Air Terjun Bedegung Muara Enim

09.28
21 September 2009

Dalam suasana libur lebaran, bersama keluarga, para ponakan, sepupu dan krucil-krucil yang ceria selalu, saya jalan-jalan ke salah satu objek wisata yang ada di Muara Enim, Sumsel. Pilihan wisata kali ini jatuh ke air terjun Bedegung. Sengaja memilih tempat ini karena saya suka dengan wisata alam. Yang lain? suka juga dunk. Buktinya pada antusias banget, sampe ada yang pake muntah segala karna masuk angin gara-gara ga sabar nunggu pagi tuk berangkat. 

Air Terjun Bedegung terletak di Desa Bedegung Kec. Tanjung Agung. Perjalanan dari Muaraenim menuju lokasi air terjun sekitar satu jam. Jaraknya lumayan jauh. Melewati kota Tanjung Enim. Tahu Tanjung Enim kan? Kota tambang batu bara yang terkenal dengan Bukit Asamnya itu lho. Dari Muara Enim ke Tanjung Enim itu sekitar 20 menit. Dari Tanjung Enim ke Tanjung Agung Sekitar 40menit lebih. Belum kalo pake mampir dan beli BBM ya. Bisa sih tiba lebih cepat, asal pake mobil balap dan nyetir ala pembalap. Punya gak mobil balap? Ga!

Jalan yang dilalui adalah jalan raya lintas Sumatera. Bus-bus besar antar provinsi lewat jalan ini. Sepanjang perjalanan, di sisi kanan nampak sungai Enim yang lebar dan berarus deras. Tak hanya suguhan pemandangan sungai yang berkelok-kelok tapi juga pemandangan kebun duku, Kopi, dan durian. Pohon yang akan mudah sekali dijumpai jika berada di daerah Sumatera Selatan ini. 

Setiba di desa Tanjung Agung, kami mulai awas terhadap signboard "Air Terjun Bedegung". Bukan karena saya belum pernah ke tempat ini tapi seingat saya belokannya itu bisa terlewat kalau ga "pasat". Pasat itu maksudnya jeli dan awas. Soalnya ada beberapa belokan serupa. Kalo lewat bisa-bisa kami bablas sampai Batu Raja.

Akhirnya kami menemukan lokasi wisata yang dituju. Gemericik air mulai terdengar. Bukan dari air terjun, melainkan dari sungai yang mengalirkan air dari air terjun itu. Air terjunnya sendiri mesti ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1km. Wuadooww.... Sekarang kan saya udah tak semuda dulu (udah nenek2), apa masih kuat ya? Terakhir ke Air Terjun ini sekitar 8 tahun yang lalu :D

Ternyata, kini tempat wisata ini telah dikelola dengan sedemikian rupa. Tempat parkir tersedia luas menempati lahan yang dulu ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar. Bukan hanya tempat parkir, melainkan juga tempat berjualan. Ada banyak sekali warung-warung makan dan minuman. Dulu, satu warung saja susah dijumpai. Ada pula panggung hiburan yang menampilkan live music, lengkap dengan penyanyinya. Seharian itu, sang penyanyi dengan penuh semangat dan keringat, terus-terusan menghibur pengunjung dengan dangdut dan joget.

Tiket masuknya 10.000 perorang. Huaa......dulu sih cuma seribuan saja. Haha...ya bedalah ya. Dulu kan tidak dikelola dan sepi, sekarang sudah dikelola dan rame. Trus, ada pula pondok tempat berganti pakaian bagi yang mandi. Nah, pondoknya ini ada puluhan. Rame banget. Toilet dan kamar mandi berjejer. Daaaaaaaaan....ya ampuuuuun pengunjungnya ruameeeeee banget. Huaa......tuh air tercemar dunk ama daki2 badan orang banyak ituuuuuu....

Ternyata saya dikejutkan juga dengan adanya sebuah jembatan yang membentang di atas air terjun. Dulu jembatan itu ga ada ! Aiiih.....suka banget dengan adanya jembatan itu. Pengunjung yang ga mau mandi bisa menikmati dan melihat air terjun dari dekat tanpa harus nyebur ke dasar tempat airnya jatuh. Saya pun berfoto-foto norak di jembatan itu, dan berteriak teriak kecil saat terciprat oleh air terjun yang serupa rintik hujan. Berembun. Dingin. Dan sebuah pelangi dibawahnya. Woooow! Keren banget.

Krucil-krucil yang bersama saya sudah tunggang langgang menyerbu air. Pada girang ga ketulungan. Saya juga ikut-ikutan tapi tidak mau berbasah-basahan. Curang ya? Iya, kan tugas saya memotret tok! :D Eh tapi akhirnya saya basah-basahan juga kok. Kakinya doang sih. Saya turun ke air gara-gara penasaran ingin melihat dari dekat tempat air jatuh. Lumayan susah mendekatinya karena batu-batu besar dan licin mesti didaki. Emangnya gunung pake di daki segala? 

Menyenangkan sekali datang ke tempat ini. Di tengah sejuk dan segarnya udara yang ada, air yang bersih, hutan yang rindang, segala kepenatan dan kemumetan yang biasa terjadi di kota (Jakarte), bisa luruh satu persatu. Saya memandangi puncak tebing dari ujung tebing lainnya, terlihat tempat dimana airnya jatuh dan tumpah ruah. Tinggi sekali. Menurut berbagai sumber yang saya pernah baca, ketinggian air terjun ini adalah 99 meter. Wajar jika kemudian air terjun Bedegung disebut sebagai air terjun tertinggi di Sumatera Selatan.

Jika ingin ke sini, naik apa dan menginap di mana?
Kalau dari kota Palembang, naik bus tujuan Muaraenim atau Tanjung Enim dari terminal Karya Jaya Palembang. Saya ga tahu berapa tarifnya karena ga pernah naik bus. Tapi ga sampai 50.000 kata temen.
Waktu perjalanan sekitar 3-4 jam. Bagusnya sih langsung naik jurusan Tanjung Enim. Kalau kehabisan, naik bus tujuan Muaraenim juga gapapa. Nanti dari Muara Enim maupun Tanjung Enim, naik angkot jurusan Tanjung Agung (dari teminal setempat). Kalau sudah di Tanjung Agung, tinggal bilang saja mau ke Air Terjun. Mau baliknya juga sama, pake angkot dan bus seperti tadi pergi. Cuma setahu saya, bus dari Muaraenim dan Tanjungenim itu (tujuan Palembang) paling akhir sampe jam 4 saja.

Kalau sampai harus menginap silahkan cari penginapan di daerah Tanjung Enim dan Muara Enim. Ada beberapa penginapan kelas melati dengan tarip 100ribuan permalam. Sedangkan di Tanjung Agung sendiri, beberapa penginapan yang direkomendasikan seperti: RM Lumayan yang ada di Jl Baturaja Desa Keban Agung Tanjung Agung, Mess KORPRI dan Rumah Adat Knockdown yang ada di Jl JL.Desa Bedegung Tanjung Agung.

Berikut sajian photo dari kamera jadul saya:

















Share this

Indonesian Blogger | Travel Writer | Email: katerinasebelas@gmail.com |

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
4 Desember 2015 23.28 delete

Waah, nemu foto air terjun bedegung bertahun-tahun silam. Aku kemari Februari 2015 ini dan memang harus diakui sudah dikelola dengan bagus. Ternyata pas tahun 2009 itu air terjunnya sudah ramai ya? Itu penduduk Muara Enim semua apa ada limpahan dari Prabumulih sama Palembang ya? Dulu aku ke sana ya hari Sabtu siang-siang (dari Palembang berangkat jam 7) tapi ya nggak seramai itu. Terus itu foto yang ada jalan setapak batu yang kanan-kirinya rumah itu pas di mana ya? Apa di homestay yang dekat parkiran itu?

Reply
avatar

Leave your message here, I will reply it soon! EmoticonEmoticon