya, si ibu bercerita sambil menikmati isi piringnya. Ternyata, saat itu mereka sedang merayakan pertunangan salah satu anggota keluarga mereka. Pertunangan telah berlangsung beberapa saat sebelum kami tiba. Dan makan-makan itu sebagai bentuk syukurannya. Pantas saja tadi ketika tiba aku mendengar seorang Bapak sedang memimpin para keluarga membaca surat Al-Fatihah, dihadapan hidangan yang digelar di atas saung.

Dua sejoli baru saja mengikat janji, disaksikan masing-masing keluarga. Hanya sejumlah kecil anggota keluarga, tapi cukup semarak oleh celoteh, tawa, dan kebahagiaan yang terpancar pada wajah-wajah mereka. Uniknya -ini kata si ibu lho- mantan pacarnya si gadis, juga datang pada acara pertunangan itu. Waw, betapa besar jiwanya si mantan ya. Lapang dada menerima kenyataan seperti itu. Salut deh buat laki-laki itu.
Anak-anak ini merupakan rombongan dari keluarga yang bertunangan
Kelapa mudaku bagai tak habis-habis. Mungkin karena aku sudah kekenyangan, jadi rasanya perut sudah penuh. Hingga jam 12 tiba, air kelapa itu masih bersisa separuh. Ku kira setelah bermain ayunan, berjalan di pantai, melihat anak-anak bermain di air, bisa mempengaruhi moodku untuk menghabiskan sisa air kelapa. Ternyata tidak. 

Wisatawan lain mulai berdatangan. Sepeda-sepeda mulai berjejer di parkiran. Saung mulai ramai. Pak penjual kelapa mulai sibuk membelah kelapa. Kami beranjak pulang. Membayar kelapa seharga Rp 8 ribu plus Rp 2 ribu untuk parkir sepeda. Mendahului rombongan keluarga yang masih berbahagia merayakan pertunangan yang digelar sederhana di Saung Selatan.
Ada net volley di belakang, di air yang tingginya sepinggang orang dewasa

Ketika sepeda kami mulai menjauhi saung, aku baru sadar kalau aku terlupa untuk memotret keluarga itu. Hanya ada foto sebagian dari rombongan mereka yang sedang bermain di bibir pantai, itupun anak-anak mereka. Juga satu dan dua pria dewasa yang duduk dikayu sambil makan, memisahkan diri dari rombongan yang di saung (dan pria ini juga yang tadi menawari kami makan). Ya sudahlah, walau foto acara syukuran mereka tak ada, tapi cerita tentang mereka jelas ada dalam penglihatanku. Membekas dalam kenangan. Andai salah satu dari mereka membaca ini, aku ingin ucapkan: Semoga yang sepasang sejoli yang telah bertunangan, dipermudah menuju pelaminan, dan bahagia selamanya. Aamiin.



Pria berbaju putih, duduk di bawah pohon, sedang makan.
Dia bagian dari keluarga yang sedang menggelar syukuran pertunangan


Mencari Sisa Makanan