Pantai Baron Gunung Kidul

09.59
View Pantai Baron dari atas bukit.
 sumber foto: www.pantai.org



Horay, kami di Pantai Baron!

Siang hampir mencapai puncaknya, tepatnya pukul 11.55 ketika kami memasuki kawasan pantai Baron. Bertujuh, termasuk supir, kami sepakat untuk memulai penjelajahan dari Pantai Baron. Alasannya, karena memang pantai ini yang kami temui lebih awal. Ada faktor manut sarannya mas Rofi juga sih, si driver yang keliatannya cukup tahu beberapa hal.

Baiklah, kumulai saja cerita kali ini dari Pantai Baron, sebagai lanjutan dari cerita yang telah kutulis sebelumnya di “Berpetualang ke pantai-pantai di Gunung KidulYogyakarta”. Jadi, untuk mengetahui catatan perjalanan ini secara utuh, silahkan klik link tersebut dan dibaca kisah serunya ya. Rada maksa nih, plus ngancem pake sebilah ice cream. Baca ya…ya…ya! 

Saat kami datang, area parkir pengunjung masih sepi

Memasuki kawasan pantai Baron, kami mendapati area parkir yang cukup luas. Pepohonan rindang dan tinggi menjadi peneduhnya. Kuperkirakan tempat ini dapat menampung hingga 300an kendaraan. Kesan pertamaku, tempat ini ramai. Ramai oleh pengunjung, ramai warung nasi, ramai warung penjual makanan/minuman ringan, ramai penjual souvenir, dan juga ramai oleh kamar mandi/kamar ganti untuk pengunjung yang berenang. Ramai? Ya ramai. Termasuk sampah. Tak terlalu banyak sih, tak pula terlalu  mengganggu, tapi buatku cukup ga nyaman untuk dilihat. Terutama di pantainya.

Untuk sarana ibadah, di tempat ini juga terdapat mesjid. Kondisinya memang tidak “kinclong”. Toiletnya miskin air. Air mengucur deras hanya di tempat wudhunya yang terbuka. Tak dipisah antara perempuan dan laki-laki. Karpet di ruang dalam mesjid yang sekaligus berfungsi sebagai sajadah terlihat kotor dan dekil. Bau masam tercium dihidungku. Entah telah berapa lama karpet itu tak dicuci.

Serunya photo-photo di tengah panas dan rasa lapar

Sekeluarnya dari kendaraan, perutku berguncang karena gempa lapar. Kutanyakan kepada kawan-kawan apakah ingin menenangkan kruyuk-kruyuk suara di perut terlebih dahulu? Semua setuju tapi…ada tapinya, kawan-kawan ingin melihat suasana pantai terlebih dulu. Ok, baiklah. Asal tak lama. Kami meninggalkan kendaraan menuju pantai. Mas Rofi tak ikut, ia memilih beristirahat di sebuah warung. Aku mulai mengenakan topi dan kaca mata kesayangan, mengantisipasi si kulit sensitif yang siap bertempur dengan teriknya cahaya matahari.
Hamparan pasirnya luas juga, cukup jauh mencapai bibir pantai

Baru sekian meter kaki kami melangkah, debur ombak di laut terdengar menyapa telinga. Ketika kaki telah menjejak di atas hamparan pasir, maka terlihatlah ombak yang bergulung mencucupi butiran pasir di pantai. Air laut berwarna biru. Karang yang besar. Perahu-perahu nelayan. Payung-payung pantai. Ah…aku benar-benar telah di pantai. Tiba-tiba aku merasa, bagai bersua kekasih. Laut bagiku, memang bagai kekasih yang selalu kurindui. Oh tunggu dulu. Aku dan kawan-kawanku masih perlu berjalan beberapa meter lagi untuk mencapai bibir pantai. Dan lihat, sandalku terbenam di pasir! Langkahku menjadi berat. Heboh sendiri, mengurus sandal, mengurus kamera, mengurus gaya, juga mengurus terpaan cahaya matahari yang menyilaukan. Sementara itu, hatiku kebat kebit ingin selekasnya berfoto dan memfoto! Urat narsis menegang kencang. 


Maka, jangan heran pada kelakuan norakku berikutnya. Kamera dan raga ini bekerja keras mengambil gambar yang kuinginkan. Desi, Vee, mbak Indri, Rama, dan Pak Guru, menjadi korban jepretanku. Pose jumping, berlagak bak nelayan di sisi perahu, berlagak mengangkat karang raksasa, serta berlagak hendak mengunyah rumput laut, sungguh sesuatu yang seru untuk dijadikan cerita dalam sebuah gambar. 
 Personil Cherybelle nyasar di pantai Baron :))

Pantai Baron itu seperti apa?

Bagaimana hendak kugambarkan tentang pantai Baron pada kalian? Saat itu aku tak tahu apa-apa tentang pantai ini, hanya bisa melukiskan apa yang kulihat dengan kata-kata sekedarnya, seperti ini: Pasir di pantai ini berwarna putih. Ombaknya tidak terlalu besar sehingga aman untuk berenang pada jarak tertentu. Bebukitan hijau mengapit di kiri dan kanan pantai. Cukup itu saja. Itu saja??? Ya itu saja. Huh, benar-benar bukan hal yang menarik. Bukan informasi yang meyakinkan untuk membuat orang berkunjung ke pantai ini. Jadi pantai Baron itu pantai yang bagaimana? Sekembali dari Yogya, saat aku leluasa menjamah internet , baru ku cari tahu. Maka, didapatlah informasi lengkap tentang pantai Baron. Jadi percayalah, tiga alenia setelah ini aku sadur dari berbagai sumber. Tanpa harus kutuliskan disini pun, kalian bisa gugling dan mendapatkan banyak informasi tentang pantai Baron.
sumber foto: www.pantai.org
Konon, Pantai Baron yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari ini  adalah pantai paling populer di Gunung Kidul, bahkan disebut-sebut sebagai surga tersembunyi di Gunung Kidul. Pesonanya terlihat pada kontur lembah di sebelah kiri dan kanan bibir pantai. Di sebelah kanannya terdapat sungai air tawar yang bermuara langsung menuju Samudera Indonesia. Sungguh, Pantai Baron seolah menjadi saksi pertemuan antara air laut dan air tawar. Bahkan sempat kubaca, ada yang menganalogikannya sebagai perlambang berpadunya dua hati meski dengan perbedaan latar belakang. Aiiih…mendadak puitis giniiiiih.
Perahu nelayan dengan latar belakang bukit yang menghijau

Di hamparan pasir pantai Baron, perahu-perahu nelayan terlihat berjejer. Bisa kupastikan bahwa ada banyak hasil kekayaan Baron yang menjadi tangkapan para nelayan disana. Benar saja, dari seorang ibu yang berhasil kutanyai mengatakan bahwa disini banyak didapatkan lobster, ikan tongkol, bawal putih, dan kakap. Hasil tangkapan itu diperjualbelikan langsung dalam keadaan segar kepada wisatawan yang berkunjung. Aku sempat melihat dan melewati penjual ikan-ikan itu saat meninggalkan pantai menuju warung makan yang berada tak jauh dari pantai.
Para Hercules, mau angkat karang :))

Makan-makan….horeeee!

Yeah….akhirnya kami mengusaikan berpantai ria demi memenuhi hajat perut untuk makan. Ada banyak warung makan disana, tinggal pilih ingin makan dimana. Sebelum menemukan tempat yang sreg, kami menghampiri penjual gorengan seafood. Agar tak penasaran, kucoba membeli beberapa bungkus. Ternyata bergelimang minyak dan sejujurnya teggorokanku menjadi gatal. Uuuh…
Pelan-pelan aja makannyaaaaa

Rumah Makan Bu Min. Yes, inilah tempat pilihan kami makan siang itu, hasil rekomendasi dari mbak penjual gorengan seafood yang kami beli. Katanya, masakan Bu Min terkenal enak. Ah masa? Yuk ah coba dulu.

Kami memesan empat macam olahan seafood. Eh tunggu, ini bukan hasil dari ingatanku lho, tapi hasil dari ngebaca bon yang masih kusimpan. Hayaaah….penting gitu? Penting dong. Yang namanya sebuah laporan perjalanan ya mesti detail dan complete. Ceilah. Melet deh semua. 

Yak, serbuuuuu... :D

 Wah, ludes!

Kabarnya nih, menu yang terkenal di rumah-rumah makan di pantai Baron adalah Sop Kakap. Nah, aku kepingin nyobain tuh. Sayangnya di Rumah Makan Bu Min sudah habis. Akhirnya, untukku dan teman-temanku, aku memesan masakan berikut: 2 porsi rajungan asam manis, 1 porsi tenggiri cabe ijo, 2 porsi cah kangkung, 1 porsi cumi saus tiram, ½ kg ikan tongkol goreng, 1 sambal terasi, 1 sambal lombok ijo, 1 porsi nasgor seaafod, 2 bakul nasi putih, 1 es jeruk, 6 buah es kelapa muda. Itu untuk bertujuh. Termasuk mas Rofi, supir kami. Pak Guru makannya nasgor, ga ikut makan nasi putih beserta seafoodnya. Entah kenapa. Lagi ga nafsu katanya.

Pendapatku tentang masakan bu Min? Biasa sahajaaaa. Kecewa ya dengan penilaianku? Tenang, itu karena kubandingkan dengan masakan di Rumah Makan Mang Engking yang jadi tempatku makan sehari sebelumnya. Wah, gila aja, masa bandinginnya dengan Mang Engking. Aya-aya wae. Dari harga saja udah jauh ke awan. Satu porsi kepiting asam manis dan satu porsi udang Bakar Madu di Mang Engking bisa untuk membayari seluruh pesanan kami di Rumah Makan Bu Min. Gubraksssss. 




Ya, intinya masakan bu Min enak kok. Murah pula. Seluruh pesanan tadi hanya menghabiskan Rp 219.000,- Dan bonusnya, kami dihibur oleh penari keliling yang berkostum penari. Bisa nyawer pula. Eh tapi emang kami nyawer ya? Ga tahu, aku sedang di kasir saat penari-penari itu lewat. Bahaya kalau sampai aku melihat dari dekat, bisa-bisa aku ikut joget. Mending menarikan tarian tradisional, lha kalo malah joget dangdut or indiahe…bisa kabur semua teman-temanku. 

Penari keliling yang berkostum lengkap

Rumah Makan Bu Min

Berikutnya, baiklah aku rekomendasikan kepada siapa saja yang berkunjung ke Pantai Baron, silahkan mampir ke Rumah Makan Bu Min. Letaknya di Kios No.4-5 Pantai Baron. Tanjung Sari, Gunung Kidul. HP: 0813-92070223. Bu Min menerima pesanan katering juga lho. Jadi kalo bawa rombongan, telpon saja beliau. Kan lumayan daripada repot-repot bawa rantang, mending disiapin oleh bu Min. Tinggal datang dan duduk, langsung makan deh. Ga perlu beres-beres dan bawa bekas makanan yang biasanya menyisakan bau pada kabin kendaraan. Bener gak? Bener aja dah.

Menurut cerita, ada satu moment lagi yang bila beruntung menyaksikannya adalah Upacara Sedekah laut. Upacara ini diselenggarakan oleh masyarakat nelayan setempat. Jadwalnya setiap bulan suro dalam kalender jawa. Upacara tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil laut yang telah diberikan kepada mereka.

Melanjutkan petualangan

Seusai makan, kami menyempatkan berfoto narsis di depan Rumah Makan bu Min. Memamerkan perut yang mungkin sedikit or banyak telah membuncit. Perlu gitu? Seperlunya sahajaaaa.

Selanjutnya kami bergerak menuju mesjid untuk menunaikan kewajiban salat Dzuhur di mesjid yang telah kusebut di awal tulisan. Setelah salat selesai ditunaikan, kamipun kembali ke kendaraan untuk melanjutkan perjalanan wisata ke pantai berikutnya. Area parkir pantai Baron yang sudah dalam keadaan penuh perlahan kami tinggalkan. Dua lembar uang dua ribuan dibayarkan ke petugas parkir. 
Ketika hendak meninggalkan kawasan pantai Baron, area parkirnya sudah padat

Aku menyempatkan mengambil gambar. Objekku adalah area parkir. Dari foto yang kujepret itu, data exif menunjukkan pukul 14.43. Oh, ternyata siang telah beranjak menuju petang. Kami pun bergegas memburu waktu, semoga belum terlalu sore untuk menyambangi pantai Drini, Pantai Indrayanti dan Goa Pindul.

Bagaimana cerita selanjutnya? Silahkan simak pada tulisanku berikutnya. Selamat penasaran. Halaaaaah…siapa pula yang penasaran. Melet deh semua.

Foto-foto di Pantai Baron bisa dilihat di link INI (klik)


Yogyakarta 11 Juli 2012

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

4 comments

Write comments
9 November 2012 15.45 delete

saya paling ngeri mkn di pantai..menunya seefood mulu hihihi *ya iyaalaaahhh...*

Reply
avatar
12 November 2012 08.42 delete

hihihi...kenapa ngeri teh? teteh alergi?
aku suka seafood teh :D

Reply
avatar
12 November 2012 08.43 delete

Nih see foot *nyodorin kaki :))))

Ayo bu dokter masak seafood, ntar mbak numpang makan deh :D

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon