Jurasic Park di Lembah Harau

14.30

Selasa 04 September 2012

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Meeting yang dilaksanakan di Novotel Hill Hotel Bukittinggi baru saja usai. Siang terus beranjak menuju sore. Saya sempat ragu apakah rencana pergi ke Lembah Harau tetap dilaksanakan atau tidak sebab nanti malam akan ada acara dinner dengan seluruh peserta meeting di Novotel Hill. Saya khawatir waktu untuk ke sana tak cukup.

Menurut driver, jarak tempuh menuju Lembah Harau sekitar satu jam. Saya menghitung waktu, dan mengira-ngira setidaknya perlu tiga jam untuk perjalanan. Dua jam untuk pulang dan pergi, satu jam lagi  untuk melihat-lihat keadaan lembah. Ternyata masih ada spare waktu satu jam untuk prepare sebelum acara dinner. Akhirnya saya putuskan untuk tetap ke Lembah harau.

Kendaraan melaju normal. Kami tak mampir kesana kemari. Berusaha menghemat waktu. Sepanjang perjalanan nampak pemandangan bukit yang hijau oleh pepohonan, hamparan sawah, dan gunung-gunung yang gagah. Kekagumanku pada Ranah Minang ini tak pernah berhenti, keelokan alamnya sungguh memukau. Tak mengherankan bila selama perjalanan saya jarang sekali mengantuk. Saya merasa selalu segar dan bugar.

Lembah Harau terletak sekitar 20Km dari Kota Payakumbuh. Jalan aspal yang kami lalui cukup baik, sehingga mudah dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Kami tiba di pintu gerbang pukul 03.15 (berdasarkan keterangan waktu pada data exip photo). Langit yang sedari tadi terlihat mendung, kini berubah menjadi gerimis. Ketika sampai di sebuah pertigaan, driver mengambil jalan ke arah timur. Sebenarnya jika kami ke arah barat, kami akan melewati lembah Echo. Lembah yang unik dan terbilang langka. Sesuai namanya, jika kita berteriak sekeras-kerasnya dari sebuah titik di dasar lembah Echo itu, suara akan terpantul, lalu menghasilkan gema (echo) sempurna sebanyak tujuh kali. Konon katanya, lokasi tersebut adalah satu-satunya tempat di dunia yang dapat menghasilkan gema yang sempurna. Sayang kami tak lewat sana.



Di depan saya, terbentang bukit-bukit cadas nan curam. Guratan-guratan hitam berpadu warna krem di permukaannya. Air terjun mengucur dari atas ngarai, sedangkan di bawahnya, sawah-sawah penduduk terhampar di kiri dan kanan jalan. Pesona lembah sempurna di petang itu.

Gerimis seperti tak mau berhenti tetapi saya tetap ingin keluar dan turun dari mobil. Mencoba mengambil gambar meskipun cuaca sedang tak bersahabat. Dasar lembah nampak gelap. Tebing-tebing di tempat saya berhenti bagai tembok raksasa yang menghalangi cahaya. Kamera saya tak bisa maksimal menangkap gambar. Tapi saya berusaha mengabadikan tempat ini.

Mobil telah melaju sejauh lebih kurang 3Km, lalu kami berjumpa dengan sebuah air terjun. Kalau tak keliru namanya Sarasah Aia Luluah. Sebuah air terjun yang mengalir bak tirai putih diantara hijaunya tetumbuhan yang menempel di dinding tebing yang tinggi. Saya mendekat. Beberapa anak sedang bermain dan mandi di bawah Sarasah itu. Saya mendongak, memandangi puncak tebing. Tak dapat saya lihat dengan jelas puncaknya.Titik-titik air mengenai wajah. Saya menyingkir.

Tak berapa jauh dari Sarasah tadi, ada tangga beton menuju lereng ngarai. Saya naik ke sana. Melihat dari dekat. Seorang anak kecil penjual batang tebu, datang menawarkan jualannya. Saya tak membeli tapi meminta tolong padanya untuk bantu memotret. Dengan senang hati anak itu melakukannya. Sejenak saya melepas pandang dari lereng ngarai, Masha Allah, panorama Lembah Harau anggun nian. Dari samping, saya mengintip air terjun yang jatuh. Saya sebut mengintip karena pandangan saya terhalang oleh banyaknya akar-akar tumbuhan yang menjuntai. Menyembul dan menjalar di dinding tebing. Dari tempat saya berdiri saat ini, udara segar begitu terasa. Suasana lembah yang dingin, air terjun, dan gerimis yang masih turun kecil-kecil, menambah kesejukan alam sekitar lembah Harau.

Di depan Sarasah, berjejer warung-warung yang menjual aneka makanan dan minuman, pernak-pernik, dan juga aneka tanaman hias. Beberapa tanaman hias yang dijual di sini antara lain: Anggrek Bulan, Anggrek Kantung, Pakis Monyet, dan Kantung Semar. Tanaman hias itu katanya merupakan tanaman asli kawasan ini. Kami masuk ke salah satu warungnya, melepas dahaga dan beristirahat sejenak sembari menikmati semangkuk mie rebus instant panas dan sebotol teh manis tak dingin.

Kera ekor panjang di dahan pohon

Anak kecil penjual tebu ternyata keponakan ibu pemilik warung. Dia tidak lagi sekolah. Ayahnya sudah tiada. Dia hanya tinggal bersama ibunya dan adiknya. Dia membantu ibunya mencari nafkah dengan berjualan tebu. Saya trenyuh mendengar ceritanya. Dia membantu melayani kami. Saya minta tolong padanya untuk mengecas batre kamera saya. Beruntung ada listrik, jadi batre kamera saya bisa di cas di sana.


Toilet, kamar mandi dan musala tersedia ditempat ini. Jadi, tak perlu khawatir jika ingin salat. Air tersedia banyak. Bersih pula. Di dekat salah satu toilet saya melihat dua ekor kera berekor panjang. Melompat-lompat girang di dahan yang terayun-ayun. Saya kaget bukan kepalang, khawatir kera itu mendekat dan melompat ke badan saya. Tapi anak kecil itu bilang tak usah khawatir, kera-kera itu tak mengganggu. Saya memandangi kera-kera itu sambil menjauh. Terdengar kikikan yang bikin saya menoleh berulang-ulang. Rupanya tempat ini menjadi surga bagi primata. Dan ternyata, tebu yang dijual anak kecil itu digunakan untuk memberi kera-kera itu. Oh, saya kira untuk di makan oleh pengunjung seperti saya. Saya salah duga.



Setelah cukup beristirahat sembari menikmati pemandangan lembah yang indah, kami beranjak meninggalkan lokasi. Sebelum mobil melaju, saya menghampiri anak kecil penjual tebu. Memberinya beberapa lembaran uang 50ribu. Tergambar kegembiraan di wajahnya yang kehitaman. Saya melambaikan tangan padanya. Sampai jumpa lagi adik kecil. Lambaian tangan anak itu menjauh, lalu hilang dari pandangan.

Gerimis baru saja usai, saya lekas berburu gambar. Bukit-bukit dengan rimbun pohon nan hijau, sawah-sawah dengan buahnya yang menguning, menjadi sajian yang sangat istimewa untuk saya potret. Di depan sana, di kawasan Aka Berayun, merupakan lokasi olah raga panjat tebing. Kemiringannya yang menantang mampu memacu adrenalin bagi penggemar olah raga ekstrem itu. Lembah Harau memang istimewa. Saya kembali terkagum-kagum.

Oh iya, jumlah air terjun yang ada di Lembah Harau ini ada 4, yakni: Sarasah Aka Berayun, Sarasah Aia Luluah, Sarasah Bunta, Sarasah Murai. Kecuali Sarasah Aka Berayun, tiga Sarasah lainnya berada di satu lokasi, tepatnya di Jorong Lubuak Limpato Nagari Tarantang, Kecamatan Harau. Salah satunya yang tadi saya lihat dari dekat.

Di sisi Timur Lembah Harau tersedia fasilitas outbond dan bumi perkemahan dan jungle trekking bagi pengunjung yang hobby menjelajah. Di sana pengunjung dapat merasakan sensasi melintasi hutan berlatarkan irama alam berupa suara air terjun, serangga tonggeret, juga kicauan burung-burung.

Suasana Lembah Harau tak hanya alami tetapi juga menampakkan kesan purba. Saya sesungguhnya betah berlama-lama. Andai tak terburu-buru, rasanya masih ingin tinggal dan bermalam di Lembah Harau. Bahkan di sebuah artikel yang pernah saya baca, seorang T.Bachtiar (Anggota Masyarakat Geografi Indonesia) menyebut Lembah Harau sebagai gejala alam luar biasa yang jarang ditemukan di belahan bumi lainnya. Lembah Harau bagai sebuah tempat dimana kita merasa berada dalam hutan di film Jurassic Park. Wow!

Alhamdulillah bisa menjajaki tempat ini dari dekat.
Hmm....lembah ini persis seperti lembah-lembah dalam cerpen-cerpen fiksi yang dulu pernah saya buat ^_^





======= 

Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia
Selasa, 04 September 2012

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon