[Yogyakarta] Taman Sari, tempat pemandian pribadi keluarga Raja

12.13 Add Comment

“Untuk pasutri atau newly-wed disarankan ke Taman Sari berdua aja dan memilih guide bapak-bapak yang sudah paruh baya atau tua dan berdoa semoga ia orang yang tepat. Karena selain menjelaskan ttg tempat, guide itu akan menjelaskan rahasia-rahasia hebat di ranjang. Huehehe. Karena Taman Sari adalah tempat Sultan melakukan 'the Kamasutra things' bersama para selirnya. Maaf, aku lumayan sering bolang jadi tahu ttg hal ini. Semoga tidak 'meresahkan', huehehe.”

Wow! Baru dengar nih. Kalo Desi ga cerita, mana pernah saya tahu hal-hal seperti itu. Kalo gitu saya mau kesana! “Kamu pingin kesana karena denger kata “the kamasutra things’ itu ya?” ada yang bertanya curiga. “Oh enggak kok, cuma penasaran saja dengan keindahan arsitekturnya yang pernah saya lihat di foto-foto,” jawab saya setengah ngeles setengah enggak. “Kalo saya sih mau lihat soalnya pengen tahu rahasia-rahasia itu.” Gedubraks. Orang itu..ckckck…

Makan siangnya pending dulu…
Siang itu, dalam perjalanan dari Dagen menuju Soragan Bantul, saya membaca ulang PM Desi di MP lewat hape jadoel milik saya. Rencana saya sudah bulat, pokoknya sehabis makan siang bareng Tari dan Fatih, saya mau ke Taman Sari. Jam 12 kurang 15 kami tiba di RM Makan Mang Engking yang di Soragan. Bangunan RM itu unik, nampak menonjol karena sangat berbeda dengan bangunan-bangunan yang ada disekitarnya. Bentuknya menyerupai kastil. Di dinding bagian depannya tertulis: “Soragan Castle”. Aha. Ini nih rumah makan yang pernah saya lihat di MP nya mbak Myshant itu.
Ke Mesjid dulu baru ke Taman Sari 
Kami sudah bersiap masuk, namun SMS dari Fatih yang mengabari bahwa mereka baru bisa datang pukul 13.30 membuat kami menahan langkah. Tarie rupanya baru kelar mengajar pukul 13.00. Akhirnya driver yang mengantar kami menyarankan untuk jalan-jalan. Katanya mending ke Taman Sari saja dulu. Wah iya bener juga. Akhirnya kami meluncur ke Taman Sari. Di sana, sebelum masuk, kami menunaikan salat Dzuhur dulu di Mesjid Saka Tunggal yang berada tak jauh dari Taman Sari. Waktu itu mesjidnya rame, banyak anak muda dengan kaos berwarna dan bergambar seragam. Rombongan pengunjung dari mana, entah.
Di villanya Sang Raja…..
Salat sudah, ganti baju sudah, makan saja yang belum. Biarpun belum makan tapi saya ga merasa bakal mati gaya sebab udah nemu tempat begaya yang cantik yaitu Taman Sari *virus narsis mulai on. Kami masuk Taman Sari dan membayar tiket seharga Rp 3000/orang. Di pintu masuk (Gapura Panggung), beberapa bapak-bapak berbaju batik seakan tengah menanti. Sang pemandu. Aha….dalam hati berdoa, moga nemu bapak-bapak tua seperti yang diceritakan Desi hahaha

Benar saja, seorang bapak menghampiri. Dengan ramah dia menyapa kami. Mengikuti. Lalu berbagi cerita. Ya, beliaulah pemandu kami hari itu. Kami tak menolak, pun dalam hati saya pribadi berharap dapat mendengar banyak kisah dari mulutnya. Walau sebetulnya, saat itu saya sedang jadi tukang jepret. A3 berperan sebagai tukang tanya. Eh ga ding, ga perlu ditanya-tanya pun cerita legenda akan mengalir dari mulut si bapak.

Perjalanan keliling area Taman Sari dimulai dari dua bangunan di samping kiri dan kanan  Gapura Panggung. Menurut cerita pemandu, dua bangunan itu adalah tempat para penabuh alat musik memainkan musiknya untuk mengiringi tari-tarian yang di tarikan untuk sang Raja. Biasanya Raja menyaksikannya dari atas Gapura Panggung (saya ga sempet naik nih..hiks). Bapak pemandu sibuk cerita, saya sibuk moto miti turis bule yang berada di Gapura Panggung *cuci mata….hahaha di keplak. 

Selanjutnya, kami menuju area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk keluarga raja, yaitu kolam pemandian.Gemericik air menyambut kami. Airnya jernih. Tembok-tembok tinggi berwarna krem, mengitari tempat pemandian dengan gagah. Di puncaknya, terdapat patung wajah yang sedang menjulurkan lidah. Dan itu bermakna “sesuatu”. Eh itu patung yang lagi melet ga cuma satu lho. Ada beberapa. Kolam pemandian di area ini terbagi 3, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja). Saat itu, kolam untuk putra putri Raja sedang dikeringkan karena sedang dalam pekerjaan perbaikan. 

Umbul Kawitan (kolam mandi Raja dan Ratu)


Legenda cinta…..
Berikutnya, kami memasuki menara tempat pribadi Sultan. Di sinilah letak Umbul Kawitan (kolam untuk Raja dan Ratu). Cukup tersembunyi. Bapak pemandu mempersilahkan saya masuk kolam. Bukan tuk nyebur sih, tapi menyuruh saya untuk merasakan air kolamnya dengan cara merendamkan kaki. Cukup dengan berdiri di bagian tangga yang terendam air kolam. Trus katanya, “ntar dapat keberuntungan” hoho.. Saya tak meyakini itu, hanya tersenyum menolak, Bapak pemandu minta maaf. Sekejab membayangkan tempat yang amat privacy ini dimasanya, tentang Raja dan Ratu yang mandi berdua. Wiiiih…… *toyor pake kelapa muda. 

Umbul Pamuncar (kolam para selir)
Di ruang semacam ruang ganti, terdapat laci-laci (terbuka) dan sebuah periuk tempat istri-istri Raja bercermin. Periuk yang masih utuh berdiri itu memperlihatkan kesan glamor dari ornamen yang menghiasinya. Dalam tuturannya, Bapak pemandu membuat saya membayangkan masa sekitar 200 tahun silam, ketika seorang wanita cantik tengah menunggu air di periuk menjadi tenang lalu menundukkan kepalanya sembari bercermin, merapikan dandanannya, wajahnya, rambutnya, guna memperindah penampilannya. 

Bapak pemandu mengajak kami untuk naik ke puncak menara. Oh iya, menara ini terdiri dari tiga tingkat. Namun sayang saya menolak karena gaun panjang yang saya kenakan terasa seperti menyulitkan. Saya hanya memperhatikan tangga naik itu. Sebuah tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat. Terkesan antik dalam pandangan saya saat itu. Kata Bapak pemandu, dari tingkat paling atas itu area Taman Sari akan terlihat dengan jelas. Nah, dari tempat ini pula sang Raja melempar melati ke selir-selirnya yang sedang mandi. Yang mendapatkan melati itu, yang akan menemaninya mandi di kolam pribadi Raja. *moga saya tak salah ingat tentang ini.  

Ruang ganti: Locker & Periuk untuk bercermin

Dari kasur, dapur, hingga sumur……
Di menara tiga tingkat itu bukan hanya terdapat ruang ganti, tangga jati klasik dan unik, periuk berornamen glamor, tetapi juga pembaringan raja dan permaisuri. Pembaringan itu berupa ranjang tanpa kasur, terbuat dari semen yang dialasi papan (mungkin jati). Sebuah piring sajen tergeletak di tengah ranjang. Sepasang pria dan wanita yang sedang duduk di ranjang beranjak. Memberikan tempat pada kami yang mendadak ingin berfoto. Eh tadinya takut-takut sih mau foto, tapi bapak pemandu bilang gapapa, foto aja katanya. Ya sudah foto deh. 1 kali aja kok, 1 gaya, ga nambah :D

Selepas berfoto di ranjang Raja, pemandu membawa kami menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Katanya, area Gapura Agung ini adalah bagian paling depan Taman Sari. Lho, berarti waktu kami masuk tadi, yang ada Gapura Panggungnya itu, adalah bagian paling belakang Taman Sari? Iya. Walah.. Oh iya, Gapura Agung yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. 

Tepat di selatan Taman Sari terdapat Pesanggrahan yang konon katanya, jika hendak berperang maka Sultan akan bersemedi di tempat ini. Dari Gapura Agung, kami lanjut ke tempat lainnya. Sejenak mampir ke tempat penjualan lukisan batik. Tanpa membeli. Lalu lanjut, masuk ke sebuah Gapura yang bertuliskan Gedong Madaran. Di sekitar area tersebut, terdapat rumah yang menjadi tempat bermukim. Menurut bapak pemandu, yang menempati rumah-rumah itu sebagian adalah abdi dalem keraton. 

Perjalanan di lanjut, kami tiba di kamar pribadi Sultan. Dalam ruang yang atapnya cukup tinggi itu terdapat dua ranjang besar yang bertiang di empat sudutnya. Dari pintu masuk, sebelah kiri adalah ranjang Ratu Kidul, sebelah kanan adalah ranjang Raja dan Permaisuri. Sewaktu masuk, bau kemenyan begitu menyengat. Rupanya berasal dari dupa yang diletakkan di ranjang Ratu Kidul. Saya merasa tak nyaman. Memilih lekas berlalu, lalu meninggalkannya setelah menyempatkan untuk memotret. 
Ranjang Ratu Kidul

Dari ruang tidur, kami menuju dapur. Ruang dapur terbagi dua, dapur basah tempat mengolah masakan, dapur kering tempat meletakan masakan yang telah siap saji. Di sudut dapur basah, terdapat tempat tungku yang bentuknya mengerucut ke atas. Semacam cerobong asap kayaknya. Ga tau juga soalnya ga ngintip hihi. Susah juga mau ngintip, lha bawa sandal hak tinggi dan baju panjang lebar kayak gitu ya syusyah sekali geraknya :D



 Tungku Masak


Di depan ruang masak itu (dapur) terdapat sumur. Namanya Sumur Gumuling. Saya menunduk. Eh ada airnya. Entah berapa kedalamannya, tapi ga dalam-dalam amat soalnya duit-duit receh terlihat jelas didasarnya. Ada juga uang kertas, nampak mengapung. Kata bapak pemandu, kalau melemparkan uang kedalamnya, sertakan juga doa. Mudahan terkabul katanya. *katanya lho :D

Sumur Gumuling

Perjalanan hampir saja berakhir. Kami tiba di tempat yang terdapat bangunan mesjid, pura dan klenteng. Letak tiga bangunan rumah ibadah itu berdekatan. Dan akhirnya, penutup perjalanan adalah Gedung kenongo yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap. Gedung ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari sehinga keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Di tempat ini juga katanya pengunjung bisa menikmati golden sunset yang mempesona. 

Usai…
Perjalanan berakhir. Bapak pemandu mengucapkan salam perpisahan. Kami mengucap kata terima kasih. Selembar uang saya selipkan di tangannya. Beliau tersenyum. Tak nampak getir atas keadaan yang di ceritakannya di penghujung perjalanan, tentang profesinya sebagai abdi dalem yang bergaji kurang dari 10.000 perbulan. Oh…


 
 

Dalam tuturan cerita dan legenda Raja, dalam kisah cinta yang menjadi rahasia. Taman Sari tak akan terlupakan.
          “Aduuuuuh……kok ga ada ya???”
          “Apanya?”
          “Itu….yang kata Desi itu….”
          “Lha……tadi kamu berbincang-bincang serius di ruang tidur raja tadi apaaaa?”
          “Oh itu membahas ranjangnya terbuat dari apa.”
           Gubraks!!





Yogyakarta 10 Juli 2012

 

TAMAN SARI

Alamat: Jl. Taman, Kraton, Yogyakarta 55133, Indonesia
Koordinat GPS: S7°48'36.4" E110°21'34.2
Jam Buka: Senin - Minggu, pukul 09.00 - 15.30 WIB
Tiket:
  • Wisatawan Domestik: Rp 3.000
  • Wisatawan Mancanegara: Rp 7.000
  • Guide: nego (Rp 10.000 - Rp 50.000)
Keterangan:
Jurnal ini merupakan catatan perjalanan saya di Yogya, terkait dengan dua jurnal sebelumnya yakni: Edisi Transportasi dan Edisi Penginapan. Terima kasih buat Desi, Mas Adam, dan Priyo, yang telah merekomendasikan tempat ini sebagai tujuan wisata saya selama di Yogya. ^_^
Berpetualang ke Galaksi Bima Sakti di Planetarium Jakarta

Berpetualang ke Galaksi Bima Sakti di Planetarium Jakarta

12.00 Add Comment
Planetarium Jakarta, 01Juli 2012


Datanglah lebih awal
Planetarium Jakarta di musim liburan seperti ini sedang ramai-ramainya. Bila tak ingin kecewa dengan tidak kebagian tiket pertunjukan teater bintang, maka pastikan mengetahui jadwal pertunjukan terlebih dahulu. Informasi bisa didapat melalui internet atau bertanya langsung ke petugasnya di nomor telp: 021-2305146 (saya nyoba telp tapi ga diangkat-angkat tuh :D). Jangan sampai seperti saya yang berharap tiket untuk pertunjukan terakhir di jam 4 sore, ternyata tak kebagian satupun. Saya tiba pukul 14.00 dan berharap masih punya waktu 30 menit untuk antri tiket. Sayangnya, antrian yang mengular membuat harapan saya pupus. Dari layar antrian, tiket hanya tersisa 169 saja. Masih banyak?? Iya! Tapi itu sudah dipastikan habis oleh jumlah antrian yang masih berlapis-lapis. Petugas di pintu antrian tiket mencegat saya dengan info yang bikin saya hampir mau nangis, “ Maaf mbak, sudah ga bisa antri lagi. Udah full.” Toweeeeng…. Mau ga mau saya harus balik belakang. Pulang.  
Antrian loket untuk pertunjukan akhir yang bikin saya gagal nonton
Besoknya, saya bertekat membawa rombongan untuk berangkat lebih pagi. Ga tanggung-tanggung, jam 6 pagi udah pada siap. Haha. Rupanya pasukan yang terdiri dari krucil krucil manis yang hebohnya minta ampun itu amat sangat bersemangat. Saya, sang guru jadi-jadian (guru renang reeeeeeeek wkwk), kalah cepat dan kalah semangat dengan mereka. Tapi melihat mereka, rasa lemas dan kecewa setelah sore kemaren gagal nonton, hari ini sirna sudah dibabat oleh senyum ceria anak-anak yang masih antusias untuk menonton simulasi perbintangan di salah satu wahana simulasi langit yang ada di Indonesia. Oh iya, wahana ini selain di Jakarta juga ada di Kutai dan Surabaya lho. Udah pada tahu belum? Kalo saya sih baru tahu hihi

Datang pagi dihari kedua, masih sepi :D
Jadwal Pertunjukan dan Tiket
Nah, di hari kedua kami tiba di Planetarium pukul 09.00. Wuaduuuuuh…bus pariwisata berisi rombongan anak SMP baru tiba. Dan dari pintunya menyeruak puluhan anak-anak yang siap membanjiri antrian tiket. Huaaaa….ga pake lama, saya selaku pemimpin rombongan terbirit-birit bak dikejar guk guk menuju tempat pembelian tiket. Dan ternyata…hiyaaaaaaaaa….kali ini rupanya saya kepagian yaaaaa.. masih sepi. Eh sepi apa bukan ya? Kan mestinya 8.30 sudah dimulai pertunjukan awal. Hihi…saya rasa belum ada tuh yang nonton jam segitu kikikiki. Yang saya lihat saat itu di jam 09.00 belum ada satupun orang di tempat antrian. Bener-bener kosong (sila lihat foto yang saya lampirkan). Tiga petugas berseragam hitam di depan jalur antrian pembelian tiket, seperti sengaja mengingat saya,”Yang kemaren ga kebagian itu ya mbak?” Saya nyengir. Dalam hati berkata: “tau aja pak”. Kekekekek
Jadwal pertunjukan selama musim liburan (Juni-Juli 2012):
  • Selasa s/d Jumat: Pukul 15.00 dan 16.300
  • Sabtu & Minggu: Pukul 08.30, 10.00, 11.30, 13.00, 14.30, 16.00
Ini dia harga tiketnya:
  • Dewasa: Rp 7000/orang
  • Anak-anak: Rp 3500/orang
Wiiiiiiiiiiiiis aman! Tiket udah dibeli. Makanan dan minuman sudah dibeli. Di pojok kanan sebelah tangga menuju ruang teater ada koperasi Planetarium dan Obsevatorium. Disana bisa jajan kalo ga bawa jajanan dari luar. Lalu, salah satu krucil bertanya: “Dimana kita beli popcornnya?” Hayaaaaaaaaah…ini bukan twenty one! Haha. 
Pertunjukan akan di mulai pukul 10.00 Lumayan lama nunggu 1 jam. Beberapa orang Bapak-Bapak menawarkan buku-buku ilmu pengetahuan. Tak hanya buku tentang Tata Surya tapi juga tentang Hewan, Manusia, juga tumbuhan. Untuk membuat para krucil senang, tiap anak saya persilahkan membeli 1 buku. Berhubung saya yang mempersilahkan, saya yang bayar huhuhu. Tapi ikhlas kok. *Ikhlas kok bilang-bilang :p
Biarpun pertunjukkannya buat anak-anak, tapi penonton dewasa & tuir rame lho :D

Rebutan bangku
Oh iya, tadinya sambil nunggu, para krucil mau saya bawa liat-liat ke ruang sarana prasarana observasi benda-benda langit, tapi ternyata hari itu ditutup. Bukan jadwalnya katanya. Ya sudah, fokus ke teater bintang saja kalo gitu. 10 menit sebelum pukul 10, para penonton berlarian ke ujung tangga menuju lantai 2. Saya tadinya bingung ada apa, rupanya ngantri buat masuk. Hayaaah…. Norak banget deh saya. Apa orang-orang itu ya yang norak? *garuk-garuk kepala.
Ngantri panjang lagi deh. Udah gitu lama banget bukanya. Kaki imut saya pegel jadinya. Beneran. Udah lewat dikit dari pukul 10 belum disuruh masuk juga. Duh. Tiba saatnya dibuka, hanya 2 jalur yang bisa dilewati. Itupun orang-orang pada berlarian di tangga. Trus masuknya berebutan. Ya ampun! Coba ya dibuat nomor bangku di tiketnya itu, kayak nonton di bioskop itu lho. Maksudnya biar ga perlu rebutan gini. Ckckck. Ya sudahlah, pengalaman seru juga nih. Rebutan kursi. Dan saya mesti berjibaku buat nyariin satu barisan panjang, maklum, pasukan saya banyak hehe.
Terlihat ruangan teater serupa ruang bioskop, berkapasitas 320 orang *kata petugasnya gitu.  Dengan kubah besar dan tinggi, ruang teater nampak besar dan lega. Permukaan kubah dilapis dengan kain putih sebagai sarana untuk menampilkan layar 3 dimensi. Di tengah ruang teater terdapat sebuah benda berbentuk bulat berwarna biru, benda ini merupakan operator otomatis selama pertunjukan berlangsung. Walau ruang teater ga semewah dan senyaman di 21 atau blitz megaplex, tapi tempat duduknya masih bagus dan lumayan. Ruangannya juga bersih. Terawatlah pokoknya. Hanya ada beda dikit dengan bangku bioskop yaitu ketinggian tempat duduknya tidak mencolok. Jadi letak bangku depan dan bangku dibelakang posisinya ga begitu kelihatan beda. Boleh dikata hampir sama saja. Sound dalam teater rada bikin pening dan berisik *kata anak-anak haha. Suaranya ga sebagus kayak di bioskop 21 katanya. Beberapa anak-anak protes pada saya, minta petugasnya matiin. Haha.. mana bisa??


Ditempat pemeriksaan tiket, siap-siap lari naik tangga tuk rebutan bangku haha

Pertunjukan Spectaculer
Saat pertunjukan dimulai, lampu dipadamkan. Hening. Beberapa aturan disampaikan. Ya samalah kayak di bioskop. Pertama muncul suasana malam dengan bulan dan bintang yang bertaburan. Tepuk tangan membahana. Sorot lampu kamera mulai muncul. Sang narator film langsung memperingatkan bahwa tak satupun boleh ada blitz kamera atau lampu senter atau apapun di arahkan ke atas (layar 3D). Tegas tuh ngomongnya. Hihi. Marah kali ya (soalnya baru mulai udah ada yang mulai nakal). Tapi bener kok, mesti tegas biar ga bikin rusak pertunjukan.
Ya..ya…60 menit untuk sebuah pertunjukan yang spektakuler dengan paduan gambar, sound dan narasi yang informatif dan mengesankan. Yup, ini bukan sekedar sebuah pertunjukan yang menghibur tapi juga edukatif karena berfungsi sebagai tempat kegiatan belajar dan mengajar khususnya astronomi. Saya yang udah tuir aja terkesima. Apalagi anak-anak ya. Tepuk tangan pasti membahana tiap kali pertunjukan berpindah ke pertunjukan berikutnya. Mulai dari pertunjukan sistem perbintangan, rasi bintang, juga penampilan planet-planet di tata surya. Sedikit yang agak mengganggu, narator nampak terlalu cepat dalam bernarasi. Hampir seperti ga ada titik koma. Hanya dibagian akhir saja mulai melambat dan penuh intonasi. Membuat visualisasi terlihat kompak dengan informasi yang disampaikan. 
1 jam rasanya cepat berlalu. Ketika saya bertanya pada para krucil, apa yang paling menarik dan mengesankan dari pertunjukan tadi, katanya semua mengesankan, terutama saat “naik pesawat ruang angkasa”, itu beneran seperti sedang mengangkasa. Bunyi pesawatnya, lajunya yang ngebut, dan juga kursinya kayak miring katanya. Hehe..namanya juga 3D…ya kayak berpetualang beneran ke Galaksi Bimasakti.
 Sebelum dilarang motret, saya potret aja nih operator otomatis di tengah ruang teater

Sekilas Tentang Planetarium 
*sebagian besar saya kutip dari berbagai sumber ya….
Planetarium dan Observatorium Jakarta merupakan satu dari tiga wahana simulasi langit di Indonesia selain di Kutai, dan Surabaya. Berlokasi di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki Jl. Cikini Raya No. 73. Telp : (021) 230 5146 Fax: (021) 230 5147 Homepage: http://planetarium.jakarta.go.id/ Planetarium Jakarta merupakan sarana wisata pendidikan yang dapat menyajikan pertunjukan / peragaan simulasi perbintangan atau benda-benda langit. Pengunjung diajak mengembara di jagat raya untuk memahami konsepsi tentang alam semesta melalui acara demi acara.
Planetarium Jakarta berdiri tahun 1964 diprakarsai Presiden Soekarno dan diserahkan ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969. Di tempat ini juga tersedia ruang pameran benda- benda angkasa yang menyuguhkan berbagai foto serta keterangan lengkap dari berbagai bentuk galaksi, teori-teori pembentukan galaksi disertai pengenalan tokoh-tokoh di balik munculnya teori.
Nah, mumpung masih suasana liburan, ayo ajak anak (anak sendiri, anak tetangga, anak panti asuhan, anak yatim, anak apa aja pokoknya), ponakan, sepupu, siswa-siswi (bagi guru), keluarga dan siapaaaaaa aja yang mau, ayo ke Planetarium, sebab di Planetarium ga cuma berekreasi tetapi juga dapat menambah wawasan tentang Ilmu Bumi dan Antariksa melalui pertunjukan-pertunjukannya. Ga jauh-jauh kok tempatnya. Saya aja si ratu  nyasar bisa nyampe sana. 2 kali malah. Satu gagal, satunya lagi sukses :))

narsis sebelum pertunjukan dimulai :D
Melihat Beragam Wayang di Museum Wayang Jakarta

Melihat Beragam Wayang di Museum Wayang Jakarta

12.03 Add Comment

Kota tua memang unik, klasik dan asyik. Dua jam pertama berada disana, saya habiskan di Museum Sejarah Jakarta. Hanya dengan tiket masuk sebesar Rp 2.000,00, saya bisa puas berkeliling museum yang dulunya merupakan Gouverneurs Kantoor (tulisan dalam bahasa Belanda itu  masih tertera jelas dibagian depan bangunan). 

Di sini ga cuma sekedar mengetahui tentang sejarah Jakarta, budaya Jakarta, dan segala hal tentang Jakarta tempo doeloe, melainkan juga merasakan betapa ga enaknya sebuah penjara bawah tanah. Dan saya yang mengidap claustrophobia (ruang sempit yang pengap dan gelap), akhirnya bisa ngerasain juga tuh kayak apa bilik derita hehe *padahal cuma ngerasain kurang dari 3 menit tanpa dirantai dan diganduli batu :p

Museum Wayang Kota Tua Jakarta
Sabtu 30 Juni 2012

Mulanya saya masih pingin ngadem di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta, namun “pesona” penjara membuat saya ingin lekas berlalu. Seusai mengganjal perut dengan makanan khas Betawi berupa seporsi Kerak Telor dan secangkir Es Selendang Mayang , saya melenggang keluar ke arah sisi kanan bangunan. Terdapat souvenir shop disana, namun saya tak tertarik untuk masuk atau membeli sesuatu.
Saya menyeruak di antara kerumunan pedagang dan pembeli. Melewati ratusan sepeda ontel yang siap disewakan lengkap dengan topi lebar. Masih di sisi kanan Museum Sejarah Jakarta. Seorang abang-abang menawarkan sepedanya seharga Rp 25.000,00 untuk 30 menit. 
Sebetulnya tak ada niatan untuk berkunjung ke Museum Wayang. Saya berjalan ke arah museum tersebut, masuk dan membeli karcis, hanya karena mengikuti langkah kaki saja. Tak ada ruginya toh. Melihat sesuatu yang baru, tentu menjadi pengalaman tersendiri. Walau tentu saja, bukan berarti sebelumnya saya tidak pernah tahu, melihat, atau bahkan tak kenal apa itu wayang. Jadi, saya manfaatkan kesempatan ini untuk mempersilahkan informasi seputar wayang masuk ke ruang-ruang otak saya yang tak seberapa ini. 

Sejarah Museum Wayang
Dalam situs Museum wayang: www.museumwayang.com disebutkan bahwa gedung Museum Wayang yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 ini pada mulanya merupakan lokasi gereja tua yang didirikan VOC pada tahun 1640 dengan nama “de oude Hollandsche Kerk“ sampai tahun 1732 yang berfungsi sebagai tempat untuk peribadatan penduduk sipil dan tentara bangsa Belanda yang tinggal di Batavia. 
Pada tahun 1733 gereja tersebut mengalami perbaikan, dan namanya dirubah menjadi “de nieuwe Hollandsche Kerk“ dan berdiri terus sampai tahun 1808. Di halaman gereja ini yang sekarang menjadi ruangan taman terbuka Museum Wayang, di dalamnya terdapat taman kecil dengan prasasti-prasastinya yang berjumlah 9 ( sembilan ) buah yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman gereja tersebut.  

Diantara prasasti tersebut tertulis nama Jan Pieterszoon Coen, seorang Gubernur Jenderal yang berhasil menguasai kota Jayakarta pada tanggal 30 Mei 1619 setelah kekuasaan P. Jayakarta lumpuh akibat pertentangan dengan Kraton Banten, Dalam tahun 1621 Heeren XVII memerintahkan Coen untuk memakai nama Batavia untuk kota Pelabuhan Jayakarta. Kota Batavia yang dibangun oleh Coen diatas puing reruntuhan Jayakarta dengan membuat suatu kota tiruan sesuai dengan kota-kota di negeri Belanda. 

Museum Wayang ini dulunya adalah bekas gedung Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Gagasan didirikannya Museum Wayang adalah ketika Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin menghadiri Pekan Wayang II tahun 1974. Dengan dukungan panitia acara tersebut, Gubernur DKI Jakarta dengan para pecinta wayang, Pemerintah DKI Jakarta menunjuk gedung yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 sebagai Museum Wayang. 

Museum wayang didirikan oleh yayasan Nawangi dengan H. Budiardjo sebagai Ketua Umum. Ir. Haryono Haryo Guritno sebagai pimpinan proyek. Sesudah penataan koleksi wayang selesai maka pada tanggal 13 Agustus 1975 diresmikan pembukaan Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin. Museum Wayang merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Permuseuman di bidang pewayangan terakhir berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 134 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (BAB VIII, Pasal 33, 1)
Pada tanggal 7 November 2003, PBB memutuskan mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan. 

Koleksi di Museum Wayang 

Ketika mulai memasuki museum, saya merasakan dan melihat hal yang berbeda dibanding ketika masuk ke museum Sejarah Jakarta.  Museum ini terlihat lebih terawat. Mulai dari pintu masuk tempat beli karcis yang seharga Rp 2.000,00, hingga lorong-lorong dan ruang pamernya, terasa lebih ekslusif. Disini ruang-ruangnya lebih sejuk, walau tanpa pendingin udara (eh, ada ga ya? Rasanya ga ada deh). Lebih tenang. Pengunjung membeli karcis dengan teratur. Dibagian depan setelah meja pembelian karcis, ada petugas yang dengan baik hatinya membantu memberikan petunjuk dan arah ruang pamer. Design interior museum nampak lebih modern. Temaram namun cahaya hadir diam-diam dibalik lekuk dinding kotak kaca pajang.

Koleksi Wayang
Menurut situs museumwayang.com di museum ini terdapat 5400 koleksi wayang dan perlengkapan yang dibutuhkan dalam dunia perwayangan dari berbagai wilayah Indonesia dan beberapa koleksi boneka yang dikendalikan dengan tangan dari mancanegara. 
Koleksi Wayang terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
  • Kelompok Wayang Golek : Mini Bandung, Cepak Cirebon, Elung Bandung, Pekalongan, Kebumen, Ciawi, Menak Kebumen, Menak Majakerta, Menak Cirebon, Lenong Betawi, Canton, Pakuan Bandung, Garut, Purwa Sunda.
  • Kelompok Wayang Kulit Purwa : Majakerto, Yogyakarta, Tasik, Cirebon, Sumatera, Banjarmasin, Sasak Lombok, Bali, Banyumas, Solo, Ngabean, Kyai Intan, Betawi.
  • Kelompok Wayang Kulit Lain-lain :  Wayang Kulit Kelantan, Wayang Kulit Suluh(Surakarta), Wayang Kulit Kancil(Surakarta), Wayang Kulit Sadat(Surakarta), Wayang Kulit Suriname, Wayang Kulit Ki-NyiBrayut, Wayang Kulit Wahyu, Wayang Kulit Ukur, Wayang Kulit Madya, Wayang Kulit Gedog, Wayang Kulit Kedu, Wayang Kulit Revolusi.
  • Kelompok Wayang Mainan : Wayang Kardus, Wayang Bambu, Wayang Suket, Wayang Pandan, Wayang Seng, Wayang Tembaga.
  • Kelompok Wayang Campuran :  Patung Semar(Bogor), Patung Hanuman, Patung Gatut Kaca( Wayang Golek Besar), Patung Bima(Wayang Golek Besar), Foto Arjuna dan Foto Kresna, Lukisan Diatas Kanvas, Foto Wayang, Lukisan Wayang Kaca, Wayang Beber, Wayang Kulit Berhala Besar, Wayang Kulit Berhala Kecil, Diorama Simpingan Wayang Kulit gaya solo, Diorama Ruwatan Gaya Solo.

Koleksi Topeng 

Di Indonesia topeng pada awalnya berfungsi sebagai alat untuk berhubungan dengan arwah nenek moyang, dapat dilihat pada upacara-upacara adat suku Batak (Sumatra Utara), masyarakat sekitar Tolage-Alfur ( Sulawesi Tengah ), dan juga pada upacara Tiwah pada suku Dayak di Kalimantan. Di Cirebon - Jawa Barat pertunjukan seni topeng juga tumbuh dari upacara magis untuk menghormati nenek moyang di dalam upacara Ngunjung, yaitu upacara menghormati arwah leluhur dengan pertunjukan topeng untuk memohon berkah dari buyut-buyut atau leluhur di makam mereka yang dikeramatkan. Akan tetapi, dengan masuknya agama Islam dan Kristen di Indonesia dan makin kuat pengaruhnya dalam masyarakat, maka kepercayaan itu menjadi tipis atau bahkan hilang sama sekali sehingga upacara pemanggilan roh tidak lagi diselenggarakan dan pertunjukan topeng, sekali pun masih diadakan, sudah dalam bentuk yang lebih sekuler. 

Koleksi topeng: Topeng bali, Topeng cirebon,Topeng jogja,Topeng malang. 


Koleksi Boneka juga ada 

Ternyata museum wayang juga mengoleksi boneka lho. Ada boneka yang berasal dari dalam negeri seperti si Jampang (hohoho….ini mah sama dengan ID nya mas Rifki ya), juga koleksi boneka yang berasal dari luar negeri. Boneka-boneka itu kebanyakan dari Eropa, namun ada juga dari beberapa non-eropa seperti Thailand, Suriname, Tiongkok, Vietnam, India dan Kolombia. Oh iya, selain ada koleksi boneka dari luar negeri, juga ada wayang-wayang dari luar negeri seperti wayang dari Republik Rakyat Cina dan Kamboja. Di museum ini saya juga baru tahu bahwa wayang itu ada yang namanya wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, dan wayang beber. Duh, kesenian yang kaya!  

Perlengkapan 

Selain koleksi Wayang dan Koleksi Topeng, di museum ini juga terdapat seperangkat alat musik Jawa yang disebut gamelan, yang terdiri dari berbagai ricikan atau waditra (instrumen) yang menghasilkan lagu atau gending. 

Gamelan mempunyai sejarah panjang. Sejak masa Kerajaan Jawa kuno, orang Jawa sudah mengenal gamelan dan sepanjang sejarahnya masih tetap digemari masyarakat Jawa. Gamelan sebagai alat untuk menghasilkan lagu dan gending mempunyai nilai adi luhung dan sepanjang sejarahnya dipakai untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan adat dan kebudayaan Jawa, antara lain :
  • Digunakan untuk mengiringi pergelaran wayang kulit purwa, wayang gedhog, wayang thengul,wayang wahyu, wayang wong, kethoprak, dan sebagainya.
  • Untuk mengiringi tarian, misalnya langen-ndriyan, badhaya, srimpi, wireng, dan sebagainya.
  • Untuk pahargyan, misalnya manton, khitanan, syukuran, dan sebagainya.
  • Untuk pakurmatan, misalnya sekaten, garebeg, dan sebagainya.
  • Untuk mengiringi upacara keagamaan dan keprajan.

@ Jumpa si Jampang dan Boneka serem 

Hup…legaa…akhirnya kelar menjelajahi ruang-ruang pamer di Musium Wayang. Total saya keliling di dalam musium wayang adalah 21 menit *penting ya? :p Di mulai dari lantai dasar yang jadi tempat foto fiti dengan wayang segede saya (gedean wayangnya kaliiii), sampe ruang pamer di lantai dua yang isinya kebanyakan adalah boneka. Nah dilantai 2 itulah saya berjumpa si Jampang, pendekar Betawi yang berkumis tebal (mirip pak gubernur sekarang hihi). Eits…ga cuma jumpa si Jampang, tapi juga banyaaaaaaaaak boneka lainnya. Termasuk sepasang boneka serem (kata saya sih serem) yang pake baju putih-putih. Namanya si Gale-Gale Doll. Letaknya yang mojok itu lho, hiii bikin saya ingin kabur.

@ Ternyata tetap ada kurangnya... 

Oh iya, di lantai dasar itu kan ada taman terbuka. Tamannya kecil. Hanya ditumbuhi beberapa pohon hias tanpa bunga. Latar belakang taman yang berupa tembok menempel 9 prasasti yang menampilkan nama-nama pejabat Belanda yang pernah dimakamkan di halaman museum (yang dulunya gereja). Namun entah kenapa, beberapa huruf dari nama yang ada, hilang. Copot. Salah satunya nama Jan Pieterszoon Coen yang hurufnya lebih besar dari nama-nama lainnya, kehilangan huruf O. Dan itu (sepertinya)  dibiarkan begitu saja. 

Di lantai dua, di Ruang Masterpiece yang ada TV-nya itu, hawanya bikin gerah. Kurang pencahayaan pula (sengaja apa sengaja ya?). Dan…..kok kayak sumpek ya. Padahal design plafondnya yang kreatif itu udah keren. Saat itu ada banyak anak-anak di ruangan ini. Mereka asyik menonton film 3D sambil berdiri. Tapi kok saya pengen cepat-cepat keluar. Ga betah. Btw, R. 3Dimensi ada dilantai dasar, dekat pintu masuk. 

Apa lagi ya? Ya sudah itu aja. Catatan saya sih, nih museum cukup informatif meskipun yang saya sampaikan disini hanya informasi seadanya. Moga-moga berguna bagi tema-teman yang ingin berwisata ke Kota Tua. Silahkan mampir ke Museum Wayang. Saya yang awam ini, cukup senang bisa menambah pengetahuan tentang kesenian Wayang negeri kita. Walau sedikit dan memiliki cara pandang yang berbeda dari mereka yang ahli seni, tapi setidaknya membuat saya menambah koleksi akan kecintaan pada kesenian Indonesia.

Berminat tuk datang? Ini informasi tambahannya:

Jadwal Pergelaran Wayang rutin setiap bulannya:
  • Pergelaran Wayang Golek setiap Minggu II
  • Pergelaran Wayang Kulit Betawi Minggu III
  • Pergelaran Wayang Kulit Purwa Minggu Terakhir
  • Peragaan Pembuatan Wayang Golek dan Wayang Kulit
  • Peragaan Karawitan untuk masyarakat umum dan pelajar
Cinderamata, antara lain disediakan: wayang golek, wayang kulit, wayang kaca, buku-buku pewayangan dan sebagainya. 
 
Harga tiket masuk :
  • Dewasa  :  Rp. 2.000,-
  • Mahasiswa  :  Rp. 1.000,-
  • Anak - Anak  :  Rp. 600,-
Alamat Museum Wayang:
Jln. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat 11110


Kuliner Khas Betawi: Es Selendang Mayang dan Kerak Telor

11.45 1 Comment
Salah satu kuliner khas Betawi yakni Es Selendang Mayang, adalah minuman asli Betawi yang berisikan potongan serupa puding yang berwarna hijau, putih dan merah. Disajikan dalam gelas yang dicampur dengan santan, gula aren, dan es batu. Diminum kala cuaca terik, hmmm….segaaaar.

Katanya, Es Selendang Mayang tak mudah ditemukan di Ibu Kota. Benar atau tidaknya saya tak bisa memastikan karena sebelumnya saya tak tahu ada es bernama Selendang Mayang. Menurut cerita abang penjual yang saya jumpai siang itu, es ini bisa  ditemukan di tempat-tempat tertentu seperti daerah Jatinegara dan Manggarai. Atau, di event-event tertentu seperti saat perayaan hari jadi kota Jakarta, di PRJ misalnya. Atau bisa juga di kawasan kota Tua Jakarta. 

Seperti siang itu, saya tak sengaja menemukan penjual Es Selendang Mayang di area Gouverneurs Kantoor atau Musium Sejarah Jakarta. Tepatnya di halaman belakang, dekat koperasi Musium Sejarah Kota. Di tempat itu hanya ada satu penjual es selendang mayang. Penjualnya bercelana batik, mengenakan kain serupa selendang yang dililitkan di pinggang, berkopiah putih, dan di baju kaosnya bertuliskan Kota Tua. Aiih…mungkin memang sengaja berjualan disana ya. Karena dengan berjualan disana, pengunjung dapat melepaskan dahaga dengan minuman khasnya yang menyegarkan.  


Es Selendang Mayang itu di taruh di dua keranjang serupa pikulan. Satu keranjang tempat potongan puding, keranjang lainnya tempat santan dan gula aren. Harganya Rp 5000/cup. Kalau di PRJ, kata teman saya harganya Rp 3000/cup. Mungkin karena tempatnya lebih ekslusive kali ya :D Sebab pembelinya hanya pengunjung musium. Tempatnya bersih, juga teduh. Maklum, disana banyak pohon tua yang rindang. Menikmati es selendang mayang sambil duduk di bangku yang berjejer di teras rumah Betawi Jadoel..aiih…

Disamping penjual Es Selendang Mayang, terdapat pula satu-satunya penjual Kerak Telor. Mereka berdampingan. Kerak Telor juga merupakan makanan khas Betawi yang terbuat dari campuran beras ketan putih, telur bebek, serundeng dan tambahan ebi. Rasanya pedas-pedas gurih. Kalau saya perhatikan, kedua penjual kuliner khas Betawi ini mengenakan kostum yang serupa (tapi yang satunya berbaju kaos tanpa tulisan Kota Tua). Hmm…menarik.

Sebagaimana pengunjung musium lainnya, saya juga ikut membeli Kerak Telor. Kebetulan sedang dipuncak siang. Mau nyari makan di luar musium, duh..panasnya. Kan mesti jalan ya. Sekedar mencegah lapar agar tak melilit, seporsi kerak telor dan segelas es selendang mayang, lebih dari cukup untuk penghilang lapar dan haus. Oh iya, satu porsi kerak telor harganya Rp 15.000,- 




Menikmati makanan dan minuman khas Betawi ditempat bersejarah, di antara pengunjung yang sopan dan ramah, tak terkecuali pengunjung asing yang berasal dari Belanda (ketahuan ya dari bahasanya), juga Prancis (kata guidenya), dan sesama pribumi lainnya, sesuatu yang ga biasa. Norak mungkin saya ya, tapi yang saya rasakan memang beda. Pernah menikmati kerak telor di PRJ, aduh…bukannya dapat pengalaman yang mengesankan, yang ada malah kecewa. Makannya kok jadi ribet ya. Ya karena piring daunnya lah. Rasa panasnya. Ditambah orang yang hilir mudik dan bergegas. Suasana yang hiruk pikuk, bikin saya jadi ga nyaman. Rasa kerak telor ikut-ikutan jadi ga enak di lidah. Rasanya juga kok jadi pedas banget. Sempat berkata: “makanan apaan ini??”  





Sepertinya, suasana yang baik, mendukung enak atau tidaknya lidah kita menikmati sesuatu ya. Kalo kemaren, saya baru betul-betul bisa menikmati apa itu kerak telor. Dan beneran baru tahu kalo ada es bernama Selendang Mayang. Moga orang asli Betawi dapat terus mempertahankan warisan kuliner budaya leluhurnya tersebut.

Oh iya walau sudah telat, saya ucapkan selamat ulang tahun ya untuk kota Jakarta :)




BANGGA DENGAN MAKANAN KHAS INDONESIA. 
YUK MARIIIIIIIII.....!