Mesjid Agung Palembang

13.03 Add Comment

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Indonesia, China dan Eropa. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng. Masjid ini dulunya adalah masjid terbesar di Indonesia selama beberapa tahun. Bentuk masjid yang ada sekarang adalah hasil renovasi tahun 2000 dan selesai tahun 2003. Megawati Soekarnoputri adalah orang yang meresmikan masjid raksasa Sumatera Selatan modern ini.

Masjid ini didirikan pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama. Saat ini, Masjid Agung Palembang telah menjadi Masjid regional di kawasan ASEAN. Terletak di kawasan 19 Ilir, dimana merupakan salah satu Kampung Asli Palembang dan Arab yang telah lama didiami. *Sumber: Wikipedia


Menurut sejarah, Masjid Agung Palembang merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Konon masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.

Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748).

Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi land mark kota hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.





















Palembang - Sumatera Selatan - INDONESIA

Air Terjun Bedegung Muara Enim

09.28 1 Comment
21 September 2009

Dalam suasana libur lebaran, bersama keluarga, para ponakan, sepupu dan krucil-krucil yang ceria selalu, saya jalan-jalan ke salah satu objek wisata yang ada di Muara Enim, Sumsel. Pilihan wisata kali ini jatuh ke air terjun Bedegung. Sengaja memilih tempat ini karena saya suka dengan wisata alam. Yang lain? suka juga dunk. Buktinya pada antusias banget, sampe ada yang pake muntah segala karna masuk angin gara-gara ga sabar nunggu pagi tuk berangkat. 

Air Terjun Bedegung terletak di Desa Bedegung Kec. Tanjung Agung. Perjalanan dari Muaraenim menuju lokasi air terjun sekitar satu jam. Jaraknya lumayan jauh. Melewati kota Tanjung Enim. Tahu Tanjung Enim kan? Kota tambang batu bara yang terkenal dengan Bukit Asamnya itu lho. Dari Muara Enim ke Tanjung Enim itu sekitar 20 menit. Dari Tanjung Enim ke Tanjung Agung Sekitar 40menit lebih. Belum kalo pake mampir dan beli BBM ya. Bisa sih tiba lebih cepat, asal pake mobil balap dan nyetir ala pembalap. Punya gak mobil balap? Ga!

Jalan yang dilalui adalah jalan raya lintas Sumatera. Bus-bus besar antar provinsi lewat jalan ini. Sepanjang perjalanan, di sisi kanan nampak sungai Enim yang lebar dan berarus deras. Tak hanya suguhan pemandangan sungai yang berkelok-kelok tapi juga pemandangan kebun duku, Kopi, dan durian. Pohon yang akan mudah sekali dijumpai jika berada di daerah Sumatera Selatan ini. 

Setiba di desa Tanjung Agung, kami mulai awas terhadap signboard "Air Terjun Bedegung". Bukan karena saya belum pernah ke tempat ini tapi seingat saya belokannya itu bisa terlewat kalau ga "pasat". Pasat itu maksudnya jeli dan awas. Soalnya ada beberapa belokan serupa. Kalo lewat bisa-bisa kami bablas sampai Batu Raja.

Akhirnya kami menemukan lokasi wisata yang dituju. Gemericik air mulai terdengar. Bukan dari air terjun, melainkan dari sungai yang mengalirkan air dari air terjun itu. Air terjunnya sendiri mesti ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1km. Wuadooww.... Sekarang kan saya udah tak semuda dulu (udah nenek2), apa masih kuat ya? Terakhir ke Air Terjun ini sekitar 8 tahun yang lalu :D

Ternyata, kini tempat wisata ini telah dikelola dengan sedemikian rupa. Tempat parkir tersedia luas menempati lahan yang dulu ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar. Bukan hanya tempat parkir, melainkan juga tempat berjualan. Ada banyak sekali warung-warung makan dan minuman. Dulu, satu warung saja susah dijumpai. Ada pula panggung hiburan yang menampilkan live music, lengkap dengan penyanyinya. Seharian itu, sang penyanyi dengan penuh semangat dan keringat, terus-terusan menghibur pengunjung dengan dangdut dan joget.

Tiket masuknya 10.000 perorang. Huaa......dulu sih cuma seribuan saja. Haha...ya bedalah ya. Dulu kan tidak dikelola dan sepi, sekarang sudah dikelola dan rame. Trus, ada pula pondok tempat berganti pakaian bagi yang mandi. Nah, pondoknya ini ada puluhan. Rame banget. Toilet dan kamar mandi berjejer. Daaaaaaaaan....ya ampuuuuun pengunjungnya ruameeeeee banget. Huaa......tuh air tercemar dunk ama daki2 badan orang banyak ituuuuuu....

Ternyata saya dikejutkan juga dengan adanya sebuah jembatan yang membentang di atas air terjun. Dulu jembatan itu ga ada ! Aiiih.....suka banget dengan adanya jembatan itu. Pengunjung yang ga mau mandi bisa menikmati dan melihat air terjun dari dekat tanpa harus nyebur ke dasar tempat airnya jatuh. Saya pun berfoto-foto norak di jembatan itu, dan berteriak teriak kecil saat terciprat oleh air terjun yang serupa rintik hujan. Berembun. Dingin. Dan sebuah pelangi dibawahnya. Woooow! Keren banget.

Krucil-krucil yang bersama saya sudah tunggang langgang menyerbu air. Pada girang ga ketulungan. Saya juga ikut-ikutan tapi tidak mau berbasah-basahan. Curang ya? Iya, kan tugas saya memotret tok! :D Eh tapi akhirnya saya basah-basahan juga kok. Kakinya doang sih. Saya turun ke air gara-gara penasaran ingin melihat dari dekat tempat air jatuh. Lumayan susah mendekatinya karena batu-batu besar dan licin mesti didaki. Emangnya gunung pake di daki segala? 

Menyenangkan sekali datang ke tempat ini. Di tengah sejuk dan segarnya udara yang ada, air yang bersih, hutan yang rindang, segala kepenatan dan kemumetan yang biasa terjadi di kota (Jakarte), bisa luruh satu persatu. Saya memandangi puncak tebing dari ujung tebing lainnya, terlihat tempat dimana airnya jatuh dan tumpah ruah. Tinggi sekali. Menurut berbagai sumber yang saya pernah baca, ketinggian air terjun ini adalah 99 meter. Wajar jika kemudian air terjun Bedegung disebut sebagai air terjun tertinggi di Sumatera Selatan.

Jika ingin ke sini, naik apa dan menginap di mana?
Kalau dari kota Palembang, naik bus tujuan Muaraenim atau Tanjung Enim dari terminal Karya Jaya Palembang. Saya ga tahu berapa tarifnya karena ga pernah naik bus. Tapi ga sampai 50.000 kata temen.
Waktu perjalanan sekitar 3-4 jam. Bagusnya sih langsung naik jurusan Tanjung Enim. Kalau kehabisan, naik bus tujuan Muaraenim juga gapapa. Nanti dari Muara Enim maupun Tanjung Enim, naik angkot jurusan Tanjung Agung (dari teminal setempat). Kalau sudah di Tanjung Agung, tinggal bilang saja mau ke Air Terjun. Mau baliknya juga sama, pake angkot dan bus seperti tadi pergi. Cuma setahu saya, bus dari Muaraenim dan Tanjungenim itu (tujuan Palembang) paling akhir sampe jam 4 saja.

Kalau sampai harus menginap silahkan cari penginapan di daerah Tanjung Enim dan Muara Enim. Ada beberapa penginapan kelas melati dengan tarip 100ribuan permalam. Sedangkan di Tanjung Agung sendiri, beberapa penginapan yang direkomendasikan seperti: RM Lumayan yang ada di Jl Baturaja Desa Keban Agung Tanjung Agung, Mess KORPRI dan Rumah Adat Knockdown yang ada di Jl JL.Desa Bedegung Tanjung Agung.

Berikut sajian photo dari kamera jadul saya: