Membunuh Rasa Takut Dengan Melakukan Apa Yang Aku Takutkan

18.04



BMR Dive and Water Sport di Tanjung Benoa, Nusa Dua Bali, menjadi tempat pertamaku melakukan penyelaman untuk wisata. Bukan hanya sebagai tempat pertama tetapi juga moment pertama menyelam hingga dalam dan moment pertama menyelam dengan perlengkapan selam. Ya, bagiku ini sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Penuh ketegangan, juga ketakjuban. Luar biasa.

Di Pulau Bali, BMR merupakan pusat permainan air dan petualangan laut. Beragam aktifitas menantang adrenaline seperti parasailing, banana boats, flying fish, jetski, canoeing, snorkling, diving, ocean walker, dolphin watching tour dan masih banyak lagi, dapat dilakukan di tempat ini. Tetapi, yang paling menarik untuk kulakukan saat ini adalah diving. Padahal, diving merupakan olah raga yang paling kutakuti. Kenapa? Karena aku ini mengidap claustrophobia. Sebuah penyakit yang menyebabkan seseorang merasa takut pada ruang sempit, kedalaman, kegelapan, dan juga takut sendirian. Selain itu, efek film-film tentang hiu yang pernah aku tonton, membuatku kerap berfikiran bahwa masuk ke dalam lautan itu sama saja dengan memberikan diri secara gratis ke hiu si pemangsa manusia!

Syarat menyelam adalah bisa berenang. Alhamdulillah aku bersyukur telah menguasai olahraga air ini sejak masih usia sekolah dasar. Dulu, di komplek Pertamina tempatku tinggal, ada dua kolam renang gratis yang bisa dipakai oleh siapa saja dan kapan saja, asalkan pengguna adalah keluarga karyawan Pertamina. Nah, adanya kolam renang gratis itu memungkinkanku bisa berenang kapan saja aku mau. Seringnya mendatangi kolam renang, membuatku belajar dan akhirnya bisa berenang.

Aku ga pernah punya guru khusus berenang, pun tak ada orang dewasa yang mengajariku. Dulu, aku hanya kecipak kecipuk sendiri di kolam anak-anak, belajar menggerakkan kaki, mengayuh, dan bernafas dengan baik. Sebenarnya banyak cerita yang ingin kututurkan mengenai proses belajar renang itu, tapi kurasa lain kali saja ceritanya. Intinya, aku bisa renang sejak kecil. Dan itu menjadi modal yang baik untuk menjadi penyelam. Seperti kali ini, ketika aku hendak menyelam di Bali, aku sudah memenuhi syarat untuk menyelam karena aku bisa berenang.







 

BELAJAR MENYELAM
Harga normal fun dive di BMR sebesa USD 70.00 sudah termasuk insurance, land & sea transportation, 1 set perlengkapan diving dan dive guide. Sekitar Rp 665.000 jika dikali kurs 9500. Itu untuk satu jam pertama.

Instruktur sekaligus guide selamku seorang laki-laki, namanya Mas W. Dia yang memberikanku ilmu dan teknik menyelam. 20 menit waktu untuk belajar terasa sangat singkat. Aku berusaha keras menghafal teori-teori yang diajarkannya. Mempraktekkan cara bernafas dengan mulut lewat tabung oksigen, juga mempraktekkan kode-kode berkomunikasi selama di dalam air. 

Selain belajar teori menyelam, aku juga diharuskan mengisi sebuah formulir yang mempertanyakan perihal data dan kesehatan diri. Dan formulir itu harus diisi dengan sejujur-jujurnya. Jika sakit ya katakan sakit, misal jika punya penyakit jantung harus disebutkan. Ada juga pertanyaan apakah di hari ini aku akan melakukan penerbangan, jika ya, tentu saja akan dilarang menyelam. 

Sebenarnya, jika sebelumnya aku pernah menyelam dan telah memiliki sertifikat menyelam, maka aku tak lagi perlu diberi teori-teori dengan segala penjelasan mengenai selam. Berhubung aku belum pernah menyelam, apalagi memiliki sertifikat, mau tak mau aku harus diajar cara menyelam berikut penggunaan alat-alat selam. Kebayang kan betapa bekerja kerasnya si guide mendidikku hehe

BAJU SELAM
Wetsuit yang disediakan BMR hampir semuanya  berukuran besar. Mungkin karena wisatawan di sini banyak orang asing, mungkin juga kebanyakan peserta selam berbadan tinggi dan besar, maka wet suit yang tersedia jarang sekali berukuran kecil. Beruntung ada satu yang berukuran kecil dan bisa digunakan untukku. Tapi sayang, modelnya pendek. Maksudku, celananya pendek sepaha. Begitu juga dengan lengannya. 

Aku ga mungkin mengenakan wet suit seperti itu ya kan. Kucari akal bagaimana caranya supaya aku tetap bisa berenang tapi tetap menutup aurat. Teringat celana panjang dan baju kaos panjang yang ada di tas. Segera kuambil setelan itu, dan kukenakan sebagai dalaman. Wetsuit kukenakan sebagai luaran. Jadi, tak ada bagian terbuka lagi. Alhamdulillah bisa tetap tertutup.

MENUJU LAUTAN
Menuju tempat penyelaman, kami menggunakan perahu kayu. Ada tiga personil BMR yang menemani. Seorang pengemudi perahu dan dua pendamping selam. Lokasi penyelaman berjarak cukup jauh dari pantai, tetapi pantai tetap dapat terlihat dari spot penyelaman.

Ada beberapa perahu lainnya yang juga mengangkut para wisatawan yang akan menyelam. Ada juga sebuah kapal yang berukuran cukup besar, bagus, dan terlihat penuh peralatan. Kata Mas W, itu kapal pengangkut para wisatawan yang hendak berjalan di dasar laut. Sebutannya Ocean Walker. Jadi, pesertanya masuk ke dalam air dengan menggunakan helm khusus yang selang berukuran panjang dan ujungnya terhubung ke oksigen (entah apa nama alatnya) yang ada di kapal. Jadi, mereka bisa bernafas dengan oksigen. Nanti di dasar, mereka akan berjalan sambil berpegangan pada tambang besi yang memang sudah disediakan. Nah sambil berjalan di dasar laut, mereka bisa menikmati pemandangan laut tanpa harus bernafas dengan mulut seperti para penyelam. Enak sih, tapi ga menantang menurutku :D

Di atas perahuku, tergeletak berbagai perlengkapan selam. Ada fins, masker, tabung oksigen, dan life jacket. Dua kamera underwater untuk mengambil gambar dan video, juga dibawa serta.

MENYELAM DAN MEMBUNUH RASA TAKUT 

Saat perlengkapan menyelam telah terpasang, saat teori-teori telah dikuasai dan dihafalkan, semua itu akan sia-sia jika keberanian tak terpancang kuat di dasar jiwa. Aku mendapati keadaan dimana diriku merasa sangat takut. Ketegangan itu sungguh tak dapat kutepis. 

Tabung oksigen yang membebani punggungku, bagai menambah ketegangan. Mas W berusaha terus meyakinkanku, ia menenangkanku, dan mengatakan bahwa dia tidak akan kemana-mana dan akan terus mendampingiku selama di dalam air. Aku masih belum mau percaya. Bahkan rasa dingin yang menyergap, membuat nafasku bagai sesak seketika. Aku tak dapat bernafas dengan tenang, tarikan nafasku pendek-pendek. Rasa takut mati karena tak bisa bernafas di dalam air, begitu menguasaiku saat itu.

Sehebat apapun persiapan yang ada, tetap lebih hebat Allah yang punya rencana. Ketakutan yang aku alami adalah hal yang manusiawi. Karena itu aku berdoa, meminta kepada Sang Pemilik lautan beserta isinya agar melancarkan penyelaman perdana ini. Moga ga kayak batu, nyemplung ga ngapung lagi. 












           
Jujur, rasa takut yang timbul dalam diriku sangat besar, tetapi di saat yang sama, rasa ingin membunuh ketakutan itu juga sama besarnya. Aku teringat lagi bahwa mati itu sudah pasti tapi matinya kapan dan bagaimana caranya, itu rahasia Allah. Kalau memang sudah waktunya, sedang duduk santai di sofa rumah saja bisa mati.

Jika tidak sekarang membunuh ketakutan akan sebuah kedalaman, kegelapan, dan mungkin juga sendirian, lantas kapan lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu seakan berkumpul di kepalaku, mengelilingiku, menyentakkanku akan apa yang menjadi tujuanku semula. Aku ingin sembuh dari rasa takut itu. Aku ingin sembuh. Ingin sembuh. Akan kubunuh semuanya dengan menyelam!


BERHASIL!
Tak mudah memang, berkali-kali aku mencoba turun mencapai kedalaman, berkali-kali pula gagal. Menelan air. Tersengal-sengal. Air masuk hidung. Bahkan menangis. Aku mengalami itu sebelum akhirnya berhasil. Mas W pun tak luput dari kemarahanku karena aku sempat merasa dia membiarkanku panik ketika gagap hendak menggunakan pelampung agar bisa naik ke permukaan. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, dia sudah memberi kode dan memintaku naik dengan segera.

Yang aku syukuri saat berhasil memasuki kedalaman itu, bukan tentang apa yang aku lihat di dalam laut, bukan tentang pemandangan bawah laut yang begitu indahnya, TETAPI tentang betapa "hebatnya" aku bisa membunuh rasa takutku. Berhasil melakukan apa yang aku takutkan, itu yang menjadi kebahagiaanku saat itu.
 
Ketika kembali ke dunia yang semestinya
Rasanya seperti keluar dari dunia yang asing (dan sempit) lalu masuk ke dunia yang luas dan penuh udara yang bisa dihirup bebas melalui hidung.  Bukan tabung oksigen. Dunia yang berbeda, dengan masing-masing keindahannya.  





Cinta membuktikan segalanya


Kini, ingin sekali rasanya mendapatkan sertifikat menyelam dari organisasi selam yang ada di Indonesia. Uh…membayangkan jika memiliki lisensi menyelam yang berlaku internasional, alangkah senangnya. Dengan sertifikat seperti itu aku bisa menyelam di mana pun di dunia ini. Ga usah ngayal jauh-jauh dulu-lah, cukup di Indonesia saja. Sebab, tanah air beta ini merupakan negara kepulauan dengan biota bawah laut yang paling beragam di dunia. Membayangkan menyelam di Raja Ampat, wow

Ada banyak pulau dengan banyak spot bagus yang bisa dinikmati keindahan alam bawah lautnya. Asalkan kita, siapapun yang menjamahnya, tetap selalu menjaganya. Tidak merusak terumbu karang. Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak melakukan kegiatan apapun yang dapat merusak ekosistem laut. Jika sampah sudah berserakan, air sudah kotor, menghitam, berbau, maka tiada keindahan apapun lagi yang bisa kita lihat dan rasakan. So, let’s keep Indonesia clean and beautiful.

Menyelami kehidupan bawah laut memang sangat menyenangkan tapi tolong diingat agar selalu patuh pada semua aturan yang ada, sebab nyawa menjadi taruhannya. Sedikit tips dariku (meskipun hanya seorang penyelam amatiran), berdasarkan dari apa yang ku alami, hendaklah menguatkan niat dan keberanian sebelum menyelam, memperbanyak minum air putih terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam air, selalu bersikap tenang dan tidak panik, dan yang terpenting adalah bekali diri dengan ilmu menyelam dari pelatih/guru selam professional. Jika aku bisa, kamu juga pasti bisa.Together, we can! *Obama mode on. Ga nyambung rek  *di lempar botol air mineral.

Menjelajahi negeri bawah laut dengan keberanian dan rasa cinta, memberikan pengalaman, inspirasi, serta rasa syukur yang kian raya. Sebuah pengalaman tak terlupakan yang memberikan makna pada diriku tentang perjuangan, semangat, harapan, sekaligus keindahan. So, menyelamlah, dan dapatkan pengalaman berbeda di antara banyak petualanganmu. 

Happy traveling, life is so exciting!
Smile 
-- Katerina --

BMR Dive & Water Sports
(PT. Rekreasi Bahari Benoa)
Jl. Pratama No. 99X
Tanjung Benoa, Bali, Indonesia 80361
Telephone: +62 361 771 757(Hunting)
Facsimile: +62 361 775 252
E-mail: info@bmrbali.com
Website: http://www.bmrbali.com
BMR Dive & Water Sports on Google Maps

Reservation time: 08:00 am – 10:00 pm
Business hour: 08:30 am – 17:00 pm




Bali, 18 September 2011

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon