Melihat Beragam Wayang di Museum Wayang Jakarta

12.03

Kota tua memang unik, klasik dan asyik. Dua jam pertama berada disana, saya habiskan di Museum Sejarah Jakarta. Hanya dengan tiket masuk sebesar Rp 2.000,00, saya bisa puas berkeliling museum yang dulunya merupakan Gouverneurs Kantoor (tulisan dalam bahasa Belanda itu  masih tertera jelas dibagian depan bangunan). 

Di sini ga cuma sekedar mengetahui tentang sejarah Jakarta, budaya Jakarta, dan segala hal tentang Jakarta tempo doeloe, melainkan juga merasakan betapa ga enaknya sebuah penjara bawah tanah. Dan saya yang mengidap claustrophobia (ruang sempit yang pengap dan gelap), akhirnya bisa ngerasain juga tuh kayak apa bilik derita hehe *padahal cuma ngerasain kurang dari 3 menit tanpa dirantai dan diganduli batu :p

Museum Wayang Kota Tua Jakarta
Sabtu 30 Juni 2012

Mulanya saya masih pingin ngadem di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta, namun “pesona” penjara membuat saya ingin lekas berlalu. Seusai mengganjal perut dengan makanan khas Betawi berupa seporsi Kerak Telor dan secangkir Es Selendang Mayang , saya melenggang keluar ke arah sisi kanan bangunan. Terdapat souvenir shop disana, namun saya tak tertarik untuk masuk atau membeli sesuatu.
Saya menyeruak di antara kerumunan pedagang dan pembeli. Melewati ratusan sepeda ontel yang siap disewakan lengkap dengan topi lebar. Masih di sisi kanan Museum Sejarah Jakarta. Seorang abang-abang menawarkan sepedanya seharga Rp 25.000,00 untuk 30 menit. 
Sebetulnya tak ada niatan untuk berkunjung ke Museum Wayang. Saya berjalan ke arah museum tersebut, masuk dan membeli karcis, hanya karena mengikuti langkah kaki saja. Tak ada ruginya toh. Melihat sesuatu yang baru, tentu menjadi pengalaman tersendiri. Walau tentu saja, bukan berarti sebelumnya saya tidak pernah tahu, melihat, atau bahkan tak kenal apa itu wayang. Jadi, saya manfaatkan kesempatan ini untuk mempersilahkan informasi seputar wayang masuk ke ruang-ruang otak saya yang tak seberapa ini. 

Sejarah Museum Wayang
Dalam situs Museum wayang: www.museumwayang.com disebutkan bahwa gedung Museum Wayang yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 ini pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “de oude Hollandsche Kerk“ sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia. 
Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi “de nieuwe Hollandsche Kerk“ dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasastinya yang berjumlah 9 ( sembilan ) buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tersebut.  

Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan P. Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Banten, Dalam tahun 1621 Heeren XVII memerintahkan Coen untuk memakai nama Batavia untuk kota Pelabuhan Jayakarta. Kota Batavia yang dibangun oleh Coen diatas puing reruntuhan Jayakarta dengan membuat suatu kota tiruan sesuai dengan kota-kota di negeri Belanda. 

Museum Wayang ini dulunya adalah bekas gedung Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin menghadiri Pekan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, Pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang. 

Museum wayang didirikan oleh yayasan Nawangi dengan H. Budiardjo sebagai Ketua Umum. Ir. Haryono Haryo Guritno sebagai pimpinan proyek. Sesudah penataan koleksi wayang selesai maka pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan pembukaan Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang pewayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1)
Pada tanggal 7 November 2003, PBB memutuskan mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan. 

Koleksi di Museum Wayang 

Ketika mulai memasuki museum, saya merasakan dan melihat hal yang berbeda dibanding ketika masuk ke museum Sejarah Jakarta.  Museum ini terlihat lebih terawat. Mulai dari pintu masuk tempat beli karcis yang seharga Rp 2.000,00, hingga lorong-lorong dan ruang pamernya, terasa lebih ekslusif. Disini ruang-ruangnya lebih sejuk, walau tanpa pendingin udara (eh, ada ga ya? Rasanya ga ada deh). Lebih tenang. Pengunjung membeli karcis dengan teratur. Dibagian depan setelah meja pembelian karcis, ada petugas yang dengan baik hatinya membantu memberikan petunjuk dan arah ruang pamer. Design interior museum nampak lebih modern. Temaram namun cahaya hadir diam-diam dibalik lekuk dinding kotak kaca pajang.

Koleksi Wayang
Menurut situs museumwayang.com di museum ini terdapat 5400 koleksi wayang dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam dunia perwayangan dari berbagai wilayah Indonesia dan beberapa koleksi boneka yang dikendalikan dengan tangan dari mancanegara. 
Koleksi Wayang terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
  • Kelompok Wayang Golek : Mini Bandung, Cepak Cirebon, Elung Bandung, Pekalongan, Kebumen, Ciawi, Menak Kebumen, Menak Majakerta, Menak Cirebon, Lenong Betawi, Canton, Pakuan Bandung, Garut, Purwa Sunda.
  • Kelompok Wayang Kulit Purwa : Majakerto, Yogyakarta, Tasik, Cirebon, Sumatera, Banjarmasin, Sasak Lombok, Bali, Banyumas, Solo, Ngabean, Kyai Intan, Betawi.
  • Kelompok Wayang Kulit Lain-lain :  Wayang Kulit Kelantan, Wayang Kulit Suluh(Surakarta), Wayang Kulit Kancil(Surakarta), Wayang Kulit Sadat(Surakarta), Wayang Kulit Suriname, Wayang Kulit Ki-NyiBrayut, Wayang Kulit Wahyu, Wayang Kulit Ukur, Wayang Kulit Madya, Wayang Kulit Gedog, Wayang Kulit Kedu, Wayang Kulit Revolusi.
  • Kelompok Wayang Mainan : Wayang Kardus, Wayang Bambu, Wayang Suket, Wayang Pandan, Wayang Seng, Wayang Tembaga.
  • Kelompok Wayang Campuran :  Patung Semar(Bogor), Patung Hanuman, Patung Gatut Kaca( Wayang Golek Besar), Patung Bima(Wayang Golek Besar), Foto Arjuna dan Foto Kresna, Lukisan Diatas Kanvas, Foto Wayang, Lukisan Wayang Kaca, Wayang Beber, Wayang Kulit Berhala Besar, Wayang Kulit Berhala Kecil, Diorama Simpingan Wayang Kulit gaya solo, Diorama Ruwatan Gaya Solo.

Koleksi Topeng 

Di Indonesia topeng pada awalnya berfungsi sebagai alat untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang, dapat dilihat pada upacara-upacara adat suku Batak (Sumatra Utara), masyarakat sekitar Tolage-Alfur ( Sulawesi Tengah ), dan juga pada upacara Tiwah pada suku Dayak di Kalimantan. Di Cirebon - Jawa Barat pertunjukan seni topeng juga tumbuh dari upacara magis untuk menghormati nenek moyang di dalam upacara Ngunjung, yaitu upacara menghormati arwah leluhur dengan pertunjukan topeng untuk memohon berkah dari buyut-buyut atau leluhur di makam mereka yang dikeramatkan. Akan tetapi, dengan masuknya agama Islam dan Kristen di Indonesia dan makin kuat pengaruhnya dalam masyarakat, maka kepercayaan itu menjadi tipis atau bahkan hilang sama sekali sehingga upacara pemanggilan roh tidak lagi diselenggarakan dan pertunjukan topeng, sekali pun masih diadakan, sudah dalam bentuk yang lebih sekuler. 

Koleksi topeng: Topeng bali, Topeng cirebon,Topeng jogja,Topeng malang. 


Koleksi Boneka juga ada 

Ternyata museum wayang juga mengoleksi boneka lho. Ada boneka yang berasal dari dalam negeri seperti si Jampang (hohoho….ini mah sama dengan ID nya mas Rifki ya), juga koleksi boneka yang berasal dari luar negeri. Boneka-boneka itu kebanyakan dari Eropa, namun ada juga dari beberapa non-eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Oh iya, selain ada koleksi boneka dari luar negeri, juga ada wayang-wayang dari luar negeri seperti wayang dari Republik Rakyat Cina dan Kamboja. Di museum ini saya juga baru tahu bahwa wayang itu ada yang namanya wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, dan wayang beber. Duh, kesenian yang kaya!  

Perlengkapan 

Selain koleksi Wayang dan Koleksi Topeng, di museum ini juga terdapat seperangkat alat musik Jawa yang disebut gamelan, yang terdiri dari berbagai ricikan atau waditra (instrumen) yang menghasilkan lagu atau gending. 

Gamelan mempunyai sejarah panjang. Sejak masa Kerajaan Jawa kuno, orang Jawa sudah mengenal gamelan dan sepanjang sejarahnya masih tetap digemari masyarakat Jawa. Gamelan sebagai alat untuk menghasilkan lagu dan gending mempunyai nilai adi luhung dan sepanjang sejarahnya dipakai untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan adat dan kebudayaan Jawa, antara lain :
  • Digunakan untuk mengiringi pergelaran wayang kulit purwa, wayang gedhog, wayang thengul,wayang wahyu, wayang wong, kethoprak, dan sebagainya.
  • Untuk mengiringi tarian, misalnya langen-ndriyan, badhaya, srimpi, wireng, dan sebagainya.
  • Untuk pahargyan, misalnya manton, khitanan, syukuran, dan sebagainya.
  • Untuk pakurmatan, misalnya sekaten, garebeg, dan sebagainya.
  • Untuk mengiringi upacara keagamaan dan keprajan.

@ Jumpa si Jampang dan Boneka serem 

Hup…legaa…akhirnya kelar menjelajahi ruang-ruang pamer di Musium Wayang. Total saya keliling di dalam musium wayang adalah 21 menit *penting ya? :p Di mulai dari lantai dasar yang jadi tempat foto fiti dengan wayang segede saya (gedean wayangnya kaliiii), sampe ruang pamer di lantai dua yang isinya kebanyakan adalah boneka. Nah dilantai 2 itulah saya berjumpa si Jampang, pendekar Betawi yang berkumis tebal (mirip pak gubernur sekarang hihi). Eits…ga cuma jumpa si Jampang, tapi juga banyaaaaaaaaak boneka lainnya. Termasuk sepasang boneka serem (kata saya sih serem) yang pake baju putih-putih. Namanya si Gale-Gale Doll. Letaknya yang mojok itu lho, hiii bikin saya ingin kabur.

@ Ternyata tetap ada kurangnya... 

Oh iya, di lantai dasar itu kan ada taman terbuka. Tamannya kecil. Hanya ditumbuhi beberapa pohon hias tanpa bunga. Latar belakang taman yang berupa tembok menempel 9 prasasti yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman museum (yang dulunya gereja). Namun entah kenapa, beberapa huruf dari nama yang ada, hilang. Copot. Salah satunya nama Jan Pieterszoon Coen yang hurufnya lebih besar dari nama-nama lainnya, kehilangan huruf O. Dan itu (sepertinya)  dibiarkan begitu saja. 

Di lantai dua, di Ruang Masterpiece yang ada TV-nya itu, hawanya bikin gerah. Kurang pencahayaan pula (sengaja apa sengaja ya?). Dan…..kok kayak sumpek ya. Padahal design plafondnya yang kreatif itu udah keren. Saat itu ada banyak anak-anak di ruangan ini. Mereka asyik menonton film 3D sambil berdiri. Tapi kok saya pengen cepat-cepat keluar. Ga betah. Btw, R. 3Dimensi ada dilantai dasar, dekat pintu masuk. 

Apa lagi ya? Ya sudah itu aja. Catatan saya sih, nih museum cukup informatif meskipun yang saya sampaikan disini hanya informasi seadanya. Moga-moga berguna bagi tema-teman yang ingin berwisata ke Kota Tua. Silahkan mampir ke Museum Wayang. Saya yang awam ini, cukup senang bisa menambah pengetahuan tentang kesenian Wayang negeri kita. Walau sedikit dan memiliki cara pandang yang berbeda dari mereka yang ahli seni, tapi setidaknya membuat saya menambah koleksi akan kecintaan pada kesenian Indonesia.

Berminat tuk datang? Ini informasi tambahannya:

Jadwal Pergelaran Wayang rutin setiap bulannya:
  • Pergelaran Wayang Golek setiap Minggu II
  • Pergelaran Wayang Kulit Betawi Minggu III
  • Pergelaran Wayang Kulit Purwa Minggu Terakhir
  • Peragaan Pembuatan Wayang Golek dan Wayang Kulit
  • Peragaan Karawitan untuk masyarakat umum dan pelajar
Cinderamata, antara lain disediakan: wayang golek, wayang kulit, wayang kaca, buku-buku pewayangan dan sebagainya. 
 
Harga tiket masuk :
  • Dewasa  :  Rp. 2.000,-
  • Mahasiswa  :  Rp. 1.000,-
  • Anak - Anak  :  Rp. 600,-
Alamat Museum Wayang:
Jln. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat 11110


Share this

Indonesian Travel Blogger Email: katerinasebelas@gmail.com

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon