Ngebolang ke Cibolang Hot Spring Water

12.08 2 Comments

Cibolang Hot Spring merajai jadwal yang dibuat untuk Jumat tgl 23 Nopember 2012. Tiada agenda lain selain menyambangi objek wisata yang terletak di rimba hutan Gunung Wayang Windu itu.  Bagiku, ke Cibolang seakan menjadi puncak perjalanan selama berada di Pengalengan sejak 5 hari sebelumnya.

Pagi hari yang riuh di Hotel Puri, tempat kami menginap, semua bersemangat. Bergegas mandi walau hawa dingin sekitar 20deg terasa menyergap dari segala arah. Juga bergegas menyantap sarapan yang diantarkan ke kamar sejak pukul 6 pagi, berharap tak lekas dingin sehingga mengurangi selera makan di pagi yang begitu cepat menyerap panas dan segala kehangatan.

Lalu, jreeeeeng!!! Bumi nampak begitu terang dan hangat ketika matahari muncul dengan pancaran sinarnya yang tak berpenghalang. Semua bersyukur, terang benderang membuat semua senang. Semoga tiada hujan apalagi badai. Maklum, seperti hari-hari kemarin, mendung dan hujan begitu rutin mengisi hari. Tak bisa kemana-mana jika cuaca sudah seperti itu. Tinggal di Pengalengan jadi terasa membosankan. Tapi semoga hari ini, cuaca bersahabat dengan kami, juga kepada seluruh penghuni bumi termasuk kawasan Soreang  Bandung yang masih dilanda longsor dan banjir. Semoga bencana alam lekas berakhir. Amin. 

Stadion mini di perkebunan teh Malabar

Perkebunan Teh Malabar
Menurut informasi yang kudapat dari pihak Hotel Puri, jarak yang akan ditempuh dari Pengalengan (tempat hotel kami berada) menuju Pemandian Air Panas Cibolang sekitar 15km. Cukup dekat. Kami memulai perjalanan sekitar pukul 9. Diperkirakan akan memakan waktu sekitar 40menit dengan laju normal. Itu lama! Oh, tentu. Ini perjalanan menanjak, juga sesekali menurun ketika melewati desa-desa di lembah Wayang. Hotel Citere 1 (resort) yang kami inapi selama 3 hari sebelumnya berjarak sekitar 2km dari Hotel Puri. Kami melewati hotel tersebut, hotel yang ownernya juga adalah owner hotel Puri yang kami inapi. 

Perkebunan Teh Malabar dengan Gunung Wayang di latar belakang.

Setelah 10km pertama,  sekitar pukul 9.27 kami mulai memasuki kawasan Perkebunan Teh Malabar. Sebuah lapangan bola di sisi kiri jalan dengan bangku-bangku penonton yang berkapasitas kecil, menarik perhatianku. Sekumpulan anak laki-laki berkostum olahraga nampak mempermainkan bola. Dua pria dewasa berdiri di pinggir lapangan. Sepertinya mereka adalah murid dan guru dari sekolah yang bangunannya terletak di belakang lapangan tersebut. Sekolah milik PTP Nusantara XIII Pengalengan.

Di stadion mini itu terdapat sebuah signboard berukuran besar berwarna hijau, tertera tulisan “Perkebunan Teh Malabar”. Ahay… kami sudah berada di perkebunan teh Malabar rupanya. Tempat dimana pemandangan indah dan hijau membentang luas sepanjang mata memandang. Sekitar satu kilometer kemudian, di sisi kiri jalan, terdapat Tea Corner Malabar, berupa dua bangunan yang terlihat sepi dan jadul. Satu bangunan dalam keadaan rusak, atapnya ambrol dan tak nampak diperbaiki. Sebuah mobil terparkir, mungkin pengunjung yang singgah. Tea corner yang tak lagi menarik untuk disinggahi. 


Malabar Tea Corner

Bebukitan tak semua bagai permadani hijau, tapi juga ada beberapa lahan yang masih gundul dan baru ditanami dengan pohon teh. Nampak petani laki-laki dan perempuan sedang bekerja. Sebuah papan yang tertancap di pinggir di lokas bertuliskan “Persemaian Teh.”


Geothermal di Wayang Windu
Gunung Wayang dan Gunung Windu yang menjadi latar belakang perkebunan teh Malabar, nampak gagah dengan pesona hutan alamnya yang rupawan. Sebuah pemandangan menarik menjadi perhatianku sepanjang perjalanan, yakni asap putih yang keluar dari perut bumi, membubung tinggi memenuhi langit di atas kedua gunung itu. Itulah Geothermal, energi panas bumi yang dikelola oleh perusahaan Star Energy, yang akan dimanfaatkan untuk listrik Jawa Bali. 


Pipa-pipa keperakan yang kemudian kujumpai sepanjang perjalanan menuju Cibolang, terpasang dari lereng ke lereng, diantara kebun kol yang tertata rapi di tanah-tanah yang subur. Pipa-pipa raksasa itu mengalirkan panas bumi, bak ular raksasa yang menjalar di gunung perkasa. Pemandangan itu nampak jelas ketika jalan yang kami lalui berada di ketinggian bukit. Tak hanya itu, ketinggian bukit juga menampakkan pemandangan pemukiman karyawan perkebunan berupa atap-atap rumah dengan genteng yang berwarna hampir seragam. Kontras. Paduan hijau dari hutan alam, perkebunan teh, kabut putih, serta warna-warna segar dari atap rumah penduduk membuat pagi begitu segar dan cerah.

Sungguh indah pemandangan yang kutemui sepanjang perjalanan menuju pemandian air panas Cibolang ini. Perkebunan teh yang menghijau sejauh mata memandang dan hamparan pegunungan menjadi suguhan pemandangan alam yang maha indah adalah dua khasanah keindahan alam yang mampu membius mata siapapun, termasuk saya.



Pesona Gunung Malabar dan perkebunan teh, dengan udara yang sejuk alami, tak hanya cocok untuk dinikmati oleh pandang mata tetapi juga sangatlah cocok untuk kegiatan olah raga jalan kaki / tea walk sambil ber-rekreasi. Di tengah-tengah perkebunan bisa dijumpai bermacam-macam bangunan kuno yang masih terawat dengan baik, seperti guest house, perumahan administratur perkebunan pada masa penjajahan hingga makam K.A.R. BOSSCHA.


Cibolang Hot Spring
Sejak memasuki 5km terakhir menuju Cibolang, mata ini terus memperhatikan jalan. Mencari petunjuk lokasi. Maklum, kalau terlewat lumayan jauh baliknya. Mana jalannya tak terlalu lebar pula. Susah putar balik ya kan? Dan benar saja, 1km sebelum lokasi, signboard itu berdiri menjulang di sisi kiri jalan. Tepat disebuah  pertigaan yang terdapat sebuah pangkalan singgah berlantai semen beratap seng. Nampak jelas tulisan : Cibolang Hot Spring dengan gambar pendukung berupa kolam pemandian. Menurut keterangan, Cibolang Hot Spring berjarak 900m dari letak signboard tersebut.



Kami lalu belok kiri dan mendapati jalan sempit yang hanya cukup untuk dilewati satu kendaraan saja. Jalannya tak beraspal. Hanya berupa jalanan tanah yang agak berbatu. Jalan kecil ini melewati perumahan karyawan perkebunan, kebun kol, juga semacam empang yang entah ada ikan peliharaan apa di dalamnya.

200m sebelum Cibolang Hot Spring, disebelah kanan jalan, terdapat 1 kolam renang bernama Tirta Camelia. Mulanya kami kira itu pemandian air panasnya tapi karena tak menemukan kata “Cibolang” kami urung masuk. Padahal sudah mengarah ke gerbangnya lho hehe. Akhirnya kami lanjut lagi.

Tiket masuk dan fasilitas
Tepat pukul 10.00 kami tiba di objek wisata Cibolang Hot Spring. Lokasinya berada di sisi kiri jalan. Gerbangnya terlihat besar dan tinggi. Kami masuk dan membayar tiket seharga Rp 10.000 perorang. Harga itu sudah termasuk asuransi kecelakaan Rp 500/orang. Sudah termasuk biaya parkir. Tapi tidak termasuk tarif pemakaian kamar mandi/kamar ganti.

Tempat parkirnya luas dan terlihat bersih. Ada banyak warung makan di sekeliling tempat parkir, baik itu warung makanan/minuman ringan, maupun warung makan yang menjual makanan berat. Ada mushola, MCK, Pos Jaga, Papan Petunjuk, Shelter (gardu pandang), kamar ganti, kolam pancing, terapi ikan, tempat duduk, dan tempat sampah.

Untuk pemandian, terdapat dua kolam besar yang keduanya menggunakan air panas. Hari ini salah satu kolam yang biasanya digunakan untuk dewasa sedang dikuras dan dibersihkan. Menurut keterangan kolam air panas ini dikuras dan diganti airnya seminggu sekali setiap hari Jumat. Hal ini dilakukan karena pengunjung akan menjadi ramai pada Sabtu dan Minggu dan pada dua hari itu pengunjung bisa mandi dengan air kolam yang bersih.

Selain kolam kamar mandi air panas, juga terdapat pancuran pemandian air panas dan kolam/kamar rendam air panas. Kolam rendam itu berupa kamar-kamar yang bisa digunakan untuk berendam sendiri/pribadi. Tarifnya Rp 6000. Disekitar kolam tersedia juga kios penjualan dan penyewaan perlengkapan renang seperti pelampung, kacamata renang, dan baju renang. Peralatan memancing juga ada disewakan.

Kondisi kolam renang terlihat baik dan juga berfungsi dengan baik. Hanya saja menurut saya kamar ganti/kamar mandinya nampak kurang memadai. Selain karena ukurannya sangat kecil, juga karena kamar mandi/kamar ganti itu merangkap toilet (WC). Maka, makin kecil saja ruang mandi itu. Saya pribadi jadi kurang nyaman. Warna keramik lantai dan klosetnya sudah berubah warna. Maaf, walau tiada kotoran atau sampah yang terlihat, saya rada tak nyaman melihatnya.  

VILLA
Sewaktu memasuki gerbang Cibolang, saya ada melihat dua villa mungil berdiri di sisi kanan setelah pintu masuk. Nah, kedua villa itu katanya disewakan. Harganya saya tak tahu. Sedang kamar harganya Rp 350.000/malam. Letaknya lebih dekat ke arah kolam. Berupa sebuah bangunan mirip rumah panggung, dengan tiga kamar yang masing-masing kamar pintunya langsung keluar. Petugas penjaga kamar ganti yang saya tanyai tak bisa memberikan info lebih banyak tapi setidaknya saya tahu bahwa villa-villa itu memang diperuntukan bagi pengunjung yang memang bermaksud menginap di kawasan sejuk ini.
Kamar Villa yang disewakan @Rp 350.000,-/malam

Tentang Cibolang Hot Spring
Dari beberapa sumber yang kubaca (gugling), disebutkan bahwa objek wisata ini terletak pada ketinggian 1450 m dpl, konfigurasi lapangan umumnya datar dan berbukit. Sedangkan untuk curah hujan adalah 4000 mm/th dengan suhu udara 23 – 25 derajat Celcius. Memiliki Luas 2 Ha. Berada di  Desa Wayang Windu, Kec.Pangalengan, Kab.Bandung.

Obyek wisata Cibolang pertama kali berdiri pada tahun 1985. Kala itu pemandian masih berupa bak-bak yang tertutup. Lalu, seiring dengan banyaknya  kemajuan yang telah dicapai untuk mencakupi fasilitas yang dibutuhkan oleh turis domestik maupun asing, maka pada tahun 1987 mulai dibuat kolam renang dewasa dan kolam renang anak lengkap dengan kamar ganti. Keberadaan kolam renang itu membuat arus pengunjung kian meningkat, maka pada tahun 1990 sebuah kolam tambahan kembali dibuat. 
Penampungan sumber air panas

Di bagian belakang kolam dewasa, saya ada menjumpai sebuah kolam kecil dengan asap yang terus menerus mengepul. Kata seorang bapak yang saat itu sedang bertugas, kolam kecil itu merupakan kolam penampungan sumber air panas sebelum dialirkan ke kolam pemandian. Berhubung suhu airnya tinggi, jadinya ditampung dulu. Kan ga mungkin langsung dipergunakan untuk mandi. Bisa melepuh ntar :D

Kabarnya, sumber air Cibolang yang berupa mata air panas ini dapat menyembuhkan penyakit rematik karena memiliki kandungan kadar yodium yang cukup tinggi. 

Yang unik dan menarik di sekitar Cibolang
Tak jauh dari kolam mandi dewasa, di atas rumput-rumput hijau yang segar, terlihat tenda-tenda dan sebuah panggung kecil dengan hiasan kain berwarna kuning menyolok. Katanya itu punya pengunjung yang datang dengan rombongan. Mereka menginap di tenda sambil mengadakan berbagai kegiatan alam lainnya.
Camping ground

Kawasan Cibolang ini ternyata sudah biasa dijadikan tempat camping. Biasanya selain camping, wisatawan melakukan kegiatan lintas alam sembari berpiknik. Trekking ke Kawah Burung bisa menjadi kegiatan menarik lainnya. Oh iya, wana wisata di kawasan ini terdiri dari hutan tanaman (kaliandra dan pinus).

Nah, selain alam dengan pemandangan permadani teh yang hijau sekaligus udara yang bersih dan sejuk, wisatawan juga dapat menikmati Kawah Gunung Windu dengan jarak ± 600 m dari lokasi.

Oh iya, konon, Gunung Wayang Windu ini menjadi tempat bertapa para dalang terkenal lho. Seorang sumber menyebutkan, dalang Asep Sunarya biasanya bertapa di sini juga. Entah benar atau tidak tapi beberapa orang lainnya mengiyakan hal tersebut. Selain itu, konon pula di tempat ini dipenuhi dengan cerita mistis dan mitos yang saya sendiri sebenarnya tak ingin mengetahuinya kecuali cukup tahu yang realistis saja.

Buat siapa saja, jika datang ke Pengalengan, tak lengkap rasanya jika tak mengunjungi objek wisata pemandian air panas Cibolang ini.


 Saung di atas kolam pancing untuk duduk-duduk

 Tempat duduk-duduk

Kolam mandi dewasa yang sedang dikuras 

 Saung dan taman depan Villa 

Kebun Kol dan Pipa-pipa yang mengalirkan energi panas bumi (Geothermal)

Kumbang Rupawan di Pengalengan

10.24 2 Comments
Dua Kumbang rupawan ini kutemukan bersama anakku kala berada di Pengalengan, Bandung Selatan. Begitu spesial karena kedua kumbang ini baru pertama kali kami temui hidup-hidup. Kusebut hidup-hidup karena sepertinya kami pernah melihatnya dalam keadaan mati-mati (dua mati hihi) sewaktu di Museum Serangga TMII. Selain itu kedua kumbang ini warnanya sangat cantik, dan Alhamdulillah bisa mengambil gambarnya dengan (lumayan) cantik.


Kumbang Coklat

Bersembunyi di pangkal daun tanaman hias di halaman depan Resort Citere yang kusewa di Lembah Wayang. Aku tak tahu nama tanamannya. Tanaman hias ini serupa pohon nanas. Nah, kumbang ini berada di kelopak daun paling atas. Hampir tak terlihat. Ketika daun yang menutupinya kusingkap, ia bergerak, berjalan sangat perlahan. Dengan tangan kiri menahan daun, tangan kanan memegang kamera, aku membidik gambarnya. Siapa kamu hai kumbang? Apa namamu? Sampai saat ini aku masih mencari tahu tentangmu.
[Pengalengan, Bandung Selatan, Senin 19 Nopember 2012)




Kumbang Hijau 
Kulitnya hijau terang berkilauan, apalagi kala ditimpa cahaya. Bersayap keras. Kaki berduri. Tidak suka mencengkeram tapi sekalinya mencengkram sulit dilepas kecuali dia melepaskan kakinya sendiri.
Tidak banyak gerak. Jika terbalik/telentang sulit kembali pada posisi normal. Tidak tahu dari mana asalnya. Ia sendirian berada di lantai balkon hotel Puri ketika ditemukan. Aku berusaha mencari tahu dengan cara searching di Google. Seorang Fotographer (ilambra.blogspot.com) pernah menemukannya di Jayapura. Di flickr LoveBorneo, kubaca kumbang hijau ini disebut Green Scarab Beetle.
[Pengalengan, Bandung Selatan, Kamis 22 Nopember 2012)

Garasi Super Besar bernama Museum Transportasi Indonesia

09.58 1 Comment



Okay, ku ceritakan disini bahwa ke TMII kali ini aku mendapat pengalaman mengesankan dengan berkunjung ke Musium Transportasi. Ga sekedar suci mata cuci kaki lalu tidur, tapi juga mendapat pengetahuan tentang sejarah transportasi di Indonesia. Ya…walau dikata terlambat banget tahu, masih mendinglah daripada tak tahu sama sekali. Kalau tidak Tahu nanti Tempe makannya. Nyam..nyam.

Aku ga hendak mengatakan bahwa aku mendapat pengetahuan berlimpah tentang sarana transportasi yang dipamerkan di musium ini. Yang kuketahui hanya sedikit saja sebab aku ga berkeliling ke seluruh tempat, melainkan hanya melihat yang menurutku menarik saja untuk diketahui. Yang unik. Yang dekat di kaki. Yang asyik jadi latar belakang foto narsis. Gitu lho.

TIKET MASUK
Untuk masuk ke musium ini cukup bayar Tiket seharga Rp 2000. Murah banget ya kan? Bukan mau sombong, rasanya bayar 10ribu pun aku mau sebab yang pengetahuan kudapatkan dari tempat ini lebih besar dari sejumlah uang itu. Kawasan musium ini luas. Kalo mau lebay, kusebut mirip garasi super besar yang menyimpan aneka monumen transportasi. Segala transportasi udara, laut dan udara ada. Mulai dari Cikar hingga kapal terbang sungguhan. Nah, koleksi tertuanya adalah lokomotif seri B5004 yang dibuat di Inggris tahun 1880.



KOLEKSI TRANSPORTASI UDARA
Monumen transportasi menempati area outdoor dan indoor. Yang pertama kali nampak di area outdoor bagiku adalah pesawat DC 9 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia yang terlihat begitu megah dan perkasa. Pesawat ini buatan Amerika Serikat tahun 1979 yang beroperasi di Asia dan Australia. Muatannya 104 penumpang. Pengunjung bisa menaiki, masuk dan melihat bagian dalam pesawat. Namun lihat-lihat jadwalnya ya. Soalnya ga tiap saat. Ada pramugarinya juga lho.

Di samping pesawat DC 9 terdapat helikopter berwarna orange milik TIM SAR Nasional. Tulisan dilarang masuk terpampang di pintunya. Aku udah niat banget tuh pengen narsis di bangku pilotnya, eh sementara cuma ngimpi saja dulu deh. Helikopter SAR ini buatan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) tahun 1982. Digunakan untuk mencari korban yang hilang atau memberi bantuan melalui jalur udara.



Di sebelah kanan dari pintu masuk terdapat berbagai koleksi kereta Presiden Pertama RI dan kereta Wakil Presiden Pertama RI. Pingin motrat motret eh hujaaan. Akhirnya aku memilih setengah berlari menuju bangunan utama musium. Jaraknya sekitar 50meter dari pintu masuk. Kontur tanahnya menurun lalu naik. Di pertengahan jalan ada rel kereta. Sewaktu nengok ke kiri, ealaah ada kereta tua yang mati gaya. Ya iyalah, udah abis umurnya. Cuma bisa mejeng ga bergerak-gerak. 



KOLEKSI TRANSPORTASI DARAT
Aku menuju ruang pamer di dalam ruang yang dibagi dalam beberapa ruangan yang seolah-olah merupakan bangunan tersendiri, disebut modul; terdiri atas modul pusat, modul darat, modul laut, dan modul udara; baik dengan benda asli, tiruan, miniatur, foto, maupun diorama.

Modul darat menggambarkan keberadaan dan layanan transportasi darat, mencakup transportasi jalan raya, jalan baja, sungai, danau, dan penyeberangan, berupa alat transportasi yang sudah mulai menggunakan tenaga mesin awal sampai sekarang; antara lain cikar DAMRI yang merupakan armada pertama DAMRI dan berperan pada masa kemerdekaan (tahun 1946) sebagai alat angkut logistik militer di wilayah Surabaya dan Mojokerto. Bus Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) ini bermerek TATA buatan India. Kalau dilihat sih kondisi armadanya sudah mulai kurang terawat dengan baik.

KLASIK, UNIK DAN ANTIK
Nah, di modul darat ini, setelah tadi melihat keberadaan kereta api tua yang mati gaya, kini aku melihat dua taksi group Bluebird yang super kinclong. Bener-bener hidup gaya, kebalikan banget ama kereta tua tadi. Nissan Cedric Y31-TD25 berwarna hitam, menjadi tontonan menarik. Antik banget. Ini kendaraan silver bird pertama yang dioperasikan pada tahun 1992. Disampingnya, Holden Torana LJ Series, si biru lembut yang bentuknya lebih antik dan unik daripada Nisaan Cedric, adalah taksi blue bird pertama yang dioperasikan pada tahun 1972. Uuuuh….suka banget lihat design belakangnya itu. Rasanya dua mobil ini menjadi favoritku deh…



Tak jauh dari dua taksi bluebird tadi ada bus tingkat berwarna merah. Sebutannya Si Jangkung. Bis tingkat pertama ini buatan Inggris. Mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1968 sampai tahun 1982. Ada pula oplet. Hoooo….ini oplet ternyata mirip dengan oplet di sinetron si Doel itu. Pendek dan kuno. Ya iyalaaah. Ini oplet merk Morris, di operasikan di Indonesia pada tahun 1959 sampai 1976. Tapi hanya beroperasi di Jakarta lho katanya. Oh iya, Oplet itu berasal dari kata Open dan Cabriolet. Open artinya terbuka. Cabriolet artinya tertutup terpal. Lha, mana terpalnya? Au ah…

Di tempat ini juga terdapat Taman Lalu Lintas lengkap dengan instrumen pengenalan rambu-rambu lalu lintas,  yang juga dapat digunakan sebagai tempat pelaksanaan suatu event. Sewaktu kutengok, terlihat tumpukan kain berukuran panjang dan lebar-lebar berwarna kuning, merah dan putih tergeletak begitu saja. Seperti habis digunakan untuk sebuah acara. Di sisi utara musium adalah tempat koleksi berbagai lokomotif kuno. Jadul banget, tapi dijejerkan dengan rapi. Walau begitu tetap saja bagiku terlihat seram dan kusam meskipun tak dapat dipungkiri benda-benda tua ini begitu unik dan gagah.

Di ruangan selanjutnya ragam koleksi lebih banyak dipamerkan dalam bentuk koleksi foto. Dari ruangan ini terdapat tangga untuk menuju ke atas. Sayang sekali aku naik waktu itu. Bener-bener udah lelah rasanya. Padahal di atas terdapat arena pameran koleksi miniatur kayu bus PPD dan DAMRI terpampang rapi dengan berbagai model dan merek. Yang paling menarik adalah adanya sebuah Cikar DAMRI buatan tahun 1946 yang dalam catatan sejarah merupakan armada pertama yang dimiliki DAMRI yang berperan dalam masa kemerdekaan sebagai alat angkut logistik keperluan militer di wilayah Surabaya. Cikar ini ditarik dengan dua ekor sapi atau kerbau yang di jaman tersebut juga dikorbankan sebagai lauk pauk saat perbekalan habis.

KOLEKSI TRANSPORTASI LAUT
Sebelum menuju pintu keluar dari modul pusat ini, aku sempat melihat keberadaan danau kecil yang berada di samping ruangan indoor. Sebuah danau yang tak hanya berfungsi sebagai penambah keindahan, tetapi juga terdapat koleksi kapal dari RI yang berasal dari US Navy. Menurut cerita, bahkan karena keindahannya, kapal ini sering dipakai untuk acara pre wedding oleh mereka yang akan melangsungkan pernikahan.

Aku masih mengamati sekeliling. Lalu terduduk di teras, persis di depan meja informasi Museum. Hujan masih turun dalam bentuk gerimis. Menunggu beberapa menit tak jua reda. Lalu nekat menembus hujan, berjalan setengah berlari. Sampai di rel kereta, aku menoleh ke kanan, ke kereta tua yang mati gaya, beuuuh…dramatis euy. Bak di film-film :p


KERETA BERSEJARAH
Dan…gerimis perlahan reda. Wuuuuah…. Saat yang tepat untuk mengambil gambar kereta Presiden Pertama RI. Pinginnya sih begaya trus difoto dengan latar belakang kereta tua itu, pikirku pasti unik dan klasik, eh tapi yang lain sudah berlarian ke mobil khawatir gerimis kecil itu kembali menderas. Lha aku difoto oleh siapa dong? Pingin minta tolong pengunjung lain yang saat itu sedang foto-foto di kereta itu, tapi kok ya sungkan ya. Ya sudah, kali ini ajang narsis lewat dulu deh. Sewaktu mendekat aku ga jumpa satu petugaspun jadi ga bisa menanyai sejarah kereta tersebut kecuali membaca sedikit informasi pada keterangan yang terpampang bertuliskan KLB (Kereta Luar Biasa) IL.7 dan IL.8 yang dibuat oleh bengkel kereta Staatspoorwegen (S.S) di Bandung Tahun 1919. Kereta ini digunakan oleh Presiden dan Wakil Presiden RI pertama pada waktu pemerintah RI hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Selain itu juga ada Kereta Merdeka Atau Mati. Kereta ini digunakan pada masa perjuangan kemerdekaan untuk pengiriman logistik atau bala bantuan ke medan perang.







SEJARAH dan KESAN YANG MENGAGUMKAN
Kereta tua yang pernah ditumpangi oleh Presiden dan Wakil Presiden pertama RI itu menjadi sajian terakhir yang kusaksikan di garasi super besar bernama Museum Transportasi. Jujur, aku begitu terkesan dengan koleksi-koleksi kuno di tempat ini. Takjubku bukan sekedar atas penampakan benda-benda masa lalu yang telah ada sejak puluhan tahun sebelum aku sendiri lahir ke dunia ini, tetapi kisah dan cerita dalam bingkai sejarah yang menyertainya.

Apa yang kemudian muncul dari kepalaku adalah lintasan bayangan akan masa-masa perjuangan kemerdekaan yang entah seperti apa. Bila membayangkan tentang perang, bagiku adalah tentang pengorbanan dan perjuangan tanpa kenal lelah, bertarung nyawa, bertumpah darah, bermandikan air mata. Lantas di sini, saat ini, aku dengan begitu tenangnya memandangi sisa-sisa perjuangan masa lalu bangsa ini, tanpa harus merasa cemas dan panik apakah akan ada letusan senjata, dentuman bom, atau bunyi-bunyi mengerikan lainnya yang membawa aroma kematian… ah… kereta tua bernama Kereta Merdeka Atau Mati itu telah membuatku membayangkan banyak hal.






Museum Transportasi yang merupakan lembaga milik Departemen Perhubungan ini memang di buat dengan maksud mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta peranannya. Tak sekedar memberikan informasi dan tambahan pengetahuan kepada para pengunjung mengenai transportasi dan sejarah perkembangan teknologi transportasi tetapi sekaligus sebagai tempat rekreasi yang edukatif.

Kalian tertarik? Ayo datang dan lihatlah garasi super besar ini. 


*Jakarta, Oktober 2012

Buku Anthology Pertama: Love Journey; Ada Cinta di Tiap Perjalanan

11.20 19 Comments



Alhamdulillah buku antologi pertama.


Judul: Love Journey, Ada Cinta di Tiap Perjalanan
Penyusun: Dee An & Lalu Abdul Fatah
Penyunting: Lalu Abdul Fatah
Desain Kover: Dee An
Harga: Rp40.000
Tebal: 234 halaman

KONTRIBUTOR:

Dian Onasis, Dinar Okti Noor Satitah, Dr. Prita Kusumaningsih, SpOG, Gita Lovusa, Helene Koloway, Icho Ahmad, Ihwan Hariyanto, Katerina, Lina W. Sasmita, San Yasdi Pandia, Silvani Habibah, Suga Adiswara, Takedi Yaya, Ulil Lala, Waode Siti Mudhalifana, Yudith Fabiola


SINOPSIS:

Dalam tiap perjalanan, tak jarang kita menemukan 'cinta'. Entah itu cinta lokasi dengan seseorang atau tiba-tiba jatuh cinta pada suatu hal. Hal tersebut bisa berupa alam yang elok, budaya yang unik, masyarakat yang ramah, atau kuliner yang lezat.

Love Journey merekam jejak perjalanan berbalut cinta yang ditulis 18 narablog. Pembaca akan diajak berkelana ke berbagai penjuru bumi: dari Malinau, Kendari, Flores, Guangzhou, India, hingga Gaza. Dari kedalaman laut Pulau Dewata hingga ketinggian Gunung Kerinci. Bersama orang-orang yang luar biasa: kekasih, orangtua, anak, teman, juga sahabat.

Sungguh, masih banyak tempat dan cerita di muka bumi yang layak disinggahi dan diangkat dalam untaian aksara. Sebagai oleh-oleh dari perjalanan untuk para pembaca. Sekaligus memantik bara semangat agar kita terus berjalan dan menemukan cinta.
Selamat menyelami isi buku ini.





KATA MEREKA TENTANG "LOVE JOURNEY"

"Melakukan perjalanan ibarat mencari sesuatu yang telah lama hilang, yaitu: cinta. Di ‘Love Journey’ ini kita banyak menemukan arti cinta; cinta terhadap alam, cinta kepada sesama, cinta kepada yang disayangi dan cinta kepada Sang Pencipta. Semoga spirit ‘cinta’ di buku ini menyebar dan berhasil kita tangkap maknanya." [Gol A Gong - Travel writer]

“Memadukan cinta dan perjalanan dalam sebuah untaian kisah yang memikat, sungguh sebuah tantangan tersendiri. Romantisme cinta dan gemuruh rasa bahagia menikmati perjalanan kerap kali menjadi dua hal yang dominan dan menghadirkan impresi ketika ingin menuangkannya lewat tulisan. Buku ini menyajikan bagaimana para penulisnya menaklukkan ‘tantangan’ tersebut melalui ramuan cerita yang menawan dan sarat makna. Upaya memahami cinta dari beragam perspektif dengan latar perjalanan yang mengasyikkan serta ‘dihidangkan’ dalam rangkaian kata yang indah, bersahaja dan penuh kesan membuat buku ini layak menjadi pilihan bacaan terbaik untuk Anda.”  [Amril Taufik Gobel - narablog (www.daengbattala.com), Penulis, tinggal di Cikarang]

“Setelah selesai membaca cinta yang universal dalam Love Journey di ayunan kayu di Pulau Mansuar, Papua, saya hanya bisa termenung, merasakan hangat cerita-ceritanya, membiarkan kopi di meja berhenti mengepul. Buku ini kaya dengan energi cinta. Juara!” [Andrei Budiman - Penulis Travellous]

============

Terima kasihku kepada semua kontributor dan tiga sahabat yang telah berjuang penuh semangat dan tanpa lelah untuk lahirnya buku ini, Fatah, Mbak Dian, dan Ihwan. Kalian telah membuat akhir hayat akun MP ku berakhir dengan indah. Alhamdulillah.
"Satu hal tentang buku. Buku memungkinkan kita untuk bisa bepergian tanpa harus menggerakkan kaki." (J. Lahiri)



Review Love Journey di Majalah Backpackidea


Love Journey di Goodreads


LAUNCHING LOVE JOURNEY DI BATAM
Acara launching buku Love Journey di tobuk Karisma, Kepri Mall Batam tanggal 23 Desember 2012.
Para sponsor yang mendukung acara ini yaitu: FLP Batam, Toko Buku Karisma, Xpresi Batam Pos, La Tansa Tour and Travel, dan Sang Bintang School Batam.

Launching buku Love Journey di Batam sengaja 'dibungkus' dengan acara talk show dengan tema Book Your Blog. Sesuai dengan latar belakang lahirnya buku Love Journey itu sendiri. Sebagai pembicara dalam acara talk show, mbak Dee An mengundang Riawani Elyta seorang blogger asal Tanjungpinang yang sudah 'melahirkan' banyak novel, diantaranya adalah: Tarapuccino, Persona non Grata, Yang Kedua, PING a message from Borneo, dan puluhan antologi lainnya.

Acara dibuka dengan sambutan dari perwakilan toko buku Karisma. Kemudian dilanjutkan dengan launching buku Love Journey.

semua foto ini hasil jepretan Bang Ical, suami dari mbak Lina W. Sasmita, salah satu kontributor Love Journey yang juga mengisi acara launching hari itu ^_^



LAUNCHING LOVE JOURNEY DI MALANG

Launching Love Journey di Toko Buku TOGAMAS Malang. Minggu 23 Desember 2012. Pembedah Achmad Hidayat ( Cak Dayat ), Ketua FLP Malang. Kontributor Love Journey yang hadir dan mengisi acara ini adalah: Lalu Abdul Fatah, Ihwan Hariyanto, Silvani Habibah, Dinar Okti Noor Satitah, Mbak Helene Jeane Koloway, dan Mas Suga.



 * * * * *
Bukti terbit yang diterima pada Desember 2012


BANNER LAUNCHING LOVE JOURNEY DI MALANG

BANNER LAUNCHING LOVE JOURNEY DI BATAM



Menurut Fatah, AGUSTINUS WIBOWO, sang travel writer ternama itu (penulis buku Selimut Debu dan buku Titik Nol), juga bela-belain beli buku Love journey! :D Foto ini copas dari FB Fatah. Di buat di Perpustakaan Umum Taman Ekspresi Surabaya pada acara 'Di Balik Titik Nol' yang dihelat hari Sabtu, 13 April 2013. 



Berikut beberapa foto perjalanan buku Love Journey di Toko Buku dan di manapun pembaca membawanya. Hanya sedikit sih, saya copas yang menurut saya "unik dan menarik" saja :D


 Buku Love Journey bergaya di depan Arc de Triomphee - Perancis
Foto copas dari FB mbak Helene Jeane Koloway

Buku Love Journey di bawa ke Hong Kong
Foto copas dari FB Silvani

Buku Love Journey di bawa ke dasar laut Pulau Tidung oleh saya :D

 
LOVE JOURNEY DI TOKO BUKU GRAMEDIA DEPOK (copas dari Silvani)

Ihwan dan LOVE JOURNEY di Gramedia MATOS- MALANG 
(Ihwan, salah satu kontributor Love Journey sekaligus Owner penerbit Mozaik Indie Publisher

Love Journey di Togamas Affandi - Jogja 
Foto by Lalu Abdul Fatah

Maryatun, di Hongkong, menulis:
"Orang pandai dan beradab takkan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Pergilah, kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang," Imam Syafi'i r.a

Quote pertama di buku Love Journey 1, quote yang pernah termakan, bahkan meracuni o
tak jaman saya masih berseragam putih biru. Jangan ditanya buku apa dan siapa pengarangnya yang mencantumkan quote itu, saya lupa.

Tapi, merantau? Bagaimana caranya? Biaya dari mana? Picik saat itu, meski itu realita, bila akan disangkal oleh backpacker yang bisa jalan ke seluruh dunia dengan biaya minim sekali, saat itu, kondisi saya, untuk makan saja tak ada.

Back to the LJ1. Ada cinta di tiap perjalanan, cinta yang universal. Perjalanan, sebuah aktifitas menemukan, dalam buku ini menemukan cinta. Apabila dibilang saya hanya akan merasakan perjalanan para penulis, sepertinya pada kasus saya, hal itu hanya muncul tipis tak terasa. Yang ada adalah saya juga akan melakukan perjalanan seperti mereka.

Cerita yang mengalir, seperti jurnal-jurnal di Multiply, karena memang buku antalogi ini berasal dari sana. Tak ada beban, tak perlu memeras otak untuk bisa memahami, menyenangkan. Seperti blogwalking.

Ada 3 tulisan yang menancap pada hati saya, ya tumben saya memakai hati.

Tulisan pada daftar isi 33 Love is So in the Air, dengan quote yang mengena, "I've learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them fell," Maya Angelou. Oom dan Tante di Singapore dalam tulisan itu sudah bisa saya tebak siapa sejak beberapa kalimat pertama.

Tulisan pada daftar isi 68, saya menamakannya menemukan (cinta) diri sendiri dan jatuh cinta pada alam. Menaklukkan rasa takut itu yang dituliskan sangat indah, tapi luar biasa melejut rasa takut pada diri saya sendiri. Dan deskripsi keindahan dasar laut itu, mampu memaksa saya memejamkan mata, melukisnya di depan mata saya, dan kapan saya bisa?

Tulisan pada daftar isi 215 Aku Cinta Indonesia? Tersindir tentang ungkapan penulis yang merasa tak cukup benar mengaku dengan bangga cinta Indonesia, tapi hanya tahu Indonesia di permukaan saja. Dan pernyataan penulis tentang cara mencintai yang tidak hanya berupa memberi, tapi juga cinta bisa berupa kritikan.

Karena saya hanya menulis tiga tulisan, bukan berarti tulisan yang lain tidak bagus, tulisan ( buku ) adalah sebuah rasa, jadi tergantung siapa yang mengunyahnya lah buku itu berasa manis atau pahit atau asam."
Terima kasih, Mar ^_^

Video acara bedah buku Love Journey di Gramedia MATOS, Minggu 14 April 2014.




Acara bedah buku Love Journey di Gramedia MATOS Minggu 14 April 2014
Foto copas dari Ihwan Hariyanto
========================================================
 Tambahan ulasan Love Journey dari Lombok D'Onk, copas dari Fatah :
LOVE JOURNEY: Ada Cinta di Tiap Perjalanan

Sepertinya kita sedang berbagi pengalaman dengan para petualang-petualang (backpacker Indonesia). Cerita-cerita mereka (para penulis) tentang cerita cinta yang polos, sederhana, arti cinta dalam tiap-tiap perjalanan para penulisnya, cinta yang universal. Bener-bener menginspirasi, bahwa hal-hal kecil yang sering kita sepelekan bisa membuat kesan dalam tiap perjalanan seorang backpacker, terlebih lagi menjadikannya sebuah cerita menarik yang sungguh-sungguh alami.

Seperti cerita milik Dee An yang saya rangkum sedikit, “Ada Cinta di Gerbong Kereta”: Gerbong kereta ini tak pernah kehabisan cerita. Saya selalu bernostalgia setiap naik kereta api. Terlebih kereta api ekonomi seperti ini. Dan rasa itu memilih hadir disini, bukan di gunung-gunung yang sering kami daki, bukan juga dibangku kuliah tempat kami, sama-sama menuntut ilmu. Tapi disini, disebuah gerbong kereta api ekonomi.

Menarik juga tentang cerita yang ditulis Katerina, “Menaklukan Rasa Takut di Dasar Laut Pulau Dewata”, seorang wanita yang masih sempat-sempatnya berfikiran untuk melindungi auratnya ketika ingin belajar menyelam untuk yang pertama kali (pemula). Pembelajaran yang begitu menyemangati (bagi saya) ketika ia tuliskan, Saat perlengkapan meyelam telah terpasang, saat teori-teori telah dikuasai dan dihafalkan, semua akan sia-sia jika keberanian tak terpancang kuat di dasar jiwa. Rasa takut akan membuatmu gagal meraih kenyataan.

Masih banyak cerita-cerita menarik lainnya yang bisa anda jadikan motivasi dan pengetahuan-pengetahuan, serta tips dan trik dalam menikmati sebuah perjalanan untuk mencari, mengenal cinta itu. Saya makin yakin, bahwa hal kecil yang kita lakukan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat ketimbang melakukan hal besar tapi tidak dapat menjadikannya sebuah manfaat.

RESPECT LOVE JOURNEY, Sukses dunia akherat semeton2!!!



Dari Saya:
Semua berawal dari lomba menulis perjalanan dengan tema: Love Journey, Ada Cinta di Tiap Perjalanan yang diselenggarakan oleh Lalu Abdul Fatah dan mbak Dee An. Waktu itu lombanya digelar di Multiply.com. Situs yang kini sudah tamat riwayat.

Alhamdulillah tulisan saya yang bercerita tentang pengalaman diving di Tanjung Benoa Bali menjadi juara 2 dari 38 tulisan yang ikut berlomba. Rasanya tak percaya, sebab saya bukanlah siapa-siapa ketimbang peserta lain yang kebanyakan memang berprofesi sebagai penulis.


Dari lomba itu, saya memperoleh hadiah 2 buah buku dan souvenir kaos Batam. Buku Travelove (Andrei Budiman Dkk) hadiah dari Fatah dan buku A Thousand Miles Journey Begin With The first Step (Dee An) hadiah dari mbak Dee An.

Tak cukup sampai di situ, kegembiraan saya semakin menjadi tatkala Mbak Dee An dan Fatah membukukan tulisan kami. Dan akhirnya, di penghujung Desember 2012 ini, buku itu terbit dan tiba di tangan saya. Maka, berbunga-bungalah hati ini...

Terima kasih Fatah, terima kasih mbak Dee.