Tetap Fashionable Ketika Fun Dive, Kenapa Tidak?

11.42
Melancong ke Pulau Tidung, rasanya akan menyesal jika melewatkan aktifitas berenang, snorkling dan diving. Pantainya yang berpasir putih, airnya yang jernih, pemandangan bawah lautnya yang indah -dengan berbagai jenis ikan yang rupanya cantik-cantik dan menarik- menjadi daya tarik yang kuat bagi tiap wisatawan yang berkunjung. Dipastikan, keinginan untuk menyelam akan menggebu-gebu. Sepertiku.

Sebagai penggemar olah raga renang dan selam, Pulau Tidung sudah cukup memberi kepuasan padaku. Memang sih, level keindahannya (mungkin) belum bisalah ya dibandingkan dengan taman laut di pulau-pulau lainnya di Indonesia. Tapi sekali lagi, bagiku pulau yang terletak di utara Jakarta ini sudah lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi dahaga para wisatawan yang tergila-gila pada keindahan dunia bawah laut.

Kemarin, aku tak membawa kostum khusus renang, apalagi selam. Pikirku, kostum seperti itu hanya akan membuat ranselku overload. Dipakainya pun hanya saat berada di air, kalau sudah di daratan, ya mesti diganti. Kan di Tidung itu, seusai snorkling/diving, wisatawan akan dibawa ke Jembatan Cinta oleh tour guide. Nah, di Jembatan Cinta itu dikasih waktunya lama. Sejak pukul 2 siang sampe matahari terbenam. Kenapa begitu? Karena jadwal tripnya memang begitu. Kebayang kan kelayapan di Jembatan Cinta pake baju selam? Hehe. Kalo pake baju yang bisa digunakan di darat dan di air, kan enak. Kena angin dan panas, kering deh. Kalo pingin nyebur lagi (siapa tahu mau main banana, jetski dll), ga masalah. Asal tahu aja, Jembatan Cinta itu merupakan lokasi tersibuk dan terpadat di Pulau Tidung. Mau antri ganti baju di kamar ganti yang jumlahnya sedikit? Lama!


Selain itu, aku juga punya alasan lain di mana aku bisa sedikit mengandalkan kostum yang tersedia di tempat Water Sport. Biasanya kan gitu ya. Seperti ketika menyelam di Tanjung Benoa-Bali dulu, pihak pengelola sudah menyiapkan kostum dengan berbagai ukuran. Kita tinggal pilih saja mau yang mana. Eeeh...rupanya alasan ini ga tepat kalo diterapkan di Pulau Tidung! Soalnya nih ya, tour guide ga ada mengumumkan tentang "wajib" pakai kostum khusus selam. Udah gitu, aku juga ga lihat ada persediaan baju untuk para penyelam. Eh..eehm..tapi aku ragu ding :D soalnya aku memang tak menanyakan itu. Ada sih liat beberapa laki-laki yang berkostum selam, tapi menurutku mereka itu bukan pengunjung melainkan guide selam. Kelihatan dari tindak tanduknya *kerbau kalee ada tanduknya.

Kostum andalanku untuk di darat (maksudku pantainya lho ya) yang sekaligus bisa digunakan di air (saat berenang, snorkling, diving) hanya berupa celana panjang+baju kaos lengan panjang+rok. Rok yang aku maksud itu berupa kain batik lebar (bukan sarung) yang dililitkan dipinggang. Dua ujungnya di bagian atas, aku ikat biar kencang (biar ga melorot tentunya yaa). Rok itu aku buat agar dapat membantu menutupi bentuk tubuh :)

Andaikata tour guideku mewajibkan harus berpakaian selam, ya tetap akan patuhi, tapi tentu dengan syarat-syarat tertentu. Kalau misal baju selamnya serba pendek (kayak waktu menyelam di Tanjung Benoa-Bali), akan kukenakan kostum double. Kostum menutup aurat di bagian dalam, lalu kostum selamnya di bagian luar. 
Untuk tutup kepala, aku mengenakan kerudung bahan Paris segi empat yang dilipat segitiga. Ujung kerudung bagian depannya dimasukkan ke dalam bros bulat yang dapat menjepit dengan erat. Kenapa kerudung di bagian depan mesti diikat? Supaya tidak mengganggu penyelaman! Karena biasanya saat menyelam posisi badan kan seperti menukik. Berdasarkan pengalamanku, pada posisi itu kerudung akan melayang naik ke atas, mengarah ke wajah. Menutupi pandangan. Bahaya lho. Coba kalau tiba-tiba ada sesuatu, misalnya ada Hiu lapar yang tiba-tiba meluncur mendekati, ga kliatan ya kan? #Takut Hiu, kebanyakan nonton film hehe

Ujung kerudung yang menjuntai ada kemungkinan bisa tersangkut di terumbu karang (kalo pa lagi dekat-dekat terumbu karang yang besar dan bentuknya rumit). Kalau mudah ditarik ya gapapa, kalau sulit? Silahkan sibuk antara menarik kerudung dan berlama-lama menahan nafas. Wiiih....serem kan ya :D

Untuk baju atasanku, hanya berupa kaos lengan panjang. Memang ga longgar sih, tapi bukan berarti daku hendak berketat ria ya. Di sini aku lebih memperhatikan faktor keamanan. Ada semacam ketakutan juga pada resiko-resiko berbahaya ketika berada di kedalaman. Dunia berbeda dari biasanya, dimana keselamatan bergantung pada oksigen. Baju besar dan longgar, seperti halnya kain batik yang aku kenakan, sangat beresiko jika tersangkut di terumbu karang, atau bahkan tidak sengaja melilit tubuh saat berputar atau bergerak-gerak di dalam air. Satu kesalahan kecil bisa berakibat besar, bukan? 

Mungkin memang jarang terjadi hal-hal seperti yang kubayangkan itu, tapi tidak menutup kemungkinan ujung rok atau baju yang menjuntai bisa tersangkut. Ketika mendapati keadaan demikian, sudah pasti akan menimbukan kepanikan. Rasa panik bisa membuat keadaan menjadi kacau. Menyelam tanpa alat bantu pernafasan (freediving) seperti yang aku lakukan ini tentu beresiko besar. Mengurus kostum yang tersangkut tentu memerlukan waktu lebih banyak untuk menahan nafas. Jika tak dapat bertahan, bisa terminum air, dan paru-paru terisi oleh air laut. Resiko terparahnya adalah kematian.


Lagipula, baju longgar akan membuatnya mudah tersingkap. Jangankan baju longgar, baju rada ketat yang kupakai saja tersingkap di menit-menit terakhir penyelaman. Itu terjadi karena gerakan-gerakan badan yang terjadi selama di dalam air. Udah gitu, rok batik yang melilit pingganggku sudah tak sekencang waktu pertama masuk air. Syukurnya, bagian tersingkap itu ga tertangkap kamera ya hehe. Jangan sampe deh.

Hmmm...aku jadi berfikir tentang sebab mengapa orang-orang yang beraktifitas di air itu kostumnya "minim", ketat dan tanpa tambahan macem-macem (seperti rumbai atau renda-renda haha), mungkin salah satu alasannya ya itu tadi. Tapi karena aku seorang muslimah, aku ga harus ngikut aturan kostum seperti itu dong ya. Tetapi juga tak berarti aku harus menyelam dengan kostum lebar panjaaang seperti mukena. Yang penting aman dan tetap usahakan agar menutup aurat. Bagaimanapun, kan ada guide juga yang melihat kita di dalam air :) 


Belajar freediving ke dasar laut dengan kedalaman 6-8 meter, melihat dari dekat beraneka ragam bentuk terumbu karang. Indah! Membawa potongan roti tawar, memancing ikan-ikan untuk datang. Bermain-main seru. Asyik! Memang tak seberapa kedalaman laut yang kuselami tapi prestasi freediving bukan pada kedalamannya tapi berapa lama seseorang mampu menahan nafas di dalam air.

Terumbu karang permukaannya tajam-tajam, beberapa kali tak hati-hati menyentuhnya. Kulitku tergores, bagai di parut. Darahnya lumayan. Air laut yang asin, membuat lukanya terasa pedih bukan main. Badan ini memang tanpa pemberat, tanpa fins, tanpa tabung oksigen, karena itulah berkali-kali badan bagai terpental ke permukaan. Aku berusaha keras berpegangan pada terumbu karang, agar tak lekas naik dan mengapung. Jari-jari tangan ingin kuat-kuat mencengkeram, tapi yang didapat justru luka. Menyesal pada karang-karang, bukan maksud hati hendak merusak, hanya sekedar ingin numpang berpegangan. Tapi syukurnya, aku tak "melukai" apapun, meskipun tanganku terluka. Rasa perihnya baru hilang tiga hari kemudian.

Darah merah yang mengalir di sela-sela jari, seketika bikin aku teringat Hiu. Darah dari luka-lukaku itu sepertinya bisa memancing kedatangannya! Hoaaa... ngeri!

Tapi kata teman-teman yang sudah berpengalaman, jangan takut Hiu, sebab Hiu itu sebenarnya juga takut manusia :D
Jadi mari nikmati bermain bersama ikan-ikan.... 

*********************



Ini kostum yang aku kenakan saat berenang dan menyelam itu 



Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

12 comments

Write comments
18 April 2013 14.50 delete

Bener-bener penyelam handal nih mbak Rien *kasih jempol*

OOT : Setiap mampir ke blog mbak Rien ini selalu ngerasa tenaaang damaaai gitu gegara instrumen musik yang mendayu syahdu haha.

Reply
avatar
18 April 2013 15.05 delete

Aduuuh...jangan dulu disebut handal. Malu! Aku ini pemula :))

Iya nih Cek Yan, sengaja dikasih musik yang menenangkan, biar Oom Ndut yang endut ga kegerahan hihihi

Reply
avatar
20 April 2013 11.15 delete

Melihat foto-foto itu aja udah kepingin nyebur rasanya *lirik bak di kamar mandi* eh belajar berenang dulu ding *maluw* :p

Reply
avatar
21 April 2013 06.09 delete

foto kelima mau eksyen bareng ikan ya mbak?
mirip2an gitu ya? hahahaha

Reply
avatar
21 April 2013 18.45 delete

Duh, segede apa kira-kira ya bak mandinya *lirik2 foto Om ndut yang gede* :))
Sungai Musi besak nian, ngapo idak dipake buat belajar renang be Cek Yan? Ayolah belajar, biar sempurna kalo sedang jalan-jalan ke pantai. Dak afdol kan kalu ke pantai idak pake berenang :D

Reply
avatar
21 April 2013 18.52 delete

haha..iya mbak, lagi ngeker2 apa sudah layak jadi ikan duyung haha

Reply
avatar
21 April 2013 19.49 delete

Hahahahahahaha...
Duyung pake bikini bukan apke jilbab :p

Reply
avatar
29 April 2013 09.10 delete

Ini duyung muslimah, yang mentaati perintah Allah :D

Reply
avatar
7 Juni 2013 08.35 delete

keren nih mba rien :)
kapan2 kalo kesana nyoba nyelem juga ah :D *belum pernah*

Reply
avatar
4 Juli 2013 13.00 delete

Hi Lia, apa kabar? AKhirnya BW juga ya.
Aamiin.... monggo silahkan ke Kepulauan Seribu, Lia. Ada banyak pulau cakep yang layak dikunjungi. Siip...menyelam yang puas ya :D

Reply
avatar
29 Maret 2016 11.40 delete

Salam Kenal Mba,

Mba mau tanya, itu kain pantainya diajak nyelam juga?

Reply
avatar
29 Maret 2016 12.45 delete

Salam kenal juga. Iya saya bawa nyelam.

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon