[Kebumen] Kecelakaan dalam perjalanan kembali ke Jakarta

15.27 Add Comment


28 November 2009

Usai sudah acara silaturahmi dan wisata selama di Kebumen. Dari Purworejo, Yogyakarta, hingga Klaten. Sekarang saatnya kembali ke Jakarta. Pagi hari sebelum perjalanan dimulai, kami menyempatkan berbelanja di salah satu pasar tradisional terbesar di Kebumen. Hanya belanja makanan sih, seperti Lanting, Saleh Pisang, Kripik Buah, dan Telur Asin. Puas belanja oleh-oleh, kami berangkat sebelum tengah hari.


Berbeda  dengan perjalanan saat berangkat, maka perjalanan pulang ini bisa saya nikmati. Saya dalam kondisi fit dan tidak tidur sepanjang perjalanan. Pemandangan menarik tersaji kala melewati Brebes yaitu pemandangan ladang bawang yang luas. Tadinya saya kira sawah, soalnya terlihat sama. Di tepi jalan, terlihat penjual bawang menggelar dagangannya di gubug-gubug kecil. Kami singgah dan membeli beberapa kilo. *mabok bawang hihi

Insiden berbahaya terjadi setelah kami mendekati jalur pantura. Tiba-tiba koper besar yang ditaruh di atas mobil meluncur ke depan. Kami terkaget-kaget ketika melihat koper tersebut lewat depan kaca mobil. Terdengar bunyi yang cukup keras saat koper itu jatuh ke jalan. Mobil di rem mendadak. Bunyi ban mencicit di malam yang gerimis. Lalu terdengar bunyi gedebuk. Bersamaan dengan itu bunyi klakson terdengar kencang dari arah belakang. lalu...brak! Mobil kami diseruduk dari belakang karena ngerem mendadak. Allahu Akbar! begitu suara yang keluar dari mulut kami.

Kami ditabrak. Ya, itu yang terjadi. Saya gemetar. Melihat ke semua orang yang ada dalam mobil. Masih hidupkah? Berdarah kah? Patah kah? Saya panik dan ingin keluar. Padahal ternyata, kami semua tak ada yang cedera. Hanya mobil kami saya yang "cedera". Bagian belakang melesak kedalam. kaca depan retak. Apa yang terjadi? Rupanya penyebabnya adalah rak barang yang ada di atas mobil lepas. Mungkin terlalu berat menahan beban beberapa koper besar dan beberapa kardus oleh-oleh. Untung tak jatuh semua.

Mobil menepi. Polisi datang. Saya dan anggota keluarga yang wanita keluar. Di tepi jalan ada rumah warga. Seorang warga mempersilahkan kami untuk duduk. Sementar keluarga kami yang laki-laki bicara dengan polisi untuk menjelaskan kronologisnya. Polisi juga menghampiri pengemudi mobil yang menabrak kami. Kami memang merasa salah karena ngerem mendadak. Akhirnya kami yang mesti bayar ke pengemudi yang menabrak kami. Dengan uang sejumlah Rp 200.000,-, urusan kelar. Penabrak (akibat kesalahan kami) menerima uang tersebut. Lalu pergi. Terlihat bamper mobil depannya penyok. Setelah semua selesai, polisi mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan.

Alhamdulillah setelah kejadian itu, tak ada kejadian buruk lainnya yang menimpa. Kamipun selamat hingga tiba di rumah. Saya mengambil hikmah dan pelajaran atas kejadian ini. Semoga tak ada lagi kejadian serupa yang menyebabkan kecelakaan beruntun. Semoga bisa lebih hati-hati lagi saat berkendara, jangan membuat jarak terlalu dekat biar kalau terjadi sesuatu terhindar dari kecelakaan akibat ngerem mendadak. Dan catatan penting lainnya, jangan sampai membuat kendaraan kelebihan muatan. Uuhg...




[Kebumen] Berwisata ke Pantai Karang Bolong dan Pemandian Air Panas Krakal

15.24 Add Comment
27 November 2009


Seusai salat Ied dan sarapan pagi yang nikmat, saya dan rombongan keluarga berangkat lagi untuk berwisata ke Pantai Karang Bolong. Pantai ini merupakan objek wisata yang terkenal di Kebumen. Perjalanannya tak terlalu jauh, hanya sekitar 40km dari Kebumen. Kami melewati Kampung Wisata Luwuk yang menyajikan pemandangan dan suasana khas desa-desa di Jawa. Rumah-rumah tradisional beratap joglo dapat saya jumpai sepanjang perjalanan. Khas. Unik. Rumah tersebut besar-besar untuk ukuran desa. Terbuat dari kayu. Tiap perkarangan ditumbuhi pepohonan yang rindang. Sejuk. Asri.



Akhirnya kami tiba di Pantai Karang Bolong saat siang mendekati puncaknya. Perut mulai terasa lapar. Sementara pemandangan laut mulai tersaji dihadapan. Debur ombak, angin, pasir, air yang berwarna biru menggoda untuk dijamah. Namun semua sepakat untuk makan siang dulu. Bekal yang memang sengaja kami siapkan dari rumah, sangat tepat sekali kami bawa. Sebab ternyata, tak ada rumah makan di sekitar pantai. Hanya berupa warung-warung kecil yang menjual mie rebus/goreng, kue-kue dan gorengan saja. Kalaupun ada yang selain itu, cuma gado-gado. 
Setelah makan, barulah kami menjelajahi pantai. Sepi. Pantainya tak begitu lebar. Tak pula panjang. Terlihat agak kotor karena tergeletak beberapa sampah plastik dan sampah pohon. Terlalu "sederhana" untuk ukuran saya yang terbiasa melihat pantai yang bagus. Meskipun begitu, saya tetap mencoba menikmatinya. Di sebelah timur pantai terdapat hulu dari sebuah sungai yang biasanya digunakan warga sekitar untuk mencari ikan. Pantai Karang Bolong ini berdekatan dengan Pantai Shuwuk dan hanya dipisahkan oleh hulu sungai. Jika ingin berkunjung ke Pantai Shuwuk mesti menyewa sebuah perahu yang disediakan oleh warga setempat.


Kami menyusuri bibir pantai yang berpasir kehitaman. Ada yang sedang bermain layang-layang. Ada yang berkuda. Ada yang main pasir. Ada yang main air. Biasa saja. Tak begitu berkesan bagi saya. Tak berapa lama, kami meninggalkan pantai, lanjut ke Desa Krakal. Di sana kami menuju pemandian air panas Krakal. Nama Krakal adalah nama Desa di Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen. Terletak 12 km timur laut Kebumen. Kehangatan air Krakal yang bertemperatur 39° C – 42° C, 86° F – 104 °F. Air Krakal juga dapat menyembuhkan gatal, kadas, reumatik dan penyakit kulit lainnya. Hari itu, pengunjung yang datang terlihat cukup ramai. Terbukti dari antrian di depan belasan kamar mandi yang tersedia. Tiap orang dijatahi waktu. Mesti begitu sih, kalo enggak kasihan yang ngantri kelamaan.

Demikianlah, perjalanan wisata pun berakhir di Pemandian Air Panas Krakal. Sedari kami tiba hingga meninggalkan desa Krakal, hujan gerimis masih mengguyur bumi. Langit berubah kian gelap. Gerimis berubah menjadi guyuran hujan yang deras. Petir mulai berkelebat. Kami bergegas kembali ke Kebumen sebelum alam mengganas.

Sarapan Nasi Jonggol khas Kebumen

15.20 Add Comment
27 November 2009 

Idul Adha 1430H 

Hari ini adalah perayaan Idul Adha 1430H, hari Raya Qurban umat Islam sedunia. Saya dan rombongan keluarga melaksanakan salat Ied di alun-alun Kebumen. Lapangan terbuka milik warga Kebumen ini cukup cantik, bersih, dan rapi. Disana saya berbaur dengan penduduk setempat untuk melaksanakan salat Ied berjamaah. Alhamdulillah berjalan lancar. 

Seusai salat kami tak langsung kembali ke rumah, melainkan ramai-ramai mencari sarapan pagi. Maklum, sewaktu berangkat salat Ied tadi kami memang belum makan nasi (orang Indonesia kalo belum makan nasi namanya belum makan ya). Hanya minum seteguk teh dan sepotong kue/gorengan. Nah, pagi ini kami akan sarapan nasi Jenggol. Katanya, kalo sudah di Kebumen, saya mesti merasakan makan nasi Jenggol. Aiih...terdengar seperti jengkol ya hihi.
Kata sodara, saya dijamin bakal suka dan ketagihan dengan nasi Jenggol. Ah saya jadi penasaran. Kami pun meluncur ke sebuah tempat yang berjarak tempuh sekitar 15 menit dari alun-alun. Letaknya dekat sebuah jembatan, entah apa nama jembatannya. Saya tak ingat, baik nama jembatannya maupun nama tempatnya. Yang jelas penjual nasi Jenggol itu berjualan di depan sebuah rumah, tepat dipinggir jalan. Jika pembeli ingin makan ditempat, ada bangku yang tersedia, dan bisa menikmati nasi jenggol dengan pemandangan sungai!
Nasi Jenggol itu semacam nasi campur yang disajikan dengan daun, bukan piring. Nasinya nasi putih biasa, disiram dengan kuah sayur nangka (plus nangkanya juga). Lalu lauknya berupa tahu goreng, bakwan goreng, tempe mendoan, dan dilengkapi dengan sambal. Wow...makanan berat nih ya. Puedes pula. Walau demikian, saya tetap mencobanya, dan menikmatinya. 
Ya...pagi yang damai. Jalanan tak berdebu dan berisik. Motor dan mobil hanya sesekali lewat. Saya menikmati nasi Jenggol dengan sepenuh hati. Nikmat. Kenyang. Semoga sarapan pertama yang kusantap di kota Kebumen ini jadi berkah. Amin. Sederhana tempatnya, juga makanannya...

[Kebumen - Yogyakarta] Jalan-jalan ke Candi Prambanan

15.22 Add Comment
26 November 2009

Pagi yang cerah, saat yang baik untuk jalan-jalan dan berwisata. Rencananya hari ini kami akan berangkat ke Purworejo dan Jogjakarta. Aha! Saatnya menyegarkan mata!

Pagi pertama di Kebumen, kami mencari sarapan di luar rumah. Muncul keinginan untuk merasakan sensasi mengisi perut di tepi jalanan kota Kebumen. Di jalanan? Ya, saya merasa di pinggir jalanan kota Kebumen itu nyaman untuk tempat makan. Lihatlah, trotoarnya bersih. Tak ada sampah berserakan. Orang-orang berjalan kaki dengan santai. Kendaraan di jalan raya didominasi oleh sepeda. Oh ternyata orang Kebumen gemar bersepeda ya? Anak-anak berseragam sekolah, pegawai, guru, dan masyarakat umum lainnya. Mungkin ini yang membuat jalanan kota Kebumen enak dilihat. Tapi bukan berarti ga ada mobil dan motor lho, hanya saja intensitas lalu lalang dua macam kendaraan tersebut tak seperti di Jakarta yang padat.

Di tepi jalan yang bersih dan rapi (bukan di trotoar), melainkan tempat yang cukup lebar dan berjarak dari badan jalan, kami menemukan penjual sate, bubur ayam, bakso, dan kue serabi. Cukup banyak pilihan dan saya memilih sate untuk sarapan di pagi itu.

Ketika sedang menikmati seporsi sate, saya memperhatikan ibu tua penjual kue serabi yang tengah melayani pesanan pembeli. Ia sendiri. Tangannya lincah membuat adonan kue, lalu menuangnya ke wajan panas di atas tungku. Ada empat buah tungku tradisional menyala di dekatnya. Bahan bakarnya kayu. Masing-masing tungku dengan wajan tertutup. Di dalamnya, kue serabi sedang dimasak. 3-4 pembeli datang silih berganti, hingga 10-12 pembeli berikutnya, dan berikutnya lagi. Saya menghitungnya dalam hati. Ramai. Laris. Ibu penjual kue serabi menyeka keringat. Tiba-tiba menoleh ke saya yang serius memperhatikannya. Saya terperanjat. Ibu itu tersenyum. Saya membalasnya. "Semoga laris terus ya bu,'' doa saya dalam hati.

Seusai sarapan, kami kembali ke rumah, berkemas dan meyiapkan keperluan untuk perjalanan ke Yogyakarta. Setelah semua beres, perjalanan pun di mulai. Kami start sekitar pukul 08.00 dari Kebumen. Jarak tempuh dari Kebumen ke Purworejo sekitar 89Km. Waktu menunjukkan pukul 8.47 ketika kami memasuki Purworejo. Di Purworejo kami berkunjung ke salah satu kerabat yang sudah lama tidak berjumpa. Berhubung hari itu adalah hari kerja, jadi kami menemui beliau di kantornya yang terletak tak jauh dari Trisakti Balajaya. Saat tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 09.26 (terbaca dari data exip foto). Kami hanya mampir dan bertemu sekitar 30 menit, setelah itu baru meluncur ke Yogyakarta.

Jalan-jalan ke Yogyakarta

Alhamdulillah pukul 10.30 kami tiba di Yogyakarta setelah menempuh perjalanan sejauh 72km dari Purworejo.  Total waktu perjalanan dari Kebumen ke Yogya sekitar 2 jam. Seperti waktu tempuh Jakarta Bandung.

Di Yogya kami menuju alun-alun. Mobil kami parkir disamping Keraton. Trus  masuk Keraton? Ga sih, cuma liat-liat dari balik pagar doang hehe. Kami memesan beberapa becak untuk keliling-keliling. Bayarnya cuma Rp 10.000,-/becak. Kami dibawa ke tempat pembuatan sekaligus penjualan lukisan batik dan toko baju batik. Saya ga beli lukisan, tapi beli baju batik. Abis muter-muter kami nyari makan. Abang becaknya nganter kami ke sentra gudeg yang berada di sebelah timur alun-alun. Ada semacam gapura, Plengkung Wijilan namanya. Nah disitu kami makan. Wuah banyak pilihan rupanya. Akhirnya kami makan disalah satunya. Semua pesen nasi gudeg. Kalo ga makan gudeg ya ga manteb ya kaaan?? Saya makan dengan lahap. Yang lain juga. Maklum, abis melakukan perjalanan lumayan jauh. Lelah dan lapar jadi satu. Sementara, abang-abang becak menunggu di luar.

Setelah makan kami lanjut berwisata. Kali ini ke daerah Klaten untuk melihat candi Prambanan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya melihat Prambananan. Sayangnya saat itu Prambanan masih dalam tahap renovasi akibat kerusakan yang dialami saat terjadi gempa besar yang menimpa Yogya dan sekitarnya beberapa waktu lalu.


Saya dan rombongan ga berminat untuk mendekat dan masuk. Entah kenapa. Mungkin karena kami sudah letih setelah sebelumnya berkeliling area keraton. Ditambah pula oleh perjalanan dari Kebumen ke Yogyakarta itu cukup jauh. Akhirnya kami hanya foto fiti di halaman depannya. Cuaca juga sedang ga mendukung. Langit mendung. Lalu gerimis. Namun demikian, saya tetap ingin bergaya tralala. Lumayan, penampakan Prambanan cukup terlihat sebagai latar belakang. Setidaknya ada foto, bukti bahwa saya pernah ke Prambanan. Walaupun cuma nginjek area depan yang berumput, bukan candinya hehe. Moga lain waktu bisa kesana lagi. Ga cuma diluarnya, tapi masuk dan melihat dari dekat.

Petang datang. Sebelum meninggalkan Prambananan, saya sempatkan membeli sebuah topi dan rok batik di area souvenir Prambananan. Setelah itu rombongan kami kembali ke Kebumen.

[Kebumen-Yogyakarta] Pertama kali berada di propinsi Jawa Tengah

15.07 Add Comment

25 November 2009
Kebumen adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Secara geografis Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27' - 7°50' Lintang Selatan dan 109°22' - 109°50' Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedang pada bagian utara berupa pegunungan, yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu. Di selatan daerah Gombong, terdapat rangkaian pegunungan kapur, yang membujur hingga pantai selatan. Daerah ini terdapat sejumlah gua dengan stalagtit dan stalagmit.

Saya belum pernah mendatangi propinsi Jawa Tengah. Jadi, perjalanan ke Kebumen ini adalah perjalanan pertama saya masuk ke wilayah propinsi Jawa Tengah. Saya berangkat ke Kebumen bersama rombongan keluarga. Perjalanan panjang yang kami tempuh dengan kendaraan mobil adalah sekitar  400km dengan waktu tempuh sekitar 8-10 jam. Untuk pertama kalinya pula saya melintasi jalur Pantai Utara (Pantura), sebuah jalur yang paling santer terdengar saat masa-masa mudik lebaran. Begitu yang saya tahu.

Rombongan kecil kami berjumlah 8 orang. Dengan menggunakan kendaraan Xenia, kami berangkat sekitar pukul 9 dari Jakarta. Laju kecepatan terbilang biasa. Tidak ngebut seolah mengejar sesuatu. Kecuali berharap tak kemalaman (atau terlalu malam) saat tiba di Kebumen. Tak begitu banyak yang bisa saya ceritakan hal apa saja yang saya lihat sepanjang perjalanan berangkat, sebab saat berangkat saya berada dalam kondisi kurang fit. Saya lebih banyak tidur selama perjalanan. Jika pun terjaga, saya tak memiliki minat untuk melihat dan menikmati pemandangan selama perjalanan.

Alhamdulillah, walau langit petang telah berubah menjadi gelap, kami tiba dengan selamat di Kebumen. Kami menuju rumah salah satu kerabat yang telah menanti kedatangan kami sejak pagi. Sebuah rumah sederhana dengan model khas rumah Jawa. Panjang. Luas. Juga kuno. Sebatang pohon mangga berdiri gagah di depannya. Di sinilah saya dan rombongan akan menginap selama 4 malam. Malam itu saya lekas  beristirahat melepaskan penat, juga letih dan pegal yang menggelayuti tubuh. Tak ikut ngobrol seperti yang lainnya. Maklum, tepar....

Mesjid Agung Palembang

13.03 Add Comment

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I atau biasa disebut Masjid Agung Palembang adalah sebuah masjid paling besar di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Masjid ini dipengaruhi oleh 3 arsitektur yakni Indonesia, China dan Eropa. Bentuk arsitektur Eropa terlihat dari pintu masuk di gedung baru masjid yang besar dan tinggi. Sedangkan arsitektur China dilihat dari masjid utama yang atapnya seperti kelenteng. Masjid ini dulunya adalah masjid terbesar di Indonesia selama beberapa tahun. Bentuk masjid yang ada sekarang adalah hasil renovasi tahun 2000 dan selesai tahun 2003. Megawati Soekarnoputri adalah orang yang meresmikan masjid raksasa Sumatera Selatan modern ini.

Masjid ini didirikan pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikrama. Saat ini, Masjid Agung Palembang telah menjadi Masjid regional di kawasan ASEAN. Terletak di kawasan 19 Ilir, dimana merupakan salah satu Kampung Asli Palembang dan Arab yang telah lama didiami. *Sumber: Wikipedia


Menurut sejarah, Masjid Agung Palembang merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I atau Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikramo mulai tahun 1738 sampai 1748. Konon masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar di Nusantara pada saat itu.

Masjid Agung Palembang pada mulanya disebut Masjid Sultan dan dibangun pada tahun 1738 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Peresmian pemakaian masjid ini dilakukan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1151 H (26 Mei 1748).

Masjid Agung merupakan masjid tua dan sangat penting dalam sejarah Palembang. Masjid yang berusia sekitar 259 tahun itu terletak di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I, tepat di pertemuan antara Jalan Merdeka dan Jalan Sudirman, pusat Kota Palembang. Tak jauh dari situ, ada Jembatan Ampera. Masjid dan jembatan itu telah menjadi land mark kota hingga sekarang.

Dalam sejarahnya, masjid yang berada di pusat kerajaan itu menjadi pusat kajian Islam yang melahirkan sejumlah ulama penting pada zamannya. Syekh Abdus Samad al-Palembani, Kemas Fachruddin, dan Syihabuddin bin Abdullah adalah beberapa ulama yang berkecimpung di masjid itu dan memiliki peran penting dalam praksis dan wacana Islam.





















Palembang - Sumatera Selatan - INDONESIA

Air Terjun Bedegung Muara Enim

09.28 1 Comment
21 September 2009

Dalam suasana libur lebaran, bersama keluarga, para ponakan, sepupu dan krucil-krucil yang ceria selalu, saya jalan-jalan ke salah satu objek wisata yang ada di Muara Enim, Sumsel. Pilihan wisata kali ini jatuh ke air terjun Bedegung. Sengaja memilih tempat ini karena saya suka dengan wisata alam. Yang lain? suka juga dunk. Buktinya pada antusias banget, sampe ada yang pake muntah segala karna masuk angin gara-gara ga sabar nunggu pagi tuk berangkat. 

Air Terjun Bedegung terletak di Desa Bedegung Kec. Tanjung Agung. Perjalanan dari Muaraenim menuju lokasi air terjun sekitar satu jam. Jaraknya lumayan jauh. Melewati kota Tanjung Enim. Tahu Tanjung Enim kan? Kota tambang batu bara yang terkenal dengan Bukit Asamnya itu lho. Dari Muara Enim ke Tanjung Enim itu sekitar 20 menit. Dari Tanjung Enim ke Tanjung Agung Sekitar 40menit lebih. Belum kalo pake mampir dan beli BBM ya. Bisa sih tiba lebih cepat, asal pake mobil balap dan nyetir ala pembalap. Punya gak mobil balap? Ga!

Jalan yang dilalui adalah jalan raya lintas Sumatera. Bus-bus besar antar provinsi lewat jalan ini. Sepanjang perjalanan, di sisi kanan nampak sungai Enim yang lebar dan berarus deras. Tak hanya suguhan pemandangan sungai yang berkelok-kelok tapi juga pemandangan kebun duku, Kopi, dan durian. Pohon yang akan mudah sekali dijumpai jika berada di daerah Sumatera Selatan ini. 

Setiba di desa Tanjung Agung, kami mulai awas terhadap signboard "Air Terjun Bedegung". Bukan karena saya belum pernah ke tempat ini tapi seingat saya belokannya itu bisa terlewat kalau ga "pasat". Pasat itu maksudnya jeli dan awas. Soalnya ada beberapa belokan serupa. Kalo lewat bisa-bisa kami bablas sampai Batu Raja.

Akhirnya kami menemukan lokasi wisata yang dituju. Gemericik air mulai terdengar. Bukan dari air terjun, melainkan dari sungai yang mengalirkan air dari air terjun itu. Air terjunnya sendiri mesti ditempuh dengan jalan kaki sejauh 1km. Wuadooww.... Sekarang kan saya udah tak semuda dulu (udah nenek2), apa masih kuat ya? Terakhir ke Air Terjun ini sekitar 8 tahun yang lalu :D

Ternyata, kini tempat wisata ini telah dikelola dengan sedemikian rupa. Tempat parkir tersedia luas menempati lahan yang dulu ditumbuhi pohon-pohon dan semak belukar. Bukan hanya tempat parkir, melainkan juga tempat berjualan. Ada banyak sekali warung-warung makan dan minuman. Dulu, satu warung saja susah dijumpai. Ada pula panggung hiburan yang menampilkan live music, lengkap dengan penyanyinya. Seharian itu, sang penyanyi dengan penuh semangat dan keringat, terus-terusan menghibur pengunjung dengan dangdut dan joget.

Tiket masuknya 10.000 perorang. Huaa......dulu sih cuma seribuan saja. Haha...ya bedalah ya. Dulu kan tidak dikelola dan sepi, sekarang sudah dikelola dan rame. Trus, ada pula pondok tempat berganti pakaian bagi yang mandi. Nah, pondoknya ini ada puluhan. Rame banget. Toilet dan kamar mandi berjejer. Daaaaaaaaan....ya ampuuuuun pengunjungnya ruameeeeee banget. Huaa......tuh air tercemar dunk ama daki2 badan orang banyak ituuuuuu....

Ternyata saya dikejutkan juga dengan adanya sebuah jembatan yang membentang di atas air terjun. Dulu jembatan itu ga ada ! Aiiih.....suka banget dengan adanya jembatan itu. Pengunjung yang ga mau mandi bisa menikmati dan melihat air terjun dari dekat tanpa harus nyebur ke dasar tempat airnya jatuh. Saya pun berfoto-foto norak di jembatan itu, dan berteriak teriak kecil saat terciprat oleh air terjun yang serupa rintik hujan. Berembun. Dingin. Dan sebuah pelangi dibawahnya. Woooow! Keren banget.

Krucil-krucil yang bersama saya sudah tunggang langgang menyerbu air. Pada girang ga ketulungan. Saya juga ikut-ikutan tapi tidak mau berbasah-basahan. Curang ya? Iya, kan tugas saya memotret tok! :D Eh tapi akhirnya saya basah-basahan juga kok. Kakinya doang sih. Saya turun ke air gara-gara penasaran ingin melihat dari dekat tempat air jatuh. Lumayan susah mendekatinya karena batu-batu besar dan licin mesti didaki. Emangnya gunung pake di daki segala? 

Menyenangkan sekali datang ke tempat ini. Di tengah sejuk dan segarnya udara yang ada, air yang bersih, hutan yang rindang, segala kepenatan dan kemumetan yang biasa terjadi di kota (Jakarte), bisa luruh satu persatu. Saya memandangi puncak tebing dari ujung tebing lainnya, terlihat tempat dimana airnya jatuh dan tumpah ruah. Tinggi sekali. Menurut berbagai sumber yang saya pernah baca, ketinggian air terjun ini adalah 99 meter. Wajar jika kemudian air terjun Bedegung disebut sebagai air terjun tertinggi di Sumatera Selatan.

Jika ingin ke sini, naik apa dan menginap di mana?
Kalau dari kota Palembang, naik bus tujuan Muaraenim atau Tanjung Enim dari terminal Karya Jaya Palembang. Saya ga tahu berapa tarifnya karena ga pernah naik bus. Tapi ga sampai 50.000 kata temen.
Waktu perjalanan sekitar 3-4 jam. Bagusnya sih langsung naik jurusan Tanjung Enim. Kalau kehabisan, naik bus tujuan Muaraenim juga gapapa. Nanti dari Muara Enim maupun Tanjung Enim, naik angkot jurusan Tanjung Agung (dari teminal setempat). Kalau sudah di Tanjung Agung, tinggal bilang saja mau ke Air Terjun. Mau baliknya juga sama, pake angkot dan bus seperti tadi pergi. Cuma setahu saya, bus dari Muaraenim dan Tanjungenim itu (tujuan Palembang) paling akhir sampe jam 4 saja.

Kalau sampai harus menginap silahkan cari penginapan di daerah Tanjung Enim dan Muara Enim. Ada beberapa penginapan kelas melati dengan tarip 100ribuan permalam. Sedangkan di Tanjung Agung sendiri, beberapa penginapan yang direkomendasikan seperti: RM Lumayan yang ada di Jl Baturaja Desa Keban Agung Tanjung Agung, Mess KORPRI dan Rumah Adat Knockdown yang ada di Jl JL.Desa Bedegung Tanjung Agung.

Berikut sajian photo dari kamera jadul saya: