Duku Dari Kebun di Palembang

11.12


"Musim duku telah tiba. Duku-duku telah matang di pohon. Kebun-kebun ramai oleh penjaga dan pemborong. Perahu sekoci hilir mudik membelah sungai, mengangkut pemilik kebun dan para pekerja dari ujung desa ke ujung yang lain. Perjalanan juga bisa ditempuh lewat darat, tapi makan waktu. Para pekerja datang pagi-pagi. Mereka membawa tali temali, karung, peralatan tukang seperti palu, paku, obeng, dan tang. Bergotong royong mereka bekerja. Ada yang membuat kotak-kotak kayu berukuran 40x60cm yang di lapis koran atas bawah dan samping kiri kanan agar kulit duku tak lekas menghitam. Ada yang bertugas memilah-milah buah, memisahkan kualitas bagus dan kurang bagus. Yang bagus dimasukan dalam kotak kayu yang disebut peti. Ada yang memanjat, lalu menggugurkan buah dengan cara menggoyang-goyangkan dahan-dahan. Yang lain menggunakan kayu dan bambu panjang. Di bawah, pekerja lainnya merentangkan terpal, menadah buah yang jatuh.

Jika peti-peti kayu telah penuh terisi, lalu diangkut untuk kemudian dimasukkan ke dalam truk-truk besar yang telah menanti di pangkalan. Jika truk sudah penuh, maka akan segera diberangkatkan ke pulau Jawa. Di antar ke pasar Induk Jakarta. Di sanalah buah-buah duku menyebar ke pedagang-pedagang, untuk kemudian mampir ke rumah-rumah pembeli"

* * * * * *

Kemarin ada kiriman dua kotak duku dari Palembang. Di petik dari kebun sendiri. Bukan kebun saya, tapi kebun keluarga milik nenek kakek saya. Menurut ibu, kebun duku tersebut sudah berusia lebih dari satu abad. Sudah ada sejak jaman nenek saya muda. Terdapat lebih dari 100 batang pohon duku. Setiap tahun, semua pohon selalu berbuah. Di saat bersamaan, pohon durian, rambutan, rambai, dan manggis juga berbuah. Keadaan ini sungguh menggembirakan. Bertabur buah. Berlimpah ruah. Alhamdulillah. Namun sayang, buah-buah itu tiada yang berharga kecuali duku. Tak ada yang mau makan rambutan, rambai dan manggis. Terbuang hingga mubazir. Orang-orang di sana bukan tak suka, tapi sudah "maleg" alias bosan. Di jual tak laku. Mungkin karena hampir penduduk di sana punya kebun. Jadi sudah puas dengan apa yang ada. Di jual keluar daerah, tak mau. Besar di ongkos. Begitu katanya.

Selain duku, hanya duren yang masih ada harganya. Itupun sangat murah. Satu buah durian dihargai Rp 1000,- s/d 2000,- saja. Sungguh tak berharga. Agar tak mubazir, buah durian biasanya dijadikan lempok atau disebut juga dodol duren. Bisa juga dijadikan tempoyak, yaitu durian yang diasamkan yang nantinya akan digunakan sebagai bumbu masak. Biasanya tempoyak dimasak untuk bumbu gulai ikan. Makanya dikenal dengan gulai tempoyak patin, tempoyak baung. Gulai kesukaanku, asam-asam pedas tapi enak.

Kebun keluarga kami, buahnya dinikmati oleh seluruh sanak keluarga. Dari anak, cucu hingga cicitnya nenek kakek kebagian semua. Bagi yang tinggal jauh dan tak sempat pulang dan datang ke kebun, maka akan dikirimi lewat pengiriman truk yang mengangkut tumpukan duku menuju pasar induk. Sebab, dengan menitip di truk-truk itu, kurang dari 24 jam duku-duku itu sudah bisa diterima (jika tujuan Jakarta). Dan kemarin, aku dapat bagian. Alhamdulillah. Tak perlu beli-beli segala ^_^

Duku adalah buah asli Indonesia. Duku Palembang sangat terkenal se-Indonesia.
Aku bangga karenanya.

Makan Siang Pake Duku?

 Menjamu Tamu dengan Serba Duku? :D

 Minuman Duku? :))

Paket duku yang baru di buka dari kotak Kayu


Peralatan untuk membuka kotak kayu haha *perlu gitu diposting? :p

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

10 comments

Write comments
8 Februari 2013 13.25 delete

Wah, masya Allah.. *ngebayangin seberapa besar kebunnya
Pohon duku kan gede-gede. Kalau ada 100 lebih pohon, kebunnya berarti luaaass banget :D

Reply
avatar
8 Februari 2013 21.18 delete

aku lagi ngidam duku T_T'''

Reply
avatar
9 Februari 2013 00.48 delete

haaa pangen semuaa...duku, manggis, durian, rambutan...
sinihhhhhhhh.....

Reply
avatar
9 Februari 2013 06.35 delete

Pohon duku kebanyakan memang tinggi dan banyak cabang2nya (dahan)tapi tidak semuanya tinggi dan rimbun. Ada yang tinggi tapi kurus (tidak banyak dahan)sehingga buahnyapun tidak banyak. Dari seratus lebih pohon itu tidak semuanya berbuah An, dan juga tidak semuanya berbatang besar-besar. Separuhnya adalah pohon-pohon yang terbilang baru (sekitar 30tahunan). Bahkan ada yang baru 10tahunan. Pohon-pohon usia muda itu merupakan penanaman baru yang nantinya dimaksudkan untuk menggantikan pohon-pohon yang sudah tua. Sebagai antisipasi apabila yang tua2 mati dan tak lagi menghasilkan.

Dulunya kata ibu cuma puluhan batang saja. Tetapi karena pemilik kebun di sebelah menjualkan kebunnya, lantas di beli oleh nenek. Makanya bertambah. Kalo luas ya memang luas tapi menurutku ga terlalu, soalnya masih sanggup dikelilingi dengan kaki.

Reply
avatar
9 Februari 2013 06.36 delete

Kalo deket sudah kakak antar nih dek. Di paket ga bisa, soalnya 2-3 hari dalam kardus/kotak tertutup bikin duku cepat rusak

Reply
avatar
9 Februari 2013 08.25 delete

Alangke lemaknyoo yang punyooo kebun duku.................................................... :P

Reply
avatar
9 Februari 2013 16.08 delete

Hai duku, manggis, durian, rambutan...berangkatlah kalian ke Bandung, ke rumah teh Ayu, sekarang juga!

Haha

Aku juga pingiiin teh, tapi lagi sibuk, belum sempat ke kebun. Jauh pula. Makanya kemarin ke Kebun Buah Mekar Sari, melampiaskan kangen ama kebun di sumatera.

Reply
avatar
11 Februari 2013 06.38 delete

Bukan punyo aku, punyo keluargo nenek :p

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon