Berpetualang ke Galaksi Bima Sakti di Planetarium Jakarta

12.00
Planetarium Jakarta, 01Juli 2012


Datanglah lebih awal
Planetarium Jakarta di musim liburan seperti ini sedang ramai-ramainya. Bila tak ingin kecewa dengan tidak kebagian tiket pertunjukan teater bintang, maka pastikan mengetahui jadwal pertunjukan terlebih dahulu. Informasi bisa didapat melalui internet atau bertanya langsung ke petugasnya di nomor telp: 021-2305146 (saya nyoba telp tapi ga diangkat-angkat tuh :D). Jangan sampai seperti saya yang berharap tiket untuk pertunjukan terakhir di jam 4 sore, ternyata tak kebagian satupun. Saya tiba pukul 14.00 dan berharap masih punya waktu 30 menit untuk antri tiket. Sayangnya, antrian yang mengular membuat harapan saya pupus. Dari layar antrian, tiket hanya tersisa 169 saja. Masih banyak?? Iya! Tapi itu sudah dipastikan habis oleh jumlah antrian yang masih berlapis-lapis. Petugas di pintu antrian tiket mencegat saya dengan info yang bikin saya hampir mau nangis, “ Maaf mbak, sudah ga bisa antri lagi. Udah full.” Toweeeeng…. Mau ga mau saya harus balik belakang. Pulang.  
Antrian loket untuk pertunjukan akhir yang bikin saya gagal nonton
Besoknya, saya bertekat membawa rombongan untuk berangkat lebih pagi. Ga tanggung-tanggung, jam 6 pagi udah pada siap. Haha. Rupanya pasukan yang terdiri dari krucil krucil manis yang hebohnya minta ampun itu amat sangat bersemangat. Saya, sang guru jadi-jadian (guru renang reeeeeeeek wkwk), kalah cepat dan kalah semangat dengan mereka. Tapi melihat mereka, rasa lemas dan kecewa setelah sore kemaren gagal nonton, hari ini sirna sudah dibabat oleh senyum ceria anak-anak yang masih antusias untuk menonton simulasi perbintangan di salah satu wahana simulasi langit yang ada di Indonesia. Oh iya, wahana ini selain di Jakarta juga ada di Kutai dan Surabaya lho. Udah pada tahu belum? Kalo saya sih baru tahu hihi

Datang pagi dihari kedua, masih sepi :D
Jadwal Pertunjukan dan Tiket
Nah, di hari kedua kami tiba di Planetarium pukul 09.00. Wuaduuuuuh…bus pariwisata berisi rombongan anak SMP baru tiba. Dan dari pintunya menyeruak puluhan anak-anak yang siap membanjiri antrian tiket. Huaaaa….ga pake lama, saya selaku pemimpin rombongan terbirit-birit bak dikejar guk guk menuju tempat pembelian tiket. Dan ternyata…hiyaaaaaaaaa….kali ini rupanya saya kepagian yaaaaa.. masih sepi. Eh sepi apa bukan ya? Kan mestinya 8.30 sudah dimulai pertunjukan awal. Hihi…saya rasa belum ada tuh yang nonton jam segitu kikikiki. Yang saya lihat saat itu di jam 09.00 belum ada satupun orang di tempat antrian. Bener-bener kosong (sila lihat foto yang saya lampirkan). Tiga petugas berseragam hitam di depan jalur antrian pembelian tiket, seperti sengaja mengingat saya,”Yang kemaren ga kebagian itu ya mbak?” Saya nyengir. Dalam hati berkata: “tau aja pak”. Kekekekek
Jadwal pertunjukan selama musim liburan (Juni-Juli 2012):
  • Selasa s/d Jumat: Pukul 15.00 dan 16.300
  • Sabtu & Minggu: Pukul 08.30, 10.00, 11.30, 13.00, 14.30, 16.00
Ini dia harga tiketnya:
  • Dewasa: Rp 7000/orang
  • Anak-anak: Rp 3500/orang
Wiiiiiiiiiiiiis aman! Tiket udah dibeli. Makanan dan minuman sudah dibeli. Di pojok kanan sebelah tangga menuju ruang teater ada koperasi Planetarium dan Obsevatorium. Disana bisa jajan kalo ga bawa jajanan dari luar. Lalu, salah satu krucil bertanya: “Dimana kita beli popcornnya?” Hayaaaaaaaaah…ini bukan twenty one! Haha. 
Pertunjukan akan di mulai pukul 10.00 Lumayan lama nunggu 1 jam. Beberapa orang Bapak-Bapak menawarkan buku-buku ilmu pengetahuan. Tak hanya buku tentang Tata Surya tapi juga tentang Hewan, Manusia, juga tumbuhan. Untuk membuat para krucil senang, tiap anak saya persilahkan membeli 1 buku. Berhubung saya yang mempersilahkan, saya yang bayar huhuhu. Tapi ikhlas kok. *Ikhlas kok bilang-bilang :p
Biarpun pertunjukkannya buat anak-anak, tapi penonton dewasa & tuir rame lho :D

Rebutan bangku
Oh iya, tadinya sambil nunggu, para krucil mau saya bawa liat-liat ke ruang sarana prasarana observasi benda-benda langit, tapi ternyata hari itu ditutup. Bukan jadwalnya katanya. Ya sudah, fokus ke teater bintang saja kalo gitu. 10 menit sebelum pukul 10, para penonton berlarian ke ujung tangga menuju lantai 2. Saya tadinya bingung ada apa, rupanya ngantri buat masuk. Hayaaah…. Norak banget deh saya. Apa orang-orang itu ya yang norak? *garuk-garuk kepala.
Ngantri panjang lagi deh. Udah gitu lama banget bukanya. Kaki imut saya pegel jadinya. Beneran. Udah lewat dikit dari pukul 10 belum disuruh masuk juga. Duh. Tiba saatnya dibuka, hanya 2 jalur yang bisa dilewati. Itupun orang-orang pada berlarian di tangga. Trus masuknya berebutan. Ya ampun! Coba ya dibuat nomor bangku di tiketnya itu, kayak nonton di bioskop itu lho. Maksudnya biar ga perlu rebutan gini. Ckckck. Ya sudahlah, pengalaman seru juga nih. Rebutan kursi. Dan saya mesti berjibaku buat nyariin satu barisan panjang, maklum, pasukan saya banyak hehe.
Terlihat ruangan teater serupa ruang bioskop, berkapasitas 320 orang *kata petugasnya gitu.  Dengan kubah besar dan tinggi, ruang teater nampak besar dan lega. Permukaan kubah dilapis dengan kain putih sebagai sarana untuk menampilkan layar 3 dimensi. Di tengah ruang teater terdapat sebuah benda berbentuk bulat berwarna biru, benda ini merupakan operator otomatis selama pertunjukan berlangsung. Walau ruang teater ga semewah dan senyaman di 21 atau blitz megaplex, tapi tempat duduknya masih bagus dan lumayan. Ruangannya juga bersih. Terawatlah pokoknya. Hanya ada beda dikit dengan bangku bioskop yaitu ketinggian tempat duduknya tidak mencolok. Jadi letak bangku depan dan bangku dibelakang posisinya ga begitu kelihatan beda. Boleh dikata hampir sama saja. Sound dalam teater rada bikin pening dan berisik *kata anak-anak haha. Suaranya ga sebagus kayak di bioskop 21 katanya. Beberapa anak-anak protes pada saya, minta petugasnya matiin. Haha.. mana bisa??


Ditempat pemeriksaan tiket, siap-siap lari naik tangga tuk rebutan bangku haha

Pertunjukan Spectaculer
Saat pertunjukan dimulai, lampu dipadamkan. Hening. Beberapa aturan disampaikan. Ya samalah kayak di bioskop. Pertama muncul suasana malam dengan bulan dan bintang yang bertaburan. Tepuk tangan membahana. Sorot lampu kamera mulai muncul. Sang narator film langsung memperingatkan bahwa tak satupun boleh ada blitz kamera atau lampu senter atau apapun di arahkan ke atas (layar 3D). Tegas tuh ngomongnya. Hihi. Marah kali ya (soalnya baru mulai udah ada yang mulai nakal). Tapi bener kok, mesti tegas biar ga bikin rusak pertunjukan.
Ya..ya…60 menit untuk sebuah pertunjukan yang spektakuler dengan paduan gambar, sound dan narasi yang informatif dan mengesankan. Yup, ini bukan sekedar sebuah pertunjukan yang menghibur tapi juga edukatif karena berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar dan mengajar khususnya astronomi. Saya yang udah tuir aja terkesima. Apalagi anak-anak ya. Tepuk tangan pasti membahana tiap kali pertunjukan berpindah ke pertunjukan berikutnya. Mulai dari pertunjukan sistem perbintangan, rasi bintang, juga penampilan planet-planet di tata surya. Sedikit yang agak mengganggu, narator nampak terlalu cepat dalam bernarasi. Hampir seperti ga ada titik koma. Hanya dibagian akhir saja mulai melambat dan penuh intonasi. Membuat visualisasi terlihat kompak dengan informasi yang disampaikan. 
1 jam rasanya cepat berlalu. Ketika saya bertanya pada para krucil, apa yang paling menarik dan mengesankan dari pertunjukan tadi, katanya semua mengesankan, terutama saat “naik pesawat ruang angkasa”, itu beneran seperti sedang mengangkasa. Bunyi pesawatnya, lajunya yang ngebut, dan juga kursinya kayak miring katanya. Hehe..namanya juga 3D…ya kayak berpetualang beneran ke Galaksi Bimasakti.
 Sebelum dilarang motret, saya potret aja nih operator otomatis di tengah ruang teater

Sekilas Tentang Planetarium 
*sebagian besar saya kutip dari berbagai sumber ya….
Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan satu dari tiga wahana simulasi langit di Indonesia selain di Kutai, dan Surabaya. Berlokasi di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73. Telp : (021) 230 5146 Fax: (021) 230 5147 Homepage: http://planetarium.jakarta.go.id/ Planetarium Jakarta merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menyajikan pertunjukan / peragaan simulasi perbintangan atau benda-benda langit. Pengunjung diajak mengembara di jagat raya untuk memahami konsepsi tentang alam semesta melalui acara demi acara.
Planetarium Jakarta berdiri tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969. Di tempat ini juga tersedia ruang pameran benda- benda angkasa yang menyuguhkan berbagai foto serta keterangan lengkap dari berbagai bentuk galaksi, teori-teori pembentukan galaksi disertai pengenalan tokoh-tokoh di balik munculnya teori.
Nah, mumpung masih suasana liburan, ayo ajak anak (anak sendiri, anak tetangga, anak panti asuhan, anak yatim, anak apa aja pokoknya), ponakan, sepupu, siswa-siswi (bagi guru), keluarga dan siapaaaaaa aja yang mau, ayo ke Planetarium, sebab di Planetarium ga cuma berekreasi tetapi juga dapat menambah wawasan tentang Ilmu Bumi dan Antariksa melalui pertunjukan-pertunjukannya. Ga jauh-jauh kok tempatnya. Saya aja si ratu  nyasar bisa nyampe sana. 2 kali malah. Satu gagal, satunya lagi sukses :))

narsis sebelum pertunjukan dimulai :D

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon