Dive Before You Die

14.46

Belakangan, olah raga selam semakin populer di masyarakat. Olah raga ini melejit berkat banyaknya orang-orang orang-orang yang tertarik dan ikut mempromosikannya dari mulut ke mulut. Melihat fenomena yang ada maka bisa di perkirakan ke depannya olah raga ini akan terus menambah jumlah penggemar.

Bisa jadi diving kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Meluasnya istilah "ga diving ga gaul" bak teror yang mendorong seseorang untuk pergi menyelam. Indonesia dengan kekayaan dasar lautnya yang luarbiasa, menjadikannya populer sebagai tujuan tempat menyelam. Maka, tak heran bila melihat orang-orang dari negeri luar berbondong-bondong datang untuk menyelam di laut kita.

Saya sendiri sebagai salah satu penggemar olah raga di air, termasuk orang yang sangat tertarik untuk menyelam. Pengalaman pertama menyelam di dasar laut Pulau Dewata pada 2011 lalu, cukup membuat saya terlecut untuk diving lagi, lagi, dan lagi. Kesibukan saya sebagai seorang ibu pekerja dan ibu rumah tangga, membuat saya belum berkesempatan lagi untuk merambah dunia bawah laut lainnya. Yang terjadi kemudian saya melampiaskan keinginan diving dnegan menyelam di kolam renang. Aha!

Sewaktu menyelam di dasar laut sesungguhnya, di Tanjung Benoa Bali, saya belum pernah merasakan bertemu dengan mahluk laut besar dan buas semacam Hiu. Yang saya jumpai hanyalah ikan-ikan sebesar telapak tangan saya. Parahnya, ikan sekecil itu bagai serupa monster bagi saya. Berlebihan sekali, bukan? Bertemu Hiu, oh...berharap jangan pernah! Sebab saya jelas tak punya keahlian dan kekuatan untuk menghadapi serangan mahluk laut menakutkan itu. Apakah semua Hiu menyerang? Entahlah, bagi saya Hiu pasti akan menyerang siapapun yang dilihatnya. Jika bertemu hiu, sepertinya hidup saya akan berakhir di mulutnya.

Saya masih sangat miskin pengalaman dalam hal menyelam tetapi ada yang terus saya tabung dalam dua tahun terakhir ini terkait kegiatan menyelam yaitu mempelajari etika dasar laut, membekali diri dengan berbagai pengetahuan dan ilmu menyelam, juga menabung uang untuk membeli peralatan menyelam. Betapa semua itu adalah sangat penting sebab bukan hanya untuk urusan keselamatan diri tetapi juga untuk keselamatan mahluk-mahluk di dalam laut. 

Menyelam memang bukan sekedar memuaskan keinginan diri, bukan sekedar membuktikan keberanian bertualang di dasar laut, tetapi juga saat yang tepat untuk menunjukkan perilaku baik dengan menjaga apapun yang ada di dasar laut. Dari banyak cerita yang saya dengar dari kawan-kawan, tak sedikit para penyelam yang bukan hanya sekedar memuaskan diri untuk melihat segala keindahan isi laut tetapi juga mengambil sesuatu dari laut. Rusaknya terumbu karang di tempat-tempat yang menjadi spot penyelaman, adalah akibat ulah penyelam yang tidak bertanggung jawab. Mereka ini termasuk penyelam yang asal nyelam. Tak punya perbekalan mumpuni yang dibawa ke dasar laut!



Petualangan ekstrem itu bernama Menyelam
Saya merasa menyelam adalah petualangan laut yang sangat istimewa sekaligus ekstrem. Ok, ini bisa jadi pendapat saya pribadi saja. Akan tetapi, bagi pengidap Claustrophobia seperti saya, bertualang di laut itu tingkat keberanian, bahaya, ketakutan, kengerian, bahkan kematiannya lebih tinggi ketimbang bertualang di darat. Kenapa? Karena kehidupan di dalam air bukanlah kehidupan yang biasa saya jalani sehari-hari. Di darat saya bisa sepuas-puasnya menghirup udara tanpa bantuan tabung oksigen. Di darat saya bisa bebas berjalan, berlari, duduk, berbaring, melompat dan lain sebagainya. Sedang di laut? Segala gerakan tubuh jadi terbatas. Adanya tekanan air yang membuat telinga jadi sakit, arus bawah laut yang bisa kapan saja menyeret tubuh ke arah manapun air ingin bergerak, juga pergerakan mahluk hewan laut yang kecepatannya kadang tak terduga dan sulit untuk dihindari. Sungguh, ketakutan saya memasuki laut jauh lebih besar ketimbang pergi mendaki gunung, memasuki gua, ataupun pergi ke hutan lebat dan angker!

Karena itulah saya menganggap petualangan di dasar laut itu spesial. Buat saya yang memang bukan petualang sejati, berpetualang di dasar laut adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya bahkan bisa membunuh Claustrophobia dalam diri saya.
Rasa penasaran adalah awal mula alasan saya ingin menyelam. Ada daya tarik tersendiri yang tersembunyi nun jauh di dasar laut sana yang begitu ingin saya eksplorasi. Saya rasa ini bukan hanya terjadi pada saya, mungkin banyak orang lain juga memiliki alasan yang sama. Bukankan justru karena dengan alasan seperti ini yang membuat peminat diving jadi tak pernah sepi?

Utamakan Etika Dasar Laut
Saya rasa, silahkan saja ramai-ramai pergi menyelam ke dasar laut, asalkan tidak lupa dengan etika dasar laut yang tentunya harus dipahami betul oleh siapa saja. Etika yang paling penting adalah TIDAK MENGAMBIL atau MENINGGALKAN APAPUN. Jangan sekali-kali membuang sampah di laut, A BIG NO NO bagi penyelam manapun yang tengah beraksi. Junjung tinggi NEVER DIVE ALONE selama menyelam, oleh karenanya ajak selalu dive buddy untuk mendampingi diri selama menyelam. Dive budy yang secara resiprokal menjaga kita dan juga harus kita jaga.

Dunia bawah laut tak hanya menarik minat para penyelam untuk berwisata tetapi juga minat para photographer dan videographer. Banyak dari mereka merambah hobby baru dengan memasuki dunia bawah air untuk membuat karya-karya dalam bentuk photo dan video. Ya monggo nyelam bagi para jagoan pembuat photo dan video, asal jago nyelam juga ya.


Panduan untuk Newbie
Sebagaimana saya yang juga newbie, maka panduan ini jelas sangat berguna untuk saya pribadi dan siapapun yang mulai berminat untuk berpetualang di bawah laut. Mari kita pelajari sama-sama, tetapi jangan lupa, bertanyalah pada yang lebih ahli sebelum praktek langsung di lapangan ya.

Panduan berikut ini saya kutip dari artikel yang saya gunting dan saya tak tahu nama korannya karena tak sekaligus ikut tergunting. Begini, menurut Instruktur Scuba School Internasional (SSI), Johan Setiawan, hal yang perlu diketahui tentang diving saat kita baru berkenalan dengan kegiatan diving, diantaranya adalah:

  • Sudah pasti harus bisa berenang. Meski tidak ada patokan kemampuan berenang yang dimiliki harus menguasai berbagai gaya, setidaknya kita harus familiar dengan air dan tidak mempunyai Claustrophobia. Kenapa tidak boleh mengidap penyakit itu? Karena bisa bikin panik! Kalau panik, nanti bisa melepas selang oksigen dari mulut, membuka kaca mata, meronta-ronta ga karuan. Dan saya pernah mengalami itu! Suer, kayak orang mau mati. Tapi ajaibnya, saya sembuh!
  • Sebelum diving pastikan betul kondisi badan dan mental kita sehat. Meski sakit yang dialami kesannya sederhana, seperti flu, jangan diremehkan.
  • Meski sifatnya rekreasional, tetapi memilih diving untuk menghilangkan stress sangat tidak dianjurkan. Menyelam dalam keadaan psikologis yang tertekan akan menambah resiko.
  • Biasanya penyelam diwajibkan memiliki lisensi untuk menyelam. Beberapa tempat di Indonesia memang tidak mewajibkan penyelamnya mempunyai lisensi, tapi sebagian besar tempat meminta lisensi demi keamanan.
  • Sebelum turun, biasanya kita juga di ajukan beberapa pertanyaan, biasanya terkait dengan kondisi kesehatan. Berbohong dalam tahapan ini sangat berbahaya. Meski diving selalu didampingi dive buddy, pingsan di dalam air adalah kejadian yang paling ditakuti dalam melakukan kegiatan ini.
  • Kursus menyelam biasanya memakan waktu 3-4 hari dengan biaya sekitar Rp 3 juta. Materi yang diberikan mencakup teori sampai praktik. Mulai dari pengenalan fisiologi, pengenalan pada daya apung di air, cara memasang peralatan selam, aspek keselamatan, dan teknik menyelamatkan diri sendiri ketika menyelam.
  • Jika tertarik dengan diving, setidaknya ada beberapa must have item yang harus dibeli selain membeli tiket ke Rajaampat atau Wakatobi. Pemula dianjurkan untuk membeli snorkeling set yang berisi masker, wet suit dan snorkel. Harga peralatan yang satu ini sangat bervariasi, tergantung dari banyak hal, salah satunya ketebalan wet suit yang diinginkan. Makin tebal, tentu harganya makin mahal. Setidaknya dana yang diperlukan untuk membeli peralatan standard sektiar Rp 2 juta sampai belasan juta.
  • Kepulauan Seribu menjadi tempat ber-diving paling dekat dan termasuk recomended untuk didatangi. Kalau belum ada kesempatan ke tempat yang jauh seperti Wakatobi, Pulau Seribu juga menawarkan pemandangan yang oke. Sayangnya, di beberapa tempat tertentu, jarak pandang akan sedikit terganggu karena air sudah keruh oleh sampah atau limbah.
  
FREEDIVE
Ekstreem! Yeah! Freedive adalah modifikasi dan perkembangan dari olah raga diving yaitu kegiatan menyelam tanpa menggunakan peralatan berupa tabung oksigen. Meskipun terbilang ekstrem, freedive ternyata hanya menempati urutan kedua sebagai olahraga terekstrem setelah Skydiving.

Hmm...sebentar, saya kok jadi ingin mengatakan bahwa freedive itu tidak ekstrem ya :D Saya jadi senyum-senyum sebenarnya. Bahkan hampir tertawa. Eits...tapi ini bukan hendak menyepelekan menyelam tanpa tabung oksigen lho. Entah kalian percaya atau tidak, sebelum saya menyelam pertama kali di Bali pada Sept 2011 lalu itu, yang mana badan saya lengkap dipasangi segala macam peralatan menyelam, saya merasa bahwa menyelam tanpa tabung oksigen itu lebih keren!

Saya bahkan masih ingat betul, ketika satu persatu peralatan menyelam menempel di tubuh, saya justru mengalami perasaan gugup, panik, dan bahkan menangis. Alat-alat itu justru mendatangkan ketakutan dan itu mempengaruhi saya sehingga berulang kali gagal mencapai dasar laut. Padahal sebelumnya jika saya menyelam di kolam renang tanpa alat apapun, tak ada rasa takut yang menghinggapi. Bahkan saya mampu bertahan beberapa menit di dalam air. Hmm...dasar kolam renang sama dasar laut beda dong ya :D

Menurut salah satu diver yang hobby freedive, Agus Hong (saya baca di artikel yang saya gunting dari koran), rata-rata manusia normal sebenarnya bisa menyelam di dalam air selama empat menit. Tapi karena kurang dapat latihan, kemampuan luar biasa yang dimiliki paru-paru kita hanya mampu memberi waktu satu atau dua menit di bawah air.
Duh, kalau cuma empat menit gimana bisa nyampe dasar laut dong ya? Anggaplah kedalaman lautnya 8-10 meter. Wah...belum nyampe pertengahan jalan sudah naik lagi ke permukaan. Mungkin untuk dasar laut yang tak terlalu dalam bisa tanpa tabung oksigen. Kalau dalam, bisa mati juga ntar. Duh!
Freedive termasuk olah raga. Masih kata Agus Hong, sebagaimana layaknya olah raga, maka freedive juga berdampak positif bagi kesehatan karena menyelam tanpa tabung udara juga dapat membantu kita lebih mengenal kemampuan jantung dan paru-paru kita sendiri. Kita juga jadi lebih tahu di mana limit kita ketika kita ingin mengoptimalkan kemampuan tubuh.

Biasanya untuk meningkatkan kemampuan nafas yang tadinya hanya dua menit menjadi empat menit, orang hanya memerlukan waktu sekitar dua bulan. Tapi, ketika ingin meningkatkan waktu dari empat menit ke lima menit, waktu latihan yang diperlukan bisa meningkat drastis menjadi satu atau dua tahun. Wuaduuuh lama bener ya!

Menurut Agus Hong, untuk meningkatkan kemampuan menyelam menjadi lima menit atau bahkan enam menit memang memerlukan kerja keras dan disiplin yang luar biasa dalam kurun waktu mencapai tahunan. Meski saat ini belum ada pelatihan yang khusus untuk olah raga freedive, bagi siapa saja yang berminat bisa ikut berlatih di kolam renang lompat indah di kawasan Senayan setiap hari Sabtu, pukul 10 hingga pukul 2 siang.

Terakhir, yang paling penting untuk diketahui bahwa freedive hanya boleh dilakukan oleh orang yang berusia 17 tahun ke atas. Masa pembentukan otak yang terjadi pada usia nol sampai 17 tahun menjadi alasan olahraga ini berbahaya dilakukan oleh orang yang berusia kurang dari 17 tahun. Freedive terlarang bagi wanita yang sedang hamil, penderita epilepsi, sinus, asma, dan mereka yang memiliki masalah lain dengan pernafasan.

Penasaran ingin menyelam? Silahkan penasaran dulu dengan etika menyelam, cara menyelam, dan syarat-syarat kesehatan untuk menyelam.

Menyelamlah, dan dapatkan petualangan berbeda dari petualangan-petualanganmu sebelumnya!

Keterangan:
Semua photo milik saya pribadi
Diving di Tanjung Benoa-Bali pada Sept 2011

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

8 comments

Write comments
26 Februari 2013 14.53 delete

berarti buat yang gak bisa bergaya kyk aku gak diperbolehkan donk yah....gimana nih, bisanya gaya batu doang...:(

Reply
avatar
26 Februari 2013 15.23 delete

Hihi..ga penting gaya teh, yang penting bisa berenang. Gaya batu tak apa asal bisa berenang :))

Reply
avatar
26 Februari 2013 16.52 delete

yang penting batunya batu apung yak...xixixi...

Reply
avatar
1 Maret 2013 11.51 delete

Wah, ulasan yang mantap nih mbak
Saya belum pernah diving. Secara tak bisa berenang juga. Cuma pernah snorkeling :D

Reply
avatar
1 Maret 2013 12.58 delete

haha..iya bener. Kasian Aiko dan Kirey kalo mommynya ga ngapung lagi :D

Reply
avatar
1 Maret 2013 13.01 delete

Ulasan yang mantap itu hasil mengutip dan menyalin dari berbagai artikel diving yang memang saya kumpulkan, mbak :D

Kalau bisa berenang pasti bisa diving mbak. Ayo cobain di Sabang kalau nanti balik ke Indonesia :)

Reply
avatar
3 Maret 2013 15.08 delete

wah, jadi makin pengen nyoba diving ahhh kpn2.... :)

Reply
avatar
4 Maret 2013 08.25 delete

Silahkan dicoba, mas Syamsul. Di Balikpapan ada spot bagus untuk menyelam?

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon