[Yogyakarta] Taman Sari, tempat pemandian pribadi keluarga Raja

12.13

“Untuk pasutri atau newly-wed disarankan ke Taman Sari berdua aja dan memilih guide bapak-bapak yang sudah paruh baya atau tua dan berdoa semoga ia orang yang tepat. Karena selain menjelaskan ttg tempat, guide itu akan menjelaskan rahasia-rahasia hebat di ranjang. Huehehe. Karena Taman Sari adalah tempat Sultan melakukan 'the Kamasutra things' bersama para selirnya. Maaf, aku lumayan sering bolang jadi tahu ttg hal ini. Semoga tidak 'meresahkan', huehehe.”

Wow! Baru dengar nih. Kalo Desi ga cerita, mana pernah saya tahu hal-hal seperti itu. Kalo gitu saya mau kesana! “Kamu pingin kesana karena denger kata “the kamasutra things’ itu ya?” ada yang bertanya curiga. “Oh enggak kok, cuma penasaran saja dengan keindahan arsitekturnya yang pernah saya lihat di foto-foto,” jawab saya setengah ngeles setengah enggak. “Kalo saya sih mau lihat soalnya pengen tahu rahasia-rahasia itu.” Gedubraks. Orang itu..ckckck…

Makan siangnya pending dulu…
Siang itu, dalam perjalanan dari Dagen menuju Soragan Bantul, saya membaca ulang PM Desi di MP lewat hape jadoel milik saya. Rencana saya sudah bulat, pokoknya sehabis makan siang bareng Tari dan Fatih, saya mau ke Taman Sari. Jam 12 kurang 15 kami tiba di RM Makan Mang Engking yang di Soragan. Bangunan RM itu unik, nampak menonjol karena sangat berbeda dengan bangunan-bangunan yang ada disekitarnya. Bentuknya menyerupai kastil. Di dinding bagian depannya tertulis: “Soragan Castle”. Aha. Ini nih rumah makan yang pernah saya lihat di MP nya mbak Myshant itu.
Ke Mesjid dulu baru ke Taman Sari 
Kami sudah bersiap masuk, namun SMS dari Fatih yang mengabari bahwa mereka baru bisa datang pukul 13.30 membuat kami menahan langkah. Tarie rupanya baru kelar mengajar pukul 13.00. Akhirnya driver yang mengantar kami menyarankan untuk jalan-jalan. Katanya mending ke Taman Sari saja dulu. Wah iya bener juga. Akhirnya kami meluncur ke Taman Sari. Di sana, sebelum masuk, kami menunaikan salat Dzuhur dulu di Mesjid Saka Tunggal yang berada tak jauh dari Taman Sari. Waktu itu mesjidnya rame, banyak anak muda dengan kaos berwarna dan bergambar seragam. Rombongan pengunjung dari mana, entah.
Di villanya Sang Raja…..
Salat sudah, ganti baju sudah, makan saja yang belum. Biarpun belum makan tapi saya ga merasa bakal mati gaya sebab udah nemu tempat begaya yang cantik yaitu Taman Sari *virus narsis mulai on. Kami masuk Taman Sari dan membayar tiket seharga Rp 3000/orang. Di pintu masuk (Gapura Panggung), beberapa bapak-bapak berbaju batik seakan tengah menanti. Sang pemandu. Aha….dalam hati berdoa, moga nemu bapak-bapak tua seperti yang diceritakan Desi hahaha

Benar saja, seorang bapak menghampiri. Dengan ramah dia menyapa kami. Mengikuti. Lalu berbagi cerita. Ya, beliaulah pemandu kami hari itu. Kami tak menolak, pun dalam hati saya pribadi berharap dapat mendengar banyak kisah dari mulutnya. Walau sebetulnya, saat itu saya sedang jadi tukang jepret. A3 berperan sebagai tukang tanya. Eh ga ding, ga perlu ditanya-tanya pun cerita legenda akan mengalir dari mulut si bapak.

Perjalanan keliling area Taman Sari dimulai dari dua bangunan di samping kiri dan kanan  Gapura Panggung. Menurut cerita pemandu, dua bangunan itu adalah tempat para penabuh alat musik memainkan musiknya untuk mengiringi tari-tarian yang di tarikan untuk sang Raja. Biasanya Raja menyaksikannya dari atas Gapura Panggung (saya ga sempet naik nih..hiks). Bapak pemandu sibuk cerita, saya sibuk moto miti turis bule yang berada di Gapura Panggung *cuci mata….hahaha di keplak. 

Selanjutnya, kami menuju area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk keluarga raja, yaitu kolam pemandian.Gemericik air menyambut kami. Airnya jernih. Tembok-tembok tinggi berwarna krem, mengitari tempat pemandian dengan gagah. Di puncaknya, terdapat patung wajah yang sedang menjulurkan lidah. Dan itu bermakna “sesuatu”. Eh itu patung yang lagi melet ga cuma satu lho. Ada beberapa. Kolam pemandian di area ini terbagi 3, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja). Saat itu, kolam untuk putra putri Raja sedang dikeringkan karena sedang dalam pekerjaan perbaikan. 

Umbul Kawitan (kolam mandi Raja dan Ratu)


Legenda cinta…..
Berikutnya, kami memasuki menara tempat pribadi Sultan. Di sinilah letak Umbul Kawitan (kolam untuk Raja dan Ratu). Cukup tersembunyi. Bapak pemandu mempersilahkan saya masuk kolam. Bukan tuk nyebur sih, tapi menyuruh saya untuk merasakan air kolamnya dengan cara merendamkan kaki. Cukup dengan berdiri di bagian tangga yang terendam air kolam. Trus katanya, “ntar dapat keberuntungan” hoho.. Saya tak meyakini itu, hanya tersenyum menolak, Bapak pemandu minta maaf. Sekejab membayangkan tempat yang amat privacy ini dimasanya, tentang Raja dan Ratu yang mandi berdua. Wiiiih…… *toyor pake kelapa muda. 

Umbul Pamuncar (kolam para selir)
Di ruang semacam ruang ganti, terdapat laci-laci (terbuka) dan sebuah periuk tempat istri-istri Raja bercermin. Periuk yang masih utuh berdiri itu memperlihatkan kesan glamor dari ornamen yang menghiasinya. Dalam tuturannya, Bapak pemandu membuat saya membayangkan masa sekitar 200 tahun silam, ketika seorang wanita cantik tengah menunggu air di periuk menjadi tenang lalu menundukkan kepalanya sembari bercermin, merapikan dandanannya, wajahnya, rambutnya, guna memperindah penampilannya. 

Bapak pemandu mengajak kami untuk naik ke puncak menara. Oh iya, menara ini terdiri dari tiga tingkat. Namun sayang saya menolak karena gaun panjang yang saya kenakan terasa seperti menyulitkan. Saya hanya memperhatikan tangga naik itu. Sebuah tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat. Terkesan antik dalam pandangan saya saat itu. Kata Bapak pemandu, dari tingkat paling atas itu area Taman Sari akan terlihat dengan jelas. Nah, dari tempat ini pula sang Raja melempar melati ke selir-selirnya yang sedang mandi. Yang mendapatkan melati itu, yang akan menemaninya mandi di kolam pribadi Raja. *moga saya tak salah ingat tentang ini.  

Ruang ganti: Locker & Periuk untuk bercermin

Dari kasur, dapur, hingga sumur……
Di menara tiga tingkat itu bukan hanya terdapat ruang ganti, tangga jati klasik dan unik, periuk berornamen glamor, tetapi juga pembaringan raja dan permaisuri. Pembaringan itu berupa ranjang tanpa kasur, terbuat dari semen yang dialasi papan (mungkin jati). Sebuah piring sajen tergeletak di tengah ranjang. Sepasang pria dan wanita yang sedang duduk di ranjang beranjak. Memberikan tempat pada kami yang mendadak ingin berfoto. Eh tadinya takut-takut sih mau foto, tapi bapak pemandu bilang gapapa, foto aja katanya. Ya sudah foto deh. 1 kali aja kok, 1 gaya, ga nambah :D

Selepas berfoto di ranjang Raja, pemandu membawa kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Katanya, area Gapura Agung ini adalah bagian paling depan Taman Sari. Lho, berarti waktu kami masuk tadi, yang ada Gapura Panggungnya itu, adalah bagian paling belakang Taman Sari? Iya. Walah.. Oh iya, Gapura Agung yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. 

Tepat di selatan Taman Sari terdapat Pesanggrahan yang konon katanya, jika hendak berperang maka Sultan akan bersemedi di tempat ini. Dari Gapura Agung, kami lanjut ke tempat lainnya. Sejenak mampir ke tempat penjualan lukisan batik. Tanpa membeli. Lalu lanjut, masuk ke sebuah Gapura yang bertuliskan Gedong Madaran. Di sekitar area tersebut, terdapat rumah yang menjadi tempat bermukim. Menurut bapak pemandu, yang menempati rumah-rumah itu sebagian adalah abdi dalem keraton. 

Perjalanan di lanjut, kami tiba di kamar pribadi Sultan. Dalam ruang yang atapnya cukup tinggi itu terdapat dua ranjang besar yang bertiang di empat sudutnya. Dari pintu masuk, sebelah kiri adalah ranjang Ratu Kidul, sebelah kanan adalah ranjang Raja dan Permaisuri. Sewaktu masuk, bau kemenyan begitu menyengat. Rupanya berasal dari dupa yang diletakkan di ranjang Ratu Kidul. Saya merasa tak nyaman. Memilih lekas berlalu, lalu meninggalkannya setelah menyempatkan untuk memotret. 
Ranjang Ratu Kidul

Dari ruang tidur, kami menuju dapur. Ruang dapur terbagi dua, dapur basah tempat mengolah masakan, dapur kering tempat meletakan masakan yang telah siap saji. Di sudut dapur basah, terdapat tempat tungku yang bentuknya mengerucut ke atas. Semacam cerobong asap kayaknya. Ga tau juga soalnya ga ngintip hihi. Susah juga mau ngintip, lha bawa sandal hak tinggi dan baju panjang lebar kayak gitu ya syusyah sekali geraknya :D



 Tungku Masak


Di depan ruang masak itu (dapur) terdapat sumur. Namanya Sumur Gumuling. Saya menunduk. Eh ada airnya. Entah berapa kedalamannya, tapi ga dalam-dalam amat soalnya duit-duit receh terlihat jelas didasarnya. Ada juga uang kertas, nampak mengapung. Kata bapak pemandu, kalau melemparkan uang kedalamnya, sertakan juga doa. Mudahan terkabul katanya. *katanya lho :D

Sumur Gumuling

Perjalanan hampir saja berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bangunan mesjid, pura dan klenteng. Letak tiga bangunan rumah ibadah itu berdekatan. Dan akhirnya, penutup perjalanan adalah Gedung kenongo yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap. Gedung ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari sehinga keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Di tempat ini juga katanya pengunjung bisa menikmati golden sunset yang mempesona. 

Usai…
Perjalanan berakhir. Bapak pemandu mengucapkan salam perpisahan. Kami mengucap kata terima kasih. Selembar uang saya selipkan di tangannya. Beliau tersenyum. Tak nampak getir atas keadaan yang di ceritakannya di penghujung perjalanan, tentang profesinya sebagai abdi dalem yang bergaji kurang dari 10.000 perbulan. Oh…


 
 

Dalam tuturan cerita dan legenda Raja, dalam kisah cinta yang menjadi rahasia. Taman Sari tak akan terlupakan.
          “Aduuuuuh……kok ga ada ya???”
          “Apanya?”
          “Itu….yang kata Desi itu….”
          “Lha……tadi kamu berbincang-bincang serius di ruang tidur raja tadi apaaaa?”
          “Oh itu membahas ranjangnya terbuat dari apa.”
           Gubraks!!





Yogyakarta 10 Juli 2012

 

TAMAN SARI

Alamat: Jl. Taman, Kraton, Yogyakarta 55133, Indonesia
Koordinat GPS: S7°48'36.4" E110°21'34.2
Jam Buka: Senin - Minggu, pukul 09.00 - 15.30 WIB
Tiket:
  • Wisatawan Domestik: Rp 3.000
  • Wisatawan Mancanegara: Rp 7.000
  • Guide: nego (Rp 10.000 - Rp 50.000)
Keterangan:
Jurnal ini merupakan catatan perjalanan saya di Yogya, terkait dengan dua jurnal sebelumnya yakni: Edisi Transportasi dan Edisi Penginapan. Terima kasih buat Desi, Mas Adam, dan Priyo, yang telah merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan wisata saya selama di Yogya. ^_^

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon