[Aceh] Kopdar dengan sahabat MP dan perjalanan menuju Sabang

16.39
17 Januari 2010
Minggu pagi di Aceh dalam suasana tenang dan santai, juga sendirian, tanpa morning call or shocking wake up yang kadang bikin kepala mendadak berkunang-kunang, saya bersantai ria melakukan aktifitas sarapan, mandi, berkemas, dan menelpon keluarga, juga menelepon beberapa teman. Saya tak terlalu tergesa-gesa karena jadwal keberangkatan ke Pulau Sabang adalah sore (tepatnya sih siang menjelang sore). Sebetulnya, bisa saja saya memilih berangkat pagi (jam 11), namun karena Lia, sahabat MP yang berdomisili di Aceh, ga bisa ikut ke Sabang, maka saya menunda waktu keberangkatan dengan maksud agar bisa jumpa dulu dengan Lia dan bisa ngobrol-ngobrol lebih lama *pertemuan pertama gitu lho.
Bersua teman Multiply
 


Jam 10-an Lia tiba di hotel setelah dengan sepenuh perjuangan mengendarai motor sejauh 7KM dari Banda Aceh ke Aceh Besar, tempat saya menginap di Pade Hotel. Wah, salut dan terharu jadinya *kasih 2 jempol buat Lia. Lia datang bersama Uli, temannya. Sekarang Uli jadi temen saya juga, senengnya. Nah tau gak, setelah pertemuan itu, si Uli ini kata Lia, esoknya bikin akun di MP he he. Lia ga cuma bawa Uli, tapi  juga bawa kue Timphan. Waaaaaaau...sukaaaaa banget! Terima kasih Lia untuk kue khas Aceh yang dibuat di Aceh dan oleh orang Aceh *kecup foto Lia. Moga dirimu disana sehat dan baik-baik saja ya *kangen jadinya :(
Aku ajak Lia dan Uli ke kamar, lalu kami bertiga ngobrol akrab bak kawan dekat yang lama tak jumpa. Seru. Apalagi Uli ini pinter berkata-kata yang mengundang tawa, asyik jadinya. Suasana jadi begitu cair. Hilang kekakuan akan sikap yang biasanya kerap terjadi diawal perjumpaan. Dari ngobrol, dilanjut aksi foto fiti dengan berbagai pose dan tempat, mulai dari kamar hotel hingga lobby hotel *narsis en norak tingkat dewa haha. Lucu-lucuan berpose di depan pelaminan Aceh yang ada di salah satu sudut hotel, lalu ngakak bersama. Akrab banget. Ah, ga nyangka. Padahal kami belum pernah berjumpa sebelumnya. Indahnya silaturahmi. Sayangnya kebersamaan itu mesti berakhir ketika teman menelpon saya agar lekas bersiap untuk dijemput. Itu artinya, waktunya berangkat ke Sabang. Uh..sedih. Lalu kamipun berpisah dengan sebuket kesan dan sekeranjang cerita yang manis. Moga kita bertemu lagi, suatu hari nanti. Amin. Terima kasih buat kalian berdua, hai gadis Aceh yang manis-manis. *ID MP-nya Lia: sisukahijau
Menyeberang ke Sabang 

 
Di siang bolong yang puanasss banget, saya diajak berkejaran dengan waktu. Maklum, kapal KMP BRR yang akan menyeberang ke Pulau Sabang adalah pukul 14.00 (14 apa 16 ya? Hadooh..saya lupa!!!). Dan itu adalah jadwal terakhir penyeberangan ke Sabang. Kalo telat, lewat! Nah, berarti ada waktu kurang dari 2 jam untuk tiba dan standby di Pelabuhan Ulee Lheue. Semua barang-barang saya bawa. Barang-barang? Kayak banyak banget ya! Padahal hanya 2 tas berisi perlengkapan nge-lenong hihi. Dan lagi, dengan kostum yang salah banget, yaitu dress panjang trilili yang terbuat dari kaos, serta sendal ber-hak tinggi (jalan-jalan apa mau kondangan bu?), saya berangkat menuju ujung Nusantara! Yihaaa....*dapat salam dari boots dan celana jeans di Jakarta :p 
Perjalanan dari Hotel Pade ke Banda Aceh, lalu dari Banda Aceh ke Pelabuhan Ulee Lheu, ditempuh dengan kecepatan yang wah! Ngebut gila. Rombongan kami yang berjumlah 7 orang, sempit-sempitan asyik dalam kendaraan yang kelebihan muatan hihi. Terdapat dua wanita dewasa yang badannya besar (jika dibanding dengan badan saya yang imut sekali hihi), 1 remaja tanggung, dan dua bocah laki2 yang gendut. Dan saya? Dengan kurang asemnya, duduk manis di depan. Mestinya saya yang imut ini duduk dibelakang biar mengurangi kesempitan yang ada. Huh! *toyor muka sendiri.
Setiba di pintu masuk pelabuhan, terjadi tawar menawar yang cukup makan waktu. Calo! Ah saya lupa berapa harga yang mesti dibayar untuk satu kendaraan dan masing-masing penumpang, hanya ingat totalnya hampir dua ratusan ribu. Usai bayar membayar, mobil langsung mengambil posisi antrian untuk masuk kapal. Padahal kapalnya belum ada hehe. Jadi, menunggu lagi. 

 
Nunggu di mobil? Oh no! Ngapain juga duduk dalam mobil, bisa terpanggang kami semua. Maka, duduk-duduk di warung-warung makan tentu lebih nikmat. Dan saat itulah saya baru sadar, saya belum makan siang! Ada pilihan makan siang dengan mie aceh, oh itu baik sekali. Maka, lapar ini pun terbunuh. 
Perlu kesabaran untuk menunggu jam keberangkatan tiba, dan itu lebih baik ketimbang telat. Bukan apa-apa, orangnya boleh santai-santai tiba di pelabuhan, tapi tidak untuk mobil. Jadi, meski berangkat masih lama, mobil hendaknya udah parkir duluan di antrian. Kalo mobil terangkut, orangnya pasti terangkut juga. Nah kalo orangnya yang terangkut, mobilnya belum tentu bisa. Jadi, menunggu dan lama-lama di pelabuhan Ulee Lheu gapapa. Kan bisa foto-fiti or makan minum dulu di warung-warung makan yang rame itu. Kayak saya, ga bisa ga norak kalo berada ditempat yang baru-baru. Mejeng jegeeer di depan tulisan pelabuhan Ulee Lheue. Kalo ga ada perintah masuk kapal dari pengumuman yang ada, mungkin ga stop tuh foto-fotonya. 
Pulau Sabang
Ga pesawat, ga kereta, ga kapal, semua pada doyan makan delay. Uenak kali ya pikir mereka. Yo wes, dinikmati sajalah. Seneng naik kapal? Seneng. Tapi ini bukan hal baru bagi saya, udah pernah beberapa kali kok naik Ferry saat menyeberang dari Merak ke Bakauheni Lampung. Jadi, ga norak-norak amatlah. Tapi, dibanding semua transportasi lainnya, saya sangat menyukai naik kapal. Mengarungi lautan lebih gagah ketimbang mengarungi udara. Ombak dan buih di buritan lebih indah dan menyentuh jiwa ketimbang awan-awan *tukang puitis jadi-jadian, nyemplung ke laut. 

 
Hari makin petang, petang mendekati malam. Langit di atas Sabang berubah menjadi kemerahan. Amat menawan. Saya memang selalu terpesona pada senja, dengan langitnya, dengan syahdunya. Seakan, bila bisa menghadang dengan tangan, akan saya halangi malam dengan kedua tangan saya. Maka, senja di Sabang, dalam pandangan yang amat dekat, dibalik pegunungan, di pulau yang hendak saya tuju, sang surya perlahan menuju peraduannya yang entah dimana. Saya duduk di tempat terbuka, bersandar pada pagar kapal, menghadap lautan. Memotret. Lalu berbalik, menghadap ke orang-orang (kebanyakan laki-laki), yang juga duduk di atas kapal. Memotret mereka! Lalu memberi judul pada jepretan sore itu : Titanic, Dalam Penyeberangan ke Pulau Sabang. Hah! 

Pukul 18.31 (saya tahunya dari membaca rekaman foto, ada tanggal dan jamnya tuh) kapal merapat di pelabuhan Balohan, saya berseru dalam hati,”Hore!”. Meski kelelahan mulai membayangi, juga karena lamanya penyeberangan ini (saya kira 2 jam tepat, ternyata lebih), serta padatnya antrian mobil yang keluar dari kapal, saya masih berusaha untuk tetap happy. Walaupun....perut terasa sakit karena maag yang mulai kambuh. Saya harus berjuang untuk menginjakkan kaki ke Tanah Sabang. Berjuang? Semangat kali ya. Jadi pengen nyanyi :D
Dari Sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia 
 



Hup! Akhirnya sepasang kaki ini menginjak pelabuhan Balohan. Selamat tinggal Kapal. Terima kasih telah mengantar kami dengan selamat sejahtera empat sehat lima sempurna *dada dada ke kapal dalam foto :D
Suasana dipelabuhan saat itu hiruk pikuk, sementara langit makin gelap. Lampu-lampu telah dinyalakan. Bayang pegunungan yang tadi saya lihat saat diatas kapal sudah menghilang. Kamipun bergegas menuju kota Sabang yang berjarak 7km dari pelabuhan Balohan. Jalanan menanjak, membuat mobil yang kami tumpangi terengah-engah, bak kakek tua yang minta didorong. Ooh tak perlu, itu hanya efect lelah, sebab mobil perkasa itu akhirnya dapat mendaki tanjakan dengan selamat. Dengan keperkasaannya pula, mobil itu masih mampu mengantar kami ke Sabang dalam waktu 20menit. Tujuan kami berikutnya adalah ke Freddi Cottage yang ada di Sumur Tiga. Alhamdulillah, setelah dicari-cari, kamipun menemukan cottage yang berada ditebing pantai itu. 
FREDDIE'S COTTAGE 

 


Jangan bayangkan sebuah cottage yang wah seperti dikawasan resort pantai-pantai Bali or Lombok, maka cottage di tempat ini jauh dari kemewahan. Tetapi jangan salah, meski begitu, cottage ala rumah panggung ini bersih dan terawat. Semua terbuat dari kayu. Unik. Tiada AC didalamnya, hanya kipas angin. Tapi kamu tak perlu AC untuk tidur ditepi pantai yang berhawa dingin. Sebab malam, angin laut berhembus kencang hingga masuk ke sela-sela dinding cottage. Tapi dingin, jangan menjadikanmu takut mandi, sebab di bathroomnya yang berdinding anyaman bambu  terdapat hot water. Hahay...ngerti aja kalo saya alergi dingin :D Jangan berfikir pula ada bathup seharga puluhan juta, sebab yang ada dalam bathroom hanyalah bak mandi biasa model jadul. Dan kamu tak perlu TV, sebab suara debur ombak dan angin laut akan mengalahkan suara TV maupun radio, jadi kamu ga bakal bisa nonton dengan sempurna. Di tempat ini, ditepi pantai yang menghadap ke samudera hindia, sinyal ponsel kembang kempis. Tapi ketahuilah, saya amat tak peduli dengan semua itu (saat itu). Yang saya pedulikan, saya lekas dapat cottage, tidur, dan istirahat sampai pagi! 

Untuk bertemu dengan pengelola cottage, saya dan rombongan perlu menuruni tebing yang curam sekitar 3-4meter dari puncak tebing tempat mobil kami terparkir. Bagusnya, tersedia tangga-tangga kayu untuk turun. Dan di salah satu sisi tebing, ada semacam office. Disitulah saya melakukan reservasi. Reservasi? Hihihi... ga resmi-resmi amat kok. Wong cuma bilang perlu cottage, langsung dikasih (selama available), beres. Ga pake ribet. Nah, ga tanggung-tanggung, saya ketemu langsung ama pria bule si pemilik cottage yang sedang asyik main laptop. Namanya Freddie Rousseau. Menurut tulisan di link ini (klik), beliau ini mantan staff PBB yang datang ke Aceh untuk ambil bagian dalam upaya kemanusiaan pada saat terjadi tsunami tahun 2004. Wuiih...kok bisa  kemudian beliau punya cottage ditempat ini? 

Oh iya, meski sinyal ponsel hidup segan mati tak mau, meski listrik hidup mati hidup mati, tapi wifi di tempat Mr. Rousseau ini kenceng! Kok bisa. Ha...pikirin amat. Back to scene. Dari bule gaek itulah saya sepakat akan harga (pegawainya ngasih harga tinggi, kebalik). Saya ambil 2 kamar di malam pertama, dan  1 kamar di malam kedua. Harga permalamnya hanya Rp 252.000/malam! Hahay...murah men. Murah si murah, tapi kami menginap berlima dalam satu kamar   (di malam pertama) dan berenam di malam kedua (yang 1 nginep di pelabuhan) Haha. Mantab!



Mau lanjut ke cerita yang lebih seru lagi, saat malam hari keliling nyari makan...tapi lanjut di di tulisan berikutnya saja ya :D

Sekedar informasi, penyeberangan dari dan ke Banda Aceh-Sabang
Dengan speed boat, waktu tempuh 45-60menit, jadwalnya sbb:
  • Banda Aceh ke Sabang: Pukul 09.30 dan 16.00 -- > setiap hari,
  • Sabang ke Banda Aceh: Pukul 08.30 dan 16.00 -- > setiap hari

Dengan kapal Ferry besar (KMP BRR), waktu tempuh 1,5-2jam, jadwalnya sbb:
  • Banda Aceh ke Sabang: Pukul 14.00 -- > setiap hari
  • Sabang ke Banda Aceh: Pukul 08.00 -- > setiap hari
  • Banda Aceh ke Sabang: Pukul 11.00 dan 14.00 -- > Hari Rabu, Sabtu dan Minggu
  • Sabang ke Banda Aceh: Pukul 08.00 dan 14.00 -- > Hari Rabu, Sabtu dan Minggu
Jadwal tersebut adalah jadwal 2 tahun yang lalu :D Tapi kemaren (22/1/2012) saya sempat konfirmasi ulang lewat SMS ke Faried, temen MP (ID Friewan) yang juga tinggal di Aceh dan terbiasa bolak balik ke Sabang, katanya jadwalnya masih sama. Tapi ada baiknya untuk keakuratan informasi bisa ditanyakan langsung ke pihak terkait. Ada nomor telp yang bisa dihubungi, yakni : untuk penyeberangan dengan Kapal Motor Express, untuk Kapal Pulo Rondo : 0651 7409 194 dan untuk Kapal Bahari : 0852 6058 0996. Sedangkan untuk penyeberangan dengan Kapal Roro/Ferry, nomor telp kantor ASDP : 0651 49977. Semoga bermanfaat

Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon